Rabu, 28 Januari 2026

Rangkong Gading, Spesies Burung Rangkong Paling Terancam Punah di Indonesia




Rangkong Gading (Buceros/Rhinoplax vigil) merupakan satu-satunya spesies burung rangkong yang dihiasi dengan tulang (casque) yang terbuat dari keratin padat. Sayangnya hal tersebut juga membuatnya menjadi spesies rangkong paling terancam di Indonesia. Burung ini dapat ditemukan di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan dan termasuk fauna yang menjadi maskot Provinsi Kalimantan Barat dan dilindungi oleh undang-undang.

Burung berukuran besar ini berasal dari keluarga Bucerotidae. Burung-burung dari famili Bucerotidae dikenal dengan sebutan Rangkong, Julang, dan Kangkareng. Di dunia persebarannya terdapat 45 jenis burung rangkong yang tersebar mulai dari daerah sub-sahara Afrika, India, Asia Tenggara, New Guinea dan Kepulauan Solomon.

Sebagian besar hewan hidup di hutan hujan tropis dan hanya beberapa jenis saja yang hidup di daerah kering seperti di Afrika. Di Indonesia sendiri terdapat 13 jenis yang terdiri dari 7 genus, yaitu Annorhinus, Penelopides, Berenicornis, Rhyticeros, Anthracoceros, Buceros, dan Rhinoplax. Tersebar luas di hutan-hutan Sumatera (9 jenis), Jawa (3 jenis), Kalimantan (8 jenis), Sulawesi (2 jenis) dan Irian Jaya (1 jenis).


Rangkong Gading penghuni hutan hujan tropis


Umumnya, semua jenis burung ini mempunyai paruh panjang dan ringan, bekerja seperti sepasang penjepit untuk menangkap atau mengambil makanan dengan cepat menggunakan ujungnya, kemudian memasukkannya ke dalam tenggorokan. Burung rangkong lebih memilih makanan yang ada di atas pohon (arboreal) di hutan, jarang dijumpai burung rangkong memakan buah-buahan di atas tanah.

Baca juga : Rangkong, Burung Besar si Penjaga Kelestarian Hutan Populasinya Kian Terancam

Rangkong Gading merupakan spesies burung enggang yang terbesar di dunia dengan panjang tubuh berkisar antara 65 – 170 cm dan berat sekitar 290 – 4200 gr. Rentang panjang sayap 44 – 49 cm dan panjang ekor bagian tengah 30 – 50 cm. Burung ini juga memiliki iris warna merah, paruh kuning, dan merah, dan kakinya berwarna kaki cokelat.


Rangkong Gading mempunyai suara keras nyaring yang terdengar hingga 2 km jauhnya


Burung ini sangat khas dan mencolok, selain karena badannya yang besar, juga karena memiliki paruh besar. Di atas paruhnya, terdapat tulang padat (casque). Tonjolan berwarna merah itu mirip helm. Itulah sebabnya anggota famili Bucerotidae itu mendapat julukan helmeted hornbill, yang berfungsi sebagai ruang dengung suara.

Rangkong Gading merupakan satu-satunya jenis rangkong yang memiliki tulang/cula (casque) penuh berisi, bahkan 13 persen berat tubuhnya terdapat pada tulang tersebut dimana struktur materinya setara dengan gading gajah. Oleh sebab itu, penamaan rangkong jenis Rhinoplax vigil terinspirasi dari balungnya yang memiliki kemiripan dengan gading gajah.

Cula tersebut digunakan dalam perkelahian yang kerap terjadi di dekat pohon beringin yang sedang berbuah. Bahkan suara keras dan melengking terdengar seperti orang tertawa terpingkal-pingkal dan dapat didengar dari jarak dua kilometer.

Rangkong Gading memiliki warna dasar bulu berwarna hitam dengan bagian perut, ekor, dan kaki berwarna putih. Ketika masih muda, paruh enggang gading berwarna putih juga. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, paruh dan balung akan berubah menjadi oranye atau merah.


Rangkong Gading sedang memakan buah ara


Makanan utama rangkong gading sangat spesifik, berupa buah beringin atau ara berukuran besar. Hanya hutan yang belum rusak yang dapat menyediakan pakan ini dalam jumlah banyak sepanjang tahun. Makanan lain berupa binatang-binatang kecil hanya dikonsumsi sekitar 2 persen dari keseluruhan komposisi makanannya.

Baca juga : Kakatua Tanimbar, Jenis Kakatua Terkecil Endemik Kepulauan Tanimbar yang Terancam Punah

Rangkong Gading terbiasa tinggal di hutan primer yang berisi pohon-pohon sangat besar dan jauh dari manusia. Burung ini biasa membuat sarang di lubang pohon yang berada di ketinggian 20 – 50 meter dari permukaan tanah. Lubang ini biasanya terbentuk dari bekas patahan batang atau sisa lubang dari hewan lain yang kemudian mengalami proses pelapukan.


Rangkong Gading juga menyukai serangga sebagai makanannya


Sama seperti semua jenis burung enggang, Rangkong gading hanya memiliki satu pasangan selama hidupnya (monogami). Setelah menemukan lubang sarang yang tepat, sang betina akan masuk dan mengurung diri. Butuh sekitar 180 hari bagi rangkong untuk menghasilkan satu anak.

Bersama rangkong jantan, lubang sarang akan ditutup menggunakan adonan berupa tanah liat yang dibubuhi kotorannya. Celah sempit disisakan pada lubang penutup untuk mengambil hantaran makanan dari sang jantan, dan juga untuk menjaga suhu dan kebersihan di dalam sarang.

Sang jantan lah yang bertugas mencari makan untuk anak dan betinanya di sarang. Maka, bisa dikatakan jika satu ekor jantang Rangkong Gading terbunuh, itu sama dengan membunuh satu keluarga Rangkong Gading di alam. Rangkong Gading, yang hanya menghasilkan satu anakan per tahun.

Di dalam sarang, sang betina akan meluruhkan sebagian bulu terbangnya (moulting) untuk membuat alas demi menjaga kehangatan telur. Burung betina tidak akan dapat terbang dan bergantung sepenuhnya pada sang jantan, sampai sang anak keluar dari sarang. Tahap bertelur, mengerami, menetas, sampai anak siap keluar dari sarang membutuhkan waktu selama enam bulan.


Rangkong Gading bersama pasangannya di depan lubang pohon yang akan dijadikan sarang


Uniknya, sarang Rangkong Gading bukanlah sarang buatan, melainkan harus sarang alami. Rangkong Gading hanya bisa berkembangbiak pada lubang pohon yang tinggingya 50 meter atau lebih tinggi. Pohon yang memiliki sarang yang layak bagi Rangkong Gading hanya didapati di pohon hutan hujan purba yang memiliki diameter di atas satu meter.

Baca juga : Kuau Raja, Burung Raksasa Eksotis Asal Sumatera Berjuluk Seratus Mata

Lubang pohon itu memiliki ciri khas bongol di depannya. Dan sarang alami yang dibutuhkan rangkong sangat jarang ditemui, apalagi ketika pembalakan hutan liar terjadi. Artinya, rangkong gading sangat membutuhkan hutan, seperti hutan itu membutuhkan burung ini.


Paruh Rangkong Gading setara gading gajah


Hilangnya hutan sebagai habitat utama, minimnya upaya konservasi, dan maraknya perburuan adalah perpaduan mengerikan bagi masa depan rangkong gading. Berbagai jenis pohon beringin yang menyediakan makanan utama bagi rangkong gading dianggap tidak memiliki nilai ekonomis sehingga keberadaannya tidak pernah diharapkan.

Investigasi Rangkong Indonesia dan Yayasan Titian yang didukung oleh Dana Konservasi Chester Zoo, mencatat selama tahun 2013 sekitar 6.000 Rangkong Gading dewasa dibantai di Kalimantan Barat untuk diambil kepalanya. Kemudian, sepanjang 2015 tercatat sebanyak 2.343 paruh rangkong gading berhasil disita dari perdagangan gelap.


Rangkong Gading semakin sulit dijumpai


Jenis burung ini dilindungi menurut UU No. 5 Th 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan telah tercatat dalam lampiran daftar jenis satwa dan tumbuhan liar dilindungi pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999. Selain itu berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.57/Menhut-II/2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008-2018 memasukkan rangkong gading sebagai jenis prioritas dalam kelompok rangkong.

Sejak akhir tahun 2015, International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengklasifikasikan enggang gading sebagai salah satu satwa dengan status status critical endangered atau terancam punah, yang merupakan satu tahap menuju kepunahan. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Rangkong Gading, Burung Enggang Terbesar di Ambang Kepunahan


Minggu, 25 Januari 2026

Petai Raksasa, Tanaman Mirip Petai tetapi Bukan untuk Dikonsumsi



Petai raksasa (Entada phaseoloides) merupakan tanaman merambat raksasa yang hidup di Afrika Timur, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Petai raksasa sempat viral setelah unggahan video di media sosial memperlihatkan seseorang memegang polong raksasa menyerupai petai di hutan Kalimantan.

Sebelumnya, temuan serupa juga terjadi di Banjarnegara, Jawa Tengah. Seorang warga menemukan tanaman dengan buah mirip petai, namun ukurannya bisa mencapai lebih dari satu meter. Hasil penelusuran bisa dipastikan jika itu adalah buah dari tanaman liana langka yang hidup di kawasan hutan lindung.

Petai ini juga dikenal dengan nama box bean atau St.Thomas bean. Di Indonesia, petai raksasa ini dikenal dengan nama bendoh, gandu, dan chariyu. Selain Entada phaseoloides, Entada juga memiliki spesies lain yang memiliki buah dan biji nyaris serupa dengan petai raksasa, Entada rheedii.


Tanaman Entada merupakan tanaman liana yang memanjat pohon yang ditumpanginya


Dalam literatur botani, penulisan nama Entada sering ditampilkan sebagai E. Rheedei untuk menghormati Hendrik Adriaan van Rheede tot Drakestein, ahli botani Belanda pada abad ke-17. Ia dikenal sebagai penyusun karya besar Hortus Malabaricus yang mendokumentasikan banyak tanaman Asia.

Baca juga : Petai, Menimbulkan Bau Menyengat tetapi Enak dan Menyehatkan

Tanaman liana ini pertama kali dijelaskan oleh Linnaeus dan dimasukkan dalam keluarga kacang polong. Jenis tanaman yang mirip petai ini termasuk dalam tanaman liana besar yang memanjat tinggi ke kanopi hutan tropis di dataran rendah.


Bunga tanaman Entada


Tanaman ini biasanya tumbuh di berbagai habitat, mulai dari rawa air tawar dan pedalaman dari bakau hingga hutan pegunungan dimana tumbuh subur dan dimanfaatkan oleh penduduk setempat terutama untuk khasiat obat dan kosmetiknya.

Tanaman petai raksasa ini memiiki struktur daun majemuk menyirip yang terbagi menjadi 1-2 pasang anak daun. Tanaman ini menghasilkan beberapa biji polong besar yang panjangnya bisa lebih dari 100 cm dan lebar 12 cm. Alhasil buah tanaman ini menggantung memanjang seperti layaknya petai raksasa.

Buahnya berupa polong panjang, tebal, dan keras, dengan biji berukuran sekitar 5–6 sentimeter. Kulitnya tidak mudah dibuka dan isinya berwarna putih keabu-abuan. Berbeda dengan petai konsumsi (Parkia speciosa), Entada tidak memiliki aroma khas dan tidak dapat langsung dimakan.

