Jumat, 16 Januari 2026

Gelaran Mbah Demang Cup #2 Terganggu Hujan, Adizero dan Yakuza Rebut Juara



Pengcab PPDSI Blitar kembali menggelar kegiatan Lomba Seni Suara Alam Burung Derkuku. Kali ini agenda yang mereka usung bertajuk Mbah Demang Cup #2 yang dilaksanakan pada Minggu, 11 Januari 2026. Menempati lokasi di Lapangan Kelurahan Bendo, Kec. Kepanjenkidul, Kota Blitar.

PPDSI Blitar akhirnya bisa merealisasikan rencana untuk menggelar kegiatan even Mbah Demang Cup #2. Kegiatan ini sempat mengalami penundaan. Awalnya agenda untuk membuktikan eksistensi hobi derkuku di Blitar ini akan digelar pada 21 Desember 2025.

Namun datang berita duka dari keluarga Muhammad Makrus, SE Ketua Umum PPDSI. Dalam suasana duka yang mendalam akan kepergian Alm. M. Makrus, panitia memutuskan untuk menunda semetara waktu kegiatan tersebut hingga terlaksana pada 11 Januari 2026.


Para Juri berpose sejenak sebelum bertugas


“Hari ini kami mengggelar kegiatan lomba derkuku dan Alhamdulillah bisa berjalan sesuai harapan,” terang Mbah Demang Ketua Panitia. Disampaikan juga bahwa kegiatan tersebut sebagai wujud untuk menyemarakkan hobi derkuku di Blitar dan sekitarnya.

Menurut Mbah Demang hanya dengan kegiatan seperti ini maka hobi derkuku akan tetap eksis dan bisa lebih berkembang lagi. “Tanpa kegiatan, maka hobi tidak akan bisa ramai,” sambung Dhimas Nugraha, Sekretaris Pengcab Blitar.


Pengecekan kelengkapan bendera jelang lomba dimulai


“Kami selalu berusaha membuat kegiatan dengan harapan agar hobi derkuku bisa lebih semarak lagi. Karena dengan cara ini maka hobi bisa berkembang pesat. Apalagi Blitar menjadi salah satu daerah yang ingin menjadikan hobi derkuku lebih semarak lagi,” ungkap Dhimas.

Even ini membuka dua kelas yakni kelas Bebas dan kelas Pemula. Kegiatan ini di motori langsung oleh Mbah Demang, seorang tokoh anggungan dari Kediri. Dari data yang masuk ke bagian pendaftaran, dekoe mania yang hadir berasal dari Jombang, Nganjuk, Kediri, Trenggalek, Tulungagung, dan Blitar sendiri.

Even Mbah Demang Cup #2 dilaksanakan sebagai suatu bentuk kepedulian dari salah satu tokoh anggungan di Kediri (Mbah Demang). “Meskipun tokoh Kediri namun beliaunya tetap berkenan untuk dilaksanakan di Blitar, mungkin salah satunya dengan pertimbangan sarana dan prasana lomba yang lengkap,” jelas pemilik Gada BF ini.

Antusias dekoe mania untuk mengikuti kegiatan ini benar-benar luar biasa. “Alhamdulillah kegiatan hari ini mendapatkan dukungan yang luar biasa dari rekan-rekan. Saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran rekan-rekan,” terang Dhimas Nugraha, Sekretaris Pengcab Blitar.


Dekoe mania Blitar bersiap mengerek gacoannya


Lebih dari seratus ekor derkuku ikut ambil bagian. Para peserta terbagi atas kelas Bebas dengan jumlah peserta 40 ekor (1 blok) dan kelas Pemula jumlah peserta 70 an (2 blok). Respon yang diberikan dekoe mania membuat panitia bisa tersenyum, pasalnya jumlah tersebut sudah melebihi angka yang diharapkan.

Lapangan Kelurahan Bendo Kec Kepanjen kidul dipilih menjadi lokasi acara. Menurut Mbah Demang selaku Ketua Panitia, mengatakan bahwa lokasi tersebut merupakan salah satu pilihan lokasi dari beberapa tempat yang ada. “Lagian dulu yang Mbah Demang Cup 1 juga bertempat di Blitar,” ujar Mbah Demang.


Cuaca mendung mewarnai pelaksanaan Mbah Demang Cup #2


Di Kediri sendiri, Mbah Demang kesulitan perihal lapangan yang akan digunakan, selain itu kepanitian juga belum siap. “Karena saya sebenarnya cuma sekedar membantu sponsor ke Panitia,” ungkap Mbah Demang merendah. Dan agenda ini mengawali tahun 2026 dengan semangat kebersamaan menata kembali hobi yang dipilih untuk lebih maju.

Selain peserta yang ikut meramaikan acara ini, panitia juga meramaikan acara dengan doorprize melimpah. Acara dimulai ketika langit yang sejak pagi seakan enggan menampakkan wajah sang mentari. Namun demikian kondisi tersebut, tidak sampai menyurutkan semangat dekoe mania untuk hadir.

