Kardinal Matano (Caridina dennerli) merupakan udang air tawar endemik Danau Matano – Sulawesi Selatan. Udang kardinal matano dianggap sebagai salah satu udang air tawar paling menarik yang termasuk dalam genus Caridina. Sayangnya keberadaannya terancam kepunahan.
Danau Matano yang terletak di Desa Matano, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel) tercatat sebagai danau terdalam di Asia Tenggara. Kedalaman danau Matano mencapai 590 meter. Danau Matano adalah jenis danau tektonik purba yang terbentuk dari aktivitas pergerakan lempeng kerak bumi.
Danau ini terbentuk pada akhir masa Pliosen sekitar 2-4 juta tahun yang lalu. Danau ini merupakan salah satu dari lima danau yang terdapat di dalam “Kompleks Danau Malili” yaitu: Matano, Mahalona, Towuti, Masapi dan Wawantoa yang satu sama lain saling terhubung.
![]() |
Danau Matano menjadi habitat beberapa spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di danau ini |
Danau-danau ini terletak pada ketinggian yang berbeda, sehingga air dari Matano mengalir ke Mahalona dan dari Mahalona mengalir ke Towuti. Selanjutnya air dari Towuti mengalir ke Sungai Larona dan Sungai Malili yang berujung di Teluk Bone.
Baca juga : Udang Selingkuh, Lobster Air Tawar Mirip Kepiting Endemik Papua
Danau Matano bersifat ultra-oligotrofik , yang berarti sangat miskin nutrisi dan mengandung sangat sedikit bahan organik. Jarak pandang di bawah air diperkirakan sekitar 20 m (66 kaki). Suhu di Danau Matano bervariasi dalam kisaran 27–31 °C. Telah tercatat pH 7,4 dengan konduktivitas 224 μS/cm.
![]() |
Udang Kardinal Matano yang bersembunyi di bebatuan |
Uniknya, meski danau-danau tersebut saling terhubung, namun satwa yang hidup di tiap danau justru berbeda. Bahkan, banyak di antaranya yang merupakan jenis endemis di satu lokasi saja. Udang kardinal matano hanya hidup (endemis) di danau Matano ini. Tidak ada di tempat lain di dunia ini kecuali di tempat tersebut.
Udang kardinal matano ditemukan di antara bebatuan dan tebing, dari perairan dangkal hingga kedalaman 10 meter (33 kaki). Udang kardinal matano diyakini memakan detritus di alam. Detritus adalah sisa-sisa organisme dan tanaman yang membusuk, serta kotoran hewan. Udang kardinal matano mulai dikenal di kalangan penghobi ikan hias pada akhir tahun 2007.
Nama ilmiah udang kardinal matano yakni Caridina dennerli diambil dari nama perusahaan Jerman Dennerle, yang mendukung ekspedisi yang menghasilkan deskripsi ilmiah spesies tersebut. Udang ini dikenal sebagai udang kardinal atau udang Sulawesi dalam perdagangan ikan hias.
Udang kardinal dapat memiliki berbagai corak warna merah, mulai dari warna gelap hingga terang. Tingkat kegelapan warna merah bervariasi pada setiap individu dan bukan merupakan indikator jenis kelamin, kesehatan, atau hal lainnya. Sebaliknya, bintik-bintik putih terdapat di seluruh tubuh.
![]() |
Ikan predator invasif yang ikut mengancam keberadaan udang Kardinal Matano |
Beberapa titik juga tampak memiliki garis luar berwarna biru. Salah satu ciri udang kardinal yang paling mencolok adalah kaki depannya yang berwarna putih. Kaki yang menonjol ini bergerak cepat saat makan dan membedakan spesies ini dari udang Sulawesi lainnya.
Baca juga : Botia, Ikan Hias Air Tawar Eksotik dari Perairan Sumatera dan Kalimantan yang Terancam Punah
Udang kardinal matano bukanlah perenang dikarenakan udang ini lebih senang berjalan diantara bebatuan. Serta di atas pasir daripada diantara tanaman atau rumput hijau pada habitat alaminya. Udang kardinal matano betina lebih besar dibanding udang jantan.
![]() |
Jenis kelamin udang Kardinal Matano sulit dibedakan |
Udang kardinal matano betina juga memiliki karapas yang lebih dalam. Ukuran udan jantan berkisar 2 cm, sedang betinanya mempunyai ukuran 2,5 – 4 cm. Telurnya relatif besar untuk ukuran udang dan diletakkan di bawah perut betina.
Pada awalnya udang kardinal Matano berlimpah di habitatnya Namun kemudian menghilang dari Danau Matano karena populasi cichlid invasif, ikan louhan, yang berkembang pesat. Meskipun telah dilakukan pencarian intensif pada tahun 2017 dan 2018, tidak ada satu pun spesimen yang ditemukan. Oleh karena itu, status spesies ini telah diubah menjadi “Kritis (Kemungkinan Punah di Alam Liar)” dalam Daftar Merah IUCN.
Pada tahun 2019, para peneliti dibantu oleh para pengumpul udang lokal berhasil menemukan udang ikonik ini lagi. Pada dua tempat di Danau Matano, mereka bersembunyi di bawah lapisan batu yang tebal. Udang ini tidak lagi ditemukan di tempat-tempat di mana udang kardinal matano dulu terlihat melimpah.
Udang kardinal matano bersembunyi dari predator di tempat yang dalam (setidaknya 30 cm) di bawah batu. Sayangnya, udang ini tidak aman di sana. Karena pada bagian dasarnya kini telah tertutup lapisan lumpur dan ganggang yang tebal, dan itu bukanlah kondisi normal, serta berisiko mengalami kekurangan oksigen di bawah bebatuan.
![]() |
Udang kardinal Matano dianggap sebagai salah satu udang air tawar paling menarik |
Sementara ikan-ikan predator invasif menunggu gerakan apa pun dan langsung memangsa udang atau kepiting kecil. Pada tahun 2024, dilakukan kembali ekspolarasi lokasi dan habitat yang kurang ideal bagi ikan louhan dan sebaliknya, menyediakan kondisi yang mendukung bagi udang kardinal matano, dan juga bagi spesies siput yang lebih kecil yang berada di ambang kepunahan akibat ikan invasif.
Baca juga : Gurami Sabah, Ikan Air Tawar Endemik Kalimantan Bukan Sembarang Gurami
Tim peneliti pun berhasil menemukan lokasi kecil di mana udang kardinal matano tidak bersembunyi di bawah bebatuan. Seperti inilah dulu pemandangannya di mana-mana di tepian berbatu Danau Matano, sebelum ikan louhan invasif yang agresif mengambil alih.
![]() |
Udang Kardinal Matano sulit dibudayakan di luar habitatnya |
Bukan berarti situasi udang kardinal matano tidak terlalu buruk. Sebaliknya, keadaannya malah sangat buruk. Meskipun demikian, masih masuk akal untuk tetap berusaha melindungi setidaknya sebagian dari danau ini. Spesies yang awalnya melimpah – dan saat ini hanya selangkah lagi menuju kepunahan – masih bertahan hidup di suatu tempat di sana.
Para peneliti masih mencari faktor-faktor yang akan membantu melindungi spesies yang terancam punah baik di danau maupun di akuarium. Hingga ini udang kardinal matano masih dicari oleh para kolektor bahkan dalam situasinya yang menyedihkan. (Ramlee)
Sumber : remen.id
Kardinal Matano, Udang Endemik Sulawesi yang Kian Sulit Dijumpai di Habitat Alaminya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar