Tampilkan postingan dengan label Fauna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fauna. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Agustus 2026

Ikan Red Devil, Ikan Air Tawar Invasif asal Amerika Tengah yang Sangat Agresif






Ikan Red Devil (Amphilophus labiatus) merupakan jenis ikan hias air tawar agresif asal Amerika Tengah. Secara spesifik, ikan setan merah adalah spesies endemik yang berasak dari perairan Nikaragua, seperti Danau Nikaragua, Danau Managua, dan Danau Xiloa. Ikan ini jadi spesies invasif berbahaya di Indonesia, terutama Danau Toba dan Sermo.

Genus yang dimiliki oleh red devil ini sama dengan ikan lou han, yakni Amphilophus, sehingga kedua ikan tersebut masih memiliki hubungan kekerabatan. Ikan ini lebih sering ditemukan di perairan air tawar berupa danau daripada di sungai.

Ikan pemangsa ini lebih senang untuk berada di dasar pasir halus yang memiliki banyak tempat persembunyian di antara batu maupun kayu. Umumnya, ikan ini dapat ditemukan di sela-sela bebatuan maupun batang kayu yang terendam.



Penampakan Red Devil mirip ikan Lou Han



Ikan ini memiliki penampilan yang unik. Sebab, Red Devil memiliki bibir yang lebih tebal dibandingkan dengan jenis ikan yang lainnya. Warna kulit Red Devil cenderung lebih merah dan terang. Ikan ini mencapai kematangan seksual pada usia 3 tahun. Spesies ini dapat tumbuh hingga 38 cm dan berat yang mencapai 1,2 kg.


Ikan red devil jantan dan betina sendiri, tidak terlalu ada perbedaan yang mencolok. Hanya saja red devil jantan umumnya memiliki ukuran yang lebih besar. Yang jantan juga mempunyai benjolan di kepala yang lebih tampak ketika musim kawin dan papila genital yang meruncing.



Red Devil menyukai tempat yang berbatu



Ikan red devil mempunyai warna cantik yang mencolok, sirip runcing, serta bibir tebal yang menjadikannya populer sebagai ikan hias di Indonesia. Meskipun memiliki nama setan merah, warna tubuh dari ikan yang mampu hidup hingga 10–12 tahun ini ternyata tidak hanya merah.

Red Devil memiliki variasi warna yang unik dan sangat luas, mulai dari abu-abu ke hijau, putih ke merah muda, dan lain sebagainya. Adapun beberapa ikan Red Devil yang memiliki bintik-bintik hitam di ekor atau siripnya. Bibir ikan Red Devil ini pun lebih tebal dan biasanya berwarna oranye atau kehitaman.

Secara umum, ukuran ikan Red Devil bisa mencapai 15 inci alias 38 cm saat dewasa dan ini jelas lebih besar dibandingkan ikan air tawar pada umumnya. Red Devil cukup gemuk dengan berat yang bisa mencapai 1,2 kg. Dilengkapi sirip yang runcing untuk membantu mereka memberikan kecepatan dan kelincahan di dalam air.

Di Indonesia, ikan Red Devil awalnya masuk sebagai ikan hias yang dijual dengan harga yang mahal. Didatangkan dari Malaysia dan Singapura sekitar tahun 1990-an, sampai akhirnya berhasil dikembangbiakkan di aquarium-aquarium lokal.



Red Devil warna kuning



Ironisnya sejak beberapa dekade terakhir ikan ini muncul di sejumlah waduk danau di Indonesia, salah satunya Danau Toba. Perkembangannya cukup cepat hingga menjadi masalah ekologis yang serius, seperti penurunan populasi ikan-ikan lokal.


Keberadaan ikan ini umumnya dilakukan secara tidak sengaja melalui benih ikan yang dilepas di keramba jaring apung sebagai ikan budidaya, namun ada juga yang dilakukan dengan cara sengaja oleh para penggemar ikan hias yang melepas ikan ini ke perairan.



Red Devil putih



Selain di Danau toba, ikan Red devil juga tersebar di beberapa kawasan perairan seperti di Waduk Jatiluhur, Cirata, Saguling, Darma, Wadas Lintang, Kedung Ombo, Sermo, Danau Batur dan Danau Sentani. Namanya pun di tiap daerah memiliki penyebutan yang berbeda-beda, diantaranya ikan Oskar, Setan Merah, Lohan Merah dan Nonong.

Penamaan red devil bukan karena warna tubuh dari ikan ini yang merah cerah, melainkan karena perilaku agresif yang dimilikinya. Tak jarang si setan merah mengejar ikan-ikan lain untuk sekadar “olahraga”, menggigit, dan bahkan membunuhnya.

Dikarenakan perilaku red devil yang ganas tersebut, penghobi ikan hias lebih kerap menempatkan si setan merah ke tempat yang terpisah dari spesies lain. Meski demikian, bahkan dengan jenis yang sama pun ikan bertaring tajam ini tetap menunjukkan sifat agresif, kecuali dengan pasangannya.

ikan ini sangat agresif dan gigih dalam mempertahankan wilayahnya. Ikan ini cenderung akan menguasai dan mendominasi perairan, makanya ikan ini tidak cocok dipelihara dengan ikan lain, karena bisa membuat ikan yang lain mati, kecuali dicampur dengan ikan yang juga berukuran besar.



Red Devil awal masuk ke Indonesia sebagai ikan hias



Saking agresifnya, di beberapa kasus Ikan Red Devil dapat menggali substrat, memindahkan dekorasi, dan merusak aquascape karena sifat alaminya yang aktif mengacak-acak lingkungan sekitar. Saat bereproduksi, ikan ini akan sangat protektif terhadap telur dan anakannya. Tidak hanya agresif terhadap ikan lain, Red Devil juga dikenal gemar menghancurkan apa pun yang bisa mereka masukkan ke dalam gigi.


Walaupun sebagai ikan hias sangat populer, tapi di beberapa negara ikan ini malah dilarang, karena bias memunculkan masalah ekologi ketika masuk ke dalam perairan umum. Daya adaptasinya yang cepat merupakan keunggulannya, ketika dilepas ke alam ikan ini akan langsung mendominasi ekosistem dan memangsa ikan-ikan lokal.



Ledakan populasi Red Devil di danau Toba semakin meresahkan



Sifat agresif dan kemampuannya berkembang biak dengan baik menjadikannya salah satu spesies berpotensi invasif yang dapat mengganggu keseimbangan populasi ikan asli. Pemerintah RI pun sudah merilis peraturan yang melarang persebaran ikan red devil di Indonesia.

