Jumat, 03 April 2026

DMS-PEDES Gelar Latber Halal Bihalal, Kanjeng Mami Sukses Hattrick Juara, Sawunggalih Podium Pertama



Hobi burung derkuku di Sukoharjo terlihat masih tetap eksis. Kegiatan lomba masih bisa dirasakan dan dialami oleh dekoe mania setempat karena tergelar setiap bulan. Agenda paling anyar adalah Latber Halal Bihalal DMS-PEDES yang dihelat pada Minggu, 29 Maret 2026 kemarin.

Gelaran yang menempati lokasi di Lapangan Sukoharjo Kel. Kwarasan Grogol Kab. Sukoharjo membuka dua kelas yakni kelas Bebas dan kelas Pemula. Puluhan ekor derkuku memenuhi dua blok tempat gantangan yang disediakan untuk menyemarakkan kegiatan tersebut.


Support banner menjadi dukungan nyata dekoe mania


Informasi yang didapat bahwa kehadiran puluhan peserta tersebut hanya dalam kurun waktu yang tidak lama. “Alhamdulillah hari ini kami kembali mengadakan kegiatan sillaturahmi sekaligus kerek bareng bersama dekoe mania Solo dan Sukoharjo dalam agenda Latber Halal Bihalal,” terang H. Nur Ali Sasongko Ketua Pengcab Sukoharjo.

Keinginan panitia untuk bisa mengumpulkan para mania derkuku di lokasi acara, nampaknya menjadi salah satu usaha yang patut untuk diapresiasi. Betapa tidak, kesibukan mereka para peserta dan juga panitia menjadi satu diantara sekian faktor yang seringkali menghambat laju hobi.


H. Nur Ali Sasongko dan Agung Cahyanto pimpin briefing juri


Belum lagi, sebagian besar dekoe mania masih merayakan lebaran bersama keluarganya. Dibutuhkan sebuah perhatian khusus agar hobi bisa terus jalan dan tidak sampai mandek di tengah jalan. Setidaknya ada upaya untuk jemput bola agar dekoe mania disana bisa dipastikan masuk list pendaftaran.

“Setiap kali akan menggelar lomba, saya aktif mengajak rekan-rekan untuk ikut, makanya kadang saya minta bantuan yang lain untuk bisa aktif membantu saya,” ujar Jatmiko pemilik Jat Bird Farm Solo. Jatmiko mengaku bahwa dibutuhkan cara untuk mengajak rekan-rekannya agar mau turun lomba.


Nanang (MTJG BF), Wirasmo (MJZ BF), Budi S(Petir BF), Mbah Mien, dan di belakang ada Jito dan Sarno mengamati serius gacoanya


“Ketika akan menggelar lomba, panitia harus punya waktu ektra mengajak peserta untuk hadir. Dengan cara seperti ini, kami pun semakin dekat dan akrab dengan mereka,” ungkap Jatmiko. Berkat dukungan dan kerjasamanya yang luar biasa dari panitia dan juga beberapa pemain, akhirnya kegiatan tersebut mampu mencapai harapan.

Tiket di tiap-tiap kelas ludes terjual. “Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh peserta yang telah memberikan perhatian, dukungan, dan kehadirannya sehingga kegiatan Latber Halal Bihalal DMS-PEDES hari ini bisa berjalan sesuai harapan,” ujar H. Nur Ali Sasongko.

Diharapkan kedepan kegiatan-kegiatan seperti ini bisa lebih mendapatkan dukungan dan perhatian yang lebih besar lagi. Moment Latber Halal Bihalal ini dimanfaatkan sebagai ajang sillaturahmi sekaligus saling maaf memaafkan dan evaluasi diri.

“Jika ada masalah, mohon cukuplah diselesaikan di tempat saja sehingga permasalahan bisa langsung teratasi. Apalagi jika itu berkaitan dengan penjurian, karena juri juga manusia,” pinta H. Nur Ali Sasongko, kepada semua yang hadir di lapangan.


Wiwid Sword BF sukses mengantar hattrick Kanjeng Mami


“Tentu ada banyak kekurangannya dan kita wajib untuk saling koreksi. Juri-juri yang kita punyai ini harus kita berikan kesempatan untuk bekerja secara profesional tanpa adanya intervensi,” tegas H. Nur Ali Sasongko. Dengan begitu hobi yang sudah menjadi pilihan bisa tetap terjaga dengan baik.

Seperti dalam kegiatan-kegiatan sebelumnya, bahwasanya briefing juri menjadi rutinitas yang tidak pernah terlewatkan. Seluruh juri serta Guntur Juri Nasional mendapatkan arahan dari H. Nur Ali Sasongko dan Agung Cahyanto Ketua Pengcab Surakarta. “Briefing hari ini hanya sekedar mengingatkan kepada semua juri agar tidak lengah saat menjalankan tugas di lapangan,” harap H. Nur Ali Sasongko.


Barisan juara kelas Bebas


“Koordinasi penting dilakukan antara tim dan jangan sampai burung yang bunyi terlewatkan, terutama di awal-awal penjurian,” tegas H. Nur Ali Sasongko. Lebih lanjut disampaikan bahwa jangan sampai karena kegiatan ini hanya berupa Latberan, lantas menurunkan intensitas kinerja juri sehingga tidak maksimal, tetap fokus dan konsentrasi harus menjadi pegangan.

Cuaca cerah dan cenderung panas mengawal dari babak pertama sampai selesai. Penjurian berlangsung tanpa halangan, acara penjurian berlangsung seru dan lancar. Peserta begitu menikmati suasana. Tidak nampak dan terdengar teriakan yang dilakukan oleh peserta.


Lilik Purworejo juara di kelas Pemula


Benar-benar kondisi yang membuat gelaran begitu tenang dan damai. Meski ada suara dari peserta, namun itu tidak sampai berlebihan. Penerapan pembatasan nilai di kelas Pemula hanya sampai empat warna pun diterapkan. Jika ada burung yang mendapatkan penilaian lima warna akan dinaikkan ke kelas diatasnya, yakni kelas Bebas.