Rasanya pahit dan getir, bahkan berpotensi beracun jika dikonsumsi tanpa pengolahan. Karena itu disarankan untuk tidak mengonsumsinya. Meski beracun, buah tanaman ini masih bisa dimakan setelah direndam dan dipanggang dalam waktu lama.


Buah tanaman Entada tumbuh menggantung mirip petai


Di India, biji petai raksasa (Entada phaseoloides) rebus dikonsumsi oleh suku Kharib dari suku Assam dan Samudera seperti Onges dan Suku Andaman Besar. Biji-biji yang direndam dipanggang, direbus dan dimakan oleh kelompok suku timur laut seperti Garo, Khasi, Naga dan Kannikkars dari Tamil Naidu dan Kerala.

Baca juga : Kabau, Sejawatnya Pete Jengkol dan Lamtoro

Dalam penggunaannya, biji berukuran besar yang sudah disangrai ini disebut bisa dipakai sebagai pengganti kopi. Selain itu, bijinya juga bisa diolah menjadi minyak nabati. Daun mudanya juga disebut bisa dimakan. Tanaman petai raksasa ini juga disebut memiliki berbagai manfaat.


Biji dari buah tanaman petai raksasa



Kandungan saponin pada batangnya bisa digunakan sebagai larutan pembersih. Sejumlah jurnal ilmiah menyebutkan kalau Entada memiliki potensi sebagai bahan obat. Sejak dulu, Entada telah digunakan untuk pengobatan tradisional di Afrika.

Bahkan, tanaman ini dipakai sebagai bahan salep untuk bisul, sakit gigi, penyakit kuning, dan mengobati otot bermasalah. Bahkan, beberapa diantaranya suka percaya kalau bijinya dapat digunakan sebagai keberuntungan bagi pemiliknya.

Tanaman ini disebut-sebut bisa digunakan untuk melawan nyeri sendi dan otot rematik, penyakit pernapasan, hernia, keracunan ikan, kencing nanah, berbagai penyakit kulit, bisul, sakit kepala, sakit perut. Sedangkan buahnya dianggap sebagai alat kontrasepsi. Biji panggang dimakan oleh wanita sebagai depuratif (pembersih darah) pasca melahirkan.

Juga dapat diberikan dalam dosis kecil untuk sakit perut, sebagai obat emetik, dan merupakan komponen dalam beberapa obat majemuk. Bubuk kulit pohon digunakan untuk sakit maag dan bubuk bijinya untuk demam dan sakit kepala. Ekstraknya dipercaya memiliki khasiat sebagai antimikroba dan antiinflamasi, meskipun bukti ilmiah di Indonesia masih terbatas.


Buah tanaman Entada mirip petai dengan ukuran yang luar biasa besar


Namun, penggunaan tanaman ini tetap harus berhati-hati karena kandungan alami pada bijinya bisa menyebabkan iritasi atau reaksi toksik jika dikonsumsi mentah. Pihak konservasi pun menekankan pentingnya edukasi masyarakat agar tidak sembarangan memetik atau mengonsumsi tanaman liar.

Baca juga : Saga Rambat, Tanaman Gulma yang Dimanfaatkan untuk Pengobatan Tradisional

BKSDA Jawa Tengah telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar agar tidak mengonsumsi atau merusak tanaman ini. Selain karena bukan bahan pangan, Entada juga memiliki fungsi ekologis penting bagi peneduh dan penahan erosi di hutan tropis. Edukasi seperti ini sangat penting agar masyarakat memahami peran setiap spesies dalam menjaga keseimbangan alam.


Viral petai raksasa Entada di hutan Banjarnegara


Para ahli kehutanan menegaskan bahwa polong Entada Rheedii tidak layak dikonsumsi karena bukan tanaman pangan dan mengandung biji sangat keras. Masyarakat juga diimbau tidak mencoba mengolahnya tanpa pengetahuan botani yang memadai mengingat kandungan senyawa di dalamnya berbeda dari kacang-kacangan.

Fenomena “petai raksasa” yang viral menunjukkan pentingnya edukasi publik tentang keragaman flora Indonesia agar masyarakat tidak keliru mengidentifikasi tanaman. Banyak spesies hutan memiliki kemiripan visual dengan tanaman konsumsi, namun memiliki karakter dan fungsi yang jauh berbeda. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Petai Raksasa, Tanaman Langka Mirip Petai yang Biasa Dikonsumsi Masyarakat


Sabtu, 24 Januari 2026

Kompol Dwi Sucahyo Buka Lomba Spesial Tahun Baru 2026, Rahayu dan Grojokan Sewu Juara, Tali Jagat Jadi Bintangnya



Pengcab PPPPSI Probolinggo bekerjasama dengan P3-Pro menggelar Lomba Seni Suara Alam Burung Puter Pelung pada Minggu, 18 Januari 2026 di Gantangan Patimura BC. Mayangan – Probolinggo. Event yang merupakan agenda rutin di daerah Tapal Kuda Jawa Timur tersebut berhasil terselenggara.

Lomba awal tahun ini spesial digelar untuk menyemarakkan hobi puter pelung di Probolinggo dengan membangkitkan semangat para peternak dan penghobi di Probolinggo dan daerah Tapal Kuda. Mereka musti berani tampil membawakan hasil tetasannya atau rawatannya ke arena lomba melalui Lomba Spesial Tahun Baru 2026.


Kabag Ops. Polres Probolinggo Kota Kompol Dwi Sucahyo SH.M.M. berfoto bersama juri dan panitia


Ada tiga kelas yang dibuka yakni kelas Pemula, kelas Utama, dan kelas Bintang. Ternyata diluar dugaan, peserta membludak. Bahkan menarik para pelomba dari Jawa Tengah untuk ikut hadir meramaikan. Dari 3 kelas yang dibuka hampir seluruhnya penuh peserta.

