Kamis, 14 Mei 2026

Serak Jawa, Pemburu Malam Hama Tikus Sahabat Petani





Serak Jawa (Tyto alba) merupakan salah satu burung predator atau burung pemangsa yang dapat memangsa kelompok burung dan mamalia kecil. Burung Serak Jawa lebih dikenal masyarakat sebagai burung hantu atau barn owl. Salah satu spesies burung pemangsa malam yang paling mudah dikenali.

Perilaku burung ini yang aktif pada malam hari (nokturnal) dan terkadang mengeluarkan suara yang tidak biasa saat terbang inilah yang menyebabkan nama burung hantu disematkan oleh khalayak umum kepada. Tyto alba yang memiliki wilayah persebaran di hampir semua benua, kecuali Antartika. Di Indonesia, burung hantu ada beberapa jenis.

Tercatat ada 54 jenis burung hantu dengan rincian 8 jenis dari famili Tytonidae dan 27 jenis dari Strigidae yang tersebar di wilayah Indonesia. Burung hantu merupakan burung menetap, burung yang setia dengan rumah dan lingkungannya. Burung hantu juga tidak akan berpindah selama dirasa aman dan selama makanan di wilayah tersebut masih tersedia.



Penampilannya yang menyeramkan di malam hari membuatnya dijuluki burung hantu



Salah satu hewan yang umum dijadikan mangsa oleh Serak Jawa adalah Tikus (Rattus spp.). Apabila sulit mendapatkan tikus, burung ini akan bermigrasi atau pindah mencari makan ke daerah yang masih ada tikus namun sifatnya hanya sementara dan akan kembali ke tempatnya semula.


Burung Serak Jawa pertama kali dideskripsikan oleh Giovani Scopoli pada tahun 1769. Nama penunjuk spesies alba mengacu pada warna bulunya yang putih dan cokelat keemasan dengan bintik-bintik halus di bagian atas tubuh. Permukaan bulu Serak Jawa bagian bawah tubuhnya didominasi warna putih. Bulu Serak Jawa mempunyai tekstur lembut dengan corak tersamar.



Serak Jawa mampu terbang tanpa suara



Bagian atas berwarna kelabu terang dengan sejumlah garis gelap dan bercak pucat tersebar. Pada Serak Jawa muda maupun betina, bercak tersebut biasanya lebih rapat. Ciri lain burung ini yaitu ada tanda mengkilat pada sayap dan punggung, kaki berwarna putih kekuningan sampai kecokelatan, dan memiliki bulu-bulu yang jarang. Semua bulunya mengandung zat lilin yang berfungsi untuk menjaga elastisitas dan membuat bulu lebih tahan air.

Serak Jawa jantan dan betina memiliki ukuran dan warna hampir sama, dengan ukuran tubuh sedang hingga besar sekitar 34 cm. Namun, serak jawa betina kadang-kadang berukuran sedikit lebih besar. Serak Jawa memiliki kepala besar, kekar dan membulat. Mukanya berbentuk jantung dengan tepi cokelat dan memiliki iris berwana hitam.

Tidak seperti jenis-jenis burung lain, mata burung ini menghadap kedepan. Sementara paruhnya yang tajam dan berwarna keputihan menghadap ke bawah. Kepala membulat dengan iris mata hitam. Meskipun matanya tidak bisa bergerak bebas seperti manusia namun Serak Jawa memiliki leher yang sangat fleksibel, yang mampu berputar ke segala arah.

Wajahnya berbentuk hati yang membantu memusatkan suara ke telinganya. Mempunyai kaki jenjang dengan cakar kuat, serta paruh berwarna putih kekuningan yang membengkok ke bawah. Keberhasilan burung Serak Jawa dalam berburu ditunjang oleh kemampuannya terbang tanpa suara.



Burung Serak Jawa bersarang di dalam lubang batang pohon



Ketika terbang, suara yang timbul akibat pergerakan sayap diredam oleh semacam lapisan seperti beludru pada permukaan bulu-bulu sayap bagian bawahnya. Selain itu, tepi bulu sayap burung hantu memiliki gerigi sangat halus menyerupai sisir yang berfungsi meredam suara kepakan sayap.


Cara terbang tanpa suara ini mempertajam pendengaran burung ini sekaligus menyebabkan pergerakannya tidak terdeteksi oleh mangsa. Pendengaran Serak Jawa juga sangat tajam, didukung oleh letak lubang telinga yang tidak simetris (berbeda tinggi di sisi kiri dan kanan) dan ditutupi bulu-bulu pendek sebagai pemantul suara.



Serak Jawa sedang mengerami telurnya



Wajah berbentuk cakram/parabola memusatkan suara langsung ke telinga, memudahkan deteksi mangsa dalam kegelapan. Sebagai burung malam, mata burung Serak Jawa memiliki kemampuan 3–4 kali lebih baik dari manusia untuk melihat dalam kegelapan sekitar. Bola matanya tidak dapat digerakkan.

Namun kepalanya dapat diputar 270 derajat dalam empat arah kiri, kanan, atas, dan bawah. Mata burung hantu juga menghadap ke depan sehingga menunjang penglihatan yang stereoskopik. Artinya, burung hantu dapat menentukan jarak dari objek yang dilihat.

Satwa ini dapat ditemukan mulai dari kawasan hutan, tepi hutan, hingga taman kota, dan padang rumput. Di Indonesia, Serak Jawa banyak ditemukan di dataran rendah, sawah, serta daerah perkotaan yang memiliki pepohonan tinggi. Dalam hal kehidupan sosial, beberapa penelitian menunjukkan bahwa Serak Jawa dapat bersifat poligami.

Seekor Serak Jawa jantan bisa memiliki lebih dari satu pasangan dalam jarak yang berdekatan, dengan sarang yang biasanya berada di lubang pohon setinggi 5 hingga 20 meter. Pada masa kawin, pejantan akan terbang mengelilingi sarang sambil mengeluarkan suara berderit untuk menarik perhatian betina.



Serak Jawa mampu berburu hingga 5 ekor tikur perhari



Serak Jawa sudah siap bertelur saat berumur 9 bulan dan dalam setahun burung ini dapat bertelur 2—3 kali. Kisaran jumlah telur yang dihasilkan tiap musim berbiak berkisar 4—19 butir tergantung kesediaan pakan. Karena itu, populasi pengendali tikus ini bisa diperbanyak dalam waktu relatif singkat.


Tiap burung Serak Jawa dewasa dapat memangsa 2—5 tikus per hari atau sekitar 1.300 tikus per tahun. Serak Jawa mulai dapat berburu tikus pada umur 5 bulan. Diperkirakan, sepasang Serak Jawa dapat melindungi hingga 10 hektar sawah. Namun, petani biasanya menempatkan satu pagupon (semacam rumah kecil yang khusus disediakan untuk burung) di tiap 3 hektar sawah.


Kini banyak petani yang sudah memanfaatkan Serak Jawa sebagai pembasmi hama tikus



Secara global, Serak Jawa termasuk dalam kategori “Least Concern” (Risiko Rendah) menurut IUCN. Hal ini karena persebarannya yang luas dan populasinya yang relatif stabil. Namun, di beberapa daerah tertentu, tekanan terhadap habitat alami seperti penebangan pohon tua dan penggunaan pestisida yang berlebihan bisa menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup satwa ini.

Di Indonesia, Serak Jawa belum dilindungi secara khusus, tetapi keberadaannya sering dimanfaatkan sebagai pengendali tikus secara alami oleh petani. Serak Jawa adalah contoh nyata bagaimana satwa liar bisa hidup berdampingan dengan manusia dan memberikan manfaat ekologis yang besar. (Ramlee)


Sumber : remen.id


Selasa, 12 Mei 2026

Ubi Jalar, Umbi Manis Warna-Warni Kaya Manfaat



Ubi Jalar (Ipomoea batatas) merupakan sejenis tanaman budidaya yang tumbuh merambat. Tanaman ini juga disebut ubi rambat, ubi manis, ubi jawa, ubi jenderal, petatas atau yang juga dikenal dengan sebutan sweet potato dalam bahasa Inggris, telah menjadi sumber energi penting pengganti beras.

Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang membentuk umbi dengan kadar gizi (karbohidrat) yang tinggi. Tanaman ini telah tersebar luas di Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Papua. Di Afrika, umbi dari ubi jalar menjadi salah satu sumber makanan pokok yang penting.