Keinginan untuk bisa masuk lapangan, mengerek, dan menggantang menampilkan gaco-gaco terbaiknya demikian kuat. Malam sebelumnya lokasi yang akan digunakan juga turun hujan deras yang membuat beberapa dekoe mania sempat ragu untuk berangkat dan timbul pertanyaan, apakah kegiatan akan tetap berlanjut.

“Walau hujan panggah jalan,” tegas Mbah Demang menjawab keraguan para dekoe mania. Namun sayang semarak kegiatan ini akhirnya benar-benar tidak bisa tergelar secara utuh sepanjang empat babak karena hujan yang tidak diharapkan hadir, membuyarkan acara.


Semua menikmati jalannya acara ditemani sajian pisang dari panitia


Mbah Demang mengatakan bahwa cuaca seperti itu memang tidak diharapkan datang, namun siapa yang mampu menolak. Mbah Demang menuturkan bahwa kondisi cuaca yang kurang bagus ini sudah hadir sebelum acara. “Alhamdulillah acara Mbah Demang Cup #2 berjalan sesuai rencana, meski tidak sampai empat babak karena memasuki babak keempat harus terhenti karena turun hujan,” ungkap Mbah Demang.

“Kondisi seperti ini memang tidak bisa kita predikasi,” tambah Mbah Demang ketika penjurian harus terhenti karena turun hujan. Semua sepakat untuk tidak meneruskan penjurian dan hasil penjurian pun sudah sah untuk dilakukan rekapitulasi hasil kejuaraan karena lebih dari dua babak seperti yang diatur di dalam AD/ART PPDSI.


Mbah Demang serahkan trophy juara satu kelas Bebas kepada Anton WDN


Para juara di kelas Pemula


Sampai akhirnya panitia membacakan hasil juara untuk masing-masing kelas yang dilombakan. Di kelas Bebas, juara pertama menjadi milik Adizero, amunisi Anton WDN Blitar produk ternak B2W 4001 pada kerekan 30. Kemudian Mustika, andalan Kamal Kediri, ternakan JBKRM 828 yang dikerek pada nomor 43 di tempat kedua.

Sementara EG Junior orbitan Tegar Blitar ternakan MKS 935 yang ada di kerekan 18 berhasil rebut posisi ketiga. Untuk kelas Pemula, podium pertama berhasil menjadi milik Yakuza, amunisi Aris Madu Blitar, produk ternak PN 835 yang dikerek pada nomor 109.


Dhimas Gada serahkan doorprize sangkar kepada yang beruntung mendapatkannya


Tempat kedua diraih Joy debutan Nuryani Blitar, produk ternak MKS pada kerekan nomor 113. Dan tempat ketiga jadi milik Donking besutan Anton WDN Blitar, produk tenak MKS 1160 yang dikerek pada nomor 75. (Ramlee/GD)





Sabtu, 10 Januari 2026

Baza Hitam, Burung Pemangsa Kecil Mirip Elang yang Memukau



Baza Hitam (Aviceda leuphotes) merupakan jenis burung pemangsa berukuran kecil yang berasal dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Baza hitam termasuk kedalam famili Accipitridae yang sama dengan elang dan burung pemangsa lainnya. Burung pemangsa berukuran sedang yang sangat khas.

Baza hitam atau yang dalam bahasa Inggris biasa dikenal dengan nama Black Baza memiliki ukuran tubuh yang tergolong kecil. Panjang tubuhnya berkisar 30 sampai 35 sentimeter, dengan rentang sayap mencapai 66 sampai 80 sentimeter, dan berat sekitar 168 sampai 224 gram.

Meski terlihat anggun, Baza hitam memiliki sayap yang pendek dan lebar. Hal ini memungkinkan mereka untuk melakukan manuver yang lincah saat berburu serangga di tengah pepohonan. Paruhnya juga kuat dan melengkung, cocok untuk menangkap dan memakan serangga yang berukuran kecil hingga sedang.


Baza hitam, burung pemangsa berukuran kecil


Penampilannya seperti Elang, namun jangan terkecoh oleh penampilannya yang menyerupai elang. Baza hitam sebenarnya lebih dekat secara taksonomi dengan Jalak dan burung-burung pengicau daripada dengan burung Elang. Ini menunjukkan keanekaragaman dan kompleksitas hubungan antara spesies dalam keluarga burung pemangsa. Meskipun tampak garang dengan paruh tajam dan cakar kuat, Black Baza sebenarnya bukanlah burung yang agresif.

Baca juga : Elang, Burung Raptor si Penguasa Langit yang Kian Langka

Burung ini mudah dikenali dari bulu hitam pekatnya yang kontras dengan pita dada putih tebal, dan garis-garis putih berkarat di perut, serta jambul hitam yang menonjol. Jambulnya ramping dapat ditegakkan secara vertikal atau miring ketika bertengger, tetapi cenderung disembunyikan saat terbang.


