Sabtu, 29 Agustus 2026

PPDSI Blitar Selenggarakan Bupati Blitar Cup #4 LDI 2026 Putaran 4, Kamajaya Malioboro dan Perdana di Podium Juara



Pengcab. PPDSI Blitar baru saja menggelar even akbar. Lomba derkuku bertajuk Bupati Blitar Cup #4, Liga Derkuku Indonesia Putaran 4 yang digelar pada Minggu, 23 Agustus 2026 di Lapangan Pasar Wisata Desa Temenggungan Jl. Totok Kerot, Temenggungan, Kec. Udanawu, Kab. Blitar. Panitia mampu mempersembahkan lomba dengan kemasan luar biasa.

“Gelaran Bupati Blitar Cup merupakan agenda tahunan dari PPDSI Blitar dan masuk kalender Liga Derkuku Indonesia,” jelas Dhimas Nugroho, salah satu anggota Panitia. “Pengcab Blitar mendapatkan kesempatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Liga Derkuku Indonesia 2026 Putaran 4. Kali ini bertepatan dengan HUT RI ke-81 dan HUT Blitar ke-702.”


Pramono S.E. tengah memberikan sambutan


Kemeriahan gelaran Bupati Blitar Cup #4, terasa begitu luar biasa. Bukan saja karena kehadiran dekoe mania semata, namun nuansa yang tercipta beda dari biasanya. Lapangan Pasar Wisata Desa Temenggungan, penuh sesak oleh dekoe mania Nusantara. Beberapa diantaranya mengakui jika lapangan ini adalah yang terbaik untuk gelaran LDI.

Gantangan di Pasar Wisata Desa Temenggungan ditunjang dengan fasilitas lengkap yang menambah nyaman pelomba. “PPDSI, P3SI, dan P4SI bersama Bumdes Lestari Desa Tumenggungan berupaya untuk terus melakukan perbaikan dan peningkatan baik fasilitas, sarana dan prasarana maupun layanan lomba yang terpadu sehingga kedepan bisa maju bersama,” jelas pemilk Gada Bird Farm ini.


Juri-juri yang bertugas


Para mania derkuku dari berbagai kota di Indonesia, ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Dari data panitia, peserta berasal dari Jakarta, Bogor, Jogjakarta, Purworejo, Solo, Nganjuk, Kediri, Blitar, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Bondowoso, Situbondo, dan Bali. Panitia membuka empat blok untuk tiga kelas, yakni kelas Senior, Yunior, dan Pemula.

“Alhamdulillah, gelaran Bupati Blitar Cup #4 diikuti banyak peserta. Rekan-rekan dekoe mania yang datang dari berbagai kota yang ada di Pulau Jawa ternyata memberikan respon bagus terhadap yang kami lakukan,” terang Dhimas. Ratusan burung derkuku beradu keindahan alunan anggung masing-masing.


Suasana jalannya lomba


Dengan rincian kelas Senior ada 36 (1 blok), kelas Yunior 42 (1 blok), dan Pemula 84 (2 blok). Semua tiket yang dicetak panitia nyaris habis tak bersisa. Peserta membludak di kelas Pemula. Panitia terpaksa menolak beberapa peserta, karena keterbatasan tempat. Panitia yang ingin ikut ngerek harus mengalah ke dekoe mania luar kota.

Sepertinya semenjak aturan batasan nilai untuk kelas Pemula dan Yunior dikembalikan ke aturan yang lama, antusiasme dekoe mania kembali meningkat. “Hari ini Pengcab PPDSI Blitar kedapatan menjadi tuan rumah pelaksanaan gelaran Liga Derkuku Indonesia 2026 Putaran 4,” terang Pramono S.E, selaku Ketua Panitia.


Bambang TKL dan Anton WDN bersemangat kawal gacoannya


Kegiatan tersebut merupakan wujud tanggung jawab PPDSI Blitar saat diberikan amanah untuk menjadi pelaksana acara. “Sebuah kepercayaan besar bagi kami karena bisa dipercaya menjadi tuan rumah Liga Derkuku Indonesia Putaran 4,” sambung Pramono yang juga sebagai Kepala Desa Temenggungan.

“Dengan kerjasama dan kerja keras yang kami lakukan bersama beberapa pihak, kami bisa melaksanakan acara sesuai harapan.” Pramono mengucapkan selamat datang kepada segenap dekoe mania dan ucapan terima kasih atas dukungan sponsor dan doorprize sehingga para peserta lebih bersemangat mengikuti lomba.


H. Misbach semangat berikan support untuk burung andalannya


Dalam kesempatan yang sama Pramono mempunyai harapan tersendiri yang disampaikan dalam sambutannya sebelum lomba dimulai. “Saya berharap bukan saja tata tertib saja yang diperbaiki, tetapi juga penilaian jangan sampai menurun. Juri harus terus mempertahankan dan meningkatkan kemampuan dalam menilai burung, sehingga bisa lebih profesional.”

“Juri-juri yang bertugas juga harus menjaga netralitasnya dalam memberikan penilaiannya. Tunjukkan profesionalitas sebagai juri sehingga tidak ada yang merasa dirugikan dan lomba tetap bisa eksis dihadiri semua pecinta dan pelomba derkuku.”


