Sabtu, 25 April 2026

Cobra dan Oscadon Sukses Juarai Latber Perkutut Lokal Irama dan Warna Nganjuk, Kung Mania Luar Daerah Ramaikan Gelaran



Minggu pagi, 19 April 2026, Lapangan P3SI Pengda Nganjuk, Sombron Kec Loceret Nganjuk, diramaikan oleh kehadiran penghobi anggungan perkutut lokal irama. Mereka hadir dalam rangka memenuhi undangan panitia Latber Perkutut Lokal Asli Irama dan Perkutut Warna.

“Hari ini kami kembali menggelar acara Latber Perkutut Lokal Asli Irama dan Perkutut Warna,” tutur Didik Sugeng Ariyadi penggagas acara sekaligus Ketua Panitia. “Event ini sebenarnya sudah beberapa kali tertunda, Alhamdulillah hari ini akhirnya bisa terlaksana.”


Penghobi dari Ponorogo hadir dengan beberapa burung gacoannya


Panitia membuka dua kelas yakni kelas Perkutut Lokal Asli dan kelas Perkutut Warna. Antusias peserta terbilang luar biasa, latber ini juga mampu menarik perhatian peserta dari luar kota Nganjuk. Buktinya, beberapa peserta dari Tuban, Ponorogo, dan Kediri, ikut hadir untuk mensukseskan ajang Latber Perkutut Lokal Asli Irama dan Perkutut Warna tersebut.

Meskipun gantangan yang disediakan tidak penuh terisi, namun dukungan para mania membuat panitia gembira. “Alhamdulillah dukungan dari rekan-rekan masih tetap tinggi. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas apa yang sudah diberikan,” ucap Didik.


Para peserta bersiap menaikkan burung jagoannya


“Pada lomba kali ini ternyata rekan-rekan tetap semangat hadir meskipun beberapa kali sempat tertunda dengan membawa serta gacoannya,” tambah Didik. “Ternyata rekan-rekan sudah rindu untuk menampilkan kembali gaco-gaconya di atas tiang gantangan.”

Momen ini juga sekalian dimanfaatkan sebagai ajang temu kangen dan silaturahmi serta halal bihalal, karena bisanya ketemu di lapangan saat ada acara seperti ini. Didik mengatakan bahwa kegiatan ini sebenarnya sudah diusahakan untuk terus terjadi secara berkesinambungan.


Cuaca cerah mengawal acara hingga usai


“Kami sebenarnya sudah upayakan kegiatan ini berjalan secara kontinyu. Kalau bisa ya setiap bulan selalu ada kegiatan agar penghobi perkutut lokal asli irama disini bisa terus menyalurkan hobinya,” jelas Didik. “Biar hobi perkutut lokal asli irama di Nganjuk dan daerah sekitarnya tetap eksis.”

Namun beberapa kali acara yang sudah diagendakan secara matang harus gagal terlaksana dengan berbagai kendala yang ada. “Karena sebenarnya penghobi burung perkutut lokal asli irama di Nganjuk juga banyak, tidak kalah dengan burung anggungan lainnya.” lanjut Didik.


Para pecinta perkutut lokal asli irama menikmati jalannya lomba


Kehadiran gaco-gaco dari luar kota menambah persaingan menuju juara. Acara pun akan berjalan ramai, ketat, dan seru. Karena masing-masing jago yang ada, berusaha keras untuk bisa meraih posisi terdepan. Jalannya lomba pun terasa semakin gayeng.

Begitu peluit tanda babak pertama dibunyikan. Suasana arena latber pun menjadi ramai oleh suara anggung merdu yang dilepas jago-jago yang ada di atas tiang gantangan. Persaingan sengit untuk bisa mendapat nilai tertinggi dari kru juri yang bertugas terjadi hampir di setiap babak penilaian.


Peserta dari Tuban semakin exsis main di perkutut lokal irama


Cuaca cerah mendukung kegiatan tersebut. Empat babak penjurian berhasil dilakukan tanpa ada kendala. Sampai akhirnya ditetapkan posisi kejuaran. Untuk kelas Lokal Asli, podium pertama berhasil menjadi milik Cobra, amunisi Agus B Nganjuk, yang dikerek pada nomor 15.

Bopo Wiro Crumo andalan Dwijo Tuban yang menempati tiang gantangan nomor 6 sukses rebut posisi kedua setelah bertarung ketat dengan sang juara. Tempat ketiga dimenangkan Bodrex orbitan Ridwan Ponorogo, yang berada di tiang kerekan nomor 10.


