Selasa, 30 Juni 2026

Biwa, Buah Eksotis Asal Tiongkok Mirip Pir dan Plum yang Kaya Manfaat





Biwa (Eriobotrya japonica) merupakan salah satu jenis buah yang mungkin tidak populer bagi masyarakat Indonesia. Buah ini sangat jarang sekali ditemukan bahkan di toko buah ternama sekalipun. Ini disebabkan, buah biwa merupakan salah satu buah langka yang tidak banyak dibudidayakan di Indonesia.

Tanaman buah biwa ini sangat cocok tumbuh di daerah dataran tinggi salah satunya di Tanah Karo. Tanaman ini sudah tidak asing bagi masyarakat di Kabupaten Karo karena banyak penduduk yang menanam tanaman biwa di halaman rumah dan lahan pertanian mereka sebagai tanaman pagar namun bukan sebagai tanaman utama.

Tanaman ini berasal dari Negeri Tirai Bambu Tiongkok. Tanaman ini telah ada dan jadi budidaya di sana selama lebih dari seribu tahun yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Louisiana (negara bagian Amerika Serikat), menyebut buah ibi loquat sebagai “kesalahpahaman” dan tumbuh di pekarangan rumah.



Tanaman Biwa telah jadi tanaman budidaya di Tiongkok ribuan tahun lalu



Ada dugaaan Imigran Tiongkok membawa loquat ke Hawaii dan California. Tanaman ini telah jadi budidaya di Jepang selama sekitar 1.000 tahun dan mungkin buah serta bijinya kembali dari Tiongkok ke Jepang oleh banyak sarjana Jepang yang berkunjung dan belajar di Tiongkok pada masa Dinasti Tang.


Catatan spesies ini yang pertama di Eropa mungkin terjadi pada abad ke-16 oleh Michał Boym, seorang jesuit Polandia, orientalis, politisi, dan misionaris ke Tiongkok. Dia mendeskripsikan loquat dalam bukunya Flora sinensis, buku sejarah alam Eropa pertama tentang Tiongkok.



Tanaman biwa yang tengah berbunga



Nama umum buah ini berasal dari bahasa Portugis nêspera (dari nespilus yang dimodifikasi , aslinya mespilus, yang mengacu pada medlar). Karena kontak pertama orang Portugis dengan orang Jepang dan Cina juga terjadi pada abad ke-16, kemungkinan beberapa dibawa kembali ke Eropa, seperti halnya spesies lain seperti varietas kesemek Hachiya.

Varietas yang paling umum di Portugal adalah ‘Tanaka’ yang masaknya terlambat, yang populer diatanam di kebun dan halaman belakang, tetapi tidak diproduksi secara komersial. Di Portugal utara, tanaman ini populer disebut magnório atau magnólio, mungkin ada hubungannya dengan ahli botani Perancis Pierre Magnol.

Di Spanyol, buah ini juga disebut nísperos dan dieksploitasi secara komersial. Negara Spanyol menjadi produsen buah biwa terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok, dengan produksi 41.487 ton per tahun, setengahnya ditujukan untuk pasar ekspor.

Tanaman biwa adalah semak besar atau pohon kecil yang selalu hijau, dengan mahkota bulat, batang pendek, dan ranting baru berbulu. Pohon ini dapat tumbuh setinggi 5 hingga 10 m tetapi seringkali lebih kecil, sekitar 3 hingga 4 m.



Buah biwa yang telah masak dan siap dipanen



Daunnya memiliki penampilan yang khas, dengan sifat berselang-seling dan tekstur yang keras serta kasar. Panjangnya berkisar antara 10 hingga 25 cm, berwarna hijau tua, dan memiliki tepi yang bergerigi. Bagian bawah daunnya ditutupi oleh rambut halus yang mirip beludru berwarna kuning kecokelatan, sementara daun-daun muda juga memiliki rambut yang tebal di bagian atas, meskipun rambut ini segera terkelupas.


Bunganya muncul di musim gugur atau awal musim dingin. Bunga-bunganya berdiameter sekitar 2 cm, berwarna putih, dan terdiri dari lima kelopak, membentuk malai kaku yang terdiri dari tiga hingga sepuluh bunga. Selain itu, bunga ini memiliki aroma manis yang dapat tercium dari kejauhan.