Sri Handayani serahkan uang pembinaan kepada Sigit B2W setelah Kamajaya juara di kelas Senior


Ada sedikit kejutan dari Panitia, karena juara pertama di masing-masing kelas mendapatkan uang pembinaan. Juara 1 di kelas Senior mendapatkan Rp.1,5 juta, kelas Yunior mendapatkan Rp. 1 juta, dan kelas Pemula mendapatkan Rp. 500 ribu. Tidak itu saja, puluhan doorprize menarik siap dibawa pulang bagi yang beruntung dengan hadiah utama berupa 2 unit sepeda gunung.

Uang pembinaan dan hadiah utama berasal dari donasi Sri Handayani. “Ibu Sri Handayani adalah tokoh masyarakat asli Blitar. Beliau bukan pejabat atau tokoh politik. Ibu Sri menikah dengan orang Hongkong dan menetap disana,” ujar Dhimas.


Para juara di kelas Senior


“Beliau sangat peduli dengan kegiatan-kegiatan positif seperti ini. Ibu Sri Handayani sebenarnya jarang pulang ke Indonesia, kebetulan saat ini beliaunya sedang pulang kampung dan berkesempatan menyaksikan dan memberikan uang pembinaan secara langsung.”

Cuaca cerah dengan angin yang berhembus pelan mengawal acara dari awal hingga akhir. Empat babak penjurian juga tidak mengalami masalah. Seluruh rangkaian berjalan lancar dan aman. Sampai akhirnya ditetapkan posisi kejuaraan. Lokasi yang jauh dari keramaian jalan membuat suara anggung burung derkuku dapat terdengar dengan jelas, dan memudahkan juri memberikan penilaiannya.


Juara di kelas Yunior


Untuk podium pertama di kelas Senior berhasil menjadi milik Kamajaya andalan B2W BF Godean, burung dengan ring B2W 3688 yang dikerek pada nomor 138. Kemenangan ini membuat Kamajaya berhak atas poin 200. Tempat kedua ditempati Dewangga ring B2W 3109 milik B2W BF, yang dikerek pada nomor 144 dengan raihan poin 180.

Dan ditempat ketiga, ada Kaisar Muda MKS 1332 orbitan Mbah Demang Kediri, dikerekan nomor 149 dengan raihan poin 160. Yang sedikit mengejutkan menepinya Bimo Kurdo dari persaingan tiga besar setelah tampil dengan kinerja yang tidak maksimal dan hanya mampu menduduki peringkat ke-6.


Barisan juara kelas Pemula


Di kelas Yunior, podium juara didapat Malioboro ring DB 20 amunisi Rudy Jogja, yang dikerek di nomor 88 dan amankan poin 150. Lalu Fir’aun ring LMS 649 besutan Mbah Demang Kediri, yang menempati nomor kerekan 90 raub poin 135 di tempat kedua. Dan posisi ketiga ada Ontoseno milik B2W BF Godean ring B2W 0446 pada kerekan nomor 112 serta raih 120 poin.

Di kelas Pemula, podium juara pertama menjadi milik Perdana ring DM 626 milik DM BF Tulungagung pada kerekan nomor 38 dan rebut poin 100. Tempat kedua direbut Bintang Semeru ring Semeru 73 milik Saiful Bahri Situbondo pada kerekan nomor 33 dengan 90 poin. Dan tempat ketiga ada Raja Panji ring Santri 110 andalan Sakur Jayadi Situbondo di tiang 24 serta amankan 80 poin di tangga klasemen.


Panitia sediakan puluhan doorprize menarik


Dengan hasil yang didapat masing-masing jawara di LDI Putaran 4 dan dengan hanya menyisakan satu putaran saja, maka Malioboro sudah memastikan menjadi yang terbaik di kelas Yunior LDI 2026. Sementara kelas Senior dan Pemula, menunggu hasil gelaran LDI Putaran 5 Piala Raja Hamengkubuwono Cup yang akan dilangsungkan pada 20 September 2026 nanti. (Ramlee/GD)




Jumat, 28 Agustus 2026

Grand Opening Gantangan Baru Pengcab PPPPSI Blitar Gelar Temenggungan Cup, Everest dan Patriot Juara



Pengcab. PPPPSI Blitar resmi memiliki gantangan baru. Grand opening gantangan baru ditandai dengan gelaran kegiatan Lomba Seni Suara Alam Burung Puter bertajuk Temenggungan Cup, pada Sabtu 22 Agustus 2026. Gantangan baru ini berada di Pasar Wisata Desa Temenggungan Jl. Totok Kerot, Temenggungan, Kec. Udanawu, Kabupaten Blitar.

Kegiatan itu juga menandai babak baru Pengcab. PPPPSI Blitar yang kini dinahkodai oleh Pramono S.E. Kepengurusan baru ini langsung begerak cepat, dengan merencanakan dan sekaligus mengeksekusi dua agenda penting, yakni segera menyiapkan gantangan dan merealisasikan kegiatan lomba di Blitar.


Penghobi puter pelung dari berbagai daerah serius menikmati gelaran lomba PPPPSI Blitar


“Ini semua bermula waktu mengikuti lomba derkuku di Jogja. Terus ada keinginan untuk segera bisa mengadakan lomba puter pelung,” tutur Pramono S.E. yang juga selaku Kepala Desa Temenggungan. Pramono aktif mempromosikan dan mengembangkan Pasar Wisata Desa Temenggungan untuk meningkatkan ekonomi warganya.