Tidak hanya secara kuantitas peserta meluber, juga secara kualitas burung-burung yang turun rata-rata tampil ciamik. Lomba yang bisa dikategorikan even Latpres tersebut diikuti para jawara puter pelung dari beberapa kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah.


Menunggu saat-saat menggantang burung gacoannya masing-masing


Panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh puter pelung mania yang sudah berpartisipasi hadir di ajang perdana tahun 2026 ini. Terima kasih juga disampaikan kepada pihak sponsorship sehingga jumlah undian doorprize cukup banyak. Termasuk adanya hadiah sembako dan uang pembinaan.

Hadir dalam acara tersebut Kabag Ops. Polres Probolinggo Kota Kompol Dwi Sucahyo SH.M.M. “Saya bangga ketika melihat kegiatan ini benar-benar menjadi pilihan masyarakat pecinta burung puter pelung, yang datang bukan saja dari Probolinggo, tetapi juga dari luar kota, bahkan dari luar Jawa Timur,” jelas Kompol Dwi Sucahyo.


Kompol Dwi Sucahyo berkenan menaikkan burung ke gantangan


Lebih lanjut Kompol Dwi Sucahyo berharap, kegiatan seperti itu dapat membangun silaturahmi, membangun sinergitas bersama antara Polri dan organisasi puter pelung yakni PPPPSI di daerah Probolinggo. “Tentu momentum yang baik ini bisa kita gunakan, manfaatkan untuk saling bertemu, dan saling bersilaturahmi.”

“Dan mudah-mudahan ke depan kegiatan-kegiatan seperti ini bisa terus kita selenggarakan untuk membangun sinergitas seluruh stakeholder yang ada,” papar Kompol Dwi Sucahyo. Melihat hasil yang luar biasa inilah, Kompol Dwi Sucahyo juga berharap bisa mengagendakan kembali kegiatan yang sama di hari Bhayangkara nanti, tentunya dengan kemasan yang lebih bagus lagi.


Juri bersiap dengan benderanya


Even awal tahun yang digelar oleh Pengcab Probolinggo benar-benar dimanfaatkan para penghobi burung puter pelung di wilayah Tapal Kuda, juga kota-kota di Jawa Timur, seperti Surabaya, Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep. Bahkan penghobi dari Jawa Tengah juga hadir, yakni Purworejo, Semarang, dan Wonosobo.

Hadirnya peserta dari luar kota, selain semakin menambah ramai suasana lomba. Kehadiran jago-jago yang diusung oleh tim tamu tersebut, juga mampu menjadikan persaingan semakin ketat dan seru. Baik persingan di kelas Pemula, Utama maupun persaingan di kelas Bintang.


Even Spesial Tahun Baru 2026 berjalan meriah


Cuaca kota Probolinggo, hari itu tampaknya kurang bersahabat. Pasalnya, sejak pagi buta, lokasi di Gantangan Patimura BC yang jadi tempat persaingan jago jago puter pelung sudah dipayungi awan mendung. Udara dingin serasa menusuk tulang, betu-betul sangat dirasakan oleh semua peserta yang hadir.

Dan meskipun kondisi alam saat itu kurang mendukung, tetapi ternyata itu tidak menyurutkan nyali dan semangat peserta. Untuk tetap menggantang dan mengawal jago-jagonya, agar bisa tampil bagus dan pulang membawa tropy juara. Begitu peluit dibunyikan sebagai tanda lomba dimulai, sontak saja suasana arena lomba pun berubah menjadi ramai.


Rahayu sabet juara di kelas Utama


Suara merdu anggung jago-jago puter pelung, yang digantang terdengar silih berganti. Adu mental dan kualitas anggung benar-benar terjadi di tiga kelas yang dibuka oleh panitia. Beberapa jawara puter pelung yang biasanya tampil mempesona ternyata enggan memamerkan anggung emasnya, cuaca tampaknya memang berpengaruh.

Beberapa peserta sempat meluapkan kekesalan dan ketidakpuasannya karena merasa burungnya layak menang namun dinilai kurang maksimal dan tidak diperhatikan oleh juri. Lomba yang bisa dikategorikan Latpres seperti itu umumnya berjalan ramai dan diikuti oleh antusiasme tinggi dari para penghobi dari berbagai daerah.


Grojokan Sewu moncer di kelas Pemula


Protes atau ketidakpuasan peserta merupakan hal yang berpotensi terjadi dan harus diantisipasi oleh panitia sedari awal melalui penilaian yang lebih adil dan transparan. Peserta dari luar daerah dengan burung-burung bagus pasti akan berteriak ketika burungnya saat manggung tetapi tidak terpantau oleh juri.

Empat babak penilaian, betul-betul jadi persaingan seru dan ketat antar jago yang berlaga. Dan mendung yang terus memayungi juga tak mampu membendung kerja dari beberapa jago jago puter pelung yang memang punya mental hebat.


Tali Jagat menjadi Bintang di even Spesial Tahun Baru 2026


Buktinya di kelas Utama, Rahayu yang jadi andalan Slamet Situbondo, jago bergelang Arjuna 18 ini berhasil menembus dinginnya udara dan lolos dari hadangan pesaingnya. Dengan mendapat total nilai tertinggi, Rahayu sukses merebut podium pertama dan pulang membawa tropy juara.

Sedangkan burung puter pelung bernama Mawar milik AG BF Bangkalan bergelang AG 37 harus puas menjadi runner upnya. Dan disusul kemudian oleh Condro Wangi milik Amir 99 Pamekasan, dengan ring Jojo 111 di tempat ketiga.



