Jumat, 28 Oktober 2022

Puter Lokal, Burung Puter Endemik Indonesia yang Hidup di Hutan Mangrove



Puter lokal (Streptopelia bitorquata) merupakan burung endemik Indonesia. Burung puter ini berbeda dengan burung puter yang sebelumnya sudah lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia. Puter lokal sering disebut masyarakat untuk burung puter dengan suara tengah yang pendek-pendek.

Padahal burung puter yang dimaksud mempunyai nama latin Stretopelia risoria. Burung puter yang ini bukanlah burung endemik Indonesia. Banyak dari masyarakat penghobi burung anggungan masih sering salah mengartikan burung puter lokal ini dengan jenis puter lain yang lebih banyak dipelihara di rumah-rumah untuk dinikmati keindahaan suaranya.

Pengertian dari kata lokal adalah suatu hal yang berasal dari daerah itu sendiri. Kata lokal sangat sering diucapkan oleh masyarakat namun pengartiannya memang beragam. Kata lokal bisa digunakan bersamaan dengan kata kebudayaan, kata penduduk, kata orang, dan masih banyak lagi.

Lokal adalah sesuatu yang berasal dari daerah asli. Sehingga jika menyebut kata puter lokal maka itu artinya adalah burung asli dari daerah tersebut. Dengan kata lain merupakan satwa endemik Indonesia. Satwa asli Indonesia.


Puter lokal atau puter geni mempunyai habitat di daerah hutan mangrove


Satwa endemik adalah spesies satwa alami yang mendiami suatu wilayah atau daerah tertentu yang menjadikan wilayah tersebut mempunyai ciri khas karena tidak ditemukan di daerah lain. Jadi suatu satwa itu dikatakan hewan endemik jika spesies tersebut merupakan spesies asli yang hanya bisa ditemukan di sebuah tempat dan tidak ditemukan di wilayah lain.

Ada beberapa penyebutan untuk burung puter lokal yang merupakan burung endemik Indonesia ini diantaranya Baster, Dederuk Jawa, Putar (Sunda), Kukur (Sumatera), Puter geni, puter lumut (Jawa), Tekukur (Minahasa). Dan nama keren dari burung puter lokal ini adalah Sunda collared dove dengan nama ilmiahnya Streptopelia bitorquata.

Puter lokal/Dederuk Jawa adalah spesies burung dalam keluarga Columbidae (Merpati-Merpatian) yang mempunyai 13 spesies. Spesies ini (Sreptopelia bitorquata) tersebar mulai dari Sumatera, Jawa dan Bali , hingga ke Komodo, Lombok, Sumbawa, Timor, Flores, dan Solor.

Habitat alaminya adalah hutan dataran rendah yang lembab dan hutan bakau. Puter lokal ini di beberapa daerah sudah sangat susah dijumpai. Itu semua disebabkan habitat alaminya sudah sangat berkurang karena perambahan hutan, alih fungsi lahan dan perburuan yang dilakukan manusia.


Kini banyak yang telah menangkarkannya


Usaha konservasi harus digiatkan untuk menyelamatkan keberadaannya. Masih sangat sedikit yang berusaha menernakkannya. Karena dari sisi suara masih kalah merdu dengan puter pelung, jadi diternak karena faktor eksotisme dari satwa tersebut.

Ciri-Ciri yang paling mudah dikenali adalah adanya kalung hitam putih pada bagian lehernya. Tubuh berukuran sedang sekitar 30 cm, berekor panjang. Tubuh warna coklat kemerah-jambuan. Mirip Tekukur/Derkuku, perbedaan antara tekukur/derkuku biasa dengan burung puter lokal/dederuk jawa adalah warna kepala lebih abu-abu.


Anakan puter lokal



Bercak hitam pada sisi leher bertepi putih. Tidak berbintik putih. Bagian tengah membujur bulu ekor berwarna coklat. Kedua sisi bulu ekor abu-abu dengan tepi agak putih. Iris jingga, paruh hitam dengan pangkal merah, kaki merah keunguan. Suaranya adalah “Kuk… Keruk…kuk”.

Burung puter lokal/dederuk jawa makanan sehari-harinya biji-bijian. Burung ini senang dengan beras merah, jagung dan kacang hijau. Dederuk Jawa atau puter lumut, ada juga yang menyebutnya puter geni, mempunyai suara yang sangat khas, dan saat ini masih jarang dibudidayakan. Sehingga pasokan penghobi masih didapat dari alam yg mulai terbatas, siapa tertarik membudidayakan nya?

Puter lokal ini sering terlihat di tempat-tempat terbuka, di area pedesaan yang tidak jauh dari hutan, terutama di hutan mangrove. Bertengger di pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi. Sering kali turun di kawasan terbuka di atas permukaan tanah, sepasang atau dalam kelompok-kelompok kecil. Ke area persawahan untuk mencari makan.

