Senin, 21 November 2022

Rayakan HUT ke-2, Pengda PPPPSI Bali Rencanakan Undang Semua Peternak Puter Pelung Ikuti Gelaran Lomba



Pengda PPPPSI Bali, dalam rangka merayakan HUT  yang ke-2, berencana menggelar lomba seni suara alam puter pelung pada 18 Desember 2022 nanti. Ini tercermin dari hasil rapat para pengurus dan penghobi puter pelung Bali yang diadakan di kediaman I Made Suka Ardana Jln. Mahendradata Gang Manggis pada Sabtu, 19 November 2022.

Kehadiran Pengurus Daerah Perkumpulan Penggemar dan Pelestari Puter Seluruh Indonesia (PPPPSI) Bali, untuk ikut meramaikan semarak hobi puter pelung, benar-benar terealisasikan. Agenda demi agenda yang rutin mereka gelar, menjadi bukti kuat bahwa Pengda Bali sudah memenuhi janjinya.

Selama ini Pengda Bali selalu berusaha menyelenggarakan kegiatan yang biasa mengenalkan akan keberadaan puter pelung beserta organisasi yang menaunginya. Beberapa agenda seperti diklat juri, lomba, dan juga kegiataan sosial telah terlaksana.


Lomba pertama Pengda Bali


Tidak lupa mendaftarkan para penghobi puter pelung yang ada di Bali menjadi anggota PPPPSI melalui pemesanan plakat beserta kartu anggotanya. Pun demikian dengan keharusan untuk memiliki ring pendamping PPPPSI untuk dikenakan pada hasil ternakan setiap anggota yang telah terdaftar.

Pengda Bali pun terus mengemas lomba seni suara alam burung puter pelung. Tekad untuk selalu menghadirkan latbernil setiap bulan selama ini juga terlaksana dengan baik. Upaya ini mulai mendapatkan animo penghobi di luar wilayah Denpasar.

Saat itu dalam pertemuan yang berjalan penuh rasa kekeluargaan, dilakukan evaluasi akan apa yang sudah dilakukan dan kemajuan yang telah dicapai oleh Pengda Bali. Sekalian merekap berapa jumlah peternak puter pelung yang telah sah terdaftar.

Karena rencananya Pengda Bali akan mengundang semua peternak Bali yang telah terdaftar. Tentunya yang sudah mempunyai plakat dan KTA PPPPSI juga, untuk datang berpartisipasi dalam lomba dan membahas program kerja untuk tahun 2023.


Kunjungan sosial Pengda Bali


“Puter pelung di Bali harus maju dan berkembang memasuki usia Pengda Bali yang ke-2 ini. Salah satu cara dengan sering mengadakan lomba dan pembinaan peternk, khususnya yang telah memiliki plakat PPPPSI,” ungkap I Made Thenda.

Made Thenda mengatakan bahwa kegiatan ini berkat dukungan dan kerjasama yang diberikan oleh beberapa pihak. “Kegiatan kali ini berkat kerja sama dan kekompakan Pengda Bali serta dukungan dari rekan-rekan dan penggemar puter pelung,” terang Made Thenda.

Setidaknya dengan kerjasama yang dilakukan ini, diharapkan bisa menumbuhkan rasa saling memiliki, sehingga pada akhirnya menjadi sebuah kekuatan untuk membangun hobi yang lebih kuat dan besar.

Hal senada dilontarkan I Made Suka Ardana, selaku tuan rumah. “Solidaritas dan kekompakan selalu kami coba galakan dan tanamkan pada pengurus dan penggemar burung puter pelung di Bali. Hal ini bertujuan agar kami merasa menjadi satu bagian yang saling memberikan support,” tegas I Made Suka Ardana.


Letkol CPM (Purn) Didik hariyadi Ketua Pengda Jawa Timur kunjungi Pengda Bali


Lebih lanjut disampaikan I Made Thenda, bahwa yang paling penting dan menjadi inti adalah rasa kekeluargaannya. “Intinya adalah rasa kekeluargaan yang hakiki, lahir batin, dan bukan cuma kiasan di bibir saja. Saling isi kekurangan masing-masing, saling suport antara yang satu dengan lainya,” ungkap dekoe mania yang juga puter pelung mania ini.

Pokoknya Pengda Bali senantiasa terus melakukan perbaikan-perbaikan agar kedepan bisa lebih baik lagi, dari mulai event, administrasi serta hasil dari ternak itu sendiri. “Bali adalah daerah yang memiliki potensi besar buat bisa terus maju, meramaikan hobi puter pelung.” (Ramlee/Elh)


Jumat, 18 November 2022

Saatnya Sang Jawara Turun Lapangan Buktikan Kembali Kehebatannya di Liga Puter Jawa Timur 2022 Putaran Terakhir


 


Liga Puter Jawa Timur putaran ke-4, berlangsung pada 18 September 2022 di GOR Gelora Delta Sidoarjo. Gelaran berikutnya yang merupakan putaran terakhir dari rangkaian laga LPJT 2022, akan dihelat pada 20 November 2022 di Tulungagung.

Dua bulan Liga Puter Jawa Timur (LPJT) libur tanpa ada kegiatan. Memang ada hajatan besar di akhir bulan Oktober kemarin, gelaran Lomba Eksklusif Duta Sumenep namun bukan rangkaian kegiatan LPJT. Sedianya akan diadakan di Sampang, namun Sampang menarik diri.

Jedah waktu yang panjang memberikan cukup waktu bagi puter pelung mania untuk melakukan persiapan menjelang seri penutup tersebut. Diharapkan ketika gelaran akbar kembali digeber, para peserta langsung tancap gas dengan performa yang segar bugar karena sudah menjalani masa persiapan matang.

Moment ini nampaknya akan kembali menjadi pembuktian seru bagi setiap kwok mania begitu para penghobi puter pelung ini biasa disebut. Mereka yang sudah memiliki poin di Klasemen Sementara Liga Puter Jawa Timur 2022, akan berupaya menambah poin untuk mengamankan posisi yang sudah terkumpul pada event-event sebelumnya.


