Senin, 15 September 2025

Buah Binjai, Buah dengan Rasa Masam dan Manis yang Menggoda



Buah Binjai (Mangifera caesia) merupakan buah tropis yang populer di Indonesia. Buah ini dikenal dengan rasa yang manis dan segar, serta memiliki berbagai manfaat kesehatan yang mengagumkan. Binjai adalah anggota keluarga mangga dan dapat ditemukan tumbuh subur di berbagai daerah di Indonesia.

Seperti dengan namanya, sebagian pakar meyakini bahwa buah ini berasal dari pulau Kalimantan. Buah binjai menyebar secara alami di Sumatra, Kalimantan dan Semenanjung malaysia. Kemudian binjai dibawa dan dibudidayakan oleh orang di Bali, Filipina dan juga Thailand.

Buah binjai juga dibudidayakan di Jawa bagian barat, namun agak jarang. Buah binjai menyebar di dataran rendah di bawah 400 m dari permukaan laut dan jarang hingga 800 m dari permukaan laut. Jenis ini tahan terhadap penggenangan, dan seringkali didapati dekat tepi sungai.

Tanaman buah Binjai dapat tumbuh tinggi besar


Buah Binjai memiliki nama lokal lain yakni binglu, kemang, atau beluno. Tanaman berbuah ini masih kerabat buah mangga dari famili Anacardiaceae yang sama-sama memiliki aroma harum dan rasa asam manis. Anacardiacea itu sendiri terdiri dari sekitar 82 genus dan banyak mengandung senyawa triterpen.

Baca juga : Mangga Kasturi, si Manis Legit Kalimantan Selatan yang Telah Punah di Alam Liar

Binjai merupakan buah berbiji dua atau dikotil yang pohonnya dapat tumbuh tinggi hingga lebih dari 30 meter, dengan yang paling tinggi tercatat hingga 45 m. Merupakan tanaman perennial atau dapat berumur panjang. Batang pohonnya tumbuh lurus ke atas dan berdiameter hingga 115 cm.

Daun buah Binjai yang masih muda bisa dimakan sebagai lalapan


Pepagan (kulit kayu) berwarna cokelat kelabu dan beralur-alur. Semua bagian pohon, apabila dilukai, mengeluarkan getah keputihan yang tajam dan menggatalkan. Getah ini akan membeku dan menghitam setelah kena udara beberapa lama. Kulit batang berwarna abu-abu dan berkulit pecah-pecah.

Daun tunggal, tersebar, sering mengumpul dekat ujung ranting. Helai daun bentuk jorong sampai lanset, agak bundar telur terbalik, dengan panjang sekitar 7,5-41,5 cm dan lebar 2,5-11 cm.. Bertekstur kaku, menjangat, hijau mengilap di sebelah atas dan lebih pucat di bawah, dengan ibu tulang daun yang menonjol, pangkal yang melanjut dan ujung yang menumpul atau meluncip tumpul.

Sementara bunganya berwarna ungu hingga ungu muda dengan panjang sekitar 1 cm yang ditopang oleh perbungaan bercabang hingga 40 cm. Buah binjai berdaging cukup tebal dan berbentuk seperti buah pir. Ketika matang warnanya menjadi cokelat pucat, berukuran panjang 10-19 cm dan lebar 5-10 cm. Bijinya berwarna merah muda yag dilapisi kulit biji yang cukup keras.

Binjai berbunga di bulan Juni-Desember dan buah matang pada September-Maret. Buah binjai memiliki bentuk lonjong yang kurang lebih mirip seperti buah pepaya namun kulit buah binjai memiliki warna yang sedikit lebih gelap. Daging buah binjai memiliki warna putih susu yang khas, teksturnya bisa berserat atau hampir tak berserat.

Buah Binjai mulai berbuah di akhir tahun


Buah binjai sangat kaya dengan sari buah, dan memiliki aroma yang agak busuk, namun rasa buahnya berkisar dari yang masam hingga sangat manis. Biji buah binjai memiliki bentuk yang lonjong sampai lanset, dengan ukuran sekitar 7 x 4 cm.

Baca juga : Bacang, Mangga Hutan Beraroma Kuat dan Menyengat dengan Kandungan Nutrisi yang Menyehatkan Tubuh

Dan kulit bijinya tipis serta tidak mengayu. Selain itu, biji binjai bersifat monoembrioni, yang berarti hanya memiliki satu embrio dalam setiap biji. Buah binjai dapat dimakan secara langsung atau diolah menjadi es buah, selai atau manisan dan juga campuran sambal.

Daging buah Binjai berwarna putih berasa asam manis


Namun sebaiknya hindari konsumsi buah binjai ketika belum matang sempurna, karena sari-sarinya dapat mengiritasi mulut ketika tertelan. Bagian batangnya dapat dimanfaatkan untuk konstruksi ringan. Sementara daun mudanya dapat dijadikan lalapan pendamping.

