Minggu, 15 Februari 2026

Latber AG Bird Farm Bangkalan, Gelaran Masih Tetap Semarak, Mawar Raih Kemenangan



Dalam rangka meningkatkan kualitas peternak puter pelung dan wadah silaturahmi bagi penghobi puter pelung di Bangkalan dan sekitarnya, AG Bird Farm Bangkalan kembali menggelar Latihan Bersama (Latber) Puter Pelung AG Bird Farm. Bertempat di Gantangan AG BF Bangkalan Jl Pertahanan No. 191 Bancaran – Bangkalan. Yang dilaksanakan pada Minggu, 8 Februari 2026.

AG Bird Farm Bangkalan secara rutin menggelar latihan bersama untuk membangkitkan semangat puter pelung mania di Bangkalan dan sekitarnya. H. Alif M. Nur selaku pemilik AG Bird Farm ini berharap dengan latber yang digelar secara rutin akan semakin menambah pengalaman para penghobi.


Udara yang terasa dingin tidak menghalangi penghobi untuk ikuti Latber AG BF


Juga kemampuan di dalam beternak, merawat, dan memilih burung-burung yang berkualitas lomba. Ia yakin jika tidak menggelar latber atau lomba maka dipastikan hobi puter pelung juga akan mati suri. Peternakan puter pelung akan mengalami kemunduran karena hasil dari tetasannya tidak akan bisa dipamerkan di media yang tepat.

“Oleh karena itu, mari dimanfaatkan media lomba ini untuk meningkatkan kemampuan dalam beternak, merawat, dan memilih burung-burung yang berkualitas lomba,” ujar H. Alif M. Nur yang akrab disapa Abah Alif ini. “Dan tentunya sekaligus membangun silaturahmi yang semakin baik.”


Persiapan akhir jelang lomba dimulai


Latber AG Bird Farm membuka satu kelas yakni kelas Bebas. Latber kali ini dilaksanakan menggunakan 3 babak berdurasi 20 menit setiap babaknya. “Kita gunakan sistem 3 babak saja karena mengingat sikon yang musim hujan dan angin yang dingin,” jelas Abah Alif.

Abah Alif, mewakili panitia lomba menyampaikan terima kasih kepada seluruh puter pelung mania yang sudah berkenan hadir meramaikan latihan bersama ini sehingga tetap berlangsung ramai. Meskipun masih ada beberapa gantangan yang kosong, tetapi itu tidak mengurangi semangat dan antusias peserta.


Sangkar mulai dinaikkan ke gantangan yang telah tersedia


Dengan uang pendaftaran yang cukup kekeluargaan dan tersedianya piala, piagam, dan sembako membuat para penggila lomba tetap bersemangat untuk mengawal jago puter pelungnya bersaing dengan jago-jago puter pelung lainnya.

Buktinya, begitu peluit dibunyikan sebagai tanda lomba dimulai. Suasanapun berubah menjadi ramai, baik oleh suara anggung merdu dari masing-masing jago yang digantang juga teriakan dari para joki dan pemilik dari bibir lapangan agar jagoannya dapat menampilkan kemampuan terbaiknya.


Suasana penjurian Latber AG BF


Namun teriakan itu masih dalam batas wajar, karena tidak sampai mengganggu kerja juri yang bertugas. Walaupun berskala latber, lomba berjalan penuh persaingan. Dari awal babak pertama sampai ketiga, burung di gantangan nomor 13, 21, dan 26 mampu menampilkan suara terbaiknya disusul kemudian oleh gantangan 01 dan 04.

Burung-burung yang ada di gantangan nomor 13, 21, dan 26 sempurna mendapatkan bendera 4 warna 3 kali dan disusul gantangan 01. Akhirnya panitia mengumumkan pemenang Latber AG Bird Farm kali setelah melalui pesaingan ketat antar jago selama tiga babak penilaian.


Udara dingin yang berhembus sedikit menyulitkan para jago


Dan juga setelah juri perumus selesai merekap hasil nilai dari babak pertama sampai babak ketiga, Mawar milik Anas moncer di posisi pertama. Burung puter pelung bergelang Anas 13 yang berada di gantangan nomor 13 berhasil mengumpulkan nilai tertinggi dibanding yang lain.

Disusul Perahu Layar andalan H. Yusuf produk ternak Sakera 25 yang digantang pada nomor 21 rebut posisi kedua. Sementara Sangkelat orbitan Wewi Bangkalan, burung puter pelung dengan ring ATM 25 yang menempati nomor gantangan 26 harus puas berada di tempat ketiga.


Abah Alif beserta para pemenang Latber AG BF


Abah Alif, atas nama panitia menyampaikan permohonan maaf apabila ada yang kurang berkenan dalam gelaran lomba Latber Puter Pelung AG Bird Farm. “Mari kita saling dukung hobi puter pelung bersama, agar lebih ramai dan kompak kedepannya. Kita ketemu lagi selepas Lebaran,” ajak Abah Alif di akhir acara. (Ramlee/AG)





Jumat, 13 Februari 2026

H. Nur Ali Sasongko Terpilih Pimpin PPDSI Sukoharjo, Segera Benahi Sarana Prasarana untuk Ramaikan Hobi



Jum’at, 6 Pebruari 2026, Pengcab PPDSI Sukoharjo menggelar agenda Rapat Pertanggungjawaban Pengurus Lama dan Pembentukan Pengurus Baru. Menempati lokasi di Wedangan “Kudu Geprek Kudu Ngopi” Jl. Elang, Desa Kudu, Kec. Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Acara dihadiri beberapa pengurus dan pemerhati burung derkuku di Sukoharjo. Turut hadir beberapa perwakilan dari Pengcab Surakarta. Ada 2 acara penting di Rapat tersebut. Pertama laporan pertanggungjawaban Ketua PPDSI Sukoharjo 2023-2025, yang mana hari itu sudah habis masa baktinya.


Pengcab PPDSI Sukoharjo adakan Rapat Pertanggungjawaban dan Pembetukan Pengurus Baru


Kedua pemilihan Ketua dan Pengurus Baru PPDSI Pengcab Sukoharjo, untuk periode 2026-2029. Malam itu secara aklamasi H. Nur Ali Sasongko terpilih sebagai Ketua Pengcab PPDSI Sukoharjo untuk masa bakti 2026-2028. Tidak menunggu lama H. Nur Ali pun segera menyusun siapa saja yang akan membantunya melaksanakan amanah dari penggemar derkuku di Sukoharjo.