Biji buah biwa



Tumbuh dalam kelompok-kelompok kecil dan memiliki beragam bentuk, baik lonjong, bulat, atau seperti buah pir, dengan ukuran sekitar 3 hingga 5 cm. Kulitnya dapat berupa yang halus atau berbulu lembut, berwarna kuning, oranye, bahkan kadang-kadang merona.

Dagingnya yang segar dan tajam bisa memiliki warna putih, kuning, atau oranye, serta rasa yang bervariasi dari yang manis hingga agak asam atau bahkan asam, tergantung pada kultivar tertentu. Masing-masing buah biwa mengandung sekitar satu hingga sepuluh bakal biji.

Walaupun ada tiga hingga lima bakal biji adalah yang paling umum. Beberapa di antara bakal biji ini bisa matang dan menjadi biji besar berwarna coklat, meskipun jumlah biji yang muncul pada setiap buah pada pohon yang sama bisa berbeda, biasanya berkisar antara satu hingga empat biji.

Buah biwa mengandung tinggi gula, asam, dan pektin. Buah ini sering makan segar dan bisa campur dengan buah-buahan lain dalam salad buah segar atau dalam cangkir buah. Selain itu, buah biwa sering menjadi selai, jeli, dan chutney, serta sering tersaji setelah rebus dengan sirup ringan.



Masyarakat Tanah Karo tengah memanen buah biwa



Ketika buah masih keras dan belum matang, biasanya untuk membuat pai atau kue tar, sementara yang paling nikmat adalah ketika buah telah lunak dan berwarna oranye. Tidak jarang, buah biwa juga dalam bentuk kalengan atauiolah menjadi manisan.


Hal ini karena sekitar 30% atau lebih dari buah tersebut adalah limbah yang terdiri dari ukuran benih. Selain itu, loquat juga dapat untuk membuat jus atau smoothie. Di beberapa negara Amerika Selatan seperti Ekuador, buah biwa sering untuk membuat “batidos” yang bercampur dengan susu, es, atau buah-buahan lainnya.



Masa panen buah biwa di bulan Nopember – Desember



Buah biwa memiliki berbagai macam mineral, asam lemak, protein, karbohidrat, serat, serta vitamin, loquat memiliki banyak manfaat yang baik untuk kesehatan berupa melancarkan sirkulasi pada darah hingga menjaga kesehatan ginjal. (Ramlee)


Sumber : remen.id


Senin, 29 Juni 2026

Pelanduk Kalimantan, Spesies Burung Endemik Kalimantan yang Sempat Dianggap Punah Lebih 170 Tahun Lalu



Pelanduk Kalimantan (Malacocincla perspicillata) merupakan satu dari sedikit burung Indonesia yang hidupnya seperti legenda. Burung penyanyi ini di dunia internasional sebagai black-browed babbler. Di tingkat lokal, warga Kalimantan mengenalnya sebagai burung pelanduk, meski tidak terkait dengan mamalia pelanduk.

Burung Pelanduk Kalimantan sesungguhnya bukan satu-satu burung dari jenis pelanduk. Di Indonesia, diketahui ada beberapa jenis pelanduk lain. Sayangnya, semua jenis burung tersebut masih minim data. Pelanduk Kalimantan adalah burung endemik Indonesia dan diyakini hanya hidup di Pulau Kalimantan.

Namanya jarang terdengar, wujudnya nyaris mitos, jejaknya lama menghilang. Burung ini bukan sekadar spesies langka, tetapi simbol betapa rapuhnya pengetahuan manusia tentang hutan tropis. Keberadaan burung ini bermula pada abad ke-19, masa eksplorasi kolonial.


Spesimen Pelanduk Kalimantan di tahun 1840an


Spesimen pertama dikumpulkan Carl A.L.M. Schwaner pada 1840-an. Deskripsi ilmiah kemudian dibuat Charles Lucien Bonaparte pada 1850. Namun sejak saat itu, Pelanduk Kalimantan lenyap dari catatan ilmiah. Ketiadaan data membuat status Pelanduk Kalimantan jadi simpang siur.