Senasib dengan burung-burung lain di Indonesia, burung ini banyak diburu dengan cara dijaring atau dengan perangkap lain untuk dijadikan burung peliharaan. Juga menjadi sasaran penembakan para pemburu.


Sepasang puter lokal belajar mandiri


Alhasil, populasi burung ini semakin hari semakin sedikit. Di alam liar, burung ini nyaris tak pernah terdengar suaranya lagi. Karena dianggap kurang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga sangat sedikit yang berusaha menangkarkannya.

Saat ini ada beberapa penangkar yang telah membudidayakannya, terutama karena daya tarik dari warnanya. Juga seringkali dikawin silangkan dengan jenis lain agar mendapatkan anakan yang semakin cantik penampilannya.

Di panangkaran puter lokal atau puter geni ini sering mengkonsumsi makanan seperti jewawut, milet, gabah, jagung bahkan voor ayam (makanan buatan pabrik). Kita berharap burung asli Indonesia ini tetap lestari. (Ramlee)


Jumat, 14 Oktober 2022

Kalikan Startup Marketplace Ikan Hias Air Tawar untuk Mengembangkan Potensi Ekonomi Kerakyatan



Kalikan, sebuah start-up digital besutan Dian Rachmawan melihat peluang untuk mengembangkan potensi ekonomi kerakyatan. Pemulihan pandemi menawarkan kesempatan peningkatan daya-saing bagi UMKM dengan belajar bagaimana cara mengadopsi teknologi digital dan e-commerce, namun hampir mustahil pelaku UMKM membangun e-commerce sendiri-sendiri, melengkapi diri dengan fasilitas Instalasi Karantina Ikan supaya bisa mampu ekspor.

“Kita sedang hidup di peradaban Internet. Zaman internet telah membuktikan keberhasilan terobosan konsep Ekonomi Berbagi (Sharing Economy) ketimbang konsep ekonomi berbasis kepemilikan. UMKM yang kecil namun banyak bersatu dalam naungan satu Marketplace- bernama KALIKAN, Insya’ Allah akan mendorong pertumbuhan inklusif ekonomi Indonesia,” kata Dian.

Kalikan hadir untuk para pecinta, pembudidaya, UMKM dan Komunitas ikan hias Indonesia. Yang mempunyai visi membuat Indonesia yang kaya akan ragam ikan hias air tawarnya tersebut unggul. Karena industri ikan hias air tawar mempunyai potensi menggiurkan yang mendatangkan penghasilan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).


Ikan hias kias digandrungi masyarakat


Kalikan berinisiatif membangun pusat rekreasi yang mengeksplorasi sophistikasi ikan hias air tawar yang berasal dan keragaman ikan nusantara. Meningkatnya popularitas ikan hias warna-warni seperti Ikan Mas, Ikan Koi, Guppy, Corry Catfish, Tiger Fish, Ikan Cupang dan Ikan Arwana untuk kolam dan akuarium di kantor maupun rumah sebagai bagian dari gaya hidup modern, diprediksi akan mendorong pertumbuhan bisnisikan hias air tawar.

Sebagai Platform Digital, Kalikan akan membantu seluruh pelaku ekosistem ikan hias air tawar (Pembudi daya, Pemasar, Penghobi) melakukan digitalisasi hulu hilir sektor ikan hias air tawar. Sesuai dengan Misi Pemerintah yang berkehendak menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor nomor satu dunia.

Kalikan yang merupakan brand digital marketplace dikembangkan untuk menumbuhkan ekosistem digital bagi para UMKM ikan hias air tawar, serta pengembangan dan pemberdayaan kewirausahaan UMKM untuk dapat bersaing di pasar nasional dan internasional.

Ekosistem yang dibangun di antaranya marketplace, asosiasi, digital platform, dan taman ikan hias air tawar. Marketplace Kalikan adalah kumpulan Toko digital dari semua pelaku UMKM yang tergabung dalam APIHATI (Asosiasi Pengusaha Ikan Hias Air Tawar Indonesia).


Salah sudut sentra penjualan ikan hias


Setiap Toko dapat dengan mudah membuat dan mengelola akun mereka sendiri di platform digital KALIKAN. Toko setiap saat bisa menambahkan informasi produk dalam bentuk multimedia (text, audio, video, gambar) agar menarik perhatian calon pembeli dan importer yang akan mencari dan membeli.

Rating dan review akan diberikan oleh kastamer sebagai umpan balik peningkatan mutu Marketplace. Khusus pengiriman ekspor, Kalikan bekerjasama dengan mitra logistik yang kompeten, untuk memastikan pengiriman ikan hidup aman dan cepat sampai ke tangan konsumen.

Kalikan dibentuk karena melihat ada potensi ekonomi kerakayatan pada ikan hias tawar. Pasar global industri ikan hias makin melejit yang kini bernilai USD 13,17 miliar atau Rp 200 triliun lebih pada 2020. Diperkirakan ada delapan juta rumah di Indonesia yang memelihara ikan hias.

