Kamis, 21 Oktober 2021

Tata Cara Penilaian Lomba Seni Suara Burung Puter Pelung



Pada saat mengikuti event lomba seni suara alam burung puter pelung yang marak diselenggarakan dimana-mana, sudah seharusnya peserta mengerti tata cara penilaian yang dilakukan oleh juri-juri yang bertugas. Sehingga tidak ada perasaan adanya ketidak adilan ketika burung besutannya mengalami kekalahan.

Seringkali saat di lapangan, di area gantangan, penggemar burung puter pelung belum semuanya memiliki pengetahuan yang cukup, dan kadang hanya bermodalkan harga beli burungnya yang mahal sehingga berharap banyak burungnya akan menjadi juara. Anggapan tersebut sah-sah saja, tetapi perlu pahamkan serta diluruskan terkait sistem penilaian saat lomba.

Hanya burung yang berkualitas saja yang akan menjadi juara. Burung juara tentu saja mempunyai kualitas suara yang sesuai dengan pakem penilaian suatu organisasi yang menyelenggarakan lomba tersebut. Yang lebih penting lagi, burung yang mempunyai kualitas anggung yang baik juga harus ditunjang dengan aktifnya burung yang berlomba dalam memamerkan keindahan anggungnya.

Seperti yang dituturkan oleh Bekti Setyo Utomo, seorang juri sekaligus Ketua III Bidang Kejurian Pengda PPPPSI Jawa Timur. Selama ini dirinya melihat masih ada peserta yang merasa tidak puas dengan penjurian, akibatnya masih terlihat adanya protes. Hal inilah dinilai oleh Bekti bukan semata-mata kesalahan juri, namun bisa karena pemahaman peserta akan sistem penjurian yang dinilai kurang.

Cara yang tepat mengakhiri kemelut ini adalah dengan jalan memahamkan peserta. Agar masalah yang seringkali timbul dari belum pahamnya peserta tentang penjurian burung puter pelung, bisa segera berakhir, dengan memberikan sosialisasi tentang penilaian yang diberikan.


Juri-juri Pengda PPPPSI Jawa Timur


“Unsur dalam sebuah perlombaan burung puter pelung adalah peserta, juri, dan burung itu sendiri. Ketiga unsur ini tidak bisa dilepaskan,” terang Bekti. Menurutnya peserta harus punya pemahaman yang baik. Baik yang di maksudkan disini adalah kalau peserta paham kualitas burung dan nilai burung, sehingga ia akan mampu mengikuti aturan main penjurian yang sudah ditentukan.

Selama mereka, para peserta tidak memiliki pemahaman, maka ketidak puasan disertai protes akan terus ada. Dampak lain dari pahamnya peserta, maka mereka tidak akan meleset dalam mengorbitkan burung dan dampak lain yang dinilai lebih penting adalah peserta tidak akan bisa diakal-akali.

Pemain burung puter pelung saat melombakan jawaranya, kadang juga tidak sabar apabila burung yang sedang bunyi langsung minta ditancepin bendera koncer. Karena juri harus menilai bagaimana suara depannya, tengah, ujung, dasar suara, dan gaya iramanya, sebelum akhirnya memberikan bendera koncer.

Bagi yang belum paham dasar penilaian seni suara alam burung puter pelung, berikut tata nilai yang sudah diterbitkan oleh Perkumpulan Penggemar dan Pelestari Puter Seluruh Indonesia (PPPPSI). Ada beberapa kriteria suara yang dinilai.


I. Suara Depan/Angkatan

Yang dimaksud dengan suara depan adalah bagian suara anggung yang terdengar pertama pada saat burung puter mengeluarkan suara (unsur pertama dari suara burung puter). Nilai maksimal suara depan adalah 9. Contoh suara depan : Khuuk, Kluk, Kruk, dan sebagainya.

Suara depan dibagi 3 sub unsur dalam penilaian dan diharapkan ketiga sub unsur tersebut dapat terpenuhi. Ketiga sub unsur dari suara depan yaitu :

1. Jelas

Yang dimaksud dengan jelas adalah suara depan tersebut terdengar sangat jelas.

2. Bertekanan

Yang dimaksud dengan bertekanan adalah suara depan tersebut memiliki tekanan suara sehingga terdengar cukup kuat dan bertenaga (Kug).