Baca juga : Yuhina Kalimantan, Burung Endemik Kalimantan yang Suaranya Mirip Cucak Jenggot

Pelanduk Kalimantan sempat dianggap punah, lalu dinilai rentan, hingga akhirnya berstatus kurang data. Penilaian terakhir ditetapkan oleh International Union for Conservation of Nature pada 2008. Semua berubah pada bulan Oktober 2020, ketika dua warga lokal, bernama Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan menemukan burung asing saat mengumpulkan hasil hutan di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.


Pelanduk Kalimantan ketika ditemukan kembali pada tahun 2020


Mereka memotret burung tersebut, sebelum melepasnya kembali ke alam, lalu melapor ke komunitas pengamat burung. Foto tersebut beredar cepat di kalangan ornitolog. Komunitas BW Galeatus dan Birdpacker mencium sesuatu yang tak biasa. Dugaan mengarah pada Pelanduk Kalimantan yang hilang berabad-abad.

Identifikasi terhadap foto burung tersebut dilakukan hati-hati, melibatkan peneliti nasional dan internasional. Spesimen foto dibandingkan dengan koleksi Naturalis Biodiversity Center Belanda. Hasilnya mengejutkan dan menggembirakan. Temuan itu dikonfirmasi dalam jurnal BirdingASIA tahun 2021.

Penulis utama Panji Gusti Akbar menyebutnya penemuan zoologi paling dramatis Indonesia modern. Dunia sains pun tersentak. Pelanduk Kalimantan sempat dianggap punah selama 172 tahun. Pelanduk Kalimantan berukuran sekitar 16 sentimeter. Tubuhnya kekar untuk ukuran burung penyanyi.

Warna bulu dominan cokelat dengan burik abu-abu di bagian perut. Ciri paling mencolok adalah garis hitam tebal di atas mata. Alis hitam itu membentang dari paruh hingga tengkuk, seperti topeng. Inilah asal nama black-browed babbler (burung pengicau alis hitam). Iris matanya merah tua, detail yang lama keliru dipahami.


Burung Pelanduk Kalimantan muncul lagi,setelah dianggap punah sejak 170 tahun lalu


Spesimen awetan abad ke-19 memakai mata buatan berwarna kuning. Kesalahan taksidermi itu menyesatkan generasi peneliti berikutnya. Paruhnya hitam dan sangat kuat. Bentuk ini menandakan adaptasi Pelanduk Kalimantan saat mencari makan di lantai hutan. Kakinya abu-abu gelap, kokoh untuk berjalan di serasah.

Baca juga : Katak Kepala Pipih Kalimantan, Katak Tanpa Paru Endemik Kalimantan yang Terancam Punah

Lehernya pendek, badannya padat, sayapnya relatif pendek. Pelanduk Kalimantan bukan penerbang jarak jauh. Kemampuan terbangnya rendah dan cenderung meloncat di bawah tajuk hutan. Perbedaan jantan dan betina belum terdeskripsi jelas. Minimnya pengamatan lapangan membuat dimorfisme seksual masih teka-teki. Data genetiknya pun belum tersedia.


Warna bulu Pelanduk Kalimantan dominan cokelat dengan burik abu-abu di bagian perut


Secara taksonomi, burung ini termasuk ordo Passeriformes. Pelanduk Kalimantan berada dalam famili Timaliidae, kelompok babbler Asia. Genus Malacocincla dikenal sebagai burung pemalu penghuni lantai hutan. Jenis dalam spesies ini belum dibedakan lebih lanjut. Populasinya diduga sangat kecil dan terfragmentasi. Inilah alasan kuat sulitnya perjumpaan Pelanduk Kalimantan selama dua abad.

Makanan Pelanduk Kalimantan diperkirakan serangga kecil dan invertebrata tanah. Ia mencari makan di serasah daun basah. Paruh kuat membantu membongkar lapisan tanah lunak. Habitat alaminya adalah hutan dataran rendah lembap. Banyak ahli menduga Pelanduk Kalimantan menyukai hutan rawa gambut.

Wilayah Pegunungan Meratus disebut sebagai kantong penting. Fungsi ekologisnya tidak bisa diremehkan. Burung lantai hutan membantu mengontrol populasi serangga. Pelanduk Kalimantan juga berperan dalam siklus nutrien tanah. Bunyi Pelanduk Kalimantan belum pernah direkam.

