Sabtu, 11 Juli 2026

LatBer Rukun Makmur PPDSI Sukoharjo, Pemanasan Jelang LDI Solo, Mr Wow dan Densus 62 Juara



Pengcab PPDSI Sukoharjo sukses menggelar Latber Rukun Makmur, pada Minggu 5 Juli 2026. Menempati lokasi yang sama, yakni di Lapangan Sukoharjo Kel. Kwarasan Grogol Kab. Sukoharjo. Kegiatan ini berhasil terselenggara dengan tertib dan lancar tanpa hambatan sebagai wujud eksistensi hobi derkuku yang ada di Sukoharjo.

Panitia hanya membuka dua kelas, yakni kelas Pemula dan Bebas. “Alhamdulillah hari ini kami mengadakan kembali Latber bersama teman-teman di Sukoharjo. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan dapat memberikan manfaat,” terang H. Nur Ali Sasongko selaku Ketua Pelaksana.


Dorrick dan Sugeng


Menurut H. Nur Ali Sasongko, kegiatan tersebut tidak berbeda dengan kegiatan yang rutin diselenggarakan sebelumnya. Semua dilakukan sesuai dengan apa yang sudah menjadi kebiasaan dan sudah dijalankan selama ini. “Ini acara kumpul-kumpul para penghobi, biar ada semangat bagi teman-teman tetap mau main derkuku,” sambung H. Nur Ali Sasongko.

Even ini dimaksudkan untuk lebih memberikan kesempatan kepada dekoe mania yang ingin tetap bisa menyalurkan hobinya dan juga sebagai ajang pemanasan sebelum tarung di arena yang lebih besar. Meski hanya berupa Latihan Bersama (LatBer), namun semangat dekoe mania tetap luar biasa.


Siswo Juri Senior sedang memberi pengarahan pada dua calon juri


Beberapa penggila lomba memanfaatkan moment tersebut sebagai ajang untuk mempersiapkan amunisi miliknya yang akan unjuk kebolehan dalam kegiatan Akbar Liga Derkuku Indonesia Putaran ke-3 Bengawan Solo Cup yang akan dihelat pada Minggu, 19 Juli 2026 di Lapangan Gawanan Colomadu – karanganyar.

H. Nur Ali Sasongko selaku Ketua Pengcab PPDSI Sukoharjo menuturkan bahwa kegiatan ini juga untuk memberikan kesempatan kepada dekoe mania dalam melakukan persiapan sebelum tanding. “Latber Rukun Makmur ini sekaligus memberikan kesempatan dan persiapan pada dekoe mania sebelum turun di lomba LDI Bengawan Solo Cup,” jelas H. Nur Ali Sasongko.


Juri dan Panitia


Dengan adanya kegiatan seperti ini diharapkan penggila lomba sudah memiliki pandangan seputar kesiapan sang amunisi untuk menghadapi lawan berat. Jatmiko pemilik JAT BF Solo yang ikut mempersiapkan Bengawan Solo Cup, mengatakan hal yang sama. “Mumpung masih ada waktu, makanya kegiatan ini kami gunakan untuk persiapan menuju agenda LDI di Solo.” Kegiatan ini memang menjadi pilihan peserta untuk melakukan persiapan menuju ajang yang lebih bergengsi.

Beberapa dekoe mania yang hadir juga mengatakan hal yang senada. “Kami turun untuk memastikan saja kesiapan jago-jago sebelum turun di LDI Solo. Setidaknya kami sudah punya catatan untuk melakukan langkah terbaik buat gaco-gaco kami sebelum turun di LDI.” Dari catatan panitia, peserta yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut berasal dari Solo, Karanganyar, Kartasura, Boyolali, dan Sukoharjo sendiri.


Wawan Soba pemilik WA-1 BF menempatkan gaconya di podium pertama kelas Bebas


LatBer Rukun Makmur ini selain untuk melatih mental dan kualitas jago-jago derkuku milik Dekoe Mania Sukoharjo dan sekitarnya, juga untuk menggembleng (melatih) Juri-Juri muda (calon Juri) yang nantinya diharapkan bisa meneruskan tugas penjurian. Siswo selaku Juri Nasional dengan tekun memberikan arahan serta membimbing dan menularkan ilmunya kepada Juri-juri muda tersebut.

