Minggu, 01 November 2026

Anis, Kelompok Burung Berkicau yang populer di Indonesia



Anis terkadang disebut juga dengan punglor merupakan salah satu jenis burung berkicau dari famili Turdidae. Burung omnivora ini memiliki ciri khas bulu yang indah serta suara kicauan yang merdu. Indonesia mempunyai beberapa spesies burung anis/punglor yang tersebar di beberapa daerah, seperti Anis Merah (Geokichla citrina), Anis Kembang (Zoothera interpres), Anis Macan/Anis Nusa Tenggara (Geokichla dohertyi), Anis Sisik (Zoothera dauma), dll.

Beberapa spesies di antaranya merupakan burung endemik, misalnya anis Eggano (Zoothera leucolaema) yang hanya bisa dijumpai di Pulau Enggano (sebelah barat Pulau Sumatera). Sayangnya, burung kembaran anis kembang ini kondisinya Hampir Terancam (NT).


Anis Merah (Geokichla citrina)


Burung anis atau burung panglor merupakan salah satu jenis burung peliharaan yang populer di Indonesia. Burung ini populer berkat warna bulu dan kicauan merdunya yang khas. Ada beberapa jenis anis yang dipeliharan. Dua jenis yang paling terkenal di Indonesia adalah Anis Merah (Punglor Merah) dan Anis Kembang (Punglor Kembang).

Baca juga : Anis Merah Burung Bersuara Merdu Bergaya Teler

Habitat alami burung anis (famili Turdidae) umumnya berada di kawasan hutan dataran rendah hingga hutan pegunungan. Spesies seperti anis sulawesi dan anis sisik banyak ditemukan di daerah pegunungan pada ketinggian 1.100 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut. Mereka menyukai area dengan vegetasi lebat, lembap, dan dekat dengan sumber air.


Anis Kembang (Zoothera interpres)


Umumnya burung anis memiliki tubuh berukuran sedang, dengan panjang tubuh rata-rata berukuran kurang lebih 15–30 cm tergantung spesiesnya dan memiliki berat 47–67 gram. Postur tubuhnya cenderung proporsional, padat, dan serasi.

Anis memiliki paruh berukuran relatif pendek, lurus, dan kuat. Bagian ujung paruh atas biasanya sedikit melengkung ke bawah, khas burung pemakan serangga dan buah. Memiliki kaki relatif panjang dan kuat, dengan jari-jari kaki yang beradaptasi dengan baik untuk berjalan, melompat di tanah, serta mengais serangga atau cacing.


Anis Macan (Geokichla dohertyi)


Anis memiliki warna bulu sangat bervariasi antar spesies. Contohnya, anis merah memiliki kepala dan dada berwarna merah bata terang, sedangkan anis sisik memiliki pola unik menyerupai sisik atau renda kuning keemasan dan hitam di sekujur tubuhnya.

Baca juga : Anis Kembang, Burung Berkicau yang Pernah Mencapai Puncak Kejayaan jauh di Atas Semua Burung Kicauan

Warna umum lainnya meliputi kombinasi hitam, cokelat tua, cokelat muda, dan putih. Sayap buurng jenis anis berbentuk membulat yang mendukung penerbangan lincah jarak pendek, dengan panjang ekor sedang yang sering dikibas-kibaskan saat berkicau.


Anis Sisik (Zoothera dauma)


Burung anis (seperti anis merah atau anis kembang) bersifat omnivora. Di habitat aslinya, mereka mencari makan langsung di lantai hutan dengan cara mengais atau mencakar tanah dan serasah daun, sering kali di sekitar kayu tumbang atau area berakar yang rimbun untuk memburu cacing, invertebrata kecil, dan serangga.

Burung anis jantan dan betina memiliki tampilan fisik yang hampir mirip. Perbedaan yang paling terlihat berada pada ukuran tubuh juga tingkah laku keduanya. Perbedaan burung anis (seperti anis merah atau anis kembang) jantan dan betina dapat dilihat dari warna bulu yang lebih kontras dan mengilap pada jantan.


Seekor Anis Kembang sedang mencari makanan di lantai hutan


Selain itu bentuk fisik anis jantan juga lebih ramping, serta sorot mata yang lebih tajam. Selain itu, terdapat pola perilaku dan anatomi khusus yang membedakan keduanya. Anis jantan lebih rajin berkicau (gacor), bervariasi, dan sering teler (khususnya pada anis merah) sambil mengangkat kepala saat melihat burung lain.

Baca juga : Paok, Burung Berbulu Indah yang Malas Terbang

Sementara burung anis betina, jarang terdengar berkicau dengan variasi yang panjang. Suaranya cenderung monoton (hanya berupa siulan atau ngeriwik) dan tidak menunjukkan gestur menantang. Burung anis memasuki kematangan seksualnya pada usia 1 hingga 2 tahun.


Seekor Anis Merah di sarangnya


Di alam liar, burung anis (seperti anis merah) membangun sarang berbentuk cawan terbuka menggunakan ranting halus, rumput, lumut, dan serat akar yang diletakkan pada cabang atau ranting pohon. Burung anis umumnya berkembang biak pada awal musim hujan.

Dalam satu periode kawin, betina menghasilkan 2–4 butir telur dengan masa pengeraman berlangsung sekitar 14 hari sebelum menetas. Anakan burung anis mulai mandiri pada usia sekitar 40 hingga 45 hari. Setelah keluar dari sarang (fase fledgling di usia 14–17 hari), masih akan disuapi induknya selama 2–3 minggu berikutnya sambil belajar mencari makan sendiri seperti cacing, serangga, dan buah-buahan.


Anakan Anis Kembang hasil budidaya


Status konservasi burung anis (genus Geokichla dan Zoothera) bervariasi tergantung spesiesnya. Sebagian besar belum dilindungi undang-undang secara khusus dan menghadapi ancaman akibat alih fungsi hutan serta perburuan liar untuk diperdagangkan. Untuk menjaga burung jenis ini tetap lestari diperlukan langkah konservasi.

Langkah konservasi burung Anis (seperti Anis Merah dan Anis Kembang, karena kedua jenis burung anis ini yang banyak diminati oleh para kicau mania) difokuskan pada penangkaran resmi. Juga pembatasan perburuan liar, perlindungan habitat alami, serta kegiatan pelepasliaran kembali ke alam yang diawasi oleh Balai KSDA. (Ramlee)



Sabtu, 31 Oktober 2026

Belida, Ikan Air Tawar Endemik Indonesia yang Sangat Populer



Belida (Chitala spp.) merupakan penyebutan bagi ikan air tawar yang berasal dari genus Chitala. Genus ini mudah dikenali dan diidentifikasi dari badannya yang ramping, pipih, dan tubuhnya yang cukup besar. Warnanya juga khas, yaitu silver atau abu-abu yang terkadang dihiasi corak tutul, bercak, atau garis. Secara ilmiah, ikan Belida termasuk dalam suku Notopteridae.

Notopteridae adalah famili ikan air tawar bersirip kipas yang dikenal sebagai ikan pisau (knife fish) atau ikan punggung bulu (featherback). Notopteridae berasal dari wilayah Afrika dan Asia, memiliki tubuh yang panjang, sirip punggung kecil, serta sirip dubur memanjang dan menyatu dengan sirip ekor.

Di berbagai wilayah Indonesia, ikan ini memiliki nama lokal yang berbeda. Masyarakat di Pulau Jawa mengenalnya sebagai ikan Lopis, di Sumatera disebut ikan Belida, sedangkan di Kalimantan lebih dikenal dengan nama ikan Manjul. Dalam bahasa Inggris, ikan Belida dikenal dengan sebutan featherback karena memiliki sirip panjang yang tipis menyerupai bulu.


Belida Borneo (Chitala borneensis) yang didapatkan nelayan di Kawasan Stasiun Riset Bekantan Kab. Barito Kuala, Kalsel


Ikan Belida ini memiliki bentuk tubuh yang unik dengan bentuk pipih dan memanjang menyerupai pisau atau kipas. Bagian punggung melengkung yang tampak cembung dan bagian perutnya meruncing. Bagian perutnya berduri ganda dengan tampilan ekor yang memanjang. Sisik ikan ini terbilang kecil, berbentuk sikloid dengan bagian samping badan berbentuk gurat sisi.

Baca juga : Jelawat, Ikan Konsumsi Air Tawar Lokal Khas Sumatera dan Kalimantan

Di bagian kepala, terdapat area sisik dengan lubang hidung berbentuk tabung, serta tidak tertutup insang bawah. Ikan Belida memiliki bukaan mulut lebar dengan rahang atas depan dan rahang atas. Ikan Belida dewasa dapat tumbuh sampai 150 cm dengan berat hingga mencapai 1,5 – 7kg.


Belida Sumatera (Chitala hypselonatus)


Salah satu ciri utama ikan tersebut adalah rahang atasnya yang memanjang sampai ke area bawah atau belakang mata. Hewan ini memiliki gigi-gigi pada rahang atas depan, rahang atas, rahang bawah, tulang mata bajak (vomer), tulang langit-langit (palatine) hingga lidah. Sirip punggungnya ikan Belida tergolong berukuran kecil, terletak di rentang pertengahan sirip dubur yang bersatu hingga ke bagian sirip ekor.