Area kuliner Pinka Tulungagung


Bagi mereka yang belum beruntung mendapatkan kesempatan menang, maka inilah saat yang tepat untuk membuktikan diri. Kesempatan untuk menjadi yang terbaik diakhir liga masih terbuka lebar. Menutup agenda tahun 2022 dengan manis, sekaligus mengukur kemampuan untuk bertarung kembali tahun depan.

Karena yang pasti kesempatan sama masih dimiliki oleh seluruh peserta, seorang pemula sekalipun. Hanya mereka yang memastikan diri melakukan persiapan matang ditunjang oleh kualitas puter pelung yang mumpuni, pada akhirnya yang akan menjadi pemenang.

Meskipun gelar juara Liga Puter Jawa Timur telah dimiliki oleh para pemuncak klasemen di masing-masing kelas, menyisakan satu laga tersisa memang tidak akan merubah susunan klasemen teratas. Namun momen mengalahkan sang jawara bisa jadi sebuah kenangan terindah.

Pihak panitia, dalam hal ini bidang penjurian dan juga bidang lomba sudah menyatakan siap memberikan sesuatu yang terbaik. Karena semua ini akan menjadi pertaruhan bagi panitia. Bidang penjurian masih sepakat untuk menurunkan juri yang dinilai profesional dalam menentukan kejuaraan.

Sebelumnya berhembus komentar-komentar minor terkait kinerja juri-juri Pengda PPPPSI Jawa Timur, tetapi tidak ada bukti yang bisa membenarkan tudingan miring tersebut. Pergantian juri yang bertugas nyatanya masih menampilkan jawara yang sama. Itu berarti sang juara memang pantas dan bukannya karena pengkondisian seperti yang dituduhkan.

Karena akhir pekan ini sudah memasuki putaran terakhir, maka trophy bergilir dari Pengda Jawa Timur akan ditampilkan dan diberikan kepada sang juara LPJT 2022. Trophy para jawara yang pantas untuk diperebutkan sebagai simbol yang terbaik sepanjang tahun 2022.


Rapat panitia mempersiapkan gelaran LPJT 2022


Bagaimana dengan persiapan arena lomba dan lain-lain. Wahyu Haidar, selaku Ketua Pelaksana sudah menyatakan siap menyediakan tempat gantangan dan segala yang dibutuhkan peserta. Koordinasi yang selalu rutin dilakukan antara panitia pelaksana dan Pengda Jawa Timur berjalan sesuai harapan.

Agenda pertemuan seringkali dilakukan agar tidak ada yang terlewat terkait persiapan. “Soal tempat lomba, sudah beres. Alhamdulillah tidak ada masalah,” ungkap Wahyu. Panitia mengharapkan para mania puter pelung hadir ke Tulungagung, sekalian bisa menikmati liburan mengunjungi beberapa tujuan wisata yang ada di Kab Tulungagung.

Kabupaten Tulungagung terkenal sebagai satu dari beberapa daerah penghasil marmer terbesar di Indonesia. Aset marmer dari Tulungagung telah menembus pasar internasional. Di daerah yang sama, juga terdapat industri onyx yang mempunyai kualitas mirip marmer.

Tulungagung diuntungkan dengan letak geografis yang berada di tepi Samudera Hindia. Sehingga memiliki banyak pantai yang menarik untuk dikunjungi. Tempat wisata pantai di Tulungagung diantaranya adalah Pantai Popoh, Pantai Sidem, Pantai Brumbun, Pantai Sine, Pantai Molang.

Di Utara Tulungagung, objek wisata alam yang terkenal adalah Pesanggarahan Argo Wilis, Perkebunan Teh Penampean, serta Bendungan Wonorejo. Lalu ada wisata Coban Alam di Kecamatan Campurdarat, Gua Selomangleng di Kecamatan Boyolangu, serta Gua Pasir di Kecamatan Sumbergempol.

Gelaran putaran terakhir PLJT 2022, akan dilangsungkan di Gantangan Dulur Kopi Pinka Tulungagung. Pinka kependekan dari Pinggir Kali, area ini masuk wilayah Kec Tulungagung. Dan Pinka adalah kawasan di sepanjang tepi sungai Ngowo, yang membelah wilayah kota Tulungagung.

Di kedua sisi sungai dijadikan ruang terbuka hijau. Diberikan bangku-bangku taman serta gazebo. Kawasan ini juga tumbuh menjadi wisata kuliner baru di Tulungagung. Berbagai jenis kuliner bisa ditemukan di daerah ini.



Banyak masyarakat lokal yang memanfaatkan tempat ini untuk sekedar bersantai dan bermain bersama keluarga mereka. Tak hanya itu, tempat ini juga menjadi destinasi favorit untuk kulineran karena menyajikan aneka ragam kuliner yang tersebar di sepanjang jalan Sungai Ngrowo. Pengcab PPPPSI Tulungagung telah siap menyambut kwok mania Jawa Timur. (Ramlee)


Sabtu, 12 November 2022

Tata Laksana Penilaian Lomba Seni Suara Burung Puter Pelung



PPPPSI (Organisasi Perkumpulan Penggemar dan Pelestari Puter Seluruh Indonesia), organisasi yang menaungi penghobi burung puter di Indonesia mempunyai beberapa program yang sudah digariskan. Salah satunya adalah pelaksanaan Lomba Seni Suara Alam Burung Puter.

Lomba yang diselenggarakan merupakan wujud pengukuran keindahan suara burung puter pelung hasil penangkaran, pemeliharaan, dan perawatan yang dilakukan oleh para anggota PPPPSI. Penilaian dilaksanakan secara tertulis dengan memberikan angka-angka yang diisikan dalam kolom-kolom yang telah disediakan di dalam lembar penilaian oleh Juri Penilai.

Juri Penilai, Koordinator Juri, dan Juri Perumus dalam lomba burung puter adalah personil dalam jajaran organisasi PPPPSI. Para juri ini telah secara sah mendapat surat pengangkatan sebagai juri yang dikeluarkan oleh pengurus PPPPSI.