Larangan tersebut diatur melalui Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020 tentang Larangan Pemasukan, Pembudidayaan, Peredaran dan Pengeluaran Jenis Ikan Yang Membahayakan dan atau Merugikan Dalam dan Dari Perairan Negara Republik Indonesia. Kini, berbagai upaya dilakukan untuk mengendalikan populasi ikan red devil di Danau Toba. (Ramlee)


Sumber : remen.id


Senin, 17 Agustus 2026

Merak, Unggas yang Terkenal dengan Bulu Ekornya yang Menakjubkan



Burung Merak merupakan salah satu burung paling memukau di dunia yang dikenal karena bulu ekornya yang besar, berwarna-warni, dan indah seperti kipas. Berdasarkan klasifikasinya, burung merak termasuk dalam genus Pavo dan Afropavo yang merupakan bagian dari famili Phasianidae.

Burung merak seperti karya seni yang hidup, berjalan anggun dengan bulu ekor yang bisa mengembang lebar seperti kipas kerajaan. Burung merak sebenarnya masih satu keluarga dengan ayam hutan dan burung pegar, yaitu keluarga Phasianidae. Mungkin agak sulit dibayangkan, mengingat penampilan burung merak jauh lebih glamor dibanding sepupunya yang sering terlihat di halaman belakang rumah.

Burung merak sering dianggap sebagai salah satu spesies burung paling indah di dunia. Burung ini bukan burung lokal khas satu negara saja. Burung merak tersebar di beberapa bagian Asia dan bahkan Afrika. Secara umum, ada tiga spesies utama burung merak di dunia.


Merak Biru (Pavo cristatus)


Pertama adalah Merak Biru atau Pavo cristatus, jenis kedua adalah Merak Hijau atau Pavo muticus. Untuk spesies ketiga agak berbeda, yaitu burung Merak Kongo atau Afropavo congensis. Masing-masing jenis tentu punya pesonanya sendiri.

Baca juga : Ayam Hutan Merah, Nenek Moyang Ayam Peliharaan Ternyata sangat Pemalu

Jenis merak hijau dan biru termasuk spesies Asiatik. Merak hijau banyak dijumpai di Asia Tenggara, sedangkan merak biru banyak ditemukan di India. Sementara itu, merak Kongo adalah spesies merak yang berasal dari Cekungan Kongo. Di antara ketiganya, merak India (Pavo cristatus) adalah yang paling terkenal dan sering dijadikan simbol keindahan alam.


Merak Hijau (Pavo muticus)


Salah satu hal paling menarik dari burung merak adalah penampilan yang berbeda antara jantan dan betinanya. Perbedaan ini disebut dimorfisme seksual, istilah biologi untuk menggambarkan bagaimana jantan dan betina dalam satu spesies bisa terlihat sangat berbeda.

Jadi pada burung merak, bisa langsung diketahui mana jantan dan mana betina hanya dengan sekali lihat. Perbedaan penampilan ini bukan tanpa alasan. Dalam proses evolusi, sifat-sifat seperti warna cerah dan ekor panjang pada merak jantan muncul karena seleksi alam dan seleksi seksual.

Betina biasanya memilih jantan dengan bulu paling indah dan sehat sebagai pasangan, karena itu menandakan bahwa jantan tersebut kuat dan memiliki gen yang baik. Ekor menjadi pembeda paling mencolok antara merak jantan dan betina.

Merak jantan memiliki bulu penutup ekor yang sangat panjang, bisa mencapai 180 hingga 220 sentimeter. Di setiap helainya terdapat pola berbentuk “mata” yang tampak berkilau saat terkena cahaya. Biasanya, jantan akan mengembangkan bulu ekornya ini dalam ritual kawin untuk menarik perhatian betina.


Merak Congo (Afropavo congensis)


Sementara itu, merak betina punya ekor yang jauh lebih pendek dan berwarna lebih kalem. Tidak ada pola “mata” seperti pada jantan, karena fungsinya berbeda. Warna bulu yang agak kusam justru membantu betina berkamuflase di alam, terutama saat mengerami telur agar terlindung dari pemangsa.

Baca juga : Pheasant, Satwa Eksotis dari Pegunungan Tiongkok Berharga Fantastis

Warna-warni yang tampak mencolok itu sebenarnya bukan hasil pigmen, melainkan berasal dari fenomena yang disebut iridesensi. Setiap helai bulu merak punya struktur mikroskopis yang mampu membiaskan dan memantulkan cahaya, sehingga menghasilkan efek warna yang berubah-ubah tergantung dari sudut pandang dan arah cahaya.


Burung merak lebih sering terlihat di darat


Merak jantan biasanya berukuran lebih besar dan berat dibandingkan betina. Berat tubuhnya bisa mencapai sekitar 5 kilogram dengan panjang tubuh mencapai 2 meter lebih, termasuk bagian ekornya yang menjuntai indah. Di sisi lain, merak betina punya tubuh yang lebih kecil dan ringan, dengan berat sekitar 3 kilogram dan panjang sekitar 1 meter.

Penampilannya memang tidak semegah jantan, tapi justru itulah keunikannya. Di habitat aslinya, bentuk tubuh yang lebih ringan membuat merak betina bisa bersembunyi lebih mudah dari predator, sedangkan ukuran besar pada jantan berfungsi untuk menarik perhatian betina dalam proses kawin.

Di atas kepala merak ada jambul tegak yang mirip mahkota kecil. Pada merak jantan, jambulnya terlihat lebih besar dan mencolok. Ujung-ujung bulunya berdiri tegak dengan warna yang serasi dengan bulu tubuhnya. Sementara itu, jambul pada merak betina tampak lebih kecil dan halus.

Meski tidak seindah milik jantan, bagian ini punya fungsi penting. Jambul betina ternyata berperan sebagai organ sensorik yang peka terhadap getaran. Saat merak jantan melakukan tarian kawin sambil mengibaskan ekornya, jambul betina akan menangkap getaran halus yang dihasilkan gerakan itu. Jadi, selain melihat tarian indah sang jantan, si betina juga bisa “merasakan” iramanya lewat getaran yang ditangkap jambulnya.


Burung Merak juga mampu terbang jauh


Habitat burung merak sangat bervariasi tergantung jenisnya. Merak Asia bukan tipe burung yang terpaku di satu tempat saja, tapi lebih suka tinggal di lingkungan yang memberi ruang untuk bergerak bebas dan mencari makan. Biasanya, burung ini bisa ditemukan di hutan terbuka, padang rumput, atau sabana yang masih punya pepohonan rindang di sekitarnya.