H. Nur Ali menjelaskan, bahwa terpilihnya sebagai Ketua Baru PPDSI Sukoharjo karena dipercaya para dekoe mania di Sukoharjo. Dirinya menyatakan bahwa amanah yang diembannya ini akan diusahakan tidak mengecewakan semua yang telah mempercayakan dirinya sebagai Ketua.


Tempat wedangan Kudu Geprek Kudu Ngopi terasa nyaman untuk berkumpul


“Terus terang saya belum bisa berkata banyak, karena Pengcab Sukoharjo sebenarnya masih terhitung baru 3 tahun lalu didirikan,” ujar H. Nur Ali. “Selama itu pula Pengcab Sukoharjo mempunyai kegiatan yang terseok seok.”

“Bahkan sempat macet tanpa adanya kegiatan hampir 1 tahun lamanya. Kondisi lapangan juga rusak parah,” tambah H. Nur Ali. “Alhamdulillah pada awal tahun 2025 kemarin, kami bertiga, yakni saya, Mas Andang, dan Mas Widodo Dorick berhasil menggiatkan kembali hobi derkuku ini.”


Pengcab Sukoharjo akan berupaya menambah gantangan sebanyak 16 tiang


“Semua dimulai dengan modal 0 besar. Karena segala sesuatunya di Pengcab Sukoharjo ini masih minim, maka Program Kerja kedepan kami khususkan untuk memperbanyak tiang gantangan,” jelas H. Nur Ali. “Dengan dibarengi memperbanyak kegiatan Latber.”

“Jumlah tiang gantangan hanya ada 55 tiang. Dengan jumlah tersebut tentu belum bisa mengadakan lomba sesuai ketentuan dari PPDSI yakni melombakan 3 kelas (Senior, Yunior, dan Pemula). Dengan jumlah gantangan yang kami miliki baru bisa mengadakan latber itupun belum bisa sesuai ketentuan minimal 36/blok.”


Agung Cahyanto Ketua PPDSI Surakarta menyatakan keinginannya mengadakan kegiatan di Sukoharjo


Lebih lanjut disampaikan bahwa PPDSI Sukoharjo ingin memberikan harapan kepada seluruh komunitas hobi derkuku untuk terus eksis menekuni hobi. Berbagai program menjadi agenda yang mendapatkan porsi lebih banyak. Karena lewat program inilah, maka eksistensi hobi akan terasa.

“Kami akan berusaha menjadikan lomba sebagai kegiatan rutin Pengcab Sukoharjo dengan tujuan agar dekoe mania bisa tetap menyalurkan hobi derkukunya,” sambung pemilik Nasa Bird Farm ini. “Kegiatan seperti lomba memang perlu terus dilakukan agar tidak sampai menyurutkan semangat.”


PPDSI Surakarta secara resmi meninggalkan Lapangan Gawanan Colomadu


Pada malam itu Agung Cahyanto Ketua PPDSI Suarakarta beserta jajarannya ikut hadir dalam rapat yang diadakan oleh PPDSI Sukoharjo. Agung secara langsung mengutarakan keinginan PDSI Surakarta bergabung dengan Pengcab Sukoharjo dalam hal penggunaan lapangan. Ini karena Lapangan Gawanan Colomadu, Karangayar, telah habis masa sewanya dan tidak diperpanjang.

Keinginan tersebut disambut dengan baik oleh Pengcab Sukoharjo. “Tahun ini kami akan berkolaborasi dengan DMS,” lanjut H. Nur Ali. “Kami belum bisa mengadakan lomba besar, jadi hanya laksanakan latber saja. Insyaallah minimal setiap bulan kita adakan lomba bersama DMS.”



“Hari Minggu, 15 Februari 2026 besok akan kita adakan latber yang melombakan kelas Bebas dengan 25 tiket dan kelas Pemula sebanyak 30 tiket. Semua tiket telah penuh dipesan oleh dekoe mania Sukoharjo dan Surakarta, doakan semua berjalan dengan baik,” tutur H. Nur Ali menutup obrolan. (Ramlee/Jat)


Kamis, 12 Februari 2026

Azalea, Bunga Berwarna Indah dan Menawan Lambang Keanggunan Abadi



Azalea merupakan nama umum untuk berbagai semak berbunga dalam genus tumbuhan Rhododendron. Awalnya memiliki genusnya tersendiri, namun sekarang bunga azalea dan bunga rhododendron sudah resmi digabung ke dalam kelompok Rhododendron.

Dengan demikian, semua azalea merupakan bunga Rhododendron, tetapi tidak semua Rhododendron merupakan bunga azalea. Apa perbedaannya? Bunga azalea memiliki bentuk bunga yang corong, sedangkan jenis bunga rhododendron lainnya berbentuk mirip lonceng.

Selain itu, bunga azalea hanya memiliki 5 benang sari, sedangkan bunga rhododendron memiliki total 10 benang sari. Keduanya termasuk ke dalam famili Ericaceae atau yang sering disebut dengan heath (tanaman semak).


Azalea “Bunga Penguasa Kebun”


Famili ini dikenal sebagai suku bluberi. Anggota lain yang terkenal dalam famili Ericaceae antara lain, blueberry, cranberry, dan huckleberry. Azalea termasuk tanaman hias yang sangat populer dan tanaman taman yang paling digemari.

Baca juga : Cempaka Wangi, Pohon Hijau Abadi Sumber Wewangian

Azalea dikenal sebagai “Bunga Penguasa Kebun”. Tanaman hias bunga yang satu ini telah lama diagung-agungkan karena warna bunganya yang cerah dibalik dedaunannya yang rimbun. Azalea mekar dengan mahkota bunga yang mencolok seperti warna merah, pink, kuning, putih hingga ungu dan seringkali mengeluarkan aroma harum.


Rhododendron Vireya tumbuh subur di Papua


Beberapa azalea yang tumbuh pada konsisi tanah yang baik tidak membutuhkan pemupukan. Azalea jarang terserang hama sehingga akan tetap tumbuh tanpa perawatan khusus kecuali jika tanah benar-benar kering maka perlu disiram sesekali.

