Sabtu, 21 Februari 2026

Komunitas Pedes dan DMS Gelar Latberan Gantangan Pedes Sukoharjo, Oscar dan Puspo Tajem Rebut Juara



Gelaran lomba seni suara burung derkuku bertajuk Latberan Gantangan Pedes yang dilaksanakan pada hari Minggu, 15 Pebruari 2026 berlangsung meriah. Kegiatan hasil kolaborasi apik antara Pedes dan DMS yang didukung penuh oleh Pengcab PPDSI Sukoharjo, ramai dihadiri dekoe mania.

Buktinya, gantangan di Lapangan Sukoharjo Kel. Kwarasan Grogol Kab. Sukoharjo yang jadi tempat acara, benar-benar penuh sesak dibanjiri dekoe mania dari Solo Raya, Purworejo, dan Sukoharjo sendiri. “Hari ini kami menggelar acara Latberan Gantangan Pedes,” terang Andang Pramadhika salah satu panitia.


Siswo dan Hafid dengan piala yang diperebutkan


Kondisi inilah yang diharapkan oleh panitia untuk bisa memberikan jalan bagi mereka agar hobi derkuku yang sudah ditekuni, bisa tetap tersalurkan. Kegiatan ini hanya membuka dua kelas dengan kapasitas 1 blok saja, yakni kelas Bebas dan kelas Pemula.

“Kami tidak mempersoalkan jumlah kelas dan banyaknya blok, karena sarana yang ada memang masih sangat terbatas,” ungkap Andang Pramadhika salah satu panitia. “Yang penting kami bisa kumpul dan ngerek bareng sambil menjaga tali silaturahmi.”


Eko LMS di meja panitia


“Setidaknya dengan kegiatan ini, diharapkan muncul pendatang baru yang akan semakin melengkapi jumlah keberadaan dekoe mania disana. “Hari ini ada peserta pendatang baru. Jumlahnya memang belum banyak. Mudah-mudahan akan terus bertambah,” harap Andang.

“Dan kondisi bisa semakin membuat hobi derkuku di Sukoharjo dan daerah di sekitarnya semakin semarak dan mencapai tujuan yang selama ini kami harapkan bersama,” harap dekoe mania Sukoharjo yang terus bersemangat menghidupkan hobi.


Juri-juri dipersiapkan dengan baik


Tiket telah ludes hanya dalam dua hari sejak pendaftaran dibuka. “Animo teman-teman sangat baik,” ujar Eko LMS yang bertugas di meja pendaftaran. “Slot gantangan yang disediakan oleh panitia langsung dipesan, hanya dalam dua hari sudah penuh.”

H. Nur Ali Sasongko selaku Ketua Pengcab PPDSI Sukoharjo mengatakan bahwa kegiatan ini adalah program Pengcab yang akan terus terjadi. “Kami upayakan setiap bulan bersama dengan Pengcab Surakarta, akan selalu ada kegiatan,” tutur H. Nur Ali Sasongko.


Suasana latber hasil kolaborasi Pedes dengan DMS


“Dengan adanya kegiatan semacam ini diharapkan dekoe mania disini bisa menyalurkan hobinya dan hobi derkuku tetap eksis,” jelas pemilik Nasa BF ini. Sementara itu perebutan posisi kejuaraan berlangsung seru dan menegangkan. Meskipun cuaca kurang bersahabat dengan kondisi yang cenderung dingin, namun peserta tetap bersemangat tampil maksimal di hadapan juri.

H. Nur Ali Sasongko juga ikut memberikan pengarahan juri-juri yang bertugas. Saya minta juri dapat bekerja dengan baik dengan mengedepankan semangat fair play. Tentunya ditunjang dengan kinerja yang sat set dalam memberikan penilaian tapi tetap sesuai tata cara dan aturan penjurian yang sudah ditetapkan,” pintanya.


Dekoe mania Solo Raya


Cuaca medung dengan mentari yang seolah enggan menampakkan diri mengawal proses penjurian dari pertama sampai akhir. Beberapa dekoe mania begitu bersemangat memberikan semangat kepada gacoannya yang berlaga, hingga diingatkan oleh dekoe mania lainnya agar tidak berteriak.

Kehadiran penghobi yang untuk pertama kalinya hadir di lapangan juga mewarnai kegiatan Latberan Gantangan Pedes, seperti kehadiran Nanang. Proses penjurian menjadi pengalaman pertamanya, karena ternyata untuk ikut lomba tidak bisa hanya bermodal burung gacor saja.


Nanang salah satu peserta yang semangat ikut laberan meski burungnya belum masuk kejuaraan


“Karena ini lomba seni suara sehingga yang dinilai adalah keindahan anggung burung derkuku. Jadi burung tidak hanya asal manggung, ada beberapa kriteria penilaian sehingga burung bisa mendapatkan bendera empat warna dan seterusnya,” jelas Jatmiko berusaha memberikan pemahaman penilain.

Dan burung yang hanya mendapatkan bendera tiga warna jelas kalah dengan yang mendapat empat warna. “Yah namanya burung pemula yen di rumah gacor door, saat di latberan gak begitu stabil masih kalah mental dan yang jelas burung-burung lain pada bagus bagus,” kata Nanag. “Gak papalah bisa ketemu teman-teman dah seneng.”


Hery menjuarai kelas Bebas


Empat babak penjurian berlangsung sukses dan lancar, sampai akhirnya posisi kejuaraan ditentukan. Sampai akhirnya penetapan posisi juara ditentukan. Untuk podium pertama di kelas Bebas berhasil diraih oleh Oscar amunisi NSK Solo ring TKL 2597 yang dikerek pada nomor 44. Oscar juara setelah mengantongi nilai bendera lima warna sepanjang empat babak.


Juara di kelas Bebas


Kemudian Idola Shore andalan Shorea BF Sleman ring B2W 3665 yang dikerek pada nomor 41 di tempat kedua setelah bersaing ketat dengan sang juara dengan nilai yang sama. Lalu ada gaco Shorea BF berikutnya, yakni Bimo Kurdo ring GTA 380 yang menempati nomor kerekan 43 berhasil merebut tempat ketiga setelah mendapatkan tiga bendera lima warna dan empat warna.


Sukarjo dari Jogja juara di kelas Pemula


Untuk kelas Pemula, juara pertama berhasil menjadi milik Puspo Tajem amunisi Shorea BF Sleman, ring Shorea 23 yang dikerek pada tiang nomor 21. Di tempat kedua ada Densus 88 andalan Budi Santoso Solo ring BS62 yang dikerek pada nomor 25. Posisi ketiga diraih Rumput Laut orbitan Eko LMS Solo ring D3W 040 yang menempati nomor kerekan 11.


Juara di kelas Pemula


Diakhir acara, segenap panitia mengucapkan terima kasih atas dukungan dekoe yang telah turut serta mensukseskan acara Pengcab Sukoharjo tersebut. Permintaan maaf juga disampaikan jika selama acara, ada hal-hal yang kurang berkenan. (Ramlee/Jat)





Minggu, 15 Februari 2026

Latber AG Bird Farm Bangkalan, Gelaran Masih Tetap Semarak, Mawar Raih Kemenangan



Dalam rangka meningkatkan kualitas peternak puter pelung dan wadah silaturahmi bagi penghobi puter pelung di Bangkalan dan sekitarnya, AG Bird Farm Bangkalan kembali menggelar Latihan Bersama (Latber) Puter Pelung AG Bird Farm. Bertempat di Gantangan AG BF Bangkalan Jl Pertahanan No. 191 Bancaran – Bangkalan. Yang dilaksanakan pada Minggu, 8 Februari 2026.

AG Bird Farm Bangkalan secara rutin menggelar latihan bersama untuk membangkitkan semangat puter pelung mania di Bangkalan dan sekitarnya. H. Alif M. Nur selaku pemilik AG Bird Farm ini berharap dengan latber yang digelar secara rutin akan semakin menambah pengalaman para penghobi.


Udara yang terasa dingin tidak menghalangi penghobi untuk ikuti Latber AG BF


Juga kemampuan di dalam beternak, merawat, dan memilih burung-burung yang berkualitas lomba. Ia yakin jika tidak menggelar latber atau lomba maka dipastikan hobi puter pelung juga akan mati suri. Peternakan puter pelung akan mengalami kemunduran karena hasil dari tetasannya tidak akan bisa dipamerkan di media yang tepat.

