Minggu, 03 Mei 2026

Team Gerbong Maut Gelar Latber Tapal Kuda, Juara Direbut Rahayu Kopral dan Adidas



Komunitas puter pelung mania Gerbong Maut Bondowoso, kembali menghadirkan gelaran. Acara ini diperuntukkan buat rekan-rekan yang selalu merindukan acara kumpul bareng, pantau bersama puter pelung orbitannya dan menjalin silaturahmi sesama penggemar, penghobi, dan peternak puter pelung di Tapal Kuda.

Acara yang masuk agenda Pengcab PPPPSI Bondowoso itu digelar pada Minggu, 26 April 2026 dengan lokasi di Gantangan Gerbong Maut Pemkab Bondowoso di Pasar Hewan Terpadu Selolembu, Kec Curahdami-Bondowoso. Seperti pada gelaran sebelumnya, acara tetap sama, yakni membuka partai kelas Utama, Madya, dan Pemula.


Tim Gerbang Maut Bondowoso


Menurut Ketua Pelaksana, H. Ichwanto , tujuan dari acara ini. adalah menjalin tali silaturahmi penghobi puter pelung di wilayah Tapal Kuda. H. Ichwanto terus melakukan aksi nyata dan positif, menjadikan organisasi hobi puter pelung sebagai wadah menyalurkan hobi dan menyambung rasa memiliki antar komunitas yang ada.

“Hari ini kami kembali mengadakan kegiatan Lomba Puter Pelung Tapal Kuda,” jelas H. Ichwanto Ketua Pengcab PPPPSI Bondowoso. Kegiatan ini sebagai wujud eksistensi dunia hobi puter pelung di Bondowoso dan daerah Tapal Kuda, dengan harapan agar bisa memberikan efek positif pada daerah sekitar.


Anggota keluarga juga dilibatkan dalam kepanitiaan


“Kami berusaha untuk terus menggelorakan hobi puter pelung dengan harapan dan tujuan agar bisa lebih memasyarakat dan bisa ikut terlibat dalam setiap kegiatan,” papar H. Ichwanto. Dengan adanya kegiatan rutin, maka ada harapan untuk bisa mengajak masyarakat agar mau bergabung dalam komunitas penghobi, peternak, dan pelomba puter pelung.

Kegiatan ini murni untuk memberikan wadah agar puter pelung mania bisa tetap eksis menyalurkan hobinya. Seperti pada gelaran-gelran sebelum, acara tetap mendapatkan respon positif dari peserta. Terbukti dari banyaknya burung yang berada di atas gantangan.


Acara dipandu oleh Ibatha yang begitu atraktif


Tiket yang disediakan menjadi serbuan peserta. Memang belum seperti yang diharapkan, tetapi animo para penghobi untuk menghadiri kegiatan lomba masih tetap baik. “Kami mengajak puter pelung mania Tapal Kuda untuk melombakan burung gacoannya di Latber Tapal Kuda yang membuka kelas Utama, Madya, dan Pemula,” jelas H. Ichwanto

Peserta datang dari berbagai kota yang ada di wilayah Tapal Kuda Jawa Timur. Nampaknya gelaran lomba burung puter pelung inilah yang jadi magnit bagi puter pelung mania untuk datang. Antusias puter pelung mania Tapal Kuda untuk mengikuti acara tersebut terbilang masih cukup besar.


Suasana penjurian Latber Tapal Kuda


“Alhamdulillah keinginan rekan-rekan untuk mengikuti kegiatan ini masih cukup besar,” jelas H. Ichwanto. Ketua Pengcab PPPPSI Bondowoso ini memang getol mengajak daerah-daerah di Tapal Kuda untuk secara rutin membuat kegiatan lomba secara bergantian. Dengan demikian hobi puter pelung tetap bisa berjalan.

Suasana gayeng antar penghobi menjadi pemandangan yang selama ini selalu dirindukan ketika hadir di gantangan. Tidak nampak teriakan berlebihan yang membuat suasana semakin panas. Peserta yang duduk lesehan menikmati benar suara puter pelung di atas gantangan. Suasana yang penuh kedamaian, asyik, dan membuat rasa kekeluargaan semakin kuat.


Penghobi di Tapal Kuda antusias memenuhi undangan Pengcab Bondowoso untuk turun berlomba


Diakhir penjurian, penentuan kejuaraan dilakukan. Untuk podium pertama di kelas Utama berhasil menjadi milik Rahayu andalan Slamet Situbondo, puter pelung ring Arjuna 18 yang berada di gantangan nomor 8. Lalu di tempat kedua ada Raja Tega gaco Danu Situbondo ring W2P yang berada di nomor gantangan 15 dan tempat ketiga diraih Ki Dewo orbitan Rojaa BF Probolinggo ring Neon 171 yang menempati nomor gantangan 7.