Baza hitam lebih suka mendiami hutan lebat


Habitat Baza hitam adalah hutan lebat di dataran rendah hingga kaki bukit. Baza hitam lebih sering ditemukan bertengger di pohon-pohon tinggi atau terbang dalam kawanan besar di luar musim kawin. Baza hitam ditemukan di hutan lebat, sering pada kelompok kecil.

Baza hitam juga diketahui menghabiskan banyak waktu dengan bertengger pada tenggeran terbuka yang terlihat dari bawah hutan kanopi. Saat bertengger, jambul tegaknya yang mencolok serta pola warna kontras menjadikannya mudah dikenali dan mudah dibedakan dari spesies lain.

Sedangkan pada saat terbang, burung pemangsa ini cenderung mengatupkan jambulnya. Jika saat terbang terlihat dari atas, terlihat pola “kotak-kotak” di sayap atas. Saat berada di udara, Baza hitam sekilas mirip burung gagak. Burung ini sering terlihat terbang dalam kelompok kecil atau bahkan kawanan besar, terutama saat musim migrasi.

Sebagai predator, Baza hitam mengandalkan kelincahannya dalam menangkap mangsa. Baza hitam berburu serangga dengan menerkam langsung di udara atau mengambilnya dari dedaunan menggunakan kaki-kakinya. Tidak jarang, Baza hitam juga menyergap burung kecil seperti kicuit dengan terjangan cepat ke arah kawanan.


Kawanan Baza hitam yang sedang migrasi


Selain berburu sendiri, Baza hitam juga diketahui bergabung dalam kelompok burung dari berbagai spesies saat mencari makanan. Uniknya, meskipun dikenal sebagai pemangsa, Baza hitam ternyata juga memakan buah kelapa sawit. Tidak hanya perilakunya yang menarik, baza hitam juga memiliki ciri fisik yang khas. Paruh bagian atasnya memiliki dua lekukan kecil seperti gigi yang merupakan ciri khas burung dalam genus Aviceda.

Baca juga : Jalak Suren, Salah Satu Jenis Burung Peliharaan Favorit Penghobi Kini Semakin Susah Ditemui di Habitat Alaminya

Burung jantan memiliki ciri khas berupa bulu putih pada bagian scapulars (tulang belikat) serta sebagian bulu sekunder. Sementara itu, betinanya hanya memiliki warna putih pada skapular dan menampilkan lebih banyak pita berwarna cokelat kemerahan di bagian bawah tubuh dibandingkan dengan jantan yang memiliki lebih sedikit pola serupa. Suara Baza hitam terdengar seperti “chu-weep”.


Baza hitam suka berburu serangga


Beberapa deskripsi lain menyebutkan suaranya mencicit lembut atau berisul melengking yang mirip dengan burung camar. Salah satu fakta menarik lainnya adalah burung ini memiliki aroma yang tidak sedap, sering digambarkan seperti bau serangga tertentu. Saat musim kawin tiba, Black Baza semakin menarik perhatian. Burung ini kerap melakukan pertunjukan udara yang memukau, berupa terbang akrobatik di udara untuk menarik perhatian pasangan.

Secara umum, baza hitam berkembang biak di hutan gugur terbuka atau hutan hijau sepanjang tahun, termasuk kawasan hutan sekunder dan daerah yang didominasi bambu. Baza hitam cenderung memilih area dekat sungai atau daerah dengan banyak celah terbuka. Saat berbiak memilih hutan kaki bukit dan dataran rendah, tetapi dapat ditemukan di habitat yang lebih terbuka di daerah perlintasan dan wilayah tujuan migrasi.

Bersifat cukup sosial di luar musim kawin, sering terbang dalam kawanan besar dan bertengger mengelompok. Mengeluarkan suara mirip peluit yang melengking dan bergema, sering kali saat saat terbang. Baza hitam membangun sarang dari ranting-ranting di atas pohon yang tinggi, seringkali di sekitar hutan-hutan rimba atau tepi hutan.

Sarang tersebut biasanya ditempatkan di pohon yang dilindungi dengan baik oleh daun-daun yang rimbun. Betina akan bertelur dalam sarang tersebut dan kedua induknya akan saling bergantian mengerami telur dan mengasuh anak-anaknya. Setelah telur menetas, anak-anak Baza hitam akan tetap tinggal di sarang selama beberapa minggu sebelum akhirnya mampu terbang dan mandiri.


Induk Baza hitam bersama anak-anaknya


Selama masa ini, induk jantan dan betina bekerja sama untuk memberikan makanan kepada anak-anak mereka. Setelah mencapai kedewasaan, Baza hitam akan membentuk pasangan dan memulai siklus berbiaknya sendiri. Di luar musim kawin, Baza hitam dapat ditemukan di berbagai habitat lain, seperti hutan bakau, perkebunan, taman, sawah, hingga lahan pertanian yang dikelola manusia.