Azalea umumnya bebas dari hama dan penyakit. Namun, jika tanah benar-benar tidak subur dan kekurangan nitrogen maka diperlukan pupuk untuk mencegah kurangnya nutrisi pada tanah. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan tanaman terhambat, daun berwarna kuning dan mengecil. Diperlukan memangkas kembali cabang-cabang untuk untuk pertumbuhan yang maksimal.

Tumbuh dan berkembang baik di daerah beriklim hangat, bunga satu ini kerap dijadikan sebagai tanaman hias ideal, terutama di wilayah Asia Timur. Sesuai dengan habitatnya yang cenderung kering dan panas, nama bunga ini diciptakan oleh seorang ahli botani Swedia bernama Carl Linnaeus. Dikatakan bahwa nama bunga ini sebenarnya diambil dari bahasa Yunani, yaitu azaleos, yang artinya kering.

Walaupun lebih nyaman berada di iklim yang hangat, bunga azalea juga dapat bertahan di iklim yang lebih dingin, seperti Amerika, berkat sifat adaptasinya yang tinggi. Oleh karena itu juga, bunga ini mendapatkan julukan sebagai Royalty of the Garden.


Rhododendron javanicum, rhododendron asli Indonesia yang tumbuh subur di Jawa, Sumatera, Bali, dan Kalimantan


Azalea suka dengan musim yang hangat, bunga azalea biasanya hanya mekar menjelang musim semi, musim panas, dan musim gugur. Biasanya azalea akan mekar sekitar 2-3 minggu, lalu akan ada beberapa yang menggugurkan dedaunannya dan ada juga yang tetap memiliki daun hijau. Daun azalea yang tersusun secara spiral memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari 1-2 cm hingga lebih dari 50 cm.

Baca juga : Bunga Camelia, Bunga Cinta yang Sering Digunakan dalam Perawatan Kulit

Spesies Rhododendron sinogrande memiliki daun terbesar mencapai 100 cm. Seperti bunga lain pada umumnya, bunga azalea juga senang dengan sinar matahari pagi dan sore, sehingga membuatnya cocok untuk ditanam di area semi teduh. Lain dari itu, bunga ini juga tidak memerlukan penyiraman yang sering sehingga mudah untuk dirawat.


Rhododendron wilhelminae spesies endemik Indonesia tumbuh di Gunung Salak


Terlepas dari tampilannya yang indah dan cerah, bunga azalea ternyata termasuk dalam daftar tanaman hias paling beracun, lho. Sedikit saja bunga yang dikonsumsi sudah dapat berakibatkan fatal bagi tubuh manusia serta hewan peliharaan, seperti anjing dan juga kucing.

Umumnya, semua bagian dari tanaman ini dianggap beracun, seperti daun, bunga, hingga serbuk sari. Azalea mengandung racun yang disebut grayanotoxins. Grayanotoxins merupakan racun natrium alami yang biasanya hanya ditemukan dari tanaman famili Ericaceae.

Tanaman Azalea diketahui memiliki beragam jenis. Terdapat beberapa jenis azalea yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Antara lain seperti Azalea jenis Rhododendron javanicum banyak tumbuh di pulau Bali dan Jawa.

Di sisi lain, Azalea jenis Rhododendron album, termasuk dalam jenis yang dilindungi, dapat tumbuh di daerah dataran tinggi pulau Jawa. Sedangkan Azalea jenis Rhododendron wilhelminae juga termasuk dalam jenis yang dilindungi dan sering tumbuh di ketinggian Gunung Salak.


Pengembangbiakkan azalea dengan cara steak batang


Jenis Azalea Rhododendron loerzingii banyak tumbuh di wilayah Gunung Merbabu, Merapi, serta Sumbing. Untuk Azalea jenis Rhododendron renschianum, Anda dapat menemukannya di daerah Nusa Tenggara Timur. Di Sulawesi Selatan, Azalea jenis Rhododendron rhodopus menjadi salah satu jenis yang banyak ditemukan. Di Sulawesi Tengah, dapat dengan mudah menemukan Azalea jenis Rhododendron radians serta Rhododendron seranicum, yang juga tumbuh di wilayah tersebut.

Baca juga : Hortensia, Bunga Cantik yang Bisa Diatur Warnanya dengan Berbagai Manfaat Kesehatan

Cara mengembangbiakkan tanaman Azalea dapat dilakukan secara vegetatif maupun generatif. Sampai saat ini, tanaman Azalea dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Warna merah muda pada bunga Azalea kemungkinan terjadi akibat persilangan antara tanaman bunga azalea warna merah dan warna putih.


Azalea juga bisa dijadikan tanaman bonsai


Tanaman hias tidak hanya berperan sebagai penambah estetika saja namun lebih dari itu. Banyak tanaman hias yang memiliki ragam manfaatnya khususnya bagi kesehatan tidak terkecuali Tanaman Azalea. Azalea sebagai tanaman yang dikenal memiliki kelopak bunga berwarna cerah dan cantik nyatanya memiliki beberapa manfaat.

Bagi penderita rematik atau yang sedang mengalami batuk, tanaman Azalea dapat digunakan sebagai obat herbal karena mengandung alkaloid, tanin, flavonoid, dan saponin. Hampir semua bagian dari tanaman Azalea seperti akar, daun, dan bunga yang masih segar maupun sudah kering untuk dikemudian diolah menjadi obat herbal guna mengatasi rematik dan batuk. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Azalea, Tanaman Semak Berbunga Cantik yang Mampu Tumbuh di Daerah Kering


Sabtu, 07 Februari 2026

Sempidan, Burung Pegar Hutan Pemalu Endemik Sumatera dan Kalimantan



Sempidan merupakan kelompok burung berukuran besar dari keluarga Phasianidae dengan genus Lophura yang terkenal dengan keindahan bulunya, terutama yang jantan. Burung-burung dalam genus ini dikenal karena penampilannya yang mencolok.

Sering kali tampil dengan bulu berwarna gelap mengkilap dan area kulit wajah berwarna cerah, biasanya merah atau biru. Bentuk tubuh ayam sempidan seperti campuran antara ayam dan pheasant sehingga sering disebut gallopheasant.