Di kelas Madya, podium pertama berhasil di raih Kopral amunisi Abah Yanto Lumajang, puter pelung ring Lokananta 111 yang digantang pada nomor 37. Adidas milik Ibatha Bondowoso ring Ibata 09 yang berada di gantangan nomor 40 raih juara kedua. Tempat ketiga direbut Sengkuni ring Aorora 224 milik Aorora Lumajang di gantangan 38.


Juara tiga besar di kelas Utama


Untuk podium pertama di Pemula berhasil diraih oleh Adidas milik Ibatha Bondowoso yang digantang pada nomor 11. Ki Gettar milik P. Woko Bondowoso yang digantang pada nomor 20 jadi juara kedua. Dan Bintang Sembilan besutan Zakaria Bondowoso menempati nomor gantangan 25 berhasil melengkapi posisi tiga besar.

Diakhir acara, panitia mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan, kerjasama dan kehadiran peserta sehingga pelaksanaan bisa berlangsung meriah dan penuh dengan semangat. Permintaan ma’af juga disampaikan jika selama acara, ada hal-hal yang kurang berkenan. “Target ke depan Team Gerbong Maut berencana mengadakan Latpres Puter Pelung,” jelas H. Icwanto. “Diperkirakan pada bulan Juni atau Juli, mohon doanya.” (Ramlee/TM)





Jumat, 01 Mei 2026

Tumenggungan Cup PPDSI Blitar, Bangkitkan Gairah Dekoe Mania, Kaisar Muda dan Den Bagos Rebut Juara



Lomba burung derkuku yang digelar oleh Pengcab PPDSI Blitar bertajuk “Temenggungan Cup”, pada hari Minggu 26 April 2026 di Lapangan Desa Temenggungan Kec Udanawu Kab Blitar, berjalan semarak. Agenda ini, betul-betul berlangsung ramai dibanjiri dekoe mania dari berbagai kota selain dari Blitar sendiri tentunya.

Cuaca cerah pagi itu, mampu membakar semangat para dekoe mania yang hadir, untuk mengawal jago andalannya, agar bisa duduk di podium juara. Pramono, S.E. selaku Kepala Desa Temenggungan, nampak sangat antusias saat membuka acara lomba ini. Pramono yang juga selaku Ketua Panitia mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada semua dekoe mania yang hadir.


Pramono SE. Kades Temenggungan, Ketua Penyelenggara



Pramono ikut menikmati gelaran lomba derkuku di wilayahnya tersebut dan berharap gelaran lomba bisa sukses dan lancar tanpa ada kendala apapun. Adanya acara lomba seperti itu secara tidak langsung juga dapat menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar lokasi.

Selain itu, Pramono juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh kru panitia yang sudah bekerja keras. “Pada pagi ini semua siap untuk melaksanakan lomba derkuku. Dan lomba ini bukan satu-satunya tujuan kita untuk menggapai juara. Tapi ada hal yang lebih penting lagi, yaitu terjalinnya silataturahmi antar penghobi semuanya.”


Temenggungan Cup tak menyisakan satu pun tiang


“Dan mudah-mudahan kita bisa terus melaksanakan dan berkumpul di tempat ini untuk kebersamaan kita semua,” harap Pramono. Acara semacam ini diharapkan dapat kembali membangkitkan gairah dekoe mania yang saat ini dirasa sedikit menurun.

Salah seorang penghobi burung derkuku pun menyampaikan pada media bahwa setiap waktu harus ada kegiatan lomba walaupun kalibernya kecil. Yang penting hobi derkuku di Blitar dan daerah sekitarnya tetap dapat tersalurkan dengan baik.


Panitia Pelaksana


Karena acara-acara seperti ini dapat memberikan wadah bagi dekoe mania pemula atau baru, untuk bersama-sama tampil dan eksis menekuni hobi derkuku demi semaraknya hobi. Kehadiran para peserta dari berbagai penjuru kota, membuat gelaran ini terasa begitu luar biasa.

Terbukti dua kelas yang dibuka oleh panitia penuh sesak. Kelas Pemula disediakan 72 gantangan dan kelas Bebas sebanyak 36 tiang penuh tak tersisa. Peserta datang dari Kediri, Nganjuk, Tulungagung, Trenggalek, Sidoarjo, Surabaya, dan Blitar sendiri selaku tuan rumah.