Tidak tangung-tanggung Pramono menyiapkan dua agenda lomba di tempat yang sama, yakni lomba puter pelung dan derkuku irama (LDI). Sebelumnya di sana telah berdiri ratusan tiang kerekan untuk menggelar lomba derkuku. Pramono pun membangun sarana gantangan di area Pasar Wisata Desa Temenggungan.


Semua gantangan penuh terisi oleh peserta lomba


“Kami mengadakan lomba puter pelung biar pecinta puter peluang bergairah lagi terutama di wilayah sekitar Blitar dan bisa meningkatkan harga puter pelung. Dan saya rasa ada peluang beternak burung puter pelung ini bisa menjadi usaha. Alhamdulilah kegiatan ini didukung oleh teman-teman terutama Pak Sis, Juri dari Solo,” tambah Pramono.

Dengan dibukanya lapangan tersebut, maka Blitar menjadi salah satu daerah yang siap meramaikan kembali hobi puter pelung di wilayahnya. “Saya berharap dengan adanya gantangan ini akan memudahkan bagi kita untuk sermakin semangat dalam membagun hobi puter pelung dan menjadikan Blitar daerah yang lebih maju.”


Team Gerbong Maut Bondowoso


Lebih lanjut dikatakan bahwa gantangan baru ini dipersilahkan untuk dimanfaatkan oleh puter pelung mania di Blitar sebagai pusat atau sentra kegiatan. “Saya mempersilahkan penghobi puter pelung menjadikan gantangan ini sebagai sarana dan wadah untuk mengembangkan potensi diri sehingga kita bisa bersama-sama membangun hobi lebih berkembang.”

Gantangan baru ini pun menuai pujian dari penggemar puter pelung yang datang dari berbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jogjakarta. Lokasi tempat gantang baru ini telah menjelma menjadi kompleks terpadu pusat olahraga dan hiburan yang lengkap. Sehingga segala sarana dan prasana yang dibutuhkan oleh penghobi pun telah tersedia.

Keberadaan gantangan ini sangat penting sekali. Karena yang paling terlihat di organisasi PPPPSI adalah lombanya. Dan Pengcab boleh dibilang hidup atau berkembang bila bidang lombanya aktif menggelar kegiatan, baik itu latihan dinilai maupun lomba resmi. Dengan adanya tempat yang representatif tersebut memudahkan bagi Pengcab Blitar dalam mengagendakan setiap kegiatannya.

Meski event Temenggungan Cukup dikemas sangat sederhana tapi terlihat cukup meriah dan guyub. Penghobi puter pelung dari berbagai daerah di Pulau Jawa ikut hadir memeriahkannya. Suasananya gantangan malam itu tampak begitu hidup, bahkan seperti suasana di gelaran lomba besar.


Suudi dan Agus Petir dari Nganjuk


Panitia hanya membuka dua kelas, yakni kelas Bebas dan Pemula dan luar biasanya semua slot gantangan yang disediakan habis terisi. Semua yang hadir menikmati alunan anggung puluhan burung puter pelung. Suasana malam yang dingin terasa hangat dengan keakraban para penghobi puter pelung dari beberapa daerah.

Kelas Pemula yang dinaikkan terlebih dahulu menyuguhkan persaingan yang ketat. Karena di kelas yang dibatasi penilaiannya hanya sampai bendera empat warna saja dengan nilai 43 ½ ini secara kualitas terbilang merata. Saling susul perolehan nilai terjadi begitu cepat.


Cak Hari dari Bogor dan rombongan dari Jogja turut berikan dukungan


Semua diimbangi dengan kinerja juri yang cekatan memberikan penilaian. Lokasi yang jauh dari hiruk pikuk jalan serta jalannya lomba pada malam hari membuat suara puter pelung sangat jelas terdengar, memudahkan para juri dalam memberikan penilaian terbaiknya.

Empat babak penjurian berlangsung tanpa kendala. Hingga akhirnya dihasilkan urutan kejuaraan, yang sebelumnya diwarnai kejadian diskualifikasi untuk burung yang ada di gantangan nomor 27. Di babak awal belum kelihatan kualitas anggungnya, namun semakin lama semakin terdengar anggung istimewanya.


Pramono S.E. tancapkan bendera koncer di kelas Bebas


“Sepertinya burung tersebut salah kamar (salah memilih kelas, red). Soalnya burung ini sepertinya tipe burung yang lambat panas,” jelas Sapto, salah seorang juri yang bertugas. “Burung itu, semakin lama semakin terdengar bagus dan amat stabil dibanding yang lain.”

“Apa lagi pembawaannya suara antar dan inter anggungnya terdengar mantap,” tambah Sapto. Jadi ketiga Koordinator Juri, akhirnya sepakat pada babak keempat untuk memberikan penilaian lima warna setelah sebelumnya bendera empat warnanya sudah diusulkan naik oleh juri penilai sejak di babak ketiga. Dengan mendapatkan bendera lima warna, secara tidak langsung gantangan 27 dinyatakan diskualifikasi.

Juara pertama kelas Pemula berhasil dimenangkan oleh Patriot ring BJ 098, puter pelung orbitan Buyoet Djoyo Blitar, yang digantang pada nomor 58. Kemudian Salindri ring Tape Manis 520 debutan H. Ichwanto Bondowoso yang berada di nomor gantangan 35 ada di tempat kedua. Dan posisi ketiga dimenangkan Jaksen orbitan JKM BF Blitar, produk ternak JKM 66 yang digantang pada nomor 22.