Ikan Belida menyukai perairan tawar yang tenang, teduh, atau agak gelap dengan tingkat kekeruhan tertentu. Ikan ini sering ditemukan di bagian sungai yang memiliki vegetasi air atau banyak sela-sela akar pohon. Ikan ini tergolong demersal, yakni lebih banyak menghabiskan waktu di dekat dasar perairan berlumpur atau berpasir.

Ikan Belida hidup di wilayah perairan yang sering mengalami genangan atau rawa banjir (floodplain), ikan Belida mampu bertahan pada kondisi lingkungan atau kualitas air dengan kadar oksigen yang rendah karena dilengkapi alat pernapasan tambahan (labirin).

Labirin pada ikan Belida berupa lipatan-lipatan epitelium pernapasan yang terletak di atas insang. Organ ini berfungsi menyimpan cadangan oksigen dan memungkinkan ikan Belida untuk bernapas langsung dari udara bebas. Sehingga memungkinkan ikan Belida bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen terlarut sangat rendah.


Belida Jawa (Notopterus notopterus)


Ikan Belida sendiri termasuk dalam kelompok ikan predator yang lebih aktif berburu pada malam hari (nokturnal). Pada siang hari, ikan ini lebih suka bersembunyi di balik kayu atau tumbuhan air untuk menghindari predator dan melindungi diri.

Baca juga : Gurami, Jenis Ikan Konsumsi yang Sangat Populer dan Bernilai Ekonomis Sangat Tinggi

Sebenarnya ikan Belida tergolong ikan omnivora, namun cenderung memakan ikan kecil (predator). Biasanya, ikan Belida akan memangsa ikan-ikan kecil dan krustasea yang ada di sekitarnya. Di musim kemarau, sebagian dari kelompok ikan Belida memilih tinggal di area perairan sungai dan sebagian lainnya berada di tempat-tempat terdalam yang tergenang oleh air.


Belida Lopis (Chilata lopis)


Sedangkan di saat musim hujan, ikan Belida menyebar ke area rawa banjiran dan persawahan, baik untuk memijah (berkembang baik) maupun untuk mencari makan. Ikan Belida mencari makan dengan cara berburu secara aktif menggunakan strategi sebagai predator nokturnal.

Ikan Belida sangat aktif mencari mangsa saat malam hari di perairan dengan pencahayaan rendah (keruh atau gelap) dengan mengandalkan penglihatan yang tajam dan kemampuan kamuflase untuk menyergap mangsa berupa ikan kecil, udang, dan serangga di perairan tenang dan gelap pada malam hari.

Ikan Belida sering bersembunyi di balik vegetasi air, kayu tenggelam, atau celah sungai dan menunggu mangsa yang lewat, sebelum menyergap dengan gerakan yang sangat cepat. Makanannya didominasi oleh udang (sekitar 31%) dan ikan-ikan kecil bergerombol yang berada di sekitar habitatnya.

Ikan Belida berkembang biak secara ovipar (bertelur) melalui proses pemijahan. Induk yang matang gonad (usia 2–3 tahun) akan menempelkan ratusan telur berdiameter besar pada substrat di dalam air, seperti batang kayu atau tanaman. Telur-telur ini kemudian diinkubasi dan menetas menjadi larva.


Dua anak terlihat sedang menjaring ikan belida di Sungai Belido, sungai yang bermuara ke Sungai Musi, Sumatera Selatan


Telur ikan belida membutuhkan waktu inkubasi antara 3 hingga 6 hari (bahkan bisa sampai 8 hari tergantung suhu) untuk menetas menjadi larva. Setelah menetas, larva akan membawa kantung kuning telur sebagai cadangan makanan. Setelah kantung makanan habis, larva akan mencari makanan alaminya berupa Artemia atau Daphnia.

Baca juga : Ikan Mas, Ikan Konsumsi Paling Populer Mengandung Gizi dan Nutrisi Penting bagi Tubuh

Ikan Belida saat ini berstatus langka dan mendapat perlindungan penuh dari pemerintah. Ikan yang dahulu dikenal luas sebagai bahan baku utama pempek khas Palembang ini mengalami penurunan populasi yang sangat drastis akibat penangkapan berlebihan serta kerusakan habitat alami di berbagai daerah.


Ikan Belida dikenal luas sebagai bahan baku utama pempek khas Palembang


Pencemaran sungai, alih fungsi lahan rawa, pembangunan di kawasan perairan, serta kerusakan hutan riparian atau kawasan tepian sungai telah mengurangi habitat alami ikan Belida. Kondisi ini membuat ikan ini kesulitan menemukan tempat yang aman untuk mencari makan maupun berkembang biak.

Dibandingkan dengan beberapa jenis ikan konsumsi lainnya, ikan Belida memiliki pertumbuhan populasi yang lebih lambat. Akibatnya, jumlah ikan yang tertangkap di alam tidak dapat segera tergantikan oleh generasi baru.