Acara didukung penuh oleh penghobi derkuku, salah satunya dari Ngunut-Tulungagung



Membludaknya peserta sudah terlihat sejak info pendaftaran dibuka. Jelang pelaksanaan, panitia sampai bingung menerima pendaftaran peserta yang terus berdatangan. Bahkan beberapa harus menerima burung yang didaftarkan harus masuk di kelas Bebas, padahal semestinya masuk di kelas Pemula. Itupun masih ada beberapa pendaftar yang harus mengurungkan niatnya mengerek jagoannya, karena telah penuh.

Rupanya Temenggungan Cup juga jadi ajang uji mental dan kualitas anggung bagi jago-jago derkuku muda. Sekaligus sebagai persiapan dan pemanasan sebelum menuju Lomba Besar Piala KGPAA. Paku Alam X (LDI 2026 putaran ke-2) di Yogyakarta pada 10 Mei 2026 nanti.


Joko PN BF dan Bambang TKL TKL BF, sesepuh derkuku Tulungagung


Pagi itu, cuaca Desa Temenggungan betul-betul sangat mendukung, matahari bersinar terang. Kondisi cuaca seperti inilah yang memang diharapkan oleh dekoe mania peserta lomba, agar jagoannya bisa tampil top form. Dan begitu peluit dibunyikan sebagai tanda babak pertama Temenggungan Cup dimulai sontak saja, suasana lapangan pun berubah menjadi lebih ramai.

Selain ramai oleh suara anggung merdu dari jago-jago derkuku, suara teriakan-teriakan kecil dari sang joki maupun pemilik, memanggil nomor gantangan dan nama jago derkuku yang berlaga. Namun suara teriakan itu tidak sampai mengganggu jalannya lomba, mereka sekedar memberitahu juri yang bertugas jika burung andalannya berbunyi.


Mbah Demang terima bendera koncer kelas Bebas dari Pramono SE


Persaingan adu kualitas anggung antar jago derkuku, betul-betul terasa sangat seru dan ketat. Karena masing-masing jago, nampak sama-sama ngotot untuk memamerkan anggung suara emasnya di hadapan tim juri yang bertugas agar mendapat nilai tertinggi.

Sementara tim juri, terlihat fokus untuk memperhatikan dan mendengar kualitas anggung dari masing-masing jago yang melepas suaranya. Mana burung yang memang punya kualitas anggung merdu dan yang masih kurang dinilai sesuai dengan aturan penilaian, tidak sekedar gacor saja.


Para juara di kelas Bebas


Setelah melalui persaingan ketat selama empat babak penuh penilaian, akhirnya juri perumus, menetapkan 10 nominasi kejuaraan untuk kelas Bebas. Serta 20 nominasi kejuaraan untuk kelas Pemula sesuai dengan jumlah/peringkat nilai dari masing-masing burung (jago) yang didapat.

Di kelas Bebas, podium pertama berhasil direbut oleh Kaisar Muda. Derkuku bergelang MKS 1302 yang jadi andalan Mbah Demang Kediri yang ada di tiang nomor 19 ini sukses juara setelah berhasil meredam ambisi lawan-lawannya dengan raihan bendera enam warna di tiga babak.


Imam harus menerima guyuran air setelah Den Bagos juara di kelas Pemula


Sharukan ring JBKRM andalan Karim Kediri yang dikerek pada nomor 5 rebut juara kedua dengan raihan bendera enam warna selama dua babak. Di tempat ketiga dimenangkan Garudo orbitan N3 BF Tulungagung ternakan N3 yang dikerek pada nomor 14 degan raihan bendera 6 warna sekali. Total ada empat burung yang berhasil mendapatkan enam warna, satunya adalah Billal milik Karim yang ada di posisi 4.

Di kelas Pemula, juara pertama jadi milik Den Bagos besutan Imam dari Blitar di tiang 96. Jago bergelang Aditya ini mampu menerobos barisan paling depan, setelah aksinya sepanjang empat babak tak mampu dibendung oleh lawan-lawannya. Diposisi kedua, berhasil direbut oleh Joko Bores ring PM 780, milik Aris Madu Blitar yang ada tiang 51. Lalu posisi ketiga di tempati oleh Garong orbitan Tegar Blitar.


Para juara di kelas Pemula


Rencananya kegiatan ini akan diusahakan rutin digelar secara bergiliran dari satu lokasi ke lokasi lain. “Direncanakan nantinya setiap 2 bulan sekali akan diadakan gelaran latber, latbernil, atau lomba besar biar semakin ramai,” ujar Mbah Demang yang giat menghidupkan lomba bersama panitia pelaksana, dengan harapan akan semakin ramai hobi ini. “Terbukti tadi banyak peserta baru yang hadir dari kota Blitar dan sekitar,” tutur Mbah Demang di akhir acara. (Ramlee/MD)











Sabtu, 25 April 2026

Cobra dan Oscadon Sukses Juarai Latber Perkutut Lokal Irama dan Warna Nganjuk, Kung Mania Luar Daerah Ramaikan Gelaran



Minggu pagi, 19 April 2026, Lapangan P3SI Pengda Nganjuk, Sombron Kec Loceret Nganjuk, diramaikan oleh kehadiran penghobi anggungan perkutut lokal irama. Mereka hadir dalam rangka memenuhi undangan panitia Latber Perkutut Lokal Asli Irama dan Perkutut Warna.

“Hari ini kami kembali menggelar acara Latber Perkutut Lokal Asli Irama dan Perkutut Warna,” tutur Didik Sugeng Ariyadi penggagas acara sekaligus Ketua Panitia. “Event ini sebenarnya sudah beberapa kali tertunda, Alhamdulillah hari ini akhirnya bisa terlaksana.”


Penghobi dari Ponorogo hadir dengan beberapa burung gacoannya


Panitia membuka dua kelas yakni kelas Perkutut Lokal Asli dan kelas Perkutut Warna. Antusias peserta terbilang luar biasa, latber ini juga mampu menarik perhatian peserta dari luar kota Nganjuk. Buktinya, beberapa peserta dari Tuban, Ponorogo, dan Kediri, ikut hadir untuk mensukseskan ajang Latber Perkutut Lokal Asli Irama dan Perkutut Warna tersebut.

Meskipun gantangan yang disediakan tidak penuh terisi, namun dukungan para mania membuat panitia gembira. “Alhamdulillah dukungan dari rekan-rekan masih tetap tinggi. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas apa yang sudah diberikan,” ucap Didik.


Para peserta bersiap menaikkan burung jagoannya


“Pada lomba kali ini ternyata rekan-rekan tetap semangat hadir meskipun beberapa kali sempat tertunda dengan membawa serta gacoannya,” tambah Didik. “Ternyata rekan-rekan sudah rindu untuk menampilkan kembali gaco-gaconya di atas tiang gantangan.”

Momen ini juga sekalian dimanfaatkan sebagai ajang temu kangen dan silaturahmi serta halal bihalal, karena bisanya ketemu di lapangan saat ada acara seperti ini. Didik mengatakan bahwa kegiatan ini sebenarnya sudah diusahakan untuk terus terjadi secara berkesinambungan.


Cuaca cerah mengawal acara hingga usai


“Kami sebenarnya sudah upayakan kegiatan ini berjalan secara kontinyu. Kalau bisa ya setiap bulan selalu ada kegiatan agar penghobi perkutut lokal asli irama disini bisa terus menyalurkan hobinya,” jelas Didik. “Biar hobi perkutut lokal asli irama di Nganjuk dan daerah sekitarnya tetap eksis.”

Namun beberapa kali acara yang sudah diagendakan secara matang harus gagal terlaksana dengan berbagai kendala yang ada. “Karena sebenarnya penghobi burung perkutut lokal asli irama di Nganjuk juga banyak, tidak kalah dengan burung anggungan lainnya.” lanjut Didik.


Para pecinta perkutut lokal asli irama menikmati jalannya lomba


Kehadiran gaco-gaco dari luar kota menambah persaingan menuju juara. Acara pun akan berjalan ramai, ketat, dan seru. Karena masing-masing jago yang ada, berusaha keras untuk bisa meraih posisi terdepan. Jalannya lomba pun terasa semakin gayeng.

Begitu peluit tanda babak pertama dibunyikan. Suasana arena latber pun menjadi ramai oleh suara anggung merdu yang dilepas jago-jago yang ada di atas tiang gantangan. Persaingan sengit untuk bisa mendapat nilai tertinggi dari kru juri yang bertugas terjadi hampir di setiap babak penilaian.


Peserta dari Tuban semakin exsis main di perkutut lokal irama


Cuaca cerah mendukung kegiatan tersebut. Empat babak penjurian berhasil dilakukan tanpa ada kendala. Sampai akhirnya ditetapkan posisi kejuaran. Untuk kelas Lokal Asli, podium pertama berhasil menjadi milik Cobra, amunisi Agus B Nganjuk, yang dikerek pada nomor 15.

Bopo Wiro Crumo andalan Dwijo Tuban yang menempati tiang gantangan nomor 6 sukses rebut posisi kedua setelah bertarung ketat dengan sang juara. Tempat ketiga dimenangkan Bodrex orbitan Ridwan Ponorogo, yang berada di tiang kerekan nomor 10.