Persaingan tidak kalah seru terjadi di kelas Bebas, yang dipertandingkan setelahnya kelas Pemula usai. Babak pertama dibuka dengan tampilan apik burung yang ada di gantangan nomor 47, bendera enam warna didapatnya. Perolehan itu menjadi satu-satunya bendera enam warna yang turun malam itu.


Para juara di kelas Bebas


Persaingan merebut juara di event Temenggungan Cup, praktis hanya sampai pada babak ketiga, karena gantangan 47 kembali mendapatkan bendera enam warna. Namun tidak demikian dengan urutan juara di bawahnya, persaingan terus berlanjut hingga empat babak selesai. Hingga akhirnya dihasilkan urutan kejuaraan.

Sementara di kelas Bebas, podium juara pertama berhasil menjadi milik Everest, puter pelung amunisi B2W BF Jogjakarta. Burung bergelang B2W 516 yang digantang pada nomor 47 itu merebut podium juara pertama usai mendapatkan total nilai 88, tertinggi diantara para kontestan.


Juara-juara di kelas Pemula


Di tempat kedua ada Melodi andalan Arahiwang BF Purworejo, puter pelung bergelang Arahiwang 026 yang berada di gantangan nomor 9. Posisi ketiga diraih oleh Panji Laras milik Abah Yanto Lumajang, ternakan Lokananta 107 yang berada pada nomor gantangan 15. Penentuan juara kedua dan ketiga harus melalui meja juri perumus setelah mendapatkan total nilai yang sama.

Diakhir acara panitia mengucapkan terima kasih atas dukungan peserta yang kali ini tidak saja datang dari wilayah sekitaran Blitar seperti Tulungagung, kediri, serta Nganjuk. Hadir juga petur pelung mania dari Purworejo, Jogjakarta, Bondowoso, Lumajang, dan Situbondo. Permintaan ma’af juga disampaikan jika selama acara, ada hal-hal yang kurang berkenan.


Panitia Temenggungan Cup memanjakan peserta dengan aneka doorprize


“Semoga lomba Puter Pelung ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana silaturahmi, hiburan, dan mempererat persaudaraan antar pecinta burung,” harap Pramono. “Semoga kegiatan ini juga mampu mendorong pelestarian dan pengembangan seni suara Puter Pelung, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui kegiatan wisata, UMKM, dan pasar desa.”

“Kedepan, semoga lomba semacam ini dapat dilaksanakan secara rutin, semakin besar, dan semakin berkualitas. Dan menjadi daya tarik wisata serta ikon kegiatan masyarakat yang membanggakan.” tutur Pramono di akhir acara. (Ramlee/GD)





Sabtu, 22 Agustus 2026

Jelang LDI 2026 Putaran 4 Bupati Blitar Cup #4, Klasemen Sementara Masih Berpotensi Berubah



Pengcab PPDSI Blitar, bakal punya gawe besar yaitu, gelaran Liga Derkuku Indonesia (LDI) yang memasuki putaran ke-4. Gelaran bertajuk “Bupati Blitar Cup #4” itu, akan dilaksanakan pada hari Minggu, 23 Agustus 2026. Dengan menempati Lapangan Pasar Wisata Desa Temenggungan Jl. Totok Kerot, Temenggungan, Kec. Udanawu, Kab. Blitar.

Pasar Wisata Desa Temenggungan kini telah menjelma menjadi kompleks terpadu pusat olahraga dan hiburan yang lengkap. Disana telah ada lapangan, joging track, aula pertemuan, pusat kuliner, dan kolam pemancingan. Kepala Desa Temenggungan Pramono S.E, pun aktif mempromosikan dan mengembangkan Pasar Wisata Desa Temenggungan untuk meningkatkan ekonomi warganya.


Lapangan Pasar Wisata Desa Temenggungan Kab. Blitar telah siap menyambut Dekoe Mania Nusantara


Salah satunya dengan menggelar lomba seni suara alam burung derkuku di akhir pekan ini. Selain telah dibangun gantangan derkuku dan perkutut juga di bangun gantangan puter dan ocehan. Pramono S.E. sendiri juga penggemar puter pelung dan terpilih menjadi Ketua Pengcab PPPPSI Blitar. Pada hari Sabtu, malam sebelum lomba derkuku di tempat yang sama juga akan digelar lomba seni suara alam burung puter bertajuk Temenggungan Cup.

Pramono S.E. juga akan menggelar lomba burung puter pada hari Sabtunya. Gelaran lomba ini merupakan grand opening gantangan baru. Sebagian penggila lomba derkuku juga puter pelung mania dapat sekaligus memanfaatkan momen tersebut untuk menjajal burung puter pelung miliknya. Panitia juga telah menyiapkan Aula Pasar Wisata Temenggungan untuk tempat beristirahat tamu-tamu dari luar daerah.


Shorea BF siap antar Bimo Kurdo menjadi yang terbaik di kelas Senior


Bupati Blitar Cup #4, akan menjadi ajang perebutan podium para jawara yang selama ini selalu unjuk kehebatan di atas kerekan. Ajang pembuktian para jawara dari berbagai daerah. Derkuku yang selama ini memiliki reputasi sebagai penguasa lapangan akan unjuk kebolehan untuk mempertontonkan kualitasnya dan bisa dipantau langsung oleh seluruh peserta yang hadir di lapangan.