“Saya berharap Pak Siswo sebagai Jurnas (pembimbing), dapat mengarahkan Juri-juri muda ini semaksimal mungkin. Agar nantinya mereka menjadi juri-juri yang berkualitas,” tandas H. Nur Ali Sasongko. Semua peserta yang hadir, betul-betul memahami dan mendukung agenda Pengcab Sukoharjo bersama Pengcab Surakarta ini.


Barisan juara di kelas Bebas


Acara berlangsung seru dan lancar. Cuaca panas dan diselingi mendung, mengawal acara dari awal hingga akhir. Empat babak penjurian berlangsung dalam suasana nyaman tanpa gangguan. Sejak peluit babak pertama dimulai sampai babak keempat berakhir semua peserta terlihat sangat kondusif saat mengawal jagonya.

Semua mengikuti penilaian dari babak per babak dengan tenang, hingga penentuan posisi kejuaraan diumumkan. Untuk kelas Bebas, podium pertama berhasil menjadi milik Mr. Wow amunisi Wawan dari Solo Baru, derkuku bergelang B2W 3943 yang dikerek pada nomor 48.


Budi Santoso pemilik BS62 BF borong juara 123 di kelas Pemula


Tempat kedua berhasil direbut Golden Star debutan Eko LMS Solo, derkuku ternakan LMS 639 yang berada di nomor kerekan 3. Dan tempat ketiga diraih Cleopatra orbitan Wagiman dari Solo, derkuku bergelang GSM 1827 yang ada di kerekan nomor 42.

Untuk juara pertama, kedua dan ketiga di kelas Pemula, berhasil diboyong produk BS62 Bird Farm Solo lewat aksi Densus 62 yang dikerek pada nomor 14 berhasil menjadi yang terbaik pertama. Lalu Lintang yang dikerek pada nomor 5 sebagai peraih juara kedua. Dan Bintang yang ada dikerekan nomor 12 jadi juara ketiga.


Barisan para juara di kelas Pemula


Kepada para pemenang hari itu, H. Nur Ali Sasongko mengucapkan selamat. Usaha yang sudah dilakukan setiap hari dalam merawat burung akhirnya membuahkan hasil maksimal di lapangan dan sukses meraih juara. Namun bagi peserta yang belum beruntung meraih juara karena burungnya kurang kerja, diharapkan tidak berkecil hati. Karena, masih ada kesempatan di event-event berikutnya untuk bisa merebut juara. (Ramlee/Jat)





Senin, 06 Juli 2026

Daun Mengkudu sebagai Pakan Tambahan Burung Kenari agar Sehat dan Gacor



Burung Kenari (Serinus canaria) merupakan salah satu burung favorit diantara penghobi burung di tanah air. Keindahan bulu serta Kicauannya yang nyaman didengar membuat popularitas burung ini tidak pernah dimakan zaman. Namun untuk menjadikan kenari menjadi gacor terkadang menjadi persoalan tersendiri.

Bagi yang berminat untuk memelihara burung kenari, sebaiknya mengetahui terlebih dahulu tentang cara perawatannya. Karena sayang sekali jika sudah terlanjur membeli burung kenari malah terawat dengan cara yang salah, yang menyebabkan burung menjadi sakit dan mati karenanya.

Asupan makanan yang baik akan menjadikan tubuh burung kenari semakin sehat dan bugar. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan suara burung berkualitas tentunya memberikan pakan terbaik yang memiliki nutrisi tinggi. Pakan ini dapat dibeli di pasaran dengan mudah.


Kenari salah satu burung favorit diantara penghobi burung


Seperti manusia, burung juga membutuhkan variasi menu makanan dengan memberikan makanan tambahan (EF). Fungsinya untuk menjaga keseimbangan dan asupan nutrisi yang dibutuhkan oleh burung. Dengan kata lain, pakan tambahan harus mampu melengkapi nutrisi yang ada di dalam pakan utama (biji-bijian).

Baca juga : Mengkudu, Salah Satu Tanaman Obat yang Dipercaya Memiliki Banyak Khasiat

Khusus untuk pakan biji-bijian yang menjadi pakan utama, harus diberikan setiap hari. Pakan harian ini tidak boleh habis atau kurang sama sekali. Tidak hanya itu, kebersihan pakan dan tempatnya juga harus diperhatikan dengan baik. Sebab pakan yang kotor dapat berpengaruh pada kesehatan burung Kenari.


