Rabu, 14 Oktober 2026

Salak, Buah Lokal Khas Indonesia yang Kaya Manfaat



Salak (Salacca zalacca) merupakan buah asli Indonesia yang populer dengan julukan snake fruit karena kulitnya yang bersisik mirip ular. Salak terutama ditanam untuk dimanfaatkan buahnya, yang populer sebagai buah meja. Selain konsumsi segar, salak juga biasa untuk pengolahan menjadi manisan, asinan, kalengan, atau kemas sebagai keripik salak.

Tanaman salak ini termasuk tanaman yang berbentuk perdu atau tidak memiliki batang, berduri banyak, dan beranak banyak, tumbuh menjadi sebuah tanaman berumpun yang sangat rapat dan kuat. Bagian batang menjalar kebawah atau permukaan tanah, membentuk sebuah rimpang, bercabang dengan diameter mencapai 10-15 cm.

Akar tanaman salak merupakan akar serabut yang sebaran akarnya tidak luas dan dangkal. penetrasi akar salak hanya mencapai kedalaman 10 cm hingga 50 cm. Akar tanaman salak akan mudah rusak jika kekurangan air. Akar salak muda akan selalu tumbuh di atas akar yang lama dan semakin keluar.


Kebun salak pondoh


Pada tanaman salak memiliki daun majemuk dengan bentuk menyirip dan panjang kira-kira 3-7 m, tangkai daun pelepah serta anak daun berduri panjang, tipis dan banyak, duri tanaman salak berwarna kelabu sampai kehitaman. Anak daun bentuknya lanset dengan ujung meruncing berukuran sekitar 8 x 85 cm, sisi bawah keputihan oleh lapisan lilin.

Baca juga : Kelubi, Buah yang Sekilas Mirip Buah Salak Kaya Manfaat untuk Kesehatan

Tanaman salak pada umumnya bersifat dioecious (berumah dua), yang berarti bunga jantan dan bunga betina berada pada pohon yang berbeda. Penyerbukan tanaman salak dilakukan dengan dua cara. Yang pertama secara alami, proses ini dibantu oleh pergerakan angin dan serangga (seperti lebah atau lalat).


Tekstur kulit buah salak mirip ular


Kemudian dengan penyerbukan buatan pada tanaman salak yang mutlak dilakukan karena sifat tanamannya yang berumah dua (dioecious). Petani harus memindahkan serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina, lantaran dengan bantuan angin atau serangga kurang optimal. Hal ini memastikan tingkat keberhasilan pembuahan dan pembentukan buah yang sempurna.

Butuh waktu 5-6 bulan untuk memanen buah salak selepas terjadinya penyerbukan. Tanaman salak biasanya mulai berbuah pada umur sekitar 3 tahun setelah tanam. Panen buah salak berlangsung secara berkala dengan interval pemetikan setiap 15 hari sekali atau sekitar 6 bulan sekali per siklus pembuahan.

Buah salak akan tumbuh dalam tandan. Tandan buah salak merupakan kelompok buah yang tumbuh di ketiak pelepah daun dekat pangkal batang. Satu tandan besar bisa berisi belasan hingga ratusan buah. Tandan utama (besar) menempel pada batang bagian bawah.

Satu tandan besar bisa menampung sekitar 15 hingga 400 buah, tergantung pada jenis salak (seperti salak pondoh atau salak hutan). Tandan besar biasanya terbagi menjadi beberapa cabang tandan kecil, yang masing-masing berisi sekitar 25 sampai 40 buah.


Perkembangbiakan buah salak secara generatif (biji)


Buah salak memiliki kulit bersisik coklat kehitaman yang menyerupai kulit ular, berbentuk segitiga bulat telur terbalik atau bulat, dan tersusun dalam tandan rapat. Buah ini memiliki daging putih kekuningan hingga kemerahan yang tebal, tidak berserat, serta berbiji keras, biasanya 1-3 butir per buah.

Baca juga : Sali, Buah Langka Asli Indonesia Kaya Nutrisi

Budidaya salak bisa dilakukan dengan dua cara, yakni dengan proses pencangkokan atau bisa juga dengan menanam bijinya. Kualitas salak dengan proses pencangkokan akan lebih baik jika dibandingkan dengan menanam biji, karena buah salak dari menanam biji akan terasa lebih sepet.


Tunas tanaman salak siap tanam


Buah salak memiliki aroma khas dengan rasa manis, manis agak asam, atau sepat, tergantung jenisnya. Panen raya buah salak biasanya terjadi 2 kali setahun, sering kali jatuh pada bulan Juni dan Desember. Pemanenan tidak dilakukan serentak karena tingkat kematangan buah dalam satu tandan berbeda-beda.

Buah salak kaya akan nutrisi penting seperti serat, vitamin C, kalium, dan antioksidan (beta-karoten dan saponin). Kandungan gizi ini sangat baik untuk melancarkan pencernaan, mendukung kesehatan jantung, meningkatkan fungsi kognitif otak, dan memperkuat sistem imun tubuh.