Baca juga : Sempidan, Burung Pegar Hutan Pemalu Endemik Sumatera dan Kalimantan

Selain itu, merak Asia juga sering hidup di hutan tropis dataran rendah yang lembap dan hangat. Tempat seperti ini menyediakan banyak sumber makanan dan area yang aman untuk bertengger. Bahkan, di beberapa wilayah Asia, burung merak berkeliaran di sekitar kota atau taman besar. Hal ini terjadi karena cukup terbiasa dengan kehadiran manusia, asal lingkungannya masih menyediakan makanan dan tempat berteduh.


Seekor induk merak sedang mengerami telurnya


Merak Kongo bisa ditemukan di hutan hujan dataran rendah yang lebat di wilayah cekungan Kongo, Afrika Tengah. Burung ini hidup di area lembap dan rindang yang jadi habitat alaminya, tempat untuk mencari makan sekaligus berlindung dari predator. Karena kehidupan tersembunyi di kedalaman hutan membuat spesies ini menjadi yang paling misterius dan paling akhir ditemukan di antara ketiga jenis merak.

Burung merak adalah hewan omnivora yang memakan berbagai jenis makanan di tanah, termasuk biji-bijian, buah-buahan, serangga, tanaman hijau, hingga reptil kecil. Saat merasa terancam, burung merak bisa lari cepat atau terbang ke pohon. Burung merak bisa terbang, dan termasuk salah satu burung terbang terbesar dan terberat di dunia. Merak lebih sering berjalan di darat, dan menggunakan kemampuan terbangnya untuk jarak pendek, seperti menghindari predator, berpindah tempat, atau bertengger di atas pohon saat malam hari.


Induk merak bersama anak-anaknya yang baru saja menetas



Di musim kawin, perilaku burung merak akan berubah. Merak jantan jadi lebih vokal, lebih sering membuka ekor, dan kadang bisa bertarung dengan sesama jantan untuk menarik perhatian betina. Burung merak dikenal dengan perilaku yang menarik saat musim kawin. Merak jantan akan mengembangkan bulunya dan melakukan tarian untuk menarik perhatian betina. Suara berisik yang dikeluarkan selama proses ini juga berfungsi untuk menarik pasangan.

Meskipun memiliki daya tarik yang besar, populasi merak menghadapi ancaman serius akibat kehilangan habitat, perburuan liar, dan perubahan iklim. Upaya konservasi diperlukan untuk melindungi spesies ini agar tetap lestari di alam liar. Taman nasional dan cagar alam menjadi tempat perlindungan penting bagi burung merak. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Merak, Burung dengan Warna Bulu Paling Memukau di Dunia


Senin, 29 Juni 2026

Pelanduk Kalimantan, Spesies Burung Endemik Kalimantan yang Sempat Dianggap Punah Lebih 170 Tahun Lalu



Pelanduk Kalimantan (Malacocincla perspicillata) merupakan satu dari sedikit burung Indonesia yang hidupnya seperti legenda. Burung penyanyi ini di dunia internasional sebagai black-browed babbler. Di tingkat lokal, warga Kalimantan mengenalnya sebagai burung pelanduk, meski tidak terkait dengan mamalia pelanduk.

Burung Pelanduk Kalimantan sesungguhnya bukan satu-satu burung dari jenis pelanduk. Di Indonesia, diketahui ada beberapa jenis pelanduk lain. Sayangnya, semua jenis burung tersebut masih minim data. Pelanduk Kalimantan adalah burung endemik Indonesia dan diyakini hanya hidup di Pulau Kalimantan.

Namanya jarang terdengar, wujudnya nyaris mitos, jejaknya lama menghilang. Burung ini bukan sekadar spesies langka, tetapi simbol betapa rapuhnya pengetahuan manusia tentang hutan tropis. Keberadaan burung ini bermula pada abad ke-19, masa eksplorasi kolonial.


Spesimen Pelanduk Kalimantan di tahun 1840an


Spesimen pertama dikumpulkan Carl A.L.M. Schwaner pada 1840-an. Deskripsi ilmiah kemudian dibuat Charles Lucien Bonaparte pada 1850. Namun sejak saat itu, Pelanduk Kalimantan lenyap dari catatan ilmiah. Ketiadaan data membuat status Pelanduk Kalimantan jadi simpang siur.

Baca juga : Yuhina Kalimantan, Burung Endemik Kalimantan yang Suaranya Mirip Cucak Jenggot

Pelanduk Kalimantan sempat dianggap punah, lalu dinilai rentan, hingga akhirnya berstatus kurang data. Penilaian terakhir ditetapkan oleh International Union for Conservation of Nature pada 2008. Semua berubah pada bulan Oktober 2020, ketika dua warga lokal, bernama Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan menemukan burung asing saat mengumpulkan hasil hutan di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.


Pelanduk Kalimantan ketika ditemukan kembali pada tahun 2020


Mereka memotret burung tersebut, sebelum melepasnya kembali ke alam, lalu melapor ke komunitas pengamat burung. Foto tersebut beredar cepat di kalangan ornitolog. Komunitas BW Galeatus dan Birdpacker mencium sesuatu yang tak biasa. Dugaan mengarah pada Pelanduk Kalimantan yang hilang berabad-abad.

Identifikasi terhadap foto burung tersebut dilakukan hati-hati, melibatkan peneliti nasional dan internasional. Spesimen foto dibandingkan dengan koleksi Naturalis Biodiversity Center Belanda. Hasilnya mengejutkan dan menggembirakan. Temuan itu dikonfirmasi dalam jurnal BirdingASIA tahun 2021.

Penulis utama Panji Gusti Akbar menyebutnya penemuan zoologi paling dramatis Indonesia modern. Dunia sains pun tersentak. Pelanduk Kalimantan sempat dianggap punah selama 172 tahun. Pelanduk Kalimantan berukuran sekitar 16 sentimeter. Tubuhnya kekar untuk ukuran burung penyanyi.

Warna bulu dominan cokelat dengan burik abu-abu di bagian perut. Ciri paling mencolok adalah garis hitam tebal di atas mata. Alis hitam itu membentang dari paruh hingga tengkuk, seperti topeng. Inilah asal nama black-browed babbler (burung pengicau alis hitam). Iris matanya merah tua, detail yang lama keliru dipahami.


