Saga Rambat (Abrus precatorius L.) merupakan jenis tumbuhan perdu yang daunnya sering dijadikan obat. Seluruh bagian tanaman ini bisa dimanfaatkan sebagai obat tradisional, terutama daunnya. Tanaman saga rambat sejak beberapa puluh tahun lalu telah dikenal oleh masyarakat di sejumlah daerah di tanah air.
Nama saga bermacam-macam sesuai dengan penyebutan di daerahnya masing-masing. Seperti thaga (Aceh), seugeu (Gayo), hasebo (Batak), kendari, kundari (Lampung dan Minangkabau). Sedangkan di Jawa disebut sebagai saga telik atau saga manis. Di Kalimantan, saga diketahui bernama taning bajang (dayak) dan di Gorontalo (Sulawesi) dijuluki sebagai walipopo.
Tanaman herbal ini berasal dari India, yang kemudian menyebar ke wilayah tropis dan subtropis di seluruh dunia termasuk Indonesia. Jika dilihat sekilas, daun saga tampak mirip dengan daun kelor. Namun, bentuk daun saga lebih lonjong dan panjang.
![]() |
Saga Rambat tumbuh cepat, sehingga ada yang anggap tanaman gulma |
Tanaman ini mampu berkembang di berbagai topografi dan kondisi tanah yang kurang subur, subur, dan yang tergenang air laut atau asin. Tumbuhan saga tumbuh secara merambat ke atas, dengan panjang bisa mencapai 6-9 m dengan diameter batang hingga 1,5 cm. Tumbuhan ini membelit-belit ke arah kiri.
Baca juga : Jengkol, Tumbuhan Asli Indonesia yang Memiliki Banyak Manfaat
Saga rambat berakar sangat kuat, yang membuatnya sulit dicabut. Karena sifat tumbuhnya yang cepat itu membuatnya berkembang menjadi tumbuhan gulma yang sangat invasif di banyak negara. Pada akhir abad ke-20, saga rambat dideklaraskan sebagai gulma di beberapa negara.
![]() |
Bentuk bunga Saga Rambat |
Tumbuhan saga rambat berdaun majemuk, dan bersirip ganjil, berbentuk bulat telur, dan berukuran kecil. Dengan anak daun 8-15 pasang, pangkal membundar, tepi rata. Jumlah daunnya bersirip ganjil dan terasa agak manis. Bunganya berwarna ungu muda dengan bentuk menyerupai kupu-kupu dalam tandan bunga. Perbungaan muncul di ketiak atau di ujung daun dengan 5-7 bunga setiap tandan.
Saga mempunyai buah berbentuk polong, lonjong, agak pipih, berukuran sekitar 2,5 × 1,2 cm. Berisi biji-biji yang berwarna merah mengkilat dan licin. Dengan titik warna hitam di bagian pangkal biji. Bijinya berbentuk sedikit lonjong agak pipih, panjang 6-8 mm, bertekstur keras.
Kandungan kimia yang terkandung berupa saponin dan flavonoid berada pada daun, batang, dan biji tanaman saga rambat. Sementara pada batangnya terdapat polifenol. Biji saga mengandung tanin dan pada akarnya menyimpan alkaloid, saponin, dan polifenol.
Masyarakat Indonesia mengenal saga rambat sebagai obat rematik, sakit kepala dan sakit perut. Daun saga dapat menyembuhkan sakit sariawan dan sakit gigi. Untuk mengobati sariawan, penderita cukup mengunyah daun saga rambat sebanyak dua kali sehari.
![]() |
Buah Saga Rambat berbentuk polong |
Kandungan glycyrrhizin di dalamnya mempunyai kemampuan antiinflamasi atau pencegah radang. Selain itu daun saga rambat juga dapat menjadi obat pencuci mata. Daun dari saga rambat sudah dikenal berkhasiat sebagai obat sariawan. Untuk mendapatkan manfaatnya, daun saga biasanya dikonsumsi sebagai teh herbal atau diolah menjadi suplemen.
Baca juga : Kedelai, Tanaman Pangan yang Memiliki Kandungan Protein Tinggi
Zaman dulu, biji saga yang mungil dan berwarna unik sering dipakai bermain oleh anak-anak. Namun, sebaiknya berhati-hati terhadap biji saga yang berwarna merah dengan bintik hitam. Jika biji saga termakan dapat menimbulkan gejala keracunan seperti mual, muntah, kejang-kejang, gagal hati, bahkan kematian.
![]() |
Biji Saga Rambat |
Uniknya ternyata ada dua jenis tumbuhan saga yang berbeda, yang satu tumbuh merambat sedangkan satu lainnya tumbuh berbentuk pohon. Selain bentuknya, saga rambat dan saga pohon juga memiliki banyak perbedaan.
Saga Pohon (Adenanthera pavonina) bisa tumbuh mencapai hingga tinggi 20-30 m. Buahnya menyerupai petai (tipe polong) dengan bijinya kecil berwarna merah. Tumbuhan ini sebenarnya berasal dari Asia Selatan namun sekarang telah tersebar di seluruh daerah beriklim tropis.
Saga pohon umum dipakai sebagai pohon peneduh di jalan-jalan besar. Tumbuhan ini juga mudah ditemui di daerah pantai. Daunnya menyirip ganda, seperti kebanyakan anggota suku polong-polongan lainnya. Dahulu kabarnya biji saga pohon ini dipakai sebagai penimbang emas karena beratnya yang selalu konstan.
Daunnya dapat dimakan dan mengandung alkaloid yang berkhasiat bagi penyembuhan reumatik. Kayunya keras sehingga banyak dipakai sebagai bahan bangunan serta mebel. Dahulu sering kali terdengar ungkapan “matanya merah seperti biji saga” dikatakan kepada orang yang sangat marah sehingga matanya sangat merah.
![]() |
Saga Pohon tumbuh tinggi sebagai naungan |
Biji saga pohon ini memang berwarna merah menyala. Meski kecil, biji buah saga mengandung sejumlah nutrisi penting. Termasuk protein, lemak, serat, dan sejumlah vitamin dan mineral seperti zat besi, kalsium, fosfor, dan magnesium.
Baca juga : Buncis, Sayuran Hijau yang Kaya Nutrisi dan Manfaat untuk Kesehatan
Kandungan nutrisi ini membuatnya menjadi tambahan yang berharga dalam pola makan sehat. Selain manfaat kesehatan, biji buah saga pohon juga memiliki potensi penggunaan lain, yakni sebagai pewarna alami. Biji saga pohon telah digunakan secara tradisional sebagai pewarna alami untuk kain dan makanan. Biji saga pohon sering digunakan dalam perhiasan dan kerajinan tangan.
![]() |
Biji Saga Pohon |
Kini para ahli sudah melakukan penelitian untuk memanfaatkan kedua jenis saga ini. Karena beberapa kandungan kimiawinya yang bisa dimanfaatkan, baik sebagai obat juga sebagai bahan bakar alternatif. Untuk daun saga rambat sendiri kini lebih populer di kalangan pecinta burung anggungan (burung perkutut, derkuku, dan puter). Daunnya digunakan untuk menjernihkan atau mengobati suara serak pada burung kesayangan mereka. (Ramlee)
Sumber : remen.id
Saga, Tanaman Herba yang Telah Lama Dimanfaatkan untuk Pengobatan Tradisional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar