Selasa, 03 Februari 2026

Bajing Kelapa, Mamalia Pengerat Kecil Penghuni Pohon



Bajing Kelapa (Callosciurus notatus) merupakan mamalia pengerat kecil mirip tupai yang mudah ditemukan di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Hewan ini dalam bahasa Inggris disebut Plantain squirrel. Bajing kelapa adalah salah satu spesies bajing yang paling umum dan mudah dijumpai.

Bajing kelapa adalah hewan pengerat yang kerap disalahartikan sebagai tupai karena corak warnanya mirip dengan habitat yang sama, keduanya sering dianggap sejenis oleh masyarakat. Bajing kelapa memainkan peran penting dalam ekosistem. Keberadaannya kadang menjadi “tetangga” yang menggemaskan sekaligus mengesalkan bagi manusia karena kebiasaannya yang suka mencicipi buah di pekarangan.

Bajing kelapa termasuk spesies rodentia dari keluarga Sciuridae. Nama genusnya, Callosciurus, berasal dari bahasa Yunani yang berarti “bajing yang indah”, merujuk pada penampilan fisiknya yang memang menarik dibandingkan banyak spesies bajing lainnya.


Bajing kelapa, hewan pengerat yang mirip dengan tupai


Bajing kelapa mempunyai warna bulu warna cokelat/hitam di punggung dan jingga/putih di perut, memiliki ekor seperti sikat, dan meski sering dianggap hama karena memakan buah. Satwa ini berperan penting sebagai agen penyebar biji untuk regenerasi hutan.

Baca juga : Bajing, Pengerat Gesit Penjaga Regenerasi Hutan

Spesies ini termasuk hewan asli (endemik) kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Di Indonesia, penyebarannya sangat luas, mencakup Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Atau di pulau-pulau sekitarnya yang berada pada ketinggian 500 sampai 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl).


Bajing kelapa sangat sering ditemui di daerah yang didominasi aktivitas manusia


Hewan ini merupakan salah satu jenis mamalia liar yang paling mudah terlihat di kebun pekarangan, kebun campuran (wanatani), hutan sekunder, hutan kota dan taman, serta beberapa jenis hutan di dekat pantai. Bajing kelapa terutama menyebar luas di dataran rendah hingga wilayah perbukitan. Hewan yang tinggal berdekatan dengan permukiman dapat menjadi terbiasa dengan manusia dan berani mendekati rumah.

Bajing kelapa mempunyai panjang tubuh 198 mili meter dengan panjang ekor 19,5 cm dan panjang kaki 4,4 cm, sedangkan bujur kakinya sekitar 4,4 cm. Bajing kelapa memiliki berat sekitar 150 sampai 280 gram. Bagian ekor panjangnya mencapai 19,5 cm.

Ekornya yang tebal dan berbulu lebat berfungsi sebagai penyeimbang saat ia memanjat dan melompat dari dahan yang satu ke dahan lainnya. Sisi atas tubuh kecoklatan, dengan bintik-bintik halus kehitaman dan kekuningan. Di sisi samping tubuh agak ke bawah, di antara tungkai depan dan belakang, terdapat setrip berwarna bungalan (pucat kekuningan) dan hitam.

Sisi bawah tubuh (perut) jingga atau kemerahan, terang atau agak gelap. Kebanyakan anak jenis dideskripsikan dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan pada warna rambut di bagian ini, yang bervariasi mulai dari abu-abu sedikit jingga sampai coklat berangan gelap. Ekor coklat kekuningan berbelang-belang hitam. Terdapat variasi dengan ujung ekor berwarna kemerahan.


Bajing kelapa senang melubangi kelapa muda maupun tua untuk memakan isinya


Perilakunya sangat lincah dan gesit. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon (arboreal) dan aktif pada siang hari (diurnal). Bajing kelapa aktif mencari makan buah buahan (terutama yang manis dan lunak seperti pepaya, pisang, dan tentu saja kelapa) dan biji bijian di pagi hari dan sore hari sedangkan disiang hari mereka cenderung lebih santai beristirahat di sela-sela ranting/pepohonan.