Sementara di kelas Pemula yang dilombakan setelah kelas Utama, juga berlangsung seru. Di babak pertama tanpa terduga dua burung harus mengakhiri persaingan lebih awal setelah pengajuan mendapatkan bendera lima warna disetujui oleh koordinator juri sehingga harus terkena diskualifikasi.

Salah satunya burung milik Krida Tya Yudha. “Wes gak opo-opo, semoga memang waktunya naik kelas setingkat lebih tinggi,” ucap Yudha pemilik Arahiwang BF Purworejo Jawa Tengah legowo. Hingga akhirnya jago muda Grojokan Sewu orbitan 7BF Pasuruan mampu merebut podium utama.



Grojokan Sewu rebut juara setelah bersaing sangat ketat dengan Sadis burung puter milik Danu Pesona dari Situbondo yang berada di tempat kedua. Dan Ki Geter andalan Dewoko dari Bondowoso yang berhasil mengakhiri langkahnya di posisi ketiga.



Sementara di kelas Bintang berlangsung begitu meriah. Persaingan menjadi yang terbaik sangat ketat. Setelah melalui persaingan sengit selama empat babak penuh penilaian. Tali Jagat yang jadi andalan Imam Syafi’i Tuban merebut podium juara. Tempat kedua diduduki Ki Dewo milik Rojaa BF Paiton. Sedang Barada’e milik Imam Syafi’i lainnya mengunci posisi tiga besar. (Ramlee/TM)


Sabtu, 17 Januari 2026

Latber Rutin AG BF Bangkalan, Upaya Bangkitkan Hobi, Turangga Finish Teratas



Giat rutin Latihan Bersama (Latber) Puter Pelung AG Bird Farm Bangkalan kembali digelar. Kali ini kegiatan dihelat pada Minggu, 11 Januari 2026. Menempati lokasi di Gantangan AG BF Bangkalan Jl Pertahanan No. 191 Bancaran – Bangkalan, acara berlangsung lancar tanpa hambatan.

Kegiatan ini hanya membuka satu partai yang dilombakan yakni kelas Pemula. “Hari ini Latihan Bersama AG Bird Farm Bangkalan kembali kami gelar, lokasinya masih di Gantangan AG Bird Farm. Alhamdulillah peserta masih tetap banyak yang memberikan dukungan dengan hadir di tempat acara,” tutur H. Alif M. Nur selaku tuan rumah.


Pengkondisian sebelum naik gantangan


Abah Alif menuturkan bahwa pelaksanaan Latber AG BF berjalan rutin setiap awal bulan menjadi sebuah agenda yang diusahakan akan tetap dilaksanakan. “Kami setiap bulan pada minggu-minggu pertama akan selalu menggelar acara latber AG BF. ” jelas Abah Alif.

Lebih lanjut disampaikan bahwa semua itu karena untuk memenuhi keinginan para penghobi burung anggungan puter pelung yang ada di Bangkalan dan sekitarnya. Dan kegiatan ini tetap pada tujuan semula, yakni memberikan ruang kepada puter pelung mania di Bangkalan.


Trophy dan piagam tertata rapi di meja panitia


Khususnya para penghobi baru atau penggemar pemula dan burung-burung muda atau burung yang belum terlatih mengikuti lomba agar bisa mendapatkan kesempatan mengevaluasi sampai seberapa jauh kualitas dan performa yang dimiliki burung-burung tersebut.

“Kegiatan kali ini hanya membuka satu kelas yakni kelas Pemula. Kami tidak mempersoalkan kelas yang dilombakan, yang penting kami bisa kumpul dan gantang bareng. Kegiatan ini sebagai wadah silaturahmi bagi penghobi puter pelung di Bangkalan dan sekitarnya ” ungkap Abah Alif lagi.


Suasa teduh mewarnai pelaksanaan Latber Rutin AG BF


Setidaknya dengan kegiatan seperti latber AG BF ini, diharapkan muncul pendatang baru yang akan semakin melengkapi jumlah keberadaan pecinta puter pelung di Bangkalan. “Untuk itu, uang pendaftaran juga relatif terjangkau. Uang pendaftaran cukup kekeluargaan dengan 25 ribu rupiah, tersedia piala, piagam, dan sembako untuk yang juara.”

“Jumlah yang hadir memang belum banyak. Mudah-mudahan akan terus bertambah dan semakin membuat hobi puter pelung di Bangkalan khususnya semakin semarak dan mencapai tujuan yang selama ini kami harapkan bersama,” harap Abah Alif.


Semua yang hadir menikmati gacoannya beraksi


Dari jumlah yang terlihat, memang tidak banyak puter pelung mania yang hadir, karena acara ini memang hanya sekedar latihan bersama. Kegiatan membawa misi memberikan kesempatan bagi para puter pelung mania agar bisa terus eksis menekuni hobinya.

Adanya permintaan dari para penghobi akan adanya kegiatan lomba ditangkap oleh Abah Alif dengan acara latber rutin buat memberikan jalan bagi mereka agar hobi puter pelung yang sudah ditekuni, bisa tetap tersalurkan. Meski kegiatan ini sekedar latber, namun diharapkan semua penghobi dari manapun untuk ikut serta meramaikan agenda tersebut.


Abah Alif bersama para juara


Lomba dimulai jam 09.00 WIB dengan sistem 3 babak mengingat situasi dan kondisi di sekitar lokasi yang sering hujan dan hembusan angin dingin pagi itu yang sedikit menyulitkan burung untuk tampil maksimal. Namun hal tersebut juga tidak menyurutkan semangat untuk tetap menjalani proses penjurian.