Di Asia, selain dimanfaatkan umbinya, daun muda ubi jalar juga dibuat sayuran. Ubi jalar menyimpan berbagai manfaat kesehatan di balik rasanya yang manis hingga mendapat sebutan superfood. Setiap orang yang mengonsumsi ubi ini tidak hanya akan merasa kenyang, tapi juga dapat menjadi lebih sehat, tergantung bagaimana mengolahnya.


Budidaya ubi jalar terutama dilakukan di daerah dataran tinggi


Ubi jalar atau ketela rambat diduga berasal dari Benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Nikolai Ivanovich Vavilov, seorang ahli botani Soviet, memastikan daerah sentrum primer asal tanaman ubi jalar adalah Amerika Tengah.

Baca juga : Singkong, Tanaman Umbi Akar yang Berpotensi sebagai Sumber Pangan Lokal

Ubi jalar mulai menyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara beriklim tropika pada abad ke-16. Orang-orang Spanyol menyebarkan ubi jalar ke kawasan Asia, terutama Filipina, Jepang, dan Indonesia. Tanaman ini secara taksonomi termasuk dalam famili Convolvulaceae dan genus Ipomoea.


Daun muda ubi jalar dimanfaatkan sebagai sayuran


Karakteristik ubi jalar di setiap tempat pasti berbeda karena dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti curah hujan, temperatur, ketinggian, jenis tanah, dan Ph tanah pada daerah tumbuh tanaman tersebut. Tanaman ini tumbuh dengan umbi yang berada di bawah tanah dan memiliki beragam varietas dengan warna kulit dan daging yang bervariasi, seperti oranye, ungu, dan putih.

Pada tanaman yang berasal dari stek batang, akarnya akan muncul dari setiap nodus yang tertanam di tanah. Akar ini terbagi menjadi dua, yakni akar serabut yang tumbuh memanjang dan akar yang berkembang menjadi umbi untuk menyimpan cadangan makanan.

Batang ubi jalar memiliki tipe herbaceous (basah/lunak), berbentuk bulat, licin, dan tumbuh merambat di permukaan tanah. Batang ini memiliki percabangan tipe geragih atau stolon yang dapat membentuk individu baru dari buku-bukunya.

Daun dari ubi jalar termasuk daun tunggal dengan tata letak pada batang folia sparsa 2/5. Daun ubi jalar memiliki bangun bulat atau bundar (orbicularis) dengan ciri-ciri perbandingan panjang dan lebarnya 1:1. Tepi daun ini memiliki goresan yang menjari dan terbagi menjadi beberapa bagian.


Umbi dari tanaman ubi jalar yang banyak dimanfaatkan


Seperti jari-jari pada telapak tangan (palmati lobus) dengan susunan tulang daun berjumlah gasal. Dimana yang ditengah paling panjang dan besar sedangkan semakin kesamping semakin pendek serta tulang daunnya menjari. Selain itu, daun ubi jalar memiliki pangkal yang datar atau rata, sementara ujung daunnya meruncing.

Baca juga : Ganyong, Tanaman Umbi-umbian Tropis Kaya Karbohidrat dan Gizi Alternatif Pengganti Beras

Bunga pada ubi jalar termasuk bunga majemuk berbatas, yaitu bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya selalu ditutup dengan suatu bunga, jadi ibu tangkai mempunyai pertumbuhan yang terbatas. Ibu tangkai ini dapat pula bercabang-cabang, dan cabang-cabang tadi seperti ibu tangkainya juga yang akan menghasilkan suatu bunga pada ujungnya.


Ubi jalar Cilembu


Terdiri dari 3-5 bunga, bunga berbentuk terompet, daun kelopak berjumlah 5 dengan susunan imbricata quincuncialis. Daun mahkota berjumlah 5 gamosepalus, imbricata terpunir kekanan. Memiliki androecium sebanyak 5 dengan posisi benang sari pada bunga yang berhadapan dengan daun-daun kelopak (episepalus). Posisi bakal buah ubi jalar superus terdiri dari 4 karpelum sinkarp.

Warna daging umbi ubi jalar bervariasi dari putih, kuning, orange, hingga ungu. Varietas ungu secara spesifik mengandung pigmen antosianin yang berfungsi sebagai pewarna alami dan sangat dipengaruhi oleh pH lingkungan.

Terdapat beberapa jenis ubi jalar yang memiliki kandungan nutrisi bervariasi, antara lain ubi jalar oranye, termasuk ubi Cilembu yang terkenal manis dan mengandung banyak beta-karotennya. Lalu ada ubi jalar ungu yang memiliki kandungan antioksidan tinggi dan Ubi jalar putih yang memiliki tekstur halus dan rasa yang lebih lembut.

