Jumat, 03 April 2026

DMS-PEDES Gelar Latber Halal Bihalal, Kanjeng Mami Sukses Hattrick Juara, Sawunggalih Podium Pertama



Hobi burung derkuku di Sukoharjo terlihat masih tetap eksis. Kegiatan lomba masih bisa dirasakan dan dialami oleh dekoe mania setempat karena tergelar setiap bulan. Agenda paling anyar adalah Latber Halal Bihalal DMS-PEDES yang dihelat pada Minggu, 29 Maret 2026 kemarin.

Gelaran yang menempati lokasi di Lapangan Sukoharjo Kel. Kwarasan Grogol Kab. Sukoharjo membuka dua kelas yakni kelas Bebas dan kelas Pemula. Puluhan ekor derkuku memenuhi dua blok tempat gantangan yang disediakan untuk menyemarakkan kegiatan tersebut.


Support banner menjadi dukungan nyata dekoe mania


Informasi yang didapat bahwa kehadiran puluhan peserta tersebut hanya dalam kurun waktu yang tidak lama. “Alhamdulillah hari ini kami kembali mengadakan kegiatan sillaturahmi sekaligus kerek bareng bersama dekoe mania Solo dan Sukoharjo dalam agenda Latber Halal Bihalal,” terang H. Nur Ali Sasongko Ketua Pengcab Sukoharjo.

Keinginan panitia untuk bisa mengumpulkan para mania derkuku di lokasi acara, nampaknya menjadi salah satu usaha yang patut untuk diapresiasi. Betapa tidak, kesibukan mereka para peserta dan juga panitia menjadi satu diantara sekian faktor yang seringkali menghambat laju hobi.


H. Nur Ali Sasongko dan Agung Cahyanto pimpin briefing juri


Belum lagi, sebagian besar dekoe mania masih merayakan lebaran bersama keluarganya. Dibutuhkan sebuah perhatian khusus agar hobi bisa terus jalan dan tidak sampai mandek di tengah jalan. Setidaknya ada upaya untuk jemput bola agar dekoe mania disana bisa dipastikan masuk list pendaftaran.

“Setiap kali akan menggelar lomba, saya aktif mengajak rekan-rekan untuk ikut, makanya kadang saya minta bantuan yang lain untuk bisa aktif membantu saya,” ujar Jatmiko pemilik Jat Bird Farm Solo. Jatmiko mengaku bahwa dibutuhkan cara untuk mengajak rekan-rekannya agar mau turun lomba.


Nanang (MTJG BF), Wirasmo (MJZ BF), Budi S(Petir BF), Mbah Mien, dan di belakang ada Jito dan Sarno mengamati serius gacoanya


“Ketika akan menggelar lomba, panitia harus punya waktu ektra mengajak peserta untuk hadir. Dengan cara seperti ini, kami pun semakin dekat dan akrab dengan mereka,” ungkap Jatmiko. Berkat dukungan dan kerjasamanya yang luar biasa dari panitia dan juga beberapa pemain, akhirnya kegiatan tersebut mampu mencapai harapan.

Tiket di tiap-tiap kelas ludes terjual. “Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh peserta yang telah memberikan perhatian, dukungan, dan kehadirannya sehingga kegiatan Latber Halal Bihalal DMS-PEDES hari ini bisa berjalan sesuai harapan,” ujar H. Nur Ali Sasongko.

Diharapkan kedepan kegiatan-kegiatan seperti ini bisa lebih mendapatkan dukungan dan perhatian yang lebih besar lagi. Moment Latber Halal Bihalal ini dimanfaatkan sebagai ajang sillaturahmi sekaligus saling maaf memaafkan dan evaluasi diri.

“Jika ada masalah, mohon cukuplah diselesaikan di tempat saja sehingga permasalahan bisa langsung teratasi. Apalagi jika itu berkaitan dengan penjurian, karena juri juga manusia,” pinta H. Nur Ali Sasongko, kepada semua yang hadir di lapangan.


Wiwid Sword BF sukses mengantar hattrick Kanjeng Mami


“Tentu ada banyak kekurangannya dan kita wajib untuk saling koreksi. Juri-juri yang kita punyai ini harus kita berikan kesempatan untuk bekerja secara profesional tanpa adanya intervensi,” tegas H. Nur Ali Sasongko. Dengan begitu hobi yang sudah menjadi pilihan bisa tetap terjaga dengan baik.

Seperti dalam kegiatan-kegiatan sebelumnya, bahwasanya briefing juri menjadi rutinitas yang tidak pernah terlewatkan. Seluruh juri serta Guntur Juri Nasional mendapatkan arahan dari H. Nur Ali Sasongko dan Agung Cahyanto Ketua Pengcab Surakarta. “Briefing hari ini hanya sekedar mengingatkan kepada semua juri agar tidak lengah saat menjalankan tugas di lapangan,” harap H. Nur Ali Sasongko.