Buah salak yang siap panen ditandai dengan kulit buah berwarna merah kehitaman atau kuning tua (tergantung varietas). Ujung kulit meruncing dan terasa lunak saat ditekan. Bulu Buah halus pada kulit buah sudah hilang atau menipis.2. Memanen buah salak tidak bisa dilakukan sembarangan.

Cara panen buah yang tepatdengan menggunakan APD (Alat Pe4lindung Diri). Pemanenan dilakukan dengan menggunakan sarung tangan tebal dan sepatu boots karena tanaman dan pelepah salak berduri tajam. Gunakan alat potong seperti sabit/arit. Pegang kumpulan buah salak, lalu potong bagian pangkal tandan buah secara perlahan.


Bunga tanaman salak


Biji buah salak adalah bagian keras berwarna cokelat hingga kehitaman yang ada di dalam daging buah salak. Meski keras, biji ini kaya akan antioksidan (flavonoid dan tanin) serta dapat diolah menjadi bubuk minuman alternatif menyerupai kopi atau digunakan sebagai bibit tanaman.

Baca juga : Manggis, The Queen of Tropical Fruit dengan Segudang Manfaat bagi Kesehatan

Tanaman salak berkembang biak melalui dua cara utama: generatif (biji) dan vegetatif (anakan atau cangkok). Banyak yang mungkin berpikir bahwa cara menanam salak dari biji di halaman rumah adalah proses yang rumit dan memakan waktu lama. Namun, metode generatif melalui biji memiliki keunggulan tersendiri, salah satunya adalah menghasilkan tanaman dengan perakaran yang kuat, umur lebih panjang, serta lebih tahan terhadap rebah dan kekeringan.


Penyerbukan salak dengan bantuan manusia


Budidaya salak saat ini lebih banyak dilakukan dengan proses pencangkokan. Kualitas salak dengan proses pencangkokan akan lebih baik jika dibandingkan dengan menanam biji, karena buah salak dari menanam biji akan terasa lebih sepet. Proses pencangkokan membutuhkan waktu sekitar 6 bulan untuk proses pindah tanam, dan butuh waktu 2-3 tahun untuk siap panen.

Usia produktif pohon salak mencapai 7-12 tahun. Selama masa produktif itu pohon salak tidak perlu banyak perlakuan khusus. Petani hanya perlu melakukan perawatan seperti merapikan daun, dan melakukan perkawinan manual. Pohon salak baru akan diganti dengan pohon baru setelah masa produktifnya sudah lewat. Dalam satu tahun, satu pohon salak bisa dua kali panen, dengan sekali panen menghasilkan sekitar tiga kilogram salak.


Panen buah salak bisa dilakukan dua kali dalam setahun


Tanaman salak, menunjukkan pertumbuhan optimal pada daerah yang beriklim tropis dengan ketinggian mencapai 400-700 meter di atas permukaan laut. Pada sejumlah kondisi lingkungan yang sesuai, pohon salak bisa berbuah pada umur 3 tahun. Tanaman salak muda lebih menyukai tempat yang rindang dengan banyak pohon teduh di atasnya. Tanah yang cocok untuk melakukan budidaya salak adalah tanah yang gembur, lempung berpasir, lempung dan kaya akan bahan organik.

Tanaman salak juga membutuhkan curah hujan bulanan antara 100 sampai 200 milimeter dengan paparan sinar matahari sekitar 50 hingga 70 persen. Indonesia memiliki berbagai varietas salak unggulan yang tersebar di berbagai daerah. Salak Pondoh dari Yogyakarta (terutama lereng Gunung Merapi), salak Bali, salak Sidempuan Sumatra Utara, dan salak Gading. (Ramlee)



Kamis, 08 Oktober 2026

Kuau-kerdil Kalimantan, Merak Mini Endemik yang Terancam Punah



Kuau-kerdil Kalimantan (Polyplectron schleiermacheri) merupakan burung endemik Pulau Kalimantan yang sangat langka dan berkerabat dengan burung merak. Burung kuau-kerdil paling kurang dikenal diantara semua burung merak-pegar. Keindahan bulunya menjadikannya salah satu permata tersembunyi di lantai hutan Borneo.

Species kuau-kerdil kalimantan pertama kali diamati dan dideskripsikan secara ilmiah pada tahun 1877 oleh seorang zoolog bernama Friedrich Brüggemann di wilayah Kalimantan Tengah. Ciri khas kuau kerdil ada pada bulu ekor dan sayap yang dihiasi motif ocelli atau pola “mata” berkilau yang tampak memantulkan cahaya saat terkena sinar. Pola motif ocelli itulah yang membuat burung unik endemik tesebut sering dianggap sebagai versi kecil dari burung merak.


Kuau-kerdil Malaya (Polyplectron malacense)


Kuau kerdil Kalimantan memiliki tubuh ramping dengan panjang sekitar 65–70 cm. Ciri burung ini adanya motif bintik-bintik pada tubuhnya. Bintik pada burung jantan berwarna hijau, sedangkan pada betina berwarna biru. Bagian pipi dan tenggorokan berwarna kuning pucat, kontras dengan bulu lainnya.

Baca juga : Kuau Raja, Burung Raksasa Eksotis Asal Sumatera Berjuluk Seratus Mata

Bagian iris berwarna kuning, paruh kehijauan gelap, kulit muka gundul dan merah, kaki serta tungkai berwarna hitam, untuk burung jantan dengan dua taji. Kuau-kerdil jantan memiliki ciri jambul hijau metalik, dada hijau keunguan mengkilap pada bagian tenggorokan dan bercak dada berwarna putih. Adapun burung betina warnanya lebih suram dan lebih biru. Iris berwarna cokelat dan tidak memiliki taji di kakinya.


Kuau-kerdil Palawan (Polyplectron napoleonis)


Habitat utamanya di hutan hujan dataran rendah primer yang masih rapat dan hutan perbukitan (lowland dipterocarp forest). Kuau-kerdil Kalimantan lebih menyukai area yang lebih kering dan punggung bukit (ridges), serta menghindari kawasan rawa yang sangat lembap. Umumnya ditemukan di kisaran 100 hingga 500 meter di atas permukaan laut (mdpl), hingga di ketinggian 1.100 mdpl.

Kuau-kerdil Kalimantan tersebar terutama di wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur (seperti kawasan Sungai Wain, Balikpapan), serta Sabah, Malaysia. Populasi utamanya terfragmentasi dan terkonsentrasi di wilayah Kalimantan Tengah. Kuau-kerdil Kalimantan masih berkerabat dengan Kuau-kerdil Malaya dan Kuau-kerdil Palawan. Beberapa ilmuwan menganggap jenis ini merupakan subspesies dari Kuau-kerdil Malaya (Polyplectron malacense).

Kuau-kerdil Kalimantan termasuk satwa omnivora. Burung ini suka bertengger di pohon, namun berjalan diam-diam pada lantai hutan sepanjang siang untuk mencari makanan berupa buah-buahan, biji, dan serangga. Keberadaannya disatu wilayah sangat bergantung pada ketersediaan pakan alami di lantai hutan.

Pergerakannya di alam sering kali bersifat musiman mengikuti ketersediaan buah dan serangga di sekitarnya. Spesies burung ini membantu mengendalikan populasi serangga dan menyebarkan biji tanaman melalui kotoran mereka. Kehadiran mereka di hutan hujan merupakan indikator kesehatan lingkungan yang baik.


Kuau-kerdil Kalimantan betina


Selain memiliki bulu yang estetik dan menarik secara visual, burung ini juga memiliki suara yang merdu di hutan Kalimantan. Kuau-kerdil Kalimantan dikenal dengan suaranya yang unik dan merdu. Jantan mengeluarkan suara nyanyian yang rumit untuk menarik pasangan dan guna untuk mempertahankan wilayah mereka. Suaranya yang khas ini dapat didengar dari kejauhan di hutan hujan Kalimantan.

Baca juga : Merak, Unggas yang Terkenal dengan Bulu Ekornya yang Menakjubkan

Burung ini memiliki tingkah atau perilaku yang sangat unik. Saat musim kawin, jantan Kuau-kerdil Kalimantan menampilkan tarian kawin yang menakjubkan. Kuau kerdil Kalimantan jantan akan melebarkan ekor dan sayapnya yang berwarna-warni, dan melompat-lompat di depan betina sambil mengeluarkan suara nyanyiannya.


Kuau-kerdil Kalimantan lebih sering terlihat berjalan di lantai hutan


Tarian ini merupakan cara untuk memikat betina dan menunjukkan kebugaran. Musim kawin Kuau kerdil Kalimantan diperkirakan berlangsung antara akhir Oktober hingga pertengahan Maret. Kuau kerdil Kalimantan diduga poligami, di mana jantan membersihkan area tertentu di hutan untuk memamerkan bulu ekornya yang indah dan memikat beberapa betina.

Kuau-kerdil betina umumnya bertelur di atas tanah atau batang kayu busuk tanpa membuat sarang khusus. Dalam satu periode bertelur (klutch), mereka hanya menghasilkan 1 hingga 2 butir. Telur dierami oleh betina selama sekitar 20 hingga 23 hari.

Anak burung Kuau-kerdil Kalimantan terlahir sebagai satwa prekosial (precocial), yang berarti yang berarti begitu menetas dalam kondisi mata terbuka, sudah memiliki bulu bawah, dan memiliki kemampuan fisik untuk mandiri sejak dini. Namun, karena spesies ini sangat langka dan pemalu, proses kemandirian anak burung ini di alam liar memiliki karakteristik yang sangat unik.

Sebagai burung tanah (terrestrial), begitu menetas dan bulunya mengering, anak kuau sudah bisa berjalan mengikuti induknya untuk mencari makan di lantai hutan. Di bawah bimbingan induknya, anak burung belajar mandiri mencari makanan yang kaya protein seperti semut, serangga kecil, dan buah-buahan jatuh di dasar hutan.