Besarnya hampir seperti ayam kalkun. Panjang ukuran sempidan jantan antara 40 hingga 90 cm. Dengan bulu yang panjang indah. Sempidan jantan umumnya berbulu panjang dan berparas indah, memiliki ornamen berwarna menyolok di sekitar muka.


Sempidan Sumatera (Lophura inornata)


Ornamen ini akan mengembang saat musim kawin, untuk menarik perhatian sempidan betina. Sempidan betina sendiri umumnya tidak semenarik sempidan jantan. Betina berwarna coklat suram yang berguna untuk menyamar saat mengerami telur di sarang yang terletak di atas tanah.

Baca juga : Pheasant, Satwa Eksotis dari Pegunungan Tiongkok Berharga Fantastis

Burung ini hidup di habitat hutan primer yang jarang terjamah manusia. Hutan pegunungan bawah dan hutan dengan perbukitan dengan ketinggian 300 hingga 2200 mdpl. Sempidan mampu berlari cepat untuk menghindari pemangsa. Burung besar ini juga mampu terbang rendah dalam jarak yang dekat.


Sempidan Merah Sumatera (Lophura erythrophthalma)


Sempidan tersebar luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara dengan jumlah total sebanyak 11 spesies. Enam jenis diantaranya ada di Indonesia. Semuanya berada dalam satu marga yang disebut Lophura. Uniknya, jenis-jenis Sempidan Indonesia ini hanya ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan (termasuk Brunei, Sabah dan Serawak).

Kebanyakan spesies sempidan mendiami hutan dataran rendah, perladangan, dan lembah hutan, seringkali di dekat aliran sungai. Sempidan cenderung hidup di lantai hutan, namun begitu sulit ditemukan meskipun mempunyai penampilan yang menarik.

Burung ini umumnya hidup di lantai hutan dataran rendah hingga pegunungan. Sering ditemukan menjelajah dan mengorek serasah daun yang jatuh di dasar hutan untuk mencari makan. Makanan burung sempidan di alam liar sangat bervariasi karena sempidan adalah pemakan segala (omnivora).

Makanan sempidan meliputi serangga (semut, rayap, cacing, larva), tumbuhan (buah-buahan, biji-bijian, daun, dan sayuran), serta hewan kecil lainnya seperti siput kecil. Sempidan mencari makanannya dengan cara mengais serasah di lantai hutan saat pagi hingga sore hari.


Sempidan Merah Kalimantan (Lophura pyronota)


Burung sempidan berkembang biak dengan cara bertelur (ovipar), di mana jantan melakukan ritual kawin yang menarik dengan memamerkan bulunya yang indah. Sempidan jantan juga akan mengeluarkan suara kerasnya buat menarik perhatian sempidan betina.

Baca juga : Mambruk, Burung Endemik Papua Bermahkota yang Dilindungi

Burung sempidan membuat sarang yang sederhana di atas tanah, biasanya tersamar dengan baik di lantai hutan atau di semak-semak. Sarang ini umumnya terbuat dari bahan-bahan alami yang tersedia di sekitarnya. Sempidan betina memilih lokasi sarang di tempat yang tersembunyi.


Sempidan 4 Biru Sumatera (Lophura rufa)


Sering kali berada di antara akar pohon, di bawah semak belukar, atau di area dengan banyak daun kering untuk perlindungan dari predator dan elemen alam. Sarang dibangun menggunakan material seperti ranting kecil, daun kering, rumput, dan kadang-kadang lumut.

Sarangnya sendiri cenderung berupa “garukan” atau cekungan dangkal di tanah yang dilapisi dengan bahan-bahan tersebut untuk menciptakan tempat yang lembut dan aman bagi telur. Setelah sarang siap, sempidan betina akan bertelur (sekitar sembilan butir per periode).

Musim kawin terjadi saat peralihan musim hujan dan kemarau, umumnya di bulan April-Juli di Indonesia. Masa pengeraman telur sempidan sekitar 20-24 hari. Anak burung (piyik) menetas dengan bintik hitam di sayap, mirip induk betina. Bulu anak sempidan jantan mulai terlihat lebih gelap dari betina saat usia 4 bulan.

Lalu akan berubah warna saat dewasa pada usia 1-3 tahun. Setelah menetas, anak burung sempidan sudah berbulu dan dapat bergerak aktif (termasuk berlarian di tanah), yang merupakan tahap perkembangan normal. Pada masa ini, induknya masih merawat dan mengawasi anak-anaknya.


Sempidan Biru Kalimantan (Lophura ignita)


Induk burung, terutama betina, berperan penting dalam menjaga sarang tetap bersih dan merawat anak-anaknya hingga mereka bisa mandiri. Meskipun tidak ada data spesifik mengenai umur pasti perpisahan penuh untuk semua spesies sempidan.

Baca juga : Kasuari, Spesies Burung Paling Berbahaya di Dunia dari Hutan Papua

Umumnya burung-burung dalam ordo yang sama (Galliformes, seperti ayam atau burung kuau) cenderung mandiri relatif cepat. Anakan sempidan akan mulai menjauh dari induknya secara bertahap saat kemampuan terbangnya membaik dan mahir mencari makan sendiri, seperti serangga dan buah-buahan.


Sempidan Kalimantan (Lophura bulweri)


Anak burung sempidan secara bertahap akan berpisah dari induknya setelah cukup matang untuk mencari makan sendiri dan bertahan hidup. Proses ini bervariasi, tetapi anakan sempidan mulai meninggalkan sarang dan berkeliaran di tanah pada usia muda setelah menetas.

Di Indonesia, ada beberapa spesies burung sempidan yang hidup di Sumatera dan Kalimantan, seperti Sempidan Sumatera (Lophura inornata), Sempidan Merah Sumatera (Lophura erythropthalma), Sempidan Merah Kalimantan (Lophura pyronota), Sempidan Biru Sumatera (Lophura rufa), Sempidan Biru Kalimantan (Lophura ignita), dan Sempidan Kalimantan (Lophura bulweri). Semuanya termasuk famili ayam pegar dan punya corak serta habitat spesifik, seringkali terancam punah karena deforestasi.