Namun, sayangnya, produksi buah binjai ini tidak selalu melimpah setiap tahunnya. Masalahnya semakin diperparah ketika pemilik pohon binjai tergoda untuk menebangnya demi mengambil kayunya, karena buah binjai sendiri dinilai kurang menjanjikan untuk membantu pendapatan keluarga.

Buah binjai mengandung serat yang cukup tinggi, yang sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan pencernaan. Serat dalam binjai dapat membantu melancarkan proses pencernaan dan mencegah sembelit. Mengonsumsi binjai secara teratur dapat meningkatkan pergerakan usus dan membantu membuang sisa makanan serta racun dalam tubuh, sehingga pencernaan tetap sehat.

Buah binjai kaya akan antioksidan, seperti vitamin C dan senyawa polifenol, yang dapat membantu melawan radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas dapat merusak sel-sel tubuh dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk kanker dan penyakit jantung. Antioksidan dalam binjai membantu melindungi tubuh dari kerusakan sel dan mendukung sistem kekebalan tubuh.

Buah Binjai tersedia melimpah di awal tahun


Kandungan vitamin C yang tinggi dalam buah binjai sangat baik untuk kesehatan kulit. Vitamin C berperan dalam produksi kolagen, yang menjaga elastisitas kulit dan mencegah tanda-tanda penuaan dini. Mengonsumsi buah binjai dapat membantu menjaga kulit tetap sehat, cerah, dan elastis. Selain itu, sifat antioksidan dalam binjai membantu melawan kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari.

Baca juga : Gandaria, Buah Langka Mirip Mangga yang Mempunyai Banyak Manfaat

Kandungan vitamin C dalam binjai juga berfungsi untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Vitamin C membantu tubuh melawan infeksi, meningkatkan produksi sel darah putih, dan mempercepat proses penyembuhan luka. Dengan mengonsumsi binjai, tubuh menjadi lebih kuat dalam melawan berbagai penyakit dan infeksi.

Sambal acan buah Binjai


Beberapa penelitian menunjukkan bahwa binjai dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Kandungan serat dan senyawa fitokimia dalam binjai dapat mengikat kolesterol dan membantu membuangnya dari tubuh. Dengan menurunkan kadar kolesterol, buah binjai berperan dalam mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke.

Selain menurunkan kolesterol, binjai juga mengandung kalium, yang sangat penting untuk menjaga tekanan darah agar tetap normal. Kalium berperan dalam merelaksasi pembuluh darah dan mengurangi dampak buruk dari natrium yang dapat meningkatkan tekanan darah. Mengonsumsi binjai secara teratur dapat membantu mengatur tekanan darah dan mendukung kesehatan jantung. Dan masih banyak lagi manfaatnya yang lain. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Buah Binjai, Kerabat Mangga Kaya Serat dan Vitamin dengan Segudang Manfaat bagi Kesehatan


Jumat, 12 September 2025

Strawberry Finch, Burung Pipit Benggala yang Cantik



Strawberry Finch (Amandava amandava) merupakan jenis burung finch kecil yang menarik perhatian karena warna bulunya yang cerah dengan totol-totol putih. Burung yang juga dikenal sebagai pipit benggala atau avadavat merah ini banyak digemari sebagai burung hias, terutama karena corak merah dan totol putih yang menyerupai buah stroberi.

Strawberry finch memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Svadavat hijau (Amandava formosa), yang bulunya berwarna kehijauan, atau mirip dengan buah stroberi yang masih mentah. Kedua spesies ini termasuk dalam kelompok waxbills. Burung pipit kecil ini anggota dari famili Estrildidae

Burung ini merupakan jenis burung pemakan padi, biji rumput dan memiliki habitat di semak, padang rumput, lahan pertanian, sawah, rumpun gelagah. Tersebar sampai ketinggian 1.500 m dpl. Dapat dijumpai di India, China, Thailand, Jawa, Myanmar, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Sunda Kecil (meliputi Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor, dan Alor).

Svadavat hijau (Amandava formosa)


Pipit benggala memiliki tubuh ukuran kecil (10 cm). Mirip dengan burung pipit, Strawberry finch memiliki paruh kecil yang kuat untuk memecah biji-bijian yang menjadi makanan utamanya. Selain itu, di habitat aslinya, burung ini juga gemar memakan serangga kecil seperti ulat dan semut.

Baca juga : Pipit Matari, si Merah Papua yang Pemarah

Di alam liar, Strawberry finch sering melakukan perjalanan dalam kelompok kecil, termasuk saat mau membangun sarang di antara alang-alang, semak, dan rerumputan. Tidak seperti spesies waxbills lainnya, burung Strawberry jantan memiliki lagu yang merdu dan sangat lantang dengan irama seperti seruling.

Sepasang Strawberry Finch


Saat tidak berada di musim kawin, burung pipit Benggala sering ditemukan bergerombol dalam kawanan besar, hingga 100 ekor burung. Tujuannya supaya bisa saling melindungi satu sama lain dan menciptakan ikatan di antara kawanannya.

Tetapi, ada pula yang berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, terbang bersamaan dengan kepak sayap yang cepat dan hinggap di rerumputan. Sekumpulan burung ini bisa ditemukan di daerah berumput dekat air, sawah, dan dekat dengan pemukiman manusia.

Sebagaimana kelompok waxbills lainnya, paruh burung stroberi rata-rata berwarna merah. Untuk membedakan burung jantan dan betina burung ini relatif mudah, karena termasuk dimorfik, yang berarti burung jantan dan betina memiliki penampilan fisik yang berbeda.

Burung Strawberry finch bisa dikenali dari bulu-bulunya yang berwarna dan bermotif seperti buah stroberi ketika memasuki musim kawin. Selama musim kawin, burung jantan akan memproduksi bulu-bulu berwarna merah dengan bintik-bintik putih, kepala berwarna cokelat gelap/kemerahan, dan ekor berwarna hitam.

Strawberry Finch sering dijumpai di daerah berumput


Penampilan burung jantan saat musim kawin dan di luar musim kawin memang berbeda. Bahkan, dalam beberapa hal, si jantan memiliki kemiripan dengan betina di luar musim kawin. Misalnya, bulu bagian atas berwarna kecokelatan, bulu sayap gelap, bulu bagian bawah perut dan di atas ekornya merah gelap.

Baca juga : Bondol Hijau, Burung Pipit Eksotik yang Dianggap Hama Pertanian

Tetapi, sexing tetap bisa dilakukan, karena betina hanya memiliki sedikit bintik putih di bagian sayapnya. Burung Strawberry finch jantan, mempunyai warna merah padam, sayap dan ekor kehitaman. Ada bintik-bintik pada sisi tubuh. Sayap dan tunggir berbintik putih kecil.

Kawanan Strawberry Finch di alam liar


Burung Strawberry finch betina, dengan ciri tubuh bagian bawah kuning tua abu-abu. Mantel coklat, tunggir merah, sayap dan ekor kehitaman. Ada beberapa bintik putih pada sayap. Iris coklat, paruh merah, kaki merah daging. Ternyata, bulu merah terang yang dimiliki oleh burung jantan ada fungsinya, yaitu menarik perhatian betina selama musim kawin.

Tarian yang mengesankan akan membuat burung itu dipilih jadi pasangannya. Burung ini membuat sarang berbentuk bola khas, dari rumput, pada vegetasi rendah berpaya atau berumput. Telur berwarna putih, jumlah 5-6 butir. Berbiak bulan Mei, Juni, Desember.

Selama musim kawin, burung ini bersifat monogami alias setia dengan satu pasangan. Lalu, burung betina akan bertelur sebanyak 4-6 butir dan akan menetas dalam waktu 11 hari. Dan anak-anak burung ini memerlukan waktu 20 hari untuk menjadi dewasa.

Saat masih muda, burung pipit Benggala memakan larva, pupa semut, kelabang, dan ulat. Ketika tumbuh dewasa, makanannya akan berganti menjadi biji-bijian dari tumbuhan millet, termasuk padi. Karena suka makan padi, burung pipit ini sering dianggap hama oleh petani.

Strawberry Finch kerap dianggap sebagai hama padi


Pada saat yang bersamaan, kebiasaan Strawberry finch memakan serangga berperan penting untuk mengendalikan hama di persawahan. Secara tidak langsung Strawberry finch juga berkontribusi untuk penyebaran benih berkat kebiasaan makan biji-bijian.

Baca juga : Emprit Jepang, Salah Satu Jenis Finch Hasil Domestikasi yang Populer di Kalangan Penghobi

Strawberry finch memiliki suara cicitan yang khas. Biasanya, burung betina vokalnya lebih pendek, lembut, dan jarang berkicau dibanding jantan. Tetapi, burung jantan dan betina akan mengeluarkan vokalisasi yang sama selama musim kawin.

Strawberry Finch muda


Biasanya Strawberry finch gemar bercengkerama di padang terbuka dan rerumputan yang tinggi dan dekat dengan sumber mata air. Atau terbang cepat yang tidak kenal lelah dalam kelompok-kelompoknya. Saat sedang agresif, burung pipit Benggala akan mengeluarkan suara panggilan yang melengking.

