Senin, 17 Agustus 2026

Merak, Unggas yang Terkenal dengan Bulu Ekornya yang Menakjubkan



Burung Merak merupakan salah satu burung paling memukau di dunia yang dikenal karena bulu ekornya yang besar, berwarna-warni, dan indah seperti kipas. Berdasarkan klasifikasinya, burung merak termasuk dalam genus Pavo dan Afropavo yang merupakan bagian dari famili Phasianidae.

Burung merak seperti karya seni yang hidup, berjalan anggun dengan bulu ekor yang bisa mengembang lebar seperti kipas kerajaan. Burung merak sebenarnya masih satu keluarga dengan ayam hutan dan burung pegar, yaitu keluarga Phasianidae. Mungkin agak sulit dibayangkan, mengingat penampilan burung merak jauh lebih glamor dibanding sepupunya yang sering terlihat di halaman belakang rumah.

Burung merak sering dianggap sebagai salah satu spesies burung paling indah di dunia. Burung ini bukan burung lokal khas satu negara saja. Burung merak tersebar di beberapa bagian Asia dan bahkan Afrika. Secara umum, ada tiga spesies utama burung merak di dunia.


Merak Biru (Pavo cristatus)


Pertama adalah Merak Biru atau Pavo cristatus, jenis kedua adalah Merak Hijau atau Pavo muticus. Untuk spesies ketiga agak berbeda, yaitu burung Merak Kongo atau Afropavo congensis. Masing-masing jenis tentu punya pesonanya sendiri.

Baca juga : Ayam Hutan Merah, Nenek Moyang Ayam Peliharaan Ternyata sangat Pemalu

Jenis merak hijau dan biru termasuk spesies Asiatik. Merak hijau banyak dijumpai di Asia Tenggara, sedangkan merak biru banyak ditemukan di India. Sementara itu, merak Kongo adalah spesies merak yang berasal dari Cekungan Kongo. Di antara ketiganya, merak India (Pavo cristatus) adalah yang paling terkenal dan sering dijadikan simbol keindahan alam.


Merak Hijau (Pavo muticus)


Salah satu hal paling menarik dari burung merak adalah penampilan yang berbeda antara jantan dan betinanya. Perbedaan ini disebut dimorfisme seksual, istilah biologi untuk menggambarkan bagaimana jantan dan betina dalam satu spesies bisa terlihat sangat berbeda.

Jadi pada burung merak, bisa langsung diketahui mana jantan dan mana betina hanya dengan sekali lihat. Perbedaan penampilan ini bukan tanpa alasan. Dalam proses evolusi, sifat-sifat seperti warna cerah dan ekor panjang pada merak jantan muncul karena seleksi alam dan seleksi seksual.

Betina biasanya memilih jantan dengan bulu paling indah dan sehat sebagai pasangan, karena itu menandakan bahwa jantan tersebut kuat dan memiliki gen yang baik. Ekor menjadi pembeda paling mencolok antara merak jantan dan betina.

Merak jantan memiliki bulu penutup ekor yang sangat panjang, bisa mencapai 180 hingga 220 sentimeter. Di setiap helainya terdapat pola berbentuk “mata” yang tampak berkilau saat terkena cahaya. Biasanya, jantan akan mengembangkan bulu ekornya ini dalam ritual kawin untuk menarik perhatian betina.


Merak Congo (Afropavo congensis)


Sementara itu, merak betina punya ekor yang jauh lebih pendek dan berwarna lebih kalem. Tidak ada pola “mata” seperti pada jantan, karena fungsinya berbeda. Warna bulu yang agak kusam justru membantu betina berkamuflase di alam, terutama saat mengerami telur agar terlindung dari pemangsa.

Baca juga : Pheasant, Satwa Eksotis dari Pegunungan Tiongkok Berharga Fantastis

Warna-warni yang tampak mencolok itu sebenarnya bukan hasil pigmen, melainkan berasal dari fenomena yang disebut iridesensi. Setiap helai bulu merak punya struktur mikroskopis yang mampu membiaskan dan memantulkan cahaya, sehingga menghasilkan efek warna yang berubah-ubah tergantung dari sudut pandang dan arah cahaya.


Burung merak lebih sering terlihat di darat


Merak jantan biasanya berukuran lebih besar dan berat dibandingkan betina. Berat tubuhnya bisa mencapai sekitar 5 kilogram dengan panjang tubuh mencapai 2 meter lebih, termasuk bagian ekornya yang menjuntai indah. Di sisi lain, merak betina punya tubuh yang lebih kecil dan ringan, dengan berat sekitar 3 kilogram dan panjang sekitar 1 meter.

Penampilannya memang tidak semegah jantan, tapi justru itulah keunikannya. Di habitat aslinya, bentuk tubuh yang lebih ringan membuat merak betina bisa bersembunyi lebih mudah dari predator, sedangkan ukuran besar pada jantan berfungsi untuk menarik perhatian betina dalam proses kawin.

Di atas kepala merak ada jambul tegak yang mirip mahkota kecil. Pada merak jantan, jambulnya terlihat lebih besar dan mencolok. Ujung-ujung bulunya berdiri tegak dengan warna yang serasi dengan bulu tubuhnya. Sementara itu, jambul pada merak betina tampak lebih kecil dan halus.