Peluang itu yang didorong oleh Kalikan saat ini agar pelaku UMKM dapat mengekspor ikan hias air tawar melalui marketplace buatannya. Kalikan hanya berhubungan dengan ikan hias air tawar yang mana itu ikan sungai atau danau saja, tidak dengan jenis ikan air laut.


Bisnis ikan hias kian menjanjikan


“Ekonomi ikan hias ini adalah ekonomi kerakyatan, mampu memberikan lapangan kerja yang masif mulai dari petani, penjual sampai tukang pembersih akuarium, membangunkan lahan-lahan tidur yang tidak produktif, menciptakan usaha-usaha turunan seperti pakan ulat, jangkrik, akuascape, tanaman hias, kerajinan akuarium,” pungkas Dian.

Untuk memperkenalkan Kalikan sebagai pusat keunggulan ikan hias air tawar Indonesia, pada tanggal 14 Oktober 2022 mengadakan pameran, ekshibisi, kontes sekaligus selama hari penuh bertajuk KALIKAN EXPO 2022.

Pameran ini diikuti oleh 200 pelaku UMKM, didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, disamping pameran ikan hias dan aquascape juga dilaksanakan kontes dan ekshibisi ikan primadona seperti Channa, Cichild, Louhan, Betta, Arwana, Koi, Discus dan Goldfish. (Ramlee)


Kamis, 13 Oktober 2022

Puter Pelung, Burung Asal Afrika yang Begitu Diminati di Indonesia



Puter pelung (Streptopelia risoria) merupakan burung anggungan yang populer karena suara merdunya yang mengalun panjang, dalam, dan berirama. Burung puter pelung begitu diminati oleh para penghobi akhir – akhir ini. Lombanya pun begitu marak dimana-mana, utamanya di pulau Jawa. Untuk luar Jawa sebenarnya sudah banyak pula yang menjadikannya klangenan baru. Di pulau Bali dan Lombok, sudah banyak yang memelihara. Lombanya juga kerap diadakan, hanya karena adanya pandemi sehingga gaungnya agak kurang terdengar.

Banyak yang mengira burung ini adalah satwa endemik Indonesia. Satwa endemik adalah spesies hewan alami yang mendiami suatu wilayah atau daerah tertentu yang menjadikan wilayah tersebut mempunyai ciri khas karena tidak ditemukan di daerah lain. Suatu hewan dikatakan sebagai hewan endemik jika spesies tersebut merupakan spesies asli yang hanya bisa ditemukan di sebuah di sebuah tempat tertentu dan tidak ditemukan di wilayah lain.

Burung puter pelung yang selama ini kita kenal dan yakini sebagai satwa endemik Indonesia, nyatanya tidak demikian. Burung puter terkadang juga disebut dengan puter lokal karena bersuara pendek-pendek dan burung puter pelung yang bersuara panjang sejatinya bukanlah satwa asli Nusantara. Banyak kerancuan terjadi berkaitan dengan penyebutan burung puter.


Eurasia Collared Dove


Penyebutan burung puter lokal untuk burung puter yang bersuara pendek-pendek juga tidak tepat. Yang berhak menyandang sebagai burung puter lokal itu adalah Dederuk Jawa (nama komersialnya puter geni) dengan nama ilmiahnya Streptopelia bitorquata. Sedang burung puter yang biasa kita pelihara bahkan sejak kakek nenek kita dahulu itu dari jenis yang berbeda. Nama ilmiahnya Streptopelia risoria.

Entah sejak kapan burung puter ini hadir di Indonesia, sehinga kita mengira bahkan bersikeras mengakui bahwa burung ini adalah burung asli Indonesia. Kita sangat familiar dengan penyebutan Puter Irak, Puter Bangkok, Puter Brenggolo, dan entah apalagi. Kemungkinan besar burung puter ini sudah masuk Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda atau setelahnya. Karena sejak abad ke-16 burung ini banyak ditemui di Eropa.

Menurut beberapa pakar serta pemerhati burung anggungan dan salah satunya adalah Hendrik Tanoto dari Bandung, menyatakan bahwa burung puter yang selama ini menjadi klangenan sejak dahulu itu adalah burung hasil domestikasi dari African Collared Dove. Burung ini habitatnya ada di benua Afrika sana.


Sepasang puter geni


Ini sama halnya istilah di ayam. Selama ini dikenal adanya ayam kampung, ayam negeri, ayam cemani, ayam pelung, dll, nyatanya semua itu hasil dari domestikasi dari ayam hutam merah. Sama halnya juga dengan merpati yang juga hasil domestikasi dari Rock Pigeon.