Para juara berfoto bersama


Untuk kelas Perkutut Warna, juara pertama dimenangkan Oscadon amunisi Ridwan Ponorogo, yang ada tiang nomor 34. Kemudian juara dua jadi milik Kenthongan andalan Ribut Tuban, yang berada di nomor gantangan 36. Dan tempat ketiga diraih oleh Blac orbitan Abah Nganjuk, yang digantang pada nomor 40.

“Saya dan panitia serta mewakili tim juri yang bertugas, mohon ma’af, jika disepanjang pelaksanaan latber tadi masih banyak kekurangan. Mudah-mudahan gelaran berikutnya bisa memberikan yang lebih baik lagi,” tutup Didik. (Ramlee/DD)





Kamis, 23 April 2026

Kadal Duri Mata Merah, Reptil Eksotis Mirip Buaya dari Papua



Kadal Duri Mata Merah atau red-eyed crocodile skink (Tribolonotus gracilis) merupakan reptil eksotis endemik Papua dan Papua Nugini. Kadal nokturnal ini memiliki ciri khas duri tajam di punggung, lingkaran merah menyala di sekitar mata. Meski tergolong ke dalam keluarga kadal, spesies ini memiliki fisik yang cukup menyeramkan seperti buaya, atau naga.

Kadal duri mata merah sebenarnya masuk dalam genus Tribolonotus yang banyak tersebar di wilayah Australia, Oseania, hingga bagian timur Indonesia. Bedanya, kadal yang satu ini merupakan hewan endemik dari Pulau Papua yang jadi wilayah dari Indonesia dan Papua Nugini.

Ciri khas yang paling mudah dikenali dari satwa ini adalah cincin periokular berwarna merah bata yang kontras dengan tubuh bersisik gelap. Sisik tersebut dilengkapi dengan tonjolan osteoderm menyerupai pelindung, sehingga tampak seperti “miniatur buaya”.


Kadal duri mata merahberpenampilan seperti naga atau buaya


Tubuh kadal duri mata merah relatif pendek dengan sisik keras di bagian punggung dan samping tubuh. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa osteoderm tersebut dapat memancarkan biofluoresensi hijau ketika terkena sinar ultraviolet, dengan intensitas paling kuat di bagian kepala, mata, tenggorokan, dan ujung sisik.

Baca juga : Kadal, Kelompok Reptil Bersisik yang Hidup di Berbagai Habitat di Dunia

Fenomena biofluoresensi pada spesies ini merupakan laporan pertama pada keluarga Scincidae dan diduga berkaitan dengan komunikasi visual di lingkungan bercahaya rendah. Selain itu, warna merah di sekitar mata juga berperan sebagai sinyal visual jarak dekat yang kemungkinan membantu dalam interaksi antar sesama.


Kaki belakang kadal buaya bermata merah memperlihatkan sisik seperti buaya


Kadal duri mata merah hidup di lantai hutan hujan yang lembap, kadal ini juga suka berendam di aliran air. Tidak hanya hidup di hutan hujan dataran rendah, kadal duri mata merah juga bisa hidup di tempat-tempat dengan ketinggian mulai dari 0 – 1.000 meter di atas permukaan laut.

Kadal duri mata merah juga lebih banyak menghabiskan waktu di daratan ketimbang di area aliran air. Umumnya, kadal duri mata merah ini akan memilih batang kayu busuk atau sisa-sisa batok kelapa sebagai tempat tinggalnya. Tubuh hingga ekor kadal duri mata merah ini dilapisi kulit berwarna cokelat tua yang sangat mirip dengan kulit buaya.

Hanya saja, moncong kadal duri mata merah jauh lebih pendek dan area matanya memiliki semacam cincin berwarna merah atau jingga. Ukuran kadal duri mata merah pun terbilang kecil. Kadal duri mata merah tumbuh dengan panjang sekitar 20 – 25 cm dengan bobot 36 – 45 gram saja.

Di habitat alaminya, kadal ini bersifat semi-fosorial dan lebih menyukai mikrohabitat lembap, misalnya di bawah serasah daun, akar, atau dekat aliran air kecil. Perilaku tersebut membuatnya jarang terlihat secara langsung di alam liar. Kadal duri mata merah tergolong sebagai karnivora atau lebih tepatnya insektivora.


