Sabtu, 13 April 2024

Parkit, Burung Paruh Bengkok Kecil yang Masih Berkerabat dengan Betet



Burung parkit (Melopsittacus undulates) adalah burung bertubuh kecil yang masih berkerabat dengan burung betet. Warna bulunya sangat khas dengan perpaduan aneka warna, meliputi hijau, kuning, biru, putih, ungu, dan oranye. Paruh parkit pun berbentuk bengkok sehingga seacra morfologi mempunyai kemiripan dengan burung betet.

Dalam istilah internasional, burung paruh bengkok ini dikenal dengan nama budgerigar atau parakeet. Secara internasional, burung parkit dikenal dengan nama budgerigar. Sebutan ini berasal dari kata serapan dalam bahasa Aborigin, yaitu betcherrygah yang berarti enak dimakan.

Burung parkit di habitat alaminya
 

Pemberian nama tersebut dikarenakan suku Aborigin suka mengonsumsi burung parkit. Burung dengan tubuh mungil ini berasal dari Australia dan ditemukan hidup dalam kelompok besar di alam bebas. Biasanya dalam satu kelompok jumlahnya mencapai ribuan ekor.

Baca juga : Kakatua Raja, Burung Kakatua Terbesar di Dunia dari Tanah Papua

Shaw, seorang penulis buku Zoologi of New Holland memberi nama burung mungil ini dengan sebutan Melopsittacus undulates. Melopsittacus berasal dari bahasa yunani, melos yang artinya nyanyian dan psittacua yang merupakan sebutan bagi kerabat burung betet.

Koloni burung parkit di sumber air


Sedangkan undulus dari bahasa latin yang berarti bercorak. Corak bergelombang inilah yang mungkin berkaitan dengan warna bulu burung parkit yang bermacam-macam. Pada tahun 1831 salah satu museum di London, Linne Society memamerkan pajangan burung parkit yang mati, tetapi tampak seperti masih hidup di dalam salah satu ruangannya.

Inilah yang akhirnya mengundang berbagai kalangan, terutama para ahli di bidang perburungan, diantaranya adalah John Gould. Berawal dari sinilah sejarah parkit dibawa ke negeri Inggris. Pada tahun 1850 perkembangan burung berparuh bengkok ini mulai sukses dibiakkan di kebun binatang Antwerpens, Belgia.

Karena kecantikan warna bulu burung ini beberapa negara eropa lainnya mulai ikutan mengimpor burung ini dalam jumlah besar. Akhirnya burung parkit sudah mulai dikembangbiakkan di mana-mana. Warna kuning pada bulu burung parkit dihasilkan di Belgia pada tahun 1872.

Dan di Jerman pada tahun 1875 dengan warna yang sama. Berikutnya warna biru yang muncul pada tahun 1878. Dan tahun 1917 warna putih menyusul hingga tahun 1940 puncak keragaman warna bulu burung parkit ini.

Ribuan burung parkit terbang mencari sumber makanan dan air baru
 

Penyebaran yang luas menyebabkan burung ini mendapat banyak sebutan. Orang Belanda menyebutnya Undulated grass parkeet. Kalau orang Perancis memanggil dengan sebutan Perche Ondule. Sedangkan bangsa Jerman menggunakan nama Wellensittich.

Baca juga : Nuri Talaud, Legenda Sang Biduan dari Bumi Porodisa

Habitat burung dengan bulu indah adalah di kawasan hutan belukar terbuka maupun gurun. Burung parkit liar hidup secara nomaden dengan pergerakan yang bergantung dengan sumber makanan serta air. Burung parkit merupakan burung dengan karakter sosial yang tinggi. Pasalnya, burung ini hidup berkoloni di habitat aslinya.

Sepasang burung parkit
 

Dalam satu koloni atau kelompok, bisa terdapat ribuan ekor burung parkit. Dalam ribuan ekor tersebut, burung parkit akan selalu bersama pasangannya masing-masing. Dalam hal hidup bersama pasangan, parkit dikategorikan sebagai burung yang setia. Hal ini ditunjukkan dari sikapnya yang setia menunggu parkit betina ketika bertelur.

Meskipun parkit dapat termasuk burung yang bisa dijinakkan, tetapi sifatnya tidak begitu jauh dengan burung liar lain yang cenderung temperamental. Pemberian kasih sayang yang berkelanjutan harus dilakukan agar parkit bisa jinak sepenuhnya.