Pakan bijian untuk burung kenari


Sedangkan untuk pakan tambahan seperti buah dan sayuran bisa diberikan secara bergantian dengan pakan utama agar menu makannya lebih bervariasi. Cara ini juga efektif menjaga selera makan burung. Pakan tambahan ini bisa berupa sayuran (daun selada, daun sawi putih atau hijau, bayam, daun ginseng, dan gambas).

Kemudian buah-buahan (apel, anggur, tomat, pepaya setengah matang, wortel, ataupun paprika). Juga pakan hewani seperti telur puyuh, atau jangkrik. Makanan tambahan ini diberikan tidak setiap hari. Pakan tambahan bisa diberikan dua kali setiap minggu secara berseling.

Salah satu jenis pakan tambahan yang baik adalah daun mengkudu atau yang lebih dikenal dengan sebutan pace. Mengkudu (Morinda citrifolia), daunnya memiliki banyak kandungan yang sangat bermanfaat untuk kenari serta beberapa jenis burung kicau lainnya seperti selenium, antioksidan, glikosida, xeronine, terpenoid, vitamin A, proxeronine, antra quinines, trace elemens, phenylalanine, magnesium dan masih banyak lagi yang lainnya.

Daun mengkudu merupakan pakan tambahan alami yang sangat bermanfaat bagi burung kenari, terutama untuk meningkatkan kualitas suara (membuat gacor), mengatasi tenggorokan serak, melancarkan pencernaan, serta meningkatkan stamina dan kesuburan indukan. Daun ini juga berkhasiat sebagai antiinflamasi dan antioksidan untuk mengurangi stres.


Tanaman mengkudu


Daun mengkudu menawarkan berbagai manfaat untuk burung kenari, diantaranya dapat meningkatkan kualitas suara (gacor). Daun mengkudu telah lama dipercaya dapat membuat kenari lebih rajin berkicau dan meningkatkan volume suaranya.

Baca juga : Perawatan Burung Kenari agar Tetap Sehat dan Gacor

Daun mengkudu juga dapat melancarkan pencernaan burung kenari. Ini karena kandungan serat yang tinggi di dalam daun mengkudu dapat membantu melancarkan pencernaan kenari dan mencegah masalah pencernaan pada burung kenari.


Daun muda mengkudu sangat baik untuk burung kenari


Selain itu daun mengkudu juga dapat mengatasi serak, sifat antiinflamasi pada daun mengkudu dapat membantu mengatasi masalah tenggorokan serak pada kenari. Meningkatkan Stamina, daun mengkudu dapat membantu meningkatkan stamina dan vitalitas kenari, membuatnya lebih aktif dan lincah.

Daun mengkudu juga dipercaya dapat meningkatkan kesuburan, pemberian daun mengkudu secara teratur dapat meningkatkan kesuburan indukan kenari, meningkatkan ukuran telur, dan daya tetas telur. Daun jmengkudu juga dapat untuk mengurangi stres, karena kandungan antioksidan dalam daun mengkudu membantu mengurangi stres pada kenari.

Ada dua cara utama pemberian daun mengkudu untuk pakan tambahan pada burung kenari. Pemberian daun mengkudu secara langsung, denagan cara memilih 1-2 lembar daun mengkudu yang masih muda, yang segar, dan tidak berlubang. Cuci bersih daun tersebut dan gantungkan di dalam sangkar, biarkan burung kenari mematukinya secara langsung.

Cara berikutnya yakni dengan memberikan air rebusan daun mengkudu. Caranya rebus 3-5 lembar daun mengkudu di dalam air bersih secukupnya hingga mendidih. Dinginkan air rebusan tersebut sebelum diberikan sebagai air minum untuk kenari.


Rebusan daun mengkudu bisa diberikan untuk burung kenari sebagai air minumnya


Meskipun bermanfaat, pemberian daun mengkudu perlu diperhatikan agar tidak berlebihan. Karena pemberian daun mengkudu yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada burung kenari seperti diare. Berikan daun mengkudu secara berkala, misalnya 1-2 kali seminggu.