Burung puter yang dikenal sebagai Streptopelia risoria (Linnaeus, 1758) telah lama membingungkan para ahli burung. Linnaeus (Carolus Linnaeus atau Carl von Linne disebut sebagai “Bapak Taksonomi” dalam buku yang ditulisnya, Systema Nature/Sistematika Alamiah) menggambarkan jenis burung puter domestik tetapi hidup liar dan saat itu belum diketahui namanya. Burung yang dimaksud itu adalah African Collared Dove yang masih hidup liar dan bukan yang selama ini ditemui. Pada akhirnya burung itu dinamai dengan Streptopelia roseogrisea (Sundeval, 1857).

Pada tahun 2008, ICZN (International Commission on Zooligal Nomenclature) sebuah komisi internasional yang mengatur penamaan organisme, memutuskan bahwa African Collared Dove yang masih hidup liar itu dengan nama ilmiah Streptopelia roseogrisea dan yang telah mengalami domestikasi dengan nama Barbary Dove bernama ilmiah Streptopelia risoria.

Barbary Dove sudah dikenal di abad ke-16 tetapi rincian tentang domestikasinya tidak lengkap. Pada saat itu Barbary Dove terdapat dua varian warna bulu yakni yang satu mempunyai bulu berwarna coklat kekuningan agak pucat dan satunya lagi berwarna agak putih. Warna gelap asli dari spesies leluhurnya tidak diketahui keberadaannya di penangkaran. Mungkin hal ini yang bisa menjawab terjadinya mutasi warna di burung puter.

Barbary Dove juga dikenal sebagai Ringed Dove atau Ringnek Dove. Di beberapa negara Eropa terkadang disebut juga dengan “Laughing Dove” karena suara yang terdengar saat akan mbekur (bersuara untuk menarik perhatian si betina). Sebaliknya untuk Laughing Dove nama ilmiahnya Streptopelia senegalensis sendiri saat berbunyi malah tidak seperti orang yang sedang tertawa sama sekali.

Jauh sebelum nenek moyang burung puter diketahui oleh para ahli, Barbary Dove telah dideskripsikan oleh Linnaeus sebagai Columba risoria (risoris dalam bahasa Latin mempunyai arti tertawa). Itu didasari dari suara yang dikeluarkan saat akan mbekur yang seperti orang cekikikan.


Puter pelung jadi klangenan banyak orang


Memang banyak spesies Streptopelia yang sangat mirip dan nama risoria sering digunakan untuk spesies lain yang lebih mirip yakni Eurasia Collared Dove atau Streptopelia decaocto. Tetapi Eurasia Collared Dove diketahui belum masuk benua Eropa di abad ke-16.

Agar tidak membuat bingung jadi istilah Domestikasi adalah proses perubahaan dari hewan liar menjadi hewan peliharaan. Hewan yang mengalami domestikasi hidupnya bergantung penuh kepada manusia dan digunakan untuk kepentingan manusia yang memeliharanya.

Hewan yang sudah mengalami domestikasi mempunyai sifat/karakter yang jinak dan sangat sulit untuk kembali berubah menjadi liar. Domestikasi bukanlah penjinakkan. Karena kalau sekedar penjinakkan sifat liarnya masih bisa kembali saat dia lepas dari tangan manusia.


Saat ini semakin banyak yang menernakkan  burung puter pelung


Menurut ahli biologi Jared Mason Diamond, hewan yang bisa mengalami domestikasi harus memenuhi paling tidak 6 kriteria.

Berikut kriteria hewan agar dapat didomestikasi :

1. Pakannya mudah didapatkan, hewan tersebut harus mau memakan makanan yang mudah didapatkan di sekitar lingkungan manusia.

2. Pertumbuhannya cepat sehingga dapat mempercepat proses perkembangbiakkan dan pemanfaatannya.

3. Memungkinkan untuk dikembangbiakkan di penangkaran.

4. Tidak agresif.

5. Tidak mudah stres.

6. Memiliki hirarki sosial yang dapat dimodifikasi.

Karena syarat-syarat itulah, kebanyakan domestikasi dilakukan pertama-pertama untuk keperluan kesenangan semata sebagai hewan peliharaan. Domestikasi memerlukan waktu puluhan generasi untuk mendapatkan individu baru yang benar-benar adaptif dengan lingkungan buatan manusia.

Proses domestikasi burung puter ini diyakini telah berlangsung sekitar 2000 – 3000 tahun lamanya. dan sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Kemudian juga terjadi mutasi warna bulu. Yang awalnya muncul adalah warna blond dan white (warna putih ini bukan albino).

Lalu tidak muncul mutasi warna lain sampai beratus-ratus tahun kemudian. Sampai orang awam tidak tahu lagi mengenai asal-usul burung puter ini. Bahkan sampai muncul anggapan bahwa burung puter berwarna blond dan yang berwarna white adalah jenis berbeda.