Pada umumnya, burung akan berubah liar dan kembali tenang ketika pertama kali dijinakkan. Kemudian parkit akan kembali menjadi jinak setelah beradaptasi dengan sesamanya yang telah jinak. Oleh karena karakteristik utamanya yang hidup berkoloni, maka akan mudah bagi spesies ini beradaptasi jika ditempatkan dengan burung sejenisnya.

Ukuran tubuh parkit rata-rata mencapai panjang 18 cm dengan berat badan bervariasi. Panjang sayap parkit jantan sekitar 9 sampai 10 cm dengan panjang ekor 9 hingga 10 cm pula. Sedangkan paruh bagian atas berukuran 9-10 mm, dan memiliki tarsus 13-15 mm.

Induk dan anak burung parkit di sarangnya
 

Untuk parkit betina memiliki panjang sayap sekitar 9 sampai 11 cm. Ukuran panjang ekornya mencapai 9 cm dengan culme 1 cm. Sementara bagian tarsusnya berukuran 1,5 cm. Warna bulu parkit dewasa bagian atas umumnya bercorak hitam dan kuning.

Baca juga : Nuri Bayan, Burung Paruh Bengkok Cantik Berperilaku Unik

Sementara tungging dan tubuh bagian bawah berwarna hijau. Sedangkan bulu berwarna kuning bisanya menyelimuti area muka dan kepala. Burung parkit yang belum dewasa mempunyai warna bulu yang tampak lebih gelap. Selain itu, parkit dewasa tidak memiliki bintik hitam di bagian kerongkongan.

Ternak burung parkit dengan sistem koloni
 

Burung parkit betina bertelur rata-rata lima butir dalam sekali reproduksi. Telur tersebut akan dierami dan memerlukan waktu 18 hingga 20 hari hingga menetas. Parkit mampu bertahan hidup hingga 10 tahun bahkan lebih. Pada beberapa kasus meskipun jarang, masa hidupnya mencapai 30 tahun.

Anak burung parkit mulai matang kelaminnya untuk melakukan perkawinan setelah berumur 90 hari. Si jantan yang cukup umur akan segera memikat betinanya dengan siulan mautnya untuk menjadi pasangan yang akan mengembangbiakan keturunannya.

Burung parkit dengan aneka warna yang menawan
 

Makanan utama parkit adalah biji-bijian, sayuran serta buah-buahan. Di alam liar, sarangnya berada di semak-semak serta pohon. Burung dengan aneka macam warna bulu ini menyukai memakan biji-biji kecil. Selain itu, beberapa jenis pakan lain juga bisa diberikan untuk burung parkit, antara lain jewawut, milet, pelet, buah dan sayuran, dan jagung. (Ramlee)



Sumber : remen.id


Parkit, Burung Paruh Bengkok Bertubuh Kecil yang Setia dengan Pasangannya

Ikan Sepat, Ikan Air Tawar yang Jadi Sumber Protein Masyarakat Desa




Ikan sepat merupakan ikan yang hidup di air tawar dan termasuk golongan marga Trichogaster, anggota suku gurami Osphronemidae. Di Indonesia, ikan ini dikenal sebagai ikan konsumsi dan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi di pasaran, terutama sebagai sumber protein di daerah pedesaan.

Di Indonesia, selain dijual dalam keadaan segar di pasar, ikan ini sering juga diawetkan dalam bentuk ikan asin. Difermentasi menjadi bekasam dan lain-lain, sehingga kondisi ikan lebih awet dan dapat dikirimkan ke tempat-tempat lain. Meskipun ikan ini lebih dikenal sebagai ikan konsumsi, beberapa jenisnya diperdagangkan sebagai ikan hias.

Budidaya ikan sepat


Ikan cantik ini juga kerap kali di pelihara untuk dijadikan ikan hias dalam akuarium atau dibudidayakan di kolam. Dalam perdagangan ikan hias bergantung pada varietasnya, ikan ini dikenal dengan nama-nama Three spot gourami, Blue gourami, Cosby gourami, Gold gourami, Golden gourami, dan Opaline gourami.

Baca juga : Ikan Nila, Ikan Konsumsi Air Tawar dari Afrika Memiliki Nilai Gizi yang Tinggi

Ikan ini banyak dikenal dengan nama-nama lokal seperti sepat sawah/rawa, sepat jawa, sepat biru, sepat ronggeng (Melayu), sapek (Minang), dan lainnya. Beberapa daerah yang banyak menghasilkan ikan sepat olahan di antaranya adalah Jambi, terutama dari Kumpeh dan Kumpeh Ulu, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Varian sepat madu kini jadi idola baru para penghobi ikan hias, karena warna keemasan yang mencolok
 

Habitat dari ikan sepat adalah rawa-rawa yang pH airnya rendah. Selain itu, ikan sepat juga dapat hidup di danau, waduk, sungai, genangan air sempit, dan air kubangan bekas galian. Ikan ini juga dapat ditemui di rawa-rawa, aliran-aliran air yang tenang, dan umumnya lahan basah di dataran rendah termasuk sawah-sawah serta saluran irigasi. Tidak heran ikan ini menjadi salah satu ikan endemik yang mendiami sungai Brantas.

Ikan ini bertubuh pipih jorong dengan moncong runcing dan mulut kecil. Sisiknya kecil-kecil, bersusun miring, dalam aneka ukuran. Gurat sisi sempurna, bentuk tabung yang kadang-kadang agak lengkung. Sirip punggung (dorsal) terletak jauh ke belakang, tetapi berakhir agak jauh di depan sirip ekor.

Sepat mutiara (Trichogaster leerii)


Sirip perut (ventral) berubah bentuk, sepasang jari-jari lunak yang pertama berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk panjang sepanjang badan, ditambah dengan sepasang duri pendek dan beberapa pasang jumbai pendek yang tidak begitu terlihat. Sirip dubur (anal) memanjang, mulai dari bawah dada hingga pangkal ekor.

Sirip dada (pectoral) kurang lebih meruncing, sementara sirip ekor sedikit membagi. Panjang total ikan sepat rawa yang dicatat berkisar 31,68-103,53 mm dan bobotnya berkisar 1,12-17,22 g. Ikan jantan memiliki panjang total berkisar 31,68- 102,52 mm dan bobotnya berkisar 1,12-15,91 g, sedangkan ikan betinanya memiliki panjang total berkisar 40,19-103,53 mm dan bobot berkisar 1,45-17,22 g.

Sepat siam (Trichogaster pectoralis)
 

Warna tubuh ikan ini amat bervariasi, baik perimbangan terang gelapnya maupun pola-pola warna tubuhnya, ditambah lagi bintik-bintik di tiap sisi tubuh mempercantik tampilan ikan ini. Dengan memiliki ukuran tubuh sekitar 105 mm membuat ikan ini tampak mungil.

Baca juga : Mujair, Salah Satu Jenis Ikan Air Tawar Paling Sering Dikonsumsi dan Kaya Gizi

Ikan sepat ini semula digolongkan ke dalam suku Belontiidae, bersama cupang dan kerabatnya. Namun, sekarang suku ini telah digabungkan ke dalam suku Osphronemidae, yang juga mencakup gurami dan sepat kerdil (Colisa).

Sepat rawa (Trichogaster trichopterus)
 

Marga Trichogaster berkerabat dekat dengan marga Colisa, anggota kedua marga ini sama-sama memiliki sirip perut berupa cambuk. Namun, marga Trichogaster memiliki sirip punggung yang relatif lebih pendek dan individu dewasanya berukuran jauh lebih besar daripada Colisa.

Sebagaimana kerabat-kerabat dekatnya, yakni tambakan, betok, gurami, dan cupang, sepat tergolong ke dalam anak bangsa Anabantoidei. Kelompok ini dicirikan oleh adanya organ labirin di ruang insangnya, yang amat berguna untuk membantu menghirup oksigen langsung dari udara.

Trichogaster microlepis
 

Adanya labirin ini memungkinkan ikan-ikan tersebut hidup di tempat yang miskin oksigen seperti rawa-rawa dan sawah. Dilansir dari Integrated Taxonomic Information System (ITIS) terdapat empat spesies yang terdaftar diantaranya sepat mutiara (Trichogaster leerii), sepat siam (Trichogaster pectoralis), sepat rawa (Trichogaster trichopterus), dan Trichogaster microlepis. Ada pula sepat madu dengan nama latin Trichogaster chuna.

Dalam hidupnya, ikan ini gemar bergerombol dan berada di dekat tanaman air seperti kangkung, eceng gondok, dan sejenisnya. Pasalnya selain tanaman tersebut merupakan sumber makanan ikan sepat, juga menjadi tempat untuk menyimpan telur mereka saat berkembang biak.

Sepat madu (Trichogaster chuna)
 

Sepat, terutama dari jenis Trichogaster pectoralis dan Trichogaster trichopterus, banyak diperkenalkan ke mana-mana sebagai ikan konsumsi. Dan sebagai akibat kemampuan adaptasinya yang tinggi, ikan-ikan itu cepat berkembangbiak di perairan bebas.

Baca juga : Ikan Betok, Ikan yang Mahir Merayap di Daratan Mengandung Zat Besi yang Tinggi

Introduksi Trichogaster pectoralis ke Danau Tempe di Sulawesi tahun 1937 berhasil sehingga dua tahun kemudian ikan ini telah mendominasi 70% hasil ikan Danau Tempe. Ikan sepat merupakan jenis ikan omnivora, yakni ikan yang memakan segala jenis makanan.

Red dwarf gourami
 

Baik itu hewan maupun tumbuhan. Makanan ikan sepat terdiri atas mikroalga, rotifera, ostracoda, dan serangga. Mikroalga, rotifera, ostracoda, dan serangga memang cukup sukar dicari. Namun, bagi yang ingin memelihara ikan sepat di rumah, ada tiga jenis makanan ikan sepat yang dapat digunakan, yaitu cacing halus, kutu air, dan jentik nyamuk. (Ramlee)


Sumber : remen.id


Ikan Sepat, Sumber Protein di Pedesaan Memiliki Nilai Ekonomi Cukup Tinggi

Jumat, 12 April 2024

Bunga Alamanda, Bunga Lonceng Indah dan Wangi Berkhasiat Herbal



Alamanda (Allamanda cathartica) merupakan tanaman hias tropis yang termasuk ke dalam golongan tanaman perdu yang umumnya tumbuh berkelompok dan bisa tumbuh di semak-semak. Alamandah sering disebut juga sebagai bunga terompet emas, bunga lonceng kuning, atau bunga buttercup.

Alamanda sendiri sebenarnya terdiri dari banyak spesies, meski yang paling populer untuk dirawat adalah Allamanda cathartica. Yang juga biasa disebut sebagai “golden trumpet” dan biasa tumbuh di area tropis dan subtropis, termasuk Indonesia.

Alamanda kerap ditemui tumbuh liar di area terbuka
 

Alamanda bisa tumbuh hingga mencapai ketinggian dua meter atau menghasilkan batang yang memanjat sepanjang enam meter atau lebih sampai di mahkota pohon kecil. Bunga ini banyak ditemukan di beberapa wilayah Indonesia, tapi bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini berasal dari daerah Amerika Tengah dan Selatan.

Baca juga : Bunga Desember, Tanaman Hias Unik yang Mekar pada Akhir Tahun

Daerah Amerika Tengah dan Selatan merupakan habitat asal bunga alamanda berasal, khususnya banyak ditemukan di Brasil dan digunakan sebagai hiasan karena bentuknya yang indah. Tanaman alamanda termasuk dalam golongan tanaman perdu berkayu dengan tinggi dapat mencapai 2 meter. Tanaman ini bersifat evergreen alias hijau sepanjang tahun.

Alamanda jadi tanaman hias yang cantik


Alamanda dapat dijumpai pada daerah sekitar sungai atau tempat terbuka yang terkena banyak sinar matahari dengan hujan yang cukup dan kelembapan tinggi sepanjang tahun. Tanaman ini tidak mampu tumbuh pada tanah yang bergaram atau terlalu basa. Alamanda sangat cocol ditanam di tanah berpasir yang kaya bahan organik.

Alamandah tidak tahan terhadap suhu rendah. Suhu -1 °C dapat mematikan tanaman ini karena sangat sensitif terhadap suhu dingin. Alamanda tumbuh optimal dan menghasilkan bunga pada intensitas cahaya matahari penuh. Iklim yang tepat untuk pertumbuhan alamanda adalah beriklim tropis.

Pada iklim tropis, tanaman ini dapat tumbuh hampir di sebagian besar wilayah dengan pertumbuhan yang cepat. Jika diberi halangan (tidak terkena sinar matahari secara penuh), produksi bunganya menurun. Tanaman ini tumbuh baik pada kondisi tanah berpasir, kaya bahan organik, serta beraerasi baik.

Di habitat aslinya, alamanda biasa ditemui hidup pada ketinggian nol hingga 700 meter dari permukaan laut dengan curah hujan 1.000 hingga 2.800 mm per tahun. Tanaman ini mudah tumbuh pada kondisi yang sesuai sehingga terkadang dipandang sebagai gulma.