Liga Derkuku Indonesia 2026, saat ini sudah melewati putaran 3. Perburuan posisi kejuaraan sampai saat ini masih terus mengalami persaingan yang sangat ketat. Dari satu putaran menuju putaran lain, para peraih podium terus mengalami pergantian. Perubahan tersebut berdampak pada perolehan poin.

Raihan poin yang mengalami perubahan juga berefek pada pergeseran posisi di Klasemen Sementara. Karena yang pasti poin yang berhasil didapat peserta mayoritas berada pada posisi yang sangat riskan, dimana selisih poin sangat dekat dan tipis, sehingga setiap saat posisi yang sudah didapat bisa saja digeser peserta lain.

Bahkan ada beberapa peringkat yang memiliki poin atau nilai sama, sehingga kapanpun posisi tersebut bisa tergeser naik ataupun turun. Dengan kata lain, sampai putaran ketiga, posisi yang sudah didapat peserta, belum dirasa aman untuk mengunci podium juara di akhir putaran.


Mbah Demang kawal Soleh di peringkat pertama kelas Pemula


Kemenangan demi kemenangan, terlebih pada barisan depan adalah langkah tepat untuk mengamankan posisi. Di kelas Senior, posisi pertama di Klasemen Sementara LDI 2026 yang diraih Bimo Kurdo milik Shorea BF Sleman, derkuku bergelang GTA 380, memiliki kans cukup kuat untuk terus bertahan di barisan paling depan.

Poin sementara sebesar 400, selisih hanya 20 poin dengan urutan kedua. Kamajaya andalan B2W BF Godean, ring B2W 3688 yang memiliki poin 380 masih akan terus berusaha tampil terdepan. Sementara di posisi ketiga ada Ducati milik Bangsis Sidoarjo masih berpeluang mendekat dengan perolehan poin 280.




Di kelas Yunior, peringkat pertama dan kedua berselisih poin sangat tipis. Malioboro ring DB 20 milik Rudy Jogja yang ada di peringkat pertama masih belum bisa bernafas lega. Pasalnya perolehan nilai sementara sebesar 375, hanya berjarak 5 poin saja dari peringkat kedua.

Idola Shorea ring B2W 3665 milik Shorea BF Sleman berpeluang besar menggesernya akhir minggu ini setelah melihat prestasinya yang cukup stabil selama tiga putaran sebelumnya. Sedangkan Wiro Sableng ring DA 212 milik Cak Hari Bogor dengan poin 255 masih akan tetap berada di barisan depan.

Sementara di kelas Pemula, peluang menjadi yang terdepan masih akan terbuka lebar. Soleh andalan Agus Demang Kediri ada di peringkat pertama. Derkuku bergelang Rajawali 391 sejatinya belum pernah juara di 3 putaran sebelumnya, namun konsistensi membawanya menduduki peringkat pertama dengan 180 poin.

Peringkat kedua di huni Bintang Semeru ring Semeru 73 milik Saiful Bahri Situbondo dengan 150 poin. Raja Panji ring Santri 110 milik Sakur Jayadi Situbondo yang pernah juara pada putaran pertama di Situbondo berada di peringkat ketiga dengan total poin 130. Dengan menyisakan 2 putaran lagi, setiap jawara wajib hadir setiap putarannya.




Setelah tiga putaran berlalu, belum kelihatan yang bakal tampil terbaik di akhir putaran nanti. Dengan selisih poin yang begitu tipis di masing-masing kelas sangat memungkinkan untuk melakukan manuver menyalip. Tinggal menunggu kesiapan dari masing-masing orbitan, mana yang paling berpeluang untuk memperlebar jarak.

Apakah Bimo Kurdo bisa menambah poin lebih besar agar aman dari serangan lawan, atau Kamajaya yang akan berpeluang menggeser posisi Bimo Kurdo dengan kemenangan manis yang akan diraih pada putaran berikutnya yang akan dilaksanakan pada akhir pekan ini di Blitar.



Begitu juga di kelas Yunior. Malioboro dan Idola Shorea saat ini hanya berjarak 5 poin saja. Gaco Rudy ataupun Shorea BF masih memungkinkan untuk melakukan pergeseran posisi. Tinggal menunggu kesiapan masing-masing jawara mereka untuk memastikan tampil bagus sehingga berpeluang untuk meraih nilai terbanyak.

Di kelas Pemula, dimana masing-masing gaco mempunyai kualitas yang relatif merata akan menarik juga untuk disimak akhir minggu nanti. Posisi tiga besar berjarak maksimal hanya 30 poin sangat mungkin terjadi perubahan. Siapa diantara mereka yang bakal mampu menggeser dan merangsek naik untuk untuk menjadi yang terbaik di kelas Pemula, nantikan saja Liga Derkuku Indonesia Putaran 4 Bupati Blitar Cup #4 yang akan digelar pada Minggu 23 Agustus 2026. (Ramlee)


Rabu, 19 Agustus 2026

Ikan Red Devil, Ikan Air Tawar Invasif asal Amerika Tengah yang Sangat Agresif






Ikan Red Devil (Amphilophus labiatus) merupakan jenis ikan hias air tawar agresif asal Amerika Tengah. Secara spesifik, ikan setan merah adalah spesies endemik yang berasak dari perairan Nikaragua, seperti Danau Nikaragua, Danau Managua, dan Danau Xiloa. Ikan ini jadi spesies invasif berbahaya di Indonesia, terutama Danau Toba dan Sermo.