Umbi dari ubi jalar memiliki daging lembut dengan rasa manis alami yang bisa dijumpai di berbagai daerah. Ubi jalar bisa menjadi makanan pokok karena mengandung karbohidrat yang tinggi dan kaya akan serat. Kandungan vitamin dan mineralnya yang berlimpah juga sangat penting bagi kesehatan tubuh.


Ubi jalar ungu yang kaya anti oksidan


Ubi jalar kaya akan karbohidrat kompleks, serat, kalsium, serta vitamin A dan C. Khusus varietas ungu, kandungan antosianinnya memiliki manfaat kesehatan yang besar, termasuk sebagai antioksidan, antibakteri, antikanker, serta pelindung terhadap penyakit jantung dan stroke.

Baca juga : Garut, Tanaman Umbi Sumber Pangan Bernutrisi

Vitamin A yang dihasilkan dari kandungan beta-karoten dalam ubi jalar penting untuk menjaga kesehatan mata dan merawat kemampuan penglihatan. Sedang kandungan vitamin C dalam ubi jalar berperan menggenjot produksi sel kekebalan seperti limfosit bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan infeksi virus ataupun bakteri.


Sayur daun ubi jalar yang nikmat


Kalium yang terdapat dalam ubi jalar terkenal bisa membantu menekan risiko penyakit jantung yang berkaitan dengan tekanan darah tinggi. Mineral elektrolit ini dapat menjaga cairan dalam tubuh tetap seimbang dan mengendalikan tekanan darah sehingga dapat pula mencegah penyakit kardiovaskular lain seperti stroke.

Meski menyandang gelar “superfood”, bukan berarti ubi jalar aman dari risiko kesehatan. Konsumsi yang berlebihan dan pengolahan ubi jalar yang tidak tepat justru bisa mendatangkan masalah kesehatan, antara lain peningkatan kadar gula darah, gangguan hormonal, kerusakan saraf, hingga kanker karena adanya residu pestisida, terutama dari ubi jalar non-organik. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Ubi Jalar, Sumber Pangan Alternatif yang Kaya Nutrisi


Minggu, 03 Mei 2026

Team Gerbong Maut Gelar Latber Tapal Kuda, Juara Direbut Rahayu Kopral dan Adidas



Komunitas puter pelung mania Gerbong Maut Bondowoso, kembali menghadirkan gelaran. Acara ini diperuntukkan buat rekan-rekan yang selalu merindukan acara kumpul bareng, pantau bersama puter pelung orbitannya dan menjalin silaturahmi sesama penggemar, penghobi, dan peternak puter pelung di Tapal Kuda.

Acara yang masuk agenda Pengcab PPPPSI Bondowoso itu digelar pada Minggu, 26 April 2026 dengan lokasi di Gantangan Gerbong Maut Pemkab Bondowoso di Pasar Hewan Terpadu Selolembu, Kec Curahdami-Bondowoso. Seperti pada gelaran sebelumnya, acara tetap sama, yakni membuka partai kelas Utama, Madya, dan Pemula.


Tim Gerbang Maut Bondowoso


Menurut Ketua Pelaksana, H. Ichwanto , tujuan dari acara ini. adalah menjalin tali silaturahmi penghobi puter pelung di wilayah Tapal Kuda. H. Ichwanto terus melakukan aksi nyata dan positif, menjadikan organisasi hobi puter pelung sebagai wadah menyalurkan hobi dan menyambung rasa memiliki antar komunitas yang ada.

“Hari ini kami kembali mengadakan kegiatan Lomba Puter Pelung Tapal Kuda,” jelas H. Ichwanto Ketua Pengcab PPPPSI Bondowoso. Kegiatan ini sebagai wujud eksistensi dunia hobi puter pelung di Bondowoso dan daerah Tapal Kuda, dengan harapan agar bisa memberikan efek positif pada daerah sekitar.


Anggota keluarga juga dilibatkan dalam kepanitiaan


“Kami berusaha untuk terus menggelorakan hobi puter pelung dengan harapan dan tujuan agar bisa lebih memasyarakat dan bisa ikut terlibat dalam setiap kegiatan,” papar H. Ichwanto. Dengan adanya kegiatan rutin, maka ada harapan untuk bisa mengajak masyarakat agar mau bergabung dalam komunitas penghobi, peternak, dan pelomba puter pelung.