Berikut klasifikasi dari burung puter yang Kita pelihara saat ini :

• Staus konservasi : domestikasi

• Kingdom : Animalia

• Phylum : Chordata

• Class : Aves

• Family : Columbidae

• Genus : Streptopelia

• Spesies : Streptopelia risoria

Kita musti bangga karena burung puter pelung ini hanya ada di Indonesia. Meskipun dari jenis yang sama dengan Ringed Dove di dunia, tetapi yang bersuara panjang hanya ditemui di Indonesia. Diyakini bahwa telah terjadi pembiakan selektif terhadap burung puter yang ada di Indonesia. Utamanya di Kotagede – Yogyakarta.

Walaupun kebenarannya masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Tetapi dahulu di tahun 1980an, orang sering menyebut burung puter yang bersuara panjang ini dengan puter Yogya. Bisa jadi itu adalah indikasi bahwa burung puter pelung ini memang muncul dari sana.


Burung puter pelung di teras rumah


Apa itu pembiakan selektif? Pembiakan selektif adalah pembiakan yang melibatkan indukan pilihan dengan karekteristik khusus untuk dikembangbiakkan agar menghasilkan keturunan sesuai dengan karakteristik yang diinginkan oleh manusia yang mengembangbiakkannya.

Kesimpulan yang didapat :

1. Burung Puter Lokal adalah Dederuk Jawa dengan nama ilmiahnya Streptopelia bitorquata.

2. Burung Puter Pelung adalah burung puter trah Indonesia, bersuara panjang dengan nama ilmiahnya Streptopelia risoria.

3. Burung Puter (biasa) adalah burung puter sejenis dengan burung puter pelung (Streptopelia risoria) namun bersuara pendek-pendek.

4. Burung Puter Irak adalah burung puter masih dari jenis yang sama (Streptopleia risoria) hanya berwarna tangerine.


Lomba seni suara alam burung puter pelung


Jadi sekali lagi kita musti bangga karena burung puter pelung ini ternyata hanya ada di Indonesia. Tugas kita untuk menjaga, merawat, dan melestarikannya. Kalau bukan kita yang melestarikannya, terus sapa lagi? Jangan menunggu burung puter pelung ini juga diklaim oleh negara tetangga, lalu kita marah-marah lagi. Semoga dapat menambah wawasan kita tentang burung puter dan meluruskan penggunaan istilah yang tidak tepat. Semoga bermanfaat. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Asal Usul Burung Puter Pelung di Indonesia


Kamis, 21 Oktober 2021

Tata Cara Penilaian Lomba Seni Suara Burung Puter Pelung



Pada saat mengikuti event lomba seni suara alam burung puter pelung yang marak diselenggarakan dimana-mana, sudah seharusnya peserta mengerti tata cara penilaian yang dilakukan oleh juri-juri yang bertugas. Sehingga tidak ada perasaan adanya ketidak adilan ketika burung besutannya mengalami kekalahan.

Seringkali saat di lapangan, di area gantangan, penggemar burung puter pelung belum semuanya memiliki pengetahuan yang cukup, dan kadang hanya bermodalkan harga beli burungnya yang mahal sehingga berharap banyak burungnya akan menjadi juara. Anggapan tersebut sah-sah saja, tetapi perlu pahamkan serta diluruskan terkait sistem penilaian saat lomba.

Hanya burung yang berkualitas saja yang akan menjadi juara. Burung juara tentu saja mempunyai kualitas suara yang sesuai dengan pakem penilaian suatu organisasi yang menyelenggarakan lomba tersebut. Yang lebih penting lagi, burung yang mempunyai kualitas anggung yang baik juga harus ditunjang dengan aktifnya burung yang berlomba dalam memamerkan keindahan anggungnya.

Seperti yang dituturkan oleh Bekti Setyo Utomo, seorang juri sekaligus Ketua III Bidang Kejurian Pengda PPPPSI Jawa Timur. Selama ini dirinya melihat masih ada peserta yang merasa tidak puas dengan penjurian, akibatnya masih terlihat adanya protes. Hal inilah dinilai oleh Bekti bukan semata-mata kesalahan juri, namun bisa karena pemahaman peserta akan sistem penjurian yang dinilai kurang.

Cara yang tepat mengakhiri kemelut ini adalah dengan jalan memahamkan peserta. Agar masalah yang seringkali timbul dari belum pahamnya peserta tentang penjurian burung puter pelung, bisa segera berakhir, dengan memberikan sosialisasi tentang penilaian yang diberikan.


Juri-juri Pengda PPPPSI Jawa Timur


“Unsur dalam sebuah perlombaan burung puter pelung adalah peserta, juri, dan burung itu sendiri. Ketiga unsur ini tidak bisa dilepaskan,” terang Bekti. Menurutnya peserta harus punya pemahaman yang baik. Baik yang di maksudkan disini adalah kalau peserta paham kualitas burung dan nilai burung, sehingga ia akan mampu mengikuti aturan main penjurian yang sudah ditentukan.