Hingga kini, tidak ada dokumentasi suara valid. Ini menjadikannya satu dari sedikit burung Indonesia tanpa arsip vokalisasi. Banyak informasi yang belum tergali seperti reproduksi Pelanduk Kalimantan, usia matang seksual, musim berbiak, semuanya belum diketahui. Sarangnya pun belum pernah ditemukan. Informasi tentang jumlah telur, masa pengeraman, hingga kemandirian anakan masih kosong.


Kaki Pelanduk Kalimantan berwarna abu-abu gelap


Kekosongan data ini menunjukkan betapa minimnya riset di luar Jawa. Para ahli mengakui adanya jurang pengetahuan besar. Tantangan utama adalah minimnya survei lanjutan. Akses lokasi sulit dan populasi sangat jarang. Kesalahan langkah bisa berakibat fatal bagi spesies ini.

Baca juga : Biawak Kalimantan, Fosil Hidup Misterius dari Kalimantan yang Mampu Mendengar Tanpa Telinga

Ding Li Yong dari BirdLife International menyebut penemuan ini ironi sekaligus harapan. Saat hutan tergerus, spesies ini justru bertahan. Akan tetapi ancaman habitat tetap nyata. Deforestasi Kalimantan berlangsung cepat dan masif. Hutan dataran rendah menjadi yang paling tertekan. Di sinilah Pelanduk Kalimantan hidup.


Data informasi tentang Pelanduk Kalimatan sangat minim


Hingga kini, burung ini belum masuk daftar satwa dilindungi nasional. Pemerintah melalui KLHK menyatakan proses kajian masih berjalan. Rekomendasi ilmiah sangat dibutuhkan. Mengacu Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dalam Pasal 5 disebutkan, jenis tumbuhan dan satwa yang wajib dilindungi adalah apabila diketahui populasi yang kecil, adanya penurunan individu yang tajam di alam, dan daerah persebarannya terbatas (endemic). (Ramlee)


Sumber : remen.id

Pelanduk Kalimantan, Burung Penyanyi Endemik Kalimantan yang Sempat Dianggap Punah


Minggu, 28 Juni 2026

LatBer Puter Pelung AG BF Bangkalan, Cakra Ningrat Produk SJM Tampil Mengesankan



AG Bird Farm Bvangkalan kembali agendakan lomba seni suara burung puter pelung dengan tajuk “Latber Rutin AG Bird Farm” pada Minggu, 19 Juni 2026 yang dikemas oleh H. Alif M. Nur, di Gantangan AG BF Bangkalan Jl Pertahanan No. 191 Bancaran – Bangkalan, acara berlangsung ramai dan lancar tanpa hambatan.

Kegiatan Latber AG BF merupakan agenda rutin yang kali ini digelar pada medio bulan ini sekaligus untuk mengisi waktu kosong karena tidak ada jadwal lomba yang berdekatan pelaksanaannya. H. Alif M. Nur pemilik AG Bird Farm ini segera berinisiatif menggelar kegiatan Latber.


Bendera penilaian telah disiapkan panitia Latber Rutin AG Bird Farm


“Hari ini saya kembali mengadakan Latber yang memang rutin setiap bulannya serta untuk mengisi waktu kosong karena tidak ada lomba yang berdekatan,” jelas H. Alif. “Hanya ada satu kelas yang dibuka yakni kelas Bebas karena menyesuaikan dengan waktu yang ada,” ujar H. Alif selaku ketua pelaksana.

Kabar adanya kegiatan ini memang tidak disebarkan secara luas karena memang merupakan kegiatan rutin yang diikuti oleh para mania puter pelung di sekitaran Bangkalan. “Informasi Latber ini memang tidak menyebar secara intens di berbagai platform media sosaial karena sifat kegiatannya,” sambung H. Alif.


Seorang peserta sedang menyiapkan burungnya sebelum lomba dimulai


Meski sifatnya terbatas, ternyata jumlah peserta yang ikut lumayan, separuh gantangan yang ada dipenuhi para peserta. Hal ini tentunya tidak lepas dari bandrol tiket yang tergoong sangat murah. “Uang pendaftaran cukup kekeluargaan dengan 25 ribu rupiah, para peserta lomba bisa membawa pulang piala, piagam, dan sembako,” tutur H. Alif.