Penilain dilakukan secara langsung oleh Juri Penilai dan Koordinator Juri mempunyai tugas menginformasikan kepada juri penilai apabila dirasa ada burung yang kualitasnya lebih menonjol pada setiap bloknya. Koordinator Juri tidak berhak menilai secara langsung suara burung dalam lomba.


Bendera penilaian


Penilaian awal dapat diberikan setelah burung peserta lomba berbunyi dan diberikan bendera babak tanda bunyi dengan nilai 42 (empat puluh dua). Dan apabila telah berbunyi dua kali kemudian diam, maka bendera koncer satu warna (hijau) dapat diberikan dengan nilai 42 ½ (empat puluh dua setengah) oleh Juri Penilai.

Jika burung berbunyi lebih dari 3 kali dan memenuhi syarat keindahan suara, maka juri penilai dapat memberikan bendera koncer 2 warna ( kuning hijau) dengan nilai 43. Setelah itu saat berbunyi burung yang telah mendapat bendera 2 warna dapat dipantau suaranya apakah bisa dinaikkan ke bendera 3 warna dengan terlebih dahulu memberikan bendera usulan (tanpa nilai) warna hitam putih hitam.

Koordinator Juri akan memantau suara burung yang telah diusulkan oleh Juri Penilai, apakah sudah memenuhi syarat keindahan suara dan cukup baik untuk memberikan kenaikan nilai. Apabila usulan diterima, maka Koordinator Juri akan segera mencabut bendera 2 warna serta bendera usulan dan menggantinya dengan bendera 3 warna (putih, kuning, hijau) dengan nilai 43 ¼.


Form Juri Penilai


Apabila burung-burung yang telah mendapatkan bendera 3 warna dengan nilai 43 ¼, kemudian berbunyi lagi maka juri penikai akan segera memantaunya. Apabila dirasa oleh Juri Penilai burung tersebut masih layak untuk naik nilainya bisa segera kembali memberikan bendera usulan (hitam putih hitam).

Koordinator Juri akan mempertimbangkan kembali, apakah sudah memenuhi syarat keindahan suara dan cukup baik untuk memberikan kenaikan nilai. Apabila usulan diterima, maka koordinator juri akan segera mencabut bendera 3 warna serta bendera usulan dan menggantinya dengan bendera 4 warna (merah, putih, kuning, hijau) dengan nilai 43 ½.

Apabila burung-burung yang telah mendapatkan bendera 4 warna dengan nilai 43 ½, kemudian berbunyi lagi maka juri penilai segera memantaunya kembali. Apabila dirasa oleh juri penilai burung tersebut masih layak untuk naik lagi nilainya bisa segera kembali memberikan bendera usulan (hitam putih hitam).

Koordinator Juri akan segera kembali memantau suara burung yang telah diusulkan oleh juri penilai, apakah sudah memenuhi syarat keindahan suara dan cukup baik untuk memberikan kenaikan nilai. Apabila usulan diterima, maka koordinator juri akan segera mencabut bendera 4 warna serta bendera usulan dan menggantinya dengan bendera 5 warna (biru, merah, putih, kuning, hijau) dengan nilai 43 ¾.


Form Koordinator Juri


Apabila burung-burung yang telah mendapatkan bendera 5 warna dengan nilai 43 ¾, kemudian berbunyi lagi maka juri penilai akan segera memantaunya kembali. Apabila dirasa oleh juri penilai burung tersebut masih layak untuk naik lagi nilainya bisa segera kembali memberikan bendera usulan (hitam putih hitam).

Koordinator Juri juga akan segera kembali memantau suara burung yang telah diusulkan oleh juri penilai, apakah sudah memenuhi syarat keindahan suara dan cukup baik untuk memberikan kenaikan nilai. Apabila usulan diterima, maka koordinator juri akan segera mencabut bendera 5 warna serta bendera usulan dan menggantinya dengan bendera 6 warna (ungu, biru, merah, putih, kuning, hijau) dengan nilai 44.


Form Juri Perumus/Perekap


Apabila ternyata burung-burung yang telah mendapatkan bendera 6 warna dengan nilai 44, kemudian berbunyi lagi maka sekali lagi juri penilai akan segera memantaunya lagi. Apabila dirasa oleh juri penilai burung tersebut masih layak untuk naik lagi nilainya bisa segera kembali memberikan bendera usulan (hitam putih hitam).

Koordinator Juri akan segera kembali memantau suara burung yang telah diusulkan oleh juri penilai, apakah sudah memenuhi syarat keindahan suara dan cukup baik untuk memberikan kenaikan nilai. Apabila usulan diterima, maka koordinator juri akan segera mencabut bendera 6 warna serta bendera usulan dan menggantinya dengan bendera 7 warna (orange, ungu, biru, merah, putih, kuning, hijau) dengan nilai 44 ¼.

Untuk kenaikan nilai dari 43 ke 43 ¼ bisa dilakukan langsung oleh koordinator pada blok tersebut. Sementara untuk kenaikan 43 ¼ ke 43 ½, koordinator pada blok itu harus berkoordinasi dengan koordinator lain, jadi tidak bisa dinaikkan sendiri.

Kemudian untuk kenaikan nilai 43 ½ ke 43 ¾ harus melibatkan 3 orang koordinator juri. Jadi setiap kenaikan ini juga tidak bisa dilakukan sendiri oleh koordinator yang sudah menaikkan nilai sebelumnya. Dan untuk kenaikan nilai dari 43 ¾ ke 44, harus melibatkan 4 koordinator yang bertugas.


Juri-juri Pengda PPPPSI Jawa Timur


Apabila ada satu saja koordinator juri yang tidak setuju terhadap kenaikan tersebut maka, usulan bisa dicabut. Dengan kata lain kenaikan nilai harus melalui persetujuan semua koordinator sesuai dengan kenaikan nilainya seperti yang sudah disebutkan di atas. Apabila ada koordinator yang menaikkan tanpa melalui persetujuan koordinator yang lain, maka kenaikan nilai itu bisa dibatalkan (diskualifikasi).

Dan apabila ada usulan kenaikan yang tidak setujui juga melalui atau sepengetahuan koordinator yang lain. Sehingga pencabutan bendera usulan, khususnya untuk kenaikan dari 43 ¼ ke 43 ½ dan seterusnya harus melalui koordinasi antar koordinator yang bertugas. Seperti halnya kenaikan nilai, maka pencabutan usulan juga atas sepengetahuan dan persetujuan koordinator yang lain.


Juri sedang memberikan penilaian


Pengurus PPPPSI bisa melakukan penunjukkan dan penugasan Pengawas Lapangan sesuai tingkatan lomba, yang bertugas untuk menerima komplain dan atau protes dari peserta. Pengawas Lapangan adalah seseorang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab penuh dalam setiap penilaian agar dapat terciptanya obyektifitas penilaian.

Seorang Pengawas lapangan harus paham dan mampu menjelaskan perihal penjurian yang sedang berlangsung (saat lomba). Pengawas Lapangan bisa siapa saja, semisal mantan juri nasional, panitia lomba, atau orang yang ahli pada bidangnya yang akan mengawasi jalannya penilaian, dan tidak melakukan penilaian secara langsung.


Para juara event lomba seni suara burung puter pelung


Jika memang dirasa diperlukan adanya Pengawas Lapangan, maka bisa ditugaskan seseorang sebagai Pengawas Lapangan. Sehingga apabila ada burung yang diusulkan untuk naik sampai 44 ½ bahkan 45 (empat puluh lima) yang merupakan nilai sempurna yang hanya dapat diberikan kepada burung yang telah memenuhi persyaratan :

• Memenuhi semua kriteria keindahan suara yang ditentukan.

• Koordinator, dan Pengawas Lapangan, bagi burung yang mendapat jumlah nilai 45 (empat puluh lima) diberikan tanda penilai berupa koncer khusus atau istimewa.

Demikian sekilas tentang tata cara penilaian yang berlaku di lomba-lomba dalam naungan PPPPSI. Alangkah indahnya pengetahuan tentang penilaian saat lomba juga dibarengi dengan kesadaran para peserta untuk tidak berteriak.

Kesadaran untuk tidak saling adu kencang teriakan itu penting agar para juri yang bertugas bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Salah satu sebab kenapa juri tidak mengetahui ada burung yang berbunyi adalah karena kerasnya teriakan. Jangan jadikan teriakan ini lebih merdu dari suara burung yang sedang manggung. Semoga bermanfaat. (Ramlee)



Bersumber dari Pedoman Lomba Dan Penilaian Suara Burung Puter PPPPSI Tahun 2020


Kamis, 10 November 2022

Memahami Permasalahan Burung Mengalami Perubahan Suaranya Menjadi Serak Bahkan Hilang dan Cara Mengobatinya



Beberapa kali ada keluhan dari para pecinta burung anggungan utamanya puter pelung di media sosial, perihal burung rawatannya, suaranya yang berubah. Tadinya saat melantunkan suara anggungannya terdengar jernih, begitu merdu mendayu tetapi tiba-tiba menjadi serak.

Hal ini akan menjadi perkara rumit jika, burung yang mengalami serak ini merupakan burung gacoannya. Paling tidak untuk burung yang tadinya bersuara bagus, tiba-tiba saja terdengar serak. Terdengar sangat tidak enak.

Eko Cahyo Santoso, salah satu penghobi burung puter pelung yang banyak menghasilkan burung dengan kualitas suara bagus. Tidak jarang di beberapa event lomba sering kali namanya ada di daftar tertinggi sebuah kejuaraan seni suara burung derkuku maupun puter pelung, akan mencoba menjawab permasalahan ini.


Mandikan burung


“Kalau menurut saya bisa karena beberapa sebab,” jelas pria yang lebih senang menuliskan namanya di daftar kejuaraan dengan Eko LMS. “ Yang pertama adalah serak memang bawaan dari lahir. Karena sedari burung ini menetas hingga berbunyi sudah terdengar serak, karena sudah bawaannya jadi susah.”

“Kalau sudah begini ini sudah tidak bisa digimana-gimanakan. Pengobatan maupun terapi dengan cara apapun tidak akan membawa hasil. Jadi jika segala upaya telah dilakukan namun hasilnya tidak ada, bisa jadi karena sudah bawaan si burung.”


Penjemuran burung


Ada juga suara serak karena adanya penyakit di saluran pernafasan burung, sehingga suara yang dikeluarkannya tidak bisa terdengar jernih seperti sebelumnya. Penyebab serak seperti ini bisa dilakukan pengobatan ataupun terapi untuk mengurangi bahkan menyembuhkan suara seraknya.

“Kalau burung mengalami suara serak karena sakit saluran pernafasan, maka bisa diberikan jamu atau obat yang mengandung antibiotik. Bisa pakai jamu burung yang banyak beredar di pasaran, atau bisa pakai larutan penyegar yang biasa diminum orang,” jelas pemilik LMS Bird Farm tersebut.


Kandang perlu dibersihkan agar burung terjaga kesehatannya


“Kalau obat yang mengandung antibiotik, bisa diberi ke burung yang sedang sakit, suara serak atau hilang. Tersedia obat dengan berbagai merk. Yang terpenting obat itu didalamnya mengandung enrofloxacin. Yakni antibiotik yang kerjanya untuk membunuh bakteri yang sedang menyerang.”

Enrofloxacin merupakan antibiotika golongan fluoroquinolone yang masih banyak digunakan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit bacterial pada unggas. Namun pemberiannya tidak bisa sembarangan. Antibiotik hanya boleh digunakan untuk pengobatan. Pemakaian yang tidak tepat dapat memicu kemunculan bakteri kebal antibiotik.


