Jumat, 03 Februari 2023

Lembu Suro dan Anak Panglima Terdepan di Gantang Wedangan Puter Pelung #5 Pengcab Klaten



Kepengurusan PPPPSI Klaten baru yang terbentuk di awal tahun (6 Januari 2023) langsung tancap gas dengan menggelar Gawe (Gantang Wedangan) Puter Pelung #5, bertemakan “Bersinar Bareng Ora Wedi”, pada Minggu 29 Januari 2023.

Kegiatan ini mengambil lokasi di Gantangan Pasar Hewan Wedi - Klaten. Panitia mencetak 90 lembar tiket. Gelaran ini masih tetap konsisten mengajak para penghobi pemula untuk memamerkan sekaligus melombakan burung puter pelung gacoannya masing-masing.

Semangat pemain baru datang berombongan

“Gawe Puter Pelung #5, ini masih tetap hanya melombakan kelas Pemula. Kita bagi dua sesi, karena gantangan yang ada hanya menyediakan 45 tempat cantolan sangkar burung,” jelas Bayu Jati, Ketua II Bidang Lomba Pengcab Klaten. “Ini juga merupakan program kerja pertama di tahun 2023 dari struktur kepengurusan yang baru.”

Pengcab Klaten, selalu membuat kegiatan dengan tema-tema yang penuh makna. Tidak asal gelar kegiatan lomba, tetapi ada tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapai. Secara berkelanjutan, lebih mengutamakan sebuah proses.

Donasi burung puter pelung untuk warga di sekitar lokasi lomba

“Acara ini masih mengakar kuat dengan konsep yang diusung sebelumnya,” tegas Bayu Aji. “Sebuah agenda kegiatan diupayakan sebagai ajang berlatih bagi para pengurus, utamanya yang baru untuk merencanakan sekaligus melaksanakan kegiatan lomba.

Kali ini gelaran Pengcab Klaten kedatangan tamu dari sedulur Sleman, Bantul, Sukoharjo, Boyolali, dan Karanganyar. Para mania puter pelung ini sangat antusias untuk ikut menyemarakkan dunia hobi anggungan puter pelung. “Organisasi PPPPSI tetap menjunjung tinggi melung, asah asih asuh lung tinulung, jer basuki mowo wani,” ujar Bayu.

Regristrasi peserta

“Alhamdulillah, berkat dukungan dari semua puter pelung mania serta bantuan doorprise dari para donatur, agenda perdana latber di Wedi ini bisa sukses dan lancar. Bahkan banyak pemain-pemain pemula mulai merapat. Terima kasih semuanya dan mohon ma’af bila masih banyak kekurangan,” tegas Indra Ndese, selaku ketua Pengcab Klaten.

Selain banyak puter pelung mania pemula mulai merapat. Juga ada dukungan dari pihak Bumdes Ds. Wedi. Nantinya Pengcab diharapkan dapat secara rutin menggelar lomba seni suara burung puter pelung di Wedi.

Sajian sederhana telah siap

Setidaknya dengan kegiatan yang digelar diharapkan para penghobi burung anggungan ini  semakin bersemangat untuk mengikuti kegiatan dan sekaligus memberi motivasi pada mereka untuk terus eksis menekuni hobi puter pelung.

“Saya berharap dengan kegiatan rutin seperti ini, jumlah pemula yang berani tampil di gelanggang akan semakin meningkat. Jika hal itu terjadi artinya misi dan tujuan awal bisa te realisasi,” ungkap Indra. Dilanjutkan oleh Indra bahwa dalam kondisi yang sedang lesu, ada hal-hal yang harus dilakukan secara ekstra.

Indra Ndese BF nahkoda baru Pengcab Klaten

Butuh perjuangan dan kerja lebih keras dari sebelumnya. Juga semua pihak musti bahu membahu untuk terus mengeksiskan apa yang sudah jadi sebuah hobi ini. “Terus terang gelaran ini untuk memancing penghobi pemula agar mereka bisa bersama-sama menekuni hobi puter pelung sehingga keberadaan mereka tidak hanya sekedar menjadi penonton. Tetapi tentunya bisa terlibat secara langsung,” imbuh Indra. 

Walaupun tidak banyak, yang jelas  jumlah pemula ada peningkatan yang menggembirakan. Kehadiran pemula menjadi pemadangan jelas yang bisa dinikmat dan dirasakan. Indra mewakili suara Pengcab Klaten mengaku senang dengan apa yang sudah terlihat, meski masih harus terus melakukan kegiatan serupa agar penghobi semakin bersemangat.