“Alhamdulillah peserta yang datang meramaikan cukup menggembirakan. Saya atas nama panitia, mengucapkan banyak terima kasih kepada semua yang hadir,” ungkap H. Alif. “Karena tanpa dukungan dan partisipasi para pecinta puter pelung di Bangkalan dan daerah sekitarnya, saya yakin latber rutin ini tidak mungkin bisa meriah seperti ini.”


Burung mulai dinaikkan pertanda lomba akan segera dimulai


H. Alif juga bersyukur jika hari itu para pecinta puter pelung datang tepat waktu, sehingga pelaksanaan penjurian tidak terlalu siang dimulainya. H. Alif menegaskan bahwa agenda ini dilakukan untuk memberikan wadah bagi puter pelung mania setempat agar bisa tetap menyalurkan hobi puter pelungnya.

Seperti daerah lain di Pulau Madura, Bangkalan merupakan salah satu daerah yang memiliki semangat berlomba yang luar biasa. Dan Latber AG BF ini telah menjadi salah satu alternatif bagi mereka yang menginginkan adanya lomba.


Suasana penjurian berjalan syahdu


Agar mereka bisa terus berada di gantangan, membawa puter pelung orbitannya untuk dilombakan. Dengan begitu kualitas anggung burung kesayangan mereka dapat diketahui dengan pasti. “Kegiatan ini kami laksanakan dengan sederhana, yang penting kami bisa kembali bertemu bersama rekan-rekan sesama puter pelung,” tegas H. Alif.

Cuaca cerah sepertinya juga memberikan dukungan penuh. Panitia memutuskan menggunakan format penilaian dengan durasi penilain selama tiga babak. Penjurian berlangsung sukses dan lancar. Semua peserta terlihat sangat kondusif saat mengawal jagonya, tanpa ada satupun yang berteriak.


H. Alif bersama para juara


Semua mengikuti penilaian dari babak ke babak dengan tenang. Dari awal babak 1 sampai 3 nomor gantangan 17, 11, 16, dan 4 mampu menampilkan suara terbaiknya. Gantangan 17, 12, dan 16 sempurna mendapatkan bendera 4 warna.

Untuk podium pertama berhasil menjadi milik Cakra Ningrat amunisi Anis Bangkalan ring SJM 01 yang digantang pada nomor 17. Posisi kedua diamankan Roket andalan Yan’s Bangkalan, ternakan Yan’s 233 yang berada di nomor gantangan 11. Di tempat ketiga berhasil dimenangkan oleh Jamrut orbitan H. Yusuf Bangkalan, produk ternak Sakera 17 yang berada di nomor gantangan 16.



“Saya atas nama panitia dan juga sebagai penanggungjawab acara, mengucapkan banyak terim kasih kepada semua puter pelung mania yang hadir ikut mensukseskan acara ini. Serta mohon ma’af jika masih banyak kekurangan. Selamat kepada para juara, untuk yang belum bisa berprestasi semoga bulan depan bisa tampil jauh lebih baik,” tutup H. Alif. (Ramlee/AG)


Rabu, 24 Juni 2026

Kuntara, Ayam Kampung Unggul Nusantara dengan Produktivitas Telur yang Fantastis



Ayam Kuntara (Kampung Unggul Nusantara) merupakan galur ayam kampung unggul hasil seleksi intensif. Pengembangannya diprakarsai oleh Edi Irawan dari Kabrokan Kulon, Sendangsari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta. Seorang breeder ayam yang telah lama berkecimpung di dunia perunggasan, khususnya dalam breeding ayam Joper.

Ayam Joper sendiri merupakan hasil persilangan ayam layer dengan ayam Bangkok, yang banyak digunakan untuk pedaging. Persilangan pertama menggunakan PS layer, kedu merah, dan astrolop. Sedangkan pada persilangan kedua menggunakan kedu merah, baret, dan bitleyhor. Persilangan dibuat dengan tujuan untuk mengatasi rendahnya produksi telur ayam kampung biasa.