Baca juga : Burung Kenari Membisu, Tindakan Pencegahan dan Pengobatannya

Yang perlu diperhatikan adalah daun mengkudu ini bukanlah pakan utama untuk burung kenari. Daun mengkudu hanya sebagai pakan tambahan, bukan pengganti pakan utama kenari. Perhatikan kondisi burung kenari, jika burung kenari menunjukkan gejala alergi atau gangguan pencernaan setelah mengonsumsi daun mengkudu, segera hentikan pemberian.


Burung kenari gacor jadi idaman setiap penghobi burung berkicau


Daun mengkudu dapat menjadi tambahan yang bermanfaat untuk makanan burung kenari. Mendukung suara yang lebih baik, pencernaan yang sehat, dan peningkatan stamina burung kenari. Namun pemberiannya harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak berlebihan. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Manfaat Daun Mengkudu untuk Kenari sebagai Pakan Tambahan agar Sehat dan Gacor


Selasa, 30 Juni 2026

Biwa, Buah Eksotis Asal Tiongkok Mirip Pir dan Plum yang Kaya Manfaat





Biwa (Eriobotrya japonica) merupakan salah satu jenis buah yang mungkin tidak populer bagi masyarakat Indonesia. Buah ini sangat jarang sekali ditemukan bahkan di toko buah ternama sekalipun. Ini disebabkan, buah biwa merupakan salah satu buah langka yang tidak banyak dibudidayakan di Indonesia.

Tanaman buah biwa ini sangat cocok tumbuh di daerah dataran tinggi salah satunya di Tanah Karo. Tanaman ini sudah tidak asing bagi masyarakat di Kabupaten Karo karena banyak penduduk yang menanam tanaman biwa di halaman rumah dan lahan pertanian mereka sebagai tanaman pagar namun bukan sebagai tanaman utama.

Tanaman ini berasal dari Negeri Tirai Bambu Tiongkok. Tanaman ini telah ada dan jadi budidaya di sana selama lebih dari seribu tahun yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Louisiana (negara bagian Amerika Serikat), menyebut buah ibi loquat sebagai “kesalahpahaman” dan tumbuh di pekarangan rumah.



Tanaman Biwa telah jadi tanaman budidaya di Tiongkok ribuan tahun lalu



Ada dugaaan Imigran Tiongkok membawa loquat ke Hawaii dan California. Tanaman ini telah jadi budidaya di Jepang selama sekitar 1.000 tahun dan mungkin buah serta bijinya kembali dari Tiongkok ke Jepang oleh banyak sarjana Jepang yang berkunjung dan belajar di Tiongkok pada masa Dinasti Tang.


Catatan spesies ini yang pertama di Eropa mungkin terjadi pada abad ke-16 oleh Michał Boym, seorang jesuit Polandia, orientalis, politisi, dan misionaris ke Tiongkok. Dia mendeskripsikan loquat dalam bukunya Flora sinensis, buku sejarah alam Eropa pertama tentang Tiongkok.



Tanaman biwa yang tengah berbunga



Nama umum buah ini berasal dari bahasa Portugis nêspera (dari nespilus yang dimodifikasi , aslinya mespilus, yang mengacu pada medlar). Karena kontak pertama orang Portugis dengan orang Jepang dan Cina juga terjadi pada abad ke-16, kemungkinan beberapa dibawa kembali ke Eropa, seperti halnya spesies lain seperti varietas kesemek Hachiya.

Varietas yang paling umum di Portugal adalah ‘Tanaka’ yang masaknya terlambat, yang populer diatanam di kebun dan halaman belakang, tetapi tidak diproduksi secara komersial. Di Portugal utara, tanaman ini populer disebut magnório atau magnólio, mungkin ada hubungannya dengan ahli botani Perancis Pierre Magnol.

Di Spanyol, buah ini juga disebut nísperos dan dieksploitasi secara komersial. Negara Spanyol menjadi produsen buah biwa terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok, dengan produksi 41.487 ton per tahun, setengahnya ditujukan untuk pasar ekspor.

Tanaman biwa adalah semak besar atau pohon kecil yang selalu hijau, dengan mahkota bulat, batang pendek, dan ranting baru berbulu. Pohon ini dapat tumbuh setinggi 5 hingga 10 m tetapi seringkali lebih kecil, sekitar 3 hingga 4 m.