Juri yang bertugas sedang menyiapkan alat tugasnya

“Kami mengharapkan untuk tahun 2023 ini, akan semakin banyak pemain baru yang eksis dan mau ke lapangan, sehingga mereka bukan sekedar menjadi penghobi rumahan,” lanjut Bayu. Panitia juga membagi-bagikan puter pelung hasil donasi dari para peternak di Solo. 

“Pemberian puter pelung gratis kepada masyarakat di sekitar lokasi gantangan dari berbagai donatur Bird Farm di wilayah Solo Raya dengan tujuan menyebar luaskan materi PP berkualitas dan masyarkat lebih tahu keberadaan dan eksistensinya,” jelas Indra.

Penjurian sedang berlangsung

Sementara itu, dari dalam arena diinformasikan bahwa panitia kali ini hanya membuka satu kelas yakni kelas Pemula. Namun ada dua sesi lomba, pada sesi pertama menandingkan kelas Pemula A dan berikutnya kelas Pemula B.

Keluar dari kebiasaan Pengcab Klaten yang selalu menerapkan penilaian dengan sistem empat babak, kali ini mereka mencoba dengan tiga babak saja. Salah satu yang jadi pertimbangan adalah durasi lomba bisa lebih singkat, mengingat cuaca dapat berubah dengan cepat. Untuk sesi Pemula A, babak pertama dimulai di tengah kondisi mendung.

Juara kelas Pemula A

Sedang di Pemula B, hujan turun. “Kita tetap lanjutkan karena hujan yang turun tidak sampai mengganggu proses penjurian. Biar jurinya juga terbiasa menghadapi perubahan kondisi pada waktu penilaian,” ucap Bayu.

Sementara jalannya acara Gawe Pengcab Klaten ini cukup lancar. Bahkan antar peserta baik itu puter pelung mania lama maupun pemain baru, terlihat cukup gayeng dengan suasana persaudaraan yang sangat akrab. Tali silahturahmi antar penghobi makin erat.

Juara di kelas Pemula B

Dan setelah para jago-jago tersebut bersaing ketat selama tiga babak penuh. Akhirnya di kelas Pemula A, Lembu Suro yang jadi andalan Yoyok Jepang di gantangan 38, berhasil menembus podium tertinggi, sebagai juara pertama.

Disusul kemudian oleh Samgong amunisi Fajiga BF ring Fajiga 545 yang digantang pada nomor 2 sebagai peraih posisi kedua. Tempat ketiga diraih oleh Tombo Pengen milik Agung Dhito ring Sekar 99106 pada gantangan 28.

Sedangkan untuk kelas Pemula B, Anak Panglima milik Hafiz Kalten yang ada di gantangan 44, juga sukses menjadi yang terbaik pertama. Anak Panglima mendapatkan bendera empat rata tiga kali.

Posisi kedua ditempati oleh Ruja Polo ring Puma besutan Mbah Heri yang ada di gantangan 38. Ruja Polo bersaing ketat dengan sang juara dan hanya kalah di gaya irama. Lalu Lembu Suro menjadi terbaik ketiga. Lembu Suro adalah juara di sesi A, sayang performanya menurun.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan, kehadiran, dan partisipasi seluruh peserta yang telah ikut mensukseskan Gawe Puter Pelung #5. Dan saya mewakili segenap panitia meminta ma’af jika selama acara berlangsung masih ada hal-hal yang kurang berkenan,” kata Bayu mengakhiri obrolan. (Ramlee/BA)


Kamis, 02 Februari 2023

Pinayungan dan Damar Wulan Juara di Latbernil Tumpengan, Rangkaian Perayaan HUT ke-7 TGR




TGR (Team Guyub Rukun) Tulungagung gelar Latbernil Tumpengan pada Minggu, 29 Januari 2023, di Gantangan TGR yang berlokasi di Ds. Samir, Ngunut – Tulungagung. Lomba seni suara burung derkuku ini untuk merayakan hari jadi TGR yang ke-7.

M. Makrus (kiri) Ketua Umum PPDSI menerima nasi tumpeng dari Drs. Bambang Ernawan MPd Ketua TGR Tulungagung

Pada 28 Januari 2016 silam TGR didirikan oleh beberapa orang pemerhati derkuku yang dimotori oleh Agus New Ags BF. “TGR hanyalah sebuah paguyuban yang mengutamakan dan selalu memupuk rasa seduluran selawase,” ungkap Agus New Ags sang pendiri.