Persaingan perebutan posisi kejuaraan berlangsung seru. Tiga babak penjurian berjalan sesuai harapan. Sampai akhirnya ditetapkan podium juara. Juara pertama berhasil menjadi milik Turangga amunisi P. Newi Bangkalan, puter pelung ternakan ATM 100 yang digantang pada nomor 4.





Kemudian Casino andalan Yan’s Bangkalan, ring Tiger 229 yang berada di nomor gantangan 15 sebagai peraih juara kedua dan tempat ketiga dimenangkan Mawar orbitan Anas Bangkalan ring Anas 10 yang berada di nomor gantangan 10. “Insya’Allah sebagian teman dari Madura akan meluncur ke Probolinggo akhir minggu ini,” tutur Abah Alif menutup percakapan. (Ramlee/AG)


Jumat, 16 Januari 2026

Gelaran Mbah Demang Cup #2 Terganggu Hujan, Adizero dan Yakuza Rebut Juara



Pengcab PPDSI Blitar kembali menggelar kegiatan Lomba Seni Suara Alam Burung Derkuku. Kali ini agenda yang mereka usung bertajuk Mbah Demang Cup #2 yang dilaksanakan pada Minggu, 11 Januari 2026. Menempati lokasi di Lapangan Kelurahan Bendo, Kec. Kepanjenkidul, Kota Blitar.

PPDSI Blitar akhirnya bisa merealisasikan rencana untuk menggelar kegiatan even Mbah Demang Cup #2. Kegiatan ini sempat mengalami penundaan. Awalnya agenda untuk membuktikan eksistensi hobi derkuku di Blitar ini akan digelar pada 21 Desember 2025.

Namun datang berita duka dari keluarga Muhammad Makrus, SE Ketua Umum PPDSI. Dalam suasana duka yang mendalam akan kepergian Alm. M. Makrus, panitia memutuskan untuk menunda semetara waktu kegiatan tersebut hingga terlaksana pada 11 Januari 2026.


Para Juri berpose sejenak sebelum bertugas


“Hari ini kami mengggelar kegiatan lomba derkuku dan Alhamdulillah bisa berjalan sesuai harapan,” terang Mbah Demang Ketua Panitia. Disampaikan juga bahwa kegiatan tersebut sebagai wujud untuk menyemarakkan hobi derkuku di Blitar dan sekitarnya.

Menurut Mbah Demang hanya dengan kegiatan seperti ini maka hobi derkuku akan tetap eksis dan bisa lebih berkembang lagi. “Tanpa kegiatan, maka hobi tidak akan bisa ramai,” sambung Dhimas Nugraha, Sekretaris Pengcab Blitar.


Pengecekan kelengkapan bendera jelang lomba dimulai


“Kami selalu berusaha membuat kegiatan dengan harapan agar hobi derkuku bisa lebih semarak lagi. Karena dengan cara ini maka hobi bisa berkembang pesat. Apalagi Blitar menjadi salah satu daerah yang ingin menjadikan hobi derkuku lebih semarak lagi,” ungkap Dhimas.

Even ini membuka dua kelas yakni kelas Bebas dan kelas Pemula. Kegiatan ini di motori langsung oleh Mbah Demang, seorang tokoh anggungan dari Kediri. Dari data yang masuk ke bagian pendaftaran, dekoe mania yang hadir berasal dari Jombang, Nganjuk, Kediri, Trenggalek, Tulungagung, dan Blitar sendiri.

Even Mbah Demang Cup #2 dilaksanakan sebagai suatu bentuk kepedulian dari salah satu tokoh anggungan di Kediri (Mbah Demang). “Meskipun tokoh Kediri namun beliaunya tetap berkenan untuk dilaksanakan di Blitar, mungkin salah satunya dengan pertimbangan sarana dan prasana lomba yang lengkap,” jelas pemilik Gada BF ini.

Antusias dekoe mania untuk mengikuti kegiatan ini benar-benar luar biasa. “Alhamdulillah kegiatan hari ini mendapatkan dukungan yang luar biasa dari rekan-rekan. Saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran rekan-rekan,” terang Dhimas Nugraha, Sekretaris Pengcab Blitar.


Dekoe mania Blitar bersiap mengerek gacoannya


Lebih dari seratus ekor derkuku ikut ambil bagian. Para peserta terbagi atas kelas Bebas dengan jumlah peserta 40 ekor (1 blok) dan kelas Pemula jumlah peserta 70 an (2 blok). Respon yang diberikan dekoe mania membuat panitia bisa tersenyum, pasalnya jumlah tersebut sudah melebihi angka yang diharapkan.

Lapangan Kelurahan Bendo Kec Kepanjen kidul dipilih menjadi lokasi acara. Menurut Mbah Demang selaku Ketua Panitia, mengatakan bahwa lokasi tersebut merupakan salah satu pilihan lokasi dari beberapa tempat yang ada. “Lagian dulu yang Mbah Demang Cup 1 juga bertempat di Blitar,” ujar Mbah Demang.


Cuaca mendung mewarnai pelaksanaan Mbah Demang Cup #2


Di Kediri sendiri, Mbah Demang kesulitan perihal lapangan yang akan digunakan, selain itu kepanitian juga belum siap. “Karena saya sebenarnya cuma sekedar membantu sponsor ke Panitia,” ungkap Mbah Demang merendah. Dan agenda ini mengawali tahun 2026 dengan semangat kebersamaan menata kembali hobi yang dipilih untuk lebih maju.

Selain peserta yang ikut meramaikan acara ini, panitia juga meramaikan acara dengan doorprize melimpah. Acara dimulai ketika langit yang sejak pagi seakan enggan menampakkan wajah sang mentari. Namun demikian kondisi tersebut, tidak sampai menyurutkan semangat dekoe mania untuk hadir.