Para juara berfoto bersama


Untuk kelas Perkutut Warna, juara pertama dimenangkan Oscadon amunisi Ridwan Ponorogo, yang ada tiang nomor 34. Kemudian juara dua jadi milik Kenthongan andalan Ribut Tuban, yang berada di nomor gantangan 36. Dan tempat ketiga diraih oleh Blac orbitan Abah Nganjuk, yang digantang pada nomor 40.

“Saya dan panitia serta mewakili tim juri yang bertugas, mohon ma’af, jika disepanjang pelaksanaan latber tadi masih banyak kekurangan. Mudah-mudahan gelaran berikutnya bisa memberikan yang lebih baik lagi,” tutup Didik. (Ramlee/DD)





Kamis, 23 April 2026

Kadal Duri Mata Merah, Reptil Eksotis Mirip Buaya dari Papua



Kadal Duri Mata Merah atau red-eyed crocodile skink (Tribolonotus gracilis) merupakan reptil eksotis endemik Papua dan Papua Nugini. Kadal nokturnal ini memiliki ciri khas duri tajam di punggung, lingkaran merah menyala di sekitar mata. Meski tergolong ke dalam keluarga kadal, spesies ini memiliki fisik yang cukup menyeramkan seperti buaya, atau naga.

Kadal duri mata merah sebenarnya masuk dalam genus Tribolonotus yang banyak tersebar di wilayah Australia, Oseania, hingga bagian timur Indonesia. Bedanya, kadal yang satu ini merupakan hewan endemik dari Pulau Papua yang jadi wilayah dari Indonesia dan Papua Nugini.

Ciri khas yang paling mudah dikenali dari satwa ini adalah cincin periokular berwarna merah bata yang kontras dengan tubuh bersisik gelap. Sisik tersebut dilengkapi dengan tonjolan osteoderm menyerupai pelindung, sehingga tampak seperti “miniatur buaya”.


Kadal duri mata merahberpenampilan seperti naga atau buaya


Tubuh kadal duri mata merah relatif pendek dengan sisik keras di bagian punggung dan samping tubuh. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa osteoderm tersebut dapat memancarkan biofluoresensi hijau ketika terkena sinar ultraviolet, dengan intensitas paling kuat di bagian kepala, mata, tenggorokan, dan ujung sisik.

Baca juga : Kadal, Kelompok Reptil Bersisik yang Hidup di Berbagai Habitat di Dunia

Fenomena biofluoresensi pada spesies ini merupakan laporan pertama pada keluarga Scincidae dan diduga berkaitan dengan komunikasi visual di lingkungan bercahaya rendah. Selain itu, warna merah di sekitar mata juga berperan sebagai sinyal visual jarak dekat yang kemungkinan membantu dalam interaksi antar sesama.


Kaki belakang kadal buaya bermata merah memperlihatkan sisik seperti buaya


Kadal duri mata merah hidup di lantai hutan hujan yang lembap, kadal ini juga suka berendam di aliran air. Tidak hanya hidup di hutan hujan dataran rendah, kadal duri mata merah juga bisa hidup di tempat-tempat dengan ketinggian mulai dari 0 – 1.000 meter di atas permukaan laut.

Kadal duri mata merah juga lebih banyak menghabiskan waktu di daratan ketimbang di area aliran air. Umumnya, kadal duri mata merah ini akan memilih batang kayu busuk atau sisa-sisa batok kelapa sebagai tempat tinggalnya. Tubuh hingga ekor kadal duri mata merah ini dilapisi kulit berwarna cokelat tua yang sangat mirip dengan kulit buaya.

Hanya saja, moncong kadal duri mata merah jauh lebih pendek dan area matanya memiliki semacam cincin berwarna merah atau jingga. Ukuran kadal duri mata merah pun terbilang kecil. Kadal duri mata merah tumbuh dengan panjang sekitar 20 – 25 cm dengan bobot 36 – 45 gram saja.

Di habitat alaminya, kadal ini bersifat semi-fosorial dan lebih menyukai mikrohabitat lembap, misalnya di bawah serasah daun, akar, atau dekat aliran air kecil. Perilaku tersebut membuatnya jarang terlihat secara langsung di alam liar. Kadal duri mata merah tergolong sebagai karnivora atau lebih tepatnya insektivora.