Burung Pelanduk Kalimantan muncul lagi,setelah dianggap punah sejak 170 tahun lalu


Spesimen awetan abad ke-19 memakai mata buatan berwarna kuning. Kesalahan taksidermi itu menyesatkan generasi peneliti berikutnya. Paruhnya hitam dan sangat kuat. Bentuk ini menandakan adaptasi Pelanduk Kalimantan saat mencari makan di lantai hutan. Kakinya abu-abu gelap, kokoh untuk berjalan di serasah.

Baca juga : Katak Kepala Pipih Kalimantan, Katak Tanpa Paru Endemik Kalimantan yang Terancam Punah

Lehernya pendek, badannya padat, sayapnya relatif pendek. Pelanduk Kalimantan bukan penerbang jarak jauh. Kemampuan terbangnya rendah dan cenderung meloncat di bawah tajuk hutan. Perbedaan jantan dan betina belum terdeskripsi jelas. Minimnya pengamatan lapangan membuat dimorfisme seksual masih teka-teki. Data genetiknya pun belum tersedia.


Warna bulu Pelanduk Kalimantan dominan cokelat dengan burik abu-abu di bagian perut


Secara taksonomi, burung ini termasuk ordo Passeriformes. Pelanduk Kalimantan berada dalam famili Timaliidae, kelompok babbler Asia. Genus Malacocincla dikenal sebagai burung pemalu penghuni lantai hutan. Jenis dalam spesies ini belum dibedakan lebih lanjut. Populasinya diduga sangat kecil dan terfragmentasi. Inilah alasan kuat sulitnya perjumpaan Pelanduk Kalimantan selama dua abad.

Makanan Pelanduk Kalimantan diperkirakan serangga kecil dan invertebrata tanah. Ia mencari makan di serasah daun basah. Paruh kuat membantu membongkar lapisan tanah lunak. Habitat alaminya adalah hutan dataran rendah lembap. Banyak ahli menduga Pelanduk Kalimantan menyukai hutan rawa gambut.

Wilayah Pegunungan Meratus disebut sebagai kantong penting. Fungsi ekologisnya tidak bisa diremehkan. Burung lantai hutan membantu mengontrol populasi serangga. Pelanduk Kalimantan juga berperan dalam siklus nutrien tanah. Bunyi Pelanduk Kalimantan belum pernah direkam.

Hingga kini, tidak ada dokumentasi suara valid. Ini menjadikannya satu dari sedikit burung Indonesia tanpa arsip vokalisasi. Banyak informasi yang belum tergali seperti reproduksi Pelanduk Kalimantan, usia matang seksual, musim berbiak, semuanya belum diketahui. Sarangnya pun belum pernah ditemukan. Informasi tentang jumlah telur, masa pengeraman, hingga kemandirian anakan masih kosong.


Kaki Pelanduk Kalimantan berwarna abu-abu gelap


Kekosongan data ini menunjukkan betapa minimnya riset di luar Jawa. Para ahli mengakui adanya jurang pengetahuan besar. Tantangan utama adalah minimnya survei lanjutan. Akses lokasi sulit dan populasi sangat jarang. Kesalahan langkah bisa berakibat fatal bagi spesies ini.

Baca juga : Biawak Kalimantan, Fosil Hidup Misterius dari Kalimantan yang Mampu Mendengar Tanpa Telinga

Ding Li Yong dari BirdLife International menyebut penemuan ini ironi sekaligus harapan. Saat hutan tergerus, spesies ini justru bertahan. Akan tetapi ancaman habitat tetap nyata. Deforestasi Kalimantan berlangsung cepat dan masif. Hutan dataran rendah menjadi yang paling tertekan. Di sinilah Pelanduk Kalimantan hidup.


Data informasi tentang Pelanduk Kalimatan sangat minim


Hingga kini, burung ini belum masuk daftar satwa dilindungi nasional. Pemerintah melalui KLHK menyatakan proses kajian masih berjalan. Rekomendasi ilmiah sangat dibutuhkan. Mengacu Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dalam Pasal 5 disebutkan, jenis tumbuhan dan satwa yang wajib dilindungi adalah apabila diketahui populasi yang kecil, adanya penurunan individu yang tajam di alam, dan daerah persebarannya terbatas (endemic). (Ramlee)


Sumber : remen.id

Pelanduk Kalimantan, Burung Penyanyi Endemik Kalimantan yang Sempat Dianggap Punah


Kamis, 11 Juni 2026

Todan, Katak Raksasa dari Enrekang, Sulawesi Selatan



Todan (Limnonectes grunniens), merupakan spesies amfibi berukuran besar endemik Sulawesi. Limnonectes adalah genus katak dari famili Dicroglossidae. Genus ini secara kolektif dikenal sebagai katak bertaring. Katak yang dikelompokkan dalam genus Limnonectes ini disebut bertaring karena memiliki tonjolan tulang di rahang bawah.

Taring yang dimiliki jenis katak ini bukan berarti gigi taring yang sebenarnya, sebab tidak memiliki akar gigi atau ciri-ciri gigi lainnya. Sampai saat ini, belum diketahui manfaat taring pada katak genus ini. Beberapa kemungkinan adalah sebagai senjata melawan pejantan lain untuk mempertahankan wilayah, menangkap mangsa seperti ikan dan serangga serta sebagai senjata melawan predator.


Katak dalam genus Limnonectes


Dalam bahasa setempat katak raksasa ini dikenal dengan nama Todan. Todan hidup di pinggiran-pinggiran sungai hutan primer, atau kebun-kebun warga yang berdekatan dengan sumber air. Sebagai makhluk amphibi, Limnonectes grunniens terbiasa hidup di air.

Baca juga : Amfibi, Hewan Unik di Dua Alam

Hal tersebut lantaran katak tersebut bernafas dengan kulit dan kulitnya harus senantiasa dalam keadaan lembab. Katak jumbo ini hidup di pinggiran-pinggiran sungai hutan primer, atau kebun-kebun warga yang berdekatan dengan sumber air.


African Bullfrog


Katak ini lebih banyak beraktivitas malam hari. Sering terdengar suaranya di celah bebatuan dekat sungai. Ketika bersuara, beberapa penduduk lokal melafalkan seperti batuk orangtua. Beratnya bisa mencapai 1,5 kg, menjadikannya salah satu katak terbesar, dengan ukuran menyerupai bayi manusia atau ayam dewasa.

Katak Todan biasanya ditemukan di wilayah Sulawesi, Maluku hingga Papua. Spesies katak raksasa sejatinya hidup di Afrika, seperti jenis African bullfrog yang ukuran tubuhnya bisa mencapai panjang 23 cm diukur dari kepala hingga bokongnya. Sementara berat tubuhnya bisa mencapai hingga 2 kilogram. Pada katak jantan malah rata-rata ukurannya lebih besar.

Katak yang berada di daerah Enrekang, Sulawesi Selatan ini memiliki ukuran 10x lipat dari katak normal yang biasanya paling besar seukuran genggaman tangan saja. Todan disebut memiliki berat sampai 1,5 kg seperti berat bayi manusia. Panjang tubuhnya sekitar 30-50 cm.

Tengkorak dan rahang mulut saat tertutup terlihat lancip. Secara umum, morfologi katak jantan dan betina sulit dibedakan. Karena keduanya memiliki pola warna mirip (cokelat muda hingga agak kehitam-hitaman). Namun, katak Todan jantan lebih besar daripada Todan betina. Betina katak ini berukuran lebih besar daripada pejantan.


Katak Todan hidup berdekatan dengan sumber air


Habitat dan distribusi persebaran katak raksasa Sulawesi di sungai-sungai kecil dengan lebar antara 1-4 meter dengan kedalaman air antara 0-50 sentimeter. Kisaran suhu alami air lingkungan antara 24-26 derajat Celcius dan suhu udara antara 27-28 derajat Celcius, suhu normal daerah tropik.

Baca juga : Katak Kepala Pipih Kalimantan, Katak Tanpa Paru Endemik Kalimantan yang Terancam Punah

Katak jenis ini termasuk lambat dalam perkembangbiakannya. Todan salah satu jenis katak yang unik sebab dalam setahun katak ini berkembangbiak bukan dengan cara bertelur melainkan melahirkan kecebong. Kecebong yang dilahirkan dapat mencapai hingga 1000 ekor kecebong.


Katak Todan sempat ramai dibicarakan pada tahun 2017 silam


Namun tidak semua kecebong dapat tumbuh besar karena dimangsa predator dan manusia serta habitatnya yang rusak. Katak ini lebih banyak beraktivitas pada malam hari. Katak ini biasa makan semua yang bergerak. Serangga, kepiting, ikan, dan katak kecil adalah makanan favorit dari todan ini.

Dulunya katak Todan dapat dengan mudah ditemukan oleh warga namun memasuki awal tahun 2000-an populasi Todan mulai menurun. Menurunnya beberapa informasi masyarakat populasi Todan di Kabupaten Enrekang bukan saja karena ditangkap untuk kebutuhan konsumsi, namun adanya perubahan alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian yang mengubah habitat hidup Todan.

Padahal keberadaan katak sangat penting bagi lingkungan. Keberadaan dan populasi katak di suatu wilayah itu mengindikasikan lingkungan di sekitarnya masih baik. Karena itu katak menjadi salah satu fauna yang cukup riskan akan perubahan lingkungan. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan, jenis ini hampir terancam.

Katak Todan ini biasa dikonsumsi oleh orang Duri yang ditinggal di Kecamatan Baraka dan Buntu Batu sebagai cemilan atau teman minum tuak. Katak ini dapat diolah dengan cara di bakar atau digoreng, karena ukuran tubuhnya yang cukup besar, katak ini memiliki banyak daging.


Warga Enrekang dan Todan


Bagi masyarakat Duri kegiatan menangkap todan di sebut dengan “metodan”, kegiatan ini lebih banyak dilakukan oleh anak muda di sekitar kebun dan sumber mata air. Belum diketahui secara pasti sejak kapan kegiatan metodan dilakukan.

Baca juga : Biawak Kalimantan, Fosil Hidup Misterius dari Kalimantan yang Mampu Mendengar Tanpa Telinga

Namun hal ini telah dilakukan sudah sejak lama, kegiatan metodan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan dapat memupuk solidaritas diantara masyarakat Duri. Untuk menjaga populasi todan sebagai binatang endemik Kabupaten Enrekang, masyarakat di Desa Wisata Kadingeh sejak tahun 2021 mulai menangkarkan katak jenis ini.


Pembukaan lahan di Baraka antara lain buat bertani bawang



Hingga kini telah ada sekitar 20-an ekor katak Todan yang telah ditangkarkan oleh masyarakat Desa Kadingeh. TTjuan penangkaran Todan ini tidak lain untuk menjaga kelestarian todan di alam dan sebagai wisata edukasi bagi wisatawan yang ingin mempelajari siklus hidup katak besar ini.

Jika katak Todan dibudidayakan dengan baik maka dapat menjadi salah satu komoditi ekspor yang menjanjikan bagi masyarakat Duri. Untuk saat ini kebanyakan katak yang di ekspor adalah katak sawah jenis Fejervarya cancrivora yang berukur kecil. Untuk itu diperlukan kerjasama dengan pemerintah, Dinas terkait dan masyarakat dalam budidaya Todan sehingga dapat menjadi komoditi ekspor yang dapat meningkatkan perekonomian kabupaten Enrekang. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Katak Raksasa Sulawesi, Amfibi Sebesar Ayam Endemik Sulawesi yang Mulai Langka


Kamis, 04 Juni 2026

Bondol Kepala Pucat, Pipit Endemik Sulawesi dan Nusa Tenggara yang Mirip Bondol Haji





Bondol Kepala-pucat (Lonchura pallida) merupakan burung pipit kecil endemik di Sulawesi dan Nusa Tenggara, Indonesia. Bondol Kepala-pucat memiliki penampilan yang sangat mirip dengan Bondol Haji atau Bondol Kepala-putih (Lonchura maja).

Namun Bondol kepala-pucat dengan Bondol Haji memiliki daerah yang sebaran terpisah. Bondol Haji juga memiliki warna tubuh berwarna lebih gelap, coklat di bagian bawah tubuh dan penutup ekor bagian bawah berwarna hitam dengan warna putih pada kepala lebih banyak.



Bondol kepala-pucat (Lonchura pallida) endemik Sulawesi dan Nusa Tenggara yang mirip Bondol Haji



Bondol kepala-pucat dewasa memiliki warna tengkuk dan dada lebih abu-abu (atau coklat kemerahan), bagian bawah tubuh berwarna kuning peach, coklat kemerahan pada penutup ekor atas dan sisi tubuh. Bondol kepala-pucat muda sangat mirip dengan Bondol Haji muda, tetapi berwarna bulu lebih putih pada bagian bawah dan tidak ada warna coklat matang pada tunggirnya.