Kadal buaya bermata merah dewasa memperlihatkan lingkaran merah pada matanya


Insektivora adalah hewan yang makanan utamanya adalah serangga dan hewan kecil. Makanan kadal ini cukup bervariasi, mulai dari cacing tanah, lalat buah, jangkrik, sampai ulat bambu. Untuk memperoleh makanannya itu, mereka bisa mencarinya hampir di segala tempat berkat kemampuan adaptasinya. Kadal duri mata merah diketahui cukup ahli dalam memanjat dan berenang.

Baca juga : Soa Soa Layar, Kadal Purba Eksotis Endemik Indonesia Timur

Oleh karena itu, kadal duri mata merah bisa dengan mudah menemukan mangsanya. Baik yang bersembunyi di atas pohon, di dalam tanah, sampai yang berada di dalam air. Biarpun demikian, pohon dan perairan bukan tempat favorit dari hewan ini. Mereka lebih memilih berada di atas tanah untuk tinggal, bersembunyi, atau mencari makanan.


Kadal buaya bermata merah lebih menyukai hidup di lantai hutan basah


Walaupun wajahnya terbilang lucu, kadal duri mata merah bukan termasuk hewan yang suka berada di dekat hewan lain, apalagi predator dan manusia. Saat merasa terancam, kadal duri mata merah memiliki berbagai adaptasi untuk bertahan agar bisa melewati ancaman itu.

Salah satu bentuk adaptasi yang menarik dari kadal ini adalah perilakunya ketika sedang mengalami stres berlebih. Kadal duri mata merah akan mengeluarkan suara unik ketika merasa terancam ataupun demi melindungi anak-anaknya. Kalau itu masih belum cukup, mereka akan diam membatu hingga berpura-pura mati agar ancaman yang ada di dekatnya segera menjauh.

Oleh karena itu, hewan pemalu yang satu ini akan lebih banyak bersembunyi di sarangnya ketika merasa ada makhluk lain yang bisa mengancam keberadaannya. Sebelum bisa kawin dengan betina, kadal duri mata merah jantan harus bertarung dengan pejantan lain agar berhak untuk kawin.

Bagi jantan, kematangan seksual bisa diperoleh ketika sudah berumur 3 tahun. Sementara, untuk betina, umumnya ada pada rentang umur 4 – 5 tahun. Kadal duri merah mata jantan dapat dikenali melalui bantalan putih pada kakinya. Kadal duri merah mata betina hanya memiliki satu ovarium yang berfungsi dan bertelur satu butir telur pada satu waktu.


Kadal buaya bermata merah setengah terendam dalam air


Kadal duri mata merah bereproduksi dengan jumlah telur yang sedikit, biasanya hanya satu butir dalam setiap siklus (masa kawin). Ukuran telur kadal jenis ini sekitar 2 cm. Telur tersebut berukuran relatif besar dibandingkan tubuh induknya. Kadal duri mata merah bereproduksi setiap 5 – 6 minggu sekali. Karena itu, dalam setahun, kadal duri mata merah betina bisa menetaskan sepuluh butir telur.

Baca juga : Kadal Pensil, Kadal Eksotis Asal Papua yang Serupa Ular

Betina menjaga telur tunggal di sarang dan mempertahankannya secara agresif. Sementara jantan juga dapat mengeluarkan vokalisasi pertahanan. Perilaku penjagaan induk terhadap telur, termasuk vokalisasi pertahanan, diduga meningkatkan peluang keberhasilan menetas pada lingkungan hutan yang penuh ancaman predator. Ketika terkejut, kadal ini cenderung membeku dan bahkan bisa berpura-pura mati.


Kadal buaya bermata merah terlihat menyeramkan sekaligus menggemaskan


Berdasarkan penilaian terbaru dari IUCN (amandemen 2015, diterbitkan 2022), kadal duri mata merah dikategorikan sebagai “Risiko Rendah” (Least Concern). Meski demikian, pemantauan tetap diperlukan mengingat keterbatasan data ekologi dan taksonomi dari spesies ini.

Kajian regional mengenai keanekaragaman skink di Oceania dan Papua juga menyoroti adanya kesenjangan pengetahuan yang dapat memengaruhi akurasi penilaian konservasi. Hal ini menekankan pentingnya penelitian lanjutan untuk memperbarui data populasi dan status konservasi. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Kadal Duri Mata Merah, Reptil Eksotis Endemik Papua Berpenampilan Mirip Buaya


Sabtu, 18 April 2026

Kanjeng Mami Tetap Terdepan di Latberan DMS & PEDES, Tentara Langit Rebut Juara



Agenda kegiatan hobi derkuku di Sukoharjo terasa semakin padat, kenyataan ini tidak menyurutkan semangat dekoe mania di Sukoharjo untuk tetap menggelar event. Kali ini Komunitas dekoe mania didukung Pengcab PPDSI Sukoharjo menggelar kegiatan Latberan Kolaborasi DMS & PEDES pada Minggu, 12 April 2026, di Lapangan Sukoharjo Kel. Kwarasan Grogol Kab. Sukoharjo.