Hal ini terjadi pada burung yang ada di gantangan nomor 16, yang mendapatkan dua kali bendera lima warna. Yang semula berada di kelas Pemula harus berpindah ke kelas Bebas. Saat ada pertanyaan dari peserta kenapa burung tersebut sebelumnya tidak didaftarkan saja langsung di kelas Bebas?

Jatmiko, pemilik burung menjelaskan bahwa dirinya belum tahu secara pasti kualitas anggung burung miliknya itu layak ditempatkan di kelas apa. Karena burung tersebut terkadang kurang stabil performanya saat di lapangan, apalagi saat di rumah, makanya dipertahan di kelas Pemula.

Namun keberhasilannya mendapatkan penilaian bendera lima warna hingga dua kali, maka untuk selanjutnya akan didaftarkan di kelas Bebas atau tidak akan diikutsertakan lagi di kelas Pemula. Empat babak penjurian berlangsung tanpa masalah, sampai akhirnya penetapan posisi kejuaraan dilakukan.


Barisan juara kelas Pemula


Untuk podium pertama di kelas Bebas, berhasil diraih Kanjeng Mami amunisi Wiwid Sword BF Solo, derkuku ring Sword 68 yang menempati nomor gantangan 19. Kemudian Riyanto andalan Eko Myr Solo, dengan ring B2W yang berada di nomor gantangan 31 ada di tempat kedua. Sedang tempat ketiga berhasil menjadi milik Victory ring LMS 618 orbitan Eko LMS yang berada di nomor gantangan 37.

Penetapan juara di Bebas kali ini harus melalui meja juri perumus. Ini karena ada tiga burung yang berhasil mendapatkan bendera lima warna selama empat babak. Juri Perumus akan menentukan juara berdasarkan nilai aduannya masing-masing burung dimulai dari gaya irama, dasar suara, suara tengah, suara ujung, dan suara depan.


Diakhir lomba juri-juri berkumpul melakukan evaluasi


Di Pemula, posisi pertama berhasil diraih oleh Sawunggalih milik Lilik dari Purworejo. Jago bergelang LKT 229 yang ada di gantangan 29 ini mampu menerobos barisan paling depan, setelah aksinya tak terbendung oleh lawan-lawannya. Posisi kedua, berhasil direbut oleh Glory ring LMS 584 di gantangan 5, milik Eko LMS Solo. Lalu posisi ketiga di tempati oleh Kasmaran ring LMS 411 andalan Jose Solo.

Diakhir lomba juri-juri berkumpul melakukan evaluasi apa yang sudah dilakukan. Hal ini tentunya hal positif yang perlu terus dilanjutkan apalagi disitu ada Guntur sebagai Juri Nasional. Di akhir acara panitia mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan dan kehadiran peserta dan permintaan maaf apabila selama acara, ada hal-hal yang kurang berkenan. (Ramlee/Jat)






Rabu, 01 April 2026

Siamang, Primata Kera Hitam Berlengan Panjang Bersuara Keras dari Sumatera



Siamang (Symphalangus syndactylus) merupakan primata arboreal (menghabiskan hampir seluruh hidup di pohon). Daerah persebaran alami Siamang adalah Semenanjung Malaya dan hutan hujan tropis serta hutan monsun Sumatera. Primata terdiri dari banyak macamnya, ada monyet, kera, orang utan, simpanse, dan masih banyak lagi, salah satunya adalah Siamang, primata yang terancam punah.

Siamang adalah spesies owa (primata tanpa ekor) terbesar dan memiliki warna rambut paling gelap. Primata ini memiliki bulu hitam yang panjang dan lebat, namun area di sekitar mulut dan dagunya berwarna abu-abu atau merah muda. Biasanya ukuran tubuhnya dua kali lipat dari ukuran spesies owa lainnya.

Panjang kepala dan tubuh Siamang dewasa antara 737 – 889 mm. Berat badan betina berkisar antara 10 – 11,1 kg, sedangkan jantan dewasa berkisar antara 12,3 – 14,8 kg. Satwa ini memiliki sedikit selaput di antara jari kaki kedua dan ketiga. Ibu jari kakinya terpisah jauh dari jari kaki lainnya.


Siamang, Owa berbulu hitam legam dan berlengan panjang


Kekhasannya ada pada kantung tenggorokannya yang besar dan dapat mengembang serta berambut jarang. Ketika mencapai ukuran terbesarnya, kantung tenggorokan bisa sebanding dengan ukuran jeruk bali. Karakteristik unik lainnya dari spesies ini adalah lengannya menjadi penggerak ketika memanjat, berayun, ataupun melompat.

Baca juga : Yaki, si Hitam Berpantat Merah Primata Endemik Sulawesi Utara yang Terancam Punah

Panjang lengannya mencapai dua setengah kali tubuhnya. Siamang bisa berayun di ketinggian 8 sampai 10 meter. Tetapi, di antara owa lainnya, Siamang bergerak lebih lambat. Saat di tanah, Siamang biasanya bergerak dengan kedua kakinya. Berbeda dari simpanse, orang utan, gorila, dan manusia, siamang terkenal sebagai syndactylus. Panggilan ini karena Siamang memiliki dua jari di setiap tangan yang telah menyatu.


Siamang merupakan satwa arboreal


Siamang memiliki wilayah yang relatif sempit, sekitar 0,24 kilometer persegi, dan mempertahankan wilayahnya dengan ritual nyanyian setiap hari. Primata ini melakukan perjalanan sekitar setengah dari wilayahnya setiap hari. Wilayah jelajahnya sekitar 15 hingga 35 hektar.

Pada umumnya, Siamang sangat tangkas saat bergerak di atas pohon, sehingga tidak ada predator yang bisa menangkapnya. Siamang beristirahat dengan menyangga atau menggantungkan diri di pepohonan. Satwa ini diurnal atau aktif di siang hari. Biasanya, Siamang tidur dan istirahat pada bagian pohon yang paling tinggi.