Kadal buaya bermata merah dewasa memperlihatkan lingkaran merah pada matanya


Insektivora adalah hewan yang makanan utamanya adalah serangga dan hewan kecil. Makanan kadal ini cukup bervariasi, mulai dari cacing tanah, lalat buah, jangkrik, sampai ulat bambu. Untuk memperoleh makanannya itu, mereka bisa mencarinya hampir di segala tempat berkat kemampuan adaptasinya. Kadal duri mata merah diketahui cukup ahli dalam memanjat dan berenang.

Baca juga : Soa Soa Layar, Kadal Purba Eksotis Endemik Indonesia Timur

Oleh karena itu, kadal duri mata merah bisa dengan mudah menemukan mangsanya. Baik yang bersembunyi di atas pohon, di dalam tanah, sampai yang berada di dalam air. Biarpun demikian, pohon dan perairan bukan tempat favorit dari hewan ini. Mereka lebih memilih berada di atas tanah untuk tinggal, bersembunyi, atau mencari makanan.


Kadal buaya bermata merah lebih menyukai hidup di lantai hutan basah


Walaupun wajahnya terbilang lucu, kadal duri mata merah bukan termasuk hewan yang suka berada di dekat hewan lain, apalagi predator dan manusia. Saat merasa terancam, kadal duri mata merah memiliki berbagai adaptasi untuk bertahan agar bisa melewati ancaman itu.

Salah satu bentuk adaptasi yang menarik dari kadal ini adalah perilakunya ketika sedang mengalami stres berlebih. Kadal duri mata merah akan mengeluarkan suara unik ketika merasa terancam ataupun demi melindungi anak-anaknya. Kalau itu masih belum cukup, mereka akan diam membatu hingga berpura-pura mati agar ancaman yang ada di dekatnya segera menjauh.

Oleh karena itu, hewan pemalu yang satu ini akan lebih banyak bersembunyi di sarangnya ketika merasa ada makhluk lain yang bisa mengancam keberadaannya. Sebelum bisa kawin dengan betina, kadal duri mata merah jantan harus bertarung dengan pejantan lain agar berhak untuk kawin.

Bagi jantan, kematangan seksual bisa diperoleh ketika sudah berumur 3 tahun. Sementara, untuk betina, umumnya ada pada rentang umur 4 – 5 tahun. Kadal duri merah mata jantan dapat dikenali melalui bantalan putih pada kakinya. Kadal duri merah mata betina hanya memiliki satu ovarium yang berfungsi dan bertelur satu butir telur pada satu waktu.


Kadal buaya bermata merah setengah terendam dalam air


Kadal duri mata merah bereproduksi dengan jumlah telur yang sedikit, biasanya hanya satu butir dalam setiap siklus (masa kawin). Ukuran telur kadal jenis ini sekitar 2 cm. Telur tersebut berukuran relatif besar dibandingkan tubuh induknya. Kadal duri mata merah bereproduksi setiap 5 – 6 minggu sekali. Karena itu, dalam setahun, kadal duri mata merah betina bisa menetaskan sepuluh butir telur.

Baca juga : Kadal Pensil, Kadal Eksotis Asal Papua yang Serupa Ular

Betina menjaga telur tunggal di sarang dan mempertahankannya secara agresif. Sementara jantan juga dapat mengeluarkan vokalisasi pertahanan. Perilaku penjagaan induk terhadap telur, termasuk vokalisasi pertahanan, diduga meningkatkan peluang keberhasilan menetas pada lingkungan hutan yang penuh ancaman predator. Ketika terkejut, kadal ini cenderung membeku dan bahkan bisa berpura-pura mati.


Kadal buaya bermata merah terlihat menyeramkan sekaligus menggemaskan


Berdasarkan penilaian terbaru dari IUCN (amandemen 2015, diterbitkan 2022), kadal duri mata merah dikategorikan sebagai “Risiko Rendah” (Least Concern). Meski demikian, pemantauan tetap diperlukan mengingat keterbatasan data ekologi dan taksonomi dari spesies ini.

Kajian regional mengenai keanekaragaman skink di Oceania dan Papua juga menyoroti adanya kesenjangan pengetahuan yang dapat memengaruhi akurasi penilaian konservasi. Hal ini menekankan pentingnya penelitian lanjutan untuk memperbarui data populasi dan status konservasi. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Kadal Duri Mata Merah, Reptil Eksotis Endemik Papua Berpenampilan Mirip Buaya


Sabtu, 18 April 2026

Kanjeng Mami Tetap Terdepan di Latberan DMS & PEDES, Tentara Langit Rebut Juara



Agenda kegiatan hobi derkuku di Sukoharjo terasa semakin padat, kenyataan ini tidak menyurutkan semangat dekoe mania di Sukoharjo untuk tetap menggelar event. Kali ini Komunitas dekoe mania didukung Pengcab PPDSI Sukoharjo menggelar kegiatan Latberan Kolaborasi DMS & PEDES pada Minggu, 12 April 2026, di Lapangan Sukoharjo Kel. Kwarasan Grogol Kab. Sukoharjo.

