Jumat, 28 Oktober 2022

Puter Lokal, Burung Puter Endemik Indonesia yang Hidup di Hutan Mangrove



Puter lokal (Streptopelia bitorquata) merupakan burung endemik Indonesia. Burung puter ini berbeda dengan burung puter yang sebelumnya sudah lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia. Puter lokal sering disebut masyarakat untuk burung puter dengan suara tengah yang pendek-pendek.

Padahal burung puter yang dimaksud mempunyai nama latin Stretopelia risoria. Burung puter yang ini bukanlah burung endemik Indonesia. Banyak dari masyarakat penghobi burung anggungan masih sering salah mengartikan burung puter lokal ini dengan jenis puter lain yang lebih banyak dipelihara di rumah-rumah untuk dinikmati keindahaan suaranya.

Pengertian dari kata lokal adalah suatu hal yang berasal dari daerah itu sendiri. Kata lokal sangat sering diucapkan oleh masyarakat namun pengartiannya memang beragam. Kata lokal bisa digunakan bersamaan dengan kata kebudayaan, kata penduduk, kata orang, dan masih banyak lagi.

Lokal adalah sesuatu yang berasal dari daerah asli. Sehingga jika menyebut kata puter lokal maka itu artinya adalah burung asli dari daerah tersebut. Dengan kata lain merupakan satwa endemik Indonesia. Satwa asli Indonesia.


Puter lokal atau puter geni mempunyai habitat di daerah hutan mangrove


Satwa endemik adalah spesies satwa alami yang mendiami suatu wilayah atau daerah tertentu yang menjadikan wilayah tersebut mempunyai ciri khas karena tidak ditemukan di daerah lain. Jadi suatu satwa itu dikatakan hewan endemik jika spesies tersebut merupakan spesies asli yang hanya bisa ditemukan di sebuah tempat dan tidak ditemukan di wilayah lain.

Ada beberapa penyebutan untuk burung puter lokal yang merupakan burung endemik Indonesia ini diantaranya Baster, Dederuk Jawa, Putar (Sunda), Kukur (Sumatera), Puter geni, puter lumut (Jawa), Tekukur (Minahasa). Dan nama keren dari burung puter lokal ini adalah Sunda collared dove dengan nama ilmiahnya Streptopelia bitorquata.

Puter lokal/Dederuk Jawa adalah spesies burung dalam keluarga Columbidae (Merpati-Merpatian) yang mempunyai 13 spesies. Spesies ini (Sreptopelia bitorquata) tersebar mulai dari Sumatera, Jawa dan Bali , hingga ke Komodo, Lombok, Sumbawa, Timor, Flores, dan Solor.

Habitat alaminya adalah hutan dataran rendah yang lembab dan hutan bakau. Puter lokal ini di beberapa daerah sudah sangat susah dijumpai. Itu semua disebabkan habitat alaminya sudah sangat berkurang karena perambahan hutan, alih fungsi lahan dan perburuan yang dilakukan manusia.


Kini banyak yang telah menangkarkannya


Usaha konservasi harus digiatkan untuk menyelamatkan keberadaannya. Masih sangat sedikit yang berusaha menernakkannya. Karena dari sisi suara masih kalah merdu dengan puter pelung, jadi diternak karena faktor eksotisme dari satwa tersebut.

Ciri-Ciri yang paling mudah dikenali adalah adanya kalung hitam putih pada bagian lehernya. Tubuh berukuran sedang sekitar 30 cm, berekor panjang. Tubuh warna coklat kemerah-jambuan. Mirip Tekukur/Derkuku, perbedaan antara tekukur/derkuku biasa dengan burung puter lokal/dederuk jawa adalah warna kepala lebih abu-abu.


Anakan puter lokal



Bercak hitam pada sisi leher bertepi putih. Tidak berbintik putih. Bagian tengah membujur bulu ekor berwarna coklat. Kedua sisi bulu ekor abu-abu dengan tepi agak putih. Iris jingga, paruh hitam dengan pangkal merah, kaki merah keunguan. Suaranya adalah “Kuk… Keruk…kuk”.