Begitu pula saat berada dalam situasi bahaya, mereka akan mengeluarkan panggilan bernada tinggi untuk memperingati sesama anggotanya. Belakangan ini, jenis Strawberry finch memang banyak dicari para penggemar burung hias. Alasannya karena memiliki warna yang menggemaskan, legit seperti buah stroberi, sehingga enak dipandang. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Strawberry Finch, Burung yang Populer di Kalangan Penggemar Burung Hias


Minggu, 07 September 2025

Adas, Tanaman Herbal dengan Aroma Khas untuk Berbagai Kebutuhan



Adas (Foeniculum vulgare) merupakan tanaman herbal dengan aroma khas dan rasa sedikit manis-pedas yang digunakan sebagai rempah, sayuran, dan pengobatan tradisional. Tanaman ini berasal dari Eropa Selatan dan daerah Mediterania, yang kemudian menyebar cukup luas di berbagai negara seperti Cina, Meksiko, India, Itali, Indian, dan termasuk negara Indonesia.

Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan berbagai nama. Antara lain adas pedas (Aceh), adas (Minangkabau), hades (Sunda), adas landa, adas landi, adas welanda (Jawa), adhas (Madura), papang, pampas (Manado), papas (alfuru), denggu-denggu (Gorontalo), papaato (Buol), porotomo (Baree), adasa rempasu (Makassar), adase (Bugis), Kumpasi (Sangir Talaud), adas (Bali), dan wala wunga (Sumba).

Tanaman ini memiliki sejarah panjang penggunaan dalam berbagai budaya di seluruh dunia dan digunakan baik untuk kesehatan maupun keperluan kuliner. Tanaman ini diketahui telah digunakan sejak masa kerajaan Mesir untuk penambah rasa makanan. Kemudian menyebar ke wilayah Mesopotamia, Yunani, Romawi, dan Eropa.

Tanaman Adas, telah lama dikenal sebagai tanaman bumbu atau tanaman obat


Bangsa Romawi membawa adas sowa ke daratan Eropa pada tahun 1000, di mana tanaman ini dikenal dengan nama dill. Adas sowa kemudian dikenalkan ke wilayah Jammu dan Kashmir, India, pada awal tahun 1950. Meskipun sebenarnya adas sowa telah dibudidayakan di India sebelum kedatangan bangsa Barat ke sana.

Baca juga : Kenop, Tanaman liar Berbunga Indah dan Berkhasiat Obat

Tanaman adas, yang berasal dari Eropa Selatan dan Mediterania, masuk ke Indonesia kemungkinan melalui jalur perdagangan pedagang India dan kemudian dibudidayakan di daerah pegunungan seperti Jawa karena iklimnya yang mendukung.

Umbi tanaman Adas


Di Indonesia dikenal dua jenis adas yang termasuk ke dalam famili Umbelliferae, yaitu adas (Foeniculum vulgare Mill.) dan adas sowa (Anetum graveolens Linn.). Adas dibudidayakan untuk minyak atsiri dan daunnya sebagai bumbu atau sayuran, sementara adas sowa sering digunakan untuk bumbu dapur dan ditemukan di Pulau Jawa. Selain itu, ada juga varietas lain seperti Adas Manis (Pimpinella anisum), Adas Florence, dan Adas Pahit, yang masing-masing memiliki karakteristik dan penggunaan spesifik.

Seluruh bagian tanaman adas dapat dikonsumsi, termasuk umbi, batang, daun, dan bijinya yang kaya akan nutrisi seperti vitamin dan mineral. Adas bermanfaat untuk kesehatan pencernaan, pernapasan, mengontrol gula darah, hingga meringankan nyeri menstruasi, serta dapat digunakan dalam berbagai bentuk seperti minyak esensial dan ekstrak.

Tanaman ini merupakan tanaman herbal tahunan yang dapat hidup di dataran rendah sampai ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut (dpl), namun akan tumbuh lebih baik pada dataran tinggi. Umumnya ditanam dan tumbuh baik didaerah pegunungan, seperti di Gunung Tengger pada ketinggian 500 m dpl., disekitar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu pada ketinggian 900 m dpl.

Adas dapat tumbuh dengan baik di daerah beriklim sejuk, dan sangat sensitif terhadap garam, menyukai tanah liat lembap dengan pH tanah antara 6,3-8,3, curah hujan rata-rata 500-2.000 mm/th, suhu tahunan 12-24 °C, juga tumbuh dengan baik di tanah berpasir. Terna berumur panjang, tinggi 50 cm – 2 m, tumbuh merumpun.

Bunga tanaman Adas


Tanaman adas memiliki cabang yang biasanya tumbuh sebanyak 3-5 buah batang dalam satu rumpun. Batang-batang tersebut memiliki warna hijau agak kebiruan. Jenis batang tanaman adas beralur dan memiliki ruas yang berlubang.

