Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri ciblek. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri ciblek. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 April 2023

Ciblek, Jenis Burung Pengicau Bersuara Nyaring



Ciblek (Prinia Familiaris) atau biasa juga disebut perenjak jawa adalah jenis burung pengicau dari keluarga Cistcolidae. Dalam bahasa Inggris burung ini dikenal sebagai bar-winged Prinia, merujuk pada dua garis putih pada kedua sayapnya.

Setiap wilayah memiliki sebutan yang berbeda-beda untuk burung Prenjak. Selain menyebut Prenjak, masyarakat Jawa juga menyebutnya Ciblek. Masyarakat Sunda menyebut Cinenen, Betawi menyebut Cici dan Melayu menyebut Murai.

Burung ini mudah dijumpai di area perkebunan, persawahan dan permukiman warga yang masih asri. Hampir di seluruh wilayah Indonesia burung bersuara nyaring ini bisa ditemukan. Di alam bebas burung ciblek terdiri dari beberapa jenis dengan ciri khasnya masing-masing, beberapa diantaranya, Ciblek gunung, Ciblek jawa, Ciblek rawa, Ciblek padi, dan Ciblek coklat.

Burung ciblek yang tengah membangun sarangnya

Burung perenjak jawa tubuhnya ramping dengan panjang sekitar 13 cm. Warna coklat kehijauan terlihat hampir di seluruh bagian tubuhnya. Pada sisi tenggorokan hingga ke dada bulunya berwarna putih, tetapi di beberapa bagian dada dan paha warna bulunya cenderung keabu-abuan. Ciri khasnya sayap dengan dua garis putih, serta ekor panjang dengan ujung berwarna hitam dan putih.

Pada bagian wajahnya terdapat paruh panjang dan runcing dengan warna kehitaman di sisi atas dan bawahnya berwarna kekuningan. Kaki burung ciblek berwarna cokelat kemerahan atau merah muda dengan struktur terlihat rapuh dan langsing.

Telur burung ciblek

Habitat utama burung ciblek adalah daerah semak atau tempat terbuka. Sering ditemui di tempat terbuka atau kawasan bersemak di taman, pekarangan, tepi sawah, hutan sekunder, sampai ke hutan bakau. Juga kerap teramati di perkebunan teh.

Baca juga : Gould Amadin, Burung Pipit Warna-Warni Asal Benua Australia

Burung prenjak jawa bergerak secara lincah saat mencari makan. Dua burung ciblek atau lebih akan berkejaran di sela-sela kegiatannya memangsa serangga kecil yang ada di sekitar semak-semak. Mereka berkicau keras dan menggerakkan ekornya yang tipis ke atas.

Induk ciblek yang tengah mengerami telurnya

Terdengar suara keras, cwuit-cwuit-cwuit… ciblek-ciblek-ciblek-ciblek.. ! Ekor yang tipis digerakkan ke atas ketika berkicau. Seperti burung pengicau lainnya, makanan utama burung ciblek adalah serangga kecil, seperti jangkrik, ulat, kroto, lalat belalang, dan capung.

Burung ciblek akan berburu makanan di permukaan tanah hingga ke tajuk pepohonan. Saat dipelihara dalam kandang. biasanya mereka diberi pakan berupa voer atau pisang. Burung ini membuat sarangnya di rerumputan atau semak-semak sampai ketinggian sekitar 1,5 m di atas tanah.

Sang induk sedang meloloh anaknya yang telah keluar sarang

Burung ini membuat sarangnya dengan bentuk seperti bola-bola kecil dari bilah-bilah daun. Menganyam atau menautkan dua bilah atau lebih daun. Sarang itu dianyam menggunakan tali dari rerumputan dan serat tumbuhan.

Ada beberapa ciri khusus untuk membadakan jenis kelamin burung ciblek, yakni postur tubuh burung jantan biasanya lebih panjang dan ramping, sedangkan yang betina lebih telihat gemuk. Warna bulu pejantan telihat lebih tegas, sedangkan si betina sebaliknya.

Ciblek jantan lebih sering menaik-turunkan ekor dibanding yang betina. Warna paruh bawah pada burung betina adalah putih pucat. Warna paruh bawah putih dengan ujung yang hitam merupakan ciri khusus burung jantan yang masih muda.

Ciblek sedang mencari makan berupa serangga

Kuku jari kaki pada burung jantan muda terlihat kusam, uku jari kaki pada burung betina muda terlihat lebih bersih. Burung ciblek jantan mempunyai ukuran tubuhnya yang lebih besar dan giat berkicau. Ekornya lebih panjang dan warna sayap yang semakin gelap.

Perenjak jawa merupakan burung dengan persebaran terbatas atau endemik. Burung ini hanya bisa ditemukan di wilayah Jawa, Bali, dan Sumatra. Di Sumatera, ciblek tinggal di wilayah dengan ketinggian 900 mdpl. Sedangkan di wilayah Jawa dan Bali biasanya menghuni wilayah dengan ketinggian 0 hingga 1.500 mdpl.

Ciblek gunung/hill prinia (Prinia superciliaris)

Sebelum tahun 1990, burung ciblek masih banyak terbang bebas dengan liar layaknya burung gereja dan burung pipit. Sifatnya yang mudah beradaptasi dan jinak membuat burung mungil ini memiliki populasi yang cukup banyak di berbagai wilayah.

Baca juga : Murai Batu Rajanya Burung Ocehan, Favorit Kicau Mania

Kicauannya yang merdu, menjadikan orang-orang tertarik sehingga mulai banyak memburunya untuk memperjualbelikannya, terutama di wilayah Jawa. Ciblek merupakan burung liar yang jinak dan habitatnya yang mudah dijumpai, maka membuat burung ciblek mudah untuk ditangkap.

Burung ciblek jawa dikenal pula dengan nama ciblek kebun/bar-winged prinia (Prinia familiaris)

Burung ini gampang ditangkap dengan dipikat, memakai bantuan kaca pantul di dalam sangkar. Burung yang tertarik dengan cerminannya sendiri akan terjebak di dalam sangkar. Cara lainnya adalah dengan memasang jerat atau rajut di sekitar sarangnya.