Selama mereka, para peserta tidak memiliki pemahaman, maka ketidak puasan disertai protes akan terus ada. Dampak lain dari pahamnya peserta, maka mereka tidak akan meleset dalam mengorbitkan burung dan dampak lain yang dinilai lebih penting adalah peserta tidak akan bisa diakal-akali.

Pemain burung puter pelung saat melombakan jawaranya, kadang juga tidak sabar apabila burung yang sedang bunyi langsung minta ditancepin bendera koncer. Karena juri harus menilai bagaimana suara depannya, tengah, ujung, dasar suara, dan gaya iramanya, sebelum akhirnya memberikan bendera koncer.

Bagi yang belum paham dasar penilaian seni suara alam burung puter pelung, berikut tata nilai yang sudah diterbitkan oleh Perkumpulan Penggemar dan Pelestari Puter Seluruh Indonesia (PPPPSI). Ada beberapa kriteria suara yang dinilai.


I. Suara Depan/Angkatan

Yang dimaksud dengan suara depan adalah bagian suara anggung yang terdengar pertama pada saat burung puter mengeluarkan suara (unsur pertama dari suara burung puter). Nilai maksimal suara depan adalah 9. Contoh suara depan : Khuuk, Kluk, Kruk, dan sebagainya.

Suara depan dibagi 3 sub unsur dalam penilaian dan diharapkan ketiga sub unsur tersebut dapat terpenuhi. Ketiga sub unsur dari suara depan yaitu :

1. Jelas

Yang dimaksud dengan jelas adalah suara depan tersebut terdengar sangat jelas.

2. Bertekanan

Yang dimaksud dengan bertekanan adalah suara depan tersebut memiliki tekanan suara sehingga terdengar cukup kuat dan bertenaga (Kug).

3. Bersih

Bersih adalah suara yang tidak terdengar serak/tidak kotor, tidak goyang dan suara tidak bergetar. Suara depan diharapkan tidak ada unsur R dan L.


Penilaian dalam suatu lomba puter pelung sedang dilakukan


II. Suara Tengah

Yang dimaksud dengan suara tengah adalah bagian suara atau unsur anggung yang terdengar berada di antara suara depan dan suara ujung. Suara tengah terdengar setelah suara depan berbunyi. Suara tengah ini sangat penting dalam membentuk cengkok lagu pada tiap alunan lengkap anggung burung puter. Nilai maksimal untuk suara tengah adalah 9. Contoh suara tengah : GEERUUuuuuUUU dan sebagainya

Suara tengah dibagi 3 sub unsur dalam penilaian dan diharapkan ketiga sub unsur tersebut dapat terpenuhi. Ketiga sub unsur dari suara tengah yaitu :

1. Panjang

Panjang adalah nada suara yang mengalami proses marginal, sehingga terjadi perubahan nada yang mempengaruhi alunan suara tengah dan terdengar panjang (tidak putus – putus).

2. Melung/Ngelik

Melung/Ngelik adalah proses suara yang menekan dari nada rendah ke nada yang lebih tinggi lalu diakhiri dengan kembali ke nada rendah lagi. Nada meninggi bisa diartikan volume suara mengecil bertekanan. Perlu diperhatikan bahwa ukuran besar kecilnya volume suara tidak mempengaruhi proses melung ini.

3. Bersih

Bersih adalah suara yang terdengar tidak bergetar / serak (tidak ada unsur R) dan tidak terdengar putus-putus (ngguguk).


Para peserta memantau kinerja gacoannya masing-masing


III. Suara Ujung

Yang dimaksud dengan suara ujung adalah suara/unsur yang terdengar di bagian akhir dari alunan suara lengkap puter. Suara ujung terdiri dari dua not nada suara dan terdengar secara bergantian dengan interval yang beraturan. Contoh : Kuu-Wook, Khuu-Whook, dan sebagainya.

Nilai maksimal suara ujung adalah 9. Suara ujung dibagi 3 sub unsur dalam penilaian dan diharapkan ketiga sub unsur tersebut dapat terpenuhi. Ketiga sub unsur dari suara ujung yaitu :

1. Lengkap

Suara ujung yang lengkap harus memiliki 2 not nada suara, contoh : kuu-wook, khuu-whook, ke-wook dan sebagainya. Apabila suara ujung hanya terdiri dari satu not saja, maka suara ujung tersebut dianggap tidak lengkap.

2. Jelas

Yang dimaksud dengan jelas adalah 2 not suara ujung tersebut terdengar secara bergantian, terdengar sangat jelas menekan disertai interval yang beraturan.Contoh : Khu-Whook, Khe-Whook.

3. Bersih

Bersih adalah suara yang tidak terdengar serak / kotor dan suara tidak bergetar. Suara depan diharapkan tidak ada unsur R dan L.