Latberan ini membuka dua kelas yakni kelas Bebas dan Pemula. Antusias dekoe mania untuk mengikuti kegiatan ini masih cukup tinggi. Meski dalam kondisi jadwal dan agenda yang cukup padat, namun tidak mengurangi semangat peserta untuk ikut meramaikan kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah hari ini kehadiran Latberan Kolaborasi DMS & PEDES, masih tetap semarak. Peserta lebih banyak yang hadir dan memenuhi gantangan,” terang Jatmiko, salah satu panitia. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada dekoe mania pemula untuk bisa tetap menyalurkan hobi derkukutnya.


Juri yang bertugas


Selama ini kegiatan Latberan Kolaborasi DMS & PEDES selain memberikan kesempatan pada penggila lomba untuk menampilkan gaco-gaconya juga memfokuskan diri untuk memberikan sarana dan wadah bagi pemula yang ingin tetap menyalurkan hobi derkuku.

Salah satunya dengan menerapkan batas maksimal penilaian untuk pemula sampai bendera empat warna. Aturan baru yang menyebutkan jika batas maksimal nilai untuk kelas Pemula jadi lima warna dan kelas Yunior jadi enam warna yang sebelumnya lima warna.


Latberan DMS PEDES


Aturan baru ini membuat banyak pemain pemula maupun dekoe mania yang merasa gaconya hanya sampai empat warna saja mengurungkan niatnya untuk melombakan burung gacoannya tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu dekoe mania. “Kalau saya, terus terang sudah kalah sebelum bertanding.”

“Bagaimana tidak, kita ini hanya pemula namun lawannya burung-burung kelas kakap. Punyanya baru burung dengan empat warna saja. Daripada jadi pelengkap penderita mending gak datang sekalian. Kalau bisa penilaian di kelas Pemula kembali ke empat warna biar derkuku ramai kembali. Banyak yang mundur kalau Pemula tidak empat warna.”


Sarno tengah diapit H. Nur Ali dan Hafid yang hari itu berbinar-binar


Melihat animo Dekoemania yang hadir begitu luar biasa, H. Nur Ali Sasongko selaku Ketua PPDSI Sukoharjo, mengaku sangat senang. Pasalnya, dua blok kerekan yang disiapkan, yaitu 1 blok (28 tiang) untuk kelas bebas dan 1 blok (30 tiang) untuk kelas pemula dipenuhi peserta.

“Alhamdulillah dan terima kasih atas dukungan, partisipasi serta kehadiran teman-teman dekoe mania di Sukoharjo dan Solo Raya. Sehingga acara latberan ini, bisa terlaksana dengan baik sesuai rencana dan sukses,” tutur H. Nur Ali Sasongko, yang juga sebagai pemilik Nasa BF.

“Kegiatan ini dimaksudkan agar teman-teman disini bisa tahu bagaimana perkembangan burung miliknya, sehingga ada catatan khusus apakah bisa dan layak untuk diikutkan lomba yang lebih besar atau tidak,” sambung Jatmiko.

Lapangan Sukoharjo selama ini aktif digelar acara, tidak kurang dua kali dalam sebulan. Lokasi menjadi tempat yang dipilih untuk setiap kegiatan, karena lapangan ini milik Pengcab Sukoharjo sendiri, selain itu Pengcab Surakarta juga ikut bergabung karena kendala lapangan.


Wiwied meski tak ikutan hadir di lapangan, nyatanya Kanjeng Mami tak tergoyahkan


Meskipun kapasitas kerekan yang tersedia belum cukup memadai, namun pengurus Sukoharjo dan Surakarta bertekad untuk terus dapat menambah jumlah tiang kerekan. Paling tidak sesuai dengan jumlah tiang kerekan perblok yang telah ditetapkan oleh PPDSI, organisasi yang menaungi para penghobi derkuku ini.

Harapan dan motivasi para pengurus bersama komunitas derkuku yang ada hobi ini bisa ramai dan berkembang dengan adanya lapangan ini. Sekaligus bisa menunjukkan, kalau lomba derkuku yang digelar selama ini benar-benar fair play.


Dalip nebeng foto sukses membawa “Kanjeng Mami” di kelas Bebas


Untuk itu sebelum lomba dimulai, semua juri selalu diingatkan untuk bekerja sesuai pakem. Yakni penilaian berdasarkan kualitas suara (gaya irama, dasar suara, suara tengah, suara ujung, dan suara depan) dan fakta kerja burung tersebut saat berada di atas tiang kerekan.

“Kalau memang burung ini bagus, ya dinilai sesuai kualitas dan kestabilan kerjanya mulai awal sampai akhir tanpa melihat burung itu milik siapa. Dan jangan memaksakan memberi nilai bagus pada burung yang tidak layak, karena itu akan menimbulkan masalah,” tambah H. Nur Ali Sasongko.


H. Nur Ali denggan bangga antar Tentara Langit juara


Cuaca cerah dengan angin sepoi-sepoi mewarnai acara dari pertama hingga akhir. Pada malam harinya di lokasi turun hujan menjadikan lapangan sedikit berair. Tetapi kondisi itu tidak menghalangi kinerja juri dalam memberikan penilaian terbaiknya. Dan apa yang disampaikan H. Nur Ali Sasongko kepada semua juri, rupanya betul-betul dijalankan.

Buktinya, sejak peluit babak pertama dimulai sampai babak terakhir (full 4 babak), penilaian berjalan mulus dan fair play tanpa ada kendala apapun. Juri-juri yang bertugas juga terlihat merasa nyaman, tidak perlu ada rasa kekwatiran lagi.

Meski persaingan antar jago di setiap babaknya terlihat begitu ramai dan ketat. Namun juri tetap fokus untuk memperhatikan satu persatu, mana jago yang betul-betul punya kualitas suara bagus sesuai pakem dan kerja stabil selama empat babak penilaian. Jelas burung itulah yang dinilai layak oleh tim juri untuk mendapat nilai tertinggi.

Peserta sepakat untuk menerima apapun keputusan juri sebagai bentuk kepercayaan. Untuk podium pertama di kelas Bebas berhasil menjadi milik Kanjeng Mami amunisi Daud Toni Solo, produk Sword 65 yang dikerek pada nomor 48. Kanjeng Mami juara setelah mendapat bendera lima warna empat kali.


Juara-juara di kelas Pemula


Sedangkan podium kedua berhasil direbut oleh Kasantuko ring B2W 3467 milik Wawan Soba. Sebetulnya burung bergelang B2W 3467 yang ada di tiang 51 ini punya nilai total yang sama dengan Kanjeng Mami. Namun dikreteria pakem penilaian (nilai aduan), Kasantuko kalah di gaya irama. Tempat ketiga dimenangkan Victory orbitan Eko LMS, produk ternak LMS 618 yang dikerek pada nomor 43.

Selanjut di kelas pemula yang juga tak kalah ramai, seru, dan ketat persaingannya. Ada 7 burung yang mempunyai total nilai sama yakni mendapatkan bendera empat warna. Namun posisi tiga besar, berhasil direbut oleh tiga jago yang memang dinilai punya kualitas suara bagus dan nilai tertinggi di empat babak penilaian.


Sarno sukses membawa Ndoro Putri juara 3 di kelas Pemula


Posisi pertama di kelas Pemula, berhasil diboyong oleh Tentara Langit jago bergelang Dorrick 67 yang diusung oleh H. Nur Ali dari Sukoharjo. Tentara Langit merupakan amunisi baru yang dipunyai H. Nur Ali, setelah memboyongnya dari tempat Andang. Begitu digantang langsung gacor dor dengan suara yang melengking.

Kualitas anggung Tentara Langit membuat juri-juri yang bertugas terpana. “Rasanya baru kali ini mendengar kualitas anggung yang demikian,” ungkap Siswo, seorang juri yang paling titen pada suara burung-burung peserta. Tentu saja dengan prestasi itu membuat H. Nur Ali sangat puas dengan gaco barunya tersebut.


