Selasa, 03 Februari 2026

Bajing Kelapa, Mamalia Pengerat Kecil Penghuni Pohon



Bajing Kelapa (Callosciurus notatus) merupakan mamalia pengerat kecil mirip tupai yang mudah ditemukan di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Hewan ini dalam bahasa Inggris disebut Plantain squirrel. Bajing kelapa adalah salah satu spesies bajing yang paling umum dan mudah dijumpai.

Bajing kelapa adalah hewan pengerat yang kerap disalahartikan sebagai tupai karena corak warnanya mirip dengan habitat yang sama, keduanya sering dianggap sejenis oleh masyarakat. Bajing kelapa memainkan peran penting dalam ekosistem. Keberadaannya kadang menjadi “tetangga” yang menggemaskan sekaligus mengesalkan bagi manusia karena kebiasaannya yang suka mencicipi buah di pekarangan.

Bajing kelapa termasuk spesies rodentia dari keluarga Sciuridae. Nama genusnya, Callosciurus, berasal dari bahasa Yunani yang berarti “bajing yang indah”, merujuk pada penampilan fisiknya yang memang menarik dibandingkan banyak spesies bajing lainnya.


Bajing kelapa, hewan pengerat yang mirip dengan tupai


Bajing kelapa mempunyai warna bulu warna cokelat/hitam di punggung dan jingga/putih di perut, memiliki ekor seperti sikat, dan meski sering dianggap hama karena memakan buah. Satwa ini berperan penting sebagai agen penyebar biji untuk regenerasi hutan.

Baca juga : Bajing, Pengerat Gesit Penjaga Regenerasi Hutan

Spesies ini termasuk hewan asli (endemik) kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Di Indonesia, penyebarannya sangat luas, mencakup Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Atau di pulau-pulau sekitarnya yang berada pada ketinggian 500 sampai 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl).


Bajing kelapa sangat sering ditemui di daerah yang didominasi aktivitas manusia


Hewan ini merupakan salah satu jenis mamalia liar yang paling mudah terlihat di kebun pekarangan, kebun campuran (wanatani), hutan sekunder, hutan kota dan taman, serta beberapa jenis hutan di dekat pantai. Bajing kelapa terutama menyebar luas di dataran rendah hingga wilayah perbukitan. Hewan yang tinggal berdekatan dengan permukiman dapat menjadi terbiasa dengan manusia dan berani mendekati rumah.

Bajing kelapa mempunyai panjang tubuh 198 mili meter dengan panjang ekor 19,5 cm dan panjang kaki 4,4 cm, sedangkan bujur kakinya sekitar 4,4 cm. Bajing kelapa memiliki berat sekitar 150 sampai 280 gram. Bagian ekor panjangnya mencapai 19,5 cm.

Ekornya yang tebal dan berbulu lebat berfungsi sebagai penyeimbang saat ia memanjat dan melompat dari dahan yang satu ke dahan lainnya. Sisi atas tubuh kecoklatan, dengan bintik-bintik halus kehitaman dan kekuningan. Di sisi samping tubuh agak ke bawah, di antara tungkai depan dan belakang, terdapat setrip berwarna bungalan (pucat kekuningan) dan hitam.

Sisi bawah tubuh (perut) jingga atau kemerahan, terang atau agak gelap. Kebanyakan anak jenis dideskripsikan dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan pada warna rambut di bagian ini, yang bervariasi mulai dari abu-abu sedikit jingga sampai coklat berangan gelap. Ekor coklat kekuningan berbelang-belang hitam. Terdapat variasi dengan ujung ekor berwarna kemerahan.


Bajing kelapa senang melubangi kelapa muda maupun tua untuk memakan isinya


Perilakunya sangat lincah dan gesit. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon (arboreal) dan aktif pada siang hari (diurnal). Bajing kelapa aktif mencari makan buah buahan (terutama yang manis dan lunak seperti pepaya, pisang, dan tentu saja kelapa) dan biji bijian di pagi hari dan sore hari sedangkan disiang hari mereka cenderung lebih santai beristirahat di sela-sela ranting/pepohonan.

Baca juga : Tupai, Mamalia Kecil Mirip dan Kerap Disamakan dengan Bajing Kini Semakin Jarang Terlihat

Seperti namanya, bajing ini sering ditemukan berkeliaran di cabang dan ranting pohon, atau melompat di antara pelepah daun di kebun-kebun kelapa dan juga kebun-kebun lainnya. Bajing Kelapa juga dikenal sebagai perenang yang handal. Satwa ini sering terlihat memanjat dengan cepat, melompat dengan berani bahkan berenang untuk menyebrangi sungai atau selokan guna mencapai sumber makanan.


Sepasang bajing kelapa di lubang sarangnya


Hewan ini memanfaatkan tinggi kanopi antara 21 sampai 40 kaki sebagai habitat makan. bajing kelapa juga memakan berbagai buah-buahan, biji dan daun muda serta bunga. Dan juga memakan beberapa jenis serangga terutama semut. Bajing kelapa sanggup melubangi kayu atau ranting pohon untuk mencari larva semut.

Bahkan juga mampu memakan buah-buahan yang lebih besar dari tubuhnya. Dengan gigi dan rahangnya yang kuat hewan kecil ini mampu merobek atau melubangi buah-buahan tersebut sebelum memakannya. Terkadang hewan ini juga teramati memakan getah dari pohon dengan cara mengigiti kulit pohon hingga mengeluarkan getah lalu menjilati getah tersebut.

Bajing kelapa melubangi dan memakan buah kelapa, yang muda maupun yang tua. Karena kebiasaannya tersebut banyak petani yang menganggapnya sebagai hama yang merugikan. Tidak jarang petani mengalami gagal panen karena bajing ini memakan atau melubangi buah-buahan yang ada.

Untuk mencegah hal ini para petani melakukan berbagai cara untuk mengatasinya. Seperti menyiram pestisida pada buah-buahan produksi mereka. Sampai menggunakan predator alami bajing kelapa, yakni burung hantu untuk menekan populasi bajing kelapa di kebun mereka.


Bajing kelapa sedang membawa material untuk sarangnya


Bajing kelapa sering terlihat tidak berkelompok, sehingga termasuk satwa soliter atau menyendiri. Meskipun hidup soliter namun sering teramati mencari makan bersama-sama dalam kelompok kecil, kelompok ini akan saling melindungi satu sama lain saat sedang makan. Ketika merasa terganggu atau terancam, bajing kelapa akan mengeluarkan suara jeritan keras dan pendek sebagai tanda peringatan.

Baca juga : Jelarang, Bajing Pohon Terbesar yang Terancam Punah

Dalam kehidupannya, bajing kelapa bersifat poligami, yaitu satu jantan dapat mengawini maksimal empat bertina. Mereka juga termasuk hewan individual karena sering terlihat tidak berkelompok. Namun, satwa ini sering memanfaatkan sarang secara bersama-sama. Sarangnya sering ditemukan di lubang-lubang kayu atau di antara pelepah daun palma, berupa bola dari ranting dan serat tumbuhan berlapis-lapis. Bajing kelapa melahirkan anak hingga empat ekor, dan dapat beranak kapan saja sepanjang tahun.


Bajing kelapa juga berperan dalam penyebaran biji-bijian


Persatuan Internasional untuk Konservasi dan Sumber Daya Alam (IUCN) mencatat bajing kelapa termasuk dalam kategori Least Concern yang berarti spesies ini masih kurang diperhatikan statusnya (The IUCN Red List of Threatened Species, 2013). Status ini diberikan karena persebaran populasi bajing kelapa yang masih sangat luas dan jumlahnya yang masih banyak (stabil) di alam.

Penting untuk diingat bahwa meskipun tidak dilindungi undang-undang, bajing kelapa tetap merupakan bagian dari rantai makanan dan ekosistem yang berperan dalam penyebaran biji (seed dispersal). Sehingga keberadaan satwa ini sangat penting dan perlu tindakan pelestariannya. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Bajing Kelapa, Hewan Pengerat Mirip Tupai yang Sering Dianggap Hama


Minggu, 01 Februari 2026

Nangka, Tanaman Buah Asli India yang Populer di Indonesia





Nangka (Artocarpus heterophyllus) merupakan salah satu buah tropis yang memiliki ciri khas unik, baik dari segi ukuran, tekstur, hingga aroma dan rasanya. Buah nangka biasanya untuk konsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai makanan lezat. Buah nangka adalah salah satu jenis buah yang paling banyak di daerah tropis.

Buah ini cukup terkenal di seluruh dunia, dalam bahasa Inggris namanya jack fruit. Ada dugaan tanaman ini berasal dari India bagian selatan yang kemudian menyebar ke daerah tropis lainnya, termasuk Indonesia. Di Indonesia pohon nangka dapat tumbuh hampir di setiap daerah.

Bahkan di Indonesia terdapat lebih dari 30 kultivar dan di Jawa terdapat lebih dari 20 kultivar. Di Indonesia pohon ini memiliki beberapa nama daerah antara lain nongko/nangka (Jawa, Gorontalo), langge (Gorontalo), anane (Ambon), lumasa/malasa (Lampung), nanal atau krour (Irian Jaya), nangka (Sunda).



Pohon nangka



Tanaman ini menyukai wilayah dengan curah hujan lebih dari 1500 mm pertahun di mana musim keringnya tidak terlalu keras. Nangka kurang toleran terhadap udara dingin, kekeringan dan penggenangan. Nangka diyakini berasal dari India, yakni wilayah Ghats bagian barat, di mana jenis-jenis liarnya masih didapati tumbuh tersebar di hutan hujan di sana. Kini nangka telah menyebar luas di berbagai daerah tropik, terutama di Asia Tenggara.


Tanaman nangka memiliki akar berbentuk tunggang. Namun juga memiliki akar cabang yang tumbuh bulu yang sangat banyak. Akar Tanaman nangka ini dapat menembus permukaan tanah hingga kedalaman 10-15 meter. Selain itu, akar tanaman ini berguna untuk menyokong pertumbuhannya hingga kuat dan berdiri kokoh.



Daun nangka



Pohon nangka memiliki tinggi 10-15 meter. Batangnya tegak, berkayu, bulat, kasar dan berwarna hijau kotor. Pohon nangka umumnya berukuran sedang, sampai sekitar 20 m tingginya. Batangnya berbentuk bulat silindris, sampai berdiameter sekitar 1 meter. Tajuknya padat dan lebat, melebar dan membulat apabila di tempat terbuka. Seluruh bagian tumbuhan mengeluarkan getah putih pekat apabila dilukai.

Daun pada tanaman nangka merupakan daun tunggal (folium komplek) dan berbentuk bulat memanjang (oblongus). , bertangkai 1–4 cm, helai daun agak tebal seperti kulit, kaku, bertepi rata, bulat telur terbalik sampai jorong (memanjang), 3,5–12 × 5–25 cm, dengan pangkal menyempit sedikit demi sedikit. Ujung daun (apex folii) berbentuk meruncing (acuminatus).

Daun nangka memiliki tepi daun (margo folii) berbentuk rata (integer), serta memiliki tulang daun (nervatio/veneratio) bertulang menyirip (penninervis). Daun nangka mudah rontok dan meninggalkan bekas serupa cincin.

Selain itu, memiliki daging daun (intervenum) yang tipis lunak (herbaceus), dan juga permukaan atas daun licin (laevis) dan mengkilap (nitidus) dengan warna hijau tua. Sedangkan permukaan bawah daun kasar (scaler) dan berwarna hijau muda. Daun pada tanaman Nangka juga memiliki daun penumpu yang berbentuk segitiga dengan warna kecoklatan.



Pohon nagka yang tengah berbuah lebat



Daun-daun nangka merupakan pakan ternak yang disukai kambing, domba, maupun sapi. Kulit batangnya yang berserat, dapat digunakan sebagai bahan tali dan pada masa lalu juga dijadikan bahan pakaian. Getahnya digunakan dalam campuran untuk memerangkap burung, untuk memakal (menambal) perahu dan lain-lain.


Tumbuhan nangka berumah satu (monoecious), perbungaan muncul pada ketiak daun pada pucuk yang pendek dan khusus, yang tumbuh pada sisi batang atau cabang tua. Bunga jantan dalam bongkol berbentuk gada atau gelendong, 1–3 × 3–8 cm, dengan cincin berdaging yang jelas di pangkal bongkol, hijau tua, dengan serbuk sari kekuningan dan berbau harum samar apabila masak.



Daging buah nangka



Bunga tanaman nangka berukuran kecil, tumbuh berkelompok secara rapat tersusun dalam tandan, bunga muncul dari ketiak cabang atau pada cabang-cabang besar. Bagian bunga jantan dan betina terdapat sepohon Setelah melewati umur masaknya, bunga jantan akan terserang jamur / kapang dan membusuk. Dalam kondisi segar, bongkol bunga jantan (babal atau tongtolang) kerap jadi bahan rujak di Indonesia.

Buah nangka berbentuk gelendong memanjang, sering kali tidak merata, panjangnya hingga 100 cm, pada sisi luar membentuk duri pendek lunak. ‘Daging buah’, yang sesungguhnya adalah perkembangan dari tenda bunga, berwarna kuning keemasan apabila masak, berbau harum-manis yang keras, berdaging, kadang-kadang berisi cairan (nektar) yang manis.

Biji nangka berbentuk bulat lonjong sampai jorong agak gepeng, panjang 2 – 4 cm, berturut-turut tertutup oleh kulit biji yang tipis cokelat seperti kulit, endokarp yang liat keras keputihan, dan eksokarp yang lunak. Keping bijinya tidak setangkup.

Nangka termasuk ke dalam keluarga ara, mulberi, dan sukun (Moraceae). Nangka adalah buah pohon terbesar, mencapai berat hingga 55 kg, panjang 90 cm, dan diameter 50 cm. Pohon buah ini menghasilkan buahnya sekali setahun, pohon buahnya dapat mencapai hingga 90 cm dan besarnya 50 cm.



Biji nangka



Pohon nangka dewasa menghasilkan sekitar 200 buah per tahun, sedangkan pohon yang lebih tua menghasilkan hingga 500 buah dalam setahun. Nangka adalah buah majemuk yang terdiri dari ratusan hingga ribuan bunga individu, dan kelopak buah yang masih mentah dimakan.


Tumbuhan dalam genus Artocarpus (seperti nangka, sukun, dan cempedak) dapat bereproduksi secara generatif (seksual) dan vegetatif (aseksual). Reproduksi generatif melibatkan proses penyerbukan dan pembuahan yang menghasilkan biji.



Sayur nangka muda



Tanaman nangka (Artocarpus heterophyllus) dan cempedak (Artocarpus integer) umumnya memiliki biji dan dapat diperbanyak secara generatif melalui penanaman biji. Pohon yang berasal dari biji biasanya membutuhkan waktu lebih lama (sekitar 5-10 tahun) untuk mulai berbuah.