IV. Dasar Suara

Dasar suara adalah dasar yang merupakan asal terbentuknya alunan suara anggung burung puter dan sangat mempengaruhi anggung burung puter tersebut. Dasar suara dinilai terpisah juga seperti unsur depan, tengah dan ujung, akan tetapi nilai dasar suara sangat mempengaruhi nilai tiap sub unsur dari tiap unsur dalam anggungan.

Dalam dasar suara ini ada istilah dasar suara yang baik adalah dasar suara yang serba cukup dan tidak berlebihan pada tiap sub unsurnya. Nilai maksimal pada dasar suara adalah 9. Dasar Suara dibagi 3 sub unsur dalam penilaian dan diharapkan ketiga sub unsur tersebut dapat terpenuhi. Ketiga sub unsur dari Dasar Suara yaitu :

1. Tebal

Tebal berarti suara yang bulat dan utuh. Suara yang sangat tidak tebal/tipis maka akan terdengar pecah.

2. Kering

Kering dapat diartikan dengan suara nyaring. Nyaring yang cukup dan ditambah dengan tebal yang cukup maka suara akan terdengar lantang. Perlu diperhatikan, untuk suara kering yang berlebihan akan mengakibatkan hilang suara atau biasa disebut dengan salit.

3. Bening

Bening berarti suara yang bersih sekali atau jernih sekali, sehingga suara menjadi empuk dan berdengung (mbrengengeng/bergema).


Bangganya ketika gacoannya juara


V. Cengkok/Gaya Irama

Cengkok/Gaya Irama adalah rangkuman dari alunan anggung yang lengkap mulai dari suara depan, tengah, ujung serta dari bunyi pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Dimaksudkan bahwa cengkok/gaya irama yang baik adalah stabil jarak inter anggung yang harmonis (senggang-senggang), jarak antar anggung yang harmonis (lenggang-lenggang) dan benar – benar lengkap depan, tengah dan ujung secara terus menerus.

Cengkok/gaya irama juga bisa diartikan harmonisasi anggung secara lengkap dan terus menerus. Nilai maksimal untuk cengkok / gaya irama adalah 9. Cengkok/Gaya Irama dibagi 3 sub unsur dalam penilaian dan diharapkan ketiga sub unsur tersebut dapat terpenuhi. Ketiga sub unsur dari cengkok/gaya irama yaitu :

1. Inter Anggung

Inter anggung adalah jarak antara suara depan, tengah, ujung. Inter anggung yang baik adalah anggung dengan jarak yang cukup dan harmonis antara suara depan, suara tengah, dan suara ujung.

2. Antar Anggung

Antar anggung adalah jarak antara anggung / bunyi pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Antar anggung yang baik adalah anggung dengan jarak yang cukup dan harmonis antara anggung pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya (lenggang-lenggang).

3. Stabil

Stabil adalah kestabilan suara burung puter secara lengkap dan mengeluarkan suara terbaik secara terus menerus serta tidak mengalami penurunan kualitas. Perlu diperhatikan bahwa kestabilan ini sangat dipengaruhi oleh 3 unsur (suara depan, suara tengah, dan suara ujung).

Jadi apabila salah satu dari ketiga unsur tersebut tidak mencukupi kriteria baik maka kestabilan tersebut juga tidak akan baik. Pengertian stabil disini bukanlah gacor atau manggung secara terus menerus.

Demikian sedikit tentang tata nilai suara burung puter pelung. Para penghobi puter pelung yang juga sebagai peserta lomba harus punya pemahaman yang baik. Baik yang di maksudkan disini adalah kalau peserta paham kualitas burung dan nilai burung, sehingga ia akan mampu mengikuti aturan main penjurian yang sudah ditentukan. Semoga bermanfaat. (Ramlee)



Sumber, Pedoman Penyelenggaraan Lomba dan Penilaian Suara Burung Puter PPPPSI


Minggu, 10 Oktober 2021

Upaya untuk Memprediksi Jenis Kelamin Burung




Hampir setiap hari di media sosial selalu ada pertanyaan tentang jantan atau betina untuk burung yang ditunjukkannya. Ini utamanya diajukan oleh yang baru saja memutuskan memelihara burung. Saat tidak segera bunyi atau akan diternak namun tidak kunjung berjodoh, maka keraguan akan jenis kelamin burung yang dipeliharanya timbul.

Juga seringkali terjadi saat beli ke peternak dan meminta jantan atau betina maupun sepasang nyatanya tidak sesuai dengan harapan. Apalagi jika membeli di pasar burung. Ya, itu terjadi karena burung yang dimaui biasanya masih berumur muda, sehingga tidak seberapa tampak ciri khas yang dapat menentukan jenis kelaminnya.

Kesulitan seperti ini memang dialami hampir semua orang dalam menentukan jenis kelamin burung yang hampir sama dilihat dari ciri fisiknya. Bahkan seseorang yang telah berpengalaman pun terkadang juga masih salah dalam menentukan jenis kelamin burung yang diamatinya. Maka yang terjadi adalah penggunaan istilah prediksi. Ini untuk menentukan jenis kelamin burung-burung yang masih teramat muda.