Atau dengan perangkap getah (pulut) pada tempat-tempat tidurnya di waktu malam. Para penangkap burung yang terampil, bahkan kerap hanya bermodalkan senter, kehati-hatian, dan kecepatan tangan menangkap burung yang tidur di malam hari.

Ciblek rawa/yellow bellied prinia (Prinia flaviventris)

Sayang sekali burung ini mudah sekali stres dan akhirnya mati dalam pemeliharaan, terutama apabila yang ditangkap adalah burung dewasa. Selain itu Ciblek/Prenjak memiliki sifat sulit untuk dikembangbiakkan, bahkan jika tidak pandai dalam merawat burung ini rentan mati.


Sampai sekarang, burung ini masih sulit dibiakkan. Meskipun sejak tahun 2010 sudah ada yang berhasil mengembangbiakkannya. Selain itu dibandingkan dengan burung kicau lainnya Ciblek atau Prenjak memang masih tergolong burung yang murah harganya, sehingga tidak banyak orang yang mau membudidayakannya.

Ciblek padi kerap disebut juga sebagai ciblek pare/ciblek sawah/plain prinia (Prinia inornata)

Harganya ciblek berkisar antara puluhan hingga ratusan ribu rupiah saja.Harganya yang murah juga menjadi alasan banyak orang memburu burung ini sehingga pada beberapa tahun terakhir sebagian jenis ciblek mulai sulit ditemukan. Prenjak dapat berkicau dengan volume yang keras dalam tempo yang rapat, sehingga menarik perhatian para pecinta burung kicauan.

Burung ciblek yang telah gacor (rajin berkicau) sering diburu oleh pecinta burung ocehan untuk dijadikan burung masteran burung jenis kicau yang lain. Atau untuk diikutsertakan dalam kontes lomba burung berkicau. Eksploitasi yang berlebihan sangat berbahaya bagi populasi ciblek.

Ciblek cokelat atau ciblek alang-alang/brown prinia (Prinia polychroa)

Di wilayah-wilayah tertentu seperti di pinggiran kota besar, sekarang seolah ‘kehabisan stok’ padahal sebelum tahun 90-an burung ini masih melimpah. Perenjak jawa semakin jarang terlihat di taman-taman, dan terbatas di tempat-tempat tertentu yang masih tidak jauh hutan.

Baca juga : Burung Kenari, Burung Berbulu Cantik Bersuara Sangat Merdu

Kebanyakan ciblek yang dipelihara di dalam sangkar burung tidak memiliki umur panjang. Hanya mampu hidup berkisar antara 8-10 bulan saja jika dipelihara dengan cara yang salah. Karena burung ini mudah sekali mengalami stress.

Suasana lomba burung berkicau

Namun masalah ini tidak menyurutkan minat para pemburu burung untuk memenuhi permintaan para penghobi burung ini.Cara memeliharanya agar tidak mudah stress adalah dengan meletakkan burung jantan dan burung betina bersama-sama guna menstabilkan birahi dan membuatnya rajin berbunyi. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Ciblek, Burung Kecil Ramping Bersuara Nyaring yang Terus Diburu

Jumat, 19 Mei 2023

Cara Menjinakan Burung Trucukan Tangkapan Alam



Burung trucukan yang dulu sempat dianggap mengganggu, kini mulai dilirik oleh para penggemar burung kicauan. Burung trucukan merupakan burung yang memiliki suara kicau yang khas, keras, dan gayanya bagaikan penyanyi ketika berkicau, menjadikan burung trucukan sering diburu penyuka burung kicau.

Burung trucukan juga termasuk burung yang mudah dipelihara. Burung ini termasuk burung yang mudah beradaptasi dengan lingkungan rumah, perawatan , dan pakan burung trucukan juga termasuk gampang didapat. Burung trucukan tidak perlu perawatan khusus yang ribet, andai saja di sangkar disediakan pisang, voer dan air minum saja maka burung ini sudah bisa hidup normal.

Burung trucukan saat ini masih termasuk masih mudah dijumpai di alam. Tidak seperti burung-burung kicau lokal lainnya seperti burung ciblek dan prenjak yang sudah mulai susah dijumpai akibat perburuan burung yang kian masif.

Burung trucukan masih banyak terlihat di habitatnya
 

Trucukan bakalan di kios atau pasar burung biasanya dijual dengan cara ombyokan dengan harga yang relatif murah dan terjangkau sekitar 20 s/d 40 ribu saja. Burung trucukan di pasaran merupakan hasil dari tangkapan alam.

Baca juga : Trucukan, Gaya BerKicaunya Seperti Burung Garuda

Karena mudah dalam perawatan dan harganya yang terjangkau, burung trucukan sampai saat ini masih tetap digemari oleh kicau mania. Membelinya di kandang ombyokan sering kali dilakukan kicau mania untuk menghemat uang ketika menginginkan membeli burung trucukan.

Sebuah kios yang menyediakan beraneka burung
 

Namun membeli trucukan di ombyokan juga memerlukan cara tersendiri supaya tidak salah dalam memilih burung yang bagus. Burung yang bersikap tenang, mengambil makanan di tempat pakan juga terlihat sudah terbiasa bisa dipilih, karena tandanya burung sudah lama di kandang ombyokan.

Kelebihan memilih burung yang sudah lama dalam kandang ombyokan adalah burung ini akan dengan mudah beradaptasi di lingkungan barunya. Selain itu, jaminan hidup juga lebih besar bila dibandingkan dengan burung bahan yang baru saja ditangkap dari alam.

Biasanya burung bahan yang baru saja didapat dari tangkapan alam akan sangat liar dan cenderung klabakan takut jika didekati. Burung yang baru masuk kandang ombyokan akan terlihat kaku dan selalu waspada. Maka amatilah sebelum membeli bahan trucukan dengan memilih burung yang sudah lama disangkar tersebut.

Sebisa mungkin pilih trucukan yang sering bunyi mengeluarkan suara panggilan khas trucukan atau jika ada bakalan yang sering bersuara ngeropel terus. Bahan dengan ciri tersebut ketika dibawa ke rumah tidak akan lama sudah akan mau berkicau.