Dorrick dan Sarno bangga gaco-gaconya juara di kelas Pemula


Posisi kedua, berhasil direbut oleh Sangkakala ring Dorrick 028 milik Dorrick BF Sukoharjo. Sedangkan juara ketiga sukses diraih oleh Ndoro Putri ring Sadewa milik Sarno dari Sukoharjo. Diakhir acara, panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mendukung dan hadir dalam kegiatan tersebut. Permintaan ma’af disampaikan jika selama acara, ada hal-hal yang kurang berkenan. (Ramlee/Jat)





Jumat, 17 April 2026

Putin Tampil Perkasa di Latber Halal Bihalal AG Bird Farm Bangkalan



Walaupun Hari Raya Idul Fitri sudah berlalu tiga pekan, namun tidak mengurangi niat puter pelung mania Bangkalan untuk menggelar ajang halal bihalal antar puter pelung mania. Seperti gelaran Latber Halal Bihalal AG Bird Farm Bangkalan, pada Minggu 12 Apri 2026. Acara tersebut dimotori oleh H. Alif M. Nur, pemilik dari AG Bird Farm Bangkalan.

Kegiatan dipusatkan di Gantangan AG BF Bangkalan Jl Pertahanan No. 191 Bancaran – Bangkalan, sukses membangun tali silaturahim antar sesama puter pelung mania dengan saling ma’af mema’afkan. Latber Halal Bihalal hanya membuka satu kelas yakni kelas Bebas. Puluhan penghobi puter pelung hadir menyemarakkan kegiatan tersebut.

Peserta datang dari Pamekasan, Sampang, Ketapang, Tanjung Bumi , Blega, dan Bangkalan. “Alhamdulillah hari ini kami bisa kembali mengadakan kegiatan silaturahmi sekaligus gantang bareng bersama puter pelung mania Bangkalan dan sekitarnya dalam agenda Latber Halal Bihalal,” terang H. Alif M. Nur, pemilik dari AG Bird Farm Bangkalan.


Peserta dari luar kota ikut meriahkan Latber Halal Bihalal


Keinginan panitia untuk bisa terus mengumpulkan para mania puter pelung di lokasi acara, menjadi salah satu usaha yang patut untuk diapresiasi. Betapa tidak, di tengah semakin jarangnya agenda serupa, H. Alif M. Nur terus berusaha menghidupkan hobi anggungan puter pelung.

Memang dibutuhkan sebuah perhatian khusus agar hobi bisa terus jalan dan tidak sampai mandek di tengah jalan. “Setelah libur panjang selama bulan puasa dan berlanjut hari Raya Idul fitri, kini kami bisa ngumpul lagi di latber halal bihalal untuk bisa saling bermaaf-maafan jikalau diantara kita ada salah-salah sehingga ke depan hubungan yang baik selama ini akan bisa terus terjalin dengan bagus,” ucap H. Alif M. Nur.


Persiapan jelang lomba dilaksanakan


“Selain itu, momen latber seperti ini bisa sekaligus digunakan sebagai ajang pemanasan dan seleksi burung-burung muda yang ada untuk bersiap-siap menuju gelaran lomba yang lebih besar lagi. Burung yang bakal diturun di ajang event lomba musti diketahui dengan jelas kualitas suaranya,” ujar H. Alif.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh peserta yang telah memberikan perhatian, dukungan dan kehadiran sehingga kegiatan hari ini bisa sesuai harapan,” jelas H. Alif. Diharapkan ke depan kegiatan-kegiatan seperti ini bisa lebih mendapatkan dukungan dan perhatian yang lebih besar lagi.


Suasana penjurian Latber Halal Bihalal


Meski hanya membuka khusus kelas Bebas saja. Namun persiangan antar jago-jago muda yang hadir dari berbagai kota di madura. Terlihat cukup ramai, ketat dan seru. Karena masing-masing jago muda, berusaha keras untuk bisa meraih posisi terdepan. Buktinya, begitu peluit tanda babak pertama dibunyikan.

Suasana arena Latber Halal Bihalal AG Bird Farm Bangkalan tersebut pun menjadi ramai, oleh suara anggung merdu yang dilepas jago-jago muda yang digantang. Persaingan untuk bisa mendapat nilai tertinggi dari kru juri yang bertugas berlangsung sengit hampir di setiap babak yang berlangusng selama empat babak.


Para penghobi menikmati jalannya acara


Dengan uang pendaftaran cukup terjangkau, hanya 25 ribu rupiah , piala, piagam, dan sembako siap dibawa pulang sang juara. Hampir satu gantangan dipenuhi burung puter pelung yang bertarung tepat pukul 9.30 WIB. Cuaca cerah yang mengawal acara hingga selesai mmebuat persaingan menjadi juara menjadi sangat seru.