Buah biwa yang telah masak dan siap dipanen



Daunnya memiliki penampilan yang khas, dengan sifat berselang-seling dan tekstur yang keras serta kasar. Panjangnya berkisar antara 10 hingga 25 cm, berwarna hijau tua, dan memiliki tepi yang bergerigi. Bagian bawah daunnya ditutupi oleh rambut halus yang mirip beludru berwarna kuning kecokelatan, sementara daun-daun muda juga memiliki rambut yang tebal di bagian atas, meskipun rambut ini segera terkelupas.


Bunganya muncul di musim gugur atau awal musim dingin. Bunga-bunganya berdiameter sekitar 2 cm, berwarna putih, dan terdiri dari lima kelopak, membentuk malai kaku yang terdiri dari tiga hingga sepuluh bunga. Selain itu, bunga ini memiliki aroma manis yang dapat tercium dari kejauhan.



Biji buah biwa



Tumbuh dalam kelompok-kelompok kecil dan memiliki beragam bentuk, baik lonjong, bulat, atau seperti buah pir, dengan ukuran sekitar 3 hingga 5 cm. Kulitnya dapat berupa yang halus atau berbulu lembut, berwarna kuning, oranye, bahkan kadang-kadang merona.

Dagingnya yang segar dan tajam bisa memiliki warna putih, kuning, atau oranye, serta rasa yang bervariasi dari yang manis hingga agak asam atau bahkan asam, tergantung pada kultivar tertentu. Masing-masing buah biwa mengandung sekitar satu hingga sepuluh bakal biji.

Walaupun ada tiga hingga lima bakal biji adalah yang paling umum. Beberapa di antara bakal biji ini bisa matang dan menjadi biji besar berwarna coklat, meskipun jumlah biji yang muncul pada setiap buah pada pohon yang sama bisa berbeda, biasanya berkisar antara satu hingga empat biji.

Buah biwa mengandung tinggi gula, asam, dan pektin. Buah ini sering makan segar dan bisa campur dengan buah-buahan lain dalam salad buah segar atau dalam cangkir buah. Selain itu, buah biwa sering menjadi selai, jeli, dan chutney, serta sering tersaji setelah rebus dengan sirup ringan.



Masyarakat Tanah Karo tengah memanen buah biwa



Ketika buah masih keras dan belum matang, biasanya untuk membuat pai atau kue tar, sementara yang paling nikmat adalah ketika buah telah lunak dan berwarna oranye. Tidak jarang, buah biwa juga dalam bentuk kalengan atauiolah menjadi manisan.


Hal ini karena sekitar 30% atau lebih dari buah tersebut adalah limbah yang terdiri dari ukuran benih. Selain itu, loquat juga dapat untuk membuat jus atau smoothie. Di beberapa negara Amerika Selatan seperti Ekuador, buah biwa sering untuk membuat “batidos” yang bercampur dengan susu, es, atau buah-buahan lainnya.



Masa panen buah biwa di bulan Nopember – Desember



Buah biwa memiliki berbagai macam mineral, asam lemak, protein, karbohidrat, serat, serta vitamin, loquat memiliki banyak manfaat yang baik untuk kesehatan berupa melancarkan sirkulasi pada darah hingga menjaga kesehatan ginjal. (Ramlee)


Sumber : remen.id


Senin, 29 Juni 2026

Pelanduk Kalimantan, Spesies Burung Endemik Kalimantan yang Sempat Dianggap Punah Lebih 170 Tahun Lalu



Pelanduk Kalimantan (Malacocincla perspicillata) merupakan satu dari sedikit burung Indonesia yang hidupnya seperti legenda. Burung penyanyi ini di dunia internasional sebagai black-browed babbler. Di tingkat lokal, warga Kalimantan mengenalnya sebagai burung pelanduk, meski tidak terkait dengan mamalia pelanduk.

Burung Pelanduk Kalimantan sesungguhnya bukan satu-satu burung dari jenis pelanduk. Di Indonesia, diketahui ada beberapa jenis pelanduk lain. Sayangnya, semua jenis burung tersebut masih minim data. Pelanduk Kalimantan adalah burung endemik Indonesia dan diyakini hanya hidup di Pulau Kalimantan.