Kegiatan ini murni untuk memberikan wadah agar puter pelung mania bisa tetap eksis menyalurkan hobinya. Seperti pada gelaran-gelran sebelum, acara tetap mendapatkan respon positif dari peserta. Terbukti dari banyaknya burung yang berada di atas gantangan.


Acara dipandu oleh Ibatha yang begitu atraktif


Tiket yang disediakan menjadi serbuan peserta. Memang belum seperti yang diharapkan, tetapi animo para penghobi untuk menghadiri kegiatan lomba masih tetap baik. “Kami mengajak puter pelung mania Tapal Kuda untuk melombakan burung gacoannya di Latber Tapal Kuda yang membuka kelas Utama, Madya, dan Pemula,” jelas H. Ichwanto

Peserta datang dari berbagai kota yang ada di wilayah Tapal Kuda Jawa Timur. Nampaknya gelaran lomba burung puter pelung inilah yang jadi magnit bagi puter pelung mania untuk datang. Antusias puter pelung mania Tapal Kuda untuk mengikuti acara tersebut terbilang masih cukup besar.


Suasana penjurian Latber Tapal Kuda


“Alhamdulillah keinginan rekan-rekan untuk mengikuti kegiatan ini masih cukup besar,” jelas H. Ichwanto. Ketua Pengcab PPPPSI Bondowoso ini memang getol mengajak daerah-daerah di Tapal Kuda untuk secara rutin membuat kegiatan lomba secara bergantian. Dengan demikian hobi puter pelung tetap bisa berjalan.

Suasana gayeng antar penghobi menjadi pemandangan yang selama ini selalu dirindukan ketika hadir di gantangan. Tidak nampak teriakan berlebihan yang membuat suasana semakin panas. Peserta yang duduk lesehan menikmati benar suara puter pelung di atas gantangan. Suasana yang penuh kedamaian, asyik, dan membuat rasa kekeluargaan semakin kuat.


Penghobi di Tapal Kuda antusias memenuhi undangan Pengcab Bondowoso untuk turun berlomba


Diakhir penjurian, penentuan kejuaraan dilakukan. Untuk podium pertama di kelas Utama berhasil menjadi milik Rahayu andalan Slamet Situbondo, puter pelung ring Arjuna 18 yang berada di gantangan nomor 8. Lalu di tempat kedua ada Raja Tega gaco Danu Situbondo ring W2P yang berada di nomor gantangan 15 dan tempat ketiga diraih Ki Dewo orbitan Rojaa BF Probolinggo ring Neon 171 yang menempati nomor gantangan 7.

Di kelas Madya, podium pertama berhasil di raih Kopral amunisi Abah Yanto Lumajang, puter pelung ring Lokananta 111 yang digantang pada nomor 37. Adidas milik Ibatha Bondowoso ring Ibata 09 yang berada di gantangan nomor 40 raih juara kedua. Tempat ketiga direbut Sengkuni ring Aorora 224 milik Aorora Lumajang di gantangan 38.


Juara tiga besar di kelas Utama


Untuk podium pertama di Pemula berhasil diraih oleh Adidas milik Ibatha Bondowoso yang digantang pada nomor 11. Ki Gettar milik P. Woko Bondowoso yang digantang pada nomor 20 jadi juara kedua. Dan Bintang Sembilan besutan Zakaria Bondowoso menempati nomor gantangan 25 berhasil melengkapi posisi tiga besar.

Diakhir acara, panitia mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan, kerjasama dan kehadiran peserta sehingga pelaksanaan bisa berlangsung meriah dan penuh dengan semangat. Permintaan ma’af juga disampaikan jika selama acara, ada hal-hal yang kurang berkenan. “Target ke depan Team Gerbong Maut berencana mengadakan Latpres Puter Pelung,” jelas H. Icwanto. “Diperkirakan pada bulan Juni atau Juli, mohon doanya.” (Ramlee/TM)





Jumat, 01 Mei 2026

Tumenggungan Cup PPDSI Blitar, Bangkitkan Gairah Dekoe Mania, Kaisar Muda dan Den Bagos Rebut Juara



Lomba burung derkuku yang digelar oleh Pengcab PPDSI Blitar bertajuk “Temenggungan Cup”, pada hari Minggu 26 April 2026 di Lapangan Desa Temenggungan Kec Udanawu Kab Blitar, berjalan semarak. Agenda ini, betul-betul berlangsung ramai dibanjiri dekoe mania dari berbagai kota selain dari Blitar sendiri tentunya.

Cuaca cerah pagi itu, mampu membakar semangat para dekoe mania yang hadir, untuk mengawal jago andalannya, agar bisa duduk di podium juara. Pramono, S.E. selaku Kepala Desa Temenggungan, nampak sangat antusias saat membuka acara lomba ini. Pramono yang juga selaku Ketua Panitia mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada semua dekoe mania yang hadir.


Pramono SE. Kades Temenggungan, Ketua Penyelenggara



Pramono ikut menikmati gelaran lomba derkuku di wilayahnya tersebut dan berharap gelaran lomba bisa sukses dan lancar tanpa ada kendala apapun. Adanya acara lomba seperti itu secara tidak langsung juga dapat menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar lokasi.

Selain itu, Pramono juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh kru panitia yang sudah bekerja keras. “Pada pagi ini semua siap untuk melaksanakan lomba derkuku. Dan lomba ini bukan satu-satunya tujuan kita untuk menggapai juara. Tapi ada hal yang lebih penting lagi, yaitu terjalinnya silataturahmi antar penghobi semuanya.”


Temenggungan Cup tak menyisakan satu pun tiang


“Dan mudah-mudahan kita bisa terus melaksanakan dan berkumpul di tempat ini untuk kebersamaan kita semua,” harap Pramono. Acara semacam ini diharapkan dapat kembali membangkitkan gairah dekoe mania yang saat ini dirasa sedikit menurun.

Salah seorang penghobi burung derkuku pun menyampaikan pada media bahwa setiap waktu harus ada kegiatan lomba walaupun kalibernya kecil. Yang penting hobi derkuku di Blitar dan daerah sekitarnya tetap dapat tersalurkan dengan baik.


Panitia Pelaksana


Karena acara-acara seperti ini dapat memberikan wadah bagi dekoe mania pemula atau baru, untuk bersama-sama tampil dan eksis menekuni hobi derkuku demi semaraknya hobi. Kehadiran para peserta dari berbagai penjuru kota, membuat gelaran ini terasa begitu luar biasa.

Terbukti dua kelas yang dibuka oleh panitia penuh sesak. Kelas Pemula disediakan 72 gantangan dan kelas Bebas sebanyak 36 tiang penuh tak tersisa. Peserta datang dari Kediri, Nganjuk, Tulungagung, Trenggalek, Sidoarjo, Surabaya, dan Blitar sendiri selaku tuan rumah.


Acara didukung penuh oleh penghobi derkuku, salah satunya dari Ngunut-Tulungagung



Membludaknya peserta sudah terlihat sejak info pendaftaran dibuka. Jelang pelaksanaan, panitia sampai bingung menerima pendaftaran peserta yang terus berdatangan. Bahkan beberapa harus menerima burung yang didaftarkan harus masuk di kelas Bebas, padahal semestinya masuk di kelas Pemula. Itupun masih ada beberapa pendaftar yang harus mengurungkan niatnya mengerek jagoannya, karena telah penuh.

Rupanya Temenggungan Cup juga jadi ajang uji mental dan kualitas anggung bagi jago-jago derkuku muda. Sekaligus sebagai persiapan dan pemanasan sebelum menuju Lomba Besar Piala KGPAA. Paku Alam X (LDI 2026 putaran ke-2) di Yogyakarta pada 10 Mei 2026 nanti.


Joko PN BF dan Bambang TKL TKL BF, sesepuh derkuku Tulungagung


Pagi itu, cuaca Desa Temenggungan betul-betul sangat mendukung, matahari bersinar terang. Kondisi cuaca seperti inilah yang memang diharapkan oleh dekoe mania peserta lomba, agar jagoannya bisa tampil top form. Dan begitu peluit dibunyikan sebagai tanda babak pertama Temenggungan Cup dimulai sontak saja, suasana lapangan pun berubah menjadi lebih ramai.

Selain ramai oleh suara anggung merdu dari jago-jago derkuku, suara teriakan-teriakan kecil dari sang joki maupun pemilik, memanggil nomor gantangan dan nama jago derkuku yang berlaga. Namun suara teriakan itu tidak sampai mengganggu jalannya lomba, mereka sekedar memberitahu juri yang bertugas jika burung andalannya berbunyi.


Mbah Demang terima bendera koncer kelas Bebas dari Pramono SE


Persaingan adu kualitas anggung antar jago derkuku, betul-betul terasa sangat seru dan ketat. Karena masing-masing jago, nampak sama-sama ngotot untuk memamerkan anggung suara emasnya di hadapan tim juri yang bertugas agar mendapat nilai tertinggi.

Sementara tim juri, terlihat fokus untuk memperhatikan dan mendengar kualitas anggung dari masing-masing jago yang melepas suaranya. Mana burung yang memang punya kualitas anggung merdu dan yang masih kurang dinilai sesuai dengan aturan penilaian, tidak sekedar gacor saja.


Para juara di kelas Bebas


Setelah melalui persaingan ketat selama empat babak penuh penilaian, akhirnya juri perumus, menetapkan 10 nominasi kejuaraan untuk kelas Bebas. Serta 20 nominasi kejuaraan untuk kelas Pemula sesuai dengan jumlah/peringkat nilai dari masing-masing burung (jago) yang didapat.

Di kelas Bebas, podium pertama berhasil direbut oleh Kaisar Muda. Derkuku bergelang MKS 1302 yang jadi andalan Mbah Demang Kediri yang ada di tiang nomor 19 ini sukses juara setelah berhasil meredam ambisi lawan-lawannya dengan raihan bendera enam warna di tiga babak.


Imam harus menerima guyuran air setelah Den Bagos juara di kelas Pemula


Sharukan ring JBKRM andalan Karim Kediri yang dikerek pada nomor 5 rebut juara kedua dengan raihan bendera enam warna selama dua babak. Di tempat ketiga dimenangkan Garudo orbitan N3 BF Tulungagung ternakan N3 yang dikerek pada nomor 14 degan raihan bendera 6 warna sekali. Total ada empat burung yang berhasil mendapatkan enam warna, satunya adalah Billal milik Karim yang ada di posisi 4.

Di kelas Pemula, juara pertama jadi milik Den Bagos besutan Imam dari Blitar di tiang 96. Jago bergelang Aditya ini mampu menerobos barisan paling depan, setelah aksinya sepanjang empat babak tak mampu dibendung oleh lawan-lawannya. Diposisi kedua, berhasil direbut oleh Joko Bores ring PM 780, milik Aris Madu Blitar yang ada tiang 51. Lalu posisi ketiga di tempati oleh Garong orbitan Tegar Blitar.


Para juara di kelas Pemula


Rencananya kegiatan ini akan diusahakan rutin digelar secara bergiliran dari satu lokasi ke lokasi lain. “Direncanakan nantinya setiap 2 bulan sekali akan diadakan gelaran latber, latbernil, atau lomba besar biar semakin ramai,” ujar Mbah Demang yang giat menghidupkan lomba bersama panitia pelaksana, dengan harapan akan semakin ramai hobi ini. “Terbukti tadi banyak peserta baru yang hadir dari kota Blitar dan sekitar,” tutur Mbah Demang di akhir acara. (Ramlee/MD)











Sabtu, 25 April 2026

Cobra dan Oscadon Sukses Juarai Latber Perkutut Lokal Irama dan Warna Nganjuk, Kung Mania Luar Daerah Ramaikan Gelaran



Minggu pagi, 19 April 2026, Lapangan P3SI Pengda Nganjuk, Sombron Kec Loceret Nganjuk, diramaikan oleh kehadiran penghobi anggungan perkutut lokal irama. Mereka hadir dalam rangka memenuhi undangan panitia Latber Perkutut Lokal Asli Irama dan Perkutut Warna.

“Hari ini kami kembali menggelar acara Latber Perkutut Lokal Asli Irama dan Perkutut Warna,” tutur Didik Sugeng Ariyadi penggagas acara sekaligus Ketua Panitia. “Event ini sebenarnya sudah beberapa kali tertunda, Alhamdulillah hari ini akhirnya bisa terlaksana.”