Budidaya ikan Belida di kolam Instalasi Mariana BRPPUPP Palembang


Di Indonesia, terdapat empat spesies ikan Belida yaitu Belida Borneo (Chitala borneensis), Belida Sumatera (Chitala hypselonatus), Belida Jawa (Notopterus notopterus), dan Belida Lopis (Chilata lopis). Keempat jenis itu dilindungi dari kepunahan berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.1/2021.

Sebelumnya, keempat ikan Belida itu dilindungi melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018. (Ramlee)



Kamis, 29 Oktober 2026

Beternak Zebra Finch, Alternatif Usaha Kecil Tiada Tandingan



Zebra Finch (Taenopygia guttata) merupakan jenis burung pipit dengan warna memukau. Tampilan bulunya yang belang-belang menyerupai motif zebra membuatnya disebut dengan zebra finch atau pipit zebra. Penampilannya yang imut dengan kombinasi warna yang lucu membuat zebra finch populer dijadikan burung peliharaan.

Meskipun banyak spesies burung pipit dipelihara sebagai hewan peliharaan, namun burung zebra finch adalah yang paling populer di kalangan pemilik burung. Burung-burung ini dikenal karena nyanyiannya yang energik, dengan burung jantan biasanya lebih vokal daripada yang betina.

Burung zebra finch jantan juga memiliki warna yang lebih dramatis, termasuk paruh merah, pipi oranye, dan garis-garis hitam-putih di tenggorokan dan dada. Sementara itu, burung zebra finch betina sebagian besar berwarna abu-abu. Di luar negeri zebra finch sudah banyak sekali ditangkarkan dan bahkan telah mengalami mutasi warna yang beragam.


Sepasang Zebra Finch yang sehat


Burung zebra finch umumnya tidak suka disentuh manusia, namun burung ini tidak ada masalah dengan jenis buurng finch lainnya. Sebaiknya zebra finch dipelihara dalam sangkar terbang besar berpasangan atau berkelompok. Tetapi jika menempatkan burung zebra finch dalam sangkar soliter, kemungkinan besar zebra finch akan tetap berkembang biak jika dalam kondisi sehat dan nyaman di lingkungan tersebut.

Baca juga : Finch, Burung Kecil Eksotis yang Populer di Seluruh Dunia

Beternak burung zebra finch relatif mudah dan cocok untuk pemula. Kuncinya adalah menyiapkan kandang yang nyaman, memberikan pakan bernutrisi tinggi seperti milet dan tulang sotong, menyediakan kotak sarang beserta rumput kering, serta menjaga lingkungan tetap tenang agar proses perkawinan dan pengeraman sukses.


Indukan siap berproduksi ketika sudah berusia diatas 6-9 bulan


1. Pemilihan Calon Indukan

Hal dasar yang harus diketahui sebelum beternak adalah bagaimana memilih calon indukan burung zebra finch yang tepat. Induk yang berkualitas akan menghasilkan keturunan yang bagus, sehat dan sama-sama berkualitas. Ciri induk burung zebra finch berkualitas adalah fisik yang sempurna, tidak ada cacat, bergerak dengan lincah dan terlihat aktif.

Zebra finch memasuki usia kawin saat usianya sudah 11-12 minggu. Namun sangat dianjurkan apabila memilih indukan yang sudah matang atau sudah berusia diatas 6-9 bulan. langkah berikutnya adalah memastikan jika calin indukan tersebut sudah sepasang. Saat burung ini menginjak usia dewasa, perbedaan mencolok terlihat pada tampilan fisiknya.

Salah satu ciri sang jantan dari penampilan fisik terlihat pada pola garis dagu dan bentuk paruh yang terlihat lebih gelap. Bulu-bulu cerah nan warna warni di ikuti garis hitam di bagian dada, turut menjadi penanda serta memperelok tampilan burung satu ini. Sementara ciri dari Burung Zebra Finch betina ialah memiliki paruh yang terlihat berwarna oranye dengan warna pada paruh lebih terlihat terang.

Untuk sayapnya tidak ak memiliki bintik-bintik putih, akan tetapi warna pipi menyerupai warna pada bulunya dan tidak jarang berwarna abu-abu muda. Sekarang ini diberbagai penangkaran di luar negeri telah sukses melakukan menghasilkan zebra finch yang telah mengalami mutasi.


Ternak Zebra Finch dengan sistem koloni


Mutasi ini berhasil menelurkan varian baru, yang tidak jarang menyulitkan membedakan mana sang jantan dan mana betina, khususnya bagi pembudidaya pemula. Ini dikarenakan sebagian jenis baru sulit dibedakan kelaminnya jika dilihat dari warna nya saja. Namun begitu, perbedaan masih bisa dilihat secara fisik, yaitu dengan melihat warna paruh. Bila warna parunya oranye itu berarti betina, sedangkan jika berwarna merah gelap itu menandakan jantan.