Meski tidak seindah milik jantan, bagian ini punya fungsi penting. Jambul betina ternyata berperan sebagai organ sensorik yang peka terhadap getaran. Saat merak jantan melakukan tarian kawin sambil mengibaskan ekornya, jambul betina akan menangkap getaran halus yang dihasilkan gerakan itu. Jadi, selain melihat tarian indah sang jantan, si betina juga bisa “merasakan” iramanya lewat getaran yang ditangkap jambulnya.


Burung Merak juga mampu terbang jauh


Habitat burung merak sangat bervariasi tergantung jenisnya. Merak Asia bukan tipe burung yang terpaku di satu tempat saja, tapi lebih suka tinggal di lingkungan yang memberi ruang untuk bergerak bebas dan mencari makan. Biasanya, burung ini bisa ditemukan di hutan terbuka, padang rumput, atau sabana yang masih punya pepohonan rindang di sekitarnya.

Baca juga : Sempidan, Burung Pegar Hutan Pemalu Endemik Sumatera dan Kalimantan

Selain itu, merak Asia juga sering hidup di hutan tropis dataran rendah yang lembap dan hangat. Tempat seperti ini menyediakan banyak sumber makanan dan area yang aman untuk bertengger. Bahkan, di beberapa wilayah Asia, burung merak berkeliaran di sekitar kota atau taman besar. Hal ini terjadi karena cukup terbiasa dengan kehadiran manusia, asal lingkungannya masih menyediakan makanan dan tempat berteduh.


Seekor induk merak sedang mengerami telurnya


Merak Kongo bisa ditemukan di hutan hujan dataran rendah yang lebat di wilayah cekungan Kongo, Afrika Tengah. Burung ini hidup di area lembap dan rindang yang jadi habitat alaminya, tempat untuk mencari makan sekaligus berlindung dari predator. Karena kehidupan tersembunyi di kedalaman hutan membuat spesies ini menjadi yang paling misterius dan paling akhir ditemukan di antara ketiga jenis merak.

Burung merak adalah hewan omnivora yang memakan berbagai jenis makanan di tanah, termasuk biji-bijian, buah-buahan, serangga, tanaman hijau, hingga reptil kecil. Saat merasa terancam, burung merak bisa lari cepat atau terbang ke pohon. Burung merak bisa terbang, dan termasuk salah satu burung terbang terbesar dan terberat di dunia. Merak lebih sering berjalan di darat, dan menggunakan kemampuan terbangnya untuk jarak pendek, seperti menghindari predator, berpindah tempat, atau bertengger di atas pohon saat malam hari.


Induk merak bersama anak-anaknya yang baru saja menetas



Di musim kawin, perilaku burung merak akan berubah. Merak jantan jadi lebih vokal, lebih sering membuka ekor, dan kadang bisa bertarung dengan sesama jantan untuk menarik perhatian betina. Burung merak dikenal dengan perilaku yang menarik saat musim kawin. Merak jantan akan mengembangkan bulunya dan melakukan tarian untuk menarik perhatian betina. Suara berisik yang dikeluarkan selama proses ini juga berfungsi untuk menarik pasangan.

Meskipun memiliki daya tarik yang besar, populasi merak menghadapi ancaman serius akibat kehilangan habitat, perburuan liar, dan perubahan iklim. Upaya konservasi diperlukan untuk melindungi spesies ini agar tetap lestari di alam liar. Taman nasional dan cagar alam menjadi tempat perlindungan penting bagi burung merak. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Merak, Burung dengan Warna Bulu Paling Memukau di Dunia


Sabtu, 15 Agustus 2026

PPDSI Sukoharjo Gelar Liga PEDES 2026, Panitia Datangkan Empat Juri Jogja, Sang Gladiator Cakrawala dan Rengganis Juara



Komunitas Dekoe Mania Sukoharjo yang tergabung dalam “PEDES” kembali memulai aktifitas hobi derkukunya lewat agenda Latber pada Minggu, 9 Agustus 2026. Kegiatan bertema Liga PEDES 2026 Putaran I kali ini masih menempati lokasi yang sama yakni di Lapangan Sukoharjo Kel. Kwarasan Grogol Kab. Sukoharjo.

Panitia membuka tiga kelas yang dilombakan yakni kelas Senior, Yunior, dan kelas Pemula, masing-masing satu blok. Puluhan ekor derkuku ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Artinya seluruh tiket yang dibuat panitia, nyaris tidak ada sisa dan terjual habis karena diserbu peserta.


Dalip dibantu teman-teman melakukan pemasangan nomor gantangan


“Alhamdulillah dukungan peserta dalam Liga PEDES 2026 Putaran 1 ini ternyata sangat besar sehingga tiket yang kami sediakan hampir habis terjual,” terang H. Nur Ali Sasongko Ketua Pengcab PPDSI Sukoharjo yang ikut hadir. Lebih lanjut disampaikan bahwa kegiatan ini adalah putaran pertama dari beberapa kegiatan yang diinginkan.

Sebenarnya sejak lama PEDES ingin menggelar liga latber, namun dikarenakan keterbatasan tiang gantangan yang ada di Lapangan Sukoharjo, maka baru saat ini acara tergelar. “PEDES sudah berani mengadakan Liga karena kecukupan gantangan sudah terpenuhi untuk melombakan kelas Pemula, Yunior, dan Senior,” jelas H. Nur Ali Sasongko.