Anakan burung sempidan yang baru menetas


Banyak spesies sempidan menghadapi ancaman serius, terutama akibat hilangnya habitat (deforestasi) dan perburuan liar, yang menyebabkan penurunan populasi mereka di alam liar. Beberapa di antaranya, seperti Sempidan Biru Kalimantan, berstatus Vulnerable (rentan) menurut IUCN. Upaya konservasi, baik in-situ (di habitat asli) maupun ex-situ (di penangkaran), sangat penting untuk menjaga kelestarian burung-burung menawan ini. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Sempidan, Burung Eksotis Penghuni Hutan Sumatera dan Kalimantan yang Terancam Punah


Selasa, 03 Februari 2026

Bajing Kelapa, Mamalia Pengerat Kecil Penghuni Pohon



Bajing Kelapa (Callosciurus notatus) merupakan mamalia pengerat kecil mirip tupai yang mudah ditemukan di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Hewan ini dalam bahasa Inggris disebut Plantain squirrel. Bajing kelapa adalah salah satu spesies bajing yang paling umum dan mudah dijumpai.

Bajing kelapa adalah hewan pengerat yang kerap disalahartikan sebagai tupai karena corak warnanya mirip dengan habitat yang sama, keduanya sering dianggap sejenis oleh masyarakat. Bajing kelapa memainkan peran penting dalam ekosistem. Keberadaannya kadang menjadi “tetangga” yang menggemaskan sekaligus mengesalkan bagi manusia karena kebiasaannya yang suka mencicipi buah di pekarangan.

Bajing kelapa termasuk spesies rodentia dari keluarga Sciuridae. Nama genusnya, Callosciurus, berasal dari bahasa Yunani yang berarti “bajing yang indah”, merujuk pada penampilan fisiknya yang memang menarik dibandingkan banyak spesies bajing lainnya.


Bajing kelapa, hewan pengerat yang mirip dengan tupai


Bajing kelapa mempunyai warna bulu warna cokelat/hitam di punggung dan jingga/putih di perut, memiliki ekor seperti sikat, dan meski sering dianggap hama karena memakan buah. Satwa ini berperan penting sebagai agen penyebar biji untuk regenerasi hutan.

Baca juga : Bajing, Pengerat Gesit Penjaga Regenerasi Hutan

Spesies ini termasuk hewan asli (endemik) kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Di Indonesia, penyebarannya sangat luas, mencakup Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Atau di pulau-pulau sekitarnya yang berada pada ketinggian 500 sampai 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl).


Bajing kelapa sangat sering ditemui di daerah yang didominasi aktivitas manusia


Hewan ini merupakan salah satu jenis mamalia liar yang paling mudah terlihat di kebun pekarangan, kebun campuran (wanatani), hutan sekunder, hutan kota dan taman, serta beberapa jenis hutan di dekat pantai. Bajing kelapa terutama menyebar luas di dataran rendah hingga wilayah perbukitan. Hewan yang tinggal berdekatan dengan permukiman dapat menjadi terbiasa dengan manusia dan berani mendekati rumah.

Bajing kelapa mempunyai panjang tubuh 198 mili meter dengan panjang ekor 19,5 cm dan panjang kaki 4,4 cm, sedangkan bujur kakinya sekitar 4,4 cm. Bajing kelapa memiliki berat sekitar 150 sampai 280 gram. Bagian ekor panjangnya mencapai 19,5 cm.

Ekornya yang tebal dan berbulu lebat berfungsi sebagai penyeimbang saat ia memanjat dan melompat dari dahan yang satu ke dahan lainnya. Sisi atas tubuh kecoklatan, dengan bintik-bintik halus kehitaman dan kekuningan. Di sisi samping tubuh agak ke bawah, di antara tungkai depan dan belakang, terdapat setrip berwarna bungalan (pucat kekuningan) dan hitam.

Sisi bawah tubuh (perut) jingga atau kemerahan, terang atau agak gelap. Kebanyakan anak jenis dideskripsikan dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan pada warna rambut di bagian ini, yang bervariasi mulai dari abu-abu sedikit jingga sampai coklat berangan gelap. Ekor coklat kekuningan berbelang-belang hitam. Terdapat variasi dengan ujung ekor berwarna kemerahan.


Bajing kelapa senang melubangi kelapa muda maupun tua untuk memakan isinya


Perilakunya sangat lincah dan gesit. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon (arboreal) dan aktif pada siang hari (diurnal). Bajing kelapa aktif mencari makan buah buahan (terutama yang manis dan lunak seperti pepaya, pisang, dan tentu saja kelapa) dan biji bijian di pagi hari dan sore hari sedangkan disiang hari mereka cenderung lebih santai beristirahat di sela-sela ranting/pepohonan.

Baca juga : Tupai, Mamalia Kecil Mirip dan Kerap Disamakan dengan Bajing Kini Semakin Jarang Terlihat

Seperti namanya, bajing ini sering ditemukan berkeliaran di cabang dan ranting pohon, atau melompat di antara pelepah daun di kebun-kebun kelapa dan juga kebun-kebun lainnya. Bajing Kelapa juga dikenal sebagai perenang yang handal. Satwa ini sering terlihat memanjat dengan cepat, melompat dengan berani bahkan berenang untuk menyebrangi sungai atau selokan guna mencapai sumber makanan.


Sepasang bajing kelapa di lubang sarangnya


Hewan ini memanfaatkan tinggi kanopi antara 21 sampai 40 kaki sebagai habitat makan. bajing kelapa juga memakan berbagai buah-buahan, biji dan daun muda serta bunga. Dan juga memakan beberapa jenis serangga terutama semut. Bajing kelapa sanggup melubangi kayu atau ranting pohon untuk mencari larva semut.

Bahkan juga mampu memakan buah-buahan yang lebih besar dari tubuhnya. Dengan gigi dan rahangnya yang kuat hewan kecil ini mampu merobek atau melubangi buah-buahan tersebut sebelum memakannya. Terkadang hewan ini juga teramati memakan getah dari pohon dengan cara mengigiti kulit pohon hingga mengeluarkan getah lalu menjilati getah tersebut.

Bajing kelapa melubangi dan memakan buah kelapa, yang muda maupun yang tua. Karena kebiasaannya tersebut banyak petani yang menganggapnya sebagai hama yang merugikan. Tidak jarang petani mengalami gagal panen karena bajing ini memakan atau melubangi buah-buahan yang ada.