Nama “Kuntara” juga diambil dari nama rekan breeder, Pak Anggoro (Kunto), yang turut berkontribusi dalam pengembangannya. Filosofi utama pengembangan ayam Kuntara adalah kemandirian breeder. Peternak tidak lagi bergantung pada pembelian indukan terus-menerus, melainkan mampu mencetak indukan sendiri sesuai kapasitas dan kebutuhan.


Ayam Kuntara mempunyai postur besar


Ayam Kuntara diluncurkan pada akhir tahun 2022, dan diberi nama Kuntara 4. Secara morfologi, ayam Kuntara memiliki postur yang mendekati ayam petelur. Ciri-cirinya antara lain berjengger jelas, bulu agak tebal, dan struktur tubuh yang mendukung produksi telur tinggi.

Baca juga : Ayam Kampung, Salah Satu Jenis Ayam Paling Populer di Masyarakat

Namun demikian, warna telur dan rasa dagingnya tetap masuk kategori ayam kampung, sehingga diterima dengan baik oleh pasar tradisional maupun konsumen ayam kampung. Inilah yang menjadikan ayam Kuntara berada di posisi unik: ayam petelur kampung, bukan ayam ras murni, tetapi juga bukan ayam kampung tradisional yang produktivitasnya rendah.


Permintaan DOC ayam Kuntara saat ini sangat tinggi


Salah satu keunggulan utama ayam Kuntara adalah produktivitas telurnya. Ayam Kuntara mulai bertelur pada umur 4,5 – 5 bulan. Berat telur yang dihasilkan mencapai 55 – 65 gram atau jauh lebih besar dari telur ayam kampung biasa. Ayam Kuntara mampu memproduksi telur setara ayam layer (ayam petelur) yang menghasilkan telur konsumsi dengan produktivitas tinggi.

Ayam Kuntara mampu menghasilkan telur sekitar 280 hingga 300 butir per tahun dengan berat telur mencapai 60 gram. Puncak produksinya mencapai 80 % – 90 % pada umur 28 minggu. Dengan rata-rata produksi telur hingga 70 sampai 80 % per tahun. Ayam ini tidak memiliki sifat mengeram, sehingga memungkinkannya untuk bertelur terus sepanjang tahun.

Dalam kondisi perawatan standar, tingkat produksi telur dapat mencapai di atas 70%, dan dengan manajemen pakan serta lingkungan yang baik, dapat meningkat hingga 80%. Dalam hitungan tahunan, seekor ayam Kuntara mampu menghasilkan sekitar 300 butir telur per tahun.

Angka ini sangat tinggi untuk ukuran ayam kampung, sehingga menjadikannya sangat potensial untuk usaha penetasan dan produksi DOC. Produktivitas telur yang stabil juga membuat arus pendapatan peternak lebih kontinyu, terutama bagi mereka yang fokus pada penjualan DOC atau telur konsumsi.


Pemeliharaan ayam Kuntara dengan sistem kandang insentif



Keunggulan lain yang sangat menonjol dari ayam Kuntara adalah ketahanan terhadap penyakit. Ayam ini dikenal tidak mudah tertular penyakit menular seperti senot atau gangguan pernapasan ringan, mencret, dan tidak mudah stres. Bahkan jika ada individu yang sakit, penularannya sangat minim.

Baca juga : Ayam KUB, Ayam Kampung Galur Baru Unggul Hasil Penelitian dan Seleksi Balitbangtan

Ayam Kuntara memiliki karakter jinak, tenang, dan tidak kanibal. Ayam Kuntara memiliki masa brooding yang relatif singkat. Jika ayam lain membutuhkan pemanas hingga 3 – 4 minggu, ayam Kuntara cukup membutuhkan pemanas selama 10 – 15 hari.


Pemeliharaan ayam Kuntara dengan sistem koloni


Setelah itu, DOC sudah cukup kuat dan hanya memerlukan kehangatan ruang. Bahkan dalam kondisi tertentu, ayam Kuntara dapat langsung diumbar setelah dua minggu karena daya tahannya terhadap dingin cukup baik. Hal ini tentu menghemat biaya listrik, gas pemanas, dan tenaga kerja.

Ayam ini memiliki ukuran tubuh lebih besar dari ayam kampung biasa, dengan bobot sekitar 2,5 hingga 3,5 kg untuk ayam dewasa. Membuatnya cocok sebagai ayam pedaging saat masa produktif telur berakhir. Ayam ini termasuk tipe dual purpose (ayam pedaging dan ayam petelur).