Daging buah nangka muda bisa dimanfaatkan sebagai sayuran yang mengandung albuminoid dan karbohidrat. Sedangkan daging buah nangka yang matang umumnya dalam bentuk segar. Selain itu, daging buah juga bisa diolah jadi produk lain seperti buah kering, selai, jelly, permen, dan sirup ataupun sebagai bahan campuran es krim dan minuman. Sementara getahnya pemanfaatannya sebagai obat demam, obat cacing dan sebagai antiinflamasi. (Ramlee)


Sumber : remen.id


Rabu, 28 Januari 2026

Rangkong Gading, Spesies Burung Rangkong Paling Terancam Punah di Indonesia




Rangkong Gading (Buceros/Rhinoplax vigil) merupakan satu-satunya spesies burung rangkong yang dihiasi dengan tulang (casque) yang terbuat dari keratin padat. Sayangnya hal tersebut juga membuatnya menjadi spesies rangkong paling terancam di Indonesia. Burung ini dapat ditemukan di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan dan termasuk fauna yang menjadi maskot Provinsi Kalimantan Barat dan dilindungi oleh undang-undang.

Burung berukuran besar ini berasal dari keluarga Bucerotidae. Burung-burung dari famili Bucerotidae dikenal dengan sebutan Rangkong, Julang, dan Kangkareng. Di dunia persebarannya terdapat 45 jenis burung rangkong yang tersebar mulai dari daerah sub-sahara Afrika, India, Asia Tenggara, New Guinea dan Kepulauan Solomon.

Sebagian besar hewan hidup di hutan hujan tropis dan hanya beberapa jenis saja yang hidup di daerah kering seperti di Afrika. Di Indonesia sendiri terdapat 13 jenis yang terdiri dari 7 genus, yaitu Annorhinus, Penelopides, Berenicornis, Rhyticeros, Anthracoceros, Buceros, dan Rhinoplax. Tersebar luas di hutan-hutan Sumatera (9 jenis), Jawa (3 jenis), Kalimantan (8 jenis), Sulawesi (2 jenis) dan Irian Jaya (1 jenis).


Rangkong Gading penghuni hutan hujan tropis


Umumnya, semua jenis burung ini mempunyai paruh panjang dan ringan, bekerja seperti sepasang penjepit untuk menangkap atau mengambil makanan dengan cepat menggunakan ujungnya, kemudian memasukkannya ke dalam tenggorokan. Burung rangkong lebih memilih makanan yang ada di atas pohon (arboreal) di hutan, jarang dijumpai burung rangkong memakan buah-buahan di atas tanah.

Baca juga : Rangkong, Burung Besar si Penjaga Kelestarian Hutan Populasinya Kian Terancam

Rangkong Gading merupakan spesies burung enggang yang terbesar di dunia dengan panjang tubuh berkisar antara 65 – 170 cm dan berat sekitar 290 – 4200 gr. Rentang panjang sayap 44 – 49 cm dan panjang ekor bagian tengah 30 – 50 cm. Burung ini juga memiliki iris warna merah, paruh kuning, dan merah, dan kakinya berwarna kaki cokelat.


Rangkong Gading mempunyai suara keras nyaring yang terdengar hingga 2 km jauhnya


Burung ini sangat khas dan mencolok, selain karena badannya yang besar, juga karena memiliki paruh besar. Di atas paruhnya, terdapat tulang padat (casque). Tonjolan berwarna merah itu mirip helm. Itulah sebabnya anggota famili Bucerotidae itu mendapat julukan helmeted hornbill, yang berfungsi sebagai ruang dengung suara.

Rangkong Gading merupakan satu-satunya jenis rangkong yang memiliki tulang/cula (casque) penuh berisi, bahkan 13 persen berat tubuhnya terdapat pada tulang tersebut dimana struktur materinya setara dengan gading gajah. Oleh sebab itu, penamaan rangkong jenis Rhinoplax vigil terinspirasi dari balungnya yang memiliki kemiripan dengan gading gajah.

Cula tersebut digunakan dalam perkelahian yang kerap terjadi di dekat pohon beringin yang sedang berbuah. Bahkan suara keras dan melengking terdengar seperti orang tertawa terpingkal-pingkal dan dapat didengar dari jarak dua kilometer.

Rangkong Gading memiliki warna dasar bulu berwarna hitam dengan bagian perut, ekor, dan kaki berwarna putih. Ketika masih muda, paruh enggang gading berwarna putih juga. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, paruh dan balung akan berubah menjadi oranye atau merah.


Rangkong Gading sedang memakan buah ara


Makanan utama rangkong gading sangat spesifik, berupa buah beringin atau ara berukuran besar. Hanya hutan yang belum rusak yang dapat menyediakan pakan ini dalam jumlah banyak sepanjang tahun. Makanan lain berupa binatang-binatang kecil hanya dikonsumsi sekitar 2 persen dari keseluruhan komposisi makanannya.