Baca juga : Aster, Bunga dengan Ratusan Spesies yang Mempunyai Beragam Manfaat

Daun adas tumbuh hingga 40 sentimeter panjang, berbentuk pita, dengan segmen terakhir dalam bentuk rambut, kira-kira selebar 0,5 mm. Daun tunggal, duduk berseling, pangkal tangkai bersayap, helaian berbagi, bentuk jarum, jumlah banyak, jika diremas berbau harum.

Daun tersebar, membagi lebih dari satu campuran, berpelepah, daun bagian bawah lebih besar, pelepah daun berbentuk silinder terbuka, pada dasar ruasnya berpelukan, dengan panjang 2-15 cm.

Bagian daun dan bunga Adas dapat digunakan untuk minuman sebagai obat kanker


Pelepah lebih besar dan berdaging pada adas Florence. Tepi daun dengan membran tidak hijau, kering dan tipis, tangkai daun hampir silindrik. Letak daun berseling, majemuk menyirip ganda dua dengan sirip-sirip yang sempit, bentuknya seperti jarum, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, berseludang warna putih, seludang berselaput dengan bagian atasnya berbentuk topi.

Bunga yang dihasilkan oleh tanaman adas di ujung tangkai adalah bunga majemuk yang berdiameter 5 hingga 15 cm. Setiap bagian umbel mempunyai 20-50 kuntum bunga kuning yang amat kecil pada pedikel-pedikel yang pendek.

Buahnya adalah biji kering dengan panjang dari 4 hingga 9 milimeter, dan lebar separuh panjangnya, dan mempunyai alur. Biji tersebut berusuk dengan ukuran panjang sekitar 6 – 10 mm dan lebar 3 mm. Pada saat masih muda berwarna hijau setelah tua cokelat agak hijau atau cokelat agak kuning sampai sepenuhnya cokelat. Namun, warna buahnya ini berbeda-beda tergantung negara asalnya. Buah masak mempunyai bau khas aromatik, bila dicicipi rasanya seperti kamfer.

Tanaman ini dapat diperbanyak dengan biji atau anakan. Biji ditebar langsung di kebun dalam barisan dengan jarak tanam 50 cm atau disemaikan lebih dulu. Kebutuhan biji tiap hektar diperlukan kurang lebih 4 kg biji. Pemeliharaan tanaman relatif mudah, karena biasanya bibit akan tumbuh baik tanpa pemeliharaan khusus.

Biji tanaman Adas Sowa (Anetum graveolens)


Tanaman adas mempunyai banyak kegunaan mulai dari akar, daun, batang dan bijinya. Minyak adas banyak digunakan untuk obat-obatan, bumbu masak, pewangi dalam sabun, detergen, susu dan parfum. Di Gunung Tengger adas digunakan untuk mengolah berbagai masakan. Potongan batang dipakai sebagai penyedap rasa.

Baca juga : Pacar Air, Tanaman Hias yang Juga Dimanfaatkan sebagai Obat Tradisional

Buah adas di Eropa dipakai untuk mengolah kue kering atau dicampur dalam minuman. Buah adas sering dipakai sebagai unsur pokok bumbu kari. Adas di Jawa pertama kali digunakan sebagai obat terapi juga sebagai bumbu atau rempah. Adas dapat juga dimakan sebagai lalapan, untuk bumbu asinan dan acar.

Minyak esensial yang diekstrak dari biji tumbuhan Adas


Semua bagian tanaman mengandung minyak atsiri, yang dapat digunakan sebagai penyedap pada sabun,kosmetik,susu pembersih dan air pembersih,dan parfum mewah. Minyak adas pahit dan adas manis diijinkan digunakan dalam wangi-wangian, dengan tingkat maksimum 0,4%. Minyak adas pahit digunakan secara luas dan utamanya pada kosmetik. Sisa buah setelah penyulingan minyak atsiri dapat dijadikan makanan ternak.

Adas mengandung nutrisi penting seperti kalsium, magnesium, dan fosfor, yang berperan dalam memelihara kesehatan tulang. Kombinasi nutrisi ini mendukung pertumbuhan tulang dan mencegah risiko masalah tulang seperti osteoporosis. Juga dapat digunakan untuk mengobati batuk, sakit perut, sariawan, susah tidur, haid tidak teratur, peluruh air seni, pencahar, albuminuria (tingginya kandungan protein albumin dalam urin), penambah nafsu makan, dan mengobati infeksi jamur. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Adas, Tumbuhan Herba dengan Berjuta Manfaat


Senin, 01 September 2025

Ayam Sentul, Ayam Lokal Ciamis Terkenal dengan Daging Berkualitasnya



Ayam Sentul merupakan ayam lokal/kampung khas Kabupaten Ciamis – Jawa Barat, yang memiliki berbagai keunggulan. Ayam sentul ini sebenarnya adalah salah satu jenis ayam aduan. Saat ini, ayam sentul banyak dipelihara sebagai ayam pedaging dan petelur yang banyak dibudidayakan.