Burung trucukan di sangkar ombyokan
 

Pilih bakalan berjenis kelamin jantan, biasanya trucukan jantan bercirikan sering mengangkat jambul kepalanya ke atas, karena di sangkar ombyokan jantan betina campur jadi satu. Burung dengan ciri tersebut menandakan burung trucukan bakalan memiliki mental yang bagus.

Dari ciri fisik, pilih bakalan yang berbentuk ramping badannya, makannya lahap, tidak cacat, serta paruhnya besar lurus. Diperlukan upaya yang tepat dan tekun untuk membuat burung trucukan tidak lagi bertingkah ketakutan ketika didekati manusia.

Sangkar burung dikrodong (dikrakap)

Namun demikian burung hasil tangkapan alam meskipun sudah terlihat tidak begitu liar tetap saja perlu dijinakkan. Sebenarnya trucukan juga akan tetap ropel dan gacor meski tidak jinak, namun tidak bisa dibawa kemana-mana.

Baca juga : Burung Kenari, Burung Berbulu Cantik Bersuara Sangat Merdu

Beri sangkar trucukan dengan krodong agar bisa lebih tenang dan tidak bertingkah liar, sekaligus agar burung tidak stres. Selain itu, interaksi secara intensif terhadap burung juga diperlukan agar burung mengingat keberadaan perawatnya.

Burung trucukan selesai dimandikan
 


Memandikan burung

Burung yang terlihat giras (liar) perlu dimandikan secara teratur. Ini diperlukan untik mengendalikan emosi gerakan burung. Mandikan burung pada pagi dan sore hari, setelah dimandikan perlu diangin-anginkan atau jemur untuk mengeringkan bulu-bulunya.

Pilih juga cara memandikannya. Bisa memandikan burung dalam keramba, disemprot dengan semprotan berkabut, atau memandikan burung dengan cara dipegang. Cara memandikan burung dengan dipegang lebih efektif untuk menjinakkan burung trucukan.


Beri pakan terbatas

Berikan pakan secara terbatas setelah dimandikan dan bulu sudah kering. Memandikan burung secara rutin setiap hari dan memberi pakan yang terbatas efektif menjinakkan burung yang giras.

Baca juga : Ciblek, Jenis Burung Pengicau Bersuara Nyaring

Berikan pakan ketika burung terlihat mulai lapar, sehingga burung akan bergantung terhadap pakan yang diberikan oleh perawatnya. Dengan cara intens seperti itu, membuat burung akan segera mengenali perawatnya dan tidak liar lagi.

Burung yang sehat akan rajin berkicau
 

Tempatkan sangkar burung tidak terlalu jauh dari keramaian. Awal-awal jangan langsung terlalu dekat dengan lalu lalang manusia biar tidak stres. Tempatkan di tempat yang membuat burung nyaman dan tenang. Secara perlahan rubah ke tempat orang berlalu lalang, agar terbiasa dengan kehadiran manusia di dekatnya.

Menjinakkan burung memang perlu memiliki strategi yang tepat. Memang tidak gampang, perlu ketekunan dalam mengusahakannya. Dengan ketulusan dan ketelatenan serta berinteraksi secara aktif dengan burung, akan membuat burung tidak lagi bertingkah liar. (Ramlee)


Sumber : remen.id



Upaya Menjinakan Trucukan Hasil Tangkapan Alam

Rabu, 07 Mei 2025

Cici Merah, si Mungil Bersuara Khas



Cici Merah (Cisticola exilis) merupakan sejenis burung pengicau yang bertubuh kecil mungil. Burung cici merah mempunyai wilayah persebaran yang sangat merata di Indonesia. Burung ini termasuk dalam keluarga Cisticolidae dan dikenal sebagai burung penjahit, karena pandai menjahit sarang, dengan mencuri jaring laba-laba dan menggunakannya sebagai benang untuk menganyam sarangnya.

Cici merah bukan hanya dijumpai di Indonesia, tetapi juga di India, wilayah selatan China, Asia Tenggara, bahkan juga di Australia yang notabene berada di wilayah selatan Indonesia. Di Indonesia, burung ini memiliki wilayah persebaran mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggata, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Penampilan burung cici merah sekilas mirip dengan cici padi (Cisticola juncidis). Namun, kalau diperhatikan lebih seksama, ada perbedaan pada alis matanya yang berwarna kuning-tua. Warna yang sama akan terlihat pada sisi leher dan tengkuknya.

Cici Merah di habitatnya mendiami area terbuka


Pada waktu musim kawin, burung cici merah jantan memiliki tunggir berwarna kecokelatan dan kepala oranye-keemasan. Bulu-bulu di atas kepala akan berdiri/menjambul pada waktu berkicau. Itulah mengapa burung cici merah juga disebut sebagai golden-headed cisticola.

Baca juga : Burung Kacamata, Burung Mungil Berkicau Lantang dan Merdu

Di luar musim kawin, penampilan burung jantan dan betina memiliki kemiripan, sehingga susah dibedakan. Di alam liar biasanya burung mungil ini jamak ditemukan di kawasan bukit dan pegunungan. Mendiami area hutan terbuka yang terdapat di dataran tinggi hingga mencapai 1.200 – 1.830 meter di atas permukaan laut. Di Papua, menghuni dataran rendah dan lembah-lembah Pegunungan Tengah sampai ketinggian 1.400 m dpl.

Serangga merupakan makanan utama Cici Merah


Cici merah sering terlihat mengais rerumputan saat mencari makanan berupa serangga dan ulat sebagai makanannya di antara rerumputan tinggi dan tersembunyi. Sesekali burung jantan keluar dan bertengger sambil kicau di atas batang rumput yang tinggi atau semak-semak.

Cici merah mempunyai ukuran tubuh yang tergolong kecil dengan panjang hanya sekitar 11 cm. Warna yang menutupi tubuhnya tampak didominasi warna cokelat keemasan yang terdapat di bagian kepala, leher, tenggorokan, dada, dan sisi dekat bawah sayap.