Genus yang dimiliki oleh red devil ini sama dengan ikan lou han, yakni Amphilophus, sehingga kedua ikan tersebut masih memiliki hubungan kekerabatan. Ikan ini lebih sering ditemukan di perairan air tawar berupa danau daripada di sungai.

Ikan pemangsa ini lebih senang untuk berada di dasar pasir halus yang memiliki banyak tempat persembunyian di antara batu maupun kayu. Umumnya, ikan ini dapat ditemukan di sela-sela bebatuan maupun batang kayu yang terendam.



Penampakan Red Devil mirip ikan Lou Han



Ikan ini memiliki penampilan yang unik. Sebab, Red Devil memiliki bibir yang lebih tebal dibandingkan dengan jenis ikan yang lainnya. Warna kulit Red Devil cenderung lebih merah dan terang. Ikan ini mencapai kematangan seksual pada usia 3 tahun. Spesies ini dapat tumbuh hingga 38 cm dan berat yang mencapai 1,2 kg.


Ikan red devil jantan dan betina sendiri, tidak terlalu ada perbedaan yang mencolok. Hanya saja red devil jantan umumnya memiliki ukuran yang lebih besar. Yang jantan juga mempunyai benjolan di kepala yang lebih tampak ketika musim kawin dan papila genital yang meruncing.



Red Devil menyukai tempat yang berbatu



Ikan red devil mempunyai warna cantik yang mencolok, sirip runcing, serta bibir tebal yang menjadikannya populer sebagai ikan hias di Indonesia. Meskipun memiliki nama setan merah, warna tubuh dari ikan yang mampu hidup hingga 10–12 tahun ini ternyata tidak hanya merah.

Red Devil memiliki variasi warna yang unik dan sangat luas, mulai dari abu-abu ke hijau, putih ke merah muda, dan lain sebagainya. Adapun beberapa ikan Red Devil yang memiliki bintik-bintik hitam di ekor atau siripnya. Bibir ikan Red Devil ini pun lebih tebal dan biasanya berwarna oranye atau kehitaman.

Secara umum, ukuran ikan Red Devil bisa mencapai 15 inci alias 38 cm saat dewasa dan ini jelas lebih besar dibandingkan ikan air tawar pada umumnya. Red Devil cukup gemuk dengan berat yang bisa mencapai 1,2 kg. Dilengkapi sirip yang runcing untuk membantu mereka memberikan kecepatan dan kelincahan di dalam air.

Di Indonesia, ikan Red Devil awalnya masuk sebagai ikan hias yang dijual dengan harga yang mahal. Didatangkan dari Malaysia dan Singapura sekitar tahun 1990-an, sampai akhirnya berhasil dikembangbiakkan di aquarium-aquarium lokal.



Red Devil warna kuning



Ironisnya sejak beberapa dekade terakhir ikan ini muncul di sejumlah waduk danau di Indonesia, salah satunya Danau Toba. Perkembangannya cukup cepat hingga menjadi masalah ekologis yang serius, seperti penurunan populasi ikan-ikan lokal.


Keberadaan ikan ini umumnya dilakukan secara tidak sengaja melalui benih ikan yang dilepas di keramba jaring apung sebagai ikan budidaya, namun ada juga yang dilakukan dengan cara sengaja oleh para penggemar ikan hias yang melepas ikan ini ke perairan.



Red Devil putih



Selain di Danau toba, ikan Red devil juga tersebar di beberapa kawasan perairan seperti di Waduk Jatiluhur, Cirata, Saguling, Darma, Wadas Lintang, Kedung Ombo, Sermo, Danau Batur dan Danau Sentani. Namanya pun di tiap daerah memiliki penyebutan yang berbeda-beda, diantaranya ikan Oskar, Setan Merah, Lohan Merah dan Nonong.

Penamaan red devil bukan karena warna tubuh dari ikan ini yang merah cerah, melainkan karena perilaku agresif yang dimilikinya. Tak jarang si setan merah mengejar ikan-ikan lain untuk sekadar “olahraga”, menggigit, dan bahkan membunuhnya.

Dikarenakan perilaku red devil yang ganas tersebut, penghobi ikan hias lebih kerap menempatkan si setan merah ke tempat yang terpisah dari spesies lain. Meski demikian, bahkan dengan jenis yang sama pun ikan bertaring tajam ini tetap menunjukkan sifat agresif, kecuali dengan pasangannya.

ikan ini sangat agresif dan gigih dalam mempertahankan wilayahnya. Ikan ini cenderung akan menguasai dan mendominasi perairan, makanya ikan ini tidak cocok dipelihara dengan ikan lain, karena bisa membuat ikan yang lain mati, kecuali dicampur dengan ikan yang juga berukuran besar.