Walaupun hanya sekelas latberan, persaingan tetap berjalan sengit. Terlebih lagi hadirnya jago-jago dari luar Bangkalan. Para jawara ini sama-sama punya kualitas anggungan yang istimewa. Namun yang menentukan untuk menjadi yang teratas adalah kinerja di lapangan.


H. Alif di tengah para juara


Sehingga juri memiliki peran yang sangat vital dan menjadi kunci utama bukan sekedar memberikan penilaian suaranya tetapi jangan sampai suara yang dikeluarkan dengan sempurna tidak terhitung sehingga ketinggalan dari yang lain. Seperti yang diperlihatkan burung yang ada di gantangan 5, 11, dan 29 dengan menampilkan suara terbaiknya disusul gantangan 10 dan 25.

Akhirnya setelah menuntaskan empat babak penilaian, Putin milik Waris dari Pamekasan sukses memetik kemenangan. Burung bergelang Joko Tingkir 48 yang ada di gantangan 29 dinobatkan jadi juara setelah mengoleksi bendera lima warna tiga kali.



Disusul oleh Pesse Pole besutan H. Mol Sampang, burung bergelang Barata 746 yang ada di gantangan 11raih bendera lima warna dua kali rebut juara kedua. Di posisi ketiga disabet Mawar milik H. Zahrony Tanjung Bumi. Burung puter pelung dengan ring AG 6 juga meraih bendera lima warna dua kali namun kalah di nilai aduan sehingga harus puas di posisi ketiga. (Ramlee/AG)


Sabtu, 11 April 2026

Owa, Primata Endemik Indonesia Berlengan Panjang yang Kian Langka



Owa merupakan primata kecil lincah tanpa ekor, dikenal karena gaya berayunnya yang akrobatik (brakiasi) di pepohonan. serta bergerak dengan kedua tungkai. Hewan satu ini memiliki bentuk tubuh yang kecil dan ramping yang sangat mirip dengan monyet.

Owa atau Ungka atau Wau-wau atau Wak-wak adalah primata yang termasuk dalam keluarga Hylobatidae. Keluarga Hylobatidae ini dibagi menjadi empat genus berdasarkan jumlah kromosom diploidnya: Hylobates (44), Hoolock (38), Nomascus (52), dan Symphalangus (50).

Owa adalah hewan endemik Asia Tenggara. Di Indonesia, habitat alami Owa tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Owa dalam bahasa Inggris disebut Gibbon. Ada sekitar 20 spesies Owa di dunia, 9 di antaranya hidup di Indonesia.


Owa Jawa (Hylobates moloch)


Sembilan jenis Owa yang ada di Indonesia adalah Owa Jawa (di Pulau Jawa). Lalu ada Owa Siamang, Owa Bilau, Owa Ungko, dan Owa Serudung di pulau Sumatera. Sedang di Pulau Kalimantan ada Owa Jenggot putih, Owa kalempiau utara, Owa kalawat, dan Owa kalempiau barat.

Baca juga : Siamang, Primata Kera Hitam Berlengan Panjang Bersuara Keras dari Sumatera

Ukuran tubuh Owa relatif kecil, badannya terlihat kurus, serta ramping, gerakannya lincah. Owa mempunyai kepala bulat kecil, lengannya panjang, dan jari-jarinya panjang namun jempolnya relatif pendek. Pergelangan tangan owa juga dilengkapi dengan sendi peluru.


Owa Kalawat (Hylobates albibarbis)


Tubuh Owa ditutupi oleh rambut yang tebal, halus, berwarna cokelat terang hingga cokelat gelap. Rambut Owa menutupi sebagian besar bagian tubuh, kecuali wajah, jari, telapak tangan, telapak kaki, dan ketiak. Rahang kecil ungka atau owa dilengkapi dengan gigi taring tajam. Owa betina umumnya lebih berat daripada ungka jantan.

Satwa bernama Owa ini dikategorikan sebagai hewan arboreal karena menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berayun di pohon-pohon. Satwa unik ini banyak ditemukan hidup di hutan hujan tropis. Owa juga dikenal sebagai “penjaga hutan”.

Satwa Owa memainkan peran penting dalam penyebaran biji-bijian dan menjaga kelestarian hutan tropis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Makanan favorit Owa berupa buah-buahan yang dikonsumsi selama perburuan di siang hari. Selain buah, Owa juga mengonsumsi tunas muda, daun, biji, kulit, dan bunga-bungaan. Telur dan serangga juga merupakan bagian dari makanan Owa.