Cici Merah sering terlihat bertengger di rerumputan tinggi atau semak-semak


Pada bagian atas tubuhnya tampak berwarna kehitaman mulai dari punggung, sayap, dan ekornya. Sedangkan area dada dan perutnya terlihat berwarna putih krim mencolok. Paruhnya yang berwarna merah muda berukuran agak panjang dan cukup tipis. Kakinya yang berwarna kuning krim berukuran lumayan panjang dan agak kurus.

Baca juga : Cerecet Jawa, Burung Endemik Pegunungan Jawa yang Bertubuh Mungil

Ketika bersarang, cici merah jantan dan betina bersama-sama mengumpulkan bahan sarang yang terdiri atas rerumputan, alang-alang, serta bahan lainnya. Pasangan ini lalu mencuri jaring laba-laba, untuk digunakan sebagai bahan menjahit atau menyatukan bahan-bahan sarang sehingga menjadikan sarang yang lebih kokoh dan kuat.

Cici Merah betina sedang membawa bahan untuk bersarang


Sarangnya yang terbuat dari rumput-rumput dan serat tumbuhan lainnya, dijahit di bagian luarnya dengan jaring laba-laba yang dicurinya. Berbentuk bola memanjang yang berongga di dalamnya, sarang dilekatkan pada batang rumput. Luas sarangnya biasanya disesuaikan dengan jumlah telur-telurnya dan hanya terdapat satu lubang agak besar di bagian atasnya untuk sang induk memberikan makanan.

Di pulau Jawa, musim kawin burung cici merah biasanya berlangsung pada bulan Maret hingga April, kemudian dilanjutkan dengan membangun sarang dan berkembang biak pada Mei hingga Juni. Induk betina biasanya menghasilkan telur sebanyak 3 – 4 butir, berwarna biru pucat terkadang berbintik merah.

Induk Cici Merah sedang meloloh anak-anaknya


Secara keseluruhan terdapat 12 subspesies/ras burung cici merah, namun hanya dua ras yang dijumpai di Indonesia, yaitu Cisticola exilis lineocapilla dengan wilayah persebaran di Sumatera, Kalimantan bagian baratdaya, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga barat laut Australia. Dan Cisticola exilis rusticus dengan wilayah persebaran di Sulawesi, Pulau Peleng, Buru, dan Seram.

Baca juga : Ciblek, Jenis Burung Pengicau Bersuara Nyaring

Burung-burung yang termasuk dalam jenis Cisticola memang sulit dibedakan antara spesies yang satu dan spesies lain, kecuali suara kicauannya yang khas. Suara kicauan burung cici merah berbeda dari burung-burung dari keluarga Cisticolidae maupun Sylviidae (misalnya perenjak dan ciblek).

Cici Merah mempunyai kicuan nyaring mirip suara serangga


Pada masa berkembang biak, burung cici merah jantan mengeluarkan suara nyaring yang terdengar mirip suara dengingan serangga terdengar seperti “biizz” dan diikuti dengan suara “pluk” yang cukup keras. Burung mungil ini mampu berkicau saat terbang atau sedang berada di atas tenggeran dan durasi kicauannya bisa mencapai hampir satu menit lamanya. Sepintas mirip suara burung cici pada umumnya, namun berbeda dari tarikan dan iramanya. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Cici Merah, Burung Pengicau Mungil yang Pandai Menjahit


Sabtu, 03 Juni 2023

Kenari Lancashire, Kenari Bertubuh Besar yang Bangkit dari Kepunahan

 



Awal keberadaan burung kenari baru diketahui pada abad ke-15 , ketika ditemukan pertama kali oleh pelaut asal Perancis Jean De Berthan Cout di pulau Canary. Sehingga nama pulau tersebut diabadikan jadi nama burung jenis ini.

Burung kenari sendiri memiliki berbagai jenis, salah satunya adalah kenari lancashire. Kenari ini memiliki postur tubuh yang besar. Kenari lancashire diyakini sudah ada di Inggris sejak abad ke-18, yakni sekitar tahun 1870.

Kenari lancashire ini banyak digunakan untuk mengembangkan jenis kenari lainnya seperti crested, norwich, dan yorkshire. Waktu itu banyak sekali penangkar yang melakukan perkawinan silang (persilangan/crossing), demi mendapatkan kenari jenis baru.

Kenari lancashire ada yang berjambul dan yang tidak
 

Upaya breeding tersebut tanpa diimbangi dengan membudidayakan kenari lancashire itu sendiri. Sehingga jumlah burung kenari lancashire galur murni (standar) pun menurun drastis, dan dinyatakan punah pada masa Perang Dunia II.

Baca juga :  Burung Kenari, Burung Berbulu Cantik Bersuara Sangat Merdu

Lancashire merupakan jenis kenari terbesar di Inggris. Panjang tubuhnya bisa mencapai 20 cm lebih. Postur tubuhnya cukup gagah dan berkesan mewah, karena sejak awal memang sengaja dikembangkan untuk bisa berdiri tegak.

Sekilas penampilannya memang mirip dengan kenari yorkshire, yang juga mempunyai perawakan besar itu. Tetapi jika diperhatikan betul dari dekat akan tampak beberapa perbedaan antara kenari lancashire dengan yorkshire.

Seperti, leher kenari lancashire lebih panjang dan lebih tebal. Bentuk dadanya pun lebih bulat dan berisi. Bulu-bulunya jika dirasakan juga jauh lebih halus. Ada dua jenis kenari lancashire, yaitu berjambul mirip tapal kuda atau disebut coppies, dan tidak berjambul yang disebut plainhead.

Budidaya kenari lancashire
 

Perawatan kenari lancashire tidak jauh berbeda dari perawatan kenari jenis lainnya. Yang penting sediakan pakan bijian berkualitas, serta pakan tambahan berupa buah dan sayuran segar setiap harinya.