Juri-juri Jogja ikut kawal gelaran Liga PEDES 2026


Harapan kedepan kegiatan ini bisa tergelar setiap bulan hingga akhir tahun nanti. “Liga PEDES 2026 ini akan hadir setiap bulannya, jadi kegiatan ini bisa dibuat untuk mempersiapkan gaco-gaco yang ada untuk menghadapi event yang lebih besar seperti LDI,” ungkap pemilik NASA Bird Farm Sukoharjo.

Panitia Liga PEDES 2026 Putaran I juga sengaja mendatangkan 4 Juri dari Jogjakarta. Ini terjadi dikarenakan beberapa Juri dari Solo berhalangan hadir karena ada acara kerja bakti kampung untuk acara 17-an. Karena di bulan Agustus, hampir semua tempat sibuk dengan agenda Agustusannya.


Wawan (baju putih) suport doorprize lima ekor piyikan derkuku trah B2W


“Liga PEDES I bisa terlaksana karena dukungan penuh dari peserta. Meski Juri-juri Solo tidak bisa bertugas karena adanya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, namun kita mampu mendatangkan empat sekaligus juri dari Jogja,” ucap H. Nur Ali Sasongko dengan bangganya.

Acara Liga PEDES 2026 Putaran I pun berjalan sukses berkat kekompakan antara PEDES dan DMS. Sebagai contoh peserta saling bantu pemasangan nomor gantangan baru yang didesain dan disiapkan oleh Dalip. Nomor gantangan lama yang terbuat dari kertas karton diganti material dari seng.


Nanang MTJG (tengah) kembali hadir di lapangan


Dalip yang juga seorang Juri Perumus nasional itu menyiapkan sendiri nomor gantangan tersebut. Mulai motong seng sampai nulis nomor gantangan yang begitu rapih. “Nomor gantangannya sangat bagus tak pikir pakai sablon ternyata ditulis tangan langsung,” puji Jatmiko, yang ikut mengabadikan momen spesial tersebut.

Sementara itu proses penjurian berlangsung lancar tanpa ada kendala. Cuaca cerah secerah hati peserta lomba mengawal sejak peluit tanda dimulainya penjurian. Peserta yang berada dipinggir lapangan nampak tertib meski masih terdengar suara teriakan. Angin yang bertiup dengan kecepatan tidak terlalu tinggi (menyejukan), membuat persaingan berjalan ketat.


Wiwied Sword BF juara di kelas Senior


Empat babak penjurian tidak mengalami kendala, semua berjalan sesuai harapan dan keinginan semua pihak, yakni panitia dan peserta. Sampai akhirnya babak keempat dinyatakan selesai, seluruh peserta menurunkan derkuku miliknya. Proses perekapan dimulai, untuk menentukan posisi kejuaraan di masing-masing kelas.

Untuk kelas Senior, terjadi perebutan posisi juara antara nomor kerekan 57 dan 59. Kerekan 57 yakni Setiaki besutan Sunaryanto sedangkan 59 adalah Sang Gladiator salah satu amunisi andalan Daud Toni. Dua babak awal yakni pertama dan kedua, Setiaki dan Sang Gladiator sama-sama memiliki nilai imbang yakni mendapatkan bendera lima warna.


Juara di kelas Senior


Pada babak kedua keduanya diimbangi oleh Cleopatra debutan Wagiman yang ada di tiang 58 dengan keberhasilannya mendapatkan bendera lima warna setelah babak pertama hanya mendapatkan bendera empat warna. Pada babak ketiga, persaingan kian seru setelah diluardugaan Setiaki hanya mendapatkan bendera empat warna sedangkan Cleopatra berhasil raih lima warna, sedangkan Sang Gladiator kian mantap dengan capaian lima warnanya.

Sang Gladiator bergelang Sword 117 tampil cukup impresif dengan kembali mendapatkan lima warna pada babak keempat sekaligus menyegel posisi juara di kelas Senior. Disusul oleh Setiaki dengan ring Arya 55 sebagai juara kedua setelah sukses raih bendera lima warnanya kembali.


Dorrick juara di kelas Yunior


Untuk posisi ketiga ada Cleopatra ring GSM 1827 milik Wagiman. Cleopatra gagal mengimbangi langkah Setiaki setelah hanya mendapatkan bendera tiga warna. “Alhamdulilah, Cleopatra ternyata kualitas suaranya ndak kalah dengan yang juara 2 dan 1,” ujar Wagiman yang kali ini hadir bersama istri tercinta.

“Lagi nyoba burung remaja. Cleopatra baru berumur 8 bulan. Mau bunyi tapi belum maksimal sampai 4 babak. Kalau bisa gacor sampai 4 babak, mungkin hasilnya akan berbeda,” lanjut pemilik GSM Bird Farm ini. Kandang GSM sendiri kerap menelurkan burung-burung berkualitas.


Juara-juara di kelas Yunior


Untuk kelas Yunior, juara pertama direbut Cakrawala orbitan Dorrick Sukoharjo. Derkuku ternakan PN 873 yang dikerek pada nomor 34 sukses mengunci kemenangan setelah mendapatkan nilai bendera lima warna pada babak pertama dan kedua. Sedang pada babak ketiga dan empat hanya berhasil mendapatkan bendera empat warna.