Namanya jarang terdengar, wujudnya nyaris mitos, jejaknya lama menghilang. Burung ini bukan sekadar spesies langka, tetapi simbol betapa rapuhnya pengetahuan manusia tentang hutan tropis. Keberadaan burung ini bermula pada abad ke-19, masa eksplorasi kolonial.


Spesimen Pelanduk Kalimantan di tahun 1840an


Spesimen pertama dikumpulkan Carl A.L.M. Schwaner pada 1840-an. Deskripsi ilmiah kemudian dibuat Charles Lucien Bonaparte pada 1850. Namun sejak saat itu, Pelanduk Kalimantan lenyap dari catatan ilmiah. Ketiadaan data membuat status Pelanduk Kalimantan jadi simpang siur.

Baca juga : Yuhina Kalimantan, Burung Endemik Kalimantan yang Suaranya Mirip Cucak Jenggot

Pelanduk Kalimantan sempat dianggap punah, lalu dinilai rentan, hingga akhirnya berstatus kurang data. Penilaian terakhir ditetapkan oleh International Union for Conservation of Nature pada 2008. Semua berubah pada bulan Oktober 2020, ketika dua warga lokal, bernama Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan menemukan burung asing saat mengumpulkan hasil hutan di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.


Pelanduk Kalimantan ketika ditemukan kembali pada tahun 2020


Mereka memotret burung tersebut, sebelum melepasnya kembali ke alam, lalu melapor ke komunitas pengamat burung. Foto tersebut beredar cepat di kalangan ornitolog. Komunitas BW Galeatus dan Birdpacker mencium sesuatu yang tak biasa. Dugaan mengarah pada Pelanduk Kalimantan yang hilang berabad-abad.

Identifikasi terhadap foto burung tersebut dilakukan hati-hati, melibatkan peneliti nasional dan internasional. Spesimen foto dibandingkan dengan koleksi Naturalis Biodiversity Center Belanda. Hasilnya mengejutkan dan menggembirakan. Temuan itu dikonfirmasi dalam jurnal BirdingASIA tahun 2021.

Penulis utama Panji Gusti Akbar menyebutnya penemuan zoologi paling dramatis Indonesia modern. Dunia sains pun tersentak. Pelanduk Kalimantan sempat dianggap punah selama 172 tahun. Pelanduk Kalimantan berukuran sekitar 16 sentimeter. Tubuhnya kekar untuk ukuran burung penyanyi.

Warna bulu dominan cokelat dengan burik abu-abu di bagian perut. Ciri paling mencolok adalah garis hitam tebal di atas mata. Alis hitam itu membentang dari paruh hingga tengkuk, seperti topeng. Inilah asal nama black-browed babbler (burung pengicau alis hitam). Iris matanya merah tua, detail yang lama keliru dipahami.


Burung Pelanduk Kalimantan muncul lagi,setelah dianggap punah sejak 170 tahun lalu


Spesimen awetan abad ke-19 memakai mata buatan berwarna kuning. Kesalahan taksidermi itu menyesatkan generasi peneliti berikutnya. Paruhnya hitam dan sangat kuat. Bentuk ini menandakan adaptasi Pelanduk Kalimantan saat mencari makan di lantai hutan. Kakinya abu-abu gelap, kokoh untuk berjalan di serasah.

Baca juga : Katak Kepala Pipih Kalimantan, Katak Tanpa Paru Endemik Kalimantan yang Terancam Punah

Lehernya pendek, badannya padat, sayapnya relatif pendek. Pelanduk Kalimantan bukan penerbang jarak jauh. Kemampuan terbangnya rendah dan cenderung meloncat di bawah tajuk hutan. Perbedaan jantan dan betina belum terdeskripsi jelas. Minimnya pengamatan lapangan membuat dimorfisme seksual masih teka-teki. Data genetiknya pun belum tersedia.


Warna bulu Pelanduk Kalimantan dominan cokelat dengan burik abu-abu di bagian perut


Secara taksonomi, burung ini termasuk ordo Passeriformes. Pelanduk Kalimantan berada dalam famili Timaliidae, kelompok babbler Asia. Genus Malacocincla dikenal sebagai burung pemalu penghuni lantai hutan. Jenis dalam spesies ini belum dibedakan lebih lanjut. Populasinya diduga sangat kecil dan terfragmentasi. Inilah alasan kuat sulitnya perjumpaan Pelanduk Kalimantan selama dua abad.