Baca juga : Ciblek, Jenis Burung Pengicau Bersuara Nyaring

Ketika burung mulai memasuki masa mabung, perawatan harus lebih ditingkatkan. Sebab kenari ini memiliki bulu-bulu yang cukup lebat dan tebal. Yang harus diperhatikan juga adalah pola perawatannya, jangan sampai mengalami kegemukan.

Untuk menghindari kegemukan yang bisa menyebabkan burung lamban dan malas beraktivitas, kenari lancashire harus aktif bergerak. Setiap 1-2 minggu sekali kenari ini harus selalu dilatih dalam sangkar yang luas atau menggunakan kandang umbaran.

Kenari lancashire yang ada saat ini merupakan hasil rekonstruksi dari keturunan-keturunan induknya yang pernah memberikan kontribusi pada jenis kenari lain pada masa lalu. Sehingga tidak salah kiranya jika julukan kenari yang “bangkit dari kepunahan” pantas diberikan kepada kenari lancashire.

Kenari lancashire si kenari raksasa
 

Burung Kenari Lancashire tidak membutuhkan sangkar yang terlalu luas. Untuk sangkar harian bisa diberikan sangkar yang berukuran kurang lebih panjangxluasnya 40cmx 202 cm dengan tinggi 25 cm dengan dua tangkringan yang terbuat dari kayu.

Baca juga :  Puyuh, Burung Kecil yang Bisa Mendatangkan Rejeki

Untuk Kenari betina, kenari yang sedang mabung, dan anakan kenari bisa ditempatkan di sangkar umbaran, biasanya anakan kenari dipelihara sampai selesai mengalami fase mabungnya. Untuk sangkar umbaran biasanya dibuat dengan ukuran sekitar 100x45x50 cm. (Ramlee)




Sumber : remen.id


Kenari Lancashire Burung Kenari Terbesar di Inggris

Minggu, 10 Agustus 2025

Larwo, Murai Batu Asli Pulau Jawa yang Kian Langka



Murai Larwo (Copsychus malabaricus ssp. javanicus) merupakan jenis burung kicau yang berasal dari Jawa bagian tengah dan timur. Dahulu dianggap satu spesies dengan white-rumped shama, namun kini diakui sebagai spesies tersendiri. Murai Larwo dikenal pandai menirukan suara burung lain, namun keberadaannya mulai langka akibat perburuan dan perubahan habitat.

Dahulu sering terdengar adanya burung yang ramai dibicarakan penghobi burung, yaitu Larwo. Kata Larwo merupakan singkatan dari “lar-e dowo” yang artinya bulunya panjang. Burung Larwo memang pernah populer di kalangan penghobi burung “jadul” di Jawa ketika burung murai batu Sumatera atau Kalimantan belum membanjiri pasar-pasar burung Pulau Jawa dan ditangkar para penghobi burung di Pulau Jawa.

Murai Batu


Larwo memang identik dengan murai batu karena masih satu genus. Jadi salah kalau ada yang mengartikan bahwa larwo berbeda dari murai batu. Pada beberapa tahun lalu, burung ini masih banyak terlihat di sekitar hutan-hutan di pegunungan di Pulau Jawa.

Baca juga : Murai Batu Rajanya Burung Ocehan, Favorit Kicau Mania

Habitat Larwo mulai dari Ujung Kulon sampai Gunung Kidul dan beberapa tempat lainnya. Penangkapan dan pembabatan hutan yang terus berlangsung, menjadikan burung ini lambat laun menghilang. Pada saat yang sama, tidak ada upaya penangkaran burung Larwo.

Larwo semakin jarang terlihat di habitat aslinya


Sepintas tidak ada perbedaan mencolok antara larwo ini dengan murai batu jenis lain asal daerah Sumatera ataupun Kalimantan. Namun kalau diperhatikan dengan seksama akan jelas perbedaannya yaitu ukuran tubuhnya yang lebih kecil dari murai batu Sumatera dan Kalimantan. Postur tubuhnya terlihat lebih pendek dan bulat (buntet).

Juga batas antara bulu hitam dan coklat pada dadanya melebar sampai hampir kebagian perut seperti pada buurng kacer. Sementara murai batu Sumatera dan Kalimantan rata-rata batas hitamnya sampai bagian dada saja sejajar dengan posisi sayapnya. Larwo juga memiliki ekor yang lebih pendek yaitu sekitar 10 hingga 15 cm dan tidak seperti murai batu Sumatra dan Kalimantan yang bisa mencapai 25 cm.

Sudah sangat sulit mendengarkan Larwo berkicau di alam bebas


Perbedaan yang paling mencolok antara Larwo dengan Murai Batu lainnya adalah pada gayanya ketika berkicau. Ciri khas Larwo yaitu ketika berkicau/bertarung akan mengembangkan bulu-bulu kepalanya (njambul) mirip gaya tarung Cucak Ijo (CI) dan juga akan menaikkan ekornya ke atas seperti Ciblek.

Baca juga : Sikatan Bakung, Jenis Burung Ocehan Bersuara Ngerol

Suara Larwo saat ngeplong terdengar keras dan pedas meski mempunyai ukuran tubuh yang kecil. Suara burung ini mirip dengan burung murai batu jenis lainnya. Beberapa kicau mania menyebutkan bahwa suaranya kurang variatif tapi ada juga yang menyebutkan bahwa suaranya hampir sama dengan murai batu lainnya (variatif).

Murai Larwo cenderung menjambulkan bulu kepalanya jika berkicau


Karakter suara Larwo mirip dengan suara Murai Batu (MB) Borneo yang cenderung didominasi suara-suara pendek dengan banyak siulan dan kurang variatif ketika berkicau sendirian. Tapi suara Larwo terdengar lebih kering, sedangkan suara Murai Batu Borneo bisa dikatakan agak basah.

Penentuan “kualitas” suara burung murai batu secara umum, ada pada karakter dari burung itu sendiri. Jika ada yang mengatakan burung larwo bersuara variatif atau sebaliknya, hal itu tergantung karakter burung dan tentu saja perawatan dan pemasteran jika burung itu ada dalam pemeliharaan tangan manusia.

