Sabtu, 11 April 2026

Owa, Primata Endemik Indonesia Berlengan Panjang yang Kian Langka



Owa merupakan primata kecil lincah tanpa ekor, dikenal karena gaya berayunnya yang akrobatik (brakiasi) di pepohonan. serta bergerak dengan kedua tungkai. Hewan satu ini memiliki bentuk tubuh yang kecil dan ramping yang sangat mirip dengan monyet.

Owa atau Ungka atau Wau-wau atau Wak-wak adalah primata yang termasuk dalam keluarga Hylobatidae. Keluarga Hylobatidae ini dibagi menjadi empat genus berdasarkan jumlah kromosom diploidnya: Hylobates (44), Hoolock (38), Nomascus (52), dan Symphalangus (50).

Owa adalah hewan endemik Asia Tenggara. Di Indonesia, habitat alami Owa tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Owa dalam bahasa Inggris disebut Gibbon. Ada sekitar 20 spesies Owa di dunia, 9 di antaranya hidup di Indonesia.


Owa Jawa (Hylobates moloch)


Sembilan jenis Owa yang ada di Indonesia adalah Owa Jawa (di Pulau Jawa). Lalu ada Owa Siamang, Owa Bilau, Owa Ungko, dan Owa Serudung di pulau Sumatera. Sedang di Pulau Kalimantan ada Owa Jenggot putih, Owa kalempiau utara, Owa kalawat, dan Owa kalempiau barat.

Baca juga : Siamang, Primata Kera Hitam Berlengan Panjang Bersuara Keras dari Sumatera

Ukuran tubuh Owa relatif kecil, badannya terlihat kurus, serta ramping, gerakannya lincah. Owa mempunyai kepala bulat kecil, lengannya panjang, dan jari-jarinya panjang namun jempolnya relatif pendek. Pergelangan tangan owa juga dilengkapi dengan sendi peluru.


Owa Kalawat (Hylobates albibarbis)


Tubuh Owa ditutupi oleh rambut yang tebal, halus, berwarna cokelat terang hingga cokelat gelap. Rambut Owa menutupi sebagian besar bagian tubuh, kecuali wajah, jari, telapak tangan, telapak kaki, dan ketiak. Rahang kecil ungka atau owa dilengkapi dengan gigi taring tajam. Owa betina umumnya lebih berat daripada ungka jantan.

Satwa bernama Owa ini dikategorikan sebagai hewan arboreal karena menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berayun di pohon-pohon. Satwa unik ini banyak ditemukan hidup di hutan hujan tropis. Owa juga dikenal sebagai “penjaga hutan”.

Satwa Owa memainkan peran penting dalam penyebaran biji-bijian dan menjaga kelestarian hutan tropis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Makanan favorit Owa berupa buah-buahan yang dikonsumsi selama perburuan di siang hari. Selain buah, Owa juga mengonsumsi tunas muda, daun, biji, kulit, dan bunga-bungaan. Telur dan serangga juga merupakan bagian dari makanan Owa.

Satwa ini memiliki lengan panjang yang memungkinkannya untuk berayun dari satu cabang ke cabang lain atau dari satu pohon ke pohon lain dengan mudah. Jari-jari Owa yang panjang dapat digunakan untuk memegang cabang pohon dengan sangat baik.


Owa Serudung (Hylobates lar)


Gerakan ayunan lengannya ini disebut brachiation, Owa mampu berayun sejauh 15 meter di atas pohon dengan kecepatan sekitar 35 mil per jam. Di antara mamalia yang bertempat tinggal di pohon dan tidak bisa terbang, Owa adalah yang paling cepat dan lincah.

Baca juga : Yaki, si Hitam Berpantat Merah Primata Endemik Sulawesi Utara yang Terancam Punah

Selain berayun, primata ini juga terkenal karena gerakan kedua tungkainya (bipedal). Owa berjalan dengan kedua tungkai yang dibantu lengannya untuk menjaga keseimbangan. Owa akan menumpukan berat badannya di tangan dan kemudian mengayunkan kakinya. Karena tidak bisa berenang, biasanya Owa memilih untuk menghindari air.


Owa Ungko (Hylobates agilis)


Berbeda dengan kera yang lebih besar seperti Gorila, Owa tidak membangun sarang sendiri. Satwa ini memiliki ischial callosities, bantalan berdaging tanpa saraf yang melekat pada tulang pinggul yang memungkinkannya untuk tidur dalam posisi duduk.

Owa sering ditemukan tidur dengan posisi duduk di percabangan pohon dengan kepala terselip di pangkuan dan lengan panjangnya memeluk lututnya. Sekelompok Owa biasanya tidur pada pohon yang sama selama beberapa waktu tertentu. Owa termasuk primata diurnal, yakni aktif di siang hari dan sekitar sepuluh setengah jam dalam sehari.

Satwa ini merupakan satwa teritorial, Owa memiliki nyanyian (suara) khas di pagi dan sore hari. Owa juga memiliki suara nyaring yang bisa terdengar hingga 1 kilometer, suara yang biasanya digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain dan menandai wilayah teritorialnya. Nyanyian ini juga berfungsi sebagai penanda wilayahnya jika ada serangan dari kelompok Owa lain.

Habitat Owa berada di hutan yang masih asri untuk bergelantungan, mencari makan, dan bersosialisasi. Owa termasuk satwa arboreal menghabiskan waktunya di pepohonan untuk melakukan aktivitasnya. Owa biasanya tinggal berkelompok yang terdiri dari Owa Jantan dan betina dengan 1 atau 2 anak yang masih belum dewasa.


Owa Kalampiau Barat (Hylobates muelleri)


Keberadaan Owa juga dianggap sebagai indikator kualitas hutan. Kehadiran satwa ini di suatu kawasan hutan menunjukkan bahwa ekosistem tersebut masih sehat dan lestari. Dengan perilaku Owa yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan hewan lain.

Baca juga : Kukang, Primata Lucu dan Pemalu Memiliki Gigitan Berbisa yang Semakin Langkah

Hilangnya keberadaan Owa tentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem hutan. Ketika masih ada Owa, itu berarti hutan yang ditinggalinya masih lestari. Sayangnya, populasi spesies Owa di Indonesia kian berkurang. Hal ini disebabkan oleh ulah manusia yang kurang memperhatikan ekosistem hutan.


Owa Kalampiau Utara (Hylobates funereus)


Ancaman dan konflik yang terjadi pada Owa adalah penyusutan habitat dan alih fungsi hutan menjadi ancaman serius keberadaan Owa di Indonesia. Spesies ini telah masuk dalam daftar hewan yang terancam punah karena perdagangan satwa secara ilegal, serta perburuan liar untuk dijadikan satwa peliharaan.

Menurut Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), Owa dikategorikan sebagai satwa dengan status Endangered (Terancam Punah). Status ini menunjukkan, spesies ini menghadapi risiko tinggi mengalami kepunahan di alam liar jika tidak ada upaya konservasi yang serius. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Owa, Primata Tanpa Ekor yang Gesit Berayun di Pohon Kini Terancam Punah


Minggu, 05 April 2026

Iris, Tanaman Hias Unik dengan Kelopak Menyerupai Anggrek



Iris (Iris spp.) merupakan tanaman hias elegan dari keluarga Iridaceae yang terkenal karena kelopaknya yang unik menyerupai anggrek dan beragam warnanya, melambangkan harapan dan kebijaksanaan. Nama Iris berasal dari kata Yunani untuk “pelangi”, mencerminkan variasi warnanya yang luas (biru, ungu, kuning, putih) yang tumbuh dari rimpang atau umbi.

Iris adalah salah satu jenis bunga yang memiliki daya tarik estetika yang unik dan makna mendalam. Bunga ini memiliki asal usul yang kaya dengan mitos dan legenda, serta memberikan manfaat bagi manusia. Tidak hanya itu, warna dari bunga Iris juga memiliki arti yang berbeda-beda disetiap warnanya.

Tumbuhan ini berasal dari Afrika Barat dan Amerika Selatan, namun juga dapat tumbuh di Indonesia, salah satunya di Gunung Prau. Bunga Iris telah terkenal di beberapa penjuru dunia semenjak periode Yunani, Romawi, atau Mesir Kuno. Di Yunani Kuno, mempunyai kaitan dengan legenda yang bertahan hingga hari ini bahwa bunga-bunga ini berasal dari dewi pelangi, Iris.


Tanaman Iris sangat adaptif, bisa tumbuh di lahan basah maupun kering


Selain itu, bunga Iris juga telah dibudidayakan sejak abad 13 SM di Suriah, saat itu Raja Thutmose III menggunakannya sebagai bahan pembuat parfume dan persembahan para dewa. Raja Thutmose III adalah salah satu raja terhebat dalam sejarah Mesir, memiliki minat yang mendalam terhadap tumbuhan dan kebun.

Baca juga : Anggrek Bulan, Salah Satu Jenis Anggrek Paling Terkenal dan Populer 

Raja Thutmose tidak hanya seorang penguasa yang bijaksana, tetapi juga seorang tukang kebun yang rajin. Ketika Thutmose III memimpin ekspedisi militer ke wilayah Suriah, keindahan bunga iIis yang tumbuh di sana berhasil memukau hatinya. Bunga Iris dengan kelopak-kelopak beraneka warna dan aroma yang menyegarkan menghadirkan daya tarik yang tidak terelakkan bagi Raja Thutmose III.


Tanaman Iris berkembang biak dengan umbi dan biji


Pesona alami bunga Iris ini mengilhaminya dalam menciptakan kebun-kebun istana yang indah di tanah Mesir. Raja Thutmose terkenal akan upayanya dalam mengumpulkan berbagai jenis tanaman dari berbagai wilayah yang dikunjunginya, termasuk Iris dari Suriah.

Pesona bunga ini ternyata tidak hanya mempengaruhi Raja Thutmose III, tetapi juga masyarakat Mesir kuno pada umumnya. Tidak hanya sebagai simbol keindahan alam, tetapi juga memiliki konotasi spiritual dan kekuatan magis. Kemunculan bunga Iris dalam seni, ukiran, dan hiasan-hiasan istana menjadi bukti bagaimana bunga ini meresap ke dalam budaya Mesir kuno.