Siamang hidup dalam kelompok kecil, terdiri dari 2 sampai 3 individu. Berbeda dengan kera lain, Siamang tidak memiliki tempat khusus untuk tidur. Siamang tidur di celah-celah cabang pohon, baik sendiri maupun bersama beberapa Siamang lainnya. Posisi tidurnya tegak, bersandar pada bantalan keras di ujung belakang yang disebut ischial callosities.

Hewan ini selalu memenuhi hutan yang ditinggalinya dengan gericauan (berbunyi keras-keras dan berulang-ulang seperti bunyi burung) merdu nan membahana. Ketika menggericau, kantong tak berbulu di tenggorokan owa Siamang akan mengembang. Kantung suara besar di lehernya yang memperkuat panggilan nyaringnya. Suara siamang terkenal kedahsyatannya, sehingga gericauannya dapat terdengar hingga sejauh 4,8 kilometer di dalam hutan.


Siamang sedang mencari buah-buahan hutan


Siamang biasanya mengerih (bersauara keras) di pagi hari. Kerihan ini untuk mendefinisikan atau mempertahankan wilayah dari para tetangganya. Selain itu, gericauan siamang juga merupakan tanggapannya atas gangguan. Ricauan siamang juga merupakan bentuk komunikasi satwa ini.

Baca juga : Tarsius, Primata Bertubuh Mungil Bermata Besar Paling Langka di Dunia yang Setia pada Pasangannya

Selain gericauan solo, komunikasi vokal Siamang tak jarang melibatkan duet, terutama ketika sedang ingin kawin. Pada pagi hari, Siamang betina dewasa sering memulai teriakan teritorialnya lalu diikuti oleh Siamang lainnya. Saling bersahutan dan berlangsung hingga 30 menit. Pada saat bahaya, Siamang betina akan mengeluarkan suara nyaring yang diikuti oleh siamang jantan, berlangsung selama 3-15 menit.


Siamang sering terlihat istirahat di bagian pohon tertinggi


Jantan dan betina yang berpasangan juga saling bersahutan. Bahkan, setiap pasangan akan menciptakan suara panggilan yang unik. Selain komunikasi vokal, hewan ini menggunakan komunikasi taktil. Komunikasi taktil terlihat pada agresi fisik. Semua primata menggunakan sinyal visual, seperti ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh dalam berkomunikasi.

Saat bersuara, satwa ini dapat menghasilkan dua jenis nada yang berbeda dengan menggunakan kantung suara di tenggorokannya. Vokal dalam yang keluar dengan mulut tertutup, dan suara nyaring keluar ketika mulut Siamang terbuka. Suara dengan mulut tertutup jarak dengarnya lebih jauh daripada suara dengan mulut terbuka atau yang terdengar seperti teriakan ‘wow’. Vokalisasi ini seperti gonggongan yang memiliki pola. Awalnya perlahan dan kemudian bertambah cepat. Panggilan ini sering bersamaan dengan perilaku akrobatiknya.

Siamang adalah primata monogami, hidup dalam kelompok keluarga dengan tiga keturunan. Satwa ini menghasilkan satu keturunan dengan interval dua sampai tiga tahun. Masa kehamilannya antara 189 – 239 hari atau kira-kira 7 setengah bulan. Keturunannya melekat pada induknya, selama tiga sampai empat bulan pertama.

Ayahnya mulai menggendong bayinya pada saat masa sapih setelah bayi mencapai usia dua tahun. Pejantan menunjukkan lebih banyak perawatan untuk keturunannya daripada spesies owa lain. Satwa ini mencapai kedewasaan pada usia enam atau tujuh tahun. Usia hidup satwa ini bisa lebih dari 40 tahun di penangkaran.


Siamang sedang menggericau di pagi hari


Siamang terkenal memiliki lebih banyak koordinasi dan kontak selama aktivitasnya sehari-hari. Keluarga Siamang biasanya mencari makan bersama-sama. Primata ini bangun saat matahari terbit dan melakukan ‘konser pagi’ dengan kantung tenggorokannya sebelum berangkat mencari makan. Makanan Siamang Sekitar 75 % berupa buah-buahan sebagai sumber energi utama. Sisanya terdiri atas daun muda, bunga, biji, kulit kayu, serta sesekali serangga, laba-laba, telur, dan burung kecil sebagai sumber protein.

Baca juga : Tarsius Supriatna, Spesies Tarsius Baru yang Ditemukan di Semenanjung Sulawesi Utara

Siamang termasuk omnivora dengan pola makan adaptif sesuai ketersediaan pakan. Siamang banyak memanfaatkan pohon seperti Ficus, Garcinia, Lithocarpus, dan Mangifera indica. Ketersediaan makanan dipengaruhi musim, sehingga Siamang menyesuaikan asupannya. Saat makan satwa ini menahan dirinya dengan satu tangan.


Induk Siamang bersama anaknya


Biasanya Siamang butuh waktu sekitar 5 jam untuk makan sampai kenyang. Siamang tidak dapat berenang dan takut air. Karena takut air, Siamang akan minum dengan cara mencelupkan kaki depannya ke dalam air atau menggosok tangan pada daun basah dan menghisap air pada bulu kakinya.

Setelah delapan sampai sepuluh jam beraktivitas, Siamang akan mengidentifikasi tempat untuk istirahat dan tidur. Seperti kebanyakan primata, salah satu kegiatan terpenting dari hewan ini adalah grooming atau berdandan. Siamang dewasa biasanya butuh waktu rata-rata 15 menit per hari. Berdandan adalah bentuk dari dominasi. Semakin dominan dirinya, maka satwa ini lebih banyak mendapatkan perawatan daripada merawat.