Baca juga : Kakatua Tanimbar, Jenis Kakatua Terkecil Endemik Kepulauan Tanimbar yang Terancam Punah

Rangkong Gading terbiasa tinggal di hutan primer yang berisi pohon-pohon sangat besar dan jauh dari manusia. Burung ini biasa membuat sarang di lubang pohon yang berada di ketinggian 20 – 50 meter dari permukaan tanah. Lubang ini biasanya terbentuk dari bekas patahan batang atau sisa lubang dari hewan lain yang kemudian mengalami proses pelapukan.


Rangkong Gading juga menyukai serangga sebagai makanannya


Sama seperti semua jenis burung enggang, Rangkong gading hanya memiliki satu pasangan selama hidupnya (monogami). Setelah menemukan lubang sarang yang tepat, sang betina akan masuk dan mengurung diri. Butuh sekitar 180 hari bagi rangkong untuk menghasilkan satu anak.

Bersama rangkong jantan, lubang sarang akan ditutup menggunakan adonan berupa tanah liat yang dibubuhi kotorannya. Celah sempit disisakan pada lubang penutup untuk mengambil hantaran makanan dari sang jantan, dan juga untuk menjaga suhu dan kebersihan di dalam sarang.

Sang jantan lah yang bertugas mencari makan untuk anak dan betinanya di sarang. Maka, bisa dikatakan jika satu ekor jantang Rangkong Gading terbunuh, itu sama dengan membunuh satu keluarga Rangkong Gading di alam. Rangkong Gading, yang hanya menghasilkan satu anakan per tahun.

Di dalam sarang, sang betina akan meluruhkan sebagian bulu terbangnya (moulting) untuk membuat alas demi menjaga kehangatan telur. Burung betina tidak akan dapat terbang dan bergantung sepenuhnya pada sang jantan, sampai sang anak keluar dari sarang. Tahap bertelur, mengerami, menetas, sampai anak siap keluar dari sarang membutuhkan waktu selama enam bulan.


Rangkong Gading bersama pasangannya di depan lubang pohon yang akan dijadikan sarang


Uniknya, sarang Rangkong Gading bukanlah sarang buatan, melainkan harus sarang alami. Rangkong Gading hanya bisa berkembangbiak pada lubang pohon yang tinggingya 50 meter atau lebih tinggi. Pohon yang memiliki sarang yang layak bagi Rangkong Gading hanya didapati di pohon hutan hujan purba yang memiliki diameter di atas satu meter.

Baca juga : Kuau Raja, Burung Raksasa Eksotis Asal Sumatera Berjuluk Seratus Mata

Lubang pohon itu memiliki ciri khas bongol di depannya. Dan sarang alami yang dibutuhkan rangkong sangat jarang ditemui, apalagi ketika pembalakan hutan liar terjadi. Artinya, rangkong gading sangat membutuhkan hutan, seperti hutan itu membutuhkan burung ini.


Paruh Rangkong Gading setara gading gajah


Hilangnya hutan sebagai habitat utama, minimnya upaya konservasi, dan maraknya perburuan adalah perpaduan mengerikan bagi masa depan rangkong gading. Berbagai jenis pohon beringin yang menyediakan makanan utama bagi rangkong gading dianggap tidak memiliki nilai ekonomis sehingga keberadaannya tidak pernah diharapkan.

Investigasi Rangkong Indonesia dan Yayasan Titian yang didukung oleh Dana Konservasi Chester Zoo, mencatat selama tahun 2013 sekitar 6.000 Rangkong Gading dewasa dibantai di Kalimantan Barat untuk diambil kepalanya. Kemudian, sepanjang 2015 tercatat sebanyak 2.343 paruh rangkong gading berhasil disita dari perdagangan gelap.


Rangkong Gading semakin sulit dijumpai


Jenis burung ini dilindungi menurut UU No. 5 Th 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan telah tercatat dalam lampiran daftar jenis satwa dan tumbuhan liar dilindungi pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999. Selain itu berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.57/Menhut-II/2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008-2018 memasukkan rangkong gading sebagai jenis prioritas dalam kelompok rangkong.

Sejak akhir tahun 2015, International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengklasifikasikan enggang gading sebagai salah satu satwa dengan status status critical endangered atau terancam punah, yang merupakan satu tahap menuju kepunahan. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Rangkong Gading, Burung Enggang Terbesar di Ambang Kepunahan


Minggu, 25 Januari 2026

Petai Raksasa, Tanaman Mirip Petai tetapi Bukan untuk Dikonsumsi



Petai raksasa (Entada phaseoloides) merupakan tanaman merambat raksasa yang hidup di Afrika Timur, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Petai raksasa sempat viral setelah unggahan video di media sosial memperlihatkan seseorang memegang polong raksasa menyerupai petai di hutan Kalimantan.

Sebelumnya, temuan serupa juga terjadi di Banjarnegara, Jawa Tengah. Seorang warga menemukan tanaman dengan buah mirip petai, namun ukurannya bisa mencapai lebih dari satu meter. Hasil penelusuran bisa dipastikan jika itu adalah buah dari tanaman liana langka yang hidup di kawasan hutan lindung.