“Guyub rukun nambah sedulur-sedulur lewat hoby. Dan tujuan utamanya untuk memajukan hobi derkuku ini sendiri untuk menjadi lebih maju dan berjaya dari yang sudah baik hari ini,” tambah Agus yang masih bermukim di Busan Korsel.

Aji, Bukori (belakang), Maladi, dan Jazuli di meja panitia

“Kesampingkan apapun itu yang menghalangi, selalu berpikir serta bertindak positif untuk kemajuan bersama, bravo derkuku. Sukses selalu buat dekoemania nusantara dan sukses buat kepengurusan PPDSI Pengda Jawa Timur yang telah terbentuk. Guyub Rukun Seduluran Selawase Dekoemania Indonesia.” 

Seperti perayaan sebelumnya, sebuah tumpeng disiapkan sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang sudah diberikan Yang Kuasa. Diiringi ucapan doa dan harapan, Drs Bambang Ernawan M.Pd Ketua TGR Tulungagung memotong nasi tumpeng dan untuk M. Makrus Ketua Umum PPDSI.

Regristrasi peserta Latbernil Tumpengan

Hari itu, tiga blok disiapkan untuk gelaran Latbernil Tumpengan. Meskipun hanya sebuah event kecil namun, antusias para dekoe mania sangat menyenangkan. Panitia membuka dua kelas, yakni kelas Pemula sebanyak dua blok dan kelas Bebas sebanyak satu blok.

TGR berencana akan menambah setidaknya satu blok lagi dengan jumlah 42 tiang gantangan. Diharapkan sebuah event besar TGR Cup IV yang rencananya di gelar pada akhir bulan Pebruari, tiang-tiang baru tersebut sudah bisa digunakan.

Dekoe mania dari beberapa daerah berkumpul di Gantangan TGR

Sehari sebelumnya TGR Kelantan sedianya juga mengadakan lomba derkuku di Bong Sri Limbongan Pasir Puteh, Kelantan. Namun dikarenakan kondisi cuaca di Kelantan yang kerap diterpa hujan badai, gelaran TGR Cup Kelantan bergeser 4 Pebruari 2023.

Sebanyak 35 burung di kelas Bebas dan 56 di kelas Pemula beradu menjadi yang terbaik. Panitia menugaskan juri-juri Senior dan Junior Jawa Timur. “Kita berikan jam terbang yang cukup buat juri-juri Junior,” tegas M. Makrus.

(Kika) Joko PN, Didik, Pak Guru Slamet (baju merah), Sawali (ayahanda Agus New Ags), dan Karim

Sebelumnya M. Makrus di Musda PPDSI Jawa Timur, meminta Pengcab untuk rutin menggelar lomba seni suara alam burung derkuku. Dengan demikian juri-juri junior ini mendapatkan kesempatan yang cukup sebelum naik menjadi juri senior.

“Jawa Timur, saat ini sudah ada tiga orang juri nasional. Selanjutnya jika memang dirasa kemampuan juri-juri junior sudah layak untuk jadi juri nasional, maka akan segera diusulkan ke pusat. Tetapi saat ini masih belum. Biar mereka mengasah kemampuannya menjuri melalui event-event kecil seperti ini,” ucap Makrus. “Kalau ada event besar, kita tetap akan mendatangkan juri-juri luar daerah.”

Abah Malik, Bambang Nganjuk, dan Bambang TKL

Cuaca hari itu sangat mendukung gelaran TGR. Sinar matahari bersinar penuh. Angin males berhembus, sehingga terasa begitu panasnya. “Wah cuacanya bersahabat, sampai jurinya gosong,” seloroh beberapa pemilik burung dari pinggir lapangan.

Turunnya jago-jago yang mempunyai potensi bagus kedepannya, jelas makin menambah ramai dan ketatnya persaingan. Baik persaingan di kelas Bebas maupun di kelas Pemula. Juara harus ditentukan lewat pertarungan sengit selama empat babak penuh.

Para peserta mulai menaikkan burung-burungnya

Akhirnya beberapa jago yang memang punya kualitas oke dan kerjanya lebih ngotot, mampu merebut podium tertinggi. Di kelas Bebas Pinayungan milik Joko SJ Tulungagung yang bergelang SJ 99 di kerekan nomor 18, sukses memetik kemenangan.

Gelar juara didapat setelah Pinayungan kembali menunjukkan kualitasnya dengan nilai 5 warna di babak keempat. Meskipun tampil belum cukup stabil tetapi Pianyungan mengantongi bekal untuk tampil memukau di event yang lebih besar.