Baca juga : Tupai, Mamalia Kecil Mirip dan Kerap Disamakan dengan Bajing Kini Semakin Jarang Terlihat

Seperti namanya, bajing ini sering ditemukan berkeliaran di cabang dan ranting pohon, atau melompat di antara pelepah daun di kebun-kebun kelapa dan juga kebun-kebun lainnya. Bajing Kelapa juga dikenal sebagai perenang yang handal. Satwa ini sering terlihat memanjat dengan cepat, melompat dengan berani bahkan berenang untuk menyebrangi sungai atau selokan guna mencapai sumber makanan.


Sepasang bajing kelapa di lubang sarangnya


Hewan ini memanfaatkan tinggi kanopi antara 21 sampai 40 kaki sebagai habitat makan. bajing kelapa juga memakan berbagai buah-buahan, biji dan daun muda serta bunga. Dan juga memakan beberapa jenis serangga terutama semut. Bajing kelapa sanggup melubangi kayu atau ranting pohon untuk mencari larva semut.

Bahkan juga mampu memakan buah-buahan yang lebih besar dari tubuhnya. Dengan gigi dan rahangnya yang kuat hewan kecil ini mampu merobek atau melubangi buah-buahan tersebut sebelum memakannya. Terkadang hewan ini juga teramati memakan getah dari pohon dengan cara mengigiti kulit pohon hingga mengeluarkan getah lalu menjilati getah tersebut.

Bajing kelapa melubangi dan memakan buah kelapa, yang muda maupun yang tua. Karena kebiasaannya tersebut banyak petani yang menganggapnya sebagai hama yang merugikan. Tidak jarang petani mengalami gagal panen karena bajing ini memakan atau melubangi buah-buahan yang ada.

Untuk mencegah hal ini para petani melakukan berbagai cara untuk mengatasinya. Seperti menyiram pestisida pada buah-buahan produksi mereka. Sampai menggunakan predator alami bajing kelapa, yakni burung hantu untuk menekan populasi bajing kelapa di kebun mereka.


Bajing kelapa sedang membawa material untuk sarangnya


Bajing kelapa sering terlihat tidak berkelompok, sehingga termasuk satwa soliter atau menyendiri. Meskipun hidup soliter namun sering teramati mencari makan bersama-sama dalam kelompok kecil, kelompok ini akan saling melindungi satu sama lain saat sedang makan. Ketika merasa terganggu atau terancam, bajing kelapa akan mengeluarkan suara jeritan keras dan pendek sebagai tanda peringatan.

Baca juga : Jelarang, Bajing Pohon Terbesar yang Terancam Punah

Dalam kehidupannya, bajing kelapa bersifat poligami, yaitu satu jantan dapat mengawini maksimal empat bertina. Mereka juga termasuk hewan individual karena sering terlihat tidak berkelompok. Namun, satwa ini sering memanfaatkan sarang secara bersama-sama. Sarangnya sering ditemukan di lubang-lubang kayu atau di antara pelepah daun palma, berupa bola dari ranting dan serat tumbuhan berlapis-lapis. Bajing kelapa melahirkan anak hingga empat ekor, dan dapat beranak kapan saja sepanjang tahun.


Bajing kelapa juga berperan dalam penyebaran biji-bijian


Persatuan Internasional untuk Konservasi dan Sumber Daya Alam (IUCN) mencatat bajing kelapa termasuk dalam kategori Least Concern yang berarti spesies ini masih kurang diperhatikan statusnya (The IUCN Red List of Threatened Species, 2013). Status ini diberikan karena persebaran populasi bajing kelapa yang masih sangat luas dan jumlahnya yang masih banyak (stabil) di alam.