Bunga terompet emas
 

Tanaman bunga ini biasa dimanfaatkan sebagai ornamen untuk menghias pagar dan tembok rumah, karena pertumbuhannya yang cepat. Bunga alamanda ini memiliki beberapa jenis lainnya yang juga tidak kalah cantiknya. Seperti Alamanda schotti, Alamanda blanchetti, dan Allamanda polyantha.

Baca juga : Gerbera, Komoditas Bunga Potong yang Semakin Banyak Peminatnya

Alamanda berbunga sepanjang tahun. Tanaman ini dapat berkembangbiak dengan biji, tetapi perbanyakan yang umum dilakukan yaitu dengan setek batang. Alamanda harus sering dilakukan pemangkasan untuk menjaga penampilannya karena tergolong tanaman yang tumbuhnya cepat, sehingga dianggap sebagai gulma di beberapa daerah.

Allamanda blanchetii
 

Batang alamanda yang sudah tua berwarna cokelat karena pembentukan kayu, sedangkan tunas mudanya berwarna hijau. Daunnya memiliki bentuk yang melancip di ujung dengan permukaan yang kasar dengan panjang 6 cm hingga 16 cm.

Daun alamandah panjangnya berkisar 5–15 cm dengan lebar 2–5 cm. Ini merupakan jenis daun tunggal, bertangkai pendek dan tersusun berhadapan. Warna daun hijau, berbentuk jorong dan tebal. Ujung dan pangkalnya tampak meruncing, sedangkan permukaan tas dan bawahnya halus tapi mengandung getah. Dan biasanya berkelompok antara 3-4 helai.

Bunganya mempunyai diameter mencapai 5–7,5 cm. Ini merupakan jenis bunga majemuk, berbentuk tandan dan muncul di ketiak daun atau ujung batang. Mahkotanya berbentuk corong dan berwarna kuning, dengan panjang berkisar 8–12 mm. Bunga terdiri dari lima kelopak besar yang tumpang tindih dengan wangi yang harum.

Alamandah mempunyai buah dengan panjang buah berkisar 1,5 cm, bentuknya bulat dengan biji segitiga. Warna buah hijau pucat ketika muda, tetapi berubah menjadi hitam saat sudah tua. Sementara akarnya tergolong sebagai jenis tunggang.

Allamanda polyantha
 

Selain cantik, bunga alamanda juga menyimpan segudang manfaat. Getahnya alamandah mempunyai sifat antibakteri sehingga sangat efektif untuk mencegah kuman dan penyakit. Bahkan melansir berbagai sumber, getah tersebut berpotensi sebagai obat penyakit kanker.

Baca juga : Bunga Telang si Biru Kaya Manfaat

Bunga alamanda diketahui memiliki beberapa khasiat obat, salah satunya dapat dipakai sebagai laksatif atau obat pencahar untuk mengatasi susah buang air besar. Bunganya memiliki sifat antibiotik terhadap bakteri Staphylococcus yang dapat menyebabkan gangguan kulit.

Allamanda schottii
 

Daun alamanda mengandung alkaloida, sementara kulit batang dan buahnya menyimpan saponin. Karena itu, tanaman ini sangat baik jika diolah sebagai obat komplikasi malaria dan pembengkakan limpa. Di samping itu kulit batangnya juga mengandung tanin.

Lalu, buahnya mengandung flavonoida dan polifenol sehingga sangat baik untuk mencegah berbagai macam penyakit. Menurut penelitian terbaru, akar dari bunga alamanda bisa mencegah penyakit kuning. Sehingga, tidak heran jika tumbuhan satu ini banyak dilibatkan dalam praktik pengolahan obat tradisional. (Ramlee)




Sumber : remen.id

Bunga Alamanda, Tanaman Hias Cantik Antibakteri

Kamis, 11 April 2024

Jelarang, Bajing Pohon Terbesar yang Terancam Punah



Jelarang (Ratufa bicolor) merupakan bajing pohon terbesar. Kalau umumnya bajing berukuran mini dan tampak imut, bajing satu ini justru berukuran jumbo. Panjang tubuhnya berkisar antara 35 cm hingga 60 cm. Ditambah ekornya, panjangnya dapat mencapai 120 cm.

Dalam bahasa Inggris, jelarang lebih dikenal dengan nama black giant squirrel. Selain ukuran tubuhnya yang besar, satwa ini dikenal dengan ekornya yang panjang. Habitat jelarang terdapat dihutan dataran rendah hingga pegunungan.