Puluhan burung derkuku mengikuti Latbernil Tumpengan

Dengan kemenangannya itu berarti Pinayungan kembali mengulang sukses yang ditorehkan di ajang Latber Blitar Kawentar 4 belum lama ini. “Kebetulan saja Pinayungan mau kerja,” ujar Joko merendah ketika diminta komentarnya atas prestasi yang ditorehkan burung asuhannya.

Sementara Gayatri ternakan PN, burung N3 BF Tulungagung yang ada di tiang 11 harus puas di tempat kedua setelah kalah tipis dari sang juara. Kegagalannya meraih hasil terbaik disebabkan penampilannya yang kurang konsisten sehingga hanya mendapatkan bendera empat warna di babak pertama dan keempat.

Meskipun panas tidak jadi soal

Kedua jagoan itu langsung melejit saat lomba dimulai, mengumbar anggung suara emasnya. Keduanya mempunyai kualitas yang sangat baik di gaya irama. Sehingga tidak keliru, kalau keduanya berhasil merebut dua posisi terbaik pertama.

Aryo Blitar di gantangan nomor 5 merupakan debutan M. Makrus bercincin MKS menduduki posisi ketiga. Aryo Blitar, sebenarnya tidak kalah kualitas dengan dua pemenang diatasnya, hanya saja di babak ketiga hanya mampu mendapatkan bendera tiga warna.

Saling berebut guyur Joko SJ ketika dinyatakan sebagai juara di kelas Bebas

Di kelas Pemula, Damar Wulan di tiang kerekan nomor 85, burung tetasan N3 BF yang diusung N3 BF Tulungagung sukses memetik hasil maksimal dan menduduki posisi puncak. Setelah sukses mendapatkan empat warna rata dan unggul di gaya irama atas para kompetitornya.

Sedang Tumenggung di gantangan 141 bergelang MKS besutan Makrus dari Blitar berhasil merebut tempat kedua. Tumenggung mendapatkan perlawanan sengit dari Jamaika gaco milik New Ags bergelang New Ags 474. Jamaika akhirnya menggenapi posisi tiga besar di kelas Pemula.

Ebin Sunaryo serahkan bendera kejuaraan kepada N3 BF sebagai juara di kelas Pemula
 

“Alhamdulillah, semoga dengan kita sering menguatkan tali persaudaraan antar penghobi derkuku dengan cara-cara yang sederhana seperti halnya kagiatan syukuran, kumpul-kumpul, dan latbernil diharapkan hobi derkuku ini kedepan akan lebih bergerak maju kedepan dan ramai,” harap Agus New Ags. “Dan dengan semangat seduluran selawase guyub rukun, semoga temen-teman derkuku makin kompak dan solid, aamiin.” (Ramlee)

 




Rabu, 01 Februari 2023

Kelomang, Kepiting yang Kerap Berganti Cangkang




Kelomang (Coenobita rugosus), sebagian besar anak-anak di Indonesia sudah sangat familiar dengan hewan yang satu ini sebagai teman bermain. Banyak pedagang yang menjual kelomang di dekat area sekolah atau di pasar-pasar tumpah.

Para pedagang kelomang sangat kreatif dengan menjadikan cangkang atau rumah kelomang dicat berwarna-warni dengan motif tokoh kesukaan anak-anak. Tubuh kelomang yang suka keluar masuk cangkang membuat banyak anak kecil gemas. 

Namun banyak dari kita yang mengira bahwa kelomang sama dengan keong, padahal keduanya berbeda. Keong merupakan hewan lunak berkaki perut dan hanya memiliki satu rumah atau cangkang tunggal. Sedangkan kelomang bukanlah hewan berkaki perut dan dapat berganti-ganti rumah.

Kelomang atau yuyu rumpung

Di daerah Jawa Tengah, hewan ini dikenal dengan nama yuyu rumpung atau yuyu rumpong.Dulu ada juga yang menyebutnya sebagai kul nenek. Selain menjadikannya teman bermain seringkali kelomang-kelomang ini diadu kecepatannya untuk keluar dari area yang sudah ditentukan.

Kelomang sering juga disebut dengan kepiting pertapa, karena gaya hidupnya yang lebih suka berlindung di balik cangkang atau rumahnya. Rata-rata kelomang memiliki abdomen (perut) yang panjang, berbentuk seperti spiral dan lunak lembut.

Baca juga : Upaya untuk Memprediksi Jenis Kelamin Burung

Tidak keras seperti abdomen krustasea lain. Ujung abdomennya dapat mencengkeram dengan kuat kolumela (tiang poros) cangkang siput. Setiap berjalan, kelomang seperti menggendong rumahnya. Bentuk cangkangnya juga beraneka ragam.