Baca juga : Mino Muka Kuning, Beo Papua Termasuk Keluarga Burung Jalak yang Bisa Berbicara Layaknya Manusia

Selama musim berbiak, Baza hitam cenderung melakukan migrasi jarak jauh untuk mencari tempat yang lebih baik dalam hal sumber makanan dan kondisi lingkungan yang sesuai. Migrasi ini melibatkan pergerakan massa yang spektakuler, di mana baza hitam dapat membentuk kelompok besar saat mereka bergerak bersama dalam perjalanannya.


Baza hitam yang eksotis harus terus dijaga keberadaannya


Selama migrasi, Baza hitam dapat menempuh jarak yang cukup jauh, melintasi perairan dan hutan-hutan yang luas. Baza hitam menggunakan kemampuan terbangnya yang lincah untuk menavigasi melalui rute yang ditentukan oleh perubahan musim dan ketersediaan sumber daya. Pola imigrasi ini menunjukkan fleksibilitas dan adaptasi Baza hitam dalam menghadapi perubahan lingkungan dan memastikan kelangsungan hidupnya di berbagai wilayah.

Dalam beberapa dekade terakhir, populasi Black Baza masih terbilang stabil, meskipun habitatnya terancam oleh deforestasi. Kehadiran burung ini juga menjadi indikator penting dari kesehatan ekosistem hutan tempat Baza hitam tinggal. Oleh karena itu, menjaga kelestarian hutan-hutan di Asia Selatan dan Asia Tenggara sangat penting untuk memastikan kelangsungan hidup burung-burung ini. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Baza Hitam, Burung Predator yang Eksotis


Jumat, 09 Januari 2026

PPDSI Jember Gelar Liga Tapal Kuda 2026, Kualitas Burung Peserta Semakin Meningkat



Menyambut Tahun Baru 2026, Pengurus Cabang PPDSI Jember gelar Lomba Seni Suara Alam Burung Derkuku bertajuk “Liga Tapal Kuda Jawa Timur”. Dilaksanakan pada hari Minggu, 4 Januari 2025 di Lapangan Kampus 2 UNIPAR, Jalan Kaliurang – Jember. Acara berjalan cukup meriah dan berbuah sukses.

Rupanya, semakin lama hobi derkuku di wilayah Tapal Kuda ini menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Agenda lomba coba dihadirkan secara rutin, semisal Liga Tapal Kuda Jawa Timur serta kegiatan lain. Dan kegiatan demi kegiatan tersebut mulai mendapatkan animo dari dekoe mania.

Dari jumlah peserta yang terlihat, memang tidak banyak dekoe mania yang hadir, karena acara ini bertujuan untuk menjalin silaturahi antar penggemar, pelestari burung anggunggan derkuku, dan juga untuk meramaikan hobi burung derkuku se Tapal Kuda. Lomba terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas Bebas dan kelas Pemula.


Dr. Waris sedang memberikan sambutan sebelum lomba dimulai


Kelas Bebas diikuti oleh 21 peserta dan kelas Pemula diikuti oleh 31 peserta. Peserta datang dari Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Probolinggo. Dr. Waris, Ketua Pengcab PPDSI Jember menuturkan bahwa jumlah tersebut tergolong sudah masuk dalam target panitia. Setidaknya dukungan yang diberikan peserta tergolong dalam kategori besar.

“Terus terang kami dari panitia tidak menargetkan banyak peserta, karena ini adalah kegiatan di awal tahun, jumlah tiang kerekan juga tidak banyak,” terang Waris. Apalagi daerah-daerah di Tapal Kuda tidak bisa leluasa mengadakan kegiatan karena terbatasnya lapangan yang bisa dipakai. Praktis hanya Jember yang telah siap meskipun dengan jumlah tiang yang terbatas.


Dekoe Mania Tapal Kuda tampak bersemangat mengikuti gelaran PPDSI Jember


“Kita coba membumikan hobi derkuku di daerah Tapal Kuda,” jelas Drs Heru Pujinato yang juga Ketua Pengda PPDSI Jawa Timur yang juga hadir. Heru dan Waris pula yang menggagas keberadaan Lapangan di Kampus 2 UNIPAR Jember. Dengan begitu mereka bisa mengadakan lomba derkuku kapanpun.

“Kami terus berkoordinasi dengan sesama dekoe mania dan juga dengan rekan-rekan di Tapal Kuda agar perkembangan hobi bisa semakin ramai lagi,” sambung Heru. Semangat mereka untuk terus menjadikan Tapal Kuda lebih baik dan berkualitas, menjadi mimpi yang tidak bisa ditawar dan ditunda lagi.

Salah satu caranya adalah dengan mengadakan kegiatan seperti Liga Tapal Kuda Jawa Timur. “Liga ini tidak kita patok akan berjalan berapa putaran seperti daerah lain yang sudah mengadakan. Kita menunggu kesiapan daerah lain untuk mengadakannya. Untuk saat ini baru Jember yang telah siap,” ujar pemilik New RRJ BF ini.