Baca juga : Zebra Finch, Burung Aussie yang Cantik dan Mudah Perawatannya


2. Kandang Penangkaran

Langkah selanjutnya adalah menyiapkan kandang zebra finch. Kandang merupakan tempat tinggal saat proses perkembangbiakan berlangsung. Untuk ukuran kadang tidak ada patokan khusus, bisa disesuaikan kebutuhan serta jumlah burung yang dimiliki. Sedangkan untuk bentuk kandang bisa menggunakan kandang soliter ataupun koloni sesuai kemampuan isi kantong yang dimiliki.


Sarang burung Zebra Finch dari rotan


Tidak ada batasan khusus besarnya kandang penangkaran zebra finch. Minimal zebra finch bisa leluasa bergerak dan terus aktif. Sebuah kandang dengan ukuran 16cm x 16cm x 20cm sudah bisa dijadikan kandang penangkaran, namun lebih besar tentunya lebih baik. Dalam satu kandang penangkaran kecil kita sebaiknya menempatkan hanya se-pasang burung zebra finch saja sebab bila lebih dari se-pasang akan berpotensi terjadi pertengkaran.

Bila menggunakan kandang koloni, bisa ditempatkan berapa pasangan bersama-sama. Ukuran kandang koloni sebaiknya cukup besar. Setidaknya 2 meter x 1 meter x 1.5 meter. Lebih besar ukuran kandang koloni semakin bagus. Kandang penangkaran zebra finch harus cukup nyaman dan hindarkan dari pengganggu yang berpotensi menggagalkan proses penangkaran.

Selain itu, untuk menangkarkan Burung Zebra Finch masih diperlukan adanya geledok alias kotak sarang tertutup yang memiliki lubang kecil untuk dijadikan sebagai pintu keluar dan juga masuk menuju sarang. Maka, jangan lupa menyediakan geledok. Zebra finch lebih sangat menyukai sarang tertutup sehingga bentuk glodok kubus dengan sebuah lubang sangat cocok buat burung ini.

Untuk glodok zebra finch tidak perlu berukuran terlalu besar, bahkan seukuran bekas kemasan kotak susu cair juga bisa digunakan. Namun idealnya terbuat dari kayu dengan ukuran minimal 12cm x 12cm x 12cm. Alternatif lainnya adalah keranjang anyaman untuk burung emprit jepang yang mudah sekali dijumpai di toko pakan burung. Untuk keranjang anyaman memang bagus untuk dijasikan sarang burung zebra finch namun agak sulit dibersihkan saat selesai masa penetasan.


Rumput rayung kering


Penempatan sarang ini diusahakan di tempat yang tinggi di dalam kandang. Sebab burung finch akan merasa nyaman dan aman dari gangguan. Biasanya tidak semua burung akan langsung suka dengan sarangnya. tetapi ini tidaklah menjadi masalah, intinya harus sabar menunggu hingga burung menyukainya. Apabila sampai 2-3 bulan ternyata tidak suka, maka coba untuk menggantinya dengan jenis yang berbeda.

Sediakan juga bahan bersarang yang harus bersih dan nyaman. Banyak sekali alternatif yang dapat digunakan dan sangat mudah didapatkan di pasaran seperti, serat nenas, serat goni, daun cemara laut, rumput kering/rayung, dsb. Bahan ini ditaruh diluar glodok agar burungnya sendiri yang meneruskan membangun sarangnya.


Pakan bernutrisi tinggi sangat diperlukan oleh Zebra Finch


3. Pemberian Pakan

Pemberian pakan dalam masa perkembangbiakan harus diperhatikan dengan baik. Makanan utama burung ini adalah biji-bijian. Akan tetapi untuk menjaga tumbuh kembang hewan budidaya akan menjadi lebih baik bila bahan makanan diberikan secara variasi serta mengandung gizi tinggi pada waktu perkembangbiakan. Makanan dengan gizi tinggi sangat diperlukan dalam menjaga kesehatan burung di dalam kadang.

Baca juga : Blackthroat, Burung Berkicau Kecil dengan Suara dan Nyanyian yang Mempesona

Selain makanan, ketersediaan air minum juga menjadi faktor kesuksesan budidaya burung zebra finch. Tetap jaga ketersediaan air minum yang bersih setiap harinya, jangan sampai kehabisan. Pemberian multivitamin yang tepat juga sangat dibutuhkan agar para burung tidak mudah terjangkit berbagai macam penyakit.