Makanan Pelanduk Kalimantan diperkirakan serangga kecil dan invertebrata tanah. Ia mencari makan di serasah daun basah. Paruh kuat membantu membongkar lapisan tanah lunak. Habitat alaminya adalah hutan dataran rendah lembap. Banyak ahli menduga Pelanduk Kalimantan menyukai hutan rawa gambut.

Wilayah Pegunungan Meratus disebut sebagai kantong penting. Fungsi ekologisnya tidak bisa diremehkan. Burung lantai hutan membantu mengontrol populasi serangga. Pelanduk Kalimantan juga berperan dalam siklus nutrien tanah. Bunyi Pelanduk Kalimantan belum pernah direkam.

Hingga kini, tidak ada dokumentasi suara valid. Ini menjadikannya satu dari sedikit burung Indonesia tanpa arsip vokalisasi. Banyak informasi yang belum tergali seperti reproduksi Pelanduk Kalimantan, usia matang seksual, musim berbiak, semuanya belum diketahui. Sarangnya pun belum pernah ditemukan. Informasi tentang jumlah telur, masa pengeraman, hingga kemandirian anakan masih kosong.


Kaki Pelanduk Kalimantan berwarna abu-abu gelap


Kekosongan data ini menunjukkan betapa minimnya riset di luar Jawa. Para ahli mengakui adanya jurang pengetahuan besar. Tantangan utama adalah minimnya survei lanjutan. Akses lokasi sulit dan populasi sangat jarang. Kesalahan langkah bisa berakibat fatal bagi spesies ini.

Baca juga : Biawak Kalimantan, Fosil Hidup Misterius dari Kalimantan yang Mampu Mendengar Tanpa Telinga

Ding Li Yong dari BirdLife International menyebut penemuan ini ironi sekaligus harapan. Saat hutan tergerus, spesies ini justru bertahan. Akan tetapi ancaman habitat tetap nyata. Deforestasi Kalimantan berlangsung cepat dan masif. Hutan dataran rendah menjadi yang paling tertekan. Di sinilah Pelanduk Kalimantan hidup.


Data informasi tentang Pelanduk Kalimatan sangat minim


Hingga kini, burung ini belum masuk daftar satwa dilindungi nasional. Pemerintah melalui KLHK menyatakan proses kajian masih berjalan. Rekomendasi ilmiah sangat dibutuhkan. Mengacu Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dalam Pasal 5 disebutkan, jenis tumbuhan dan satwa yang wajib dilindungi adalah apabila diketahui populasi yang kecil, adanya penurunan individu yang tajam di alam, dan daerah persebarannya terbatas (endemic). (Ramlee)


Sumber : remen.id

Pelanduk Kalimantan, Burung Penyanyi Endemik Kalimantan yang Sempat Dianggap Punah


Minggu, 28 Juni 2026

LatBer Puter Pelung AG BF Bangkalan, Cakra Ningrat Produk SJM Tampil Mengesankan



AG Bird Farm Bvangkalan kembali agendakan lomba seni suara burung puter pelung dengan tajuk “Latber Rutin AG Bird Farm” pada Minggu, 19 Juni 2026 yang dikemas oleh H. Alif M. Nur, di Gantangan AG BF Bangkalan Jl Pertahanan No. 191 Bancaran – Bangkalan, acara berlangsung ramai dan lancar tanpa hambatan.

Kegiatan Latber AG BF merupakan agenda rutin yang kali ini digelar pada medio bulan ini sekaligus untuk mengisi waktu kosong karena tidak ada jadwal lomba yang berdekatan pelaksanaannya. H. Alif M. Nur pemilik AG Bird Farm ini segera berinisiatif menggelar kegiatan Latber.


Bendera penilaian telah disiapkan panitia Latber Rutin AG Bird Farm


“Hari ini saya kembali mengadakan Latber yang memang rutin setiap bulannya serta untuk mengisi waktu kosong karena tidak ada lomba yang berdekatan,” jelas H. Alif. “Hanya ada satu kelas yang dibuka yakni kelas Bebas karena menyesuaikan dengan waktu yang ada,” ujar H. Alif selaku ketua pelaksana.