“Oleh karena itu, mari dimanfaatkan media lomba ini untuk meningkatkan kemampuan dalam beternak, merawat, dan memilih burung-burung yang berkualitas lomba,” ujar H. Alif M. Nur yang akrab disapa Abah Alif ini. “Dan tentunya sekaligus membangun silaturahmi yang semakin baik.”


Persiapan akhir jelang lomba dimulai


Latber AG Bird Farm membuka satu kelas yakni kelas Bebas. Latber kali ini dilaksanakan menggunakan 3 babak berdurasi 20 menit setiap babaknya. “Kita gunakan sistem 3 babak saja karena mengingat sikon yang musim hujan dan angin yang dingin,” jelas Abah Alif.

Abah Alif, mewakili panitia lomba menyampaikan terima kasih kepada seluruh puter pelung mania yang sudah berkenan hadir meramaikan latihan bersama ini sehingga tetap berlangsung ramai. Meskipun masih ada beberapa gantangan yang kosong, tetapi itu tidak mengurangi semangat dan antusias peserta.


Sangkar mulai dinaikkan ke gantangan yang telah tersedia


Dengan uang pendaftaran yang cukup kekeluargaan dan tersedianya piala, piagam, dan sembako membuat para penggila lomba tetap bersemangat untuk mengawal jago puter pelungnya bersaing dengan jago-jago puter pelung lainnya.

Buktinya, begitu peluit dibunyikan sebagai tanda lomba dimulai. Suasanapun berubah menjadi ramai, baik oleh suara anggung merdu dari masing-masing jago yang digantang juga teriakan dari para joki dan pemilik dari bibir lapangan agar jagoannya dapat menampilkan kemampuan terbaiknya.


Suasana penjurian Latber AG BF


Namun teriakan itu masih dalam batas wajar, karena tidak sampai mengganggu kerja juri yang bertugas. Walaupun berskala latber, lomba berjalan penuh persaingan. Dari awal babak pertama sampai ketiga, burung di gantangan nomor 13, 21, dan 26 mampu menampilkan suara terbaiknya disusul kemudian oleh gantangan 01 dan 04.

Burung-burung yang ada di gantangan nomor 13, 21, dan 26 sempurna mendapatkan bendera 4 warna 3 kali dan disusul gantangan 01. Akhirnya panitia mengumumkan pemenang Latber AG Bird Farm kali setelah melalui pesaingan ketat antar jago selama tiga babak penilaian.


Udara dingin yang berhembus sedikit menyulitkan para jago


Dan juga setelah juri perumus selesai merekap hasil nilai dari babak pertama sampai babak ketiga, Mawar milik Anas moncer di posisi pertama. Burung puter pelung bergelang Anas 13 yang berada di gantangan nomor 13 berhasil mengumpulkan nilai tertinggi dibanding yang lain.

Disusul Perahu Layar andalan H. Yusuf produk ternak Sakera 25 yang digantang pada nomor 21 rebut posisi kedua. Sementara Sangkelat orbitan Wewi Bangkalan, burung puter pelung dengan ring ATM 25 yang menempati nomor gantangan 26 harus puas berada di tempat ketiga.


Abah Alif beserta para pemenang Latber AG BF


Abah Alif, atas nama panitia menyampaikan permohonan maaf apabila ada yang kurang berkenan dalam gelaran lomba Latber Puter Pelung AG Bird Farm. “Mari kita saling dukung hobi puter pelung bersama, agar lebih ramai dan kompak kedepannya. Kita ketemu lagi selepas Lebaran,” ajak Abah Alif di akhir acara. (Ramlee/AG)





Jumat, 13 Februari 2026

H. Nur Ali Sasongko Terpilih Pimpin PPDSI Sukoharjo, Segera Benahi Sarana Prasarana untuk Ramaikan Hobi



Jum’at, 6 Pebruari 2026, Pengcab PPDSI Sukoharjo menggelar agenda Rapat Pertanggungjawaban Pengurus Lama dan Pembentukan Pengurus Baru. Menempati lokasi di Wedangan “Kudu Geprek Kudu Ngopi” Jl. Elang, Desa Kudu, Kec. Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Acara dihadiri beberapa pengurus dan pemerhati burung derkuku di Sukoharjo. Turut hadir beberapa perwakilan dari Pengcab Surakarta. Ada 2 acara penting di Rapat tersebut. Pertama laporan pertanggungjawaban Ketua PPDSI Sukoharjo 2023-2025, yang mana hari itu sudah habis masa baktinya.