Ayam sentul adalah ayam lokal asli Ciamis yang dikukuhkan oleh Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 689/Kpts.PD410/2/2013 tentang penetapan rumpun ayam sentul sebagai ayam rumpun lokal Indonesia asal Ciamis. Ayam sentul menjadi plasma nutfah asli Ciamis yang masih lestari hingga kini.

Nama sentul sendiri diberi dengan merujuk pada warna bulunya yang berwarna abu-abu. Warna ini seperti buah kecapi yang berwarna abu-abu gabungan kuning. Di daerah selatan Jawa Barat, terutamanya di Ciamis, buah kecapi ini diketahui adalah buah sentul.

Ayam Sentul Jantan


Ayam Sentul pada mulanya dipelihara sebagai ayam aduan, bahkan konon merupakan keturunan dari Si Jelug, ayam jago aduan milik Ciung Wanara (Raja Galuh). Kerajaan Galuh merupakan sebuah monarki yang pernah ada di daerah Ciamis (Jawa Barat).

Baca juga : Ayam Kampung, Salah Satu Jenis Ayam Paling Populer di Masyarakat

Ciri utama ayam sentul terletak pada setiap helai bulu di badanya yang mempunyai motif seperti sisik naga dengan warna abu-abu, variasi kombinasi warna abu-abu tua, putih, dan merah. Selain itu dibagian jenggernya yang berbentuk seperti kacang (peacomb).

Ayam Sentul Betina


Jenggernya bergerigi besar berwarna merah dan umumnya jengger tunggal atau sering disebut single comb. Kaki dan paruh berwarna hitam keputihan. Sisik kaki ayam sentul jantan berwarna hitam dan abu-abu. Sedangkan yang betina berwarna abu-abu dan putih.

Untuk jenis betina dewasa umumnya 72% berwarna abu-abu, serta warna merah atau jingga di daerah leher, punggung, pinggang, dan sayapnya. Sebagian besar masyarakat kabupaten Ciamis menyebut ayam sentul dengan nama ayam kulawu (yang artinya ayam berwarna abu-abu).

Peternakan Ayam Sentul di Ciamis


Salah satu fakta menarik tentang ayam sentul adalah variasi warna bulunya yang cukup beragam dan dibedakan menjadi 6 jenis. yang membedakan galur ayam jenis ini. Yaitu Sentul Batu (abu kehitaman), Sentul Abu (abu polos), Sentul Debu (abu seperti debu), Sentul Emas (abu kekuningan), Sentul Geni (abu kemerahan) dan Sentul Jambe (abu dengan merah jingga).

Baca juga : Ayam KUB, Ayam Kampung Galur Baru Unggul Hasil Penelitian dan Seleksi Balitbangtan

Keunggulan utama ayam sentul terletak pada pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan beberapa rumpun ayam asli lain, sehingga dapat dipanen lebih awal dengan bobot optimal. Selain itu, ayam ini memiliki ketahanan tubuh tinggi terhadap penyakit, terutama penyakit pernapasan yang sering menyerang ayam pedaging. Dan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan.

Ayam Sentul memilik penampilan berbeda dari ayam kampung kebanyakan


Ayam sentul termasuk dalam jenis ayam dwiguna yang dimanfaatkan baik untuk daging maupun telur. Sebagai ayam pedaging, ayam sentul memiliki badan tegap, perototan padat dan kompak. Pertumbuhannya tergolong cepat, umumnya ayam sentul yang dipelihara secara tradisional dipotong pada umur 12 minggu.

Sedangkan yang dipelihara secara intensif bisa dipotong pada umur 8-10 minggu. Bobot dewasa jantan berkisar 1,3 – 3,5 kg, sedangkan betina dewasa 0,8 – 2,2 kg. Sementara sebagai ayam petelur, Ayam Sentul memiliki produktivitas yang cukup baik, dengan produksi telur mencapai 85 – 210 butir per tahun, rata-rata bobot telur 46 – 48 gram dan pola produksi sekitar 18 – 19 butir per clutch.

Ayam Sentul dengan warna putih


Dari segi kualitas, dagingnya lebih padat, rendah lemak (6,89%), dan bercita rasa gurih khas ayam kampung. Keunggulan lainnya adalah produksi telur yang lebih tinggi menjadikannya ayam dwiguna yang bernilai ekonomis tinggi.

Baca juga : Joper, Ayam Kampung Unggul dan Hemat Pakan dengan Masa Panen Singkat

Dari segi kualitas, daging ayam sentul lebih padat, rendah lemak (6,89%), dan mempunyia cita rasa gurih khas ayam kampung. Keunggulan lainnya adalah produksi telur yang lebih tinggi menjadikan ayam sentul menjadi ayam dwiguna yang bernilai ekonomis tinggi.