Tarian Kuau-kerdil Kalimantan jantan untuk memikat pasangannya


Sejak kecil, anak burung ini sudah mewarisi sifat soliter dan sangat pemalu induknya. Anak burung Kuau-kerdil Kalimantan sangat pandai bersembunyi di balik serasah daun kering atau tanaman bawah hutan untuk menghindari predator. Burung ini memiliki sifat pemalu sehingga sangat sulit berkembang biak di luar habitat alaminya.

Baca juga : Sempidan, Burung Pegar Hutan Pemalu Endemik Sumatera dan Kalimantan

Burung Kuau-kerdil Kalimantan jarang terlihat oleh manusia, bahkan lebih sering berlari bersembunyi di balik vegetasi daripada terbang. Karena perilakunya yang sangat tertutup tersebut, mmebuat kehidupan burung kuau kerdil Kalimantan masih relatif sedikit dipahami oleh para peneliti.


Induk Kuau-kerdil Kalimantan bersama anaknya


Burung eksotis yang menjadi maskot Provinsi Kalimantan Tengah ini saat ini berstatus Terancam Punah (Endangered) dalam Daftar Merah IUCN. Angka reproduksinya yang sangat rendah (hanya membesarkan satu anak sekali musim) membuat populasinya sulit pulih apabila habitat hutan dataran rendah tempat mereka bernaung terus rusak akibat pembalakan atau kebakaran hutan.

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991, burung ini sepenuhnya dilindungi di Indonesia. Praktik penangkaran komersial untuk spesies ini tidak umum dilakukan karena risikonya yang justru dapat meningkatkan perburuan liar dan menekan populasi alaminya di hutan hujan dataran rendah. Upaya pelestarian saat ini lebih difokuskan pada perlindungan habitat asli (insitu) melalui kawasan konservasi serta pemantauan populasi oleh lembaga pegiat lingkungan. (Ramlee)


Senin, 05 Oktober 2026

Kadal Basilisk, Kadal Eksotis yang Mampu Berlari di Atas Air



Kadal Basilisk (Basiliscus sp.) merupakan salah satu jenis kadal yang unik dan sangat eksotis. Tidak hanya mempunyai warna yang mencolok dan layar di atas tubuhnya, kadal ini juga punya kemampuan untuk berlari di atas air layaknya ninja. Kadal ini berasal dari genus Basiliscus. Nama Basiliscus diambil dari bahasa Yunani, basilískos yang artinya raja kecil. Nama ini mencerminkan daya tarik dan keanggunan yang melekat pada reptil ini, menciptakan gambaran simbolis tentang kekuatan dan keunikannya di dunia satwa liar.

Kadal Basilisk hanya dapat ditemukan di Benua Amerika, tepatnya di beberapa daerah di Amerika Tengah seperti Meksiko, Ekuador, dan Venezuela. Kadal ini hidup di hutan hujan tropis. Biasanya berdiam di vegetasi yang menggantung tepat di atas sungai atau aliran air. Kadal ini dapat ditemukan di dekat sungai sekaligus tempat berburunya untuk mencari makan. Spesies kadal ini adalah semi-akuatik dan semi-arboreal, hidup di ketinggian hingga 775 meter.

Reptil ini memiliki kemampuan unik yakni berjalan di atas air, kadal Basilisk memanfaatkan kaki belakangnya yang panjang dan berselaput untuk berlari di permukaan tanpa tenggelam. Julukan “Jesus Christ Lizard” melekat padanya karena kemampuannya yang mirip dengan cerita Yesus berjalan di atas air.


Kadal Basilisk biasa (Basiliscus basiliscus)


Hal ini dimungkinkan karena kaki belakang kadal Basilisk yang besar memiliki kulit berselaput khusus. Saat berlari, kaki tersebut menghentak air dengan cepat untuk menciptakan kantung udara sebelum kaki itu ditarik kembali sebelum tenggelam. Kadal Basilisk dapat berlari melintasi air dengan kecepatan mencapai 11 km/jam sejauh beberapa meter. Setelah mencapai jarak maskimal, setengah tubuhnya tenggelam dan melanjutkan perjalanan dengan berenang.

Baca juga : Kadal, Kelompok Reptil Bersisik yang Hidup di Berbagai Habitat di Dunia

Kemampuan ini sangat berguna ketika menghadapi predator. Saat merasa terancam, lari cepat ke arah air memungkinkan kadal Basilisk untuk tetap berada di permukaan dan melarikan diri dari bahaya. Adaptasi luar biasa ini menjadi kunci penting bagi kelangsungan hidupnya di habitat yang penuh risiko.


Kadal Basilisk berkepala merah (Basiliscus galeritus)


Tidak hanya ahli berjalan di atas air, kadal Basilisk juga merupakan perenang ulung. Kadal ini bisa menyelam dan bertahan di bawah air hingga 30 menit. Dengan kemampuan menyelam yang baik, kadal Basilisk bisa menangkap ikan kecil atau serangga yang ada di dekat permukaan.