Burung puter lokal/dederuk jawa makanan sehari-harinya biji-bijian. Burung ini senang dengan beras merah, jagung dan kacang hijau. Dederuk Jawa atau puter lumut, ada juga yang menyebutnya puter geni, mempunyai suara yang sangat khas, dan saat ini masih jarang dibudidayakan. Sehingga pasokan penghobi masih didapat dari alam yg mulai terbatas, siapa tertarik membudidayakan nya?

Puter lokal ini sering terlihat di tempat-tempat terbuka, di area pedesaan yang tidak jauh dari hutan, terutama di hutan mangrove. Bertengger di pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi. Sering kali turun di kawasan terbuka di atas permukaan tanah, sepasang atau dalam kelompok-kelompok kecil. Ke area persawahan untuk mencari makan.

Senasib dengan burung-burung lain di Indonesia, burung ini banyak diburu dengan cara dijaring atau dengan perangkap lain untuk dijadikan burung peliharaan. Juga menjadi sasaran penembakan para pemburu.


Sepasang puter lokal belajar mandiri


Alhasil, populasi burung ini semakin hari semakin sedikit. Di alam liar, burung ini nyaris tak pernah terdengar suaranya lagi. Karena dianggap kurang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga sangat sedikit yang berusaha menangkarkannya.

Saat ini ada beberapa penangkar yang telah membudidayakannya, terutama karena daya tarik dari warnanya. Juga seringkali dikawin silangkan dengan jenis lain agar mendapatkan anakan yang semakin cantik penampilannya.

Di panangkaran puter lokal atau puter geni ini sering mengkonsumsi makanan seperti jewawut, milet, gabah, jagung bahkan voor ayam (makanan buatan pabrik). Kita berharap burung asli Indonesia ini tetap lestari. (Ramlee)


Kamis, 13 Oktober 2022

Puter Pelung, Burung Asal Afrika yang Begitu Diminati di Indonesia



Puter pelung (Streptopelia risoria) merupakan burung anggungan yang populer karena suara merdunya yang mengalun panjang, dalam, dan berirama. Burung puter pelung begitu diminati oleh para penghobi akhir – akhir ini. Lombanya pun begitu marak dimana-mana, utamanya di pulau Jawa. Untuk luar Jawa sebenarnya sudah banyak pula yang menjadikannya klangenan baru. Di pulau Bali dan Lombok, sudah banyak yang memelihara. Lombanya juga kerap diadakan, hanya karena adanya pandemi sehingga gaungnya agak kurang terdengar.

Banyak yang mengira burung ini adalah satwa endemik Indonesia. Satwa endemik adalah spesies hewan alami yang mendiami suatu wilayah atau daerah tertentu yang menjadikan wilayah tersebut mempunyai ciri khas karena tidak ditemukan di daerah lain. Suatu hewan dikatakan sebagai hewan endemik jika spesies tersebut merupakan spesies asli yang hanya bisa ditemukan di sebuah di sebuah tempat tertentu dan tidak ditemukan di wilayah lain.

Burung puter pelung yang selama ini kita kenal dan yakini sebagai satwa endemik Indonesia, nyatanya tidak demikian. Burung puter terkadang juga disebut dengan puter lokal karena bersuara pendek-pendek dan burung puter pelung yang bersuara panjang sejatinya bukanlah satwa asli Nusantara. Banyak kerancuan terjadi berkaitan dengan penyebutan burung puter.


Eurasia Collared Dove


Penyebutan burung puter lokal untuk burung puter yang bersuara pendek-pendek juga tidak tepat. Yang berhak menyandang sebagai burung puter lokal itu adalah Dederuk Jawa (nama komersialnya puter geni) dengan nama ilmiahnya Streptopelia bitorquata. Sedang burung puter yang biasa kita pelihara bahkan sejak kakek nenek kita dahulu itu dari jenis yang berbeda. Nama ilmiahnya Streptopelia risoria.

Entah sejak kapan burung puter ini hadir di Indonesia, sehinga kita mengira bahkan bersikeras mengakui bahwa burung ini adalah burung asli Indonesia. Kita sangat familiar dengan penyebutan Puter Irak, Puter Bangkok, Puter Brenggolo, dan entah apalagi. Kemungkinan besar burung puter ini sudah masuk Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda atau setelahnya. Karena sejak abad ke-16 burung ini banyak ditemui di Eropa.