Populasi Siamang terus menurun dan rentan punah


International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List mengklasifikasikan Siamang dalam status endagered, rawan punah. Satwa ini terdaftar pada Appendix I CITES (CITES 2011). Status IUCN-nya menunjukkan penurunan populasi lebih dari 50 % dalam 50 tahun terakhir. Seperti halnya spesies owa-owa lainnya, kurangnya data termutakhir tentang ukuran populasi dan jangkauan siamang merupakan masalah serius bagi upaya konservasi.

Populasinya yang terus menurun akibat kerusakan hutan, perburuan liar, dan perdagangan ilegal yang memperjualbelikan Siamang sebagai hewan peliharaan. Berbagai upaya konservasi dilakukan, seperti program rehabilitasi dan pelepasliaran di Taman Nasional Gunung Leuser serta Suaka Margasatwa Isau-Isau di Sumatera. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Siamang, Primata Hitam Berlengan Panjang yang Hobi Menggericau


Rabu, 18 Maret 2026

Hoya, Tanaman Merambat yang Memikat Keindahannya dan Bisa Serap Polutan



Hoya merupakan salah satu tanaman hias yang populer di kalangan pecinta tanaman. Bunga ini memiliki bentuk yang unik dan indah, dengan tekstur seperti lilin dan warna yang beragam. Bunga Hoya juga memiliki aroma yang harum dan menyegarkan.

Tanaman ini dikenal sebagai epifit atau litofit, memiliki karakteristik sukulen, dan memiliki struktur yang indah. Tanaman Hoya termasuk tumbuhan tropis dari keluarga Apocynaceae yang banyak ditemukan di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Vietnam. Beberapa jenis kecilnya juga ditemukan di Australia dan India bagian selatan.


Hoya merupakan tanaman epifit yang tumbuh merambat



Di Indonesia, Hoya dapat ditemukan di Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Papua. Tanaman ini pertama kali ditemukan oleh ahli botani asal Skotlandia, Robert Brown, yang memberi nama Hoya untuk menghormati sahabatnya, Thomas Hoy. Brown menemukan Hoya saat ekspedisi ilmiah ke benua Asia dan Australia pada 1798.

Baca juga : Philodendron, Tanaman Hias Populer dengan Daunnya yang Ornamental

Hoya tumbuh sebagai tanaman merambat atau melilit pada batang pohon yang ditumpanginya, dengan ketinggian mencapai 1 hingga 18 meter. Bunga Hoya memiliki ciri khas semiglosi dengan kemilau yang agak kabur, karena tertutupi oleh bulu halus.


Kini Hoya merupakan salah satu tanaman hias yang populer


Bunga yang berbentuk seperti bintang ini sering disebut sebagai tanaman lilin atau bunga porselen, karena tampilannya yang mirip replika bunga asli. Bunga-bunganya ini bergerombol menjadi setengah lingkaran dan menggantung dengan warna yang mencolok.

Setiap kuntum bunga memiliki ukuran sekitar 1,5 cm, dan tumbuh dalam kelompok yang berjumlah hingga 30 kuntum. Aroma bunga Hoya bervariasi, dengan beberapa jenis mengeluarkan aroma cokelat atau selai kacang. Karena bentuknya mirip dengan anggrek, Hoya carnosa ini sering disalah artikan sebagai bunga anggrek.

Bunga Hoya yang berkilau seperti bintang mungil ini mempunyai banyak nektar lengket yang disukai kupu-kupu. Tidak jarang bunganya berjatuhan di tanah karena beratnya nektar atau karena kelakuan para serangga penyerbuk tersebut.

Selain kecantikan bunganya, daun Hoya juga menarik perhatian karena kesederhanaannya yang tersusun dalam pola berlawanan, dengan bentuk yang sukulen. Tanaman ini dulunya sering digunakan sebagai tanaman hias di taman rumah bangsawan Nusantara dan bahkan dibawa ke Eropa pada masa kolonial oleh pedagang Eropa.


Hoya archboldiana


Hoya memiliki nilai penting dalam keanekaragaman hayati Indonesia. Selain nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi, Hoya juga memiliki manfaat ilmiah. Sejak lama, tanaman ini telah digunakan sebagai bahan obat tradisional oleh masyarakat Indonesia dan kawasan Polinesia.

Baca juga : Bromelia, si Nanas Hias dengan Keragaman Bentuk dan Warna Daun yang Eksotis

Keunggulan lainnya adalah kemampuannya dalam menyerap polutan di ruang tertutup. Sejumlah peternak domba di Australia juga memberikan ramuan Hoya bagi ternak mereka yang keracunan. Namun, Hoya sangat bergantung pada pohon tempatnya tumbuh, dan upaya konservasi sangat diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidupnya.


Hoya australis


Sebagai tanaman tropis, Hoya tumbuh dengan baik di iklim hangat dan bebas embun beku. Ada 200–300 jenis Hoya tumbuh di dunia. Sekitar 25 persen atau 50–60 jenis terdapat di Indonesia, di antaranya Hoya archboldiana, H. australis, H. cinnamomifolia, H. kerrii, dan H. imbricata.

Perbanyakannya dapat dilakukan baik secara vegetatif maupun secara generatif melalui biji. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan melalui metode kultur jaringan tumbuhan dan melalui stek dan cangkok. Untuk perbanyakan secara cangkok, dilakukan dengan cara mencangkok sulur batangnya.

Untuk tanaman Hoya di dalam ruangan, disarankan ditempatkan di area yang mendapatkan cahaya terang namun tidak langsung. Sedangkan untuk Hoya yang tumbuh di luar ruangan, tempat yang terlindung dari angin dan mendapat sinar matahari pagi yang lembut adalah lokasi yang ideal.

Dengan keindahan bunga dan manfaatnya yang beragam, Hoya terus menjadi salah satu tanaman yang sangat dihargai, baik dari sisi estetika, keanekaragaman hayati, maupun manfaat medisnya. Bunga Hoya mengandung senyawa flavonoid dan saponin yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi.


Hoya cinnamomifolia


Senyawa ini dapat membantu mengeluarkan racun dalam tubuh melalui keringat atau urine. Selain itu, senyawa ini juga dapat meningkatkan sistem imun tubuh dan mencegah infeksi. Bunga Hoya memiliki sifat antibakteri dan antijamur yang dapat membantu menyembuhkan luka pada kulit.