Petai ini juga dikenal dengan nama box bean atau St.Thomas bean. Di Indonesia, petai raksasa ini dikenal dengan nama bendoh, gandu, dan chariyu. Selain Entada phaseoloides, Entada juga memiliki spesies lain yang memiliki buah dan biji nyaris serupa dengan petai raksasa, Entada rheedii.


Tanaman Entada merupakan tanaman liana yang memanjat pohon yang ditumpanginya


Dalam literatur botani, penulisan nama Entada sering ditampilkan sebagai E. Rheedei untuk menghormati Hendrik Adriaan van Rheede tot Drakestein, ahli botani Belanda pada abad ke-17. Ia dikenal sebagai penyusun karya besar Hortus Malabaricus yang mendokumentasikan banyak tanaman Asia.

Baca juga : Petai, Menimbulkan Bau Menyengat tetapi Enak dan Menyehatkan

Tanaman liana ini pertama kali dijelaskan oleh Linnaeus dan dimasukkan dalam keluarga kacang polong. Jenis tanaman yang mirip petai ini termasuk dalam tanaman liana besar yang memanjat tinggi ke kanopi hutan tropis di dataran rendah.


Bunga tanaman Entada


Tanaman ini biasanya tumbuh di berbagai habitat, mulai dari rawa air tawar dan pedalaman dari bakau hingga hutan pegunungan dimana tumbuh subur dan dimanfaatkan oleh penduduk setempat terutama untuk khasiat obat dan kosmetiknya.

Tanaman petai raksasa ini memiiki struktur daun majemuk menyirip yang terbagi menjadi 1-2 pasang anak daun. Tanaman ini menghasilkan beberapa biji polong besar yang panjangnya bisa lebih dari 100 cm dan lebar 12 cm. Alhasil buah tanaman ini menggantung memanjang seperti layaknya petai raksasa.

Buahnya berupa polong panjang, tebal, dan keras, dengan biji berukuran sekitar 5–6 sentimeter. Kulitnya tidak mudah dibuka dan isinya berwarna putih keabu-abuan. Berbeda dengan petai konsumsi (Parkia speciosa), Entada tidak memiliki aroma khas dan tidak dapat langsung dimakan.

Rasanya pahit dan getir, bahkan berpotensi beracun jika dikonsumsi tanpa pengolahan. Karena itu disarankan untuk tidak mengonsumsinya. Meski beracun, buah tanaman ini masih bisa dimakan setelah direndam dan dipanggang dalam waktu lama.


Buah tanaman Entada tumbuh menggantung mirip petai


Di India, biji petai raksasa (Entada phaseoloides) rebus dikonsumsi oleh suku Kharib dari suku Assam dan Samudera seperti Onges dan Suku Andaman Besar. Biji-biji yang direndam dipanggang, direbus dan dimakan oleh kelompok suku timur laut seperti Garo, Khasi, Naga dan Kannikkars dari Tamil Naidu dan Kerala.

Baca juga : Kabau, Sejawatnya Pete Jengkol dan Lamtoro

Dalam penggunaannya, biji berukuran besar yang sudah disangrai ini disebut bisa dipakai sebagai pengganti kopi. Selain itu, bijinya juga bisa diolah menjadi minyak nabati. Daun mudanya juga disebut bisa dimakan. Tanaman petai raksasa ini juga disebut memiliki berbagai manfaat.


Biji dari buah tanaman petai raksasa



Kandungan saponin pada batangnya bisa digunakan sebagai larutan pembersih. Sejumlah jurnal ilmiah menyebutkan kalau Entada memiliki potensi sebagai bahan obat. Sejak dulu, Entada telah digunakan untuk pengobatan tradisional di Afrika.

Bahkan, tanaman ini dipakai sebagai bahan salep untuk bisul, sakit gigi, penyakit kuning, dan mengobati otot bermasalah. Bahkan, beberapa diantaranya suka percaya kalau bijinya dapat digunakan sebagai keberuntungan bagi pemiliknya.

Tanaman ini disebut-sebut bisa digunakan untuk melawan nyeri sendi dan otot rematik, penyakit pernapasan, hernia, keracunan ikan, kencing nanah, berbagai penyakit kulit, bisul, sakit kepala, sakit perut. Sedangkan buahnya dianggap sebagai alat kontrasepsi. Biji panggang dimakan oleh wanita sebagai depuratif (pembersih darah) pasca melahirkan.

Juga dapat diberikan dalam dosis kecil untuk sakit perut, sebagai obat emetik, dan merupakan komponen dalam beberapa obat majemuk. Bubuk kulit pohon digunakan untuk sakit maag dan bubuk bijinya untuk demam dan sakit kepala. Ekstraknya dipercaya memiliki khasiat sebagai antimikroba dan antiinflamasi, meskipun bukti ilmiah di Indonesia masih terbatas.


Buah tanaman Entada mirip petai dengan ukuran yang luar biasa besar


Namun, penggunaan tanaman ini tetap harus berhati-hati karena kandungan alami pada bijinya bisa menyebabkan iritasi atau reaksi toksik jika dikonsumsi mentah. Pihak konservasi pun menekankan pentingnya edukasi masyarakat agar tidak sembarangan memetik atau mengonsumsi tanaman liar.