Keindahan dan pesona bunga iris dari Suriah tidak berhenti pada masa pemerintahan Raja Thutmose III. Tanaman ini tetap terjaga keberadaannya oleh para tukang kebun dan pecinta alam, dari generasi ke generasi hingga saat ini. Keindahan alami Iris terus menginspirasi seniman, penyair, dan individu-individu yang menghargai keindahan alam.

Bunga ini memiliki 3 kelopak dalam (standar) yang tegak dan 3 sepal luar (fall) yang menggantung atau menyebar, seringkali dengan “jenggot” (garis bertekstur) pada varietas berjenggot, membuatnya populer untuk taman dan rangkaian bunga.


Bearded Iris (Iris germanica)


Bunga Iris memiliki bagian utama seperti rimpang/umbi (akar menjalar). Umbi ini merupakan batang bawah tanah tebal yang menyimpan makanan dan berfungsi sebagai perbanyakan utama, menghasilkan tunas baru. Iris dapat tumbuh dari rimpang (datar dan menjalar) atau umbi (pendek dan berbentuk kerucut) tergantung spesiesnya.

Baca juga : Bunga Tasbih, Tanaman Berbunga Cerah dengan Segudang Manfaat

Iris mempunyai daun tunggal, berbentuk lanset memanjang, ramping, ujung runcing, menyerupai pedang, dan tumbuh dari pangkal tanaman. Daun Iris mempunyai panjang 25-40 cm, lebar 1,5-3 cm. Permukaan daun licin dan mengkilat dengan wama hijau kebiruan. Ada daun basal yang rapat dan ada yang tumbuh dari umbi, seringkali membentuk kipas.


Siberian Iris (Iris sibirica)


Batang Iris berbentuk panjang dan tegak yang muncul dari rimpang/umbi. Batang pada tumbuhan Iris merupakan batang basah (semu) dengan bentuk batang berkayu dan bulat. Tipe percabangan pada batang adalah monopodial dan arah tumbuhnya batang adalah tegak lurus.

Batang ini membawa bunga di puncaknya. batang Iris bisa tunggal, bercabang, atau berongga, bervariasi tingginya. Tumbuhan Iris memiliki model arsitektur pohon yaitu Roux. Arsitektur pohon model Roux yaitu batang merupakan monopodium ortotrop. Cabang padanya tersusun kontinu atau tersebar dan filotaksis batang adalah spiral. Cabang plagiotrop, dan filotaksis distik atau cenderung distik.

Bunga pada tumbuhan Iris terletak pada ujung batang (flos terminalis) dengan simetri bungan beraturan. Tangkai bunga berbentuk bulat atau silindris. Benang sari yang berjumlah 3 stamen dan duduk pada dasar bunga. Stamen terdiri dari tangkai, dimana tangkai stamen ini berbentuk ramping silinder padat .

Dan diujung distal terdapat kepala sari yang umumnya sedikit gemuk serta terdiri dati 4 kantung sari. Pada stamen bunga Iris kuning juga terdapat penghubung ruang sari yang merupakan lanjutan dari tangkai sari yang menjadi penghubung kedua bagian kepala sari.


Blue Flag Iris (Iris versicolor)


Pada bagian bunga terdapat 3 karpel, 3 kepala putik, 1 tangkai putik. 3 karpel tersebut saling berlekatan namun kepala karpel saling terlepas. Karpel yang terdiri lebih dari 1 disebut putik majemuk atau pistillum compositum. Bakal buah pada tumbuhan Iris tenggelam dan beruang 3. Setiap ruang biji berjumlah banyak. Buah berupa buah kotak dengan biji yang banyak.

Baca juga : Amarilis, Tanaman Hias Berbunga Besar dan Berwarna-warni yang Mekar Setahun Sekali

Bunga Iris banyak dibudidayakan di berbagai belahan bumi di seluruh dunia. Bunga ini termasuk bunga “perennial” yang artinya salah satu bunga yang dapat hidup lebih dari 2 tahun. Bentuk bunga Iris cukup unik dengan warna yang bervariasi seperti warna biru, putih, biru keunguan, pink, ungu kecoklatan, kuning, dan orange. Bahkan ada yang berwarna hitam, tetapi tidak ada yang benar-benar berwarna merah asli.


Louisiana Iris (Iris louisiana)


Salah satu keistimewaan bunga Iris adalah bisa tumbuh di darat maupun di air. Iris berkembang biak dengan akar rimpang (rhizome) atau biji. Iris ada dalam dua jenis utama, yaitu berdaun bulu dan berdaun tak berbulu. Biasanya, kebanyakan bunga iris mekar dari akhir musim semi hingga awal musim panas. Terdapat berbagai jenis dan varietas bunga iris yang memikat dengan keunikan dan keindahannya.