Baca juga : Gelombang Cinta, Tanaman Hias yang Dulu Banyak Dicari Kini Tak Berarti

Bunga Hoya memiliki aroma yang harum dan menenangkan yang dapat membantu tidur lebih nyenyak, dengan meletakkan pot bunga Hoya di kamar tidur atau menghirup aromanya sebelum tidur. Bunga Hoya juga dapat mengurangi stres dan kecemasan yang dapat mengganggu kualitas tidur.


Hoya kerrii


Bunga Hoya dapat digunakan sebagai bahan alami untuk merawat kulit. Fitosterol hadir dalam tanaman Hoya, yang dapat membantu dalam menghidrasi dan memulihkan vitalitas kulit. Jadi bisa membuat masker dari bunga Hoya dengan cara menghaluskannya dan mencampurnya dengan madu atau yogurt. Masker bunga Hoya dapat membantu membersihkan, melembabkan, dan mencerahkan kulit. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Hoya, Tanaman Hias Cantik dan Berkhasiat yang Tumbuh Merambat


Minggu, 15 Maret 2026

Kadal Pensil, Kadal Eksotis Asal Papua yang Serupa Ular



Kadal Pensil (Lialis burtonis) merupakan jenis kadal tanpa kaki yang tersebar di Papua hingga Australia yang mirip ular. Dengan tubuh ramping tanpa kaki, reptil ini sering disalah artikan sebagai ular. Kadal pensil merupakan spesies kadal yang berasal dari famili Pygopodidae. Hewan yang berasal dari famili ini sering disebut kadal tanpa kaki atau kadal ular.

Hal ini disebabkan karena kadal ini merupakan spesies yang tidak memiliki kaki depan dan kaki belakangnya belum berkembang secara sempurna, sehingga kadal ini secara sekilas terlihat seperti ular. Kadal ini memiliki ukuran tubuh yang tergolong kecil. Panjangnya antara 50 sampai 60 cm, dengan ekor sedikit lebih panjang daripada tubuhnya.

Susunan sisik-sisik di tubuhnya mirip seperti jenis-jenis ular. Akan tetapi, kadal ini masih bisa dibedakan karena ia memiliki lubang telinga. Selain itu, lidahnya tidak bercabang panjang seperti halnya pada ular. Kepalanya berbentuk runcing seperti ujung pensil, dan menjadi alasan penamaan “kadal-pensil” tersebut.


Kadal Pensil sering ditemukan di daerah basah di Papua


Tubuhnya berwarna dasar cokelat tanah atau cokelat kekuningan, terkadang disertai dengan garis-garis hitam yang membentang dari kepala hingga ujung ekor. Bagian bawah tubuh berwarna lebih pucat. Kadal ini tersebar luas di Australia, kecuali wilayah selatan, serta di pulau Papua bagian selatan.

Baca juga : Kadal, Kelompok Reptil Bersisik yang Hidup di Berbagai Habitat di Dunia

Hewan ini dapat ditemukan di berbagai habitat, mulai dari gurun hingga pinggiran hutan hujan. Habitat utama kadal ini adalah padang rumput (sabana) serta di pinggiran hutan dataran rendah. Walaupun begitu, kadal ini juga sering ditemukan di daerah gurun pasir dan tepian sungai. Namun kadal ini tidak dapat ditemukan di bagian pegunungan dan bagian gurun yang beriklim ekstrem.


Kadal Pensil juga ditemukan di daerah gurun benua Australia


Kadal ini hidup di atas tanah dan seringnya berkeliaran di antara rerumputan dan serasah, serta daun-daun kering yang basah untuk mencari makanannya Kadal pensil memiliki kepala yang berbentuk segitiga dengan moncong yang memanjang. Kadal ini memiliki gigi yang runcing dan melengkung.

Bentuk kepala dan giginya dapat memudahkannya untuk mencengkram mangsa. Penglihatan kadal pensil atau yang biasa disebut Burton’s snake-lizard ini sangatlah tajam. Moncongnya yang memanjang juga dapat meningkatkan penglihatan dari kadal pensil karena memungkinkan arah serangan terhadap mangsa juga lebih akurat.

Warna dari kadal pensil cukup bervariasi, mulai dari krem, abu-abu, cokelat, hingga merah tua dengan bagian kepala yang umumnya berwarna sedikit lebih gelap. Hewan ini memiliki sepasang lubang telinga yang terlihat jelas di kedua sisi kepalanya. Lidahnya lebar, agak datar, dan berdaging.

Aktivitas kadal pensil bervariasi, tergantung suhu lingkungan. Umumnya aktif di siang hari atau bersifat diurnal. Hal ini karena sebagian besar mangsanya aktif pada siang hari. Namun sebenarnya kadal ini juga dapat aktif di malam hari tergantung kondisi. Namun sebenarnya kadal ini juga dapat aktif di malam hari.


Lidah Kadal Pensil tidak bercabang seperti halnya ular


Kadal ini aktif di malam hari untuk mengurangi risiko hipertermia pada cuaca yang panas dan mengurangi risiko dimangsa oleh predator diurnal, seperti burung pemangsa. Kadal pensil berburu mangsanya menggunakan penglihatannya yang tajam. Kadal pensil akan berlindung di tempat tersembunyi untuk menyergap mangsanya.

Baca juga : Soa Soa Layar, Kadal Purba Eksotis Endemik Indonesia Timur

Kadal ini juga terkadang menggunakan ekornya sendiri untuk umpan sebagai strategi mencari makan. Strategi ini cukup unik dan jarang terjadi pada kadal lainnya. Kadal pensil merupakan hewan karnivora atau pemakan hewan lainnya. Satwa ini hampir selalu memangsa jenis kadal lainnya sebagai mangsa utama, biasanya dari golongan skink.