Keinginan untuk bisa masuk lapangan, mengerek, dan menggantang menampilkan gaco-gaco terbaiknya demikian kuat. Malam sebelumnya lokasi yang akan digunakan juga turun hujan deras yang membuat beberapa dekoe mania sempat ragu untuk berangkat dan timbul pertanyaan, apakah kegiatan akan tetap berlanjut.

“Walau hujan panggah jalan,” tegas Mbah Demang menjawab keraguan para dekoe mania. Namun sayang semarak kegiatan ini akhirnya benar-benar tidak bisa tergelar secara utuh sepanjang empat babak karena hujan yang tidak diharapkan hadir, membuyarkan acara.


Semua menikmati jalannya acara ditemani sajian pisang dari panitia


Mbah Demang mengatakan bahwa cuaca seperti itu memang tidak diharapkan datang, namun siapa yang mampu menolak. Mbah Demang menuturkan bahwa kondisi cuaca yang kurang bagus ini sudah hadir sebelum acara. “Alhamdulillah acara Mbah Demang Cup #2 berjalan sesuai rencana, meski tidak sampai empat babak karena memasuki babak keempat harus terhenti karena turun hujan,” ungkap Mbah Demang.

“Kondisi seperti ini memang tidak bisa kita predikasi,” tambah Mbah Demang ketika penjurian harus terhenti karena turun hujan. Semua sepakat untuk tidak meneruskan penjurian dan hasil penjurian pun sudah sah untuk dilakukan rekapitulasi hasil kejuaraan karena lebih dari dua babak seperti yang diatur di dalam AD/ART PPDSI.


Mbah Demang serahkan trophy juara satu kelas Bebas kepada Anton WDN


Para juara di kelas Pemula


Sampai akhirnya panitia membacakan hasil juara untuk masing-masing kelas yang dilombakan. Di kelas Bebas, juara pertama menjadi milik Adizero, amunisi Anton WDN Blitar produk ternak B2W 4001 pada kerekan 30. Kemudian Mustika, andalan Kamal Kediri, ternakan JBKRM 828 yang dikerek pada nomor 43 di tempat kedua.

Sementara EG Junior orbitan Tegar Blitar ternakan MKS 935 yang ada di kerekan 18 berhasil rebut posisi ketiga. Untuk kelas Pemula, podium pertama berhasil menjadi milik Yakuza, amunisi Aris Madu Blitar, produk ternak PN 835 yang dikerek pada nomor 109.


Dhimas Gada serahkan doorprize sangkar kepada yang beruntung mendapatkannya


Tempat kedua diraih Joy debutan Nuryani Blitar, produk ternak MKS pada kerekan nomor 113. Dan tempat ketiga jadi milik Donking besutan Anton WDN Blitar, produk tenak MKS 1160 yang dikerek pada nomor 75. (Ramlee/GD)





Sabtu, 10 Januari 2026

Baza Hitam, Burung Pemangsa Kecil Mirip Elang yang Memukau



Baza Hitam (Aviceda leuphotes) merupakan jenis burung pemangsa berukuran kecil yang berasal dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Baza hitam termasuk kedalam famili Accipitridae yang sama dengan elang dan burung pemangsa lainnya. Burung pemangsa berukuran sedang yang sangat khas.

Baza hitam atau yang dalam bahasa Inggris biasa dikenal dengan nama Black Baza memiliki ukuran tubuh yang tergolong kecil. Panjang tubuhnya berkisar 30 sampai 35 sentimeter, dengan rentang sayap mencapai 66 sampai 80 sentimeter, dan berat sekitar 168 sampai 224 gram.

Meski terlihat anggun, Baza hitam memiliki sayap yang pendek dan lebar. Hal ini memungkinkan mereka untuk melakukan manuver yang lincah saat berburu serangga di tengah pepohonan. Paruhnya juga kuat dan melengkung, cocok untuk menangkap dan memakan serangga yang berukuran kecil hingga sedang.


Baza hitam, burung pemangsa berukuran kecil


Penampilannya seperti Elang, namun jangan terkecoh oleh penampilannya yang menyerupai elang. Baza hitam sebenarnya lebih dekat secara taksonomi dengan Jalak dan burung-burung pengicau daripada dengan burung Elang. Ini menunjukkan keanekaragaman dan kompleksitas hubungan antara spesies dalam keluarga burung pemangsa. Meskipun tampak garang dengan paruh tajam dan cakar kuat, Black Baza sebenarnya bukanlah burung yang agresif.

Baca juga : Elang, Burung Raptor si Penguasa Langit yang Kian Langka

Burung ini mudah dikenali dari bulu hitam pekatnya yang kontras dengan pita dada putih tebal, dan garis-garis putih berkarat di perut, serta jambul hitam yang menonjol. Jambulnya ramping dapat ditegakkan secara vertikal atau miring ketika bertengger, tetapi cenderung disembunyikan saat terbang.


Baza hitam lebih suka mendiami hutan lebat


Habitat Baza hitam adalah hutan lebat di dataran rendah hingga kaki bukit. Baza hitam lebih sering ditemukan bertengger di pohon-pohon tinggi atau terbang dalam kawanan besar di luar musim kawin. Baza hitam ditemukan di hutan lebat, sering pada kelompok kecil.

Baza hitam juga diketahui menghabiskan banyak waktu dengan bertengger pada tenggeran terbuka yang terlihat dari bawah hutan kanopi. Saat bertengger, jambul tegaknya yang mencolok serta pola warna kontras menjadikannya mudah dikenali dan mudah dibedakan dari spesies lain.

Sedangkan pada saat terbang, burung pemangsa ini cenderung mengatupkan jambulnya. Jika saat terbang terlihat dari atas, terlihat pola “kotak-kotak” di sayap atas. Saat berada di udara, Baza hitam sekilas mirip burung gagak. Burung ini sering terlihat terbang dalam kelompok kecil atau bahkan kawanan besar, terutama saat musim migrasi.