Satwa ini memiliki lengan panjang yang memungkinkannya untuk berayun dari satu cabang ke cabang lain atau dari satu pohon ke pohon lain dengan mudah. Jari-jari Owa yang panjang dapat digunakan untuk memegang cabang pohon dengan sangat baik.


Owa Serudung (Hylobates lar)


Gerakan ayunan lengannya ini disebut brachiation, Owa mampu berayun sejauh 15 meter di atas pohon dengan kecepatan sekitar 35 mil per jam. Di antara mamalia yang bertempat tinggal di pohon dan tidak bisa terbang, Owa adalah yang paling cepat dan lincah.

Baca juga : Yaki, si Hitam Berpantat Merah Primata Endemik Sulawesi Utara yang Terancam Punah

Selain berayun, primata ini juga terkenal karena gerakan kedua tungkainya (bipedal). Owa berjalan dengan kedua tungkai yang dibantu lengannya untuk menjaga keseimbangan. Owa akan menumpukan berat badannya di tangan dan kemudian mengayunkan kakinya. Karena tidak bisa berenang, biasanya Owa memilih untuk menghindari air.


Owa Ungko (Hylobates agilis)


Berbeda dengan kera yang lebih besar seperti Gorila, Owa tidak membangun sarang sendiri. Satwa ini memiliki ischial callosities, bantalan berdaging tanpa saraf yang melekat pada tulang pinggul yang memungkinkannya untuk tidur dalam posisi duduk.

Owa sering ditemukan tidur dengan posisi duduk di percabangan pohon dengan kepala terselip di pangkuan dan lengan panjangnya memeluk lututnya. Sekelompok Owa biasanya tidur pada pohon yang sama selama beberapa waktu tertentu. Owa termasuk primata diurnal, yakni aktif di siang hari dan sekitar sepuluh setengah jam dalam sehari.

Satwa ini merupakan satwa teritorial, Owa memiliki nyanyian (suara) khas di pagi dan sore hari. Owa juga memiliki suara nyaring yang bisa terdengar hingga 1 kilometer, suara yang biasanya digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain dan menandai wilayah teritorialnya. Nyanyian ini juga berfungsi sebagai penanda wilayahnya jika ada serangan dari kelompok Owa lain.

Habitat Owa berada di hutan yang masih asri untuk bergelantungan, mencari makan, dan bersosialisasi. Owa termasuk satwa arboreal menghabiskan waktunya di pepohonan untuk melakukan aktivitasnya. Owa biasanya tinggal berkelompok yang terdiri dari Owa Jantan dan betina dengan 1 atau 2 anak yang masih belum dewasa.


Owa Kalampiau Barat (Hylobates muelleri)


Keberadaan Owa juga dianggap sebagai indikator kualitas hutan. Kehadiran satwa ini di suatu kawasan hutan menunjukkan bahwa ekosistem tersebut masih sehat dan lestari. Dengan perilaku Owa yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan hewan lain.

Baca juga : Kukang, Primata Lucu dan Pemalu Memiliki Gigitan Berbisa yang Semakin Langkah

Hilangnya keberadaan Owa tentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem hutan. Ketika masih ada Owa, itu berarti hutan yang ditinggalinya masih lestari. Sayangnya, populasi spesies Owa di Indonesia kian berkurang. Hal ini disebabkan oleh ulah manusia yang kurang memperhatikan ekosistem hutan.


Owa Kalampiau Utara (Hylobates funereus)


Ancaman dan konflik yang terjadi pada Owa adalah penyusutan habitat dan alih fungsi hutan menjadi ancaman serius keberadaan Owa di Indonesia. Spesies ini telah masuk dalam daftar hewan yang terancam punah karena perdagangan satwa secara ilegal, serta perburuan liar untuk dijadikan satwa peliharaan.

Menurut Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), Owa dikategorikan sebagai satwa dengan status Endangered (Terancam Punah). Status ini menunjukkan, spesies ini menghadapi risiko tinggi mengalami kepunahan di alam liar jika tidak ada upaya konservasi yang serius. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Owa, Primata Tanpa Ekor yang Gesit Berayun di Pohon Kini Terancam Punah


Cobra dan Oscadon Sukses Juarai Latber Perkutut Lokal Irama dan Warna Nganjuk, Kung Mania Luar Daerah Ramaikan Gelaran

Minggu pagi, 19 April 2026, Lapangan P3SI Pengda Nganjuk, Sombron Kec Loceret Nganjuk, diramaikan oleh kehadiran penghobi anggungan perkutut...