Kadal Pensil sedang memangsa kadal skink


Terkadang, kadal ini juga memakan serangga, tokek, dan ular yang lebih kecil dari tubuhnya bahkan kadal tak berkaki lainnya. Walaupun begitu, kadal-pensil Burton juga merupakan makanan bagi ular-ular yang berukuran lebih besar dari tubuhnya.

Kadal pensil adalah hewan ovipar atau berkembang biak dengan cara bertelur. Individu betina dari kadal pensil ini memiliki kemampuan menyimpan sperma jantan di suatu bagian tubuhnya. Kemampuannya ini yang kemudian memungkinkan bagi kadal pensil betina untuk dapat melakukan partenogenesis, yaitu berkembang biak tanpa pembuahan.

Kadal pensil betina biasanya bertelur 1 hingga 3 butir, yang diletakkan di tempat tersembunyi, seperti di bawah kayu, bebatuan, di tanah, di bawah serasah daun, bahkan terkadang diletakkan di sarang semut gula.

Proses penetasan memakan waktu beberapa minggu. Anak yang baru menetas dari telur umumnya akan berukuran sekitar 13 cm. Anakan kadal pensil yang baru menetas, juga dikenal sebagai tukik, memiliki ciri-ciri dan perilaku khusus. Anakan kadal pensil terlihat seperti versi kecil dari kadal pensil dewasa, biasanya berukuran antara 7 hingga 10 cm dari moncong hingga ujung ekor.


Kadal Pensil terkadang memangsa kadal pensil yang lain


Kulitnya mungkin lebih kusam atau memiliki pola yang sedikit berbeda dibandingkan dengan induknya. Tukik kadal pensil sepenuhnya mandiri sejak menetas. Kadal pensil yang masih kecil tidak memerlukan perawatan orang tuanya dan harus mencari makan serta tempat berlindung sendiri segera setelah keluar dari telur.

Baca juga : Bearded Dragon, si Kadal Gurun Australia

Anakan kadal pensil cenderung sangat pemalu dan pandai bersembunyi. Dan menghabiskan sebagian besar waktunya di balik dedaunan, kulit kayu, atau celah-celah kecil untuk menghindari predator. Anakan kadal pensil ini sangat lincah dan cepat bergerak saat merasa terancam.


Telur Kadal Pensil


Makanan utamanya terdiri dari serangga kecil dan invertebrata, sama seperti kadal dewasa, hanya saja dalam ukuran yang lebih kecil. Anakan kadal pensil berbagi habitat yang sama dengan kadal dewasa, sering ditemukan di daerah dengan banyak vegetasi dan serasah daun di tanah hutan.

Kadal pensil dapat menggigit ketika merasa terancam. Namun, mekanisme pertahanan yang paling digunakan kadal ini adalah menanggalkan ekornya ketika disergap oleh predator, mirip seperti yang dilakukan cicak. Tentunya ekor kadal pensil juga dapat tumbuh kembali. Walau dapat menggigit dan bentuk fisiknya mirip seperti ular, kadal pensil ini tidak berbisa ataupun beracun. Oleh karena itu, kadal ini tidak berbahaya bagi manusia.


Kadal Pensil Burton termasuk salah satu keajaiban alam yang dimiliki Indonesia


Meskipun kadal-pensil Burton masih berstatus Least Concern menurut IUCN, ancaman seperti deforestasi dan perdagangan ilegal dapat mempengaruhi populasinya. Perlindungan habitat menjadi kunci utama untuk menjaga kelangsungan hidup spesies ini. Kadal pensil Burton adalah salah satu keajaiban alam yang dimiliki Indonesia. Bentuknya yang menyerupai ular tetapi memiliki karakteristik kadal membuatnya unik. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Kadal Pensil, Reptil Unik Tanpa Kaki yang Menyerupai Ular


Sabtu, 14 Maret 2026

Kolaborasi Pedes DMS Gelar Latberan Spesial Ramadhan, Kanjeng Mami dan Surya Madina Juara



Pengcab. PPDSI Sukoharjo memenuhi janjinya untuk selalu menggelar kegiatan lomba dengan menggandeng komunitas penggemar derkuku di Sukoharjo dan Solo. Seperti pelaksanaan kegiatan Latberan Spesial Ramadhan Kolaborasi Pedes dan DMS di hari Minggu, 8 Maret 2026 kemarin di Lapangan Sukoharjo Kel. Kwarasan Grogol Kab. Sukoharjo.

Kegiatan ini dalam rangka membangun tali silaturahmi diantara penggemar derkuku di Sukoharjo dan Solo. Latberan ini rencananya dilaksanakan pada sore hari karena bulan puasa namun karena hampir tiap sore selalu turun hujan maka diputuskan tetap dilaksanakan pada pagi hari seperti biasanya.


Trophy yang diperebutkan


Intensitas hujan yang cukup tinggi membuat persiapan panitia sedikit terganggu. Dengan sangat terpaksa pagi menjelang lomba banner dan tenda kepanitiaan baru bisa dipasang. “Monggo panitia dibantu pemasangan bannernya,” pinta Andang, salah satu panitia memberi komando.

Tidak butuh waktu lama banner dan tenda bisa terpasang dengan baik, meski ada beberapa banner yang belum sempat terpasang karena tempatnya sudah penuh. “Alhamdulillah, program suport bannernya direspons dengan baik,” ujar Jatmiko pemilik Jat BF yang membantu desain.


Juri-juri yang bertugas


Jatmiko juga tidak segan kontak satu persatu peserta untuk bersedia pasang banner bird farmnya, contohnya Amin pemilik Grace BF yang akhirnya berani suport dua banner dengan desain latar belakang mobil antik. “Mantap Pak Jat, desainnya aku suka itu,” tutur Amin memuji.

Peserta latber kali ini tetap antusias meski ada beberapa gantangan yang kosong karena ada beberapa peserta yang batal mendadak. “Gak papa itu hal yang biasa, dan kita semua bisa memakluminya karena masih bulan puasa. Target peserta dengan gantangan yang tersedia pun sudah tercapai,” jelas Andang.