3. Bersih

Bersih adalah suara yang tidak terdengar serak/tidak kotor, tidak goyang dan suara tidak bergetar. Suara depan diharapkan tidak ada unsur R dan L.


Penilaian dalam suatu lomba puter pelung sedang dilakukan


II. Suara Tengah

Yang dimaksud dengan suara tengah adalah bagian suara atau unsur anggung yang terdengar berada di antara suara depan dan suara ujung. Suara tengah terdengar setelah suara depan berbunyi. Suara tengah ini sangat penting dalam membentuk cengkok lagu pada tiap alunan lengkap anggung burung puter. Nilai maksimal untuk suara tengah adalah 9. Contoh suara tengah : GEERUUuuuuUUU dan sebagainya

Suara tengah dibagi 3 sub unsur dalam penilaian dan diharapkan ketiga sub unsur tersebut dapat terpenuhi. Ketiga sub unsur dari suara tengah yaitu :

1. Panjang

Panjang adalah nada suara yang mengalami proses marginal, sehingga terjadi perubahan nada yang mempengaruhi alunan suara tengah dan terdengar panjang (tidak putus – putus).

2. Melung/Ngelik

Melung/Ngelik adalah proses suara yang menekan dari nada rendah ke nada yang lebih tinggi lalu diakhiri dengan kembali ke nada rendah lagi. Nada meninggi bisa diartikan volume suara mengecil bertekanan. Perlu diperhatikan bahwa ukuran besar kecilnya volume suara tidak mempengaruhi proses melung ini.

3. Bersih

Bersih adalah suara yang terdengar tidak bergetar / serak (tidak ada unsur R) dan tidak terdengar putus-putus (ngguguk).


Para peserta memantau kinerja gacoannya masing-masing


III. Suara Ujung

Yang dimaksud dengan suara ujung adalah suara/unsur yang terdengar di bagian akhir dari alunan suara lengkap puter. Suara ujung terdiri dari dua not nada suara dan terdengar secara bergantian dengan interval yang beraturan. Contoh : Kuu-Wook, Khuu-Whook, dan sebagainya.

Nilai maksimal suara ujung adalah 9. Suara ujung dibagi 3 sub unsur dalam penilaian dan diharapkan ketiga sub unsur tersebut dapat terpenuhi. Ketiga sub unsur dari suara ujung yaitu :

1. Lengkap

Suara ujung yang lengkap harus memiliki 2 not nada suara, contoh : kuu-wook, khuu-whook, ke-wook dan sebagainya. Apabila suara ujung hanya terdiri dari satu not saja, maka suara ujung tersebut dianggap tidak lengkap.

2. Jelas

Yang dimaksud dengan jelas adalah 2 not suara ujung tersebut terdengar secara bergantian, terdengar sangat jelas menekan disertai interval yang beraturan.Contoh : Khu-Whook, Khe-Whook.

3. Bersih

Bersih adalah suara yang tidak terdengar serak / kotor dan suara tidak bergetar. Suara depan diharapkan tidak ada unsur R dan L.


IV. Dasar Suara

Dasar suara adalah dasar yang merupakan asal terbentuknya alunan suara anggung burung puter dan sangat mempengaruhi anggung burung puter tersebut. Dasar suara dinilai terpisah juga seperti unsur depan, tengah dan ujung, akan tetapi nilai dasar suara sangat mempengaruhi nilai tiap sub unsur dari tiap unsur dalam anggungan.

Dalam dasar suara ini ada istilah dasar suara yang baik adalah dasar suara yang serba cukup dan tidak berlebihan pada tiap sub unsurnya. Nilai maksimal pada dasar suara adalah 9. Dasar Suara dibagi 3 sub unsur dalam penilaian dan diharapkan ketiga sub unsur tersebut dapat terpenuhi. Ketiga sub unsur dari Dasar Suara yaitu :

1. Tebal

Tebal berarti suara yang bulat dan utuh. Suara yang sangat tidak tebal/tipis maka akan terdengar pecah.

2. Kering

Kering dapat diartikan dengan suara nyaring. Nyaring yang cukup dan ditambah dengan tebal yang cukup maka suara akan terdengar lantang. Perlu diperhatikan, untuk suara kering yang berlebihan akan mengakibatkan hilang suara atau biasa disebut dengan salit.