Penting untuk diingat bahwa meskipun tidak dilindungi undang-undang, bajing kelapa tetap merupakan bagian dari rantai makanan dan ekosistem yang berperan dalam penyebaran biji (seed dispersal). Sehingga keberadaan satwa ini sangat penting dan perlu tindakan pelestariannya. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Bajing Kelapa, Hewan Pengerat Mirip Tupai yang Sering Dianggap Hama


Minggu, 01 Februari 2026

Nangka, Tanaman Buah Asli India yang Populer di Indonesia





Nangka (Artocarpus heterophyllus) merupakan salah satu buah tropis yang memiliki ciri khas unik, baik dari segi ukuran, tekstur, hingga aroma dan rasanya. Buah nangka biasanya untuk konsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai makanan lezat. Buah nangka adalah salah satu jenis buah yang paling banyak di daerah tropis.

Buah ini cukup terkenal di seluruh dunia, dalam bahasa Inggris namanya jack fruit. Ada dugaan tanaman ini berasal dari India bagian selatan yang kemudian menyebar ke daerah tropis lainnya, termasuk Indonesia. Di Indonesia pohon nangka dapat tumbuh hampir di setiap daerah.

Bahkan di Indonesia terdapat lebih dari 30 kultivar dan di Jawa terdapat lebih dari 20 kultivar. Di Indonesia pohon ini memiliki beberapa nama daerah antara lain nongko/nangka (Jawa, Gorontalo), langge (Gorontalo), anane (Ambon), lumasa/malasa (Lampung), nanal atau krour (Irian Jaya), nangka (Sunda).



Pohon nangka



Tanaman ini menyukai wilayah dengan curah hujan lebih dari 1500 mm pertahun di mana musim keringnya tidak terlalu keras. Nangka kurang toleran terhadap udara dingin, kekeringan dan penggenangan. Nangka diyakini berasal dari India, yakni wilayah Ghats bagian barat, di mana jenis-jenis liarnya masih didapati tumbuh tersebar di hutan hujan di sana. Kini nangka telah menyebar luas di berbagai daerah tropik, terutama di Asia Tenggara.


Tanaman nangka memiliki akar berbentuk tunggang. Namun juga memiliki akar cabang yang tumbuh bulu yang sangat banyak. Akar Tanaman nangka ini dapat menembus permukaan tanah hingga kedalaman 10-15 meter. Selain itu, akar tanaman ini berguna untuk menyokong pertumbuhannya hingga kuat dan berdiri kokoh.



Daun nangka



Pohon nangka memiliki tinggi 10-15 meter. Batangnya tegak, berkayu, bulat, kasar dan berwarna hijau kotor. Pohon nangka umumnya berukuran sedang, sampai sekitar 20 m tingginya. Batangnya berbentuk bulat silindris, sampai berdiameter sekitar 1 meter. Tajuknya padat dan lebat, melebar dan membulat apabila di tempat terbuka. Seluruh bagian tumbuhan mengeluarkan getah putih pekat apabila dilukai.

Daun pada tanaman nangka merupakan daun tunggal (folium komplek) dan berbentuk bulat memanjang (oblongus). , bertangkai 1–4 cm, helai daun agak tebal seperti kulit, kaku, bertepi rata, bulat telur terbalik sampai jorong (memanjang), 3,5–12 × 5–25 cm, dengan pangkal menyempit sedikit demi sedikit. Ujung daun (apex folii) berbentuk meruncing (acuminatus).

Daun nangka memiliki tepi daun (margo folii) berbentuk rata (integer), serta memiliki tulang daun (nervatio/veneratio) bertulang menyirip (penninervis). Daun nangka mudah rontok dan meninggalkan bekas serupa cincin.

Selain itu, memiliki daging daun (intervenum) yang tipis lunak (herbaceus), dan juga permukaan atas daun licin (laevis) dan mengkilap (nitidus) dengan warna hijau tua. Sedangkan permukaan bawah daun kasar (scaler) dan berwarna hijau muda. Daun pada tanaman Nangka juga memiliki daun penumpu yang berbentuk segitiga dengan warna kecoklatan.