Menurut data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), infraordo anomura atau hewan yang memiliki bentuk tubuh bagian belakang yang tidak simetris, terdiri dari 7 supersuku, 17 suku, 264 marga, dan 2.470 jenis. Sekitar 54% persen dari jumlah tersebut merupakan berbagai jenis kelomang.

Kelomang lukis disukai anak-anak

Kelomang memiliki kaki berjumlah sepuluh. Sepasang kaki depannya, kaki terbesarnya berbentuk capit, berfungsi untuk memegang atau menyerang mangsanya. Kaki kedua dan ketiga berfungsi untuk melakukan pergerakan atau berjalan. Kaki keempat digunakan untuk keluar masuk cangkang.
Sedang kaki kelima posturnya mengecil dengan ujungnya yang berbentuk capit kecil, memiliki bulu yang lebat yang fungsinya untuk membersihkan tubuh atau membuang kotoran dari cangkang, terutama insang dan telur pada betina.

Kelomang saat keluar dari cangkangnya

Kelomang memiliki kebiasaan suka berganti-ganti rumah atau cangkang. Kebiasaan ini dikarenakan tubuhnya selalu bertumbuh. Semakin besar tubuhnya, maka ia akan mencari rumah cangkang yang lebih besar. 

Selain kerang, kelomang juga biasa menggunakan potongan kayu, tutup botol tertentu, bulu babi, dan karang sebagai rumah barunya. Atau apa saja yang ditemuinya ketika kelomang harus mengganti cangkang yang ditempatinya. Cangkang berfungsi untuk melindung abdomen atau perut serta menjaga tubuh kelomang agar tetap lembab.

Baca juga : Jangkrik, Hewan Bersuara Nyaring di Malam Hari

Seringkali, spesies ini berbaris ketika mereka menemukan rumah yang baru. Kemudian kelomang yang paling besar akan meninggalkan rumah lama untuk menghuni rumah yang baru. Rumah lama ini akan digunakan oleh kelomang lainnya yang juga mulai tumbuh besar. Terjadi seperti itu terus menerus hingga yang berada di barisan terakhir sudah mendapatkan rumah barunya.

Beberapa kelomang laut yang memiliki cangkang besar biasanya didekati oleh satu atau beberapa anemon laut. Gunanya, untuk menakut-nakuti predator. Hubungan simbiotik ini akan memberikan anemon laut kemudahan dalam mengonsumsi sisa-sisa makanan. Hubungan seperti ini biasanya terjadi pada sekumpulan jenis bryozoa dan kelomang yang membentuk bryoliths.

Seekor kelomang bercangkang pecahan botol

Tidak seperti semut yang selalu ‘bersalaman’ saat saling bertemu dengan sesamanya, kelomang memiliki tiga kebiasaan yang berbeda tergantung situasi saat mereka bertemu. Mereka bisa saling mengabaikan, kawin, atau justru berkelahi. Perkelahian sering terjadi saat satu kelomang melihat rumah kelomang lain yang lebih bagus dari rumahnya. Keinginan untuk merebut rumah itu yang sering menjadi pemicu perkelahian di antara sesamanya.

Yuyu rumpung memiliki usia kehidupan hingga puluhan tahun selama habitat hidupnya terbebas dari pencemaran. Sementara kelomang yang sengaja dipelihara, rata-rata memiliki usia hidup sekitar 10 tahun. Kelomang termasuk ke dalam kategori hewan omnivora, atau hewan pemakan tumbuhan dan pemakan hewan lain yang ukurannya lebih kecil darinya.

Baca juga : Kelinci Belang Sumatera Spesies Endemik Sumatera

Kelomang dikenal terbagi menjadi dua jenis, yakni darat dan air. Untuk jenis air sebagian besar hidup di lautan. Oleh karena itu, mengapa kita sering menemukannya di tepian pantai. Sebab, mereka bisa hidup di perairan yang dangkal sampai ke dasar laut dalam. 

Di daerah tropis, hidup beberapa jenis yuyu rumpung darat yang memiliki larva akuatik. Kelomang jenis ini tetap memerlukan akses ke air untuk reproduksi. Baik kelomang darat maupun kelomang air, lebih aktif berkegiatan di malam hari.

Ketam kenari, kerabat kelomang yang berukuran raksasa

Habitat yuyu rumpung identik dengan pantai dan bahkan ada yang hidup dibawah air. Akan tetapi ada beberapa spesies kelomang yang hidup di daratan, contohnya kelomang yang berasal dari famili Coenobitidae. Meski hidup di darat, namun hewan ini tetap memerlukan air agar tetap basah agar dapat bertahan hidup dan bereproduksi. 