Hujan menghantui pelaksanaan Latberan Spesial Ramadhan


“Kami berkumpul di sini untuk menjaga suaasana guyub rukun yang selama ini sudah terbangun diantara penggemar derkuku. Selain itu gaco-gaco kami membutuhkan latihan yang lebih intensif agar bisa bersaing di event-event besar nantinya,” terang H. Nur Ali Sasongko Ketua PPDSI Sukoharjo.

Pemilik Nasa BF ini berharap, dari kontestan yang turun hari itu, nantinya mampu bersaing tidak saja di ajang lokal tetapi juga nasional. ‘’Suatu saat nanti kami berharap peternak Sukoharjo dan Solo mampu berkibar di LDI,” ujar H. Nur Ali Sasongko.


Aries, Eko LMS, Hery, dan Hafid


H. Nur Ali Sasongko mengucapkan terima kasih kepada seluruh dekoe mania yang sudah berpartisipasi hadir di ajang Latberan Spesial Ramadhan ini. “Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran semua peserta. Karena tanpa dukungan dari semua yang hadir, jelas acara ini tak mungkin bisa terlaksana,” tutur H. Nur Ali Sasongko.

Mudah-mudahan acara ini bisa bermanfaat bagi kita semua, aamiin.” H. Nur Ali Sasongko juga meyakini bahwa dengan sekian banyaknya trah-trah bagus yang menjadi materi para peternak, ke depan Sukoharjo dan Solo bakal tidak kekurangan jago-jago untuk dilombakan di ajang lokal dan nasional.


H. Nur Ali Sasongko (kanan) mbegitu menikmati suasana lomba


Tinggal bagaimana menumbuhkan semangat untuk berani tampil di lomba. “Juara memang menjadi tujuan penghobi ke lomba, tetapi lebih dari itu membangun dunia derkuku agar semakin ramai membutuhkan sumbangsih nyata dengan minimal ikut menurunkan burung hasil rawatannya.”

Meski cuaca mendung tanpa teriknya matahari, burung-burung tetap mamapu bersaing ketat. Adu kualitas anggung merdu yang dilepas oleh masing-masing jago, betul-betul terdengar sangat jelas dan saling bersautan serta jadi tontonan yang menarik. Suasana yang sangat dinanti para penghobi.


Para juara di kelas Bebas


“Lihat saja pertarungan di kelas Pemula yang pada babak pertama hanya ada sembilan burung yang mendapat empat warna dan terus bertambah jumlahnya di babak berikutnya,” jelas Dalip selaku juri Perumus yang selalu tanggap setiap ada progres bertambahnya nilai.

Sebagai juri Perumus, Dalip aktif membantu juri-juri dalam menjalankan tugasnya. Hal ini perlu dilakukan agar proses rekapitulasi penilaian bisa segera terselesaikan dengan cepat. “Terkadang sampai harus masuk lapangan bukan untuk intervensi, tetapi untuk cek kepastian gantangan mana yang sudah/ belum masuk rekap,” ungkap Dalip.


Bambang HW gantangan 9 juara di kelas Pemula


Empat babak penjurian terselesaikan tanpa hambatan. Sampai akhirnya ditetapkan posisi kejuaraan. Untuk kelas Bebas, juara pertama berhasil menjadi milik Kanjeng Mami amunisi Daud Toni, Solo. Derkuku ternakan Sword 65 yang menempati nomor kerekan 18. Kanjeng Mami juara setelah sukses meraih bendera lima warna dua kali dan sekali bendera tiga warna.

Tempat kedua ditempati Bimo andalan Hery Solo ring JNG 201 pada kerekan nomor 47 dengan mendapat sekali bendera lima warna di babak pertama dan empat warna tiga kali. Posisi ketiga diraih Tirtonadi milik Wawan Solo Baru, derkuku bergelang B2W 2190 yang ada di nomor kerekan 40.


Juara kelas Pemula


Di kelas Pemula, juara pertama berhasil menjadi milik Surya Madina debutan Bambang HW Sukoharjo, derkuku ring PSG 644 yang dikerek pada nomor 9. Disusul kemudian Densus 62 besutan Budi Gentan Sukoharjo, ring BS62 188 yang berada pada nomor kerekan 34. Dan tempat ketiga dimenangkan Arya Jagat orbitan Aris Sukoharjo ring FM 17 yang dikerek pada nomor 33. Di akhir acara segenap panitia mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kehadiran serta meminta ma’af jika ada hal-hal yang kurang berkenan. (Ramlee/Jat)





Selasa, 03 Maret 2026

Arwana Papua, Si Cantik Asli Papua yang Eksotis



Arwana Papua atau dikenal juga sebagai Arwana Jardini (Scleropages jardinii) merupakan ikan endemik Papua (Indonesia dan PNG) dan Australia Utara. Untuk Papua sendiri, ikan arwana ini termasuk ikan asli dan endemik di perairan Papua bagian selatan seperti di wilayah Kabupaten Merauke, Boven Digul, Mappi, dan Asmat.

Penduduk setempat menyebutnya ikan kaloso. Masyarakat di sekitar Sungai Digul dan Sungai Maro, ikan ini sering ditangkap dengan cara dipancing atau dijaring untuk dikonsumsi. Daging ikan ini dikenal rasanya sangat enak. Ikan Arwana Papua sangat lincah dan sangat sulit ditangkap.

Bahkan ikan ini mampu meloloskan diri dari kepungan jala yakni dengan cara meloncat cepat. Ikan Arwana Papua di kawasan Merauke banyak ditemukan di wilayah bagian tengah sampai hulu sungai dengan karakteristik habitat berupa perairan rawa banjiran dengan arus tenang dan banyak terdapat tumbuhan air.