Kadal Basilisk termasuk dalam keluarga iguana, kadal ini dapat tumbuh hingga panjang sekitar 60 cm (termasuk ekornya yang panjang seperti cambuk). Pejantan memiliki jambul khas yang tinggi di kepala, punggung, dan ekornya. Kadal Basilisk terlihat seperti dinosaurus dengan layar yang hadir di bagian atas tubuhnya.

Kadal ini selain mampu berlari dengan gesit di atas air dengan dua kaki belakangnya yang kuat, juga punya beberapa keunikan, seperti mampu merubah warna, suka memakan tumbuhan, dan hidup di pepohonan. Dengan gerakannya yang cepat, tubuhnya yang berwarna hijau dan cokelat, serta ukurannya yang besar kadal basilisk jadi salah satu kadal yang sangat sulit ditangkap oleh predator.

Kemampuan kamuflase yang mengesankan menjadi salah satu kelebihan dari kadal Basilisk. Warna tubuh yang hijau atau cokelat menyerupai lingkungan sekitarnya, memungkinkan mereka bersembunyi dengan efektif dari predator di hutan hujan tropis juga berperan penting saat berburu.


Kadal Basilisk berbulu (Basiliscus plumifrons)


Kemampuan lain yang tidak kalah menarik adalah kemampuannya memanjat pohon yang tingginya bisa mencapai 20 meter. Dengan cakar yang kuat dan tubuh yang ringan, kadal Basilisk dapat dengan mudah naik ke atas pohon untuk mencari makanan atau menghindari bahaya. Memanjat pohon membantunya menemukan tempat yang aman untuk beristirahat.

Baca juga : Kadal Duri Mata Merah, Reptil Eksotis Mirip Buaya dari Papua

Di seluruh dunia, keberagaman kadal Basilisk tercermin dalam keberadaan empat spesies yang berbeda. Pertama, kadal Basilisk biasa (Basiliscus basiliscus). Kadal ini dikenal karena penampilannya yang khas dan kecenderungannya untuk hidup di dekat air. Kadal ini kerap terlihat di pepohonan, pinggir sungai, atau bebatuan.


Kadal Basilisk belang (Basiliscus vittatus)


Selanjutnya, kadal Basilisk berkepala merah (Basiliscus galeritus). Kadal ini dapat dikenali dari kepala merah mencoloknya yang menambah daya tarik visual. Selain itu individu jantan juga punya perbedaan dari individu betina di mana yang jantan mempunyai layar besar berbentuk lingkaran di atas kepalanya. Kepalanya yang bisa berubah menjadi warna merah dan layarnya yang besar digunakan kadal jantan untuk menarik perhatian betina saat musim kawin.

Kadal Basilisk berbulu (Basiliscus plumifrons). Juga dikenal sebagai kadal basilisk hijau, menampilkan keindahan warna hijau terang yang dihiasi bercak putih, hitam, dan kebiruan dan tingkat adaptasi yang luar biasa. Spesies satu ini juga mudah dibedakan dari basilisk lain karena punya layar di kepala, punggung, dan ekornya. Spesies basilisk lain biasanya hanya punya layar di atas kepalanya. Basilisk hijau dapat hidup hingga umur 10 tahun.

Terakhir, namun tidak kalah menarik, adalah kadal Basilisk belang (Basiliscus vittatus), yang memperlihatkan pola belang yang mencolok di tubuhnya. Mempunyai panjang tubuh 60 cm ini juga mempunyai garis di tubuhnya. Garis tersebut berwarna kuning dan terlihat di samping tubuh. Warna dasarnya sendiri cukup gelap, yaitu cokelat, abu-abu, atau kehitaman.

Warna yang gelap tersebut memudahkan basilisk bergaris untuk berkamuflase di pepohonan, kayu, dan bebatuan. Jika kamuflasenya tidak berhasil hewan ini juga punya pertahanan lain, yaitu mengunakan ekornya untuk mencambuk predator atau pengganggu. Kehidupan makanan kadal Basilisk menunjukkan variasi yang signifikan dari satu spesies ke spesies lainnya.


Kadal Basilisk mempunyai kecenderungan untuk hidup di dekat air


Tetapi secara umum, kadal ini dapat dikategorikan sebagai makhluk omnivora. Kadal Basilisk menunjukkan kecenderungan untuk memilih serangga bersayap sebagai hidangan favorit, termasuk laba-laba, mamalia kecil, siput, dan kadal kecil di sekitar habitat air tempatnya tinggal. Meskipun demikian, sekitar 20% hingga 30% dari pola makannya terdiri dari tumbuhan.

Baca juga : Kadal Pensil, Kadal Eksotis Asal Papua yang Serupa Ular

Proses perkawinan kadal Basilisk membawa nuansa unik dalam dinamika reproduksinya. Meskipun sang betina hanya berpasangan dengan satu jantan selama musim kawin, Basilisk jantan memiliki kecenderungan untuk membentuk pasangan dengan banyak betina. Betina sendiri memiliki kebiasaan untuk bertelur di parit sepanjang tahun, dengan setiap sarang menghasilkan sekitar 20 butir telur. Ukuran dari sarangnya tergantung pada usia, ukuran, dan kesehatan Basilisk betina.