Sebenarnya tubuh kelomang sangat lembut dan rapuh. Kelomang mengalami proses pergantian kerangka luar dan menumbuhkan kerangka baru. Proses ini disebut molting yang akan membuatnya stres dan lebih rentan.

Molting terjadi secara periodik sekitar 18 bulan sekali selama 4 sampai 8 minggu. Kelomang akan melepaskan beberapa bagian tubuhnya dan membuatnya tidak bisa bergerak sementara waktu, seperti mati. Satwa ini termasuk berumur panjang. Di alam liar, usianya bisa mencapai 30 tahun. Sedangkan jika dipelihara usianya dapat mencapai 20 tahun.  (Ramle)


Sumber : remen.id Mengenal Kelomang, Kepiting Pemburu Cangkang

Musda PPDSI Pengda Jawa Timur 2023, Heru Pujianto Ketua Terpilih



Perkumpulan Pelestari Derkuku Seluruh Indoensia (PPDSI) Jawa Timur, menggelar Musda (Musyarawah Daerah) pada Sabtu, 28 Januari 2023. Bertempat di Pendopo Sekretariat TGR, Ds Samir, Kec Ngunut, Tulungagung. Acara yang dimulai pkl 13.30 WIB itu berjalan lancar.

Hanya ada satu agenda penting di Musda tersebut. Yakni pemilihan Ketua dan Pengurus Baru PPDSI Jawa Timur, periode 2023-2026. Untuk laporan pertanggungjawaban pengurus lama ditiadakan, karena selama ini kepengurusan di Jatim vakum, setelah ditinggal pergi sang Ketua dan Sekretaris merangkap Bendahara menghadap Sang Khalik, beberapa tahun lalu.

Musda PPDSI Jawa Timur dipimpin langsung oleh M. Makrus Ketua Umum PPDSI

Acara yang berlangsung secara sederhana itu berjalan hampir tanpa hambatan. Dipandu oleh M. Makrus selaku Ketua Umum PPDSI, meminta masing-masing Pengcab yang hadir untuk mengajukan calon yang akan menahkodai PPDSI Jawa Timur.

Menurut M. Makrus saat ini bisa dibilang yang paling sering mengadakan lomba atau latber-latber derkuku adalah Jawa Timur. Daerah lain yang tadinya sering adakan lomba, untuk saat ini terasa mengendor. M. Makrus juga meminta kepada semua utusan yang hadir untuk membantu dan mendukung Ketua Pengda Jawa Timur yang baru, jangan biarkan bekerja sendirian.

M. Makrus juga punya keyakinian bahwa Jawa Timur yang mulai tahun 2023 ini bangkit bakal bisa bersaing dan maju di kancah perdekukuan nasional. “Jawa Timur yang mulai saat ini bangkit, mari kita tata bersama-sama,” pinta M. Makrus.

Musda PPDSI Jawa Timur dihadiri semua Pengcab

“Pak Ketua terpilih nantinya jangan dibebani. Jangan semua tergantung Pak Ketua, tetapi dipikirkan bersama-sama biar bisa maju bersama-sama. Jawa Timur sudah saatnya mulai diperhitungkan kembali, dan Jawa Timur mampu untuk itu.”

Tercatat ada lima Pengcab yang hadir di Musda PPDSI Jawa Timur. Yakni Pengcab Situbondo, Bondowoso, Jember, Blitar, dan Tulungagung. Utusan yang hadir diberikan keleluasaan untuk memilih bakal Ketua PPDSI Jawa Timur.

Ada dua nama yang muncul, Heru Pujianto mewakili blok timur yang terdiri dari Situbondo, Bondowoso, dan Jember serta Ebin Sunaryo yang mewakili blok barat yang terdiri dari Tulungagung dan Blitar. Sebelum pemilihan dimulai, didahului penyampaian profil dari masing-masing kandidat.

Semua rekam jejak dan pengalaman disampaikan di depan forum. Pemilihan ketua baru ini mengutamakan musyawarah mufakat. Akhirnya semua Pengcab serta salah satu kandidat bersepakat menunjuk Heru Pujianto sebagai nahkoda baru Pengda PPDSI Jawa Timur sampai tiga tahun kedepan.

