Blog Hobi dan Informasi

Senin, 31 Maret 2025

Melinjo, Tanaman yang Sejak Dahulu Dimanfaatkan Semua Bagiannya



Melinjo (Gnetum gnemon L.) merupakan tumbuhan yang telah lama digunakan secara tradisional dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk sebagai bahan makanan, obat, dan bahan baku industri. Pohon melinjo dapat tumbuh besar dan banyak ditanam di pekarangan rumah warga di pedesaan. Masyarakat menanam pohon melinjo untuk mengambil buahnya. Hampir seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan.

Pohon melinjo biasanya tumbuh di daerah tropis, terutama di pulau-pulau Indonesia. Tanaman melinjo dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, seperti tanah liat (lempung), tanah berpasir, dan tanah berkapur. Namun, tanaman melinjo tidak tahan terhadap tanah yang tergenang air atau yang berkadar asam tinggi dan dapat tumbuh di wilayah dengan ketinggian 0 – 1.200 mdpl.

Namun produksi maksimal dicapai pada ketinggian tidak lebih dari 400 mdpl. Tanaman ini banyak tumbuh di tepi sungai. Tanaman melinjo dapat ditemukan di berbagai jenis iklim, mulai dari daerah kering hingga tropis. Salah satu keunggulan melinjo adalah bahwa tanaman ini tidak terlalu memerlukan tanah yang sangat subur atau iklim tertentu untuk tumbuh dan berkembang.

Tanaman melinjo dapat tumbuh tinggi besar


Melinjo juga mampu beradaptasi dengan baik terhadap variasi suhu yang luas. Akan tetapi, perlu diingat bahwa melinjo tidak cocok untuk tumbuh di daerah pantai atau tempat dengan kadar garam yang tinggi karena tanaman ini tidak dapat bertahan di lingkungan seperti itu.

Baca juga : Murbei, Tanaman yang Mempunyai Multi Manfaat

Di Indonesia, tanaman melinjo tidak hanya tumbuh di hutan dan perkebunan. Di beberapa daerah tumbuhan melinjo ditumbuhkan di pekarangan rumah atau kebun rumah dan dimanfaatkan oleh penduduk secara langsung. Melinjo bisa diperbanyak dengan cara generatif maupun dengan cara vegetatif.

Buah melinjo yang telah siap dipanen


Namun biji melinjo sangat sulit dikecambahkan sehingga perbanyakan vegetatif banyak dilakukan. Cara perbanyakan vegetatif yang banyak dilakukan adalah mencangkok, sambung, dan okulasi. Melinjo tidak mebutuhkan persyaratan tumbuh yang khusus berkaitan dengan tanah sehingga banyak direkomendasikan untuk program penghijauan.

Tanaman melinjo dapat tumbuh cukup besar dan tinggi, yaitu sekitar 15 sampai 25 meter dan dapat mencapai umur hingga 100 tahun lebih. Bentuk dari batang tanaman melinjo ini adalah bulat dengan diameter sekitar 10 sampai 20 cm. Sistem percabangan dari tanaman melinjo adalah monopodial.

Monopodial adalah batang pokok terlihat jelas karena lebih besar dan lebih panjang pertumbuhannya dibandingkan dengan yang cabang. Batangnya kokoh dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Daun dari tanaman ini adalah daun tunggal yang berbentuk oval yang terdiri dari tangkai daun dan helaian daun.

Tepi daunnya merata, duduk daun berhadap – hadapan dan tulang daunnya menyirip. Apabila daun melinjo ini disobek, maka akan terlihat serabut halus yang berwarna putih. Bunga pada tanaman melinjo ini adalah bunga tidak sempurna yang berumah dua dan muncul di ketiak daun.

Biji melinjo terbungkus kulit luar yang berdaging


Ketidaksempurnaan bunga pada tanaman melinjo tersebut dikarenakan bunga jantan yang terdiri dari benang sari dan bunga betina yang terdiri dari karangan bulir terpisah, sehingga pada proses penyerbukan tidak dapat dilakukan secara langsung, namun membutuhkan bantuan dari berbagai elemen seperti angin, air, hewan, dan juga manusia.