Barisan juara kelas Bebas


“Koordinasi penting dilakukan antara tim dan jangan sampai burung yang bunyi terlewatkan, terutama di awal-awal penjurian,” tegas H. Nur Ali Sasongko. Lebih lanjut disampaikan bahwa jangan sampai karena kegiatan ini hanya berupa Latberan, lantas menurunkan intensitas kinerja juri sehingga tidak maksimal, tetap fokus dan konsentrasi harus menjadi pegangan.

Cuaca cerah dan cenderung panas mengawal dari babak pertama sampai selesai. Penjurian berlangsung tanpa halangan, acara penjurian berlangsung seru dan lancar. Peserta begitu menikmati suasana. Tidak nampak dan terdengar teriakan yang dilakukan oleh peserta.


Lilik Purworejo juara di kelas Pemula


Benar-benar kondisi yang membuat gelaran begitu tenang dan damai. Meski ada suara dari peserta, namun itu tidak sampai berlebihan. Penerapan pembatasan nilai di kelas Pemula hanya sampai empat warna pun diterapkan. Jika ada burung yang mendapatkan penilaian lima warna akan dinaikkan ke kelas diatasnya, yakni kelas Bebas.

Hal ini terjadi pada burung yang ada di gantangan nomor 16, yang mendapatkan dua kali bendera lima warna. Yang semula berada di kelas Pemula harus berpindah ke kelas Bebas. Saat ada pertanyaan dari peserta kenapa burung tersebut sebelumnya tidak didaftarkan saja langsung di kelas Bebas?

Jatmiko, pemilik burung menjelaskan bahwa dirinya belum tahu secara pasti kualitas anggung burung miliknya itu layak ditempatkan di kelas apa. Karena burung tersebut terkadang kurang stabil performanya saat di lapangan, apalagi saat di rumah, makanya dipertahan di kelas Pemula.

Namun keberhasilannya mendapatkan penilaian bendera lima warna hingga dua kali, maka untuk selanjutnya akan didaftarkan di kelas Bebas atau tidak akan diikutsertakan lagi di kelas Pemula. Empat babak penjurian berlangsung tanpa masalah, sampai akhirnya penetapan posisi kejuaraan dilakukan.


Barisan juara kelas Pemula


Untuk podium pertama di kelas Bebas, berhasil diraih Kanjeng Mami amunisi Wiwid Sword BF Solo, derkuku ring Sword 68 yang menempati nomor gantangan 19. Kemudian Riyanto andalan Eko Myr Solo, dengan ring B2W yang berada di nomor gantangan 31 ada di tempat kedua. Sedang tempat ketiga berhasil menjadi milik Victory ring LMS 618 orbitan Eko LMS yang berada di nomor gantangan 37.

Penetapan juara di Bebas kali ini harus melalui meja juri perumus. Ini karena ada tiga burung yang berhasil mendapatkan bendera lima warna selama empat babak. Juri Perumus akan menentukan juara berdasarkan nilai aduannya masing-masing burung dimulai dari gaya irama, dasar suara, suara tengah, suara ujung, dan suara depan.


Diakhir lomba juri-juri berkumpul melakukan evaluasi


Di Pemula, posisi pertama berhasil diraih oleh Sawunggalih milik Lilik dari Purworejo. Jago bergelang LKT 229 yang ada di gantangan 29 ini mampu menerobos barisan paling depan, setelah aksinya tak terbendung oleh lawan-lawannya. Posisi kedua, berhasil direbut oleh Glory ring LMS 584 di gantangan 5, milik Eko LMS Solo. Lalu posisi ketiga di tempati oleh Kasmaran ring LMS 411 andalan Jose Solo.

Diakhir lomba juri-juri berkumpul melakukan evaluasi apa yang sudah dilakukan. Hal ini tentunya hal positif yang perlu terus dilanjutkan apalagi disitu ada Guntur sebagai Juri Nasional. Di akhir acara panitia mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan dan kehadiran peserta dan permintaan maaf apabila selama acara, ada hal-hal yang kurang berkenan. (Ramlee/Jat)






Rabu, 01 April 2026

Siamang, Primata Kera Hitam Berlengan Panjang Bersuara Keras dari Sumatera



Siamang (Symphalangus syndactylus) merupakan primata arboreal (menghabiskan hampir seluruh hidup di pohon). Daerah persebaran alami Siamang adalah Semenanjung Malaya dan hutan hujan tropis serta hutan monsun Sumatera. Primata terdiri dari banyak macamnya, ada monyet, kera, orang utan, simpanse, dan masih banyak lagi, salah satunya adalah Siamang, primata yang terancam punah.

Siamang adalah spesies owa (primata tanpa ekor) terbesar dan memiliki warna rambut paling gelap. Primata ini memiliki bulu hitam yang panjang dan lebat, namun area di sekitar mulut dan dagunya berwarna abu-abu atau merah muda. Biasanya ukuran tubuhnya dua kali lipat dari ukuran spesies owa lainnya.

Panjang kepala dan tubuh Siamang dewasa antara 737 – 889 mm. Berat badan betina berkisar antara 10 – 11,1 kg, sedangkan jantan dewasa berkisar antara 12,3 – 14,8 kg. Satwa ini memiliki sedikit selaput di antara jari kaki kedua dan ketiga. Ibu jari kakinya terpisah jauh dari jari kaki lainnya.


Siamang, Owa berbulu hitam legam dan berlengan panjang


Kekhasannya ada pada kantung tenggorokannya yang besar dan dapat mengembang serta berambut jarang. Ketika mencapai ukuran terbesarnya, kantung tenggorokan bisa sebanding dengan ukuran jeruk bali. Karakteristik unik lainnya dari spesies ini adalah lengannya menjadi penggerak ketika memanjat, berayun, ataupun melompat.

Baca juga : Yaki, si Hitam Berpantat Merah Primata Endemik Sulawesi Utara yang Terancam Punah

Panjang lengannya mencapai dua setengah kali tubuhnya. Siamang bisa berayun di ketinggian 8 sampai 10 meter. Tetapi, di antara owa lainnya, Siamang bergerak lebih lambat. Saat di tanah, Siamang biasanya bergerak dengan kedua kakinya. Berbeda dari simpanse, orang utan, gorila, dan manusia, siamang terkenal sebagai syndactylus. Panggilan ini karena Siamang memiliki dua jari di setiap tangan yang telah menyatu.


Siamang merupakan satwa arboreal


Siamang memiliki wilayah yang relatif sempit, sekitar 0,24 kilometer persegi, dan mempertahankan wilayahnya dengan ritual nyanyian setiap hari. Primata ini melakukan perjalanan sekitar setengah dari wilayahnya setiap hari. Wilayah jelajahnya sekitar 15 hingga 35 hektar.

Pada umumnya, Siamang sangat tangkas saat bergerak di atas pohon, sehingga tidak ada predator yang bisa menangkapnya. Siamang beristirahat dengan menyangga atau menggantungkan diri di pepohonan. Satwa ini diurnal atau aktif di siang hari. Biasanya, Siamang tidur dan istirahat pada bagian pohon yang paling tinggi.

Siamang hidup dalam kelompok kecil, terdiri dari 2 sampai 3 individu. Berbeda dengan kera lain, Siamang tidak memiliki tempat khusus untuk tidur. Siamang tidur di celah-celah cabang pohon, baik sendiri maupun bersama beberapa Siamang lainnya. Posisi tidurnya tegak, bersandar pada bantalan keras di ujung belakang yang disebut ischial callosities.

Hewan ini selalu memenuhi hutan yang ditinggalinya dengan gericauan (berbunyi keras-keras dan berulang-ulang seperti bunyi burung) merdu nan membahana. Ketika menggericau, kantong tak berbulu di tenggorokan owa Siamang akan mengembang. Kantung suara besar di lehernya yang memperkuat panggilan nyaringnya. Suara siamang terkenal kedahsyatannya, sehingga gericauannya dapat terdengar hingga sejauh 4,8 kilometer di dalam hutan.


Siamang sedang mencari buah-buahan hutan


Siamang biasanya mengerih (bersauara keras) di pagi hari. Kerihan ini untuk mendefinisikan atau mempertahankan wilayah dari para tetangganya. Selain itu, gericauan siamang juga merupakan tanggapannya atas gangguan. Ricauan siamang juga merupakan bentuk komunikasi satwa ini.

Baca juga : Tarsius, Primata Bertubuh Mungil Bermata Besar Paling Langka di Dunia yang Setia pada Pasangannya

Selain gericauan solo, komunikasi vokal Siamang tak jarang melibatkan duet, terutama ketika sedang ingin kawin. Pada pagi hari, Siamang betina dewasa sering memulai teriakan teritorialnya lalu diikuti oleh Siamang lainnya. Saling bersahutan dan berlangsung hingga 30 menit. Pada saat bahaya, Siamang betina akan mengeluarkan suara nyaring yang diikuti oleh siamang jantan, berlangsung selama 3-15 menit.


Siamang sering terlihat istirahat di bagian pohon tertinggi


Jantan dan betina yang berpasangan juga saling bersahutan. Bahkan, setiap pasangan akan menciptakan suara panggilan yang unik. Selain komunikasi vokal, hewan ini menggunakan komunikasi taktil. Komunikasi taktil terlihat pada agresi fisik. Semua primata menggunakan sinyal visual, seperti ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh dalam berkomunikasi.