Kadal Basilisk pun jago memanjat pohon


Proses ini berlangsung tanpa peran aktif dari betina dalam merawat telur, karena setelah meletakkannya, betina meninggalkan telurnya untuk menetas sendiri. Bayi kadal Basilisk, menetas dalam waktu 8-10 minggu setelah telur diletakkan, namun bayi-bayi ini memerlukan waktu tambahan sekitar 2 hari untuk sepenuhnya keluar dari cangkang selama siklus hidup awalnya.

Bayi kadal Basilisk langsung mempunyai kemampuan yang mengagumkan. Karena dapat berlari ke darat dan air segera setelah lahir, serta memiliki kemampuan berenang dan memanjat. Tanpa mendapatkan perawatan langsung dari induknya, bayi kadal Basilisk tumbuh dengan cepat dan mencapai kematangan seksual pada usia 10 bulan.


Bayi kadal Basilisk, menetas dalam waktu 8-10 minggu


Meskipun lebih kecil dibandingkan dengan ukuran dewasa, Basilisk betina seringkali mencapai kematangan seksual lebih cepat daripada yang jantan. Siklus hidup kadal basilisk sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Di alam liar, umur kadal Basilisk relatif lebih pendek karena banyaknya predator, namun kadal Basilisk dapat hidup hingga 15 tahun dalam perawatan penangkaran yang tepat.

Saat ini, kadal Basilisk diklasifikasikan sebagai Least Concern dan ancaman utamanya ialah kehilangan habitat serta keberadaan manusia. Keberadaan keempat spesies ini menggambarkan keajaiban adaptasi dan evolusi yang telah membuat kadal Basilisk menjadi salah satu reptil yang menarik perhatian di seluruh dunia. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Kadal Basilisk, Kadal Unik dan Eksotis dari Amerika Tengah yang Mampu Berlari di Atas Air


Kamis, 01 Oktober 2026

Budidaya Burung Emprit Jepang Peluang Bisnis yang Menjanjikan, Mudah dan Modal Terjangkau



Emprit Jepang (Lonchura striata domestica) merupakan salah satu jenis burung finch yang populer dipelihara sebagai hewan peliharaan di banyak negara, termasuk Indonesia. Burung ini secara Internasional disebut dengan Society finch. Cara beternak burung emprit jepang dikenal lebih mudah karena burung ini memiliki mental yang sangat baik, khususnya jika ada gangguan yang datang pada saat mengerami telur maupun merawat anak-anaknya.

Burung emprit jepang tidak gampang stres dan relative mudah untuk dipelihara ataupun dirawat. Oleh sebab itu permintaan akan burung tersebut mengalami banyak peningkatan dengan harga jual yang relatif stabil. Terutama bagi para penghobi burung yang masih pemula. Umumnya burung ini dipelihara untuk menghuni mini aviary, yang membuat rumah terasa semakin asri.


Beternak Emprit Jepang sangat mudah dan menguntungkan


Ada beberapa langkah sebelum beternak emprit jepang. Langkah pertama adalah memilih calon indukan, berikutnya menyiapkan kandang penangkaran, pemberian pakan, dan proses penangkaranya. Keberhasilan penangkaran sangat bergantung pada kualitas indukan emprit jepang yang akan ditangkarkan.

Baca juga : Emprit Jepang, Salah Satu Jenis Finch Hasil Domestikasi yang Populer di Kalangan Penghobi


1. Memilih Calon Indukan

Dalam memilih indukan emprit jepang, diusahakan bibit untuk indukan berasal dari indukan yang berkualitas, dengan tujuan agar menghasilkan keturunan atau anakan yang berkualitas juga. Sebelumnya harus juga dipahami untuk membedakan calon indukan jantan dan betinanya.


Sepasang Emprit Jepang tidur bersama di dalam sarangnya


Karena keduanya mempunyai bentuk tubuh serta warna bulu yang hampir sama. Untuk membedakannya bisa diperhatikan dari tingkah lakunya. Biasanya burung emprit jepang jantan lebih aktif bergerak dan berkicau, serta suara kicauannya lebih bervariasi. Sedangkan burung emprit jepang betina lebih pasif dan jarang berkicau, dan seandainya berkicau pun suaranya terdengar monoton.

Kriteria indukan burung emprit jepang yang bagus agar kualitas yang dihasilkan juga bagus yaitu usia calon induk tidak kurang dari 6 bulan, agar organ reproduksinya matang, kedua calon induk harus sehat atau tidak sedang sakit, keadaan fisik normal atau tidak cacat (bulunya mengkilap dan rapi, mata cerah dan bersih), dan calon indukan lebih agresif atau aktif bergerak.