Jelarang menghabiskan waktunya di atas pohon
 

Bajing raksasa ini mempunyai rambut berwarna cokelat tua hingga hitam dengan bagian bawah (perut dan dada) berwarna putih. Pola warna jelarang bervariasi, tetapi tubuh bagian atas biasanya gelap di tengah dan bagian bawah pucat. Ekor relatif besar dan panjang berwarna cerah.

Baca juga : Sugar Glider, Marsupial yang Bisa Terbang

Jelarang biasanya keluar dari sarangnya setelah fajar dan istirahat malam sebelum petang. Jelarang merupakan hewan diurnal (beraktifitas di siang hari). Jelarang juga merupakan satwa arboreal atau satwa yang lebih banyak menghabiskan waktunya di atas pohon.

Jelarang terkadang turun untuk berpindah pohon atau mencari makanan
 

Sebagian besar jelarang aktif di pepohonan yang tinggi, dan turun ke tanah hanya untk menyeberangi jarak diantara tajuk-tajuk pohon atau untuk mencari makanan di tanah. Jelarang akan kembali ke sarangnya untuk beristirahat malam sebelum petang menjelang. Satwa ini bersifat soliter atau hidup sendiri.

Tetapi pada saat musim kawin tiba, jelarang akan berpasangan dan membangun sarang seukuran sarang burung elang. Sarangnya berupa susunan ranting-ranting yang rapi dan agak berbentuk seperti bola, biasanya dibuat pada tajuk pohon yang tinggi.

Jelarang hidup soliter
 

Jelarang mendiami hutan tropis dan subtropis di kawasan Asia hingga ketinggian 1.400 meter dpl. Jelarang ditemukan hidup di Bangladesh, Bhutan, Kamboja, Tiongkok, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Thailand, Vietnam. Di Indonesia, satwa ini hidup di Kepulauan Mentawai, Sumatera, Belitung, Panaitan, Jawa, dan Bali.

Baca juga : Babi Batang, Satwa Unik dan Langka Hutan Sumatera yang Terancam Punah

Populasi jelarang belum diketahui dengan pasti, namun diduga populasinya secara global telah mengalami penurunan yang signifikan. Beberapa tahun terakhir ini populasi jelarang diperkirakan mengalami penurunan populasi hingga sekitar 30%.

Sepasang jelarang di pucuk pohon
 

Penurunan populasi jelarang sebagian besar diakibatkan oleh kerusakan dan berkurangnya hutan sebagai habitat alami jelarang. Menyempitnya habitat jelarang tersebut akibat dari pembalakan liar, kebakaran hutan, dan konversi hutan menjadi daerah pertanian dan pemukiman.

Selain itu penangkapan dan perburuan liar untuk dijadikan hewan peliharaan ikut menyumbang tingkat penurunan populasi jelarang di alam liar. Penurunan populasi terbesar terjadi di Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, dan Bali.

Sarang jelarang seperti sarang burung elang
 

Bahkan di Jawa dan Bali, keberadaannya semakin langka dan sulit ditemukan. Jelarang hanya ditemukan di daerah terpencil (jauh dari pemukiman manusia) dan hutan. Di Jawa, jelarang dapat ditemukan di beberapa tempat diantaranya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Taman Hutan Raya R.Soerjo, Taman Nasional Ujung Kulon, dan Cagar Alam Penanjung Pangandaran.

Baca juga : Trenggiling, Mamalia Bersisik Pemakan Semut yang Terancam Punah

Sedangkan di Bali, jelarang dapat ditemukan di Taman Nasional Bali Barat. Menurunnya populasi jelarang di alam liar membuat IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) memasukkan jelarang dalam kategori “Hampir Terancam” atau Near Threatened (NT).

Jelarang tampak sedang melompat untuk berpindah tempat


Namun CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atau Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwa Liar Spesies Terancam memasukkan jelarang ke dalam Apendiks II. Yaitu daftar spesies yang tidak segera terancam kepunahan tetapi hal ini akan memburuk bila perdagangan terkait jelarang terus berlanjut tanpa adanya peraturan yang jelas dan tindakan tegas. (Ramlee)



Sumber : remen.id

Jelarang, Bajing Pohon Raksasa Penyendiri yang Kian Langka

Buah Sukun, Berpotensi jadi Alternatif Pangan Utama di Masa Depan



Sukun (Artocarpus altilis) merupakan tanaman penghasil buah yang banyak dimanfaatkan sebagai olahan makanan di Indonesia. Di Eropa, buah sukun dikenal sebagai buah roti (breadfruit), sebab ketika dipanggang maka struktur daging buahnya sangat empuk seperti roti. Bahkan, di beberapa negara Pasifik Selatan, sukun dimanfaatkan sebagai makanan pokok.