Genus Lonchura pertama kali diperkenalkan oleh Naturalis berkebangsaan Inggris William Henry Sykes pada tahun 1832 dengan \ menamai Bondol Peking Lonchura punctulata. Lonchura berasal dari bahasa Yunani “lonkhe” yang berarti kepala tombak dan “oura” yang bermakna ekor.



Bondol Haji atau Bondol Kepala-putih (Lonchura maja)



Bondol Kepala-pucat dideskripsikan oleh Wallace pada tahun 1863 dan diberinama Lonchura pallida. Kata “pallida” berasal dari bahasa Latin yang berarti pucat. Bondol kepala-pucat panjang tubuh 11 cm. Kepala dan dada putih tubuh atas kecoklatan, tunggir dan ekor kadru. Burung remaja cenderung lebih kusam.

Sebagaimana jenis burung pemakan biji-bijian lainnya, Bondol Kepala-pucat menyukai habitat terbuka seperti rawa-rawa, sawah, padang rumput, lahan pertanian, tepi perkebunan, dan semak belukar pada dataran rendah hingga elevasi 1400 mdpl.



Bondol Kepala-pucat menyukai habitat terbuka



Bondol Kepala-pucat hidup berkelompok, sering berbaur dengan spesies bondol lain. Burung ini Mengeluarkan suara bernada tinggi lemah “weee” dan nada metalik “wit-wit-wit”. Bondol Kepala-pucat memakan biji-bijian rumput dan biji-bijian kecil lainnya.


Kebiasaan dan perilaku seperti munia lain-lainnya termasuk sering memakan bulir-bulir padi di lahan pertanian. Bondol Kepala-pucat termasuk jenis burung yang memiliki sebaran terbatas. Sebarannya hanya ada di kawasan Wallacea (Sulawesi dan Nusa Tenggara).



Bondol Kepala-pucat hidup berkelompok



Yakni mencakup Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan hingga pulau Madu dan Kalaotoa di Laut Flores. Bondol Kepala-pucat juga terlihat di Nusa Tenggara mencakup pulau Lombok, Flores, Rote, Alor, Sawu, Dao, Kisar, Romang, Sermata dan Babar.

Burung ini sering terlihat terbang dalam kelompok kecil atau bergabung dalam kelompok besar bersama-sama dengan Bondol Taruk atau Bondol Peking melintasi daerah terbuka seperti sawah atau padang rumput untuk mencari biji-bijian. Suara chiiiip, chiiip, chiiip atau tsiiip, tsiiip, tsiiip kerap terdengar saat terbang.



Sepasang Bondol Kepala-pucat sedang mencari makan berupa biji-bijian rumput



Bondol Kepala-pucat memiliki wilayah jelajah yang luas dan populasinya melimpah. Bondol Kepala-pucat juga tidak termasuk jenis burung yang dilindungi. Burung ini dikategorikan beresiko rendah untuk punah dalam waktu dekat (Least Concern) oleh IUCN.


Bondol Kepala-pucat juga tidak tercantum dalam daftar Appendix CITES. Meski demikian, Populasi Bondol Kepala-pucat cenderung mengalami penurunan. Burung ini kerap ditangkap dengan jaring dan dijual ke murid-murid Sekolah Dasar dengan harga murah.



Bondol Kepala-pucat remaja



Bondol Kepala-pucat juga seringkali ditembak dengan senapan angin karena kerap memakan bulir-bulir padi di sawah. Berbagai jenis hewan pemangsa seperti kucing, burung Alap-Alap, dan Elang juga diketahui memangsa burung ini. (Ramlee)


Sumber : remen.id


Kamis, 14 Mei 2026

Serak Jawa, Pemburu Malam Hama Tikus Sahabat Petani





Serak Jawa (Tyto alba) merupakan salah satu burung predator atau burung pemangsa yang dapat memangsa kelompok burung dan mamalia kecil. Burung Serak Jawa lebih dikenal masyarakat sebagai burung hantu atau barn owl. Salah satu spesies burung pemangsa malam yang paling mudah dikenali.

Perilaku burung ini yang aktif pada malam hari (nokturnal) dan terkadang mengeluarkan suara yang tidak biasa saat terbang inilah yang menyebabkan nama burung hantu disematkan oleh khalayak umum kepada. Tyto alba yang memiliki wilayah persebaran di hampir semua benua, kecuali Antartika. Di Indonesia, burung hantu ada beberapa jenis.

Tercatat ada 54 jenis burung hantu dengan rincian 8 jenis dari famili Tytonidae dan 27 jenis dari Strigidae yang tersebar di wilayah Indonesia. Burung hantu merupakan burung menetap, burung yang setia dengan rumah dan lingkungannya. Burung hantu juga tidak akan berpindah selama dirasa aman dan selama makanan di wilayah tersebut masih tersedia.



Penampilannya yang menyeramkan di malam hari membuatnya dijuluki burung hantu



Salah satu hewan yang umum dijadikan mangsa oleh Serak Jawa adalah Tikus (Rattus spp.). Apabila sulit mendapatkan tikus, burung ini akan bermigrasi atau pindah mencari makan ke daerah yang masih ada tikus namun sifatnya hanya sementara dan akan kembali ke tempatnya semula.


Burung Serak Jawa pertama kali dideskripsikan oleh Giovani Scopoli pada tahun 1769. Nama penunjuk spesies alba mengacu pada warna bulunya yang putih dan cokelat keemasan dengan bintik-bintik halus di bagian atas tubuh. Permukaan bulu Serak Jawa bagian bawah tubuhnya didominasi warna putih. Bulu Serak Jawa mempunyai tekstur lembut dengan corak tersamar.



Serak Jawa mampu terbang tanpa suara



Bagian atas berwarna kelabu terang dengan sejumlah garis gelap dan bercak pucat tersebar. Pada Serak Jawa muda maupun betina, bercak tersebut biasanya lebih rapat. Ciri lain burung ini yaitu ada tanda mengkilat pada sayap dan punggung, kaki berwarna putih kekuningan sampai kecokelatan, dan memiliki bulu-bulu yang jarang. Semua bulunya mengandung zat lilin yang berfungsi untuk menjaga elastisitas dan membuat bulu lebih tahan air.

Serak Jawa jantan dan betina memiliki ukuran dan warna hampir sama, dengan ukuran tubuh sedang hingga besar sekitar 34 cm. Namun, serak jawa betina kadang-kadang berukuran sedikit lebih besar. Serak Jawa memiliki kepala besar, kekar dan membulat. Mukanya berbentuk jantung dengan tepi cokelat dan memiliki iris berwana hitam.