Anti biotik untuk burung


Bisa juga diberikan larutan penyegar. Kalau larutan penyegar bisa diberikan langsung ke tempat minumnya. “Yang penting jangan kena sinar matahari secara langsung, kalau burung mau dijemur bisa diganti air biasa dahulu,” kata Eko mewanti-wanti.

“Kalau untuk jamu-jamuan dan antibiotik bisa ikut aturan di kemasannya masing-masing. Jangan asal memberikan dan penggunaan tidak sesuai aturan yang sudah ditentukan. Agar tidak terjadi hal-hal tidak diinginkan atau malah memperburuk kondisi burung.”

Sebelum harus mengobati burung kesayangan kita, tindakan mencegah penyakit menyerang akan jauh lebih baik. Karena seringkali suara serak itu awalnya disebabkan oleh air miunm yang kotor atau suhu air minum yang panas, akibat penjemuran.


Eko LMS dengan burung gacoannya


“Makanya harus rajin-rajin ganti air minum. Air minum jadi panas saat dijemur, kalau terminum oleh burung juga bisa bikin serak. Makanya sebaiknya dicermati, setelah jemur biasanya air minum jadi panas, maka sebaiknya setelah penjemuran burung, segera diganti air minum dengan air baru.”

“Ada juga satu trik, kalau di tempat saya tempat minum burung saya, biarkan agak berlumut. Lumut di wadah minum bisa membantu mencegah air jadi panas saat dijemur. Analoginya seperti kita minum air dari kendi, kendi berlumut maka air di dalamnya tetap terjaga suhunya tidak jadi panas, cenderung dingin, dan tetap segar,” ungkap Eko LMS membuka tipsnya.

“Lumut disini dengan catatan airnya bersih tidak tercampur kotoran. Biarpun kita tumbukan lumut di tempat minumnya, tetapi kebersihan air di dalamnya harus tetap kita jaga dengan baik, sehingga tidak menjadi sumber penularan penyakit,” jelas Eko menyudahi pembicaraan. (Ramlee)



EKO LMS BF

Jl. Ledoksari Selatan no. 6. Jebres, Solo

WA 0856-4317-7897


Jumat, 28 Oktober 2022

Puter Lokal, Burung Puter Endemik Indonesia yang Hidup di Hutan Mangrove



Puter lokal (Streptopelia bitorquata) merupakan burung endemik Indonesia. Burung puter ini berbeda dengan burung puter yang sebelumnya sudah lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia. Puter lokal sering disebut masyarakat untuk burung puter dengan suara tengah yang pendek-pendek.

Padahal burung puter yang dimaksud mempunyai nama latin Stretopelia risoria. Burung puter yang ini bukanlah burung endemik Indonesia. Banyak dari masyarakat penghobi burung anggungan masih sering salah mengartikan burung puter lokal ini dengan jenis puter lain yang lebih banyak dipelihara di rumah-rumah untuk dinikmati keindahaan suaranya.

Pengertian dari kata lokal adalah suatu hal yang berasal dari daerah itu sendiri. Kata lokal sangat sering diucapkan oleh masyarakat namun pengartiannya memang beragam. Kata lokal bisa digunakan bersamaan dengan kata kebudayaan, kata penduduk, kata orang, dan masih banyak lagi.

Lokal adalah sesuatu yang berasal dari daerah asli. Sehingga jika menyebut kata puter lokal maka itu artinya adalah burung asli dari daerah tersebut. Dengan kata lain merupakan satwa endemik Indonesia. Satwa asli Indonesia.


Puter lokal atau puter geni mempunyai habitat di daerah hutan mangrove


Satwa endemik adalah spesies satwa alami yang mendiami suatu wilayah atau daerah tertentu yang menjadikan wilayah tersebut mempunyai ciri khas karena tidak ditemukan di daerah lain. Jadi suatu satwa itu dikatakan hewan endemik jika spesies tersebut merupakan spesies asli yang hanya bisa ditemukan di sebuah tempat dan tidak ditemukan di wilayah lain.

Ada beberapa penyebutan untuk burung puter lokal yang merupakan burung endemik Indonesia ini diantaranya Baster, Dederuk Jawa, Putar (Sunda), Kukur (Sumatera), Puter geni, puter lumut (Jawa), Tekukur (Minahasa). Dan nama keren dari burung puter lokal ini adalah Sunda collared dove dengan nama ilmiahnya Streptopelia bitorquata.

Puter lokal/Dederuk Jawa adalah spesies burung dalam keluarga Columbidae (Merpati-Merpatian) yang mempunyai 13 spesies. Spesies ini (Sreptopelia bitorquata) tersebar mulai dari Sumatera, Jawa dan Bali , hingga ke Komodo, Lombok, Sumbawa, Timor, Flores, dan Solor.

Habitat alaminya adalah hutan dataran rendah yang lembab dan hutan bakau. Puter lokal ini di beberapa daerah sudah sangat susah dijumpai. Itu semua disebabkan habitat alaminya sudah sangat berkurang karena perambahan hutan, alih fungsi lahan dan perburuan yang dilakukan manusia.


Kini banyak yang telah menangkarkannya


Usaha konservasi harus digiatkan untuk menyelamatkan keberadaannya. Masih sangat sedikit yang berusaha menernakkannya. Karena dari sisi suara masih kalah merdu dengan puter pelung, jadi diternak karena faktor eksotisme dari satwa tersebut.

Ciri-Ciri yang paling mudah dikenali adalah adanya kalung hitam putih pada bagian lehernya. Tubuh berukuran sedang sekitar 30 cm, berekor panjang. Tubuh warna coklat kemerah-jambuan. Mirip Tekukur/Derkuku, perbedaan antara tekukur/derkuku biasa dengan burung puter lokal/dederuk jawa adalah warna kepala lebih abu-abu.


Anakan puter lokal



Bercak hitam pada sisi leher bertepi putih. Tidak berbintik putih. Bagian tengah membujur bulu ekor berwarna coklat. Kedua sisi bulu ekor abu-abu dengan tepi agak putih. Iris jingga, paruh hitam dengan pangkal merah, kaki merah keunguan. Suaranya adalah “Kuk… Keruk…kuk”.