“Untuk putaran berikutnya rencanabya Situbondo yang akan mengadakan. Juga ada Bondowoso, tetapi mereka masih kesulitan dengan lapangan yang akan digunakan. Lapangan di Kampus 2 UNIPAR Jember sebenarnya juga bisa digunakan. Kita berharap setiap bulan atau setiap dua bulan sekali ada gelaran liga,” lanjut Heru.


Sajian khas di Liga Tapal Kuda Jawa Timur


Minggu pagi itu, cuaca kota Jember tidak seperti hari sebelumnya. Matahari yang biasanya bersembunyi dibalik mendung, namun kali ini kembali membagi sinarnya. Seakan ikut mendukung acara lomba di awal tahun 2026. Acara ini pun dijadikan ajang latihan bagi burung-burung calon juara untuk mengikuti event yang lebih besar lagi.

Dilokasi ini dekoe mania yang hadir saling menjalin silaturrahmi, mensolidkan diri, memantau burung ,dan belajar banyak seputar hobi derkuku. Lokasi yang menjadi sentra kegiatan telah memberikan banyak manfaat. Mereka semakin paham dan mengerti dunia derkuku, baik kualitas burung untuk lomba ataupun memaksimalkan kinerja saat berada di lapangan.


Cuaca cerah sepanjang penjurian


Dekoe mania mengikuti lomba dengan semangat dan berharap burungnya akan menjadi juara. Selama lomba berjalan dengan baik, aman, dan tertib. Burung-buurng gacoan beradu kemampuan bersuara walau masih ada beberapa yang belum mau berbunyi.

Anggung suara burung derkuku dinilai oleh juri dan koordinator juri. Anggung terbaik menurut penilaian juri akan mendapatkan penghargaan berupa tropi, piagam dan sembako. Baik pada kelas Bebas maupun kelas Pemula dipilih juaranya masing-masing 10 juara.

Juara 1 sampai dengan juara 3 akan mendapatkan tropi, piagam, dan sembako. Sedangkan bagi juara 4 sampai dengan juara 10 mendapatkan tropi dan piagam. Persaingan untuk meraih nilai tertinggi di setiap babak, berlangsung cukup ketat dan seru.

Karena masing-masing jago, terlihat sama-sama on fire untuk menunjukkan performa terbaiknya di hadapan tim juri yang bertugas. Sementara untuk memberi nilai, juri terus fokus mendengar burung yang benar-benar punya suara anggung mewah. Serta didukung kestabilan bunyi ke bunyi, tanpa ada penurunan kualitas sesuai dengan aturan PPDSI.


(Kika) H. Ichwanto, Dr Waris, Drs. Heru, dan Totok juri rekap


Dan setelah melalui persaingan panjang selama empat babak penuh penilaian. Akhirnya juri bersama perumus, menetapkan 10 burung yang dinilai layak masuk nominasi kejuaraan di tiap-tiap kelasnya. Dimana urutannya sesuai dengan total nilai yang didapat oleh masing-masing burung.

Di kelas Bebas, untuk juara pertama berhasil direbut oleh Biduan yang tampil jos di tiang kerekan nomor 26 milik Junaedi dari Situbondo. Jago bergelang B2W 3635 ini sukses menjadi yang terbaik pertama setelah mendapatkan nilai terbaik dibanding dari para rivalnya.


Juara di kelas Bebas


Sedangkan Casanova ring Fla 622 yang diusung oleh Jhony Susilo dari Situbondo, harus puas mengekor di belakangnya. Dan disusul kemudian oleh BB produk ternak Nada BF milik Karyono dari Pujer Bondowoso. Selanjutnya untuk kelas Pemula, persaingannya juga tidak kalah seru.

Nama Kabayan yang jadi andalan Saeful dari Situbondo, burung hasil kebun sendiri yaitu Semeru BF ini juga tampil apik di empat babak penilaian, sehingga dinobatkan menjadi yang terbaik pertama. Diikuti kemudian Peltas andalan H.Tirto dari Candi Jati Jember, yang dikerek pada nomor 71 sebagai juara kedua dan tempat ketiga dimenangkan Megatron orbitan Junaedi dari Situbondo.


Juara-juara di kelas Pemula


Dekoe mania Tapal Kuda merasa senang dan puas karena telah mengetahui kemampuan dan kualitas burung-burung gacoannya. Ada juga yang ingin meningkatkan atau mengupgrade ke burung yang memiliki kemampuan tempur yang lebih baik. “Panitia berharap dengan adanya liga ini akan bermunculan burung-burung juara di tingkat nasional, amin,” harap Waris menutup acara. (Ramlee/TM)





Minggu, 04 Januari 2026

Piala Kapolsek Grogol Sukoharjo, Ajang Silaturahmi Dekoe Mania, Kanjeng Mami dan Satelit Jr Rebut Juara



Gelaran Piala Kapolsek Grogol Sukoharjo yang digelar pada Minggu, 28 Desember 2025 berlangsung meriah. Menempati lokasi di Lapangan Sukoharjo Kel. Kwarasan Grogol Kab. Sukoharjo, evan ini menjadi perhatian sekaligus tontonan menarik masyarakat sekitar.

Mereka yang tergabung dalam komunitas pelomba, peternak, dan pemerhati derkuku bersatu dalam lapangan tersebut untuk mengikuti sebuah gelaran yang selama ini menjadi jujukan mereka. Bukan saja berasal dari Sukoharjo, datang juga penghobi dari luar Sukoharjo.


Guntur Juri Jogja (kaos abu-abu) bersama juri-juri Solo


Tercatat di meja regristrasi peserta yang ikut memeriahkan agenda kali ini tercatat ada yang datang dari Solo, Karanganyar, Boyolali, Kartosuro, dan Sragen ikut menjadi bagian dalam kegiatan tersebut. Dampak kehadiran mereka menjadikan kegiatan ini mampu mendulang peserta dengan jumlah 2 blok penuh.

Dua kelas yang dibuka yakni kelas Bebas dan kelas Pemula penuh sesak oleh dekoe mania. Lembaran tiket yang tercetak, ludes tanpa sisa. Panitia sepertinya mampu mengemas acara begitu menarik. Terbukti dari antusias peserta untuk menjadikan Piala Kapolsek Grogol sebagai wadah bagi mereka untuk tetap menyalurkan hobi.


Lomba derkuku bertajuk Piala Kapolsek Grogol berlangsung meriah



Kapolsek Grogol Sukoharjo AKP Kurniawan Triatmaja, S.H. memenuhi janjinya untuk ikut meramaikan hobi derkuku di wilayah tugasnya tersebut. Kapolsek Grogol pun puas dan bangga ketika melihat kegiatan ini benar-benar menjadi pilihan masyarakat pecinta burung derkuku.

Kegiatan yang dikemas oleh Penggemar Derkuku Sukoharjo (Pedes), benar-benar menjadi daya tarik dekoe mania. Melihat hasil yang luar biasa inilah, sepertinya kerjasama dengan Kapolsek Grogol akan terus berlangsung, dan nantinya dengan kemasan yang jauh lebih bagus lagi.


Endri, Topik, dan Andi


“Syukurlah hari ini kami dari Pedes dan Pengcab PPDSI Sukoharjo telah berhasil menyelenggarakan Piala Kapolsek Grogol dan berjalan sukses. Dua kelas yang kami buka penuh oleh peserta,” terang Andang Pramardhika Ketua Panitia.

Karena terbatasnya jumlah tiket, maka hanya dalam hitungan hari, tiket langsung ludes diserbu peserta. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya batal untuk hadir di lapangan. “Saya mohon ma’af atas terbatasnya jumlah kerekan, karena kami memang punya kerekan terbatas, hanya berjumlah 55 tiang saja,” papar Andang.


Hafid, Andang, dan Wiwied


Sebanyak 30 tiket untuk kelas Pemula dan 25 tiket di kelas Bebas tidak bersisa selembar pun. “Kami sedang memikirkan bagaimana agar jumlah kerekan bisa tambah dan tidak terlalu banyak peserta yang tertolak,” harap Andang.

Seperti pada kegiatan-kegiatan sebelumnya, juri yang bertugas melakukan rutinitas duduk bareng untuk mendengarkan apa yang menjadi keinginan. Siswo, Juri Nasional asal Solo memberikan arahan agar juri bisa tetap dalam koridor yang sudah ada.


Supriyanto, Budi Petir, Wirasmo, dan Agus


“Saya menyampaikan pesan dan keinginan dari semua penggiat hobi derkuku, agar juri bisa tetap menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan AD/ART,” kata Siswo. Kegiatan seperti ini harus tetap terus menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas dan fair play.

Penjurian yang adil membuat semangat dekoe mania untuk selalu menghadiri kegiatan lomba, sampai saat ini masih tetap luar biasa. Ada kesan nyaman dan pas ketika para dekoe mania ini harus mengerek dan menggantang derkuku miliknya di Lapangan milik Pengcab Sukoharjo ini.


Kanjeng Mami rebut bendera koncer di kelas Bebas


Kegiatan ini juga sangat dinantikan oleh para dekoe mania. “Tidak ada target khusus dalam kegiatan kali ini, bagi kami yang penting kumpul dan bisa melihat perkembangan burung dengan penilaian yang dilakukan oleh juri sebagai pihak yang memiliki otoritas menilai,” ungkap salah seorang peserta. Dengan demikian, mereka bisa mengukur sampai seberapa jauh dan tinggi kualitas derkuku orbitannya.