Pohon nagka yang tengah berbuah lebat



Daun-daun nangka merupakan pakan ternak yang disukai kambing, domba, maupun sapi. Kulit batangnya yang berserat, dapat digunakan sebagai bahan tali dan pada masa lalu juga dijadikan bahan pakaian. Getahnya digunakan dalam campuran untuk memerangkap burung, untuk memakal (menambal) perahu dan lain-lain.


Tumbuhan nangka berumah satu (monoecious), perbungaan muncul pada ketiak daun pada pucuk yang pendek dan khusus, yang tumbuh pada sisi batang atau cabang tua. Bunga jantan dalam bongkol berbentuk gada atau gelendong, 1–3 × 3–8 cm, dengan cincin berdaging yang jelas di pangkal bongkol, hijau tua, dengan serbuk sari kekuningan dan berbau harum samar apabila masak.



Daging buah nangka



Bunga tanaman nangka berukuran kecil, tumbuh berkelompok secara rapat tersusun dalam tandan, bunga muncul dari ketiak cabang atau pada cabang-cabang besar. Bagian bunga jantan dan betina terdapat sepohon Setelah melewati umur masaknya, bunga jantan akan terserang jamur / kapang dan membusuk. Dalam kondisi segar, bongkol bunga jantan (babal atau tongtolang) kerap jadi bahan rujak di Indonesia.

Buah nangka berbentuk gelendong memanjang, sering kali tidak merata, panjangnya hingga 100 cm, pada sisi luar membentuk duri pendek lunak. ‘Daging buah’, yang sesungguhnya adalah perkembangan dari tenda bunga, berwarna kuning keemasan apabila masak, berbau harum-manis yang keras, berdaging, kadang-kadang berisi cairan (nektar) yang manis.

Biji nangka berbentuk bulat lonjong sampai jorong agak gepeng, panjang 2 – 4 cm, berturut-turut tertutup oleh kulit biji yang tipis cokelat seperti kulit, endokarp yang liat keras keputihan, dan eksokarp yang lunak. Keping bijinya tidak setangkup.

Nangka termasuk ke dalam keluarga ara, mulberi, dan sukun (Moraceae). Nangka adalah buah pohon terbesar, mencapai berat hingga 55 kg, panjang 90 cm, dan diameter 50 cm. Pohon buah ini menghasilkan buahnya sekali setahun, pohon buahnya dapat mencapai hingga 90 cm dan besarnya 50 cm.



Biji nangka



Pohon nangka dewasa menghasilkan sekitar 200 buah per tahun, sedangkan pohon yang lebih tua menghasilkan hingga 500 buah dalam setahun. Nangka adalah buah majemuk yang terdiri dari ratusan hingga ribuan bunga individu, dan kelopak buah yang masih mentah dimakan.


Tumbuhan dalam genus Artocarpus (seperti nangka, sukun, dan cempedak) dapat bereproduksi secara generatif (seksual) dan vegetatif (aseksual). Reproduksi generatif melibatkan proses penyerbukan dan pembuahan yang menghasilkan biji.



Sayur nangka muda



Tanaman nangka (Artocarpus heterophyllus) dan cempedak (Artocarpus integer) umumnya memiliki biji dan dapat diperbanyak secara generatif melalui penanaman biji. Pohon yang berasal dari biji biasanya membutuhkan waktu lebih lama (sekitar 5-10 tahun) untuk mulai berbuah.

Daging buah nangka muda bisa dimanfaatkan sebagai sayuran yang mengandung albuminoid dan karbohidrat. Sedangkan daging buah nangka yang matang umumnya dalam bentuk segar. Selain itu, daging buah juga bisa diolah jadi produk lain seperti buah kering, selai, jelly, permen, dan sirup ataupun sebagai bahan campuran es krim dan minuman. Sementara getahnya pemanfaatannya sebagai obat demam, obat cacing dan sebagai antiinflamasi. (Ramlee)


Sumber : remen.id


Bajing Kelapa, Mamalia Pengerat Kecil Penghuni Pohon

Bajing Kelapa (Callosciurus notatus) merupakan mamalia pengerat kecil mirip tupai yang mudah ditemukan di Asia Tenggara termasuk Indonesia....