Posisi kedua diamankan Sang Timur, derkuku hasil ternakan 3GB 18 debutan Sadewa Bird Farm Solo yang ada di tiang kerekan nomor 52. Sebenarnya Sang Timur mempunyai nilai yang sama setelah mendapatkan bendera lima warna pada babak pertama dan keempat, serta bendera empat warna pada babak kedua dan ketiga.


Top-X juara kelas Pemula


Posisi juara harus melalui meja juri perumus, dan Sang Timur harus mengakui kemenangan Cakrawala setelah kalah di nilai tonjolan dengan sang juara. Diurutan ketiga ada Mami Papi amunisi Daud Toni. Sukses ternakan Sword yang dikerek pada nomor 51 berkat raihan bendera lima warna pada babak pertama dan kedua dan bendera tiga warna pada babak ketiga dan keempat.

Untuk kelas Pemula, juara pertama menjadi milik Rengganis orbitan Top X Boyolali. Derkuku hasil ternak PN 852 yang digantang pada nomor 27 yang begitu menonjol di Dasar Suara dan Gaya iramanya. Posisi kedua Adinda andalan Jatmiko Solo. Derkuku bergelang Dinda 17 yang menempati nomor gantangan 29 ini mampu tampil bagus sepanjang empat babak.


Juara di kelas Pemula


Urutan ketiga ada Nawa Tirta besutan Lilik Purworejo, keberhasilan burung dengan ring B2W 248 yang digantang pada nomor 22 dengan raihan empat kali bendera empat warna sama dengan juara pertama dan kedua, hanya kalah di tonjolannya saja.

Total ada lima burung yang mampu tampil prima di kelas Pemula ini. Ada Slamet ring Dorrick 32 milik Andang di tiang nomor 20 dan Tentara Langit ring Dorrick 67 milik H. Nur Ali Sasongko di tiang nomor 1. Kedua burung ini menempati peringkat keempat dan kelima.


Wagiman dapat suport langsung dari sang istri tercinta


Setiap pemenang pada Liga PEDES akan mendapatkan poin yang sudah ditentukan oleh panitia untuk membuktikan siapa yang terbaik di akhir putaran nanti. Diakhir acara, panitia mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh peserta yang telah memberikan perhatian dan dukungan. Permintaan ma’af juga disampaikan jika selama acara, ada hal-hal yang kurang berkenan. (Ramlee/JAT)





Sabtu, 08 Agustus 2026

Pengda P3SI Bandar Lampung Gelar Semarak Kemerdekaan RI 81 di Lapangan Baru, Mawar Merah dan Jahanam Juara




Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, Pengda P3SI Bandar Lampung menggelar lomba perkutut pada Minggu, 2 Agustus 2026. Bertempat di Lapangan P3SI Pengwil Lampung, Ds. Margorejo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Acara berlangsung sukses dan meriah.

Ajang bergengsi ini sukses terlaksana berkat kerja sama yang solid dari para tokoh Kung Mania Lampung Bersatu. Kegiatan bertajuk “Semarak Kemerdekaan RI 81”, sarat akan nuansa nasionalisme dan sportivitas ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar peternak (breeder) dan pencinta perkutut di wilayah Lampung.

Isnandar selaku Ketua Pelaksana Kegiatan, menyatakan bahwa selain untuk memperingati bulan kemerdekaan, agenda ini juga menjadi wadah strategis untuk menguji hasil penangkaran para peternak lokal Lampung. “Kami ingin semangat kemerdekaan ini menular ke para penghobi dan pelestari perkutut di Lampung agar terus produktif menghasilkan burung berkulitas,” ujarnya pemilik RB Bird Farm.


Agenda lomba Pengda P3SI Bandar Lampung dihadiri sejumlah tokoh kung mania Lampung


Kesuksesan acara ini tidak lepas dari kerja keras tim panitia yang diisi oleh para tokoh perkutut tangguh, di antaranya Acenk (Toto Kromo BF), Yudo (Embun BF), Frans (Rock BF), Eko (Monata BF), dan Dapit (Kaktus BF). Juga dukungan sponsor dari PB Bird Farm dan Jordan Bird Farm.

Kegiatan Semarak Kemerdekaan RI 81 kali ini bertempat di lapangan baru milik Pengwil P3SI Lampung. Dengan kapasitas kerekan sebanyak 4 blok dimana setiap blok ada 36 tiang kerekan. Dan akan terus diperbanyak hingga berkapasitas 6 sampai 8 blok dan 2 blok hanging. Dengan kapasitas sebanyak itu memungkinkan lokasi ini digunakan menggelar kegiatan lebih besar. Beberapa agenda lomba besar di tahun 2027 sedang dipersiapkan.


Potong tumpeng peresmian lapangan Pengwil P3SI Lampung


Launching penggunaan lapangan baru ditandai lewat acara syukuran potong tumpeng bersama beberapa pengurus Pengda, Pengwil, tokoh perkutut, dan kung mania setempat. Lokasi arena lomba ini berada di Desa Margorejo Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, dekat dengan akses exit Tol Itera Kotabaru.

Letaknya yang strategis ini mudah sekali dijangkau dengan kondisi jalan yang lebar, sehingga memudahkan bagi siapa saja yang ingin menuju lokasi tersebut. Akses masuk kesana sangatlah mudah, begitu juga yang berasal dari luar kota, tinggal pilih jalan mana yang akan dilalui. Letaknya yang berada persis dipinggir jalan, memudahkan untuk menemukannya.