Untuk mencegah hal ini para petani melakukan berbagai cara untuk mengatasinya. Seperti menyiram pestisida pada buah-buahan produksi mereka. Sampai menggunakan predator alami bajing kelapa, yakni burung hantu untuk menekan populasi bajing kelapa di kebun mereka.


Bajing kelapa sedang membawa material untuk sarangnya


Bajing kelapa sering terlihat tidak berkelompok, sehingga termasuk satwa soliter atau menyendiri. Meskipun hidup soliter namun sering teramati mencari makan bersama-sama dalam kelompok kecil, kelompok ini akan saling melindungi satu sama lain saat sedang makan. Ketika merasa terganggu atau terancam, bajing kelapa akan mengeluarkan suara jeritan keras dan pendek sebagai tanda peringatan.

Baca juga : Jelarang, Bajing Pohon Terbesar yang Terancam Punah

Dalam kehidupannya, bajing kelapa bersifat poligami, yaitu satu jantan dapat mengawini maksimal empat bertina. Mereka juga termasuk hewan individual karena sering terlihat tidak berkelompok. Namun, satwa ini sering memanfaatkan sarang secara bersama-sama. Sarangnya sering ditemukan di lubang-lubang kayu atau di antara pelepah daun palma, berupa bola dari ranting dan serat tumbuhan berlapis-lapis. Bajing kelapa melahirkan anak hingga empat ekor, dan dapat beranak kapan saja sepanjang tahun.


Bajing kelapa juga berperan dalam penyebaran biji-bijian


Persatuan Internasional untuk Konservasi dan Sumber Daya Alam (IUCN) mencatat bajing kelapa termasuk dalam kategori Least Concern yang berarti spesies ini masih kurang diperhatikan statusnya (The IUCN Red List of Threatened Species, 2013). Status ini diberikan karena persebaran populasi bajing kelapa yang masih sangat luas dan jumlahnya yang masih banyak (stabil) di alam.

Penting untuk diingat bahwa meskipun tidak dilindungi undang-undang, bajing kelapa tetap merupakan bagian dari rantai makanan dan ekosistem yang berperan dalam penyebaran biji (seed dispersal). Sehingga keberadaan satwa ini sangat penting dan perlu tindakan pelestariannya. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Bajing Kelapa, Hewan Pengerat Mirip Tupai yang Sering Dianggap Hama


Minggu, 01 Februari 2026

Nangka, Tanaman Buah Asli India yang Populer di Indonesia





Nangka (Artocarpus heterophyllus) merupakan salah satu buah tropis yang memiliki ciri khas unik, baik dari segi ukuran, tekstur, hingga aroma dan rasanya. Buah nangka biasanya untuk konsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai makanan lezat. Buah nangka adalah salah satu jenis buah yang paling banyak di daerah tropis.

Buah ini cukup terkenal di seluruh dunia, dalam bahasa Inggris namanya jack fruit. Ada dugaan tanaman ini berasal dari India bagian selatan yang kemudian menyebar ke daerah tropis lainnya, termasuk Indonesia. Di Indonesia pohon nangka dapat tumbuh hampir di setiap daerah.

Bahkan di Indonesia terdapat lebih dari 30 kultivar dan di Jawa terdapat lebih dari 20 kultivar. Di Indonesia pohon ini memiliki beberapa nama daerah antara lain nongko/nangka (Jawa, Gorontalo), langge (Gorontalo), anane (Ambon), lumasa/malasa (Lampung), nanal atau krour (Irian Jaya), nangka (Sunda).



Pohon nangka



Tanaman ini menyukai wilayah dengan curah hujan lebih dari 1500 mm pertahun di mana musim keringnya tidak terlalu keras. Nangka kurang toleran terhadap udara dingin, kekeringan dan penggenangan. Nangka diyakini berasal dari India, yakni wilayah Ghats bagian barat, di mana jenis-jenis liarnya masih didapati tumbuh tersebar di hutan hujan di sana. Kini nangka telah menyebar luas di berbagai daerah tropik, terutama di Asia Tenggara.


Tanaman nangka memiliki akar berbentuk tunggang. Namun juga memiliki akar cabang yang tumbuh bulu yang sangat banyak. Akar Tanaman nangka ini dapat menembus permukaan tanah hingga kedalaman 10-15 meter. Selain itu, akar tanaman ini berguna untuk menyokong pertumbuhannya hingga kuat dan berdiri kokoh.



Daun nangka



Pohon nangka memiliki tinggi 10-15 meter. Batangnya tegak, berkayu, bulat, kasar dan berwarna hijau kotor. Pohon nangka umumnya berukuran sedang, sampai sekitar 20 m tingginya. Batangnya berbentuk bulat silindris, sampai berdiameter sekitar 1 meter. Tajuknya padat dan lebat, melebar dan membulat apabila di tempat terbuka. Seluruh bagian tumbuhan mengeluarkan getah putih pekat apabila dilukai.

Daun pada tanaman nangka merupakan daun tunggal (folium komplek) dan berbentuk bulat memanjang (oblongus). , bertangkai 1–4 cm, helai daun agak tebal seperti kulit, kaku, bertepi rata, bulat telur terbalik sampai jorong (memanjang), 3,5–12 × 5–25 cm, dengan pangkal menyempit sedikit demi sedikit. Ujung daun (apex folii) berbentuk meruncing (acuminatus).

Daun nangka memiliki tepi daun (margo folii) berbentuk rata (integer), serta memiliki tulang daun (nervatio/veneratio) bertulang menyirip (penninervis). Daun nangka mudah rontok dan meninggalkan bekas serupa cincin.

Selain itu, memiliki daging daun (intervenum) yang tipis lunak (herbaceus), dan juga permukaan atas daun licin (laevis) dan mengkilap (nitidus) dengan warna hijau tua. Sedangkan permukaan bawah daun kasar (scaler) dan berwarna hijau muda. Daun pada tanaman Nangka juga memiliki daun penumpu yang berbentuk segitiga dengan warna kecoklatan.



Pohon nagka yang tengah berbuah lebat



Daun-daun nangka merupakan pakan ternak yang disukai kambing, domba, maupun sapi. Kulit batangnya yang berserat, dapat digunakan sebagai bahan tali dan pada masa lalu juga dijadikan bahan pakaian. Getahnya digunakan dalam campuran untuk memerangkap burung, untuk memakal (menambal) perahu dan lain-lain.