3. Bening

Bening berarti suara yang bersih sekali atau jernih sekali, sehingga suara menjadi empuk dan berdengung (mbrengengeng/bergema).


Bangganya ketika gacoannya juara


V. Cengkok/Gaya Irama

Cengkok/Gaya Irama adalah rangkuman dari alunan anggung yang lengkap mulai dari suara depan, tengah, ujung serta dari bunyi pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Dimaksudkan bahwa cengkok/gaya irama yang baik adalah stabil jarak inter anggung yang harmonis (senggang-senggang), jarak antar anggung yang harmonis (lenggang-lenggang) dan benar – benar lengkap depan, tengah dan ujung secara terus menerus.

Cengkok/gaya irama juga bisa diartikan harmonisasi anggung secara lengkap dan terus menerus. Nilai maksimal untuk cengkok / gaya irama adalah 9. Cengkok/Gaya Irama dibagi 3 sub unsur dalam penilaian dan diharapkan ketiga sub unsur tersebut dapat terpenuhi. Ketiga sub unsur dari cengkok/gaya irama yaitu :

1. Inter Anggung

Inter anggung adalah jarak antara suara depan, tengah, ujung. Inter anggung yang baik adalah anggung dengan jarak yang cukup dan harmonis antara suara depan, suara tengah, dan suara ujung.

2. Antar Anggung

Antar anggung adalah jarak antara anggung / bunyi pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Antar anggung yang baik adalah anggung dengan jarak yang cukup dan harmonis antara anggung pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya (lenggang-lenggang).

3. Stabil

Stabil adalah kestabilan suara burung puter secara lengkap dan mengeluarkan suara terbaik secara terus menerus serta tidak mengalami penurunan kualitas. Perlu diperhatikan bahwa kestabilan ini sangat dipengaruhi oleh 3 unsur (suara depan, suara tengah, dan suara ujung).

Jadi apabila salah satu dari ketiga unsur tersebut tidak mencukupi kriteria baik maka kestabilan tersebut juga tidak akan baik. Pengertian stabil disini bukanlah gacor atau manggung secara terus menerus.

Demikian sedikit tentang tata nilai suara burung puter pelung. Para penghobi puter pelung yang juga sebagai peserta lomba harus punya pemahaman yang baik. Baik yang di maksudkan disini adalah kalau peserta paham kualitas burung dan nilai burung, sehingga ia akan mampu mengikuti aturan main penjurian yang sudah ditentukan. Semoga bermanfaat. (Ramlee)



Sumber, Pedoman Penyelenggaraan Lomba dan Penilaian Suara Burung Puter PPPPSI


Minggu, 10 Oktober 2021

Upaya untuk Memprediksi Jenis Kelamin Burung




Hampir setiap hari di media sosial selalu ada pertanyaan tentang jantan atau betina untuk burung yang ditunjukkannya. Ini utamanya diajukan oleh yang baru saja memutuskan memelihara burung. Saat tidak segera bunyi atau akan diternak namun tidak kunjung berjodoh, maka keraguan akan jenis kelamin burung yang dipeliharanya timbul.

Juga seringkali terjadi saat beli ke peternak dan meminta jantan atau betina maupun sepasang nyatanya tidak sesuai dengan harapan. Apalagi jika membeli di pasar burung. Ya, itu terjadi karena burung yang dimaui biasanya masih berumur muda, sehingga tidak seberapa tampak ciri khas yang dapat menentukan jenis kelaminnya.

Kesulitan seperti ini memang dialami hampir semua orang dalam menentukan jenis kelamin burung yang hampir sama dilihat dari ciri fisiknya. Bahkan seseorang yang telah berpengalaman pun terkadang juga masih salah dalam menentukan jenis kelamin burung yang diamatinya. Maka yang terjadi adalah penggunaan istilah prediksi. Ini untuk menentukan jenis kelamin burung-burung yang masih teramat muda.


 

Apalagi jika penghobi berniat untuk mengembangbiakkannya. Dikira sudah sepasang, karena sewaktu beli di tempat penangkaran asalnya juga dipillihkan yang sepasang, namun setelah ditunggu setahun nyatanya betina semua atau jantan semua.