Ayam Sentul menjadi ayam kebanggan masyarakat Kabupaten Ciamis


Dengan berbagai keunggulannya, Ayam Sentul memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya dalam penyediaan sumber protein hewani berkualitas. Keberadaannya tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan peternak lokal, tetapi juga memberikan pilihan ayam berkualitas bagi masyarakat.

Oleh karena itu, upaya pelestarian dan pengembangannya harus terus dilakukan agar Ayam Sentul tetap menjadi salah satu aset unggulan peternakan Indonesia serta berkontribusi dalam menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Ayam Sentul, Ayam Kampung Unggul dari Ciamis


Minggu, 31 Agustus 2025

Cabe Gendot, Cabe Pegunungan yang Berasa Sangat Pedas



Cabe Gendot (Capsicum chinense) merupakan merupakan salah satu spesies cabai dari Capsicum. Cabai ini diperkirakan berasal dari semenanjung Yucatan dan menyebar ke seluruh dunia melalui perdagangan dan perpindahan manusia. Cabai ini populer di daerah Jawa Barat dan Dieng Wonosobo.

Cabai Gendot yang juga dikenal sebagai cabai gendol atau cabai Dieng memiliki ukuran lebih besar dibandingkan dengan cabe rawit biasa. Cabai ini berukuran mini dan gendut-gendut, dengan permukaan kulit yang agak meliuk dan teksturnya halus. Mirip paprika namun berukuran lebih kecil.

Namun, meskipun tampilannya tidak terlalu menakutkan, cabe ini memiliki tingkat kepedasan yang cukup tinggi. Sebagai salah satu jenis cabe yang memiliki rasa pedas yang tajam dan langsung terasa, cabe gendot menarik perhatian banyak pecinta kuliner yang selalu mencari tantangan baru dalam makanan pedas.

Tanaman cabe Gendot


Warnanya yang cerah menyala mengingatkan akan cabai paprika yang rasanya tak pedas. Berbeda dengan paprika yang tidak pedas dan cenderung manis, cabe Gendot memiliki rasa pedas dan hangat yang lama di mulut. Jangan coba-coba memegang cabe Gendot dengan tangan telanjang.

Baca juga : Cabai Rawit, Komoditas Pangan Berharga Mahal juga Bermanfaat untuk Kesehatan

Karena cabai ini bisa menimbulkan rasa hangat yang bisa bertahan hingga 12 jam, meskipun hanya memegangnya saja. Cabai Gendot punya rasa yang benar-benar pedas. Rasa pedasnya bahkan bisa mencapai tingkat super pedas dengan skala Scoville Heat Unit (SHU) antara 100.000 hingga 350.000.

Cabe Gendot hidup di dataran tinggi


Cabai Gendot banyak ditemui di dataran tinggi, di kawasan Dieng, Wonosobo. Di kawasan Dieng Plateau di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, cabai gendot banyak terlihat ditanam. Tidak hanya tampak pada area perkebunan di sisi kanan dan kiri obyek wisata, cabai ini juga banyak dijual secara eceran di warung ataupun toko oleh-oleh.

Meski cabai Gendot dikenal di Indonesia terutama dari Bandung dan Dieng, namun cabai ini ternyata bukan asli dari Indonesia. Cabai ini sebenarnya berasal dari wilayah Amazon, yang kemudian menyebar ke wilayah Meksiko. Jenis cabai ini banyak dibudidayakan di Semenanjung Yucatan, Meksiko.

Wilayah tersebut merupakan penghasil cabai gendot atau habanero terbesar di dunia. Cabai Gendot kemudian dibudidayakan di Dieng dan Bandung dengan ketinggian lahan relatif sama dengan daerah asal usul cabai Gendot ini. Inilah yang mendasari pemilihan wilayah Dieng sebagai budidaya cabai Gendot, sebab lahan pertanian di sana tidak tertutup pohon besar.

Sehingga intensitas cahaya matahari tinggi dan kadar keasaman tanah (pH) 5-6 cocok untuk pertumbuhannya. Ada pendapat yang menyebutkan jika cabai Gendot juga bisa tumbuh di wilayah panas lainnya. Seperti wilayah Amerika Serikat, Panama, Kosta Rika dan Belize.

Biji cabe Gendot


Penyebaran yang meluas ini membuat cabai Gendot atau habanero semakin terkenal di dunia. Pada abad ke 18, banyak yang mengira bahwa cabai Gendot berasal dari Cina, akibatnya cabai Gendot atau habanero memiliki nama ilmiah Capsicum chinense.

Baca juga : Paprika, Cabai Besar Asal Amerika dengan Khasiat Tak Terduga

Cabai Gendot ada yang berwarna hijau, oranye hingga kemerahan. Warna hijau biasanya saat cabai belum matang, sedangkan akan berubah warna menjadi merah selama proses pematangan. Rasa pedas yang ada pada cabai Gendot tidak terlepas dari kandungan senyawa capsaicin.