Latberan ini membuka dua kelas yakni kelas Bebas dan Pemula. Antusias dekoe mania untuk mengikuti kegiatan ini masih cukup tinggi. Meski dalam kondisi jadwal dan agenda yang cukup padat, namun tidak mengurangi semangat peserta untuk ikut meramaikan kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah hari ini kehadiran Latberan Kolaborasi DMS & PEDES, masih tetap semarak. Peserta lebih banyak yang hadir dan memenuhi gantangan,” terang Jatmiko, salah satu panitia. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada dekoe mania pemula untuk bisa tetap menyalurkan hobi derkukutnya.


Juri yang bertugas


Selama ini kegiatan Latberan Kolaborasi DMS & PEDES selain memberikan kesempatan pada penggila lomba untuk menampilkan gaco-gaconya juga memfokuskan diri untuk memberikan sarana dan wadah bagi pemula yang ingin tetap menyalurkan hobi derkuku.

Salah satunya dengan menerapkan batas maksimal penilaian untuk pemula sampai bendera empat warna. Aturan baru yang menyebutkan jika batas maksimal nilai untuk kelas Pemula jadi lima warna dan kelas Yunior jadi enam warna yang sebelumnya lima warna.


Latberan DMS PEDES


Aturan baru ini membuat banyak pemain pemula maupun dekoe mania yang merasa gaconya hanya sampai empat warna saja mengurungkan niatnya untuk melombakan burung gacoannya tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu dekoe mania. “Kalau saya, terus terang sudah kalah sebelum bertanding.”

“Bagaimana tidak, kita ini hanya pemula namun lawannya burung-burung kelas kakap. Punyanya baru burung dengan empat warna saja. Daripada jadi pelengkap penderita mending gak datang sekalian. Kalau bisa penilaian di kelas Pemula kembali ke empat warna biar derkuku ramai kembali. Banyak yang mundur kalau Pemula tidak empat warna.”


Sarno tengah diapit H. Nur Ali dan Hafid yang hari itu berbinar-binar


Melihat animo Dekoemania yang hadir begitu luar biasa, H. Nur Ali Sasongko selaku Ketua PPDSI Sukoharjo, mengaku sangat senang. Pasalnya, dua blok kerekan yang disiapkan, yaitu 1 blok (28 tiang) untuk kelas bebas dan 1 blok (30 tiang) untuk kelas pemula dipenuhi peserta.

“Alhamdulillah dan terima kasih atas dukungan, partisipasi serta kehadiran teman-teman dekoe mania di Sukoharjo dan Solo Raya. Sehingga acara latberan ini, bisa terlaksana dengan baik sesuai rencana dan sukses,” tutur H. Nur Ali Sasongko, yang juga sebagai pemilik Nasa BF.

“Kegiatan ini dimaksudkan agar teman-teman disini bisa tahu bagaimana perkembangan burung miliknya, sehingga ada catatan khusus apakah bisa dan layak untuk diikutkan lomba yang lebih besar atau tidak,” sambung Jatmiko.

Lapangan Sukoharjo selama ini aktif digelar acara, tidak kurang dua kali dalam sebulan. Lokasi menjadi tempat yang dipilih untuk setiap kegiatan, karena lapangan ini milik Pengcab Sukoharjo sendiri, selain itu Pengcab Surakarta juga ikut bergabung karena kendala lapangan.


Wiwied meski tak ikutan hadir di lapangan, nyatanya Kanjeng Mami tak tergoyahkan


Meskipun kapasitas kerekan yang tersedia belum cukup memadai, namun pengurus Sukoharjo dan Surakarta bertekad untuk terus dapat menambah jumlah tiang kerekan. Paling tidak sesuai dengan jumlah tiang kerekan perblok yang telah ditetapkan oleh PPDSI, organisasi yang menaungi para penghobi derkuku ini.

Harapan dan motivasi para pengurus bersama komunitas derkuku yang ada hobi ini bisa ramai dan berkembang dengan adanya lapangan ini. Sekaligus bisa menunjukkan, kalau lomba derkuku yang digelar selama ini benar-benar fair play.


Dalip nebeng foto sukses membawa “Kanjeng Mami” di kelas Bebas


Untuk itu sebelum lomba dimulai, semua juri selalu diingatkan untuk bekerja sesuai pakem. Yakni penilaian berdasarkan kualitas suara (gaya irama, dasar suara, suara tengah, suara ujung, dan suara depan) dan fakta kerja burung tersebut saat berada di atas tiang kerekan.