Penghobi dari Ponorogo hadir dengan beberapa burung gacoannya


Panitia membuka dua kelas yakni kelas Perkutut Lokal Asli dan kelas Perkutut Warna. Antusias peserta terbilang luar biasa, latber ini juga mampu menarik perhatian peserta dari luar kota Nganjuk. Buktinya, beberapa peserta dari Tuban, Ponorogo, dan Kediri, ikut hadir untuk mensukseskan ajang Latber Perkutut Lokal Asli Irama dan Perkutut Warna tersebut.

Meskipun gantangan yang disediakan tidak penuh terisi, namun dukungan para mania membuat panitia gembira. “Alhamdulillah dukungan dari rekan-rekan masih tetap tinggi. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas apa yang sudah diberikan,” ucap Didik.


Para peserta bersiap menaikkan burung jagoannya


“Pada lomba kali ini ternyata rekan-rekan tetap semangat hadir meskipun beberapa kali sempat tertunda dengan membawa serta gacoannya,” tambah Didik. “Ternyata rekan-rekan sudah rindu untuk menampilkan kembali gaco-gaconya di atas tiang gantangan.”

Momen ini juga sekalian dimanfaatkan sebagai ajang temu kangen dan silaturahmi serta halal bihalal, karena bisanya ketemu di lapangan saat ada acara seperti ini. Didik mengatakan bahwa kegiatan ini sebenarnya sudah diusahakan untuk terus terjadi secara berkesinambungan.


Cuaca cerah mengawal acara hingga usai


“Kami sebenarnya sudah upayakan kegiatan ini berjalan secara kontinyu. Kalau bisa ya setiap bulan selalu ada kegiatan agar penghobi perkutut lokal asli irama disini bisa terus menyalurkan hobinya,” jelas Didik. “Biar hobi perkutut lokal asli irama di Nganjuk dan daerah sekitarnya tetap eksis.”

Namun beberapa kali acara yang sudah diagendakan secara matang harus gagal terlaksana dengan berbagai kendala yang ada. “Karena sebenarnya penghobi burung perkutut lokal asli irama di Nganjuk juga banyak, tidak kalah dengan burung anggungan lainnya.” lanjut Didik.


Para pecinta perkutut lokal asli irama menikmati jalannya lomba


Kehadiran gaco-gaco dari luar kota menambah persaingan menuju juara. Acara pun akan berjalan ramai, ketat, dan seru. Karena masing-masing jago yang ada, berusaha keras untuk bisa meraih posisi terdepan. Jalannya lomba pun terasa semakin gayeng.

Begitu peluit tanda babak pertama dibunyikan. Suasana arena latber pun menjadi ramai oleh suara anggung merdu yang dilepas jago-jago yang ada di atas tiang gantangan. Persaingan sengit untuk bisa mendapat nilai tertinggi dari kru juri yang bertugas terjadi hampir di setiap babak penilaian.


Peserta dari Tuban semakin exsis main di perkutut lokal irama


Cuaca cerah mendukung kegiatan tersebut. Empat babak penjurian berhasil dilakukan tanpa ada kendala. Sampai akhirnya ditetapkan posisi kejuaran. Untuk kelas Lokal Asli, podium pertama berhasil menjadi milik Cobra, amunisi Agus B Nganjuk, yang dikerek pada nomor 15.

Bopo Wiro Crumo andalan Dwijo Tuban yang menempati tiang gantangan nomor 6 sukses rebut posisi kedua setelah bertarung ketat dengan sang juara. Tempat ketiga dimenangkan Bodrex orbitan Ridwan Ponorogo, yang berada di tiang kerekan nomor 10.


Para juara berfoto bersama


Untuk kelas Perkutut Warna, juara pertama dimenangkan Oscadon amunisi Ridwan Ponorogo, yang ada tiang nomor 34. Kemudian juara dua jadi milik Kenthongan andalan Ribut Tuban, yang berada di nomor gantangan 36. Dan tempat ketiga diraih oleh Blac orbitan Abah Nganjuk, yang digantang pada nomor 40.

“Saya dan panitia serta mewakili tim juri yang bertugas, mohon ma’af, jika disepanjang pelaksanaan latber tadi masih banyak kekurangan. Mudah-mudahan gelaran berikutnya bisa memberikan yang lebih baik lagi,” tutup Didik. (Ramlee/DD)





Serak Jawa, Pemburu Malam Hama Tikus Sahabat Petani

Serak Jawa (Tyto alba) merupakan salah satu burung predator atau burung pemangsa yang dapat memangsa kelompok burung dan mamalia kecil. Bur...