Sebagai predator, Baza hitam mengandalkan kelincahannya dalam menangkap mangsa. Baza hitam berburu serangga dengan menerkam langsung di udara atau mengambilnya dari dedaunan menggunakan kaki-kakinya. Tidak jarang, Baza hitam juga menyergap burung kecil seperti kicuit dengan terjangan cepat ke arah kawanan.


Kawanan Baza hitam yang sedang migrasi


Selain berburu sendiri, Baza hitam juga diketahui bergabung dalam kelompok burung dari berbagai spesies saat mencari makanan. Uniknya, meskipun dikenal sebagai pemangsa, Baza hitam ternyata juga memakan buah kelapa sawit. Tidak hanya perilakunya yang menarik, baza hitam juga memiliki ciri fisik yang khas. Paruh bagian atasnya memiliki dua lekukan kecil seperti gigi yang merupakan ciri khas burung dalam genus Aviceda.

Baca juga : Jalak Suren, Salah Satu Jenis Burung Peliharaan Favorit Penghobi Kini Semakin Susah Ditemui di Habitat Alaminya

Burung jantan memiliki ciri khas berupa bulu putih pada bagian scapulars (tulang belikat) serta sebagian bulu sekunder. Sementara itu, betinanya hanya memiliki warna putih pada skapular dan menampilkan lebih banyak pita berwarna cokelat kemerahan di bagian bawah tubuh dibandingkan dengan jantan yang memiliki lebih sedikit pola serupa. Suara Baza hitam terdengar seperti “chu-weep”.


Baza hitam suka berburu serangga


Beberapa deskripsi lain menyebutkan suaranya mencicit lembut atau berisul melengking yang mirip dengan burung camar. Salah satu fakta menarik lainnya adalah burung ini memiliki aroma yang tidak sedap, sering digambarkan seperti bau serangga tertentu. Saat musim kawin tiba, Black Baza semakin menarik perhatian. Burung ini kerap melakukan pertunjukan udara yang memukau, berupa terbang akrobatik di udara untuk menarik perhatian pasangan.

Secara umum, baza hitam berkembang biak di hutan gugur terbuka atau hutan hijau sepanjang tahun, termasuk kawasan hutan sekunder dan daerah yang didominasi bambu. Baza hitam cenderung memilih area dekat sungai atau daerah dengan banyak celah terbuka. Saat berbiak memilih hutan kaki bukit dan dataran rendah, tetapi dapat ditemukan di habitat yang lebih terbuka di daerah perlintasan dan wilayah tujuan migrasi.

Bersifat cukup sosial di luar musim kawin, sering terbang dalam kawanan besar dan bertengger mengelompok. Mengeluarkan suara mirip peluit yang melengking dan bergema, sering kali saat saat terbang. Baza hitam membangun sarang dari ranting-ranting di atas pohon yang tinggi, seringkali di sekitar hutan-hutan rimba atau tepi hutan.

Sarang tersebut biasanya ditempatkan di pohon yang dilindungi dengan baik oleh daun-daun yang rimbun. Betina akan bertelur dalam sarang tersebut dan kedua induknya akan saling bergantian mengerami telur dan mengasuh anak-anaknya. Setelah telur menetas, anak-anak Baza hitam akan tetap tinggal di sarang selama beberapa minggu sebelum akhirnya mampu terbang dan mandiri.


Induk Baza hitam bersama anak-anaknya


Selama masa ini, induk jantan dan betina bekerja sama untuk memberikan makanan kepada anak-anak mereka. Setelah mencapai kedewasaan, Baza hitam akan membentuk pasangan dan memulai siklus berbiaknya sendiri. Di luar musim kawin, Baza hitam dapat ditemukan di berbagai habitat lain, seperti hutan bakau, perkebunan, taman, sawah, hingga lahan pertanian yang dikelola manusia.

Baca juga : Mino Muka Kuning, Beo Papua Termasuk Keluarga Burung Jalak yang Bisa Berbicara Layaknya Manusia

Selama musim berbiak, Baza hitam cenderung melakukan migrasi jarak jauh untuk mencari tempat yang lebih baik dalam hal sumber makanan dan kondisi lingkungan yang sesuai. Migrasi ini melibatkan pergerakan massa yang spektakuler, di mana baza hitam dapat membentuk kelompok besar saat mereka bergerak bersama dalam perjalanannya.


Baza hitam yang eksotis harus terus dijaga keberadaannya


Selama migrasi, Baza hitam dapat menempuh jarak yang cukup jauh, melintasi perairan dan hutan-hutan yang luas. Baza hitam menggunakan kemampuan terbangnya yang lincah untuk menavigasi melalui rute yang ditentukan oleh perubahan musim dan ketersediaan sumber daya. Pola imigrasi ini menunjukkan fleksibilitas dan adaptasi Baza hitam dalam menghadapi perubahan lingkungan dan memastikan kelangsungan hidupnya di berbagai wilayah.

Dalam beberapa dekade terakhir, populasi Black Baza masih terbilang stabil, meskipun habitatnya terancam oleh deforestasi. Kehadiran burung ini juga menjadi indikator penting dari kesehatan ekosistem hutan tempat Baza hitam tinggal. Oleh karena itu, menjaga kelestarian hutan-hutan di Asia Selatan dan Asia Tenggara sangat penting untuk memastikan kelangsungan hidup burung-burung ini. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Baza Hitam, Burung Predator yang Eksotis


Latber AG Bird Farm Bangkalan, Gelaran Masih Tetap Semarak, Mawar Raih Kemenangan

Dalam rangka meningkatkan kualitas peternak puter pelung dan wadah silaturahmi bagi penghobi puter pelung di Bangkalan dan sekitarnya, AG Bi...