Fisik ayam ini mirip ayam impor (seperti Barred Rock atau Brown Horn). Dengan varian warna bulu yang beragam, meliputi hitam, kelabu (abu-abu), dan jali (lurik/bergaris). Ada juga yang memiliki warna bulu dominan merah kekuningan, dengan corak oranye dan kuning cerah yang menyala. Memiliki suara yang cukup nyaring dengan nada melengking yang khas.

Pakan ayam Kuntara (Kampung Unggul Untara) difokuskan pada nutrisi tinggi untuk pertumbuhan cepat dan produksi telur, dengan campuran utama konsentrat layer 50%, jagung 75%, dan katul 26% saat masa bertelur. Konsumsi pakan harian berkisar 110-120 gram per ekor, dengan kebutuhan pakan sekitar 2,5 kg untuk mencapai bobot 1 kg.


Produktivitas telur ayam Kuntara sangat tinggi


Manajemen pakan ayam Kuntara berdasarkan fasenya yakni fase starter (DOC – 2,5 bulan) dengan menggunakan pakan pur khusus petelur (seperti Pardok) secara ad libitum (tanpa takaran) untuk pertumbuhan optimal. Untuk fase grower (2,5 – 4,5 Bulan) pemberian pakan mulai ditakar.

Baca juga : Joper, Ayam Kampung Unggul dan Hemat Pakan dengan Masa Panen Singkat

Dengan menggunakan pakan campuran jagung, katul, dan sedikit konsentrat untuk mempersiapkan masa bertelur. Pada fase layer/petelur (4,5 bulan ke atas), diberikan campuran pakan konsentrat layer 50%, jagung 75%, dan katul 26%. Pakan bisa ditambah bahan alternatif seperti sisa roti/biskuit, tepung ikan, dan sayuran.





Ayam Kuntara kini diminati para peternak untuk dikembangkan



Kebutuhan pakan ayam Kuntara dewasa membutuhkan sekitar 110 gram per hari, sedikit lebih banyak dibanding ayam KUB karena ukuran tubuhnya yang lebih besar. Hindari overfeeding untuk mencegah obesitas yang menurunkan produksi telur. Pakan fermentasi dapat digunakan untuk meningkatkan nutrisi.

Ayam Kuntara dapat dipelihara dengan sistem kandang koloni maupun intensif. Ayam Kuntara sangat cocok untuk peternak yang mencari ayam lokal atau ayam kampung dengan produktivitas setara ras petelur namun memiliki ketahanan fisik yang kuat. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Kuntara, Ayam Kampung Unggul Bertubuh Besar dengan Kemampuan sebagai Ayam Petelur


Rabu, 17 Juni 2026

Babadotan, Tanaman Gulma yang Banyak Manfaatnya



Babadotan (Ageratum conyzoides) disebut wedusan tanaman gulma di lahan-lahan pertanian. Dikenal oleh masyarakat Jawa Tengah sebagai bandotan merupakan jenis tumbuhan bawah dari famili Asteraceae. Terna semusim ini berasal dari Amerika tropis, khususnya Brasil.

Akan tetapi telah lama masuk dan hidup liar di wilayah Nusantara. Disebut juga sebagai wedusan (Jawa), dus-bedusan (Madura.), Siangit (Sumatera), juga Dawet/Lawet (Sulawesi). Serta Billygoat-weed, Goatweed, Chick weed, atau Whiteweed dalam bahasa Inggris.


Babadotan hadir sebagai tanaman gulma di lahan pertanian


Tumbuhan ini mendapatkan namanya karena bau yang dikeluarkannya menyerupai bau kambing. Tumbuhan ini menyebar luas di seluruh wilayah tropika, bahkan hingga subtropika. Didatangkan ke Jawa sebelum 1860, kini gulma ini telah menyebar luas di Indonesia.

Baca juga : Rumput Teki, Gulma Pengganggu yang Bisa Dimanfaatkan untuk Pengobatan

Di Amerika Selatan, tumbuhan ini malah dibudidayakan. Menurut catatan sejarah, bandotan memang didatangkan dari Meksiko. Bandotan sering ditemukan sebagai tumbuhan pengganggu di sawah-sawah yang mengering, ladang, pekarangan, tepi jalan, tanggul, tepi air, dan wilayah bersemak belukar. Tumbuh dengan baik di wilayah pada ketinggian 1-2.100 m dpl.