Mereka pun merasa sayang jika melewatkan setiap kegiatan yang digelar oleh Pengcab Sukoharjo. Terlebih lagi, berbagai macam doorprize menarik menjadi salah satu yang ditunggu oleh mereka. Hadiah bagi yang beruntung ini memang disediakan oleh panitia untuk yang hadir dalam sebuah gelaran lomba derkuku.


Barisan juara di kelas Bebas


Cuaca cerah dan cenderung panas, mengawal acara dari awal hingga akhir. Empat babak penjurian berlangsung tanpa hambatan dan proses perekapan dilakukan untuk menentukan posisi kejuaraan di masing-masing kelas. Perebutan posisi kejuaraan berlangsung seru dan penuh aksi dramatis.

Di akhir acara ditentukan posisi kejuaraan untuk masing-masing kelas. Di kelas Bebas, podium pertama berhasil diraih Kanjeng Mami orbitan Daud Toni Solo, derkuku dengan ring Sword 65 yang ada di kerekan nomor 45. Kanjeng Mami tampil apik dengan raihan bendera lima warna sepanjang masa penjurian.


Boedi Santosa terima bendera koncer di kelas Pemula



Barisan juara kelas Pemula


Pada urutan kedua, ada Glory di tiang 38 besutan Eko LMS Solo, produk ternak LMS 584 setelah mendapatkan bendera empat warna pada babak pertama dan lima warna selama 3 babak berikutnya. Dan posisi ketiga diraih Batre milik Sunaryanto Solo ring Arya 55 di tiang nomor 30.

Di kelas Pemula, juara pertama berhasil diraih Satelit Jr besutan Boedi Santoso, bergelang BS62 179 yang berada di kerekan 14. Diikuti oleh Saleb milik Sunaryanto Solo ring Arya 88 pada urutan kedua. Sementara tempat ketiga dimenangkan Mahesa orbitan Hafid Toretto Boyolali, derkuku ring TKL 2508 di tiang 16.


Door prize aneka macam buat peserta yang beruntung



Diakhir acara, panitia mengucapkan terima kasih kepala seluruh peserta yang telah memberikan dukungan dan kehadiran. Juga disampaikan permintaan maaf jika selama jalannya acara, ada hal-hal yang kurang berkenan. (Ramlee/Jat)





Senin, 29 Desember 2025

Bondol Haji, Pipit Unik Berpeci Putih yang Sering Dianggap Hama



Bondol Haji (Lonchura maja) merupakan salah satu jenis burung pipit yang cukup unik dan mudah dikenali. Burung ini sering dipanggil emprit kaji atau pipit haji. Diberi nama bondol haji karena kepalanya berwarna putih, seperti orang pakai peci putih haji. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama White-headed Munia.

Ukuran tubuh bondol haji hanya sekitar 11 cm (seukuran telunjuk orang dewasa). Burung bondol haji ini memiliki warna bulu dasar cokelat putih seperti burung bondol oto-hitam (L. ferruginosa) tetapi dengan warna yang lebih terang. Seluruh kepala dan tenggorokannya sendiri berwarna putih.


Bondol oto-Hitam (Lonchura ferruginosa)


Burung bondol haji muda memiliki bulu berwarna cokelat di bagian atas, sementara bagian bawah dan wajahnya berwarna kuning tua. Sementara bulu wajah berwarna kekuningan. Burung bondol haji muda juga dapat dilihat dari warna keputihan pada bagian belakang dan bawah telinga.

Baca juga : Pipit, si Mungilyang Berparuh Pendek dengan Variasi Warna Menawan yang Kerap Dianggap Hama

Iris burung bondol haji bercorak cokelat, paruhnya berwarna abu-abu kebiruan, sedangkan kakinya kebiruan pucat. Bentuk mata bondol haji bulat telur atau agak bundar dengan corak hitam pekat. Berkat keunikan warnanya, banyak orang tertarik memelihara burung pipit haji.


Bondol Haji menyukai daerah terbuka


Habitatnya tidak jauh berbeda dengan jenis bondol lain, bondol haji menyukai habitat terbuka, sering ditemui di lingkungan pedesaan dan kota, terutama di dekat persawahan atau tegalan. Burung ini juga menyukai lahan budidaya bersemak terbuka, kolam ikan, rawa-rawa, tepi jalan, tepian hutan terbuka dengan pohon yang telah ditebang, padang rumput, lapangan terbuka bervegetasi dan kebun.

Sering bertengger untuk bermalam dan bersarang di pohon-pohon, tegakan palem, pinang atau semak yang tinggi. Di Sumatera, Jawa dan Bali, burung ini terdistribusi sampai pada kawasan berketinggian 1.500 meter di atas laut.

Dibandingkan jenis bondol lainnya, bondol haji memiliki sebaran lebih terbatas di Asia Tenggara. Habitat burung bondol haji berada di wilayah tropis. Populasinya menyebar mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi di Indonesia, serta Thailand, dan Vietnam Selatan. Bahkan, spesies ini telah diperkenalkan sampai ke Okinawa dan Osaka di Jepang.