Musda PPDSI Jawa Timur di Pendopo Sekretariat TGR Tulungagung

Palu sidang pun diketok sebagai pertanda bahwa proses pemilihan Ketua Baru sudah dinyatakan sah. Selanjutnya Ketua terpilih dipersilahkan memberikan sambutan. “Sebenarnya saya tidak ada niatan untuk menjadi Ketua Pengda Jawa Timur, namun karena sudah melalui proses pemilihan dan seluruh undangan sepakat dan menyatakan suara bulat untuk memilihnya, maka amanah tersebut harus diterima.” tutur Heru.

Namun untuk bisa menjalankan amanah tersebut dibutuhkan bantuan semua pihak. “Saya tidak mungkin untuk menjalankan semua amanah seorang diri, sehingga saya membutuhkan bantuan dari semua pihak agar apa yang menjadi keinginan kita bersama bisa terwujud,” sambung pemilik RRJ BF Jember.

 Selanjutnya Ketua Baru terpilih dipersilahkan segera menyusun kabinetnya. “Saya akan memilih siapa saja tidak berdasarkan nama saja, tetapi yang mau bekerja. Dengan begitu semua program kerja bisa dilaksanakan dengan baik.”

Pengda PPDSI Jawa Timur periode 2023-2026

Kepada awak media, Heru menginginkan Pengcab-Pengcab yang ada ikut memberikan motivasi kepada daerah-daerah yang belum terbentuk Pengcab agar selekasnya bisa terbentuk. Juga memikirkan cara untuk lebih membumikan derkuku ini, utamanya di Jawa Timur.

Salah satu cara adalah mendorong Pengcab-Pengcab yang sudah terbentuk lebih giat menyelenggarakan latber atau lomba. Untuk itu bisa memanfaatkan juri-juri yang sudah ada. Sementara kalau event besar, tetap akan mengundang juri-juri nasional.

Heru juga berencana menggiatkan kembali Liga Derkuku Jawa Timur, namun kepastiannya menunggu Munas PPDSI yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini. Dengan begitu penjadwalannya tidak sampai mengganggu jadwal secara nasional yang akan disusun oleh PPDSI Pusat.

Pengda Jawa Timur akan berusaha mengkader juri-juri junior, biar memudahkan saat daerah-daerah mengadakan kegiatan lomba. Nantinya juri-juri junior yang sudah ada jika kemampuannya sudah layak akan diusulkan menjadi juri nasional. 

Dengan bacaan Hamdallah, tepat pukul 17.00 WIB acara Musda PPDSI Jawa Timur resmi ditutup oleh M. Makrus.  “Alhamdulillah dan terima kasih kepada semua yang hadir. Mudah-mudahan acara Musda ini mendapat Ridho dan Barokah dari Allah, Amiin,” tutup M. Makrus. (Ramlee)



Sumber : remen.id Lewat Musda PPDSI Pengda Jawa Timur, Heru Pujianto Secara Aklamasi Terpilih Jadi Ketua Baru

Senin, 30 Januari 2023

Bendera Lima Warna Berkibar di Latber Pengcab Madiun, Pesona dan Kompas Juara



Pengcab PPPPSI Madiun gelar latber (latihan bersama) di Gantangan Benggol Joyo Jl Ardodali Demangan, yang dihelat pada Sabtu, 28 Januari 2023. Pengcab Madiun konsisten untuk adakan lomba seni suara alam burung puter pelung di tengah kelesuan yang dirasakan oleh semua penghobi burung ini.

Heri Suprapto, Ketua Pelaksana kegiatan mengatakan bahwa agenda ini memang untuk memberikan kesempatan kepada puter pelung mania buat menampilkan burung-burungnya agar bisa merasakan persaingan di gantangan. Sekalian menakar sejauh mana kemampuan gaco-gaco yang ada.



Selepas pandemi, memang animo puter pelung mania malah dirasakan menurun. Hantaman pandemi memang terasa sekali. Khususnya di hobi burung anggungan puter pelung. Lomba-lomba yang diadakan tidak seramai biasanya.

“Hantaman pandemi Covid-19, memang terasa sekali dampaknya di segala sektor termasuk penggemar burung puter khususnya puter pelung,” ujar Heri Suprapto. “Setidaknya dengan adanya gelaran ini panitia ingin memberikan kesempatan kepada mereka agar bisa bersemangat untuk menyemarakkan hobi puter pelung.”

“Harga puter pelung dipasaranpun turun drastis, sedangkan makanan burung berupa milet melambung tinggi sehingga berdampak pada peternak juga pelomba,” jelas Heri. “Namun demikian kita pecinta angungan puter pelung tidak perlu berkecil hati, khususnya di Pengcab Madiun.”