Kehadiran lokasi ini diharapkan bisa menjadi awal kembalinya aktifitas kung mania dalam menyalurkan hobi perkututnya. “Alhamdulillah Pengda Lampung kini sudah memiliki lapangan baru, mudah-mudahan bisa menjadi awal bagi kami untuk kembali menjalankan agenda kegiatan demi menyemarakkan hobi perkutut,” terang Dapit salah satu panitia.

“Alhamdulillah, seremoni pemotongan tumpeng menandai peresmian lapangan gantangan baru milik Pengwil P3SI Lampung sekaligus dibukanya perlombaan grand opening. Acara berjalan dengan lancar, mari berlomba dengan khidmat menikmati anggungan irama perkutut bangkok,” tambah Dapit.


Salah satu Juri lomba Semarak Kemerdekaan RI 81


Lebih lanjut dikatakan bahwa lokasi ini memang berdiri di lokasi strategis dan akses jalan menuju kesana sangatlah mudah. Darmo Halim pemilik Jordan BF juga selaku Ketua Pengwil P3SI Lampung, mengajak kung mania Lampung untuk memajukan hobi. “Mari bersama-sama kita majukan hobi. Salam satu hobi kung mania Lampung Bersatu ke kancah nasional,” ucap Darmo Halim bersemangat.

Sebagai wujud rasa syukur atas kehadiran lapangan baru ini, Ketua Pengda beserta beberapa pengurus dan juga kung mania Lampung, langsung menjajal lapangan ini. Ternyata burung yang berhasil dikerek lumayan banyak. Padahal kabar adanya pembukaan lapangan baru untuk lomba tidak terpublikasi luas.


Para juara di kelas Dewasa Senior


“Dengan adanya lomba ini, semoga dapat menjalin erat tali silaturahmi sesama penghobi Kung Mania Lampung Bersatu,” harap Koh Jutek (Putra Bodas BF) selaku Penasehat. Dalam perlombaan kali ini, panitia membuka dua kelas yang menjadi pusat perhatian para peserta, yakni kelas Dewasa Senior dan kelas Piyik Yunior. Antusias kung mania dalam memberikan dukungan begitu luar biasa, dua kelas yang dibuka langsung diserbu peserta.

“Alhamdulillah kelas yang kami buka, dipenuhi oleh peserta. Tiap kelas berisi 1 blok sebanyak 42 tiang kerekan. Respon positif diberikan oleh kung mania pada gelaran kali ini,” jelas Dapit. Karena sifat kegiatan yang dipersiapkan secara mendadak sehingga panitia tidak membuka banyak kelas.

Dukungan yang besar inilah yang menjadikan kegiatan milik Pengda P3SI Bandar Lampung ini semakin semarak. Penuh sesaknya peserta di masing-masing kelas yang dibuka, menjadi sinyal kuat bahwa hobi perkutut di Lampung mengalami peningkatan yang luat biasa. Agenda rutin yang mereka gelar, menjadi salah satu faktor.

Cuaca cerah hari itu, seakan ikut mendukung aksi jago-jago perkutut untuk bersaing, menguji mental maupun kualitas anggung merdunya, meskipun angin ikut menyapa sepanjang babak. Sementara tim Juri yang bertugas, siap menilai burung sesuai dengan kualitas dan aturan main P3SI yang sudah disepakati.


Juara kelas Piyik Yunior


Persaingan antar jago untuk mendapat nilai tertinggi, terjadi sejak babak pertama dimulai. Bahkan memasuki babak-babak berikutnya, persaingan untuk menjadi yang terbaik semakin seru dan ketat. Karena hampir semua jago, sama-sama ngotot menunjukkan kualitas anggung merdunya dihadapan tim Juri yang bertugas.

Setelah melalui persaingan sengit selama empat babak penuh penilaian. Akhirnya tim Juri dan perumus, menetapkan beberapa jago perkutut yang dinilai layak untuk masuk daftar kejuaraan sesuai dengan kualitas anggungnya di masing-masing kelas yang dilombakan. Ada 10 jago yang ditetapkan masuk daftar kejuaraan.


Peraih trofi kejuaraan kelas Piyik Yunior



Untuk kelas Dewasa Senior, posisi pertama berhasil direbut oleh Mawar Merah yang jadi andalan Heri dari Pringsewu. Sedangkan posisi kedua, berhasil diaget oleh Raja jago Mbah Kumis dari Pringsewu. Tempat ketiga direbut Kalimosodo milik Ko Ahok dari Metro.

Sedangkan untuk kelas Piyik Yunior, juara pertama di tempati Jahanam milik Rock BF Bandar Lampung. Posisi kedua berhasil diraih Ratu debutan Mbah Kumis Pringsewu. Dan posisi ketiga mampu dicuri oleh Sangkakala orbitan Rock BF Bandar Lampung. Frans pemilik Rock BF bangga dengan prestasi gacoannya. “Kemenangan hari ini adalah buah manis dari hari-hari panjang yang diisi dengan latihan keras.”