Bondol haji akan membentuk kawanan dalam jumlah besar saat musim panen padi. Namun berpasangan dan terpencar-pencar saat musim kawin. Sering teramati bergerombol memakan bulir biji-bijian di semak rerumputan atau bahkan turun ke atas tanah. Kelompok ini umumnya lincah dan bergerak bersama-sama, sambil terus berbunyi-bunyi saling memanggil.


Bondol Haji menyukai bulir-bulir padi


Karena itu bagi sebagian orang spesies bondol haji dianggap sebagai hama. Padahal burung ini dapat menjadi perameter kualitas lingkungan, mengingat bondol haji cuma tinggal di area yang masih asri saja. Bondol haji berkembangbiak sepanjang tahun. Burung ini memiliki sarang berupa anyaman.

Baca juga : Finch, Burung KecilEksotis yang Populer di Seluruh Dunia

Sarang yang dibangun terbuat dari rerumputan yang ditumpuk serta tergulung seperti bola atau botol, diletakkan tersembunyi di antara daun-daun dan ranting. Bondol haji biasanya membuat sarang di batang pohon padi, tetapi tidak jarang juga ada yang membuat sarang di sela-sela tandan buah pisang.


Seekor Bondol Haji sedang membangun sarangnya


Masa kawin burung bondol haji di Asia Tenggara berlangsung umumnya antara Januari hingga September, dengan musim kawin spesifik di Jawa tercatat pernah terjadi pada bulan Februari, saat burung ini membentuk pasangan dan membangun sarang.

Telurnya berwarna putih sebanyak 4-6 butir dan akan menetas setelah dierami selama sekitar 14 hari. Baik induk jantan maupun betina akan mengerami telur-telur tersebut secara bergantian. Setelah menetas, anakan bondol haji akan tetap berada di dalam sarang dan dirawat serta diberi makan oleh induknya selama kurang lebih 15 hari.

Bondol Haji termasuk burung pemakan biji-bijian (granivore) atau seed eater terutama padi-padian dan biji dari berbagai jenis rumput lainnya. Walaupun bondol dewasa merupakan pemakan biji, namun anak-anak bondol lebih sering diberi makan serangga-serangga kecil seperti ulat dan belalang.

Kebiasaan memberi makan serangga mungkin sebagai mekanisme untuk mempercepat pertumbuhan anak, karena serangga memiliki kadar protein yang jauh lebih tinggi dibandingkan biji-bijian. Setelah sekitar 15 hari, anakan burung bondol haji biasanya sudah cukup kuat untuk terbang dan mulai belajar mencari makan sendiri di lingkungan sekitar sarang.


Anakan Bondol Haji setelah berumur 15 hari siap meninggalkan sarangnya


Walau begitu, terkadang anakan bondol haji masih akan didampingi oleh induknya. Anak bondol haji yang masih belajar mencari makan memiliki warna tubuh yang berbeda dengan bondol haji dewasa. Warnanya hanya coklat polos diseluruh tubuh, anakan bondol haji belum memiliki kepala dan leher putih seperti kedua induknya.

Baca juga : Bondol Hijau, BurungPipit Eksotik yang Dianggap Hama Pertanian

Setelah beberapa lama, secara berangsur-angsur akan tumbuh bulu putih di kepala dan leher menggantikan bulu coklatnya yang rontok. Bondol haji dianggap dewasa (mature) ketika warna tubuhnya telah lengkap, yaitu memiliki kepala dan leher putih seperti pak haji. Populasi burung ini cukup melimpah sehingga oleh IUCN dikategorikan beresiko rendah dari kepunahan (Least Concern). Tidak termasuk dalam daftar Appendix CITES.


Bondol Haji remaja masih minta diloloh induknya


Genus Lonchura pertamakali diperkenalkan oleh Naturalis berkebangsaan Inggris William Henry Sykes pada tahun 1832 untuk menamai Bondol Peking Lonchura punctulata. Lonchura berasal dari bahasa Yunani “lonkhe” yang berarti kepala tombak dan “oura” yang bermakna ekor.

Burung bondol haji terdiri dari 2 subspesies, yaitu Lonchura maja maja, tersebar mulai dari Semenanjung Malaysia, Singapura, Sumatera, Jawa, Bali hingga Sulawesi. Diintroduksi ke Okinawa dan Osaka di Jepang. Populasi di Kalimantan kemungkinan berasal dari burung peliharaan yang lepas. Dan Lonchura maja vietnamensis, tersebar di Thailand dan Vietnam selatan. (Ramlee)

 

Sumber : remen.id

Bondol Haji, Spesies Pipit Berpenampilan Unik

Gelaran Mbah Demang Cup #2 Terganggu Hujan, Adizero dan Yakuza Rebut Juara

Pengcab PPDSI Blitar kembali menggelar kegiatan Lomba Seni Suara Alam Burung Derkuku. Kali ini agenda yang mereka usung bertajuk Mbah Demang...