Kelompok Aves sebagian besar memiliki sifat monomorfik yaitu sulit dibedakan secara morfologi antara individu jantan dan betina sehingga hal ini menyebabkan penentuan jenis kelamin secara morfologi sulit dilakukan (Cerit dan Avanus, 2007). Menurut Griffiths et al. (1998), lebih dari 50% spesies burung didunia pada karakter morfologi eksternalnya bersifat identik.

Pada burung dimorfik, burung dewasa memperlihatkan karakteristik yang berbeda antara jantan dan betina, sehingga penentuan jenis kelaminnya dapat dilakukan dengan mudah. Karakteristik ini seringkali sulit diamati atau bahkan tidak ada pada anakan burung (Ellegren dan Sheldon, 1997).


 

1. Tulang supit
Pegang burung lalu raba bagian belakang (daerah anus), di bawah anus terdapat 2 tonjolan tulang, banyak orang menyebut sebagai tulang supit atau tulang selangka.

Jantan mempunyai tulang supit yang terasa keras pada ujungnya dan sangat rapat, sementara betina sebaliknya kalau diraba akan terasa agak lunak dan renggang.

2. Suara
Saat burung menginjak usia dewasa (6 bulan keatas), akan sangat jelas perbedaannya. Hal ini dapat dilihat dari suara dekuran (mbekur)nya burung tersebut (burung saat berbunyi bergerak mengangguk-angguk).

Pada jantan akan kelihatan dan terdengar suara mbekurnya untuk menarik perhatian pasangannya, dengan suara yang terdengar keras dan berulang-ulang. Betina, akan memanggil jantannya dengan suara seperti mbekur tapi suaranya pelan dan tidak berulang-ulang.

3. Sorot mata
Burung jantan mempunyai sorot mata yang tajam, sebaliknya betina sorot matanya terlihat sayu.

4. Posisi mata
Posisi mata sering kali bisa dibuat acuan untuk menentukan jenis kelamin burung kesayangan kita. Mata burung jantan mempunyai posisi diantara garis paruh (jika ditarik garis lurus dari paruh ke arah mata), dan betina posisi matanya di atas garis paruhnya.

5. Bentuk Kepala
Untuk jantan mempunyai bentuk kepala besar agak lonjong, sementara betina bulat.


 

6. Warna bulu
Warna bulu pada jantan biasanya cenderung cerah/terang dan betina warna bulunya lebih gelap.

7. Cengkeraman kaki
Pada jantan saat ditaruh ditangan, kakinya akan terasa mencengkeram kuat, sementara yang betina cenderung tidak mempunyai daya cengkeram.

8. Pendulum
Tingkat akurasi metode ini bisa mencapai 90%, sehingga banyak digunakan para penangkar.
Pendulum ini bisa dibuat sendiri dengan menggunakan cincin emas atau jarum yang besar dan dipasangkan tali dengan panjang 15-20 cm, kemudian ikat kedua ujung tali tersebut.

Pegang burung dengan tangan kiri/kanan, pendulum yang sudah dibuat tadi bisa diikatkan pada sesuatu (tidak dipegang sendiri), dekatkan kepala burung pelan-pelan dengan jarak 3-5 cm. Perhatikan gerakan yang timbul, jika bergerak satu arah (maju mundur) itu tandanya jantan dan jika bergerak memutar itulah betina.


 

9. Test DNA
Ini metode yang paling akurat, sudah banyak instasi yang memberikan jasa penentuan jenis kelamin melalui metode ini. DNA sexing biasanya dilakukan dengan cara memberikan enzim khusus pada bulu burung yang diambil sampelnya untuk menampilkan untaian DNAnya. Untain DNA ini hanya bisa dilihat menggunakan mikroskop. Untaian DNA antara jantan dan betina sangatlah berbeda.

Demikian beberapa metode yang bisa digunakan dalam menentukan jenis kelamin burung kesayangan Kita, jika ada yang perlu ditambahkan bisa melalui kolom komentar dibawah, semoga bermanfaat. (Ramlee)

Sumber : remen.id Mencoba Memprediksi Jenis Kelamin Burung

Serak Jawa, Pemburu Malam Hama Tikus Sahabat Petani

Serak Jawa (Tyto alba) merupakan salah satu burung predator atau burung pemangsa yang dapat memangsa kelompok burung dan mamalia kecil. Bur...