“Kalau memang burung ini bagus, ya dinilai sesuai kualitas dan kestabilan kerjanya mulai awal sampai akhir tanpa melihat burung itu milik siapa. Dan jangan memaksakan memberi nilai bagus pada burung yang tidak layak, karena itu akan menimbulkan masalah,” tambah H. Nur Ali Sasongko.


H. Nur Ali denggan bangga antar Tentara Langit juara


Cuaca cerah dengan angin sepoi-sepoi mewarnai acara dari pertama hingga akhir. Pada malam harinya di lokasi turun hujan menjadikan lapangan sedikit berair. Tetapi kondisi itu tidak menghalangi kinerja juri dalam memberikan penilaian terbaiknya. Dan apa yang disampaikan H. Nur Ali Sasongko kepada semua juri, rupanya betul-betul dijalankan.

Buktinya, sejak peluit babak pertama dimulai sampai babak terakhir (full 4 babak), penilaian berjalan mulus dan fair play tanpa ada kendala apapun. Juri-juri yang bertugas juga terlihat merasa nyaman, tidak perlu ada rasa kekwatiran lagi.

Meski persaingan antar jago di setiap babaknya terlihat begitu ramai dan ketat. Namun juri tetap fokus untuk memperhatikan satu persatu, mana jago yang betul-betul punya kualitas suara bagus sesuai pakem dan kerja stabil selama empat babak penilaian. Jelas burung itulah yang dinilai layak oleh tim juri untuk mendapat nilai tertinggi.

Peserta sepakat untuk menerima apapun keputusan juri sebagai bentuk kepercayaan. Untuk podium pertama di kelas Bebas berhasil menjadi milik Kanjeng Mami amunisi Daud Toni Solo, produk Sword 65 yang dikerek pada nomor 48. Kanjeng Mami juara setelah mendapat bendera lima warna empat kali.


Juara-juara di kelas Pemula


Sedangkan podium kedua berhasil direbut oleh Kasantuko ring B2W 3467 milik Wawan Soba. Sebetulnya burung bergelang B2W 3467 yang ada di tiang 51 ini punya nilai total yang sama dengan Kanjeng Mami. Namun dikreteria pakem penilaian (nilai aduan), Kasantuko kalah di gaya irama. Tempat ketiga dimenangkan Victory orbitan Eko LMS, produk ternak LMS 618 yang dikerek pada nomor 43.

Selanjut di kelas pemula yang juga tak kalah ramai, seru, dan ketat persaingannya. Ada 7 burung yang mempunyai total nilai sama yakni mendapatkan bendera empat warna. Namun posisi tiga besar, berhasil direbut oleh tiga jago yang memang dinilai punya kualitas suara bagus dan nilai tertinggi di empat babak penilaian.


Sarno sukses membawa Ndoro Putri juara 3 di kelas Pemula


Posisi pertama di kelas Pemula, berhasil diboyong oleh Tentara Langit jago bergelang Dorrick 67 yang diusung oleh H. Nur Ali dari Sukoharjo. Tentara Langit merupakan amunisi baru yang dipunyai H. Nur Ali, setelah memboyongnya dari tempat Andang. Begitu digantang langsung gacor dor dengan suara yang melengking.

Kualitas anggung Tentara Langit membuat juri-juri yang bertugas terpana. “Rasanya baru kali ini mendengar kualitas anggung yang demikian,” ungkap Siswo, seorang juri yang paling titen pada suara burung-burung peserta. Tentu saja dengan prestasi itu membuat H. Nur Ali sangat puas dengan gaco barunya tersebut.


Dorrick dan Sarno bangga gaco-gaconya juara di kelas Pemula


Posisi kedua, berhasil direbut oleh Sangkakala ring Dorrick 028 milik Dorrick BF Sukoharjo. Sedangkan juara ketiga sukses diraih oleh Ndoro Putri ring Sadewa milik Sarno dari Sukoharjo. Diakhir acara, panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mendukung dan hadir dalam kegiatan tersebut. Permintaan ma’af disampaikan jika selama acara, ada hal-hal yang kurang berkenan. (Ramlee/Jat)





Team Gerbong Maut Gelar Latber Tapal Kuda, Juara Direbut Rahayu Kopral dan Adidas

Komunitas puter pelung mania Gerbong Maut Bondowoso, kembali menghadirkan gelaran. Acara ini diperuntukkan buat rekan-rekan yang selalu meri...