Baca juga : Saga Rambat, Tanaman Gulma yang Dimanfaatkan untuk Pengobatan Tradisional

BKSDA Jawa Tengah telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar agar tidak mengonsumsi atau merusak tanaman ini. Selain karena bukan bahan pangan, Entada juga memiliki fungsi ekologis penting bagi peneduh dan penahan erosi di hutan tropis. Edukasi seperti ini sangat penting agar masyarakat memahami peran setiap spesies dalam menjaga keseimbangan alam.


Viral petai raksasa Entada di hutan Banjarnegara


Para ahli kehutanan menegaskan bahwa polong Entada Rheedii tidak layak dikonsumsi karena bukan tanaman pangan dan mengandung biji sangat keras. Masyarakat juga diimbau tidak mencoba mengolahnya tanpa pengetahuan botani yang memadai mengingat kandungan senyawa di dalamnya berbeda dari kacang-kacangan.

Fenomena “petai raksasa” yang viral menunjukkan pentingnya edukasi publik tentang keragaman flora Indonesia agar masyarakat tidak keliru mengidentifikasi tanaman. Banyak spesies hutan memiliki kemiripan visual dengan tanaman konsumsi, namun memiliki karakter dan fungsi yang jauh berbeda. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Petai Raksasa, Tanaman Langka Mirip Petai yang Biasa Dikonsumsi Masyarakat


Sabtu, 24 Januari 2026

Kompol Dwi Sucahyo Buka Lomba Spesial Tahun Baru 2026, Rahayu dan Grojokan Sewu Juara, Tali Jagat Jadi Bintangnya



Pengcab PPPPSI Probolinggo bekerjasama dengan P3-Pro menggelar Lomba Seni Suara Alam Burung Puter Pelung pada Minggu, 18 Januari 2026 di Gantangan Patimura BC. Mayangan – Probolinggo. Event yang merupakan agenda rutin di daerah Tapal Kuda Jawa Timur tersebut berhasil terselenggara.

Lomba awal tahun ini spesial digelar untuk menyemarakkan hobi puter pelung di Probolinggo dengan membangkitkan semangat para peternak dan penghobi di Probolinggo dan daerah Tapal Kuda. Mereka musti berani tampil membawakan hasil tetasannya atau rawatannya ke arena lomba melalui Lomba Spesial Tahun Baru 2026.


Kabag Ops. Polres Probolinggo Kota Kompol Dwi Sucahyo SH.M.M. berfoto bersama juri dan panitia


Ada tiga kelas yang dibuka yakni kelas Pemula, kelas Utama, dan kelas Bintang. Ternyata diluar dugaan, peserta membludak. Bahkan menarik para pelomba dari Jawa Tengah untuk ikut hadir meramaikan. Dari 3 kelas yang dibuka hampir seluruhnya penuh peserta.

Tidak hanya secara kuantitas peserta meluber, juga secara kualitas burung-burung yang turun rata-rata tampil ciamik. Lomba yang bisa dikategorikan even Latpres tersebut diikuti para jawara puter pelung dari beberapa kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah.


Menunggu saat-saat menggantang burung gacoannya masing-masing


Panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh puter pelung mania yang sudah berpartisipasi hadir di ajang perdana tahun 2026 ini. Terima kasih juga disampaikan kepada pihak sponsorship sehingga jumlah undian doorprize cukup banyak. Termasuk adanya hadiah sembako dan uang pembinaan.

Hadir dalam acara tersebut Kabag Ops. Polres Probolinggo Kota Kompol Dwi Sucahyo SH.M.M. “Saya bangga ketika melihat kegiatan ini benar-benar menjadi pilihan masyarakat pecinta burung puter pelung, yang datang bukan saja dari Probolinggo, tetapi juga dari luar kota, bahkan dari luar Jawa Timur,” jelas Kompol Dwi Sucahyo.


Kompol Dwi Sucahyo berkenan menaikkan burung ke gantangan


Lebih lanjut Kompol Dwi Sucahyo berharap, kegiatan seperti itu dapat membangun silaturahmi, membangun sinergitas bersama antara Polri dan organisasi puter pelung yakni PPPPSI di daerah Probolinggo. “Tentu momentum yang baik ini bisa kita gunakan, manfaatkan untuk saling bertemu, dan saling bersilaturahmi.”

“Dan mudah-mudahan ke depan kegiatan-kegiatan seperti ini bisa terus kita selenggarakan untuk membangun sinergitas seluruh stakeholder yang ada,” papar Kompol Dwi Sucahyo. Melihat hasil yang luar biasa inilah, Kompol Dwi Sucahyo juga berharap bisa mengagendakan kembali kegiatan yang sama di hari Bhayangkara nanti, tentunya dengan kemasan yang lebih bagus lagi.


Juri bersiap dengan benderanya


Even awal tahun yang digelar oleh Pengcab Probolinggo benar-benar dimanfaatkan para penghobi burung puter pelung di wilayah Tapal Kuda, juga kota-kota di Jawa Timur, seperti Surabaya, Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep. Bahkan penghobi dari Jawa Tengah juga hadir, yakni Purworejo, Semarang, dan Wonosobo.