Upaya penangkaran Murai Larwo untuk menyelamatkannya dari kepunahan


Keberadaan Larwo sudah jarang dan di hutan-hutan Pulau Jawa juga sudah nyaris punah. Dengan demikian, sangat diharapkan adanya upaya penangkaran terhadap Larwo demi pelestariannya. Namun kini semenjak munculnya murai batu yang berasal dari Sumatera dan Kalimantan maka penggemar murai batu larwo ini semakin sedikit jumlahnya.

Baca juga : Kutilang Emas, Salah Satu Jenis Burung Master Favorit Penghobi Murai Batu

Dan lama-lama akhirnya burung murai baru Larwo ditinggalkan oleh pra kicau mania. Karena memang kualitas akan suara kicauan burung Larwo masih kalah merdu dan kurang bervariasi dengan murai batu lainnya yang berasal dari Sumatera dan Kalimantan.

Larwo yang pernah sangat populer harus diselamatkan dari kepunahan


Jadi burung murai batu Larwo sudah tidak dilombakan lagi pada lomba-lomba burng berkicau. Karena para kicau mania telah menggantinya dengan burung murai batu yang berasal dari Sumatera dan Kalimantan yang lebih merdu suaranya.

Burung murai batu Jawa atau Larwo saat ini sangat sulit ditemukan di alam liar. Banyak yang menduga ras ini hampir punah, baik akibat perburuan liar di masa lalu, maupun kerusakan hutan dan alih fungsi lahan hutan. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Larwo, Murai Batu Jawa yang Pernah Begitu Populer Kini Diambang Punah


Kamis, 16 November 2023

Kuau Raja, Burung Raksasa Eksotis Asal Sumatera Berjuluk Seratus Mata




Kuau Raja (Argusianus argus), merupakan burung yang tergolong ke dalam suku Phasianidae. Nama ilmiah tersebut diberikan oleh seorang ilmuwan Swedia dan peletak dasar tatanama biologi bernama Carolus Linnaeus (1707-1778). Burung kuau raja berukuran sangat besar.

Selain itu Kuau raja memiliki bulu bermotif bundaran-bundaran menyerupai mata berwarna cerah dan berbintik-bintik keabu-abuan. Apalagi ketika bulu ekornya dikembangkan. Karena itulah Carolus Linnaeus kemudian memberikan nama ilmiah Argusianus argus kepada burung kuau raja.

Argus sendiri merupakan sosok raksasa bermata seratus dalam mitologi Yunani. Kuau raja dalam Bahasa Inggris disebut Great Argus. Burung kuau besar (kuau raja) ditetapkan menjadi fauna identitas provinsi Sumatera Barat (Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 48 Tahun 1989).

Kuau raja lebih sering tampak di lantai hutan
 

Sayangnya burung berukuran besar dan berbulu indah ini termasuk salah satu burung langka di Indonesia meskipun IUCN Redlist ‘hanya’ memasukkannya dalam kategori Near Threatened (hampir terancam punah). Burung yang di Indonesia mendiami pulau Sumatera dan Kalimantan ini selain dikenal sebagai kuau juga kerap dipanggil ‘kuang’.

Baca juga : Ciblek, Jenis Burung Pengicau Bersuara Nyaring

Burung kuau raja berukuran sangat besar, burung jantan dewasa mempunyai panjang tubuh hingga 2 meter (kepala sampai ekor), sedangkan burung kuau besar betina hanya sekitar 75-an cm dengan ekor dan bulu sayap lebih pendek.

Sepasang kuau raja
 

Berat badannya mampu mencapai 10 kg lebih. Selain bulatan-bulan menyerupai mata pada bulunya, ciri khas lainnya burung ini adalah terdapatnya dua helai bulu ekor yang panjangnya bisa mencapai hingga 1 meter.

Bulu tubuh kuau raja berwarna dasar kecoklatan dengan bundaran-bundaran berwarna cerah serta berbintik-bintik keabu-abuan. Kulit di sekitar kepala dan leher pada burung jantan biasanya tidak ditumbuhi bulu dan berwarna kebiruan. Pada bagian belakang kepala burung betina terdapat bulu jambul yang lembut.

Paruh kuau raja berwarna kuning pucat dan sekitar lobang hidung berwarna kehitaman. Iris mata berwarna merah. Warna kaki kemerahan dan tidak mempunyai taji. Suara burung kuau raja sangat keras sehingga dapat terdengar dari jarak lebih dari satu mil.

Kuau raja jantan mengeluarkan suara khas “ku-wau” berulang-ulang setiap 15-30 detik. Mungkin lantaran itu kemudian burung ini mendapatkan nama ‘kuau’. Suaranya nyaring dan bisa terdengar hingga jarak ratusan meter.

Kuau raja akan memperlihatkan bulunya yang indah untuk memikat sang betina
 

Kuau raja memang tidak bisa terbang jauh, tetapi kekurangan ini diimbangi dengan kemampuan berlari yang sangat baik. Mereka juga dapat berpindah tempat dengan melompat ke dahan-dahan pohon. Selain itu, burung besar ini memiliki kemampuan penciuman dan pendengaran yang sangat tajam tajam ini menjadikannya sukar ditangkap.

Baca juga : Sogok Ontong, Burung yang Suka Manis-manis yang Kerap Dijadikan Masteran

Burung ini membuat sarang di permukaan tanah. Dan makanannya terdiri dari buah-buahan yang jatuh, biji-bijian, siput, semut, dan berbagai jenis serangga. Burung kuau raja juga suka mencari sumber air untuk minum sekitar pukul sebelas siang.

Induk kuaua raja bersama anak-anaknya
 

Salah satu yang unik adalah saat menjelang kawin. Kuau jantan akan memamerkan tarian di depan kuau betina dengan mengembangkan bulu sayap dan ekor. Biasanya, aksi kepak sayap dan memamerkan bulu ini dilakukan pada saat musim kawin untuk memikat pasangannya.

Jika dilihat sekilas, aksi pamer kipas raksasa ini mirip dengan kebiasaan burung merak. Namun, pada kuau raja, penampakan kipas ini berada di bagian tengah tubuh dan ketika ia mempertontonkannya, bagian kepala si jantan akan nyaris tertutup.