Beberapa kung mania yang hadir cukup puas dengan gelaran lomba dari Pengda P3SI Bandar Lampung. “Kekalahan hari ini hanyalah sebuah peta yang menunjukkan bagian mana yang harus kita perbaiki esok hari,” ucap Berto Julian, Kepala Desa Margorejo. Diakhir acara, panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang mendukung kegiatan sehingga berjalan dengan lancar, tertib dan penuh dengan keakraban. (Ramlee)

Sabtu, 01 Agustus 2026

Cocor Bebek, Tanaman Hias Sukulen Asal Madagaskar yang Bermanfaat untuk Obat Alternatif





Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata) merupakan tanaman hias sukulen (mengandung air) yang berasal dari zona kering di Madagaskar. Tanaman ini telah diperkenalkan di banyak daerah sebagai tanaman hias dan terkenal karena metode reproduksinya melalui tunas daun (tunas/adventif).

Cocor bebek telah tersebar luas tumbuh di habitat kering dan semi kering di Meksiko, Florida, Hindia Barat, Venezuela, Spanyol, Portugal, Italia, Australia, Afrika Selatan, dan di beberapa pulau di Pasifik. Species ini dikenal sebagai tanaman invasif di Puerto Rico, Kuba, Venezuela, Spanyol, Australia, Hawaii, dan Kaledonia Baru.

Tanaman cocor bebek banyak ditemukan tumbuh di lingkungan kering (xeric), semi kering, dan gersang. Di wilayah termasuk gurun, hutan kering, padang rumput, semak kaktus, semak berduri, hutan berduri, hutan terganggu, dan pinggir jalan.



Tanaman cocor bebek di habitat alaminya



Species ini mampu bertahan hidup dalam periode kekeringan yang berkepanjangan dengan sedikit atau tanpa air. Namun tidak mentolerir embun beku dan biasanya mati jika mengalami suhu di bawah titik beku. Pertumbuhannya menyukai posisi di bawah matahari penuh atau naungan sebagian.


Cocor bebek populer digunakan sebagai tanaman hias di rumah tetapi banyak pula yang tumbuh liar di kebun-kebun dan pinggir parit yang tanahnya banyak berbatu. Tanaman ini memiliki daun yang besar dan lebar dengan warna hijau tua yang menawan. Cocor bebek dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian sekitar 60-90 cm dan lebar sekitar 30-60 cm.



Cocor bebek mempunyai bunga yang menarik



Daun cocor bebek adalah daun tunggal, seling berhadapan, bilah daun berbentuk segitiga (triangular) hingga lanset, ujung dan pangkal runcing, tepi daun bergerigi dan terdapat tunas kecil (planlet) dalam jumlah banyak, pertulangan menyirip, tebal, permukaan daun berlilin (glaucous), berwarna hijau muda, bilah berbintik cokelat keungunan di permukaan bagian bawah.

Bunga majemuk dan terjumbai. Mahkota berwarna merah muda atau lavender, lobus obovate, puncak membulat. Kelopak berbentuk tabung, berwarna hijau atau keunguan, lobus segitiga, panjangnya sama atau lebih panjang dari tabung, puncak lancip. Diameter bunga biasanya berkisar antara 5 hingga 8 cm, tetapi ada juga varietas yang memiliki bunga yang lebih besar.

Cocor bebek menghasilkan buah kotak (capsule) berbentuk tabung berwarna ungu dengan noktah putih, yang merupakan bagian dari struktur generatifnya. Namun, tanaman ini lebih dikenal berkembang biak secara vegetatif melalui tunas adventif yang tumbuh di tepi daunnya. Buahnya menghasilkan biji kecil berwarna putih berbentuk bulat-lonjong dengan garis memanjang.

Batang cocor bebek biasanya berbentuk tunggal, lunak, lurus, bulat, licin, dan tinggi. Bekas melekatnya daun nampak jelas. Kulit batangnya halus dan berwarna hijau, abu-abu hingga cokelat tua. Pada batang yang lebih tua, sering terdapat cincin-cincin yang mengingatkan pada batang pohon kayu.



Daun cocor bebek tumbuh tunas-tunas baru



Cocor bebek berakar tunggang berwarna cokelat yang tumbuh dari batang atau daun, sering kali muncul dari pangkal daun yang jatuh ke tanah untuk berkembang biak. Akar ini rentan terhadap pembusukan jika terlalu banyak air (suka media kering/poros) dan berperan dalam mengambil nutrisi untuk tanaman sukulen ini.


Akar akan tumbuh dalam 2-4 minggu dari pangkal daun yang diletakkan di atas media lembap. Akar ini membutuhkan tanah berporos dan kering. Penyiraman yang moderat sangat penting untuk mencegah akar cocor bebek jadi membusuk karena kelebihan air.



Cocor bebek mampu berkembang biak melalui tunas daunnya



Perbanyakan cocror bebek dilakukan secara generatif (biji) dan secara vegetatif (plantlet, stek batang dan daun). Perbanyakan cocor bebek sangat mudah dilakukan, terutama menggunakan metode vegetatif alami melalui tunas adventif pada daun atau stek daun.

Cukup letakkan daun tua di atas media tanam lembap, atau tancapkan batangnya; tunas baru akan muncul dari tepi daun dalam 2-4 minggu. Setiap tanaman mampu menghasilkan ribuan biji kecil (lebih dari 1000 biji per buah) yang disebarkan oleh angin.

Ada beberapa jenis cocor bebek yang populer di kalangan penghobi tanaman hias, yakni cocor bebek mini (K. tomentosa) berbulu halus, cocor bebek besar (K. daigremontiana) dengan tunas di pinggir daun, dan cocor bebek berbunga (K. blossfeldiana atau K. calandiva) yang berwarna-warni.

Daun cocor bebek kaya akan senyawa bioaktif yang berkhasiat bagi kesehatan, terutama flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan steroid. Tanaman ini juga mengandung senyawa antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi seperti bryophyllin A, asam askorbat, quercetin, serta senyawa fenolik.



Cocor bebek mini (K. tomentosa)



Tanaman cocor bebek banyak digunakan dalam pengobatan tradisional. Di dalam pengobatan herbal China, tanaman ini telah digunakan untuk meringankan muntah dan batuk, menurunkan panas, mengobati asma, batu ginjal, maag, mempercepat penyembuhan luka, bisul, meringankan gangguan psikis agitasi, kegelisahan dan kecemasan.


Cocor bebek juga memiliki aktivitas sebagai antimikroba, antijamur, antiinflamasi, analgesik, antihipertensi, antioksidan, antidiabetes, hemostatik. Namun, khasiat bagi kesehatan manusia dari kandungan daun cocor bebek perlu penelitian lebih lanjut dengan cara studi klinis.



Cocor bebek berbunga (K. blossfeldiana)



Penggunaan daun cocor bebek sebagai pengobatan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terutama untuk studi klinis khasiatnya. Efek samping dari mengonsumsi daun cocor bebek sendiri belum diketahui sehingga tetap perlu berhati-hati apa bila mengonsumsi daun cocor bebek sebagai pengobatan alternatif.

Dan perlu diwaspadai terlebih jika mengonsumsi obat lainnya agar tidak terjadi reaksi akibat interaksi zat yang ada. Untuk itu apabila mengalami masalah kesehatan ada baiknya tetap memeriksakan diri terlebih dahulu pada dokter agar diberikan penanganan yang tepat. (Ramlee)


Sumber : remen.id


Minggu, 26 Juli 2026

Solo Anggrek Festival 2026, Hadirkan Ribuan Anggrek Hibrida dan Spesies Langka Nusantara



Solo Anggrek Festival kembali digelar untuk kedua kalinya di Kota Solo. Acara itu berlangsung pada 18—26 Juli 2026 di Loji Gandrung (Rumah Dinas Wali Kota Surakarta) Jl. Slamet Riyadi No.261, Penumping, Kec. Laweyan, Kota Surakarta. Berbeda dengan tahun lalu yang bertempat di Graha Wisata Niaga, festival tahun ini dipindahkan ke lokasi baru yang lebih rindang dan bernilai sejarah.

Solo Anggrek Festival digagas oleh Arifin Mustain Wijaya bersama komunitas Sutasora (Suka Tanaman Soloraya) serta dukungan dari pengurus Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Solo Raya, berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Surakarta. Solo Anggrek Festival mengusung tema “Merawat Keindahan Nusantara, Menumbuhkan Kolaborasi untuk Masa Depan yang Berkelanjutan”.

Solo Anggrek Festival 2026 menjadi ajang edukasi sekaligus penguatan sinergi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga keanekaragaman hayati serta mendorong pengembangan ekonomi bisnis dan pariwisata berbasis florikultura. Gelaran ini menyajikan berbagai kegiatan menarik mulai dari menampilkan berbagai varietas anggrek langka nusantara, bursa tanaman, lokakarya budidaya, hingga pameran.


Isye dan Arifin sebagai Panitia Pelaksana


Acara berskala nasional ini dibuka secara meriah oleh Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono. Wamentan memberikan dukungan penuh pemerintah terhadap hilirisasi industri ekonomi kreatif dan hortikultura nasional. Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki yang turut mendampingi dalam prosesi pembukaan dan peninjauan area pameran, menegaskan, konservasi anggrek harus berjalan seiring dengan pemanfaatan yang berkelanjutan. Menurutnya, anggrek memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi jika dikelola secara bertanggung jawab.

“Kita perlu memperkuat perlindungan habitat anggrek, memperluas budidaya, memastikan ketelusuran peredarannya, meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat, serta menumbuhkan generasi baru pencinta flora Indonesia,” ujarnya. Acara berskala nasional ini terbuka untuk umum dan pengunjung tidak dipungut biaya. Menurut Arifin Mustain Wijaya (Ketua Panitia sekaligus tokoh PAI Solo Raya).


Masyarakat umum antusias mengunjungi Solo Anggrek Festival 2026


Solo Anggrek Festival bermula dari kegiatan berkumpul para anggota komunitas Sutasora yang ingin membuat pameran tanaman hias dengan konsep festival yang lebih meriah. Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, yang hadir dalam pembukaan mengapresiasi komunitas Sutasora dan seluruh pihak yang telah menggagas penyelenggaraan festival tersebut. Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci dalam mengembangkan potensi tanaman hias di Kota Solo.

“Pemerintah Kota Surakarta menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menggagas dan mewujudkan festival ini. Kami berharap festival ini setiap tahun akan berjalan terus dan terus berdampak kepada ekonomi dan masyarakat di sekitar yang ada di Kota Surakarta,” ujar Respati.

“Pelestarian anggrek ini bukan semata hanya tugas para pencinta tanaman, melainkan tanggung jawab bersama. Industri hobi, salah satunya anggrek, benar-benar bisa mendorong ekonomi. Justru tanaman hobi menjadi nilai ekonomi di perkotaan yang bisa menjadikan penciptaan lapangan kerja,” kata Respati. “Festival ini menjadi wujud komitmen Kota Solo dalam menghadirkan ruang apresiasi bagi pencinta anggrek, sekaligus memperkuat pariwisata, ekonomi kreatif, dan kecintaan terhadap lingkungan.”