Hadirnya peserta dari luar kota, selain semakin menambah ramai suasana lomba. Kehadiran jago-jago yang diusung oleh tim tamu tersebut, juga mampu menjadikan persaingan semakin ketat dan seru. Baik persingan di kelas Pemula, Utama maupun persaingan di kelas Bintang.


Even Spesial Tahun Baru 2026 berjalan meriah


Cuaca kota Probolinggo, hari itu tampaknya kurang bersahabat. Pasalnya, sejak pagi buta, lokasi di Gantangan Patimura BC yang jadi tempat persaingan jago jago puter pelung sudah dipayungi awan mendung. Udara dingin serasa menusuk tulang, betu-betul sangat dirasakan oleh semua peserta yang hadir.

Dan meskipun kondisi alam saat itu kurang mendukung, tetapi ternyata itu tidak menyurutkan nyali dan semangat peserta. Untuk tetap menggantang dan mengawal jago-jagonya, agar bisa tampil bagus dan pulang membawa tropy juara. Begitu peluit dibunyikan sebagai tanda lomba dimulai, sontak saja suasana arena lomba pun berubah menjadi ramai.


Rahayu sabet juara di kelas Utama


Suara merdu anggung jago-jago puter pelung, yang digantang terdengar silih berganti. Adu mental dan kualitas anggung benar-benar terjadi di tiga kelas yang dibuka oleh panitia. Beberapa jawara puter pelung yang biasanya tampil mempesona ternyata enggan memamerkan anggung emasnya, cuaca tampaknya memang berpengaruh.

Beberapa peserta sempat meluapkan kekesalan dan ketidakpuasannya karena merasa burungnya layak menang namun dinilai kurang maksimal dan tidak diperhatikan oleh juri. Lomba yang bisa dikategorikan Latpres seperti itu umumnya berjalan ramai dan diikuti oleh antusiasme tinggi dari para penghobi dari berbagai daerah.


Grojokan Sewu moncer di kelas Pemula


Protes atau ketidakpuasan peserta merupakan hal yang berpotensi terjadi dan harus diantisipasi oleh panitia sedari awal melalui penilaian yang lebih adil dan transparan. Peserta dari luar daerah dengan burung-burung bagus pasti akan berteriak ketika burungnya saat manggung tetapi tidak terpantau oleh juri.

Empat babak penilaian, betul-betul jadi persaingan seru dan ketat antar jago yang berlaga. Dan mendung yang terus memayungi juga tak mampu membendung kerja dari beberapa jago jago puter pelung yang memang punya mental hebat.


Tali Jagat menjadi Bintang di even Spesial Tahun Baru 2026


Buktinya di kelas Utama, Rahayu yang jadi andalan Slamet Situbondo, jago bergelang Arjuna 18 ini berhasil menembus dinginnya udara dan lolos dari hadangan pesaingnya. Dengan mendapat total nilai tertinggi, Rahayu sukses merebut podium pertama dan pulang membawa tropy juara.

Sedangkan burung puter pelung bernama Mawar milik AG BF Bangkalan bergelang AG 37 harus puas menjadi runner upnya. Dan disusul kemudian oleh Condro Wangi milik Amir 99 Pamekasan, dengan ring Jojo 111 di tempat ketiga.



Sementara di kelas Pemula yang dilombakan setelah kelas Utama, juga berlangsung seru. Di babak pertama tanpa terduga dua burung harus mengakhiri persaingan lebih awal setelah pengajuan mendapatkan bendera lima warna disetujui oleh koordinator juri sehingga harus terkena diskualifikasi.

Salah satunya burung milik Krida Tya Yudha. “Wes gak opo-opo, semoga memang waktunya naik kelas setingkat lebih tinggi,” ucap Yudha pemilik Arahiwang BF Purworejo Jawa Tengah legowo. Hingga akhirnya jago muda Grojokan Sewu orbitan 7BF Pasuruan mampu merebut podium utama.



Grojokan Sewu rebut juara setelah bersaing sangat ketat dengan Sadis burung puter milik Danu Pesona dari Situbondo yang berada di tempat kedua. Dan Ki Geter andalan Dewoko dari Bondowoso yang berhasil mengakhiri langkahnya di posisi ketiga.



Sementara di kelas Bintang berlangsung begitu meriah. Persaingan menjadi yang terbaik sangat ketat. Setelah melalui persaingan sengit selama empat babak penuh penilaian. Tali Jagat yang jadi andalan Imam Syafi’i Tuban merebut podium juara. Tempat kedua diduduki Ki Dewo milik Rojaa BF Paiton. Sedang Barada’e milik Imam Syafi’i lainnya mengunci posisi tiga besar. (Ramlee/TM)


Bajing Kelapa, Mamalia Pengerat Kecil Penghuni Pohon

Bajing Kelapa (Callosciurus notatus) merupakan mamalia pengerat kecil mirip tupai yang mudah ditemukan di Asia Tenggara termasuk Indonesia....