 

Apalagi jika penghobi berniat untuk mengembangbiakkannya. Dikira sudah sepasang, karena sewaktu beli di tempat penangkaran asalnya juga dipillihkan yang sepasang, namun setelah ditunggu setahun nyatanya betina semua atau jantan semua.

Kelompok Aves sebagian besar memiliki sifat monomorfik yaitu sulit dibedakan secara morfologi antara individu jantan dan betina sehingga hal ini menyebabkan penentuan jenis kelamin secara morfologi sulit dilakukan (Cerit dan Avanus, 2007). Menurut Griffiths et al. (1998), lebih dari 50% spesies burung didunia pada karakter morfologi eksternalnya bersifat identik.

Pada burung dimorfik, burung dewasa memperlihatkan karakteristik yang berbeda antara jantan dan betina, sehingga penentuan jenis kelaminnya dapat dilakukan dengan mudah. Karakteristik ini seringkali sulit diamati atau bahkan tidak ada pada anakan burung (Ellegren dan Sheldon, 1997).


 

1. Tulang supit
Pegang burung lalu raba bagian belakang (daerah anus), di bawah anus terdapat 2 tonjolan tulang, banyak orang menyebut sebagai tulang supit atau tulang selangka.

Jantan mempunyai tulang supit yang terasa keras pada ujungnya dan sangat rapat, sementara betina sebaliknya kalau diraba akan terasa agak lunak dan renggang.

2. Suara
Saat burung menginjak usia dewasa (6 bulan keatas), akan sangat jelas perbedaannya. Hal ini dapat dilihat dari suara dekuran (mbekur)nya burung tersebut (burung saat berbunyi bergerak mengangguk-angguk).

Pada jantan akan kelihatan dan terdengar suara mbekurnya untuk menarik perhatian pasangannya, dengan suara yang terdengar keras dan berulang-ulang. Betina, akan memanggil jantannya dengan suara seperti mbekur tapi suaranya pelan dan tidak berulang-ulang.

3. Sorot mata
Burung jantan mempunyai sorot mata yang tajam, sebaliknya betina sorot matanya terlihat sayu.

4. Posisi mata
Posisi mata sering kali bisa dibuat acuan untuk menentukan jenis kelamin burung kesayangan kita. Mata burung jantan mempunyai posisi diantara garis paruh (jika ditarik garis lurus dari paruh ke arah mata), dan betina posisi matanya di atas garis paruhnya.

5. Bentuk Kepala
Untuk jantan mempunyai bentuk kepala besar agak lonjong, sementara betina bulat.


 

6. Warna bulu
Warna bulu pada jantan biasanya cenderung cerah/terang dan betina warna bulunya lebih gelap.

7. Cengkeraman kaki
Pada jantan saat ditaruh ditangan, kakinya akan terasa mencengkeram kuat, sementara yang betina cenderung tidak mempunyai daya cengkeram.

8. Pendulum
Tingkat akurasi metode ini bisa mencapai 90%, sehingga banyak digunakan para penangkar.
Pendulum ini bisa dibuat sendiri dengan menggunakan cincin emas atau jarum yang besar dan dipasangkan tali dengan panjang 15-20 cm, kemudian ikat kedua ujung tali tersebut.

Pegang burung dengan tangan kiri/kanan, pendulum yang sudah dibuat tadi bisa diikatkan pada sesuatu (tidak dipegang sendiri), dekatkan kepala burung pelan-pelan dengan jarak 3-5 cm. Perhatikan gerakan yang timbul, jika bergerak satu arah (maju mundur) itu tandanya jantan dan jika bergerak memutar itulah betina.


 

9. Test DNA
Ini metode yang paling akurat, sudah banyak instasi yang memberikan jasa penentuan jenis kelamin melalui metode ini. DNA sexing biasanya dilakukan dengan cara memberikan enzim khusus pada bulu burung yang diambil sampelnya untuk menampilkan untaian DNAnya. Untain DNA ini hanya bisa dilihat menggunakan mikroskop. Untaian DNA antara jantan dan betina sangatlah berbeda.

Demikian beberapa metode yang bisa digunakan dalam menentukan jenis kelamin burung kesayangan Kita, jika ada yang perlu ditambahkan bisa melalui kolom komentar dibawah, semoga bermanfaat. (Ramlee)

Sumber : remen.id Mencoba Memprediksi Jenis Kelamin Burung

Budidaya Burung Emprit Jepang Peluang Bisnis yang Menjanjikan, Mudah dan Modal Terjangkau

Emprit Jepang (Lonchura striata domestica) merupakan salah satu jenis burung finch yang populer dipelihara sebagai hewan peliharaan di banya...