Burung puter lokal/dederuk jawa makanan sehari-harinya biji-bijian. Burung ini senang dengan beras merah, jagung dan kacang hijau. Dederuk Jawa atau puter lumut, ada juga yang menyebutnya puter geni, mempunyai suara yang sangat khas, dan saat ini masih jarang dibudidayakan. Sehingga pasokan penghobi masih didapat dari alam yg mulai terbatas, siapa tertarik membudidayakan nya?

Puter lokal ini sering terlihat di tempat-tempat terbuka, di area pedesaan yang tidak jauh dari hutan, terutama di hutan mangrove. Bertengger di pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi. Sering kali turun di kawasan terbuka di atas permukaan tanah, sepasang atau dalam kelompok-kelompok kecil. Ke area persawahan untuk mencari makan.

Senasib dengan burung-burung lain di Indonesia, burung ini banyak diburu dengan cara dijaring atau dengan perangkap lain untuk dijadikan burung peliharaan. Juga menjadi sasaran penembakan para pemburu.


Sepasang puter lokal belajar mandiri


Alhasil, populasi burung ini semakin hari semakin sedikit. Di alam liar, burung ini nyaris tak pernah terdengar suaranya lagi. Karena dianggap kurang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga sangat sedikit yang berusaha menangkarkannya.

Saat ini ada beberapa penangkar yang telah membudidayakannya, terutama karena daya tarik dari warnanya. Juga seringkali dikawin silangkan dengan jenis lain agar mendapatkan anakan yang semakin cantik penampilannya.

Di panangkaran puter lokal atau puter geni ini sering mengkonsumsi makanan seperti jewawut, milet, gabah, jagung bahkan voor ayam (makanan buatan pabrik). Kita berharap burung asli Indonesia ini tetap lestari. (Ramlee)


Jumat, 14 Oktober 2022

Kalikan Startup Marketplace Ikan Hias Air Tawar untuk Mengembangkan Potensi Ekonomi Kerakyatan



Kalikan, sebuah start-up digital besutan Dian Rachmawan melihat peluang untuk mengembangkan potensi ekonomi kerakyatan. Pemulihan pandemi menawarkan kesempatan peningkatan daya-saing bagi UMKM dengan belajar bagaimana cara mengadopsi teknologi digital dan e-commerce, namun hampir mustahil pelaku UMKM membangun e-commerce sendiri-sendiri, melengkapi diri dengan fasilitas Instalasi Karantina Ikan supaya bisa mampu ekspor.

“Kita sedang hidup di peradaban Internet. Zaman internet telah membuktikan keberhasilan terobosan konsep Ekonomi Berbagi (Sharing Economy) ketimbang konsep ekonomi berbasis kepemilikan. UMKM yang kecil namun banyak bersatu dalam naungan satu Marketplace- bernama KALIKAN, Insya’ Allah akan mendorong pertumbuhan inklusif ekonomi Indonesia,” kata Dian.

Kalikan hadir untuk para pecinta, pembudidaya, UMKM dan Komunitas ikan hias Indonesia. Yang mempunyai visi membuat Indonesia yang kaya akan ragam ikan hias air tawarnya tersebut unggul. Karena industri ikan hias air tawar mempunyai potensi menggiurkan yang mendatangkan penghasilan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).


Ikan hias kias digandrungi masyarakat


Kalikan berinisiatif membangun pusat rekreasi yang mengeksplorasi sophistikasi ikan hias air tawar yang berasal dan keragaman ikan nusantara. Meningkatnya popularitas ikan hias warna-warni seperti Ikan Mas, Ikan Koi, Guppy, Corry Catfish, Tiger Fish, Ikan Cupang dan Ikan Arwana untuk kolam dan akuarium di kantor maupun rumah sebagai bagian dari gaya hidup modern, diprediksi akan mendorong pertumbuhan bisnisikan hias air tawar.

Sebagai Platform Digital, Kalikan akan membantu seluruh pelaku ekosistem ikan hias air tawar (Pembudi daya, Pemasar, Penghobi) melakukan digitalisasi hulu hilir sektor ikan hias air tawar. Sesuai dengan Misi Pemerintah yang berkehendak menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor nomor satu dunia.

Kalikan yang merupakan brand digital marketplace dikembangkan untuk menumbuhkan ekosistem digital bagi para UMKM ikan hias air tawar, serta pengembangan dan pemberdayaan kewirausahaan UMKM untuk dapat bersaing di pasar nasional dan internasional.

Ekosistem yang dibangun di antaranya marketplace, asosiasi, digital platform, dan taman ikan hias air tawar. Marketplace Kalikan adalah kumpulan Toko digital dari semua pelaku UMKM yang tergabung dalam APIHATI (Asosiasi Pengusaha Ikan Hias Air Tawar Indonesia).


Salah sudut sentra penjualan ikan hias


Setiap Toko dapat dengan mudah membuat dan mengelola akun mereka sendiri di platform digital KALIKAN. Toko setiap saat bisa menambahkan informasi produk dalam bentuk multimedia (text, audio, video, gambar) agar menarik perhatian calon pembeli dan importer yang akan mencari dan membeli.

Rating dan review akan diberikan oleh kastamer sebagai umpan balik peningkatan mutu Marketplace. Khusus pengiriman ekspor, Kalikan bekerjasama dengan mitra logistik yang kompeten, untuk memastikan pengiriman ikan hidup aman dan cepat sampai ke tangan konsumen.

Kalikan dibentuk karena melihat ada potensi ekonomi kerakayatan pada ikan hias tawar. Pasar global industri ikan hias makin melejit yang kini bernilai USD 13,17 miliar atau Rp 200 triliun lebih pada 2020. Diperkirakan ada delapan juta rumah di Indonesia yang memelihara ikan hias.

Peluang itu yang didorong oleh Kalikan saat ini agar pelaku UMKM dapat mengekspor ikan hias air tawar melalui marketplace buatannya. Kalikan hanya berhubungan dengan ikan hias air tawar yang mana itu ikan sungai atau danau saja, tidak dengan jenis ikan air laut.