Bulu ekor akan mengembang seperti kipas dengan dua bulu ekor terpanjang tegak menjulang di tengah-tengah ‘kipas raksasa’ dengan tinggi hingga 140 cm tersebut. Perlahan-lahan ‘kipas raksasa’ tersebut ditarik ke depan sehingga tubuh, kepala dan kakinya tersembunyi di balik bulu. Kemudian kipas itu digetarkan sehingga menimbulkan suara gemerisik.

Burung kuau raja atau kuau besar hidup tersebar di Indonesia (Sumatera dan Kalimantan), Thailand, Myanmar, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Habitat yang disukainya adalah hutan primer di dataran rendah hingga ketinggian 1.500 meter dpl. Habitatnya di hutan primer juga berhubungan dengan ketersediaan dan kelimpahan pakan di tempat tinggal tersebut.

Suara kuau raja sangat keras hinga bisa terdengar hingga jarak 100 meter jauhnya
 

Di Indonesia burung raksasa ini mulai jarang dijumpai. Burung kuau raja juga terdaftar sebagai CITES Apendiks II. Burung ini pernah diabadikan dalam seri prangko yang dikeluarkan oleh PT Pos Indonesia. Burung kuau raja pun termasuk burung yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999.

Baca juga : Wambi, Burung Berkicau yang Menawan dan Sangat Gacor Saat Berkicau

Ancaman terhadap kelestarian burung ini terutama disebabkan oleh rusaknya habitat akibat kerusakan hutan, kebakaran hutan, dan alih fungsi hutan. Kuau raja juga tidak terbebas dari perburuan liar untuk mengambil daging dan bulunya yang dikenal eksotis.

Penyerahan burung kuau raja oleh masyarakat ke Polsek Kaur Utara – Bengkulu
 

Saat ini, populasi kuau raja di alam liar, terutama di kawasan Bukit Barisan, belum diketahui jumlahnya. Pihak BKSDA masih terus melakukan pendataan jumlah burung tersebut. Organisasi para zoologi yang mendalami ilmu burung internasional (International Ornithologists Union) pun telah memasukkan nama kuau raja ke dalam daftar burung yang harus dilindungi. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Burung Kuau Raja, si Raksasa Bermata Seratus yang Terancam Punah

Minggu, 30 Maret 2025

Gelatik Wingko, Burung Pemakan Serangga Bertubuh Mungil dengan Suara Memikat Hati



Gelatik Wingko (Parus cinereus cinereus) merupakan jenis burung kicauan bertubuh mungil, dengan warna bulu sangat kontras yang memiliki suara memikat hati. Sayang kini sudah jarang lagi terdengar di pekarangan rumah atau lahan perkebunan seperti beberapa tahun lalu. Nasib gelatik wingko tidak jauh berbeda dari burung ciblek, pleci, dan gelatik Jawa.

Meski namanya sama-sama gelatik, burung gelatik wingko atau sering juga disebut gelatik batu tidak ada hubungan kerabat dengan burung gelatik Jawa. Kalau gelatik Jawa adalah sebangsa burung pipit atau bondol, yang makanannya biji-bijian sedangan gelatik wingko makannya serangga kecil.

Burung gelatik wingko perawakannya kecil dan punya kicau bagus yang tidak kalah dengan burung kicauan jenis lainya. Ada beberapa kerancuan mengenai gelatik wingko. Masih banyak yang menganggap gelatik wingko berbeda dari gelatik batu. Selain itu, para ornitholog di dunia pun terkadang meletakkan gelatik batu yang ada di Indonesia sebagai subspesies dari gelatik batu sejati (Parus major), dengan nama ilmiah Parus major cinereus.

Gelatik Jawa


Tetapi ada juga yang menganggapnya spesies tersendiri, Parus cinereus, dengan beberapa subspesies di dalamnya. Masih banyak yang menganggap gelatik batu dan gelatik wingko adalah spesies yang berbeda. Ini bisa disimak dari berbagai informasi di dunia maya. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa gelatik wingko sebenarnya nama lain dari gelatik batu.

Baca juga :  Gelatik Jawa, Dahulu Dianggap Hama Kini Terancam Punah

Mengacu pendapat para ahli yang menyatakan bahwa gelatik wingko adalah julukan yang diberikan masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi untuk burung gelatik batu yang hidup di kawasan tersebut. Dengan demikian, gelatik wingko merupakan salah satu dari puluhan jenis gelatik batu yang ada di seluruh dunia.

Gelatik Batu sejati (Parus major)


Jadi gelatik batu, adalah semua spesies yang termasuk dalam genus Parus. Secara keseluruhan ada 24 spesies dalam genus Parus di seluruh dunia. Di antara spesies gelatik batu tersebut, yang paling popular adalah gelatik batu sejati (Parus major), yang terdiri atas 14 subspesies. Spesies ini banyak dijumpai di Eropa, Asia Baratdaya, Timur Tengah, dan Afrika.

Indonesia memiliki tiga jenis gelatik batu, salah satunya adalah gelatik wingko. Dulu ketiganya dimasukkan sebagai salah satu subspesies dari Parus major, dengan nama ilmiah Parus major cinereus. Tetapi mengingat beberapa perbedaan morfologi dan wilayah persebarannya, ketiga jenis gelatik batu asal Indonesia ini dikelompokkan dalam spesies tersendiri dengan nama Parus cinereus, tetapi hanya menjadi subspesies.

Parus cinereus terdiri atas 13 subspesies tersebut, tiga jenis di antaranya terdapat di Indonesia, yaitu Parus cinereus cinereus, habitatnya di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Parus cinereus ambiguus, habitatnya di Sumatera (dan Semenanjung Malaysia) dan Parus cinereus sarawacencis : habitat di Pulau Kalimantan, terutama di wilayah barat laut.

Gelatik batu yang ada di lereng Merapi sebenarnya sama seperti gelatik batu di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Artinya, bisa juga disebut sebagai gelatik wingko. Gelatik batu di Sumatera dan Kalimantan masih satu spesies dengan gelatik batu di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, tetapi memiliki beberapa perbedaan kecil sehingga ditetapkan sebagai subspesies tersendiri.