Baca juga : Saga Rambat, Tanaman Gulma yang Dimanfaatkan untuk Pengobatan Tradisional

Buah pada tanaman ini dikenal sebagai biji melinjo yang mana terbungkus oleh kulit luar yang berdaging. Tanaman melinjo merupakan tanaman biji terbuka. Biji melinjo diselimuti oleh selaput luar yang keras, selaput dalam dan diselubungi juga oleh tenda bunga yang berdaging.

Kulit melinjo memiliki banyak manfaat untuk kesehatan


Warna pada biji melinjo dibagi menjadi dua, yaitu warna hijau muda jika belum matang, dan warna merah pekat apabila sudah matang. Kulit biji melinjo yang keras dapat dibuka untuk mengakses bijinya. Meskipun bentuknya mirip kacang, biji melinjo memiliki rasa yang berbeda. Rasanya sedikit pahit dan gurih.

Hasil panen melinjo berupa buah, bunga dan daun. Buah melinjo dapat diolah menjadi tangkil, bahan baku “emping”. Buah melinjo untuk emping harus di panen apabila sudah cukup umur. Bunga (kroto) dan daun muda yang dikenal dengan nama so yang umumnya dikonsumsi sebagai sayuran.

Panen bunga dan daun muda dapat dilakukan kapan saja. Untuk mendapatkan buah yang baik dan banyak, bunga atau daun melinjo sebaiknya tidak dipanen sebab akan menurunkan produksi buah. Pohon melinjo dapat dipanen setelah berumur 5 sampai 6 tahun. Masa buah melinjo terjadi 2 kali dalam setahun.

Pasca panen atau hal yang dilakukan setelah panen adalah sortasi atau pemilihan buah. Buah melinjo tua dipisahkan dari yang muda demikian pula daun dan bunganya. Buah tua berwarna merah dan berbiji keras. Buah muda berwarna hijau dan biji lunak. Hasil panen melinjo dijual sebagai sayuran dan bahan baku pembuatan emping.

Oseng daun so


Melinjo juga memiliki nama lain seperti, maninjo (bahasa Makassar), ku’lang (bahasa Selayar), belinjo, mlinjo (bahasa Jawa), tangkil (bahasa Sunda) atau bago (bahasa Melayu dan bahasa Tagalog), khalet (Bahasa Kamboja), bidau (bahasa Melayu Kapuas Hulu). Kebanyakan orang mungkin lebih mengingat bahwa emping melinjo merupakan makanan pantangan bagi pengidap penyakit asam urat, karena terdapat juga kandungan purin pada biji melinjo.

Baca juga : Purwaceng, Tanaman Herbal Khas Dieng yang Diyakini Mampu Tingkatkan Vitalitas Laki-Laki

Namun bagi orang yang sehat, mengonsumsi emping melinjo bisa berdampak baik untuk kesehatan. Melinjo merupakan buah yang mengandung banyak nutrisi dan mineral yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Beberapa nutrisi yang terkandung dalam melinjo yaitu protein, serat, zinc, zat besi, hingga magnesium.

Emping melinjo


Sementara kulit melinjo mengandung asam askorbat, tokoferol, dan polifenol, kalsium dan fosfor, vitamin C, vitamin B1, dan Vitamin A. Kalsium dan fosfor berguna untuk menjaga kekuatan tulang dan gigi. Sementara vitamin A, b1, dan C berguna untuk menjaga kesehatan kulit, mata, dan pembentukan energi.

Selain biji dan kulitnya yang berkhasiat, daun melinjo juga mengandung zat antioksidan. Berdasarkan penelitian dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, kadar antioksidan pada tanaman melinjo paling banyak ditemukan pada daunnya, yaitu sebanyak 5,97 persen. Peran zat flavonoid antioksidan pada daun melinjo dapat menstabilkan gula darah serta mengontrol diabetes. Masyarakat umumnya mengolah daun melinjo yang masih muda untuk dijadikan hidangan sayur asem. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Melinjo, Tanaman Serbaguna yang Memiliki Nilai Ekonomis Tinggi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Celosia, Tanaman Hias Berbunga Mirip Jengger Ayam yang Cantik dan Mudah Dirawat

Celosia merupakan tumbuhan berbunga yang menarik perhatian banyak orang dengan bentuk uniknya. Di Indonesia, gelosia dikenal dengan nama bu...