Red Devil awal masuk ke Indonesia sebagai ikan hias



Saking agresifnya, di beberapa kasus Ikan Red Devil dapat menggali substrat, memindahkan dekorasi, dan merusak aquascape karena sifat alaminya yang aktif mengacak-acak lingkungan sekitar. Saat bereproduksi, ikan ini akan sangat protektif terhadap telur dan anakannya. Tidak hanya agresif terhadap ikan lain, Red Devil juga dikenal gemar menghancurkan apa pun yang bisa mereka masukkan ke dalam gigi.


Walaupun sebagai ikan hias sangat populer, tapi di beberapa negara ikan ini malah dilarang, karena bias memunculkan masalah ekologi ketika masuk ke dalam perairan umum. Daya adaptasinya yang cepat merupakan keunggulannya, ketika dilepas ke alam ikan ini akan langsung mendominasi ekosistem dan memangsa ikan-ikan lokal.



Ledakan populasi Red Devil di danau Toba semakin meresahkan



Sifat agresif dan kemampuannya berkembang biak dengan baik menjadikannya salah satu spesies berpotensi invasif yang dapat mengganggu keseimbangan populasi ikan asli. Pemerintah RI pun sudah merilis peraturan yang melarang persebaran ikan red devil di Indonesia.

Larangan tersebut diatur melalui Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020 tentang Larangan Pemasukan, Pembudidayaan, Peredaran dan Pengeluaran Jenis Ikan Yang Membahayakan dan atau Merugikan Dalam dan Dari Perairan Negara Republik Indonesia. Kini, berbagai upaya dilakukan untuk mengendalikan populasi ikan red devil di Danau Toba. (Ramlee)


Sumber : remen.id


Senin, 17 Agustus 2026

Merak, Unggas yang Terkenal dengan Bulu Ekornya yang Menakjubkan



Burung Merak merupakan salah satu burung paling memukau di dunia yang dikenal karena bulu ekornya yang besar, berwarna-warni, dan indah seperti kipas. Berdasarkan klasifikasinya, burung merak termasuk dalam genus Pavo dan Afropavo yang merupakan bagian dari famili Phasianidae.

Burung merak seperti karya seni yang hidup, berjalan anggun dengan bulu ekor yang bisa mengembang lebar seperti kipas kerajaan. Burung merak sebenarnya masih satu keluarga dengan ayam hutan dan burung pegar, yaitu keluarga Phasianidae. Mungkin agak sulit dibayangkan, mengingat penampilan burung merak jauh lebih glamor dibanding sepupunya yang sering terlihat di halaman belakang rumah.

Burung merak sering dianggap sebagai salah satu spesies burung paling indah di dunia. Burung ini bukan burung lokal khas satu negara saja. Burung merak tersebar di beberapa bagian Asia dan bahkan Afrika. Secara umum, ada tiga spesies utama burung merak di dunia.


Merak Biru (Pavo cristatus)


Pertama adalah Merak Biru atau Pavo cristatus, jenis kedua adalah Merak Hijau atau Pavo muticus. Untuk spesies ketiga agak berbeda, yaitu burung Merak Kongo atau Afropavo congensis. Masing-masing jenis tentu punya pesonanya sendiri.

Baca juga : Ayam Hutan Merah, Nenek Moyang Ayam Peliharaan Ternyata sangat Pemalu

Jenis merak hijau dan biru termasuk spesies Asiatik. Merak hijau banyak dijumpai di Asia Tenggara, sedangkan merak biru banyak ditemukan di India. Sementara itu, merak Kongo adalah spesies merak yang berasal dari Cekungan Kongo. Di antara ketiganya, merak India (Pavo cristatus) adalah yang paling terkenal dan sering dijadikan simbol keindahan alam.


Merak Hijau (Pavo muticus)


Salah satu hal paling menarik dari burung merak adalah penampilan yang berbeda antara jantan dan betinanya. Perbedaan ini disebut dimorfisme seksual, istilah biologi untuk menggambarkan bagaimana jantan dan betina dalam satu spesies bisa terlihat sangat berbeda.

Jadi pada burung merak, bisa langsung diketahui mana jantan dan mana betina hanya dengan sekali lihat. Perbedaan penampilan ini bukan tanpa alasan. Dalam proses evolusi, sifat-sifat seperti warna cerah dan ekor panjang pada merak jantan muncul karena seleksi alam dan seleksi seksual.

Betina biasanya memilih jantan dengan bulu paling indah dan sehat sebagai pasangan, karena itu menandakan bahwa jantan tersebut kuat dan memiliki gen yang baik. Ekor menjadi pembeda paling mencolok antara merak jantan dan betina.

Merak jantan memiliki bulu penutup ekor yang sangat panjang, bisa mencapai 180 hingga 220 sentimeter. Di setiap helainya terdapat pola berbentuk “mata” yang tampak berkilau saat terkena cahaya. Biasanya, jantan akan mengembangkan bulu ekornya ini dalam ritual kawin untuk menarik perhatian betina.


Merak Congo (Afropavo congensis)


Sementara itu, merak betina punya ekor yang jauh lebih pendek dan berwarna lebih kalem. Tidak ada pola “mata” seperti pada jantan, karena fungsinya berbeda. Warna bulu yang agak kusam justru membantu betina berkamuflase di alam, terutama saat mengerami telur agar terlindung dari pemangsa.

Baca juga : Pheasant, Satwa Eksotis dari Pegunungan Tiongkok Berharga Fantastis

Warna-warni yang tampak mencolok itu sebenarnya bukan hasil pigmen, melainkan berasal dari fenomena yang disebut iridesensi. Setiap helai bulu merak punya struktur mikroskopis yang mampu membiaskan dan memantulkan cahaya, sehingga menghasilkan efek warna yang berubah-ubah tergantung dari sudut pandang dan arah cahaya.


Burung merak lebih sering terlihat di darat


Merak jantan biasanya berukuran lebih besar dan berat dibandingkan betina. Berat tubuhnya bisa mencapai sekitar 5 kilogram dengan panjang tubuh mencapai 2 meter lebih, termasuk bagian ekornya yang menjuntai indah. Di sisi lain, merak betina punya tubuh yang lebih kecil dan ringan, dengan berat sekitar 3 kilogram dan panjang sekitar 1 meter.

Penampilannya memang tidak semegah jantan, tapi justru itulah keunikannya. Di habitat aslinya, bentuk tubuh yang lebih ringan membuat merak betina bisa bersembunyi lebih mudah dari predator, sedangkan ukuran besar pada jantan berfungsi untuk menarik perhatian betina dalam proses kawin.

Di atas kepala merak ada jambul tegak yang mirip mahkota kecil. Pada merak jantan, jambulnya terlihat lebih besar dan mencolok. Ujung-ujung bulunya berdiri tegak dengan warna yang serasi dengan bulu tubuhnya. Sementara itu, jambul pada merak betina tampak lebih kecil dan halus.

Meski tidak seindah milik jantan, bagian ini punya fungsi penting. Jambul betina ternyata berperan sebagai organ sensorik yang peka terhadap getaran. Saat merak jantan melakukan tarian kawin sambil mengibaskan ekornya, jambul betina akan menangkap getaran halus yang dihasilkan gerakan itu. Jadi, selain melihat tarian indah sang jantan, si betina juga bisa “merasakan” iramanya lewat getaran yang ditangkap jambulnya.


Burung Merak juga mampu terbang jauh


Habitat burung merak sangat bervariasi tergantung jenisnya. Merak Asia bukan tipe burung yang terpaku di satu tempat saja, tapi lebih suka tinggal di lingkungan yang memberi ruang untuk bergerak bebas dan mencari makan. Biasanya, burung ini bisa ditemukan di hutan terbuka, padang rumput, atau sabana yang masih punya pepohonan rindang di sekitarnya.

Baca juga : Sempidan, Burung Pegar Hutan Pemalu Endemik Sumatera dan Kalimantan

Selain itu, merak Asia juga sering hidup di hutan tropis dataran rendah yang lembap dan hangat. Tempat seperti ini menyediakan banyak sumber makanan dan area yang aman untuk bertengger. Bahkan, di beberapa wilayah Asia, burung merak berkeliaran di sekitar kota atau taman besar. Hal ini terjadi karena cukup terbiasa dengan kehadiran manusia, asal lingkungannya masih menyediakan makanan dan tempat berteduh.


Seekor induk merak sedang mengerami telurnya


Merak Kongo bisa ditemukan di hutan hujan dataran rendah yang lebat di wilayah cekungan Kongo, Afrika Tengah. Burung ini hidup di area lembap dan rindang yang jadi habitat alaminya, tempat untuk mencari makan sekaligus berlindung dari predator. Karena kehidupan tersembunyi di kedalaman hutan membuat spesies ini menjadi yang paling misterius dan paling akhir ditemukan di antara ketiga jenis merak.

Burung merak adalah hewan omnivora yang memakan berbagai jenis makanan di tanah, termasuk biji-bijian, buah-buahan, serangga, tanaman hijau, hingga reptil kecil. Saat merasa terancam, burung merak bisa lari cepat atau terbang ke pohon. Burung merak bisa terbang, dan termasuk salah satu burung terbang terbesar dan terberat di dunia. Merak lebih sering berjalan di darat, dan menggunakan kemampuan terbangnya untuk jarak pendek, seperti menghindari predator, berpindah tempat, atau bertengger di atas pohon saat malam hari.


Induk merak bersama anak-anaknya yang baru saja menetas



Di musim kawin, perilaku burung merak akan berubah. Merak jantan jadi lebih vokal, lebih sering membuka ekor, dan kadang bisa bertarung dengan sesama jantan untuk menarik perhatian betina. Burung merak dikenal dengan perilaku yang menarik saat musim kawin. Merak jantan akan mengembangkan bulunya dan melakukan tarian untuk menarik perhatian betina. Suara berisik yang dikeluarkan selama proses ini juga berfungsi untuk menarik pasangan.

Meskipun memiliki daya tarik yang besar, populasi merak menghadapi ancaman serius akibat kehilangan habitat, perburuan liar, dan perubahan iklim. Upaya konservasi diperlukan untuk melindungi spesies ini agar tetap lestari di alam liar. Taman nasional dan cagar alam menjadi tempat perlindungan penting bagi burung merak. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Merak, Burung dengan Warna Bulu Paling Memukau di Dunia


PPDSI Blitar Selenggarakan Bupati Blitar Cup #4 LDI 2026 Putaran 4, Kamajaya Malioboro dan Perdana di Podium Juara

Pengcab. PPDSI Blitar baru saja menggelar even akbar. Lomba derkuku bertajuk Bupati Blitar Cup #4, Liga Derkuku Indonesia Putaran 4 yang di...