Salah seoarang penghobi puter pelung sedang menyiapkan burung gacoannya

“Kami selaku Pengcab Madiun, akan selalu mendorong penghobi puter agar selalu bisa berkompetisi dan berani menampilkan hasil ternakannya di latber yang kita selenggarakan rutin ini. Semoga dari latber-latber seperti ini, nanti dapat memunculkan jawara-jawara puter,” harap Heri.

Burung-burung jawara ini nanti juga diharapkan bisa eksis di lomba-lomba pada tingkat nasional. Peserta Latber Pengcab Madiun kali ini dihadiri baik pemula maupun pemain senior. “Saya ingin agar pemula bisa ikut berlomba, menggantangkan burungnya dan kalau bisa juga meraih juara agar mereka tetap semangat untuk main puter pelung,” terang Ketua Pengcab Madiun.

Lomba kali ini masih tetap menandingkan kelas Pemula dan kelas Utama. Diikuti peserta dari Ponorogo, Magetan, Ngawi, Tuban, dan Bangkalan. Memang tidak seramai biasanya, namun yang datang masih tetap antusias menampilkan burung-burung mudanya.

Cuaca cerah dan cenderung panas mengawal acara dari awal hingga akhir. Para juri yang diturunkan untuk menjadi juru vonis bekerja dengan baik tanpa ada intervensi. Untuk kelas Pemula berhasil diraih oleh Kompas orbitan anyar Dwi Priyanto Ngawi produk ternak DP 171 yang digantang pada nomor 29.

Heri Suprapto (kanan) giat mengajak para penghobi untuk melombakan burungnya

Sedangkan tempat kedua diisi oleh Bledug Ireng andalan Muhlis MAB BF Ngawi ternakan MAB 22 yang menempati nomor kerekan 22. Posisi ketiga ada Semeru besutan Dwi Priyanto lainnya bergelang DP 153 yang digantang pada nomor 27.

Sementara di kelas Utama, persaingan ketat terjadi. Pada babak awal memang tidak tampak ada yang menonjol. Baru di babak kedua, kejutan terjadi di gantangan 37 setelah bendera lima warna tertancap disana.

Pada babak ketiga, gantangan nomor 22 mencoba mengimbangi dengan keberhasilannya meraih bendera lima warna. Namun gantangan 37 masih belum mengendor dengan tetap berhasil raih bendera lima warna pula. Meskipun gantangan 37 masih tetap memimpin tetapi jaminan jadi pemuncak belum didapat.

Penentuan untuk melihat siapa yang berhak menyandang yang terbaik berlangsung hingga babak keempat. Dengan kualitas anggung yang dipunyai gantangan 37, maka juri tidak segan-segan mengganjarnya kembali dengan koncer lima warna.

Dwi Priyanto menikmati jalannya lomba

Empat babak penjurian yang dilakukan, akhirnya memutuskan posisi kejuaraan di kelas Utama dengan juara pertama berhasil diraih Pesona amunisi Idola BF dari Tuban. Pesona hasil ternakan Pogo 621 yang menempati nomor gantangan 37, setelah mengantongi tiga kali bendera lima warna dan sekali bendera empat warna.

Disusul kemudian oleh Bledug Ireng andalan Muhlis MAB BF Ngawi sebagai runner up, yang digantang pada nomor 22. Meskipun pada babak keempat berhasil meraih lima warna kembali, namun perolehan nilainya tidak bisa mengejar sang juara.

Dan Kompas gaco Dwi Priyanto di gantangan nomor 29 ikut mengisi posisi kejuaraan di urutan ketiga. Kompas sendiri sebelumnya sukses merebut podium juara di kelas Pemula. Performanya belum bisa mengimbangi dua burung teratas.


“Wah, ternyata burung-burung yang turun di kelas Utama lumayan juga kualitas anggungnya,” komentar beberapa pemain yang menikmati persaingan di kelas Utama. “Iya, ini dari hasil pantauan kami ternyata kualitas burung sangat lumayan bagus untuk sekelas latber,” tutur Heri memuji.

“Para peserta ini sangat menjaga hasil rawatan maupun hasil ternakannya. Semoga diwaktu yang akan datang, akan selalu bermunculan burung-burung berkualitas yang akan menambah semaraknya di hobi burung puter ini. Selamat untuk para pemenang lomba, teruslah semangat untuk menyajikan burung burung berkualitas,” pinta Heri di akhir acara. (Ramlee/HS)

Kuau-kerdil Kalimantan, Merak Mini Endemik yang Terancam Punah

Kuau-kerdil Kalimantan (Polyplectron schleiermacheri) merupakan burung endemik Pulau Kalimantan yang sangat langka dan berkerabat dengan bu...