Saat bersuara, satwa ini dapat menghasilkan dua jenis nada yang berbeda dengan menggunakan kantung suara di tenggorokannya. Vokal dalam yang keluar dengan mulut tertutup, dan suara nyaring keluar ketika mulut Siamang terbuka. Suara dengan mulut tertutup jarak dengarnya lebih jauh daripada suara dengan mulut terbuka atau yang terdengar seperti teriakan ‘wow’. Vokalisasi ini seperti gonggongan yang memiliki pola. Awalnya perlahan dan kemudian bertambah cepat. Panggilan ini sering bersamaan dengan perilaku akrobatiknya.

Siamang adalah primata monogami, hidup dalam kelompok keluarga dengan tiga keturunan. Satwa ini menghasilkan satu keturunan dengan interval dua sampai tiga tahun. Masa kehamilannya antara 189 – 239 hari atau kira-kira 7 setengah bulan. Keturunannya melekat pada induknya, selama tiga sampai empat bulan pertama.

Ayahnya mulai menggendong bayinya pada saat masa sapih setelah bayi mencapai usia dua tahun. Pejantan menunjukkan lebih banyak perawatan untuk keturunannya daripada spesies owa lain. Satwa ini mencapai kedewasaan pada usia enam atau tujuh tahun. Usia hidup satwa ini bisa lebih dari 40 tahun di penangkaran.


Siamang sedang menggericau di pagi hari


Siamang terkenal memiliki lebih banyak koordinasi dan kontak selama aktivitasnya sehari-hari. Keluarga Siamang biasanya mencari makan bersama-sama. Primata ini bangun saat matahari terbit dan melakukan ‘konser pagi’ dengan kantung tenggorokannya sebelum berangkat mencari makan. Makanan Siamang Sekitar 75 % berupa buah-buahan sebagai sumber energi utama. Sisanya terdiri atas daun muda, bunga, biji, kulit kayu, serta sesekali serangga, laba-laba, telur, dan burung kecil sebagai sumber protein.

Baca juga : Tarsius Supriatna, Spesies Tarsius Baru yang Ditemukan di Semenanjung Sulawesi Utara

Siamang termasuk omnivora dengan pola makan adaptif sesuai ketersediaan pakan. Siamang banyak memanfaatkan pohon seperti Ficus, Garcinia, Lithocarpus, dan Mangifera indica. Ketersediaan makanan dipengaruhi musim, sehingga Siamang menyesuaikan asupannya. Saat makan satwa ini menahan dirinya dengan satu tangan.


Induk Siamang bersama anaknya


Biasanya Siamang butuh waktu sekitar 5 jam untuk makan sampai kenyang. Siamang tidak dapat berenang dan takut air. Karena takut air, Siamang akan minum dengan cara mencelupkan kaki depannya ke dalam air atau menggosok tangan pada daun basah dan menghisap air pada bulu kakinya.

Setelah delapan sampai sepuluh jam beraktivitas, Siamang akan mengidentifikasi tempat untuk istirahat dan tidur. Seperti kebanyakan primata, salah satu kegiatan terpenting dari hewan ini adalah grooming atau berdandan. Siamang dewasa biasanya butuh waktu rata-rata 15 menit per hari. Berdandan adalah bentuk dari dominasi. Semakin dominan dirinya, maka satwa ini lebih banyak mendapatkan perawatan daripada merawat.


Populasi Siamang terus menurun dan rentan punah


International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List mengklasifikasikan Siamang dalam status endagered, rawan punah. Satwa ini terdaftar pada Appendix I CITES (CITES 2011). Status IUCN-nya menunjukkan penurunan populasi lebih dari 50 % dalam 50 tahun terakhir. Seperti halnya spesies owa-owa lainnya, kurangnya data termutakhir tentang ukuran populasi dan jangkauan siamang merupakan masalah serius bagi upaya konservasi.

Populasinya yang terus menurun akibat kerusakan hutan, perburuan liar, dan perdagangan ilegal yang memperjualbelikan Siamang sebagai hewan peliharaan. Berbagai upaya konservasi dilakukan, seperti program rehabilitasi dan pelepasliaran di Taman Nasional Gunung Leuser serta Suaka Margasatwa Isau-Isau di Sumatera. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Siamang, Primata Hitam Berlengan Panjang yang Hobi Menggericau


DMS-PEDES Gelar Latber Halal Bihalal, Kanjeng Mami Sukses Hattrick Juara, Sawunggalih Podium Pertama

Hobi burung derkuku di Sukoharjo terlihat masih tetap eksis. Kegiatan lomba masih bisa dirasakan dan dialami oleh dekoe mania setempat karen...