Bisnis ikan hias kian menjanjikan


“Ekonomi ikan hias ini adalah ekonomi kerakyatan, mampu memberikan lapangan kerja yang masif mulai dari petani, penjual sampai tukang pembersih akuarium, membangunkan lahan-lahan tidur yang tidak produktif, menciptakan usaha-usaha turunan seperti pakan ulat, jangkrik, akuascape, tanaman hias, kerajinan akuarium,” pungkas Dian.

Untuk memperkenalkan Kalikan sebagai pusat keunggulan ikan hias air tawar Indonesia, pada tanggal 14 Oktober 2022 mengadakan pameran, ekshibisi, kontes sekaligus selama hari penuh bertajuk KALIKAN EXPO 2022.

Pameran ini diikuti oleh 200 pelaku UMKM, didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, disamping pameran ikan hias dan aquascape juga dilaksanakan kontes dan ekshibisi ikan primadona seperti Channa, Cichild, Louhan, Betta, Arwana, Koi, Discus dan Goldfish. (Ramlee)


Kamis, 13 Oktober 2022

Puter Pelung, Burung Asal Afrika yang Begitu Diminati di Indonesia



Puter pelung (Streptopelia risoria) merupakan burung anggungan yang populer karena suara merdunya yang mengalun panjang, dalam, dan berirama. Burung puter pelung begitu diminati oleh para penghobi akhir – akhir ini. Lombanya pun begitu marak dimana-mana, utamanya di pulau Jawa. Untuk luar Jawa sebenarnya sudah banyak pula yang menjadikannya klangenan baru. Di pulau Bali dan Lombok, sudah banyak yang memelihara. Lombanya juga kerap diadakan, hanya karena adanya pandemi sehingga gaungnya agak kurang terdengar.

Banyak yang mengira burung ini adalah satwa endemik Indonesia. Satwa endemik adalah spesies hewan alami yang mendiami suatu wilayah atau daerah tertentu yang menjadikan wilayah tersebut mempunyai ciri khas karena tidak ditemukan di daerah lain. Suatu hewan dikatakan sebagai hewan endemik jika spesies tersebut merupakan spesies asli yang hanya bisa ditemukan di sebuah di sebuah tempat tertentu dan tidak ditemukan di wilayah lain.

Burung puter pelung yang selama ini kita kenal dan yakini sebagai satwa endemik Indonesia, nyatanya tidak demikian. Burung puter terkadang juga disebut dengan puter lokal karena bersuara pendek-pendek dan burung puter pelung yang bersuara panjang sejatinya bukanlah satwa asli Nusantara. Banyak kerancuan terjadi berkaitan dengan penyebutan burung puter.


Eurasia Collared Dove


Penyebutan burung puter lokal untuk burung puter yang bersuara pendek-pendek juga tidak tepat. Yang berhak menyandang sebagai burung puter lokal itu adalah Dederuk Jawa (nama komersialnya puter geni) dengan nama ilmiahnya Streptopelia bitorquata. Sedang burung puter yang biasa kita pelihara bahkan sejak kakek nenek kita dahulu itu dari jenis yang berbeda. Nama ilmiahnya Streptopelia risoria.

Entah sejak kapan burung puter ini hadir di Indonesia, sehinga kita mengira bahkan bersikeras mengakui bahwa burung ini adalah burung asli Indonesia. Kita sangat familiar dengan penyebutan Puter Irak, Puter Bangkok, Puter Brenggolo, dan entah apalagi. Kemungkinan besar burung puter ini sudah masuk Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda atau setelahnya. Karena sejak abad ke-16 burung ini banyak ditemui di Eropa.

Menurut beberapa pakar serta pemerhati burung anggungan dan salah satunya adalah Hendrik Tanoto dari Bandung, menyatakan bahwa burung puter yang selama ini menjadi klangenan sejak dahulu itu adalah burung hasil domestikasi dari African Collared Dove. Burung ini habitatnya ada di benua Afrika sana.


Sepasang puter geni


Ini sama halnya istilah di ayam. Selama ini dikenal adanya ayam kampung, ayam negeri, ayam cemani, ayam pelung, dll, nyatanya semua itu hasil dari domestikasi dari ayam hutam merah. Sama halnya juga dengan merpati yang juga hasil domestikasi dari Rock Pigeon.

Burung puter yang dikenal sebagai Streptopelia risoria (Linnaeus, 1758) telah lama membingungkan para ahli burung. Linnaeus (Carolus Linnaeus atau Carl von Linne disebut sebagai “Bapak Taksonomi” dalam buku yang ditulisnya, Systema Nature/Sistematika Alamiah) menggambarkan jenis burung puter domestik tetapi hidup liar dan saat itu belum diketahui namanya. Burung yang dimaksud itu adalah African Collared Dove yang masih hidup liar dan bukan yang selama ini ditemui. Pada akhirnya burung itu dinamai dengan Streptopelia roseogrisea (Sundeval, 1857).

Pada tahun 2008, ICZN (International Commission on Zooligal Nomenclature) sebuah komisi internasional yang mengatur penamaan organisme, memutuskan bahwa African Collared Dove yang masih hidup liar itu dengan nama ilmiah Streptopelia roseogrisea dan yang telah mengalami domestikasi dengan nama Barbary Dove bernama ilmiah Streptopelia risoria.

Barbary Dove sudah dikenal di abad ke-16 tetapi rincian tentang domestikasinya tidak lengkap. Pada saat itu Barbary Dove terdapat dua varian warna bulu yakni yang satu mempunyai bulu berwarna coklat kekuningan agak pucat dan satunya lagi berwarna agak putih. Warna gelap asli dari spesies leluhurnya tidak diketahui keberadaannya di penangkaran. Mungkin hal ini yang bisa menjawab terjadinya mutasi warna di burung puter.