Peta penyebaran burung gelatik batu


Subspesies ini juga bisa disebut sebagai gelatik batu, tetapi (mestinya) bukan termasuk gelatik wingko jika pengertian gelatik wingko adalah Parus cinereus cinereus. Perlu diketahui, hampir semua jenis gelatik batu yang termasuk dalam spesies Parus cinereus hanya dijumpai di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagian Asia Baratdaya (Afghanistan, Turkmenistan, Tajikistan), serta tidak dijumpai di Eropa maupun Afrika.

Baca juga : Tokhtor Sumatera, Satwa Endemik Sumatera Termasuk Burung Paling Langka di Indonesia

Jadi gelatik wingko sebenarnya sama dengan gelatik batu, terutama gelatik batu yang ada di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Tetapi gelatik wingko maupun dua jenis gelatik batu khas Indonesia berbeda dari gelatik batu sejati (great tit) yang banyak dijumpai di Eropa. Gelatik batu di Indonesia, menurut para ornitholog, tidak termasuk dalam kelompok great tit, tetapi cinereous tit (istilah dalam bahasa Inggris menggunakan kata cinereous, untuk nama latin spesies tetap cinereus).

Gelatik Wingko jantan dan betina


Burung gelatik wingko jantan memiliki garis hitam yang tegas, lebar, dan memanjang hingga ke daerah sekitar kloaka (vent). Makin dewasa, makin tebal pula garis hitam tersebut. Sedangkan gelatik wingko betina memiliki garis hitam yang sempit (tidak lebar), dengan warna hitam yang agak memudar, dan garis tersebut cenderung putus-putus. Penampilan burung muda (jantan dan betina) mirip dengan gelatik wingko betina dewasa.

Burung ini mempunyai suara kicauan yang recet dan bervariasi. Ciri khasnya adalah suara “wucit” yang dibawakannya berulang-ulang. Suara tersebut seakan-akan menjadi trade mark bagi gelatik batu, sebagaimana suara ngalas pleci dan ngerolnya anis kembang. Kicauan ini akan semakin intens selama musim kawin.

Pada masa berkembangbiak induk betina bertelur sebanyak 4 – 7 butir, burung jantan akan berjaga di luar sarang, atau mencari dan memberi makan burung betina yang sedang mengerami telur. Setelah dierami induk betina selama 12 – 15 hari, telur-telur akan menetas menjadi piyikan. Pada tahapan ini, kedua induk akan merawat dan memberi makan anak-anaknya.

Pada masa itu pula, kedua induk akan bergotong-royong mengeluarkan kotoran dalam sarang, agar anak-anaknya merasa nyaman dan sarang bisa terhindar dari parasit atau bakteri. Burung gelatik wingko dikenal sangat menjaga kesehatan anak-anaknya. Ini terbukti dari penelitian di mana burung dari jenis ini juga menyimpan puntung rokok di dalam sarangnya, guna mencegah parasit masuk ke sarang mereka.

Gelatik Wingko sedang memangsa ulat


Setelah berusia 16 – 22 hari, burung muda mulai meninggalkan sarangnya, meski belum mampu mencari makan sendiri. Namun beberapa hari kemudian, biasanya umur 25 hari, mereka sudah bisa mandiri dan bisa dipisahkan dari kedua induknya. Gelatik wingko dikenal sangat produktif. Sekitar 1 minggu setelah anak-anaknya mandiri, induk betina akan bertelur lagi. Tetapi kondisi tubuh indukan sebenarnya mulai melemah.

Baca juga : Cendet, Burung Predator yang Pandai Berkicau Favorit Para Penghobi

Pamor burung gelatik wingko sempat berkibar hingga tahun 2010. Pasalnya, burung ini mudah beradaptasi dan cepat bunyi ketimbang jenis burung lokal lainnya. Suaranya nyaring, dengan cerecetan panjang-panjang, serta nafas yang kuat. Selain bisa dimaster dengan jenis burung lainnya seperti burung gereja, gelatik wingko juga bisa dijadikan master andal untuk kenari.

Gelatik Wingko di dalam sarangnya


Untuk berkomunikasi dengan sesama gelatik wingko, burung ini memiliki jenis nyanyian yang berbeda-beda. Karena itulah, gelatik wingko dikenal memiliki beragam suara yang terjadi karena setiap suara yang dinyanyikan memiliki fungsi yang berbeda.

Di masa jayanya, gelatik wingko sempat dilombakan baik dalam kelas tersendiri atau masuk dalam kelas campuran lokal. Kini pamornya sebagai burung lomba telah pudar, namun masih banyak dipelihara sebagai salah satu masteran andal untuk kenari dan jenis burung lainnya, atau sekadar hiburan di rumah.

Gelatik Wingko pernah populer di kalangan kicau mania Indonesia


Salah satu hal yang membuat burung ini makin populer adalah perawatan yang relatif mudah, sifatnya yang cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, serta suaranya yang kerap dijadikan master bagi burung-burung berkicau lainnya, namun kini sangat susah mendapatkan burung cantik ini. Boleh jadi, apa yang terjadi saat ini merupakan imbas dari booming gelatik wingko di masa lalu.

Pada saat itu, perburuan liar marak terjadi untuk memenuhi permintaan penggemar gelatik wingko. Akibatnya populasinya di alam liar mengalami penurunan drastis, dan itu mempengaruhi pasokan di pasar burung, sehingga tidak mudah lagi untuk mendapatkan gelatik wingko seperti dulu. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Gelatik Wingko, Jenis Burung Kicauan Bertubuh Mungil yang Sempat Berkibar di Tahun 2008


PPDSI Blitar Selenggarakan Bupati Blitar Cup #4 LDI 2026 Putaran 4, Kamajaya Malioboro dan Perdana di Podium Juara

Pengcab. PPDSI Blitar baru saja menggelar even akbar. Lomba derkuku bertajuk Bupati Blitar Cup #4, Liga Derkuku Indonesia Putaran 4 yang di...