Tumbuhan nangka berumah satu (monoecious), perbungaan muncul pada ketiak daun pada pucuk yang pendek dan khusus, yang tumbuh pada sisi batang atau cabang tua. Bunga jantan dalam bongkol berbentuk gada atau gelendong, 1–3 × 3–8 cm, dengan cincin berdaging yang jelas di pangkal bongkol, hijau tua, dengan serbuk sari kekuningan dan berbau harum samar apabila masak.



Daging buah nangka



Bunga tanaman nangka berukuran kecil, tumbuh berkelompok secara rapat tersusun dalam tandan, bunga muncul dari ketiak cabang atau pada cabang-cabang besar. Bagian bunga jantan dan betina terdapat sepohon Setelah melewati umur masaknya, bunga jantan akan terserang jamur / kapang dan membusuk. Dalam kondisi segar, bongkol bunga jantan (babal atau tongtolang) kerap jadi bahan rujak di Indonesia.

Buah nangka berbentuk gelendong memanjang, sering kali tidak merata, panjangnya hingga 100 cm, pada sisi luar membentuk duri pendek lunak. ‘Daging buah’, yang sesungguhnya adalah perkembangan dari tenda bunga, berwarna kuning keemasan apabila masak, berbau harum-manis yang keras, berdaging, kadang-kadang berisi cairan (nektar) yang manis.

Biji nangka berbentuk bulat lonjong sampai jorong agak gepeng, panjang 2 – 4 cm, berturut-turut tertutup oleh kulit biji yang tipis cokelat seperti kulit, endokarp yang liat keras keputihan, dan eksokarp yang lunak. Keping bijinya tidak setangkup.

Nangka termasuk ke dalam keluarga ara, mulberi, dan sukun (Moraceae). Nangka adalah buah pohon terbesar, mencapai berat hingga 55 kg, panjang 90 cm, dan diameter 50 cm. Pohon buah ini menghasilkan buahnya sekali setahun, pohon buahnya dapat mencapai hingga 90 cm dan besarnya 50 cm.



Biji nangka



Pohon nangka dewasa menghasilkan sekitar 200 buah per tahun, sedangkan pohon yang lebih tua menghasilkan hingga 500 buah dalam setahun. Nangka adalah buah majemuk yang terdiri dari ratusan hingga ribuan bunga individu, dan kelopak buah yang masih mentah dimakan.


Tumbuhan dalam genus Artocarpus (seperti nangka, sukun, dan cempedak) dapat bereproduksi secara generatif (seksual) dan vegetatif (aseksual). Reproduksi generatif melibatkan proses penyerbukan dan pembuahan yang menghasilkan biji.



Sayur nangka muda



Tanaman nangka (Artocarpus heterophyllus) dan cempedak (Artocarpus integer) umumnya memiliki biji dan dapat diperbanyak secara generatif melalui penanaman biji. Pohon yang berasal dari biji biasanya membutuhkan waktu lebih lama (sekitar 5-10 tahun) untuk mulai berbuah.

Daging buah nangka muda bisa dimanfaatkan sebagai sayuran yang mengandung albuminoid dan karbohidrat. Sedangkan daging buah nangka yang matang umumnya dalam bentuk segar. Selain itu, daging buah juga bisa diolah jadi produk lain seperti buah kering, selai, jelly, permen, dan sirup ataupun sebagai bahan campuran es krim dan minuman. Sementara getahnya pemanfaatannya sebagai obat demam, obat cacing dan sebagai antiinflamasi. (Ramlee)


Sumber : remen.id


Rabu, 28 Januari 2026

Rangkong Gading, Spesies Burung Rangkong Paling Terancam Punah di Indonesia




Rangkong Gading (Buceros/Rhinoplax vigil) merupakan satu-satunya spesies burung rangkong yang dihiasi dengan tulang (casque) yang terbuat dari keratin padat. Sayangnya hal tersebut juga membuatnya menjadi spesies rangkong paling terancam di Indonesia. Burung ini dapat ditemukan di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan dan termasuk fauna yang menjadi maskot Provinsi Kalimantan Barat dan dilindungi oleh undang-undang.

Burung berukuran besar ini berasal dari keluarga Bucerotidae. Burung-burung dari famili Bucerotidae dikenal dengan sebutan Rangkong, Julang, dan Kangkareng. Di dunia persebarannya terdapat 45 jenis burung rangkong yang tersebar mulai dari daerah sub-sahara Afrika, India, Asia Tenggara, New Guinea dan Kepulauan Solomon.

Sebagian besar hewan hidup di hutan hujan tropis dan hanya beberapa jenis saja yang hidup di daerah kering seperti di Afrika. Di Indonesia sendiri terdapat 13 jenis yang terdiri dari 7 genus, yaitu Annorhinus, Penelopides, Berenicornis, Rhyticeros, Anthracoceros, Buceros, dan Rhinoplax. Tersebar luas di hutan-hutan Sumatera (9 jenis), Jawa (3 jenis), Kalimantan (8 jenis), Sulawesi (2 jenis) dan Irian Jaya (1 jenis).


Rangkong Gading penghuni hutan hujan tropis


Umumnya, semua jenis burung ini mempunyai paruh panjang dan ringan, bekerja seperti sepasang penjepit untuk menangkap atau mengambil makanan dengan cepat menggunakan ujungnya, kemudian memasukkannya ke dalam tenggorokan. Burung rangkong lebih memilih makanan yang ada di atas pohon (arboreal) di hutan, jarang dijumpai burung rangkong memakan buah-buahan di atas tanah.

Baca juga : Rangkong, Burung Besar si Penjaga Kelestarian Hutan Populasinya Kian Terancam

Rangkong Gading merupakan spesies burung enggang yang terbesar di dunia dengan panjang tubuh berkisar antara 65 – 170 cm dan berat sekitar 290 – 4200 gr. Rentang panjang sayap 44 – 49 cm dan panjang ekor bagian tengah 30 – 50 cm. Burung ini juga memiliki iris warna merah, paruh kuning, dan merah, dan kakinya berwarna kaki cokelat.