Babadotan mempunyai akar serabut


Batang Babadotan tegak atau berbaring, silindris, berambut panjang, berwarna hijau, sering berwarna keunguan, dan dapat tumbuh hingga ketinggian 30-120 cm. Daun-daun bertangkai, 0,5–5 cm, terletak berseling atau berhadapan, terutama yang letaknya di bagian bawah.

Helaian daun bundar telur hingga menyerupai belah ketupat, 2–10 × 0,5–5 cm; dengan pangkal agak-agak seperti jantung, membulat atau meruncing; dan ujung tumpul atau meruncing; bertepi beringgit atau bergerigi; kedua permukaannya berambut panjang, dengan kelenjar di sisi bawah.


Daun babadotan sering dijadikan ramuan obat tradisional


Batang yang menyentuh tanah dapat mengeluarkan akar. Sistem perakaran tunggang, seringkali berwarna keputihan atau coklat muda. Daun babadotan berwarna hijau segar. Daunnya tunggal bertangkai, letaknya berhadapan (terutama di bagian bawah) atau berseling.

Baca juga : Balakacida, Tanaman Liar yang Telah Lama Digunakan dalam Pengobatan Tradisional

Helaian daun babdotan berbentuk bulat telur hingga belah ketupat, dengan pangkal membulat atau runcing, dan ujung meruncing. Tepi daunnya beringgit atau bergerigi, dengan panjang sekitar 2–10 cm dan lebar 0,5–5 cm. Kedua permukaan daun berambut.


Bunga Babadotan


Bunga-bunga dengan kelamin yang sama berkumpul dalam bongkol rata-atas, yang selanjutnya (3 bongkol atau lebih) terkumpul dalam malai rata terminal. Bongkol berukuran kecil 6–8 mm panjangnya, berisi 60–70 individu bunga, memiliki kelopak berbulu.

Dan bunga berwarna putih atau ungu muda. Buah berbentuk bulat panjang persegi lima, berwarna hitam. Di ujung tangkai yang berambut, dengan 2–3 lingkaran daun pembalut yang lonjong seperti sudip yang meruncing. Mahkota dengan tabung sempit, putih atau ungu. Buah kurung (achenium) bersegi 5, panjang lk. 2 mm; berambut sisik 5, putih.


Biji tanaman Babadotan


Bijinya berbentuk ramping, berukuran kecil, dan berwarna hitam. terna ini berbunga sepanjang tahun dan dapat menghasilkan hingga 40.000 biji per individu tumbuhan. Karenanya, gulma ini dirasakan cukup mengganggu di perkebunan. Namun tanaman Babadotan telah lama dikenal karena khasiat obatnya.

Baca juga : Senggani, Gulma dengan Segudang Manfaat

Daun dan bunganya mengandung saponin, flavonoid, polifenol, asam amino, minyak atsiri, kumarin, ageratochromene, friedelin, ß-sitosterol, stigmasterol, dan tanin. Sementara akarnya mengandung minyak atsiri, alkaloid, dan kumarin. Senyawa aktif ini bermanfaat sebagai antiseptik, antiinflamasi, dan hemostatik alami.


Ramuan herbal dari daun Babadotan


Masyarakat sering memanfaatkannya untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan, mulai dari luka luar hingga gangguan pencernaan. Meskipun memiliki banyak manfaat, penggunaan daun babadotan juga perlu diperhatikan. Beberapa orang mungkin mengalami efek samping seperti, iritasi kulit jika digunakan secara topikal. Reaksi alergi pada orang yang sensitif. Wanita hamil dan menyusui sebaiknya menghindari penggunaan daun babadotan. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Babadotan, Tanaman Gulma dengan Segudang Manfaat


Biwa, Buah Eksotis Asal Tiongkok Mirip Pir dan Plum yang Kaya Manfaat

Biwa (Eriobotrya japonica) merupakan salah satu jenis buah yang mungkin tidak populer bagi masyarakat Indonesia. Buah ini sangat jarang sek...