Pengcab PPDSI Sukoharjo adakan Rapat Pertanggungjawaban dan Pembetukan Pengurus Baru


Kedua pemilihan Ketua dan Pengurus Baru PPDSI Pengcab Sukoharjo, untuk periode 2026-2029. Malam itu secara aklamasi H. Nur Ali Sasongko terpilih sebagai Ketua Pengcab PPDSI Sukoharjo untuk masa bakti 2026-2028. Tidak menunggu lama H. Nur Ali pun segera menyusun siapa saja yang akan membantunya melaksanakan amanah dari penggemar derkuku di Sukoharjo.

H. Nur Ali menjelaskan, bahwa terpilihnya sebagai Ketua Baru PPDSI Sukoharjo karena dipercaya para dekoe mania di Sukoharjo. Dirinya menyatakan bahwa amanah yang diembannya ini akan diusahakan tidak mengecewakan semua yang telah mempercayakan dirinya sebagai Ketua.


Tempat wedangan Kudu Geprek Kudu Ngopi terasa nyaman untuk berkumpul


“Terus terang saya belum bisa berkata banyak, karena Pengcab Sukoharjo sebenarnya masih terhitung baru 3 tahun lalu didirikan,” ujar H. Nur Ali. “Selama itu pula Pengcab Sukoharjo mempunyai kegiatan yang terseok seok.”

“Bahkan sempat macet tanpa adanya kegiatan hampir 1 tahun lamanya. Kondisi lapangan juga rusak parah,” tambah H. Nur Ali. “Alhamdulillah pada awal tahun 2025 kemarin, kami bertiga, yakni saya, Mas Andang, dan Mas Widodo Dorick berhasil menggiatkan kembali hobi derkuku ini.”


Pengcab Sukoharjo akan berupaya menambah gantangan sebanyak 16 tiang


“Semua dimulai dengan modal 0 besar. Karena segala sesuatunya di Pengcab Sukoharjo ini masih minim, maka Program Kerja kedepan kami khususkan untuk memperbanyak tiang gantangan,” jelas H. Nur Ali. “Dengan dibarengi memperbanyak kegiatan Latber.”

“Jumlah tiang gantangan hanya ada 55 tiang. Dengan jumlah tersebut tentu belum bisa mengadakan lomba sesuai ketentuan dari PPDSI yakni melombakan 3 kelas (Senior, Yunior, dan Pemula). Dengan jumlah gantangan yang kami miliki baru bisa mengadakan latber itupun belum bisa sesuai ketentuan minimal 36/blok.”


Agung Cahyanto Ketua PPDSI Surakarta menyatakan keinginannya mengadakan kegiatan di Sukoharjo


Lebih lanjut disampaikan bahwa PPDSI Sukoharjo ingin memberikan harapan kepada seluruh komunitas hobi derkuku untuk terus eksis menekuni hobi. Berbagai program menjadi agenda yang mendapatkan porsi lebih banyak. Karena lewat program inilah, maka eksistensi hobi akan terasa.

“Kami akan berusaha menjadikan lomba sebagai kegiatan rutin Pengcab Sukoharjo dengan tujuan agar dekoe mania bisa tetap menyalurkan hobi derkukunya,” sambung pemilik Nasa Bird Farm ini. “Kegiatan seperti lomba memang perlu terus dilakukan agar tidak sampai menyurutkan semangat.”