Induk Emprit Jepang akan mengerami telurnya secara bergantian


2. Menyiapkan Kandang

Kandang budidaya emprit jepang bisa menggunakan kandang model soliter yang berukuran 60×40 cm dan tinggi 40 cm (kandang kotak untuk ternak love bird). Atau bisa juga diternak secara koloni yaitu menggunakan kandang model aviary yang lebih besar.

Baca juga : Zebra Finch, Burung Aussie yang Cantik dan Mudah Perawatannya

Tempatkan kandang budidaya di lokasi yang teduh, hindari terpaan air hujan dan angin secara langsung. Yang juga harus diperhatikan dalam budidaya adalah menjaga kebersihan kandang secara rutin. Sediakan alas kandang yang mudah dibersihkan dan pastikan ventilasi udara baik.


Telur Emprit Jepang akan menetas setelah dierami induknya selama 14-16 hari


Namun kebiasaan burung emprit jepang apabila dibudidaya secara koloni biasanya induk betina akan meletakkan telurnya pada sarang induk lain, hal tersebut disebabkan sifat sosial burung emprit jepang yang sangat tinggi. Maka sangat dianjurkan untuk mengisi satu pasang indukan saja dalam satu kandang.

Juga haarus sedaiakan pula tempat untuk bersarang, bisa menggunakan batok kelapa atau sejenisnya (di kios-kios burung sudah banyak tersedia dengan berbagai model dan ukuran). Sediakan pula bahan-bahan untuk membuat sarangnya seperti serat nanas, rumput kering/rumput ruyung, daun cemara atau yang lainnya.


Anakan Emprit Jepang usia 14 hari


3. Pemberian Pakan

Pakan merupakan faktor utama yang harus diperhatikan dalam beternak burung emprit jepang, karena pakan juga memiliki pengaruh yang besar untuk keberhasilan penangkaran. Pemberian pakan ini ada dua jenis yakni pakan utama yang berupa biji-bijian, sepertimilet putih sebagai pakan pokok, milet merah sebagai variasi, serta jewawut, canary seed, atau gabah.

Baca juga : Gould Amadin, Burung Pipit Warna-Warni Asal Benua Australia

Selain itu perlu juga diberikan pakan tambahan berupa telur rebus untuk protein tambahan dan sayuran hijau (kangkung, sawi). Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan kalsium dalam pembentukan telur, bisa disediakan tulang sotong di dalam kandang. Semua kebutuhan ini sudah tersedia di kios-kios burung.


Setelah umur sebulan anakan emprit Jepang siap meninggalkan sarangnya


4. Proses Penangkaran

Apabila kedua calon indukan emprit jepang ini burung sudah berjodoh, biasanya akan segera membangun sarang. Keduanya akan tidur di dalam sarangnya saat malam. Setelah proses ini sudah berjalan tinggal menunggu saat emprit jepang bertelur. Jumlah telur yang dihasilkan biasanya sekitar 4-6 butir. Telur-telur ini akan dierami oleh kedua induknya secara bergantian selama sekitar 16 hari.

Jika semua telur sudah menetas, maka anda harus disediakan pakan yang memiliki kandungan protein tinggi seperti gambas atau jagung, yang gunanya sebagai sumber vitamin dan energy untuk induk serta anaknya. Ketika anakan burung emprit jepang sudah berumur sekitar 3-4 minggu, biasanya sudah mulai keluar dari sarang untuk belajar terbang dan makan sendiri.


Seorang pemuda di Tuban – Jawa Timur sukses menangkarkan Emprit Jepang


Jika anakan emprit jepang sudah keluar sarang, maka anakan emprit jepang tersebut sudah bisa dipisahkan dari induknya dan merawatnya sendiri. Hal ini harus dilakukan dengan tujuan agar indukan emprit jepang segera berproduksi kembali.

Burung imut ini, bisa menjadi pilihan utama sebagai salah satu jenis burung yang direkomendasikan untuk dipelihara. Emprit jepang alternatif terbaik untuk penghobi yang tidak punya lahan banyak. Tidak perlu modal besar, tapi bisa menghasilkan. Cocok untuk pemula, karena burung ini bandel banget, jarang kena penyakit. Paling kendala ternaknya itu, kadang burung ini suka dibuang saja anaknya, karena induk tidak mau loloin. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Budidaya Burung Emprit Jepang Mudah dan Menguntungkan


Rabu, 30 September 2026

Flame of Irian, Tanaman Hias Merambat Tropis dari Bumi Papua yang Memukau



Flame of Irian (Mucuna bennettii) merupakan nama dari tanaman hias merambat eksotis asal Papua yang terkenal dengan bunga berwarna merah-oranye menyala menjuntai-juntai seperti kobaran api. Tanaman ini banyak digunakan sebagai tanaman peneduh (pergola) karena sifatnya yang merambat. Tanaman ini cocok untuk menutupi atau melindungi apapun di bawahnya dari terik panas matahari.