Telur Zebra Finch akan menetas setelah 14-16 hari masa pengeraman


Khususnya indukan betina penting untuk mengkonsumsi kalsium. Tulang sotong yang telah di tumbuk dapat dijadikan sumber kalsium bagi indukan zebra finch. Faktor pencahayaan kandang perlu diperhatikan. Sebab cahaya matahari merupakan sumber vitamin D yang sangat baik untuk kesehatan tulang burung. Setidaknya saat musim kawin zebra finch membutuhkan cahaya 14-16 jam sehari. Sehingga pemasangan lampu spektrum pada kandang akan sangat bagus.


4. Masa Berkembangbiak

Saat masa bertelur, biasanya zebra finch akan bertelur antara 3 sampai 8 butir telur. Mereka akan bertelu sehari sekali dan akan meninggalkan glodok sehabis bertelur. Setelah bertelur untuk yang terakhir kali, biasanya indukan betina akan langsung mengeraminya. Indukan betina akan bergantian mengerami dengan indukan jantan. Namun indukan betina lebih intens dan lama dalam mengerami dibandingkan indukan jantan.


Anakan Zebra Finch usia remaja


Telur akan menetas setelah berusia 14-16 hari sejak masa pengeraman. Apabila sampai 20 hari telur tidak menetas juga maka sebaiknya telur dibuang saja, agar indukan bisa memulai bertelur lagi. Zebra finch akan menetas setelah 14-16 hari masa pengeraman.

Saat berumur 8 hari, bisa memasang pasang ring pada kaki anakan zebra finch. Saat berusia 21 hari anakan zebra finch akan mulai meninggalkan sarang. Saat berusia 4 minggu sudah belajar makan sendiri. Saat berusia 5-6 minggu akan terjadi perubahan warna yaitu warna paruh berubah menjadi oranye.


Burung Zebra Finch tampak menggemaskan dengan warna bulu yang cantik


Saat berusia 5-6 minggu sebaiknya anakan zebra finch dipisahkan dari induknya agar tidak dipatuk dan indukan bisa memulai untuk bertelur kembali. Usahakan tarang (glodok) telah dibersihkan dan indukan akan memulai membangun sarang dari awal lagi.

Zebra finch dapat hidup di alam sampai 4-8 tahun. Bahkan ada juga yang bisa sampai 12 tahun namun hal ini sangat jarang. Semoga informasi ini bisa bermanfaat bagi pembaca yang ingin memulai berternak burung zebra finch. (Ramlee)



Rabu, 28 Oktober 2026

Buah Hala, Buah Unik dari Pandan Berduri yang Kaya Manfaat



Buah Hala (Pandanus tectorius) merupakan buah unik dari tanaman pandan laut yang bentuknya menyerupai planet meledak. Bagian dalamnya terdiri dari puluhan segmen (kunci/kerucut). Buah ini memiliki rasa yang manis menyegarkan dan kaya akan kandungan antioksidan.

Pandan laut adalah tanaman pesisir dengan daya tahan tinggi yang membuatnya mampu bertahan hidup di iklim tropis, iklim sub tropis, serta di daerah maritim beriklim hangat. Pohon ini umumnya tumbuh di sekitaran pantai dengan elevasi 20 meter dan bahkan mampu tumbuh di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut yang ditemukan di daerah Hawaii.


Pandan laut memiliki daya tahan yang baik


Habitat pandan laut banyak dijumpai di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan, Papua Nugini, Australia bagian Timur, Mikronesia, hingga Polinesia. Pandan laut berbentuk pohon yang tumbuh tegak dengan tinggi 3-7 meter, dan dalam satu pohon memiliki beberapa cabang yang terkadang berduri dengan akar tunjang sekitar pangkal batang.

Baca juga : Buah Merah, Tanaman Prasejarah Endemik Tanah Papua yang Menakjubkan

Batang pohon pandan laut mempunyai diameter 9,1-14 cm, memiliki lentisel, dan berwarna abu-abu. Daunnya tunggal berwarna hijau serta berbentuk pita panjang hingga 2-3 meter dan lebar 8-12 cm, dengan ujung runcing segitiga lancip, lalu tepi daun dan lapisan bawahnya berduri.


Bentuk daun pandan laut


Pandan laut memiliki bunga berwarna merah ungu yang terletak di ujung batang, dengan banyak benang sari dan formasi seperti payung. Tanaman ini memiliki dua jenis bunga yaitu bunga jantan dan bunga betina serta buah yang dapat tumbuh memanjang mencapai 10 hinga 30 cm dengan 15 karapel per ruasnya sertu bentuknya yang seperti nanas.