Rangkong Gading mempunyai suara keras nyaring yang terdengar hingga 2 km jauhnya


Burung ini sangat khas dan mencolok, selain karena badannya yang besar, juga karena memiliki paruh besar. Di atas paruhnya, terdapat tulang padat (casque). Tonjolan berwarna merah itu mirip helm. Itulah sebabnya anggota famili Bucerotidae itu mendapat julukan helmeted hornbill, yang berfungsi sebagai ruang dengung suara.

Rangkong Gading merupakan satu-satunya jenis rangkong yang memiliki tulang/cula (casque) penuh berisi, bahkan 13 persen berat tubuhnya terdapat pada tulang tersebut dimana struktur materinya setara dengan gading gajah. Oleh sebab itu, penamaan rangkong jenis Rhinoplax vigil terinspirasi dari balungnya yang memiliki kemiripan dengan gading gajah.

Cula tersebut digunakan dalam perkelahian yang kerap terjadi di dekat pohon beringin yang sedang berbuah. Bahkan suara keras dan melengking terdengar seperti orang tertawa terpingkal-pingkal dan dapat didengar dari jarak dua kilometer.

Rangkong Gading memiliki warna dasar bulu berwarna hitam dengan bagian perut, ekor, dan kaki berwarna putih. Ketika masih muda, paruh enggang gading berwarna putih juga. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, paruh dan balung akan berubah menjadi oranye atau merah.


Rangkong Gading sedang memakan buah ara


Makanan utama rangkong gading sangat spesifik, berupa buah beringin atau ara berukuran besar. Hanya hutan yang belum rusak yang dapat menyediakan pakan ini dalam jumlah banyak sepanjang tahun. Makanan lain berupa binatang-binatang kecil hanya dikonsumsi sekitar 2 persen dari keseluruhan komposisi makanannya.

Baca juga : Kakatua Tanimbar, Jenis Kakatua Terkecil Endemik Kepulauan Tanimbar yang Terancam Punah

Rangkong Gading terbiasa tinggal di hutan primer yang berisi pohon-pohon sangat besar dan jauh dari manusia. Burung ini biasa membuat sarang di lubang pohon yang berada di ketinggian 20 – 50 meter dari permukaan tanah. Lubang ini biasanya terbentuk dari bekas patahan batang atau sisa lubang dari hewan lain yang kemudian mengalami proses pelapukan.


Rangkong Gading juga menyukai serangga sebagai makanannya


Sama seperti semua jenis burung enggang, Rangkong gading hanya memiliki satu pasangan selama hidupnya (monogami). Setelah menemukan lubang sarang yang tepat, sang betina akan masuk dan mengurung diri. Butuh sekitar 180 hari bagi rangkong untuk menghasilkan satu anak.

Bersama rangkong jantan, lubang sarang akan ditutup menggunakan adonan berupa tanah liat yang dibubuhi kotorannya. Celah sempit disisakan pada lubang penutup untuk mengambil hantaran makanan dari sang jantan, dan juga untuk menjaga suhu dan kebersihan di dalam sarang.

Sang jantan lah yang bertugas mencari makan untuk anak dan betinanya di sarang. Maka, bisa dikatakan jika satu ekor jantang Rangkong Gading terbunuh, itu sama dengan membunuh satu keluarga Rangkong Gading di alam. Rangkong Gading, yang hanya menghasilkan satu anakan per tahun.

Di dalam sarang, sang betina akan meluruhkan sebagian bulu terbangnya (moulting) untuk membuat alas demi menjaga kehangatan telur. Burung betina tidak akan dapat terbang dan bergantung sepenuhnya pada sang jantan, sampai sang anak keluar dari sarang. Tahap bertelur, mengerami, menetas, sampai anak siap keluar dari sarang membutuhkan waktu selama enam bulan.


Rangkong Gading bersama pasangannya di depan lubang pohon yang akan dijadikan sarang


Uniknya, sarang Rangkong Gading bukanlah sarang buatan, melainkan harus sarang alami. Rangkong Gading hanya bisa berkembangbiak pada lubang pohon yang tinggingya 50 meter atau lebih tinggi. Pohon yang memiliki sarang yang layak bagi Rangkong Gading hanya didapati di pohon hutan hujan purba yang memiliki diameter di atas satu meter.

Baca juga : Kuau Raja, Burung Raksasa Eksotis Asal Sumatera Berjuluk Seratus Mata

Lubang pohon itu memiliki ciri khas bongol di depannya. Dan sarang alami yang dibutuhkan rangkong sangat jarang ditemui, apalagi ketika pembalakan hutan liar terjadi. Artinya, rangkong gading sangat membutuhkan hutan, seperti hutan itu membutuhkan burung ini.


Paruh Rangkong Gading setara gading gajah


Hilangnya hutan sebagai habitat utama, minimnya upaya konservasi, dan maraknya perburuan adalah perpaduan mengerikan bagi masa depan rangkong gading. Berbagai jenis pohon beringin yang menyediakan makanan utama bagi rangkong gading dianggap tidak memiliki nilai ekonomis sehingga keberadaannya tidak pernah diharapkan.

Investigasi Rangkong Indonesia dan Yayasan Titian yang didukung oleh Dana Konservasi Chester Zoo, mencatat selama tahun 2013 sekitar 6.000 Rangkong Gading dewasa dibantai di Kalimantan Barat untuk diambil kepalanya. Kemudian, sepanjang 2015 tercatat sebanyak 2.343 paruh rangkong gading berhasil disita dari perdagangan gelap.


Rangkong Gading semakin sulit dijumpai


Jenis burung ini dilindungi menurut UU No. 5 Th 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan telah tercatat dalam lampiran daftar jenis satwa dan tumbuhan liar dilindungi pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999. Selain itu berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.57/Menhut-II/2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008-2018 memasukkan rangkong gading sebagai jenis prioritas dalam kelompok rangkong.

Sejak akhir tahun 2015, International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengklasifikasikan enggang gading sebagai salah satu satwa dengan status status critical endangered atau terancam punah, yang merupakan satu tahap menuju kepunahan. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Rangkong Gading, Burung Enggang Terbesar di Ambang Kepunahan


Latber AG Bird Farm Bangkalan, Gelaran Masih Tetap Semarak, Mawar Raih Kemenangan

Dalam rangka meningkatkan kualitas peternak puter pelung dan wadah silaturahmi bagi penghobi puter pelung di Bangkalan dan sekitarnya, AG Bi...