Berikut beberapa di antaranya, yakni Iris Germanica (Bearded Iris), Iris Siberica (Siberian Iris), Iris Versicolor (Blue Flag Iris), Iris Jepang (Japanese Iris), dan Iris Louisiana (Louisiana Iris). Bunga iris bukan hanya sekadar hiasan taman, tetapi juga membawa makna dan simbolisme yang dalam. Dengan beragam warna dan bentuknya, mereka menghadirkan pesan-pesan tentang keberanian, cinta, harapan, dan keindahan dalam setiap helai kelopaknya. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Iris, Tanaman Invasif Berbunga Cantik yang Tahan di Lahan Kering Maupun Basah


Jumat, 03 April 2026

DMS-PEDES Gelar Latber Halal Bihalal, Kanjeng Mami Sukses Hattrick Juara, Sawunggalih Podium Pertama



Hobi burung derkuku di Sukoharjo terlihat masih tetap eksis. Kegiatan lomba masih bisa dirasakan dan dialami oleh dekoe mania setempat karena tergelar setiap bulan. Agenda paling anyar adalah Latber Halal Bihalal DMS-PEDES yang dihelat pada Minggu, 29 Maret 2026 kemarin.

Gelaran yang menempati lokasi di Lapangan Sukoharjo Kel. Kwarasan Grogol Kab. Sukoharjo membuka dua kelas yakni kelas Bebas dan kelas Pemula. Puluhan ekor derkuku memenuhi dua blok tempat gantangan yang disediakan untuk menyemarakkan kegiatan tersebut.


Support banner menjadi dukungan nyata dekoe mania


Informasi yang didapat bahwa kehadiran puluhan peserta tersebut hanya dalam kurun waktu yang tidak lama. “Alhamdulillah hari ini kami kembali mengadakan kegiatan sillaturahmi sekaligus kerek bareng bersama dekoe mania Solo dan Sukoharjo dalam agenda Latber Halal Bihalal,” terang H. Nur Ali Sasongko Ketua Pengcab Sukoharjo.

Keinginan panitia untuk bisa mengumpulkan para mania derkuku di lokasi acara, nampaknya menjadi salah satu usaha yang patut untuk diapresiasi. Betapa tidak, kesibukan mereka para peserta dan juga panitia menjadi satu diantara sekian faktor yang seringkali menghambat laju hobi.


H. Nur Ali Sasongko dan Agung Cahyanto pimpin briefing juri


Belum lagi, sebagian besar dekoe mania masih merayakan lebaran bersama keluarganya. Dibutuhkan sebuah perhatian khusus agar hobi bisa terus jalan dan tidak sampai mandek di tengah jalan. Setidaknya ada upaya untuk jemput bola agar dekoe mania disana bisa dipastikan masuk list pendaftaran.

“Setiap kali akan menggelar lomba, saya aktif mengajak rekan-rekan untuk ikut, makanya kadang saya minta bantuan yang lain untuk bisa aktif membantu saya,” ujar Jatmiko pemilik Jat Bird Farm Solo. Jatmiko mengaku bahwa dibutuhkan cara untuk mengajak rekan-rekannya agar mau turun lomba.


Nanang (MTJG BF), Wirasmo (MJZ BF), Budi S(Petir BF), Mbah Mien, dan di belakang ada Jito dan Sarno mengamati serius gacoanya


“Ketika akan menggelar lomba, panitia harus punya waktu ektra mengajak peserta untuk hadir. Dengan cara seperti ini, kami pun semakin dekat dan akrab dengan mereka,” ungkap Jatmiko. Berkat dukungan dan kerjasamanya yang luar biasa dari panitia dan juga beberapa pemain, akhirnya kegiatan tersebut mampu mencapai harapan.

Tiket di tiap-tiap kelas ludes terjual. “Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh peserta yang telah memberikan perhatian, dukungan, dan kehadirannya sehingga kegiatan Latber Halal Bihalal DMS-PEDES hari ini bisa berjalan sesuai harapan,” ujar H. Nur Ali Sasongko.

Diharapkan kedepan kegiatan-kegiatan seperti ini bisa lebih mendapatkan dukungan dan perhatian yang lebih besar lagi. Moment Latber Halal Bihalal ini dimanfaatkan sebagai ajang sillaturahmi sekaligus saling maaf memaafkan dan evaluasi diri.

“Jika ada masalah, mohon cukuplah diselesaikan di tempat saja sehingga permasalahan bisa langsung teratasi. Apalagi jika itu berkaitan dengan penjurian, karena juri juga manusia,” pinta H. Nur Ali Sasongko, kepada semua yang hadir di lapangan.


Wiwid Sword BF sukses mengantar hattrick Kanjeng Mami


“Tentu ada banyak kekurangannya dan kita wajib untuk saling koreksi. Juri-juri yang kita punyai ini harus kita berikan kesempatan untuk bekerja secara profesional tanpa adanya intervensi,” tegas H. Nur Ali Sasongko. Dengan begitu hobi yang sudah menjadi pilihan bisa tetap terjaga dengan baik.

Seperti dalam kegiatan-kegiatan sebelumnya, bahwasanya briefing juri menjadi rutinitas yang tidak pernah terlewatkan. Seluruh juri serta Guntur Juri Nasional mendapatkan arahan dari H. Nur Ali Sasongko dan Agung Cahyanto Ketua Pengcab Surakarta. “Briefing hari ini hanya sekedar mengingatkan kepada semua juri agar tidak lengah saat menjalankan tugas di lapangan,” harap H. Nur Ali Sasongko.