Tidak seperti jenis-jenis burung lain, mata burung ini menghadap kedepan. Sementara paruhnya yang tajam dan berwarna keputihan menghadap ke bawah. Kepala membulat dengan iris mata hitam. Meskipun matanya tidak bisa bergerak bebas seperti manusia namun Serak Jawa memiliki leher yang sangat fleksibel, yang mampu berputar ke segala arah.

Wajahnya berbentuk hati yang membantu memusatkan suara ke telinganya. Mempunyai kaki jenjang dengan cakar kuat, serta paruh berwarna putih kekuningan yang membengkok ke bawah. Keberhasilan burung Serak Jawa dalam berburu ditunjang oleh kemampuannya terbang tanpa suara.



Burung Serak Jawa bersarang di dalam lubang batang pohon



Ketika terbang, suara yang timbul akibat pergerakan sayap diredam oleh semacam lapisan seperti beludru pada permukaan bulu-bulu sayap bagian bawahnya. Selain itu, tepi bulu sayap burung hantu memiliki gerigi sangat halus menyerupai sisir yang berfungsi meredam suara kepakan sayap.


Cara terbang tanpa suara ini mempertajam pendengaran burung ini sekaligus menyebabkan pergerakannya tidak terdeteksi oleh mangsa. Pendengaran Serak Jawa juga sangat tajam, didukung oleh letak lubang telinga yang tidak simetris (berbeda tinggi di sisi kiri dan kanan) dan ditutupi bulu-bulu pendek sebagai pemantul suara.



Serak Jawa sedang mengerami telurnya



Wajah berbentuk cakram/parabola memusatkan suara langsung ke telinga, memudahkan deteksi mangsa dalam kegelapan. Sebagai burung malam, mata burung Serak Jawa memiliki kemampuan 3–4 kali lebih baik dari manusia untuk melihat dalam kegelapan sekitar. Bola matanya tidak dapat digerakkan.

Namun kepalanya dapat diputar 270 derajat dalam empat arah kiri, kanan, atas, dan bawah. Mata burung hantu juga menghadap ke depan sehingga menunjang penglihatan yang stereoskopik. Artinya, burung hantu dapat menentukan jarak dari objek yang dilihat.

Satwa ini dapat ditemukan mulai dari kawasan hutan, tepi hutan, hingga taman kota, dan padang rumput. Di Indonesia, Serak Jawa banyak ditemukan di dataran rendah, sawah, serta daerah perkotaan yang memiliki pepohonan tinggi. Dalam hal kehidupan sosial, beberapa penelitian menunjukkan bahwa Serak Jawa dapat bersifat poligami.

Seekor Serak Jawa jantan bisa memiliki lebih dari satu pasangan dalam jarak yang berdekatan, dengan sarang yang biasanya berada di lubang pohon setinggi 5 hingga 20 meter. Pada masa kawin, pejantan akan terbang mengelilingi sarang sambil mengeluarkan suara berderit untuk menarik perhatian betina.



Serak Jawa mampu berburu hingga 5 ekor tikur perhari



Serak Jawa sudah siap bertelur saat berumur 9 bulan dan dalam setahun burung ini dapat bertelur 2—3 kali. Kisaran jumlah telur yang dihasilkan tiap musim berbiak berkisar 4—19 butir tergantung kesediaan pakan. Karena itu, populasi pengendali tikus ini bisa diperbanyak dalam waktu relatif singkat.


Tiap burung Serak Jawa dewasa dapat memangsa 2—5 tikus per hari atau sekitar 1.300 tikus per tahun. Serak Jawa mulai dapat berburu tikus pada umur 5 bulan. Diperkirakan, sepasang Serak Jawa dapat melindungi hingga 10 hektar sawah. Namun, petani biasanya menempatkan satu pagupon (semacam rumah kecil yang khusus disediakan untuk burung) di tiap 3 hektar sawah.


Kini banyak petani yang sudah memanfaatkan Serak Jawa sebagai pembasmi hama tikus



Secara global, Serak Jawa termasuk dalam kategori “Least Concern” (Risiko Rendah) menurut IUCN. Hal ini karena persebarannya yang luas dan populasinya yang relatif stabil. Namun, di beberapa daerah tertentu, tekanan terhadap habitat alami seperti penebangan pohon tua dan penggunaan pestisida yang berlebihan bisa menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup satwa ini.

Di Indonesia, Serak Jawa belum dilindungi secara khusus, tetapi keberadaannya sering dimanfaatkan sebagai pengendali tikus secara alami oleh petani. Serak Jawa adalah contoh nyata bagaimana satwa liar bisa hidup berdampingan dengan manusia dan memberikan manfaat ekologis yang besar. (Ramlee)


Sumber : remen.id


Kamis, 23 April 2026

Kadal Duri Mata Merah, Reptil Eksotis Mirip Buaya dari Papua



Kadal Duri Mata Merah atau red-eyed crocodile skink (Tribolonotus gracilis) merupakan reptil eksotis endemik Papua dan Papua Nugini. Kadal nokturnal ini memiliki ciri khas duri tajam di punggung, lingkaran merah menyala di sekitar mata. Meski tergolong ke dalam keluarga kadal, spesies ini memiliki fisik yang cukup menyeramkan seperti buaya, atau naga.

Kadal duri mata merah sebenarnya masuk dalam genus Tribolonotus yang banyak tersebar di wilayah Australia, Oseania, hingga bagian timur Indonesia. Bedanya, kadal yang satu ini merupakan hewan endemik dari Pulau Papua yang jadi wilayah dari Indonesia dan Papua Nugini.

Ciri khas yang paling mudah dikenali dari satwa ini adalah cincin periokular berwarna merah bata yang kontras dengan tubuh bersisik gelap. Sisik tersebut dilengkapi dengan tonjolan osteoderm menyerupai pelindung, sehingga tampak seperti “miniatur buaya”.


Kadal duri mata merahberpenampilan seperti naga atau buaya


Tubuh kadal duri mata merah relatif pendek dengan sisik keras di bagian punggung dan samping tubuh. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa osteoderm tersebut dapat memancarkan biofluoresensi hijau ketika terkena sinar ultraviolet, dengan intensitas paling kuat di bagian kepala, mata, tenggorokan, dan ujung sisik.

Baca juga : Kadal, Kelompok Reptil Bersisik yang Hidup di Berbagai Habitat di Dunia

Fenomena biofluoresensi pada spesies ini merupakan laporan pertama pada keluarga Scincidae dan diduga berkaitan dengan komunikasi visual di lingkungan bercahaya rendah. Selain itu, warna merah di sekitar mata juga berperan sebagai sinyal visual jarak dekat yang kemungkinan membantu dalam interaksi antar sesama.


Kaki belakang kadal buaya bermata merah memperlihatkan sisik seperti buaya


Kadal duri mata merah hidup di lantai hutan hujan yang lembap, kadal ini juga suka berendam di aliran air. Tidak hanya hidup di hutan hujan dataran rendah, kadal duri mata merah juga bisa hidup di tempat-tempat dengan ketinggian mulai dari 0 – 1.000 meter di atas permukaan laut.

Kadal duri mata merah juga lebih banyak menghabiskan waktu di daratan ketimbang di area aliran air. Umumnya, kadal duri mata merah ini akan memilih batang kayu busuk atau sisa-sisa batok kelapa sebagai tempat tinggalnya. Tubuh hingga ekor kadal duri mata merah ini dilapisi kulit berwarna cokelat tua yang sangat mirip dengan kulit buaya.

Hanya saja, moncong kadal duri mata merah jauh lebih pendek dan area matanya memiliki semacam cincin berwarna merah atau jingga. Ukuran kadal duri mata merah pun terbilang kecil. Kadal duri mata merah tumbuh dengan panjang sekitar 20 – 25 cm dengan bobot 36 – 45 gram saja.

Di habitat alaminya, kadal ini bersifat semi-fosorial dan lebih menyukai mikrohabitat lembap, misalnya di bawah serasah daun, akar, atau dekat aliran air kecil. Perilaku tersebut membuatnya jarang terlihat secara langsung di alam liar. Kadal duri mata merah tergolong sebagai karnivora atau lebih tepatnya insektivora.


Kadal buaya bermata merah dewasa memperlihatkan lingkaran merah pada matanya


Insektivora adalah hewan yang makanan utamanya adalah serangga dan hewan kecil. Makanan kadal ini cukup bervariasi, mulai dari cacing tanah, lalat buah, jangkrik, sampai ulat bambu. Untuk memperoleh makanannya itu, mereka bisa mencarinya hampir di segala tempat berkat kemampuan adaptasinya. Kadal duri mata merah diketahui cukup ahli dalam memanjat dan berenang.

Baca juga : Soa Soa Layar, Kadal Purba Eksotis Endemik Indonesia Timur

Oleh karena itu, kadal duri mata merah bisa dengan mudah menemukan mangsanya. Baik yang bersembunyi di atas pohon, di dalam tanah, sampai yang berada di dalam air. Biarpun demikian, pohon dan perairan bukan tempat favorit dari hewan ini. Mereka lebih memilih berada di atas tanah untuk tinggal, bersembunyi, atau mencari makanan.


Kadal buaya bermata merah lebih menyukai hidup di lantai hutan basah


Walaupun wajahnya terbilang lucu, kadal duri mata merah bukan termasuk hewan yang suka berada di dekat hewan lain, apalagi predator dan manusia. Saat merasa terancam, kadal duri mata merah memiliki berbagai adaptasi untuk bertahan agar bisa melewati ancaman itu.

Salah satu bentuk adaptasi yang menarik dari kadal ini adalah perilakunya ketika sedang mengalami stres berlebih. Kadal duri mata merah akan mengeluarkan suara unik ketika merasa terancam ataupun demi melindungi anak-anaknya. Kalau itu masih belum cukup, mereka akan diam membatu hingga berpura-pura mati agar ancaman yang ada di dekatnya segera menjauh.

Oleh karena itu, hewan pemalu yang satu ini akan lebih banyak bersembunyi di sarangnya ketika merasa ada makhluk lain yang bisa mengancam keberadaannya. Sebelum bisa kawin dengan betina, kadal duri mata merah jantan harus bertarung dengan pejantan lain agar berhak untuk kawin.

Bagi jantan, kematangan seksual bisa diperoleh ketika sudah berumur 3 tahun. Sementara, untuk betina, umumnya ada pada rentang umur 4 – 5 tahun. Kadal duri merah mata jantan dapat dikenali melalui bantalan putih pada kakinya. Kadal duri merah mata betina hanya memiliki satu ovarium yang berfungsi dan bertelur satu butir telur pada satu waktu.


Kadal buaya bermata merah setengah terendam dalam air


Kadal duri mata merah bereproduksi dengan jumlah telur yang sedikit, biasanya hanya satu butir dalam setiap siklus (masa kawin). Ukuran telur kadal jenis ini sekitar 2 cm. Telur tersebut berukuran relatif besar dibandingkan tubuh induknya. Kadal duri mata merah bereproduksi setiap 5 – 6 minggu sekali. Karena itu, dalam setahun, kadal duri mata merah betina bisa menetaskan sepuluh butir telur.

Baca juga : Kadal Pensil, Kadal Eksotis Asal Papua yang Serupa Ular

Betina menjaga telur tunggal di sarang dan mempertahankannya secara agresif. Sementara jantan juga dapat mengeluarkan vokalisasi pertahanan. Perilaku penjagaan induk terhadap telur, termasuk vokalisasi pertahanan, diduga meningkatkan peluang keberhasilan menetas pada lingkungan hutan yang penuh ancaman predator. Ketika terkejut, kadal ini cenderung membeku dan bahkan bisa berpura-pura mati.


Kadal buaya bermata merah terlihat menyeramkan sekaligus menggemaskan


Berdasarkan penilaian terbaru dari IUCN (amandemen 2015, diterbitkan 2022), kadal duri mata merah dikategorikan sebagai “Risiko Rendah” (Least Concern). Meski demikian, pemantauan tetap diperlukan mengingat keterbatasan data ekologi dan taksonomi dari spesies ini.

Kajian regional mengenai keanekaragaman skink di Oceania dan Papua juga menyoroti adanya kesenjangan pengetahuan yang dapat memengaruhi akurasi penilaian konservasi. Hal ini menekankan pentingnya penelitian lanjutan untuk memperbarui data populasi dan status konservasi. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Kadal Duri Mata Merah, Reptil Eksotis Endemik Papua Berpenampilan Mirip Buaya


PPDSI Blitar Selenggarakan Bupati Blitar Cup #4 LDI 2026 Putaran 4, Kamajaya Malioboro dan Perdana di Podium Juara

Pengcab. PPDSI Blitar baru saja menggelar even akbar. Lomba derkuku bertajuk Bupati Blitar Cup #4, Liga Derkuku Indonesia Putaran 4 yang di...