Barbary Dove juga dikenal sebagai Ringed Dove atau Ringnek Dove. Di beberapa negara Eropa terkadang disebut juga dengan “Laughing Dove” karena suara yang terdengar saat akan mbekur (bersuara untuk menarik perhatian si betina). Sebaliknya untuk Laughing Dove nama ilmiahnya Streptopelia senegalensis sendiri saat berbunyi malah tidak seperti orang yang sedang tertawa sama sekali.

Jauh sebelum nenek moyang burung puter diketahui oleh para ahli, Barbary Dove telah dideskripsikan oleh Linnaeus sebagai Columba risoria (risoris dalam bahasa Latin mempunyai arti tertawa). Itu didasari dari suara yang dikeluarkan saat akan mbekur yang seperti orang cekikikan.


Puter pelung jadi klangenan banyak orang


Memang banyak spesies Streptopelia yang sangat mirip dan nama risoria sering digunakan untuk spesies lain yang lebih mirip yakni Eurasia Collared Dove atau Streptopelia decaocto. Tetapi Eurasia Collared Dove diketahui belum masuk benua Eropa di abad ke-16.

Agar tidak membuat bingung jadi istilah Domestikasi adalah proses perubahaan dari hewan liar menjadi hewan peliharaan. Hewan yang mengalami domestikasi hidupnya bergantung penuh kepada manusia dan digunakan untuk kepentingan manusia yang memeliharanya.

Hewan yang sudah mengalami domestikasi mempunyai sifat/karakter yang jinak dan sangat sulit untuk kembali berubah menjadi liar. Domestikasi bukanlah penjinakkan. Karena kalau sekedar penjinakkan sifat liarnya masih bisa kembali saat dia lepas dari tangan manusia.


Saat ini semakin banyak yang menernakkan  burung puter pelung


Menurut ahli biologi Jared Mason Diamond, hewan yang bisa mengalami domestikasi harus memenuhi paling tidak 6 kriteria.

Berikut kriteria hewan agar dapat didomestikasi :

1. Pakannya mudah didapatkan, hewan tersebut harus mau memakan makanan yang mudah didapatkan di sekitar lingkungan manusia.

2. Pertumbuhannya cepat sehingga dapat mempercepat proses perkembangbiakkan dan pemanfaatannya.

3. Memungkinkan untuk dikembangbiakkan di penangkaran.

4. Tidak agresif.

5. Tidak mudah stres.

6. Memiliki hirarki sosial yang dapat dimodifikasi.

Karena syarat-syarat itulah, kebanyakan domestikasi dilakukan pertama-pertama untuk keperluan kesenangan semata sebagai hewan peliharaan. Domestikasi memerlukan waktu puluhan generasi untuk mendapatkan individu baru yang benar-benar adaptif dengan lingkungan buatan manusia.

Proses domestikasi burung puter ini diyakini telah berlangsung sekitar 2000 – 3000 tahun lamanya. dan sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Kemudian juga terjadi mutasi warna bulu. Yang awalnya muncul adalah warna blond dan white (warna putih ini bukan albino).

Lalu tidak muncul mutasi warna lain sampai beratus-ratus tahun kemudian. Sampai orang awam tidak tahu lagi mengenai asal-usul burung puter ini. Bahkan sampai muncul anggapan bahwa burung puter berwarna blond dan yang berwarna white adalah jenis berbeda.

Berikut klasifikasi dari burung puter yang Kita pelihara saat ini :

• Staus konservasi : domestikasi

• Kingdom : Animalia

• Phylum : Chordata

• Class : Aves

• Family : Columbidae

• Genus : Streptopelia

• Spesies : Streptopelia risoria

Kita musti bangga karena burung puter pelung ini hanya ada di Indonesia. Meskipun dari jenis yang sama dengan Ringed Dove di dunia, tetapi yang bersuara panjang hanya ditemui di Indonesia. Diyakini bahwa telah terjadi pembiakan selektif terhadap burung puter yang ada di Indonesia. Utamanya di Kotagede – Yogyakarta.

Walaupun kebenarannya masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Tetapi dahulu di tahun 1980an, orang sering menyebut burung puter yang bersuara panjang ini dengan puter Yogya. Bisa jadi itu adalah indikasi bahwa burung puter pelung ini memang muncul dari sana.


Burung puter pelung di teras rumah


Apa itu pembiakan selektif? Pembiakan selektif adalah pembiakan yang melibatkan indukan pilihan dengan karekteristik khusus untuk dikembangbiakkan agar menghasilkan keturunan sesuai dengan karakteristik yang diinginkan oleh manusia yang mengembangbiakkannya.

Kesimpulan yang didapat :

1. Burung Puter Lokal adalah Dederuk Jawa dengan nama ilmiahnya Streptopelia bitorquata.

2. Burung Puter Pelung adalah burung puter trah Indonesia, bersuara panjang dengan nama ilmiahnya Streptopelia risoria.

3. Burung Puter (biasa) adalah burung puter sejenis dengan burung puter pelung (Streptopelia risoria) namun bersuara pendek-pendek.

4. Burung Puter Irak adalah burung puter masih dari jenis yang sama (Streptopleia risoria) hanya berwarna tangerine.


Lomba seni suara alam burung puter pelung


Jadi sekali lagi kita musti bangga karena burung puter pelung ini ternyata hanya ada di Indonesia. Tugas kita untuk menjaga, merawat, dan melestarikannya. Kalau bukan kita yang melestarikannya, terus sapa lagi? Jangan menunggu burung puter pelung ini juga diklaim oleh negara tetangga, lalu kita marah-marah lagi. Semoga dapat menambah wawasan kita tentang burung puter dan meluruskan penggunaan istilah yang tidak tepat. Semoga bermanfaat. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Asal Usul Burung Puter Pelung di Indonesia


Kuau-kerdil Kalimantan, Merak Mini Endemik yang Terancam Punah

Kuau-kerdil Kalimantan (Polyplectron schleiermacheri) merupakan burung endemik Pulau Kalimantan yang sangat langka dan berkerabat dengan bu...