Menurut beberapa pakar serta pemerhati burung anggungan dan salah satunya adalah Hendrik Tanoto dari Bandung, menyatakan bahwa burung puter yang selama ini menjadi klangenan sejak dahulu itu adalah burung hasil domestikasi dari African Collared Dove. Burung ini habitatnya ada di benua Afrika sana.


Sepasang puter geni


Ini sama halnya istilah di ayam. Selama ini dikenal adanya ayam kampung, ayam negeri, ayam cemani, ayam pelung, dll, nyatanya semua itu hasil dari domestikasi dari ayam hutam merah. Sama halnya juga dengan merpati yang juga hasil domestikasi dari Rock Pigeon.

Burung puter yang dikenal sebagai Streptopelia risoria (Linnaeus, 1758) telah lama membingungkan para ahli burung. Linnaeus (Carolus Linnaeus atau Carl von Linne disebut sebagai “Bapak Taksonomi” dalam buku yang ditulisnya, Systema Nature/Sistematika Alamiah) menggambarkan jenis burung puter domestik tetapi hidup liar dan saat itu belum diketahui namanya. Burung yang dimaksud itu adalah African Collared Dove yang masih hidup liar dan bukan yang selama ini ditemui. Pada akhirnya burung itu dinamai dengan Streptopelia roseogrisea (Sundeval, 1857).

Pada tahun 2008, ICZN (International Commission on Zooligal Nomenclature) sebuah komisi internasional yang mengatur penamaan organisme, memutuskan bahwa African Collared Dove yang masih hidup liar itu dengan nama ilmiah Streptopelia roseogrisea dan yang telah mengalami domestikasi dengan nama Barbary Dove bernama ilmiah Streptopelia risoria.

Barbary Dove sudah dikenal di abad ke-16 tetapi rincian tentang domestikasinya tidak lengkap. Pada saat itu Barbary Dove terdapat dua varian warna bulu yakni yang satu mempunyai bulu berwarna coklat kekuningan agak pucat dan satunya lagi berwarna agak putih. Warna gelap asli dari spesies leluhurnya tidak diketahui keberadaannya di penangkaran. Mungkin hal ini yang bisa menjawab terjadinya mutasi warna di burung puter.

Barbary Dove juga dikenal sebagai Ringed Dove atau Ringnek Dove. Di beberapa negara Eropa terkadang disebut juga dengan “Laughing Dove” karena suara yang terdengar saat akan mbekur (bersuara untuk menarik perhatian si betina). Sebaliknya untuk Laughing Dove nama ilmiahnya Streptopelia senegalensis sendiri saat berbunyi malah tidak seperti orang yang sedang tertawa sama sekali.

Jauh sebelum nenek moyang burung puter diketahui oleh para ahli, Barbary Dove telah dideskripsikan oleh Linnaeus sebagai Columba risoria (risoris dalam bahasa Latin mempunyai arti tertawa). Itu didasari dari suara yang dikeluarkan saat akan mbekur yang seperti orang cekikikan.


Puter pelung jadi klangenan banyak orang


Memang banyak spesies Streptopelia yang sangat mirip dan nama risoria sering digunakan untuk spesies lain yang lebih mirip yakni Eurasia Collared Dove atau Streptopelia decaocto. Tetapi Eurasia Collared Dove diketahui belum masuk benua Eropa di abad ke-16.

Agar tidak membuat bingung jadi istilah Domestikasi adalah proses perubahaan dari hewan liar menjadi hewan peliharaan. Hewan yang mengalami domestikasi hidupnya bergantung penuh kepada manusia dan digunakan untuk kepentingan manusia yang memeliharanya.

Hewan yang sudah mengalami domestikasi mempunyai sifat/karakter yang jinak dan sangat sulit untuk kembali berubah menjadi liar. Domestikasi bukanlah penjinakkan. Karena kalau sekedar penjinakkan sifat liarnya masih bisa kembali saat dia lepas dari tangan manusia.