Solo Anggrek Festival 2026 juga diramaikan dengan berbagai kegiatan menarik seperti talkshow budidaya anggrek, pameran tanaman hias, lomba, workshop, hingga pertunjukan seni yang siap menghibur pengunjung setiap harinya. Hari pertama penyelenggaraan diprediksi menjadi salah satu momen paling meriah.


Berbagai jenis anggrek di tampilkan di Solo Anggrek Festival ini


Pengunjung dapat melihat langsung berbagai jenis anggrek langka, berburu tanaman favorit, memperoleh edukasi seputar budidaya anggrek dari para ahli, hingga mengabadikan momen di berbagai spot foto yang telah disiapkan panitia. Bagi masyarakat yang ingin berburu tanaman hias, ada beragam jenis anggrek dipamerkan sekaligus dijual dengan harga yang sangat beragam, mulai sekitar Rp25 ribu hingga mencapai jutaan rupiah untuk koleksi langka dan eksklusif.

Panitia juga menghadirkan berbagai kegiatann, mulai dari lomba, workshop, hingga talkshow dengan pakar anggrek nasional. Seperti talkshow konservasi anggrek bersama M. Farkhan Masykur (pegiat tanaman anggrek) dan talksho workhsop bisnis anggrek untuk UMKM bersama tim Ocha Orchid.


Panitia menyiapkan sekitar 35 stan pameran


Festival yang berlangsung selama sembilan hari ini juga menjadi ajang pertemuan para pecinta anggrek, pelaku usaha tanaman hias, hingga komunitas UMKM dari berbagai daerah. Acara ini menampilkan beragam jenis anggrek asli Indonesia dari berbagai daerah dan memperlihatkan kekayaan flora Nusantara yang memukau.

Ada beragam jenis anggrek yang dipamerkan seperti Anggrek Bulan, Anggrek Bibir Berbulu, Anggrek Dendrobium, Anggrek Cattleya, Anggrek Oncidium dan masih banyak yang lainnya. Salah satunya ada Anggrek jenis Dendrobium Michiko (Anggrek Sultan Jadul), Dendrobium Trilamelatum (Anggrek Spesies dari Papua dan Australia) dan Dendrobium Roro Ireng.

Penataan anggrek di Solo Anggrek Festival dilakukan dengan menyusun sekitar 35 stan pameran dan menata ratusan hingga ribuan koleksi di pelataran serta area terbuka Loji Gandrung. Sebanyak 35 stan pedagang, pembudidaya, dan UMKM dari berbagai daerah disusun rapi untuk memudahkan pengunjung melihat ragam jenis bunga.

Tanaman anggrek ditata berdasarkan kategori seperti jenis spesies asli Nusantara, hasil persilangan (hybrid) terbaik, hingga tanaman hias langka. Penempatan pot dan papan display disesuaikan dengan lanskap asri halaman rumah dinas wali kota agar tampak alami dan indah dipandang. Berbagai stan juga menyediakan tanaman hias khas Tawangmangu, aneka jenis kaktus (seperti koleksi dari Cactus Rumah Sejuk), tanaman hias unik/langka, hingga suvenir.


Pengunjung sedang transaksi dengan anggrek pilihannya


Terdapat penilaian dan kontes anggrek dalam rangkaian acara Solo Anggrek Festival 2026. Dalam kompetisi tanaman tersebut, terdapat beberapa kategori penilaian dan penghargaan bergengsi, meliputi Best of Show (Juara Umum), Best of Species (Anggrek Spesies Terbaik), Best of Hybrid (Anggrek Hibrida Terbaik), dan Best of Section.

Best of Hybrid (Terbaik Hibrida), berhasil diraih oleh Wahyono, pemilik kebun anggrek Zilquin Orchid dari Tawangmangu, lereng Gunung Lawu, Karanganyar. Wahyono memenangkan penghargaan ini lewat keberhasilannya menyilangkan tanaman anggrek bulan jenis Phalaenopsis Blush Pink. Stan miliknya juga sempat ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Pertanian Sudaryono saat pembukaan acara.


Anggrek-anggrek terbaik di pajang di teras depan Loji Gandrung


Best of Species (Terbaik Spesies), penghargaan ini diberikan untuk kategori tanaman anggrek spesies asli alam (non-silangan) yang memiliki kualitas pertumbuhan dan kemekaran paling sempurna. Sebagai informasi, penilaian untuk gelar Best of Show di festival ini didominasi oleh pesona spesies lokal, di mana bunga anggrek jenis Vanda Tricolor berhasil menyabet gelar tertinggi tersebut.

Seluruh tanaman pemenang kontes, termasuk piala Best of Show saat ini dipajang di area display khusus di teras utama Loji Gandrung. Para pengunjung dapat melihat secara langsung fisik tanaman juara tersebut hingga penutupan Solo Anggrek Festival pada tanggal 26 Juli 2026. (Ramlee/JAT)


Merak, Unggas yang Terkenal dengan Bulu Ekornya yang Menakjubkan

Burung Merak merupakan salah satu burung paling memukau di dunia yang dikenal karena bulu ekornya yang besar, berwarna-warni, dan indah sep...