Buah sukun menjadi salah satu sumber pati yang dapat berpeluang untuk dijadikan bahan pembuatan gula, selain dari bahan baku tanaman yang mengandung pati lainnya yang telah banyak diteliti dan dikembangkan. Pembuatan maltosa dari bahan baku sukun sangat prospektif, selain dari sisi harga yang murah juga sangat mudah didapatkan di berbagai tempat tanpa mengenal musim.

Tanaman sukun dapat tumbuh dalam berbagai macam kondisi ekologi, akan tetapi habitat terbaik untuk pertumbuhannya adalah di dataran rendah dengan iklim tropis. Tanaman sukun mampu tumbuh pada wilayah pantai yang umumnya memiliki kadar salinitas tinggi. Pohon sukun yang tumbuh di daerah dataran tinggi atau pegunungan biasanya sulit menghasilkan buah.

Tanaman sukun tumbuh besar hingga puluhan meter tingginya
 

Pohon sukun berasal dari kawasan Oceania, yaitu daerah yang terbentang dari bagian timur Indonesia hingga bagian barat Amerika. Buah sukun telah menjadi sumber makanan yang dimanfaatkan oleh orang-orang Oceania sejak 3000 tahun yang lalu.

Baca juga : Buah Alkesa, Bermanfaat untuk Jaga Stamina Tubuh hingga Menurunkan Resiko Diabetes

Pada tahun 1500-an, buah sukun mulai dikenal dan menyebar di berbagai penjuru dunia. Catatan penjelajah Eropa menyampaikan bahwa pada awal abad ke-17 penjelajah asal Spanyol membawah buah sukun ke Guam dan Filipina.

Buah sukun yang masih muda
 

Kemudian pada akhir abad ke-17, buah sukun ditemukan dan disebarkan ke daerah Hindia Barat oleh penjelajah Inggris, meliputi wilayah Guyana, Haiti dan Kepulauan Karibia. Selanjutnya pada akhir abad ke-18, penjelajah Perancis membawah tanaman sukun ke Jawa dan Mauritius, Afrika.

Saat ini pohon sukun dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah beriklim tropis dan sebagian wilayah beriklim sedang. Tanaman sukun telah menjadi tanaman perkebunan yang dibudidayakan di lebih dari 145 negara.

Buah sukun yang siap dipanen


Mulai dari negara-negara Pasifik, Australia bagian utara, Asia Tenggara, Asia Selatan, Madagaskar, Afrika, Amerika Tengah, Amerika Selatan, hingga Kepulauan Karibia. Di Indonesia, sukun banyak tumbuh dari daerah Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Umumnya dimanfaatkan sebagai panganan, seperti hidangan yang digoreng atau dikukus.

Tanaman sukun masuk dalam golongan suku Moraceae dari marga Artocarpus. Marga Artocarpos terdiri dari 60 spesies tanaman, termasuk pula buah nangka, kluwih dan cempedak. Penyebutan buah sukun terkadang juga diberikan untuk buah yang berasal dari tanaman Artocarpus camansi dan Artocarpus mariannensis.

Tanaman sukun merupakan tanaman cultigen, yaitu tanaman yang tidak tumbuh dalam keadaan liar. Menurut perkiraan, Artocarpus altitis atau sukun tumbuh domestik pertama kali ditemukan di Papua Nugini dan berasal dari spesies Artocarpus camansi.

Sebagian besar pohon sukun yang tumbuh dan dibudidayakan saat ini merupakan varietas hibrida, yaitu hasil persilangan dari Artocarpus altitis dengan Artocarpus mariannensis. Tumbuhan sukun memiliki kayu yang bersifat lunak dengan warna batang hijau kecokelatan dan mengandung getah diseluruh bagiannya.

Buah kluwih (Artocarpus camansi)
 

Umumnya, pohon sukun dapat tumbuh mencapai ketinggian 30 meter. Akan tetapi pada tanaman sukun hasil budidaya, rata-rata tumbuh dengan ketinggian 8 hingga 15 meter. Tanaman sukun muda adalah pohon dengan batang tunggal.