Cabe Gendot penampilannya mirip dengan cabe Paprika


Selain itu, senyawa capsaicin ini memberikan manfaat lain sebagai pengawet alami karena sifatnya sebagai antimikroba. Capsaicin juga digunakan sebagai bahan obat-obatan karena mempunyai sifat anti-inflamasi dan anti-iritasi.

Meskipun memiliki cita rasa yang sangat pedas, namun cabai ini banyak peminatnya. Apalagi pecinta rasa pedas pasti menyukainya. Cabai Gendot dapat dijadikan bahan tambahan hingga menjadi bahan utama olahan makanan. Cabai Gendot biasanya diolah dengan aneka sayuran, baik sayuran berkuah seperti lodeh atau tumisan. Atau bisa juga diolah menjadi saus hingga manisan.

Cabai Gendot juga dapat dipadukan dengan olahan ikan maupun seafood, seperti tongkol cabai Gendot hingga sambal cumi cabai gendot. Bagi pecinta pedas bisa mengolah cabai gendot sebagai bahan utama seperti oseng cabai Gendot. Selain itu, di Indonesia tepatnya di Dieng juga terkenal produk manisan dari cabai ini.

Cabe Gendot umumnya berbiji kehitaman dengan ukuran sama dengan biji cabai pada umumnya. Biasanya, masyarakat sekitar membuang biji-biji hitam ini agar rasa makanannya tidak begitu pedas menusuk. Cabe ini dapat bertahan 10 hari di suhu ruang dan dapat lebih dari sebulan jika berada di lemari pendingin.

Cabe Gendot mudah dijumpai di daerah wisata Dieng


Meskipun cabai disebut sebagai bahan pelengkap atau bumbu, namun kandungan nutrisinya tidak kalah penting untuk tubuh. Begitu pula dengan cabai Gendot, terdapat kandungan nutrisi seperti vitamin hingga senyawa fenol sebagai antioksidan. Secara umum cabai mengandung gizi berupa vitamin A, vitamin C, kalori, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, zat besi dan fosfor.

Baca juga : Okra, Sayuran Berserat Kaya Nutrisi dengan Segudang Manfaat

Kandungan antioksidan terutama vitamin C pada cabai Gendot juga tinggi dan terdapat senyawa fenolik berupa flavonoid, karotenoid. Dimana antioksidan ini dapat melindungi sel tubuh akibat radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan dan memicu penyakit.

Manisan cabe Gendot dari Dieng


Terdapat pula vitamin A, vitamin B6, B9, vitamin K, kalium, zat besi, kalsium, magnesium dan fosfor yang hampir sama dengan kandungan cabai pada umumnya. Begitu pula dengan senyawa capsaicin yang banyak terdapat pada biji cabai. Senyawa ini mampu melepaskan endorfin yaitu hormon bahagia pada tubuh, maka akan meningkatkan mood. Capsaicin juga meningkatkan serotonin, sehingga mampu mengurangi stress.

Rasa pedas yang dihasilkan ketika mengkonsumsi cabai Gendot akan memberikan efek tersendiri baik bagi lidah hingga ke tubuh. Efek tersebut disebabkan senyawa capsaicin yang sebelumnya telah dibahas. Efek yang ditimbulkan disebut termogenik. Dalam sel tubuh efek tersebut membuat cadangan energi kimia yang kemudian akan diubah menjadi energi panas.

Oseng cabe Gendot


Proses mekanisme itu akan memberikan efek bagi tubuh seperti berkeringat, detak jantung semakin cepat, dan terkadang menyebabkan hidung berair. Hal ini disebabkan metabolisme tubuh meningkat oleh hormon epinefrin dan norepinefrin.

Karena efek yang ditimbulkan oleh capsaicin tersebut yaitu dapat merangsang pengeluaran energi berlebih. Sehingga senyawa capsaicin dapat digunakan sebagai terapi anti-obesitas atau kelebihan berat badan. Dimana obesitas sendiri dapat terjadi karena tidak seimbangnya energi ketika asupan energi melebihi pengeluaran energi. Dengan berbagai macam olahan masakan dan bumbu instan, diperkirakan pamor cabe Gendot akan semakin dikenal masyarakat luas. (Ramlee)


Sumber : remen.id

Cabe Gendot, si Gemoy yang Pedasnya Luar Biasa


Tepus Gelagah, Burung Berkicau Endemik yang Kicau Uniknya Kerap Dijadikan Masteran

Tepus Gelagah (Timalia pileata) adalah jenis burung pengicau kecil dari famili Timaliidae. Di Indonesia, burung yang sering disebut Kaso-ka...