Kabar adanya kegiatan ini memang tidak disebarkan secara luas karena memang merupakan kegiatan rutin yang diikuti oleh para mania puter pelung di sekitaran Bangkalan. “Informasi Latber ini memang tidak menyebar secara intens di berbagai platform media sosaial karena sifat kegiatannya,” sambung H. Alif.


Seorang peserta sedang menyiapkan burungnya sebelum lomba dimulai


Meski sifatnya terbatas, ternyata jumlah peserta yang ikut lumayan, separuh gantangan yang ada dipenuhi para peserta. Hal ini tentunya tidak lepas dari bandrol tiket yang tergoong sangat murah. “Uang pendaftaran cukup kekeluargaan dengan 25 ribu rupiah, para peserta lomba bisa membawa pulang piala, piagam, dan sembako,” tutur H. Alif.

“Alhamdulillah peserta yang datang meramaikan cukup menggembirakan. Saya atas nama panitia, mengucapkan banyak terima kasih kepada semua yang hadir,” ungkap H. Alif. “Karena tanpa dukungan dan partisipasi para pecinta puter pelung di Bangkalan dan daerah sekitarnya, saya yakin latber rutin ini tidak mungkin bisa meriah seperti ini.”


Burung mulai dinaikkan pertanda lomba akan segera dimulai


H. Alif juga bersyukur jika hari itu para pecinta puter pelung datang tepat waktu, sehingga pelaksanaan penjurian tidak terlalu siang dimulainya. H. Alif menegaskan bahwa agenda ini dilakukan untuk memberikan wadah bagi puter pelung mania setempat agar bisa tetap menyalurkan hobi puter pelungnya.

Seperti daerah lain di Pulau Madura, Bangkalan merupakan salah satu daerah yang memiliki semangat berlomba yang luar biasa. Dan Latber AG BF ini telah menjadi salah satu alternatif bagi mereka yang menginginkan adanya lomba.


Suasana penjurian berjalan syahdu


Agar mereka bisa terus berada di gantangan, membawa puter pelung orbitannya untuk dilombakan. Dengan begitu kualitas anggung burung kesayangan mereka dapat diketahui dengan pasti. “Kegiatan ini kami laksanakan dengan sederhana, yang penting kami bisa kembali bertemu bersama rekan-rekan sesama puter pelung,” tegas H. Alif.

Cuaca cerah sepertinya juga memberikan dukungan penuh. Panitia memutuskan menggunakan format penilaian dengan durasi penilain selama tiga babak. Penjurian berlangsung sukses dan lancar. Semua peserta terlihat sangat kondusif saat mengawal jagonya, tanpa ada satupun yang berteriak.


H. Alif bersama para juara


Semua mengikuti penilaian dari babak ke babak dengan tenang. Dari awal babak 1 sampai 3 nomor gantangan 17, 11, 16, dan 4 mampu menampilkan suara terbaiknya. Gantangan 17, 12, dan 16 sempurna mendapatkan bendera 4 warna.

Untuk podium pertama berhasil menjadi milik Cakra Ningrat amunisi Anis Bangkalan ring SJM 01 yang digantang pada nomor 17. Posisi kedua diamankan Roket andalan Yan’s Bangkalan, ternakan Yan’s 233 yang berada di nomor gantangan 11. Di tempat ketiga berhasil dimenangkan oleh Jamrut orbitan H. Yusuf Bangkalan, produk ternak Sakera 17 yang berada di nomor gantangan 16.



“Saya atas nama panitia dan juga sebagai penanggungjawab acara, mengucapkan banyak terim kasih kepada semua puter pelung mania yang hadir ikut mensukseskan acara ini. Serta mohon ma’af jika masih banyak kekurangan. Selamat kepada para juara, untuk yang belum bisa berprestasi semoga bulan depan bisa tampil jauh lebih baik,” tutup H. Alif. (Ramlee/AG)


LatBer Rukun Makmur PPDSI Sukoharjo, Pemanasan Jelang LDI Solo, Mr Wow dan Densus 62 Juara

Pengcab PPDSI Sukoharjo sukses menggelar Latber Rukun Makmur, pada Minggu 5 Juli 2026. Menempati lokasi yang sama, yakni di Lapangan Sukohar...