Buah pandan laut berbentuk bulir atau malai yang besar dan menggantung dengan rupa bulat telur atau oval sampai lonjong. Buahnya keras seperti batu berdiameter 2-6,5 cm dan panjang 10-30 cm, dan sekilas menyerupai buah nanas yang ketika matang akan berwarna mulai dari kuning pucat, kuning tua, dan kuning jeruk, oranye, hingga merah.


Buah Hala yang masih muda


Buah hala yang matang memiliki aroma pandan yang khas dan kuat, dengan ditandai warna kulitnya kuning kecoklatan. Warna ini menandakan bahwa buah hala sudah matang dan siap dimakan. Buah hala yang matang akan terasa lunak saat ditekan. Hindari buah hala yang masih hijau atau terlalu matang.

Baca juga : Waromo, Kelapa Hutan Papua yang Kaya Nutrisi

Daging buah hala memiliki warna yang bergradasi dari kuning cerah hingga oranye kemerahan pada bagian ujung atau pangkalnya. Buah hala dapat dimakan secara langsung. Daging buah hala dapat dimakan langsung sebagai camilan. Rasanya manis dan sedikit asam, dengan tekstur yang sedikit renyah.


Buah Hala yang telah masak


Buah ini kaya akan vitamin dan mineral, seperti vitamin C, vitamin B6, kalium, dan magnesium. Juga mengandung karbohidrat, protein, serat, dan lemak. Buah ini juga kaya akan mikronutrien seperti vitamin C, beta-karoten (vitamin A), kalsium, dan zat besi, serta senyawa antioksidan penting.

Buah hala juga mengandung karotenoid seperti β-karoten, Lutein, Zeaxanthin, dan Lycopene yang mampu melindungi tubuh manusia terhadap banyak penyakit termasuk anemia, kekurangan vitamin A, hingga penyakit kronis seperti penyakit jantung dan kanker. Apalagi konsentrasi tinggi senyawa tangeretin terbukti sangat ampuh dalam menurunkan kadar kolesterol.


Tekstur buah Hala sangat keras


Dengan kandungan nutrisi tersebut, buah hala mempunyai potensi tinggi untuk diolah menjadi berbagai macam produk pangan seperti selai, penyedap rasa, minuman sari pandan laut. Namun, buah Hala tetap memiliki efek samping, apabila mengonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan terserang diare.

Baca juga : Kelubi, Buah yang Sekilas Mirip Buah Salak Kaya Manfaat untuk Kesehatan

Pandan laut memiliki daya tahan yang baik, yang membuatnya dapat eradaptasi dengan berbagai jenis tanah yang ada di wilayah pesisir, termasuk tanah pasir karang, gambut, kapur, pasir kuarsa, dan basalt. Pandan laut juga masih mampu bertahan hidup di tanah dengan kadar garam tinggi.


Pandan laut merupakan pohon kehidupan di daerah pesisir


Pandan laut menyukai tanah dengan pH antara 6-10, juga tidak terpengaruh oleh embusan angin secara terus-menerus dan tumbuh dengan sangat baik di bawah terik cahaya matahari penuh. Oleh sebab itu, pohon pandan laut memiliki masa hidup hingga 50-80, dan bahkan bisa mencapai 150 tahun.

Keberadaan tanaman pandan laut memiliki fungsi ekologi yang menyamai tanaman mangrove. Tumbuhnya pohon pandan laut mampu menahan abrasi pantai, mengurangi dampak negatif pasang air laut, berperan sebagai mitigasi tsunami, serta meminimalisir terjadinya kerusakan pada ekosistem darat. (Ramlee)



Selasa, 27 Oktober 2026

Emprit Jepang, Berawal dari Burung Hias Impor Kini Menjadi Salah Satu Komoditas yang Menguntungkan



Emprit Jepang (Lonchura striata domestica) masuk ke Indonesia murni melalui jalur perdagangan burung hias impor dari luar negeri (khususnya Asia Timur dan Eropa) untuk memenuhi hobi para pecinta burung (kicau mania). Jadi keberadaan Emprit Jepang di Indonesia bukan karena migrasi alami.

Burung yang dikenal di dunia internasional sebagai Society Finch adalah burung hasil rekayasa genetika penangkaran (domestikasi) total yang tidak pernah ada di alam liar mana pun sebelum dibawa oleh manusia. Nenek moyang Emprit Jepang adalah burung Bondol Tunggir-putih (Lonchura striata) yang berasal dari wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara.


Sepasang Emprit Jepang


Burung liar ini pertama kali didomestikasi dan disilangkan oleh para penangkar di Tiongkok, lalu dibawa ke Jepang pada abad ke-18. Di Jepang, burung ini disilangkan secara selektif selama ratusan tahun untuk menghasilkan variasi warna baru (seperti cokelat-putih, krem, hingga putih polos) serta menghilangkan sifat liarnya.