Baca juga : Mamey Sapote, si Sawo Berukuran Jumbo

Setelah tumbuh mencapai 4 meter, tanaman sukun akan menghasilkan percabangan yang tumbuh secara horizontal dengan tajuk luas dan rimbun sepanjang sekitar 4 meter. Secara alami, pohon sukun akan mengeluarkan tunas pada akarnya.

Sukun berbiji (Artocarpus mariannensis)
 

Buah sukun tidak menghasilkan biji, sehingga untuk memperbanyaknya dilakukan dengan cara vegetatif. Teknik cangkok dan stek merupakan teknik yang umum digunakan untuk budidaya sukun. Metode stek adalah cara paling efektif untuk pembibitan secara masal. Selain itu, tanaman sukun juga bisa diperbanyak melalui teknik kultur jaringan.

Pohon sukun memiliki akar tunggang yang tumbuh kebawah serta akar samping yang tumbuh dangkal. Akar samping buah sukun yang terpotong atau terluka merupakan bagian yang akan ditumbuhi tunas dan dapat dijadikan bibit. Batang sukun tumbuh ke atas dengan tekstur lunak dan mengandung getah yang banyak. Pemanfaatan batang sukun sangat jarang sebab termasuk kayu yang tidak awet dan tidak kuat.

Sukun rebus/kukus
 

Daun pohon sukun adalah daun tunggal yang berbentuk oval hingga lonjong dan ukurannya cukup besar. Ukurannya panjang berada pada rentang 20 cm hingga 60 cm serta lebar 20 cm hingga 40 cm dengan panjang tangkai 3 cm hingga 7 cm.

Bagian pangkal daun sukun cenderung bulat meruncing dan tepi daun berlekuk menyirip dengan diselingi percabangan. Permukaan daun sukun bagian atas berwarna hijau mengkilap dan jika diraba terasa licin, sedangkan bagian bawah berwarna kusam dan teksturnya kasar.

Pohon sukun menghasilkan bunga di bagian ketiak daun pada ujung cabang atau ranting. Bunganya termasuk jenis tunggal atau bunga jantan dan betina yang terpisah namun berada dalam satu rumah. Bunga jantan berwarna kuning dan bentuknya seperti tongkat panjang yang disebut ontel.

Sedangkan bunga betina bentuknya bulat dengan tangkai pendek. Seperti penyerbukan alami pada umumnya, proses penyerbukan terbantu oleh angin. Selain itu, serangga juga turut berperan dalam penyerbukan bunga.

Sukun goreng
 

Buah sukun berbentuk bulat dan cenderung lonjong dengan diameter rata-rata 20 cm hingga 30 cm. Berat buah sukun sekitar 3 hingga 4 kg tergantung varietas tanaman sukun yang menghasilkannya. Ketika muda, buah ini berwarna hijau terang dan ketika matang akan berubah menjadi kekuningan atau oranye kecokelatan. Pada beberapa varietas, dapat pula ditemukan sukun berwarna oranye kemerahan ketika matang.

Baca juga : Beligo, Tanaman Unik yang Berkhasiat Obat

Buah sukun mengandung karbohidrat kompleks yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna, sehingga efeknya akan membuat rasa kenyang juga bertahan lebih lama. Bbuah sukun mengandung senyawa phenolic dan flavonoid yang bersifat antioksidan. Kedua kandungan ini membantu tubuh melawan dampak yang ditimbulkan oleh radikal bebas.

Keripik sukun
 

Kandungan serat yang tinggi dalam buah sukun dapat menurunkan kolesterol darah dengan cara mencegah penyerapan kolesterol dari sistem pencernaan. Selain itu, konsumsi serat dari buah sukun juga diyakini dapat menurunkan risiko obesitas, menurunkan tekanan darah, dan melindungi usus besar dari senyawa kimia pemicu penyakit kanker.

Buah sukun segar tinggi akan kalium, zat besi, serta berbagai mineral lain yang menjadi komponen penting dalam menjaga kestabilan denyut jantung dan tekanan darah. Ditambah lagi, kandungan senyawa fitokimia pada buah sukun juga dapat membantu mencegah penyempitan dan pengerasan pembuluh darah akibat timbunan kolesterol. (Ramlee)




Sumber : remen.id

Buah Sukun, Tak Cuma Bikin Kenyang Juga Bermanfaat untuk Kesehatan

Tepus Gelagah, Burung Berkicau Endemik yang Kicau Uniknya Kerap Dijadikan Masteran

Tepus Gelagah (Timalia pileata) adalah jenis burung pengicau kecil dari famili Timaliidae. Di Indonesia, burung yang sering disebut Kaso-ka...