Saat ini semakin banyak yang menernakkan  burung puter pelung


Menurut ahli biologi Jared Mason Diamond, hewan yang bisa mengalami domestikasi harus memenuhi paling tidak 6 kriteria.

Berikut kriteria hewan agar dapat didomestikasi :

1. Pakannya mudah didapatkan, hewan tersebut harus mau memakan makanan yang mudah didapatkan di sekitar lingkungan manusia.

2. Pertumbuhannya cepat sehingga dapat mempercepat proses perkembangbiakkan dan pemanfaatannya.

3. Memungkinkan untuk dikembangbiakkan di penangkaran.

4. Tidak agresif.

5. Tidak mudah stres.

6. Memiliki hirarki sosial yang dapat dimodifikasi.

Karena syarat-syarat itulah, kebanyakan domestikasi dilakukan pertama-pertama untuk keperluan kesenangan semata sebagai hewan peliharaan. Domestikasi memerlukan waktu puluhan generasi untuk mendapatkan individu baru yang benar-benar adaptif dengan lingkungan buatan manusia.

Proses domestikasi burung puter ini diyakini telah berlangsung sekitar 2000 – 3000 tahun lamanya. dan sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Kemudian juga terjadi mutasi warna bulu. Yang awalnya muncul adalah warna blond dan white (warna putih ini bukan albino).

Lalu tidak muncul mutasi warna lain sampai beratus-ratus tahun kemudian. Sampai orang awam tidak tahu lagi mengenai asal-usul burung puter ini. Bahkan sampai muncul anggapan bahwa burung puter berwarna blond dan yang berwarna white adalah jenis berbeda.

Berikut klasifikasi dari burung puter yang Kita pelihara saat ini :

• Staus konservasi : domestikasi

• Kingdom : Animalia

• Phylum : Chordata

• Class : Aves

• Family : Columbidae

• Genus : Streptopelia

• Spesies : Streptopelia risoria

Kita musti bangga karena burung puter pelung ini hanya ada di Indonesia. Meskipun dari jenis yang sama dengan Ringed Dove di dunia, tetapi yang bersuara panjang hanya ditemui di Indonesia. Diyakini bahwa telah terjadi pembiakan selektif terhadap burung puter yang ada di Indonesia. Utamanya di Kotagede – Yogyakarta.

Walaupun kebenarannya masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Tetapi dahulu di tahun 1980an, orang sering menyebut burung puter yang bersuara panjang ini dengan puter Yogya. Bisa jadi itu adalah indikasi bahwa burung puter pelung ini memang muncul dari sana.


Burung puter pelung di teras rumah


Apa itu pembiakan selektif? Pembiakan selektif adalah pembiakan yang melibatkan indukan pilihan dengan karekteristik khusus untuk dikembangbiakkan agar menghasilkan keturunan sesuai dengan karakteristik yang diinginkan oleh manusia yang mengembangbiakkannya.

Kesimpulan yang didapat :

1. Burung Puter Lokal adalah Dederuk Jawa dengan nama ilmiahnya Streptopelia bitorquata.

2. Burung Puter Pelung adalah burung puter trah Indonesia, bersuara panjang dengan nama ilmiahnya Streptopelia risoria.

3. Burung Puter (biasa) adalah burung puter sejenis dengan burung puter pelung (Streptopelia risoria) namun bersuara pendek-pendek.

4. Burung Puter Irak adalah burung puter masih dari jenis yang sama (Streptopleia risoria) hanya berwarna tangerine.


Lomba seni suara alam burung puter pelung


Jadi sekali lagi kita musti bangga karena burung puter pelung ini ternyata hanya ada di Indonesia. Tugas kita untuk menjaga, merawat, dan melestarikannya. Kalau bukan kita yang melestarikannya, terus sapa lagi? Jangan menunggu burung puter pelung ini juga diklaim oleh negara tetangga, lalu kita marah-marah lagi. Semoga dapat menambah wawasan kita tentang burung puter dan meluruskan penggunaan istilah yang tidak tepat. Semoga bermanfaat. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Asal Usul Burung Puter Pelung di Indonesia