Barisan juara kelas Bebas


“Koordinasi penting dilakukan antara tim dan jangan sampai burung yang bunyi terlewatkan, terutama di awal-awal penjurian,” tegas H. Nur Ali Sasongko. Lebih lanjut disampaikan bahwa jangan sampai karena kegiatan ini hanya berupa Latberan, lantas menurunkan intensitas kinerja juri sehingga tidak maksimal, tetap fokus dan konsentrasi harus menjadi pegangan.

Cuaca cerah dan cenderung panas mengawal dari babak pertama sampai selesai. Penjurian berlangsung tanpa halangan, acara penjurian berlangsung seru dan lancar. Peserta begitu menikmati suasana. Tidak nampak dan terdengar teriakan yang dilakukan oleh peserta.


Lilik Purworejo juara di kelas Pemula


Benar-benar kondisi yang membuat gelaran begitu tenang dan damai. Meski ada suara dari peserta, namun itu tidak sampai berlebihan. Penerapan pembatasan nilai di kelas Pemula hanya sampai empat warna pun diterapkan. Jika ada burung yang mendapatkan penilaian lima warna akan dinaikkan ke kelas diatasnya, yakni kelas Bebas.

Hal ini terjadi pada burung yang ada di gantangan nomor 16, yang mendapatkan dua kali bendera lima warna. Yang semula berada di kelas Pemula harus berpindah ke kelas Bebas. Saat ada pertanyaan dari peserta kenapa burung tersebut sebelumnya tidak didaftarkan saja langsung di kelas Bebas?

Jatmiko, pemilik burung menjelaskan bahwa dirinya belum tahu secara pasti kualitas anggung burung miliknya itu layak ditempatkan di kelas apa. Karena burung tersebut terkadang kurang stabil performanya saat di lapangan, apalagi saat di rumah, makanya dipertahan di kelas Pemula.

Namun keberhasilannya mendapatkan penilaian bendera lima warna hingga dua kali, maka untuk selanjutnya akan didaftarkan di kelas Bebas atau tidak akan diikutsertakan lagi di kelas Pemula. Empat babak penjurian berlangsung tanpa masalah, sampai akhirnya penetapan posisi kejuaraan dilakukan.


Barisan juara kelas Pemula


Untuk podium pertama di kelas Bebas, berhasil diraih Kanjeng Mami amunisi Wiwid Sword BF Solo, derkuku ring Sword 68 yang menempati nomor gantangan 19. Kemudian Riyanto andalan Eko Myr Solo, dengan ring B2W yang berada di nomor gantangan 31 ada di tempat kedua. Sedang tempat ketiga berhasil menjadi milik Victory ring LMS 618 orbitan Eko LMS yang berada di nomor gantangan 37.

Penetapan juara di Bebas kali ini harus melalui meja juri perumus. Ini karena ada tiga burung yang berhasil mendapatkan bendera lima warna selama empat babak. Juri Perumus akan menentukan juara berdasarkan nilai aduannya masing-masing burung dimulai dari gaya irama, dasar suara, suara tengah, suara ujung, dan suara depan.


Diakhir lomba juri-juri berkumpul melakukan evaluasi


Di Pemula, posisi pertama berhasil diraih oleh Sawunggalih milik Lilik dari Purworejo. Jago bergelang LKT 229 yang ada di gantangan 29 ini mampu menerobos barisan paling depan, setelah aksinya tak terbendung oleh lawan-lawannya. Posisi kedua, berhasil direbut oleh Glory ring LMS 584 di gantangan 5, milik Eko LMS Solo. Lalu posisi ketiga di tempati oleh Kasmaran ring LMS 411 andalan Jose Solo.

Diakhir lomba juri-juri berkumpul melakukan evaluasi apa yang sudah dilakukan. Hal ini tentunya hal positif yang perlu terus dilanjutkan apalagi disitu ada Guntur sebagai Juri Nasional. Di akhir acara panitia mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan dan kehadiran peserta dan permintaan maaf apabila selama acara, ada hal-hal yang kurang berkenan. (Ramlee/Jat)






Rabu, 01 April 2026

Siamang, Primata Kera Hitam Berlengan Panjang Bersuara Keras dari Sumatera



Siamang (Symphalangus syndactylus) merupakan primata arboreal (menghabiskan hampir seluruh hidup di pohon). Daerah persebaran alami Siamang adalah Semenanjung Malaya dan hutan hujan tropis serta hutan monsun Sumatera. Primata terdiri dari banyak macamnya, ada monyet, kera, orang utan, simpanse, dan masih banyak lagi, salah satunya adalah Siamang, primata yang terancam punah.

Siamang adalah spesies owa (primata tanpa ekor) terbesar dan memiliki warna rambut paling gelap. Primata ini memiliki bulu hitam yang panjang dan lebat, namun area di sekitar mulut dan dagunya berwarna abu-abu atau merah muda. Biasanya ukuran tubuhnya dua kali lipat dari ukuran spesies owa lainnya.

Panjang kepala dan tubuh Siamang dewasa antara 737 – 889 mm. Berat badan betina berkisar antara 10 – 11,1 kg, sedangkan jantan dewasa berkisar antara 12,3 – 14,8 kg. Satwa ini memiliki sedikit selaput di antara jari kaki kedua dan ketiga. Ibu jari kakinya terpisah jauh dari jari kaki lainnya.


Siamang, Owa berbulu hitam legam dan berlengan panjang


Kekhasannya ada pada kantung tenggorokannya yang besar dan dapat mengembang serta berambut jarang. Ketika mencapai ukuran terbesarnya, kantung tenggorokan bisa sebanding dengan ukuran jeruk bali. Karakteristik unik lainnya dari spesies ini adalah lengannya menjadi penggerak ketika memanjat, berayun, ataupun melompat.

Baca juga : Yaki, si Hitam Berpantat Merah Primata Endemik Sulawesi Utara yang Terancam Punah

Panjang lengannya mencapai dua setengah kali tubuhnya. Siamang bisa berayun di ketinggian 8 sampai 10 meter. Tetapi, di antara owa lainnya, Siamang bergerak lebih lambat. Saat di tanah, Siamang biasanya bergerak dengan kedua kakinya. Berbeda dari simpanse, orang utan, gorila, dan manusia, siamang terkenal sebagai syndactylus. Panggilan ini karena Siamang memiliki dua jari di setiap tangan yang telah menyatu.


Siamang merupakan satwa arboreal


Siamang memiliki wilayah yang relatif sempit, sekitar 0,24 kilometer persegi, dan mempertahankan wilayahnya dengan ritual nyanyian setiap hari. Primata ini melakukan perjalanan sekitar setengah dari wilayahnya setiap hari. Wilayah jelajahnya sekitar 15 hingga 35 hektar.

Pada umumnya, Siamang sangat tangkas saat bergerak di atas pohon, sehingga tidak ada predator yang bisa menangkapnya. Siamang beristirahat dengan menyangga atau menggantungkan diri di pepohonan. Satwa ini diurnal atau aktif di siang hari. Biasanya, Siamang tidur dan istirahat pada bagian pohon yang paling tinggi.

Siamang hidup dalam kelompok kecil, terdiri dari 2 sampai 3 individu. Berbeda dengan kera lain, Siamang tidak memiliki tempat khusus untuk tidur. Siamang tidur di celah-celah cabang pohon, baik sendiri maupun bersama beberapa Siamang lainnya. Posisi tidurnya tegak, bersandar pada bantalan keras di ujung belakang yang disebut ischial callosities.

Hewan ini selalu memenuhi hutan yang ditinggalinya dengan gericauan (berbunyi keras-keras dan berulang-ulang seperti bunyi burung) merdu nan membahana. Ketika menggericau, kantong tak berbulu di tenggorokan owa Siamang akan mengembang. Kantung suara besar di lehernya yang memperkuat panggilan nyaringnya. Suara siamang terkenal kedahsyatannya, sehingga gericauannya dapat terdengar hingga sejauh 4,8 kilometer di dalam hutan.


Siamang sedang mencari buah-buahan hutan


Siamang biasanya mengerih (bersauara keras) di pagi hari. Kerihan ini untuk mendefinisikan atau mempertahankan wilayah dari para tetangganya. Selain itu, gericauan siamang juga merupakan tanggapannya atas gangguan. Ricauan siamang juga merupakan bentuk komunikasi satwa ini.

Baca juga : Tarsius, Primata Bertubuh Mungil Bermata Besar Paling Langka di Dunia yang Setia pada Pasangannya

Selain gericauan solo, komunikasi vokal Siamang tak jarang melibatkan duet, terutama ketika sedang ingin kawin. Pada pagi hari, Siamang betina dewasa sering memulai teriakan teritorialnya lalu diikuti oleh Siamang lainnya. Saling bersahutan dan berlangsung hingga 30 menit. Pada saat bahaya, Siamang betina akan mengeluarkan suara nyaring yang diikuti oleh siamang jantan, berlangsung selama 3-15 menit.


Siamang sering terlihat istirahat di bagian pohon tertinggi


Jantan dan betina yang berpasangan juga saling bersahutan. Bahkan, setiap pasangan akan menciptakan suara panggilan yang unik. Selain komunikasi vokal, hewan ini menggunakan komunikasi taktil. Komunikasi taktil terlihat pada agresi fisik. Semua primata menggunakan sinyal visual, seperti ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh dalam berkomunikasi.

Saat bersuara, satwa ini dapat menghasilkan dua jenis nada yang berbeda dengan menggunakan kantung suara di tenggorokannya. Vokal dalam yang keluar dengan mulut tertutup, dan suara nyaring keluar ketika mulut Siamang terbuka. Suara dengan mulut tertutup jarak dengarnya lebih jauh daripada suara dengan mulut terbuka atau yang terdengar seperti teriakan ‘wow’. Vokalisasi ini seperti gonggongan yang memiliki pola. Awalnya perlahan dan kemudian bertambah cepat. Panggilan ini sering bersamaan dengan perilaku akrobatiknya.