PPDSI Surakarta secara resmi meninggalkan Lapangan Gawanan Colomadu


Pada malam itu Agung Cahyanto Ketua PPDSI Suarakarta beserta jajarannya ikut hadir dalam rapat yang diadakan oleh PPDSI Sukoharjo. Agung secara langsung mengutarakan keinginan PDSI Surakarta bergabung dengan Pengcab Sukoharjo dalam hal penggunaan lapangan. Ini karena Lapangan Gawanan Colomadu, Karangayar, telah habis masa sewanya dan tidak diperpanjang.

Keinginan tersebut disambut dengan baik oleh Pengcab Sukoharjo. “Tahun ini kami akan berkolaborasi dengan DMS,” lanjut H. Nur Ali. “Kami belum bisa mengadakan lomba besar, jadi hanya laksanakan latber saja. Insyaallah minimal setiap bulan kita adakan lomba bersama DMS.”



“Hari Minggu, 15 Februari 2026 besok akan kita adakan latber yang melombakan kelas Bebas dengan 25 tiket dan kelas Pemula sebanyak 30 tiket. Semua tiket telah penuh dipesan oleh dekoe mania Sukoharjo dan Surakarta, doakan semua berjalan dengan baik,” tutur H. Nur Ali menutup obrolan. (Ramlee/Jat)


Kamis, 12 Februari 2026

Azalea, Bunga Berwarna Indah dan Menawan Lambang Keanggunan Abadi



Azalea merupakan nama umum untuk berbagai semak berbunga dalam genus tumbuhan Rhododendron. Awalnya memiliki genusnya tersendiri, namun sekarang bunga azalea dan bunga rhododendron sudah resmi digabung ke dalam kelompok Rhododendron.

Dengan demikian, semua azalea merupakan bunga Rhododendron, tetapi tidak semua Rhododendron merupakan bunga azalea. Apa perbedaannya? Bunga azalea memiliki bentuk bunga yang corong, sedangkan jenis bunga rhododendron lainnya berbentuk mirip lonceng.

Selain itu, bunga azalea hanya memiliki 5 benang sari, sedangkan bunga rhododendron memiliki total 10 benang sari. Keduanya termasuk ke dalam famili Ericaceae atau yang sering disebut dengan heath (tanaman semak).


Azalea “Bunga Penguasa Kebun”


Famili ini dikenal sebagai suku bluberi. Anggota lain yang terkenal dalam famili Ericaceae antara lain, blueberry, cranberry, dan huckleberry. Azalea termasuk tanaman hias yang sangat populer dan tanaman taman yang paling digemari.

Baca juga : Cempaka Wangi, Pohon Hijau Abadi Sumber Wewangian

Azalea dikenal sebagai “Bunga Penguasa Kebun”. Tanaman hias bunga yang satu ini telah lama diagung-agungkan karena warna bunganya yang cerah dibalik dedaunannya yang rimbun. Azalea mekar dengan mahkota bunga yang mencolok seperti warna merah, pink, kuning, putih hingga ungu dan seringkali mengeluarkan aroma harum.


Rhododendron Vireya tumbuh subur di Papua


Beberapa azalea yang tumbuh pada konsisi tanah yang baik tidak membutuhkan pemupukan. Azalea jarang terserang hama sehingga akan tetap tumbuh tanpa perawatan khusus kecuali jika tanah benar-benar kering maka perlu disiram sesekali.

Azalea umumnya bebas dari hama dan penyakit. Namun, jika tanah benar-benar tidak subur dan kekurangan nitrogen maka diperlukan pupuk untuk mencegah kurangnya nutrisi pada tanah. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan tanaman terhambat, daun berwarna kuning dan mengecil. Diperlukan memangkas kembali cabang-cabang untuk untuk pertumbuhan yang maksimal.

Tumbuh dan berkembang baik di daerah beriklim hangat, bunga satu ini kerap dijadikan sebagai tanaman hias ideal, terutama di wilayah Asia Timur. Sesuai dengan habitatnya yang cenderung kering dan panas, nama bunga ini diciptakan oleh seorang ahli botani Swedia bernama Carl Linnaeus. Dikatakan bahwa nama bunga ini sebenarnya diambil dari bahasa Yunani, yaitu azaleos, yang artinya kering.

Walaupun lebih nyaman berada di iklim yang hangat, bunga azalea juga dapat bertahan di iklim yang lebih dingin, seperti Amerika, berkat sifat adaptasinya yang tinggi. Oleh karena itu juga, bunga ini mendapatkan julukan sebagai Royalty of the Garden.


Rhododendron javanicum, rhododendron asli Indonesia yang tumbuh subur di Jawa, Sumatera, Bali, dan Kalimantan


Azalea suka dengan musim yang hangat, bunga azalea biasanya hanya mekar menjelang musim semi, musim panas, dan musim gugur. Biasanya azalea akan mekar sekitar 2-3 minggu, lalu akan ada beberapa yang menggugurkan dedaunannya dan ada juga yang tetap memiliki daun hijau. Daun azalea yang tersusun secara spiral memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari 1-2 cm hingga lebih dari 50 cm.

Baca juga : Bunga Camelia, Bunga Cinta yang Sering Digunakan dalam Perawatan Kulit

Spesies Rhododendron sinogrande memiliki daun terbesar mencapai 100 cm. Seperti bunga lain pada umumnya, bunga azalea juga senang dengan sinar matahari pagi dan sore, sehingga membuatnya cocok untuk ditanam di area semi teduh. Lain dari itu, bunga ini juga tidak memerlukan penyiraman yang sering sehingga mudah untuk dirawat.


Rhododendron wilhelminae spesies endemik Indonesia tumbuh di Gunung Salak


Terlepas dari tampilannya yang indah dan cerah, bunga azalea ternyata termasuk dalam daftar tanaman hias paling beracun, lho. Sedikit saja bunga yang dikonsumsi sudah dapat berakibatkan fatal bagi tubuh manusia serta hewan peliharaan, seperti anjing dan juga kucing.

Umumnya, semua bagian dari tanaman ini dianggap beracun, seperti daun, bunga, hingga serbuk sari. Azalea mengandung racun yang disebut grayanotoxins. Grayanotoxins merupakan racun natrium alami yang biasanya hanya ditemukan dari tanaman famili Ericaceae.

Tanaman Azalea diketahui memiliki beragam jenis. Terdapat beberapa jenis azalea yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Antara lain seperti Azalea jenis Rhododendron javanicum banyak tumbuh di pulau Bali dan Jawa.

Di sisi lain, Azalea jenis Rhododendron album, termasuk dalam jenis yang dilindungi, dapat tumbuh di daerah dataran tinggi pulau Jawa. Sedangkan Azalea jenis Rhododendron wilhelminae juga termasuk dalam jenis yang dilindungi dan sering tumbuh di ketinggian Gunung Salak.


Pengembangbiakkan azalea dengan cara steak batang


Jenis Azalea Rhododendron loerzingii banyak tumbuh di wilayah Gunung Merbabu, Merapi, serta Sumbing. Untuk Azalea jenis Rhododendron renschianum, Anda dapat menemukannya di daerah Nusa Tenggara Timur. Di Sulawesi Selatan, Azalea jenis Rhododendron rhodopus menjadi salah satu jenis yang banyak ditemukan. Di Sulawesi Tengah, dapat dengan mudah menemukan Azalea jenis Rhododendron radians serta Rhododendron seranicum, yang juga tumbuh di wilayah tersebut.

Baca juga : Hortensia, Bunga Cantik yang Bisa Diatur Warnanya dengan Berbagai Manfaat Kesehatan

Cara mengembangbiakkan tanaman Azalea dapat dilakukan secara vegetatif maupun generatif. Sampai saat ini, tanaman Azalea dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Warna merah muda pada bunga Azalea kemungkinan terjadi akibat persilangan antara tanaman bunga azalea warna merah dan warna putih.


Azalea juga bisa dijadikan tanaman bonsai


Tanaman hias tidak hanya berperan sebagai penambah estetika saja namun lebih dari itu. Banyak tanaman hias yang memiliki ragam manfaatnya khususnya bagi kesehatan tidak terkecuali Tanaman Azalea. Azalea sebagai tanaman yang dikenal memiliki kelopak bunga berwarna cerah dan cantik nyatanya memiliki beberapa manfaat.

Bagi penderita rematik atau yang sedang mengalami batuk, tanaman Azalea dapat digunakan sebagai obat herbal karena mengandung alkaloid, tanin, flavonoid, dan saponin. Hampir semua bagian dari tanaman Azalea seperti akar, daun, dan bunga yang masih segar maupun sudah kering untuk dikemudian diolah menjadi obat herbal guna mengatasi rematik dan batuk. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Azalea, Tanaman Semak Berbunga Cantik yang Mampu Tumbuh di Daerah Kering


Sabtu, 07 Februari 2026

Sempidan, Burung Pegar Hutan Pemalu Endemik Sumatera dan Kalimantan



Sempidan merupakan kelompok burung berukuran besar dari keluarga Phasianidae dengan genus Lophura yang terkenal dengan keindahan bulunya, terutama yang jantan. Burung-burung dalam genus ini dikenal karena penampilannya yang mencolok.

Sering kali tampil dengan bulu berwarna gelap mengkilap dan area kulit wajah berwarna cerah, biasanya merah atau biru. Bentuk tubuh ayam sempidan seperti campuran antara ayam dan pheasant sehingga sering disebut gallopheasant.

Besarnya hampir seperti ayam kalkun. Panjang ukuran sempidan jantan antara 40 hingga 90 cm. Dengan bulu yang panjang indah. Sempidan jantan umumnya berbulu panjang dan berparas indah, memiliki ornamen berwarna menyolok di sekitar muka.


Sempidan Sumatera (Lophura inornata)


Ornamen ini akan mengembang saat musim kawin, untuk menarik perhatian sempidan betina. Sempidan betina sendiri umumnya tidak semenarik sempidan jantan. Betina berwarna coklat suram yang berguna untuk menyamar saat mengerami telur di sarang yang terletak di atas tanah.

Baca juga : Pheasant, Satwa Eksotis dari Pegunungan Tiongkok Berharga Fantastis

Burung ini hidup di habitat hutan primer yang jarang terjamah manusia. Hutan pegunungan bawah dan hutan dengan perbukitan dengan ketinggian 300 hingga 2200 mdpl. Sempidan mampu berlari cepat untuk menghindari pemangsa. Burung besar ini juga mampu terbang rendah dalam jarak yang dekat.


Sempidan Merah Sumatera (Lophura erythrophthalma)


Sempidan tersebar luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara dengan jumlah total sebanyak 11 spesies. Enam jenis diantaranya ada di Indonesia. Semuanya berada dalam satu marga yang disebut Lophura. Uniknya, jenis-jenis Sempidan Indonesia ini hanya ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan (termasuk Brunei, Sabah dan Serawak).

Kebanyakan spesies sempidan mendiami hutan dataran rendah, perladangan, dan lembah hutan, seringkali di dekat aliran sungai. Sempidan cenderung hidup di lantai hutan, namun begitu sulit ditemukan meskipun mempunyai penampilan yang menarik.

Burung ini umumnya hidup di lantai hutan dataran rendah hingga pegunungan. Sering ditemukan menjelajah dan mengorek serasah daun yang jatuh di dasar hutan untuk mencari makan. Makanan burung sempidan di alam liar sangat bervariasi karena sempidan adalah pemakan segala (omnivora).

Makanan sempidan meliputi serangga (semut, rayap, cacing, larva), tumbuhan (buah-buahan, biji-bijian, daun, dan sayuran), serta hewan kecil lainnya seperti siput kecil. Sempidan mencari makanannya dengan cara mengais serasah di lantai hutan saat pagi hingga sore hari.


Sempidan Merah Kalimantan (Lophura pyronota)


Burung sempidan berkembang biak dengan cara bertelur (ovipar), di mana jantan melakukan ritual kawin yang menarik dengan memamerkan bulunya yang indah. Sempidan jantan juga akan mengeluarkan suara kerasnya buat menarik perhatian sempidan betina.

Baca juga : Mambruk, Burung Endemik Papua Bermahkota yang Dilindungi

Burung sempidan membuat sarang yang sederhana di atas tanah, biasanya tersamar dengan baik di lantai hutan atau di semak-semak. Sarang ini umumnya terbuat dari bahan-bahan alami yang tersedia di sekitarnya. Sempidan betina memilih lokasi sarang di tempat yang tersembunyi.