Baca juga : Emprit Jepang, Salah Satu Jenis Finch Hasil Domestikasi yang Populer di Kalangan Penghobi

Karena dikembangkan di Jepang, dunia hobi burung di Indonesia kemudian menyebutnya sebagai “Emprit Jepang” atau disingkat Emje. Emprit Jepang diperkirakan mulai masuk ke Indonesia secara komersial dalam jumlah besar pada akhir abad ke-20 (sekitar tahun 1980-an hingga 1990-an). Para importir burung membawa Emprit Jepang masuk bersamaan dengan tren burung finch hias lainnya (seperti Kenari dan Gouldian Finch).


Induk Emprit Jepang pandai mengerami telurnya


Saat pertama kali masuk, burung ini menarik perhatian para penghobi lokal karena karakternya yang sangat tenang. Selain itu burung ini memiliki warna bulu yang bermutasi cantik (jauh berbeda dengan emprit sawah lokal yang berwarna monoton), dan harganya yang relatif terjangkau.

Budidaya Emprit Jepang marak dilakukan dari skala rumahan hingga peternakan besar (bird farm). Burung ini sangat disukai oleh peternak pemula maupun profesional karena sifatnya yang bandel (memiliki daya tahan tubuh yang kuat terhadap penyakit dan cuaca). Mampu bertelur sebulan sekali dengan menghasilkan 5 hingga 8 butir telur dalam sekali siklus. pakannya pun simpel, cukup berupa biji-bijian, seperrti milet atau canary seed.


Anakan Gould Amadine banyak diasuh sama Emprit Jepang


Permintaan pasar yang stabil membuat nilai jual burung ini terus bertahan dengan baik, bahkan untuk jenis mutasi tertentu harganya bisa meningkat drastis. Di pasir daring (online) maupun pasar burung Indonesia saat ini kisaran harganya masih sangat menjanjikan. Perkembangan Emprit Jepang di Indonesia pun melesat tajam.

Baca juga : Gould Amadin, Burung Pipit Warna-Warni Asal Benua Australia

Bukan hanya karena keindahan fisiknya, melainkan karena naluri keibuannya yang luar biasa (parenting skill). Para peternak Indonesia segera menyadari bahwa Emprit Jepang memiliki sifat istimewa, yaitu sangat suka mengerami telur dan mengasuh anakan burung lain. Bahkan Emprit Jepang tetap mau mengeram dan mengasuh anakan burung dari spesies finch yang berbeda.


Emprit Jepang warna putih mata merah


Salah satu pendorong utama melonjaknya popularitas Emprit Jepang adalah naluri keibuannya yang luar biasa. Di Indonesia, Emprit Jepang sangat sering diandalkan sebagai induk asuh (foster) untuk mengerami telur dan meloloh anakan burung finch lain yang lebih mahal dan sulit diternakkan, seperti Gouldian Finch (Gould Amadine). Sifatnya yang telaten membuat tingkat keberhasilan tetasan burung premium meningkat pesat.

Kini, Emprit Jepang tidak lagi bergantung pada pasokan impor. Burung ini telah sukses diternakkan secara lokal di berbagai sentra penangkaran di Indonesia, seperti di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur. Berkat keberhasilan penangkar lokal, harga Emprit Jepang saat ini menjadi sangat merakyat.


Emprit Jepang warna mocca


Emprit Jepang di Indonesia saat ini semakin diminati sebagai burung hias dan burung pengasuh (foster parent atau babuan) dalam penangkaran burung finch eksotis. Kehadiran Emprit Jepang menjadi kunci sukses meledaknya industri peternakan burung finch mewah di Indonesia.

Baca juga : Bondol Haji, Pipit Unik Berpeci Putih yang Sering Dianggap Hama

Emprit Jepang telah mengalami transformasi besar, dari yang awalnya sekedar burung hias impor menjadi salah satu komoditas peternakan burung (breeding) yang sangat populer dan bernilai ekonomi tinggi. Berbeda dengan emprit lokal yang sering dianggap hama pertanian, Emprit Jepang justru menjadi primodona di kalangan pecinta burung finch karena berbagai keunggulannya.


Emprit Jepang jambul (crested)


Jika dahulu Emprit Jepang hanya dikenal dengan warna cokelat atau hitam-putih standar, saat ini perkembangan mutasi genetiknya di Indonesia sudah sangat bervariasi. Para penghobi kini memburu varian mutasi warna mewah seperti Panda, Mocca, Putih Mata Merah (Albino), hingga variasi fisik unik seperti Emprit Jepang Jambul (Crested). (Ramlee)


Anis, Kelompok Burung Berkicau yang populer di Indonesia

Anis terkadang disebut juga dengan punglor merupakan salah satu jenis burung berkicau dari famili Turdidae. Burung omnivora ini memiliki ci...