Siamang adalah primata monogami, hidup dalam kelompok keluarga dengan tiga keturunan. Satwa ini menghasilkan satu keturunan dengan interval dua sampai tiga tahun. Masa kehamilannya antara 189 – 239 hari atau kira-kira 7 setengah bulan. Keturunannya melekat pada induknya, selama tiga sampai empat bulan pertama.

Ayahnya mulai menggendong bayinya pada saat masa sapih setelah bayi mencapai usia dua tahun. Pejantan menunjukkan lebih banyak perawatan untuk keturunannya daripada spesies owa lain. Satwa ini mencapai kedewasaan pada usia enam atau tujuh tahun. Usia hidup satwa ini bisa lebih dari 40 tahun di penangkaran.


Siamang sedang menggericau di pagi hari


Siamang terkenal memiliki lebih banyak koordinasi dan kontak selama aktivitasnya sehari-hari. Keluarga Siamang biasanya mencari makan bersama-sama. Primata ini bangun saat matahari terbit dan melakukan ‘konser pagi’ dengan kantung tenggorokannya sebelum berangkat mencari makan. Makanan Siamang Sekitar 75 % berupa buah-buahan sebagai sumber energi utama. Sisanya terdiri atas daun muda, bunga, biji, kulit kayu, serta sesekali serangga, laba-laba, telur, dan burung kecil sebagai sumber protein.

Baca juga : Tarsius Supriatna, Spesies Tarsius Baru yang Ditemukan di Semenanjung Sulawesi Utara

Siamang termasuk omnivora dengan pola makan adaptif sesuai ketersediaan pakan. Siamang banyak memanfaatkan pohon seperti Ficus, Garcinia, Lithocarpus, dan Mangifera indica. Ketersediaan makanan dipengaruhi musim, sehingga Siamang menyesuaikan asupannya. Saat makan satwa ini menahan dirinya dengan satu tangan.


Induk Siamang bersama anaknya


Biasanya Siamang butuh waktu sekitar 5 jam untuk makan sampai kenyang. Siamang tidak dapat berenang dan takut air. Karena takut air, Siamang akan minum dengan cara mencelupkan kaki depannya ke dalam air atau menggosok tangan pada daun basah dan menghisap air pada bulu kakinya.

Setelah delapan sampai sepuluh jam beraktivitas, Siamang akan mengidentifikasi tempat untuk istirahat dan tidur. Seperti kebanyakan primata, salah satu kegiatan terpenting dari hewan ini adalah grooming atau berdandan. Siamang dewasa biasanya butuh waktu rata-rata 15 menit per hari. Berdandan adalah bentuk dari dominasi. Semakin dominan dirinya, maka satwa ini lebih banyak mendapatkan perawatan daripada merawat.


Populasi Siamang terus menurun dan rentan punah


International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List mengklasifikasikan Siamang dalam status endagered, rawan punah. Satwa ini terdaftar pada Appendix I CITES (CITES 2011). Status IUCN-nya menunjukkan penurunan populasi lebih dari 50 % dalam 50 tahun terakhir. Seperti halnya spesies owa-owa lainnya, kurangnya data termutakhir tentang ukuran populasi dan jangkauan siamang merupakan masalah serius bagi upaya konservasi.

Populasinya yang terus menurun akibat kerusakan hutan, perburuan liar, dan perdagangan ilegal yang memperjualbelikan Siamang sebagai hewan peliharaan. Berbagai upaya konservasi dilakukan, seperti program rehabilitasi dan pelepasliaran di Taman Nasional Gunung Leuser serta Suaka Margasatwa Isau-Isau di Sumatera. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Siamang, Primata Hitam Berlengan Panjang yang Hobi Menggericau


Rabu, 18 Maret 2026

Hoya, Tanaman Merambat yang Memikat Keindahannya dan Bisa Serap Polutan



Hoya merupakan salah satu tanaman hias yang populer di kalangan pecinta tanaman. Bunga ini memiliki bentuk yang unik dan indah, dengan tekstur seperti lilin dan warna yang beragam. Bunga Hoya juga memiliki aroma yang harum dan menyegarkan.

Tanaman ini dikenal sebagai epifit atau litofit, memiliki karakteristik sukulen, dan memiliki struktur yang indah. Tanaman Hoya termasuk tumbuhan tropis dari keluarga Apocynaceae yang banyak ditemukan di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Vietnam. Beberapa jenis kecilnya juga ditemukan di Australia dan India bagian selatan.


Hoya merupakan tanaman epifit yang tumbuh merambat



Di Indonesia, Hoya dapat ditemukan di Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Papua. Tanaman ini pertama kali ditemukan oleh ahli botani asal Skotlandia, Robert Brown, yang memberi nama Hoya untuk menghormati sahabatnya, Thomas Hoy. Brown menemukan Hoya saat ekspedisi ilmiah ke benua Asia dan Australia pada 1798.

Baca juga : Philodendron, Tanaman Hias Populer dengan Daunnya yang Ornamental

Hoya tumbuh sebagai tanaman merambat atau melilit pada batang pohon yang ditumpanginya, dengan ketinggian mencapai 1 hingga 18 meter. Bunga Hoya memiliki ciri khas semiglosi dengan kemilau yang agak kabur, karena tertutupi oleh bulu halus.


Kini Hoya merupakan salah satu tanaman hias yang populer


Bunga yang berbentuk seperti bintang ini sering disebut sebagai tanaman lilin atau bunga porselen, karena tampilannya yang mirip replika bunga asli. Bunga-bunganya ini bergerombol menjadi setengah lingkaran dan menggantung dengan warna yang mencolok.

Setiap kuntum bunga memiliki ukuran sekitar 1,5 cm, dan tumbuh dalam kelompok yang berjumlah hingga 30 kuntum. Aroma bunga Hoya bervariasi, dengan beberapa jenis mengeluarkan aroma cokelat atau selai kacang. Karena bentuknya mirip dengan anggrek, Hoya carnosa ini sering disalah artikan sebagai bunga anggrek.

Bunga Hoya yang berkilau seperti bintang mungil ini mempunyai banyak nektar lengket yang disukai kupu-kupu. Tidak jarang bunganya berjatuhan di tanah karena beratnya nektar atau karena kelakuan para serangga penyerbuk tersebut.

Selain kecantikan bunganya, daun Hoya juga menarik perhatian karena kesederhanaannya yang tersusun dalam pola berlawanan, dengan bentuk yang sukulen. Tanaman ini dulunya sering digunakan sebagai tanaman hias di taman rumah bangsawan Nusantara dan bahkan dibawa ke Eropa pada masa kolonial oleh pedagang Eropa.


Hoya archboldiana


Hoya memiliki nilai penting dalam keanekaragaman hayati Indonesia. Selain nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi, Hoya juga memiliki manfaat ilmiah. Sejak lama, tanaman ini telah digunakan sebagai bahan obat tradisional oleh masyarakat Indonesia dan kawasan Polinesia.

Baca juga : Bromelia, si Nanas Hias dengan Keragaman Bentuk dan Warna Daun yang Eksotis

Keunggulan lainnya adalah kemampuannya dalam menyerap polutan di ruang tertutup. Sejumlah peternak domba di Australia juga memberikan ramuan Hoya bagi ternak mereka yang keracunan. Namun, Hoya sangat bergantung pada pohon tempatnya tumbuh, dan upaya konservasi sangat diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidupnya.


Hoya australis


Sebagai tanaman tropis, Hoya tumbuh dengan baik di iklim hangat dan bebas embun beku. Ada 200–300 jenis Hoya tumbuh di dunia. Sekitar 25 persen atau 50–60 jenis terdapat di Indonesia, di antaranya Hoya archboldiana, H. australis, H. cinnamomifolia, H. kerrii, dan H. imbricata.

Perbanyakannya dapat dilakukan baik secara vegetatif maupun secara generatif melalui biji. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan melalui metode kultur jaringan tumbuhan dan melalui stek dan cangkok. Untuk perbanyakan secara cangkok, dilakukan dengan cara mencangkok sulur batangnya.

Untuk tanaman Hoya di dalam ruangan, disarankan ditempatkan di area yang mendapatkan cahaya terang namun tidak langsung. Sedangkan untuk Hoya yang tumbuh di luar ruangan, tempat yang terlindung dari angin dan mendapat sinar matahari pagi yang lembut adalah lokasi yang ideal.

Dengan keindahan bunga dan manfaatnya yang beragam, Hoya terus menjadi salah satu tanaman yang sangat dihargai, baik dari sisi estetika, keanekaragaman hayati, maupun manfaat medisnya. Bunga Hoya mengandung senyawa flavonoid dan saponin yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi.


Hoya cinnamomifolia


Senyawa ini dapat membantu mengeluarkan racun dalam tubuh melalui keringat atau urine. Selain itu, senyawa ini juga dapat meningkatkan sistem imun tubuh dan mencegah infeksi. Bunga Hoya memiliki sifat antibakteri dan antijamur yang dapat membantu menyembuhkan luka pada kulit.

Baca juga : Gelombang Cinta, Tanaman Hias yang Dulu Banyak Dicari Kini Tak Berarti

Bunga Hoya memiliki aroma yang harum dan menenangkan yang dapat membantu tidur lebih nyenyak, dengan meletakkan pot bunga Hoya di kamar tidur atau menghirup aromanya sebelum tidur. Bunga Hoya juga dapat mengurangi stres dan kecemasan yang dapat mengganggu kualitas tidur.


Hoya kerrii


Bunga Hoya dapat digunakan sebagai bahan alami untuk merawat kulit. Fitosterol hadir dalam tanaman Hoya, yang dapat membantu dalam menghidrasi dan memulihkan vitalitas kulit. Jadi bisa membuat masker dari bunga Hoya dengan cara menghaluskannya dan mencampurnya dengan madu atau yogurt. Masker bunga Hoya dapat membantu membersihkan, melembabkan, dan mencerahkan kulit. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Hoya, Tanaman Hias Cantik dan Berkhasiat yang Tumbuh Merambat


Owa, Primata Endemik Indonesia Berlengan Panjang yang Kian Langka

Owa merupakan primata kecil lincah tanpa ekor, dikenal karena gaya berayunnya yang akrobatik (brakiasi) di pepohonan. serta bergerak dengan...