Arwana Papua hidup di perairan berarus tenang


Arwana Papua mempunyai tubuh yang panjang dan rata, dengan mata besar yang digunakan untuk melihat mangsanya secara akurat saat berburu. Tubuhnya berwarna abu-abu perak sampai kuning kehijauan dan ramping. Sisik arwana jardini berkilauan sangat indah seperti mutiara jika terkena cahaya lampu dari sudut yang tepat. Karena itu, orang juga sering menyebut ikan ini sebagai Arwana Mutiara.

Baca juga : Arwana, Ikan Hias Eksotik yang Simpan Ratusan Telurnya dalam Mulutnya

Jika dilihat secara sekilas, tampilannya memang serupa juga dengan ikan Arwana Asia (Scleropages formosus). Namun ikan Arwana Papua memiliki karakteristik yang berbeda dengan kerabatnya tersebut. Dengan corak sisik hijau atau merah keemasan. Memiliki 7-8 baris sisik dan ukurannya yang juga relatif lebih kecil.


Seorang pemancing mendapatkan Arwana Papua monster



Corak warna sisik Arwana Papua juga relatif lebih kusam dengan pola cincin melingkar seperti bulan sabit di tepi sisik berwarna hijau atau merah. Pada ikan yang lebih tua, tenggorokannya berwarna oranye keemasan sampai merah, dan sungut ikan punya warna biru kehijauan.

Sirip punya warna metalik yang lebih gelap dengan bercak oranye sampai merah muda. Arwana Papua punya mulut besar dan miring yang dilapisi dengan gigi kecil, yang berakar kuat di lidah ikan, faring, rahang, dan langit-langit.

Ikan ini juga punya sungut bercabang di ujung rahang bawah yang digunakannya untuk merasakan aktivitas di permukaan air yang mungkin menunjukkan adanya mangsa. Untuk ikan jantan, bisa dibedakan dengan menonjolkan rahang bawah dan dagunya, sedangkan betina biasanya bertubuh lebih tebal saat dewasa. Ikan jantan juga punya sirip belakang yang lebih panjang daripada ikan betina.

Di alam liar, Arwana Papua adalah pemangsa permukaan (surface feeder) yang memakan serangga (jangkrik, belalang), invertebrata (udang, cacing), katak kecil, kadal, cecak, dan ikan-ikan kecil lainnya. Arwana Papua aktif mencari makan di malam hari.


Arwana Papua mengerami telurnya di dalam mulut (mouthbrooding)


Dan sering muncul ke permukaan di siang hari untuk menangkap mangsa seperti serangga dari dahan pohon rendah. Memanfaatkan kebiasaannya melompat ke permukaan air untuk menerkam mangsa, menjadikannya omnivora karnivora yang oportunistik.

Baca juga : Gurami Sabah, Ikan Air Tawar Endemik Kalimantan Bukan Sembarang Gurami

Ikan Arwana Papua ini adalah karnivora agresif dan bisa tumbuh sampai sekitar 60 centimeter di penangkaran dengan berat badan sekitar 2,3 kilogram atau lebih. Di alam, arwana liar bisa tumbuh sampai satu meter panjangnya dan merupakan predator yang tangguh. Arwana Papua menghuni bagian atas sampai bagian tengah perairan tropis tempatnya tinggal.


Anakan Arwana papua yang baru saja menetas


Arwana Papua mempunyai teknik berburu yang unik. Ikan ini akan bersembunyi, menguntit, dan melompat keluar dari air untuk memangsa hewan kecil dan serangga dari tumbuhan yang menggantung atau di dekatnya, tidak heran kalau ikan ini mendapat julukan “monyet air.”

Arwana Papua cenderung hidup soliter atau berpasangan, dan pejantan akan menjaga wilayahnya. Arwana Papua berkembang biak di alam liar dengan mencari perairan tenang atau lambat seperti sungai dangkal, rawa, atau danau dengan dasar berbatu.

Arwana Papua liar mulai bertelur saat musim penghujan tiba. Terutama saat suhu air mulai menghangat (sekitar 30 °C) pada musim tertentu (September-November). Pasangan ikan jantan dan betina akan kawin. Betina melepaskan 50-100 telur yang kemudian dibuahi oleh ikan jantan.

Pejantan akan mengumpulkan telur-telur tersebut dan mengeraminya di dalam mulutnya (Mouthbrooding) selama kurang lebih 30 hari. Setelah menetas, benih Arwana Papua tetap bersama induk jantannya selama sekitar empat hingga lima minggu.


Arwana Papua termasuk jenis satwa liar yang dilindungi Undang-Undang


Ketika anak-anak ikan ini Arwana Papua terancam, induk jantan akan segera membuka mulutnya dan membiarkan anak-anaknya untuk berlindung ke dalam mulutnya. Arwana Jardini remaja seringkali memangsa serangga di permukaan air.

Baca juga : Ikan Sumpit, si Ninja Bawah Air

Ikan arwana asli Papua ini memiliki 2 varian, yakni red pearl dan green pearl. Varian red pearl mudah dikenali dari adanya ragam corak seperti garis bercoret berwarna merah muda di sekitar mata dan penutup insang. Sedangkan pada varian green pearl warnanya lebih polos, ada sisik berbintik kehijauan dengan sirip berwarna abu-abu dan hitam. Beberapa spot putih dapat ditemukan pada bagian sirip punggung dan sirip anal.


KKP lepasliarkan ratusan Arwana Papua di Merauke


Ikan Arwana Papua salah satu jenis satwa liar yang dilindungi Undang-Undang yaitu Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) dan Lampiran perubahan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 106/MENLHK/SEFJEN/KUM.1/2018 tentang TSL yang dilindungi undang-undang.

Status konservasi Arwana Papua dilindungi terbatas, berbeda dengan Arwana Asia (Super Red, Golden) yang masuk CITES Appendix I dan sangat dibatasi perdagangannya. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara rutin melakukan pelepasliaran (restocking) Arwana Papua di habitat aslinya di Merauke untuk menjaga keberlanjutan populasinya. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Arwana Papua, Ikan Endemik Perairan Papua yang Mempunyai Teknik Berburu Unik