Meski nama tanaman ini adalah ‘Flame of Irian’ yang merupakan kosa kata bahasa Inggris, namun ternyata di luar negeri tanaman ini tidak disebut demikian. Di dunia Internasional flame of irian disebut Scarlet Jade Vine, Red Jade Vine (disebut demikian karena persis sama dengan Jade Vine bentuknya namun Flame of Irian ini berwarna merah), atau New Guineacreeper.


Jade Vine dari Philipina


Tanaman Jade vine (Strongylodon macrobotrys) adalah tanaman merambat tropis langka asal Filipina yang terkenal dengan bunganya yang menakjubkan berwarna giok (hijau-biru/pirus) yang menjuntai hingga 3 meter. anaman eksotis ini berbentuk liana berkayu, membutuhkan rambatan kuat.

Baca juga :  Tanaman Dolar, Tanaman Merambat Penghias Dinding yang Mampu Menciptakan Suasana Asri 

Habitat aslinya Flame of Irian berasal dari hutan dataran rendah Papua Nugini dan Papua Barat. Flame of Irian bisa ditemukan di kawasan cagar alam Pegunungan Arfak, Manokwari, Provinsi Papua Barat. Tanaman ini tumbuh optimal pada hutan dataran rendah dengan tipe tanah yang lembap dan banyak mengandung humus.


Flame of Irian di habitat alaminya di Pegunungan Arfak


Flame of Irian lebih menyukai udara yang panas dengan suhu berkisar 30-35 °C. Dapat tumbuh dibawah matahari langsung atau ternaungi sebagian. Spesies ini ditemukan di alam liar di tanah liat berbatu, batu kapur, granit, vulkanik dan tanah sedimen.

Batang tanaman Flame of Irian sangat keras dan dapat tumbuh memanjang sampai dengan 30 meter. Batang berwarna coklat dengan kulit tebal yang sulit dikelupas dan semakin tua, kulit akan semakin menebal dan mirip kulit pohon berkayu.


Tanaman Flame of Irian butuh paparan sinar matahari secara langsung


Ukuran cabang Flame of Irian bisa mencapai 20 cm di batang utama dan di percabangan sekunder, tertiary atau tersier dan sampai ujung bervariasi dari yang kecil saat baru tumbuh dan menjalar sekitar 0.5 cm hingga 15 cm atau bahkan lebih.

Baca juga : Hoya, Tanaman Merambat yang Memikat Keindahannya dan Bisa Serap Polutan

Daun Flame of Irian berwarna hijau mengkilap, trifoliate, helaian daun berbentuk bulat telur, daun tersusun berselang-seling di sepanjang batang, tulang daun menyirip. Daunnya yang lebat berbentuk majemuk terbagi dalam 2-5 helai dalam satu tangkai.


Bunga Flame of Irian berwarna merah menyala berbentuk seperti kuku macan


Bunga tanaman ini seperti kacang polong tapi lebih besar, dengan kelopak melengkung seperti kuku. Makanya, kebanyakan orang menyebutnya dengan “Kuku Macan”. Tanaman ini dapat tumbuh dengan cara merambat. Setiap bunga memiliki ukuran panjang sekitar 2,5 inci.

Ukuran bunganya berukuran cukup besar mencapai diameter 7-10 cm. Flame of Irian ini memiliki aroma harum yang khas, menjadikannya daya tarik tersendiri. Para pecinta tanaman hias pasti memburu spesis yang satu ini karena warna dan bentuknya yang menarik.


Biji tanaman Flame of Irian


Kuntum-kuntum bunga tersusun agak rapat menyerupai tandan. Satu tandan bisa terdapat lebih dari 50 kuntum. Tanaman ini berbunga 2 kali dalam satu tahun yaitu sekitar bulan Februari – April. Sayangnya saat mekar, bunga Flame Of Irian hanya mampu bertahan selama sekitar 20 hari saja.

Baca juga : Sirih Gading, Tanaman Hias Penghilang Polutan dan Penyedia Pasokan Oksigen

Flame Of Irian menghasilkan buah berbentuk polong dengan kulit berbulu. Di dalam polong ini terdapat biji berbentuk bulat oval berwarna coklat gelap saat matang. Biji Flame of Irian berbentuk unik, menyerupai tiga lapis mata mamalia besar, dan mampu mengapung.


Flame of Irian dimanfaatkan sebagai tanaman peneduh


Tanaman ini mudah diperbanyak, baik dengan stek batang maupun dengan biji. Selain sebagai tanaman hias yang dapat dapat mempercantik tampilan rumah dan juga membuat teduh rumah, tanaman ini juga dapat di manfaatkan sebagi obat. Pengunaan tanaman ini sebagai obat, diantaranya adalah sebagai penurun demam,penyembuh bisul,membantu terapi pada penyakit parkinson dan mengobati penyakit cacingan. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Flame of Irian, Tanaman Bunga Merambat yang Indah dan Eksotis dari Bumi Papua


Salak, Buah Lokal Khas Indonesia yang Kaya Manfaat

Salak (Salacca zalacca) merupakan buah asli Indonesia yang populer dengan julukan snake fruit karena kulitnya yang bersisik mirip ular. Sal...