Sempidan 4 Biru Sumatera (Lophura rufa)


Sering kali berada di antara akar pohon, di bawah semak belukar, atau di area dengan banyak daun kering untuk perlindungan dari predator dan elemen alam. Sarang dibangun menggunakan material seperti ranting kecil, daun kering, rumput, dan kadang-kadang lumut.

Sarangnya sendiri cenderung berupa “garukan” atau cekungan dangkal di tanah yang dilapisi dengan bahan-bahan tersebut untuk menciptakan tempat yang lembut dan aman bagi telur. Setelah sarang siap, sempidan betina akan bertelur (sekitar sembilan butir per periode).

Musim kawin terjadi saat peralihan musim hujan dan kemarau, umumnya di bulan April-Juli di Indonesia. Masa pengeraman telur sempidan sekitar 20-24 hari. Anak burung (piyik) menetas dengan bintik hitam di sayap, mirip induk betina. Bulu anak sempidan jantan mulai terlihat lebih gelap dari betina saat usia 4 bulan.

Lalu akan berubah warna saat dewasa pada usia 1-3 tahun. Setelah menetas, anak burung sempidan sudah berbulu dan dapat bergerak aktif (termasuk berlarian di tanah), yang merupakan tahap perkembangan normal. Pada masa ini, induknya masih merawat dan mengawasi anak-anaknya.


Sempidan Biru Kalimantan (Lophura ignita)


Induk burung, terutama betina, berperan penting dalam menjaga sarang tetap bersih dan merawat anak-anaknya hingga mereka bisa mandiri. Meskipun tidak ada data spesifik mengenai umur pasti perpisahan penuh untuk semua spesies sempidan.

Baca juga : Kasuari, Spesies Burung Paling Berbahaya di Dunia dari Hutan Papua

Umumnya burung-burung dalam ordo yang sama (Galliformes, seperti ayam atau burung kuau) cenderung mandiri relatif cepat. Anakan sempidan akan mulai menjauh dari induknya secara bertahap saat kemampuan terbangnya membaik dan mahir mencari makan sendiri, seperti serangga dan buah-buahan.


Sempidan Kalimantan (Lophura bulweri)


Anak burung sempidan secara bertahap akan berpisah dari induknya setelah cukup matang untuk mencari makan sendiri dan bertahan hidup. Proses ini bervariasi, tetapi anakan sempidan mulai meninggalkan sarang dan berkeliaran di tanah pada usia muda setelah menetas.

Di Indonesia, ada beberapa spesies burung sempidan yang hidup di Sumatera dan Kalimantan, seperti Sempidan Sumatera (Lophura inornata), Sempidan Merah Sumatera (Lophura erythropthalma), Sempidan Merah Kalimantan (Lophura pyronota), Sempidan Biru Sumatera (Lophura rufa), Sempidan Biru Kalimantan (Lophura ignita), dan Sempidan Kalimantan (Lophura bulweri). Semuanya termasuk famili ayam pegar dan punya corak serta habitat spesifik, seringkali terancam punah karena deforestasi.


Anakan burung sempidan yang baru menetas


Banyak spesies sempidan menghadapi ancaman serius, terutama akibat hilangnya habitat (deforestasi) dan perburuan liar, yang menyebabkan penurunan populasi mereka di alam liar. Beberapa di antaranya, seperti Sempidan Biru Kalimantan, berstatus Vulnerable (rentan) menurut IUCN. Upaya konservasi, baik in-situ (di habitat asli) maupun ex-situ (di penangkaran), sangat penting untuk menjaga kelestarian burung-burung menawan ini. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Sempidan, Burung Eksotis Penghuni Hutan Sumatera dan Kalimantan yang Terancam Punah


Komunitas Pedes dan DMS Gelar Latberan Gantangan Pedes Sukoharjo, Oscar dan Puspo Tajem Rebut Juara

Gelaran lomba seni suara burung derkuku bertajuk Latberan Gantangan Pedes yang dilaksanakan pada hari Minggu, 15 Pebruari 2026 berlangsung m...